sekolah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sekolah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 20 Jul 2023 09:41:35 +0000 id hourly 1 200 Sekolah dari Sampah Plastik Daur Ulang Bakal Terbangun di Lombok https://www.greeners.co/aksi/200-sekolah-dari-sampah-plastik-daur-ulang-bakal-terbangun-di-lombok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=200-sekolah-dari-sampah-plastik-daur-ulang-bakal-terbangun-di-lombok https://www.greeners.co/aksi/200-sekolah-dari-sampah-plastik-daur-ulang-bakal-terbangun-di-lombok/#respond Thu, 20 Jul 2023 04:16:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40877 Jakarta (Greeners) – Gempa di Lombok tahun 2018 silam mengakibatkan kerusakan bangunan beberapa sekolah di Lombok.  Happy Hearts Indonesia (HHI) dan Classroom of Hope (COH) berikan harapan baru untuk anak-anak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gempa di Lombok tahun 2018 silam mengakibatkan kerusakan bangunan beberapa sekolah di Lombok.  Happy Hearts Indonesia (HHI) dan Classroom of Hope (COH) berikan harapan baru untuk anak-anak di sana dengan menargetkan pembangunan membangun kembali 200 sekolah ramah lingkungan yang terbuat dari balok sampah plastik daur ulang.

Kedua organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan ini telah menghidupkan kembali ruang belajar anak sekolah dasar di Lombok. Melalui Block School, mereka telah melahirkan bangunan sekolah yang inovatif dengan konsep ramah lingkungan. Saat ini empat sekolah sudah terbangun.

Block School menggunakan balok plastik daur ulang, mengubah limbah menjadi sumber daya berharga yang bertahan hingga 100 tahun. Pendekatan ramah lingkungan ini berkontribusi pada pelestarian lingkungan dengan menahan laju pembuangan 1-2 ton plastik per ruang kelas.

Hal ini bisa menawarkan solusi hemat biaya, mencerminkan komitmen HHI dan COH untuk membangun sekolah yang lebih baik dan berkelanjutan.

CEO Happy Hearts Indonesia, Sylvia Beiwinkler begitu antusias menjalin kemitraan dengan COH dalam membuat bangunan sekolah yang berkelanjutan ini.

“Kami percaya bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak. Kemitraan kami dengan Classroom of Hope memungkinkan kami untuk membuat dampak yang lebih besar dalam mewujudkan hal ini,” ungkap Sylvia dalam keterangannya.

Menurutnya, Block Schools telah menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dan menyediakan ruang yang aman dan menginspirasi bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh.

Kolaborasikan Banyak Pihak

Oleh sebab itu, COH pun terus melanjutkan dedikasinya untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah plastik daur ulang. Hal ini bertujuan dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak-anak, keluarga, dan masyarakat untuk berkembang.

Membangun Block Schools ini tidak dapat berjalan sendirian. Butuh kolaborasi yang kuat dengan masyarakat lokal, pemerintah, dan LSM. Oleh karena itulah COH berhasil membangun sekolah, rumah, dan infrastruktur penting untuk mendukung pendidikan anak-anak.

“Bersama-sama, kita akan membangun sekolah yang memberikan akses pendidikan berkualitas, memberdayakan anak-anak untuk berkembang dan menjadi agen perubahan di komunitas mereka,” ungkap CEO Classroom of Hope, Tanya Armstrong.

Dampak Abadi Sekolah Berkelanjutan

Dengan bergabung bersama Happy Hearts Indonesia, COH juga bisa membuat perbedaan nyata dalam kehidupan anak-anak Indonesia. Khususnya di Lombok, dedikasi mereka begitu nyata untuk membangun kembali mimpi anak bangsa melalui bantuan pembangunan sekolah yang ramah lingkungan.

Komitmen bersama antara COH dan HHI terhadap pendidikan yang berkelanjutan juga bisa mendorong untuk menciptakan sekolah berkelanjutan yang memiliki dampak abadi.

Melalui kolaborasi ini menjadi bukti komitmen bersama untuk membangun sekolah yang berkelanjutan dan membuka pintu kesempatan bagi anak-anak di Indonesia. Mereka telah menciptakan masa depan yang lebih cerah untuk generasi mendatang.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/200-sekolah-dari-sampah-plastik-daur-ulang-bakal-terbangun-di-lombok/feed/ 0
Sensasi Sekolah Tanpa Sampah, Pendingin Ruangan dan Lampu https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/#respond Thu, 23 Mar 2023 05:57:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39438 Jakarta (Greeners) – Mengusung konsep bangunan net zero emission, sekolah ramah lingkungan SDN 08 Ragunan, Jakarta Selatan memberikan sensasi belajar tanpa lampu dan sampah bagi peserta didiknya. Konsep ramah lingkungan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mengusung konsep bangunan net zero emission, sekolah ramah lingkungan SDN 08 Ragunan, Jakarta Selatan memberikan sensasi belajar tanpa lampu dan sampah bagi peserta didiknya. Konsep ramah lingkungan ini bertujuan mengurangi emisi karbon.

