Sengon - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sengon/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 22 Oct 2022 06:55:50 +0000 id hourly 1 Pohon Jeungjing dan Kualitas Kayunya yang Mendunia https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-jeungjing-dan-kualitas-kayunya-yang-mendunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-jeungjing-dan-kualitas-kayunya-yang-mendunia https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-jeungjing-dan-kualitas-kayunya-yang