Sebagian besar aktivitas sekolah ini seminimal mungkin menghasilkan emisi rendah karena memiliki banyak ruang terbuka hijau, panel surya untuk listrik, dan pohon.

Pada awalnya, sekolah ini merupakan gabungan dari beberapa SD yakni SDN Ragunan 08 Pagi, SDN Ragunan 09 Pagi, dan SDN Ragunan 11 Petang. Sebelum menjadi bangunan net zero emission, bangunan ini awalnya adalah bangunan tua yang mengutamakan bangunan saja, bukan tempat bermain anak.

Kepala Sekolah SDN 08 Ragunan Ariyanto mengatakan, dulu bangunannya melebar ke samping berbentuk U, jadi udara ketutup tembok. Tempat bermain anak juga kurang dan tidak sesuai dengan jumlah siswanya.

“Tapi, dengan adanya penggabungan dan konsep ramah lingkungan, sekolah kami sekarang memiliki tempat bermain anak serta punya sirkulasi udara yang baik,” katanya saat Greeners temui di lokasi sekolah, baru-baru ini.

Penerapan Net Zero Emission di Sekolah

Dalam mengimplementasikan net zero emission di SDN Ragunan 08, ada beberapa komponen yang sekolah terapkan di antaranya tidak menyalakan lampu selama kegiatan pembelajaran. Sebab, ada sinar matahari yang membantu penerangan ke dalam ruangan.

Selain itu, SDN Ragunan 08 ini juga menciptakan paru-paru sekolah dengan menanam pohon dan tanaman di lingkungan sekolah. Siswa pun sekolah libatkan untuk menanam sehingga mereka pun ikut bertanggung jawab merawatnya.

“Empat siswa menjaga setiap tanaman ini dengan cara menyiram, memupuk, dan merawat sehingga ada yang bertanggung jawab, karena mereka sudah merasa memiliki,” ucapnya.

Panel surya juga menjadi salah satu komponen yang sekolah gunakan untuk sumber energi listrik. Penggunaan PLN hanya pada malam hari, karena sekolah ini menggunakan energi matahari pada siang hari.

Kepala Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) SDN 08 Ragunan Sutino mengatakan, panel surya ini adalah sumber energi terbarukan. Sumber energi ini hemat dan mengurangi emisi. Konsep dan cara ini juga mengajarkan siswa memanfaatkan sumber daya alam yang tidak akan habis salah satunya sinar matahari.

Panel surya di SDN 08 Ragunan. Foto: Greeners/Apriohansyah

Tidak Ada Tempat Sampah

Hal menarik lainnya, SDN 08 Ragunan tidak menyiapkan tempat sampah di sekolah. Tujuannya agar tidak ada sampah yang penghuni sekolah hasilkan. Pasalnya, dengan adanya tempat sampah, justru akan menimbulkan banyak sampah.

Sekolah mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada anak-anak dan orang tua murid. Sebagi solusinya, sekolah mengimbau orang tua membawakan wadah guna ulang untuk anak-anaknya gunakan di sekolah.

Sekolah juga memiliki kantin sehat yang tidak menghasilkan sampah dengan melarang pedagang di kantin menggunakan bungkus makanan.

Ruang terbuka hijau mendominasi di sekitar bangunan sekolah ini. Foto: Greeners/Apriohansyah

Libatkan Siswa Terapkan Ramah Lingkungan

Konsep net zero emission tidak sekadar pada konstruksi bangunan dan fasilitas. Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan yang mendukung siswa menerapkan sikap ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kegiatannya, siswa membuat pot dari botol plastik bekas untuk menanam tanaman hidroponik. Pihak sekolah juga mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan sarana penunjang seperti pupuk dan tanaman.

Kegiatan lainnya Selasa Bersih, siswa dilibatkan bersih-bersih sekolah. Harapannya berbagai kegiatan ini juga berdampak bagi siswa saat di luar sekolah.

“Menurut cerita dari beberapa orang tua, mereka mengatakan di rumah anaknya suka menanam, menyiram tanaman, dan ketika melihat sampah langsung dibuang,” Ungkap Ariyanto.

Ke depannya, pihak sekolah berencana untuk melakukan kegiatan pelestarian lingkungan seperti pengomposan daun, penanaman buah, dan membuat kolam ikan di sela-sela selokan sekolah.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sensasi-sekolah-tanpa-sampah-pendingin-ruangan-dan-lampu/feed/ 0
Sekolah di Indonesia Belum Bebas dari Ancaman Bencana https://www.greeners.co/berita/sekolah-di-indonesia-belum-bebas-dari-ancaman-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-di-indonesia-belum-bebas-dari-ancaman-bencana https://www.greeners.co/berita/sekolah-di-indonesia-belum-bebas-dari-ancaman-bencana/#respond Mon, 10 Oct 2022 06:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37596 Jakarta (Greeners) – Sebagai negara rawan bencana, semua infrastruktur publik perlu adaptif dan tangguh terhadap bencana. Termasuk juga sekolah di Indonesia. Baru-baru ini bencana banjir menelan korban jiwa. Tiga siswa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebagai negara rawan bencana, semua infrastruktur publik perlu adaptif dan tangguh terhadap bencana. Termasuk juga sekolah di Indonesia.

Baru-baru ini bencana banjir menelan korban jiwa. Tiga siswa di MTSN 19 Pondok Labu, Jakarta Selatan meninggal karena tembok sekolah jebol saat hujan deras mengguyur kawasan itu.

Sebelumnya, deretan berita tentang sekolah yang terdampak bencana juga kerap masyarakat dengar. Sebelumnya, dua atap ruang kelas SDN Bilebante, Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ambruk pada 3 Juni lalu.

SDN Nongkodono, Kauman, Ponorogo tak kalah memprihatinkan karena dua kelas dalam kondisi lapuk roboh. Lalu dua ruang kelas dan perpustakaan di MTs Ar Ribathiyah, Lebak Banten sempat ambles di kedalaman 15 meter akibat hujan deras yang mengguyur.

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin Soefijano menegaskan, pentingnya kesadaran dan kesiapan mitigasi bencana dari komponen sekolah.

“Sebagai wilayah rawan bencana, kita harus siap apabila nanti ada bencana datang. Dengan kesiapan itu maka kita akan sangat berhati-hati dalam membangun gedung sekolah,” katanya kepada Greeners, Minggu (9/10).

Akan sangat berisiko jika membangun sekolah di samping sungai karena rawan banjir. Perlu mematuhi aturan garis sepadan sungai.

“Masalahnya, masyarakat yang tinggal di bantaran kali di perkotaan kurang sadar akan risiko runtuhnya bangunan di sekitarnya,” ujar dia.

Ia menekankan konstruksi bangunan sekolah harus memenuhi berbagai persyaratan, termasuk tahan bencana alam. Rehabilitasi bangunan sekolah juga harus menjadi prioritas. Namun sayangnya, keterbatasan anggaran kerap menjadi kendala.

Bangunan tahan gempa menjadi kunci mitigasi bencana gempa bumi. Foto: Shutterstock

Penting Pendidikan Bencana Sekolah di Indonesia

Pengamat pendidikan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jejen Musfah menyatakan, pentingnya pendidikan kebencanaan untuk mengantisipasi kesiapan semua unsur sekolah saat terjadi bencana.

“Misalnya melalui radio, televisi hingga secara offline ke sekolah di satu wilayah agar mereka tahu apa yang harus mereka akukan saat bencana itu terjadi,” katanya.

Misalnya, para guru dan siswa harus menghindari ruangan kelas yang rusak saat proses belajar mengajar.

Ketua Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mendesak pemerintah agar tidak mengesampingkan bencana yang selama ini mengancam sekolah.

“Bukan seperti sekarang yang cenderung mengabaikan seakan tak ada ancaman apapun. Risiko bencana sudah diprediksi tapi belum ada mitigasi terstruktur dan sistematis,” kata dia.

Ia menilai sekolah, terutama madrasah belum banyak perhatian khusus. Padahal, masih banyak bangunan madrasah yang mengalami kerusakan baik ringan maupun berat.

Selain itu, masih banyak sekolah yang memang lokasinya di dekat persawahan atau daerah cekungan yang sangat rawan banjir dan mengalami korosi pondasi yang berakibat fatal.

Siswa dan Guru Berpotensi Jadi Korban

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan, bencana alam, baik gempa hingga banjir yang terjadi saat jam belajar menimbulkan kerentanan siswa dan guru. Mereka berpotensi menjadi korban.

Ia menyatakan pentingnya standard operating procedure (SOP) kebencanaan khususnya di wilayah yang rentan banjir. “Maka SOP-nya harus ada evakuasi anak-anak harus naik ke lantai 2 atau 3 semuanya. Tidak ada yang boleh di lantai 1 apalagi di halaman sekolah bermain hujan karena akan sangat berisiko pada keselamatannya,” imbuhnya.

Warga sekolah sekolah juga perlu rutin mengikuti latihan evakuasi mandiri untuk antisipasi bencana. Hal yang juga penting, sekolah perlu memiliki jalur evakuasi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sekolah-di-indonesia-belum-bebas-dari-ancaman-bencana/feed/ 0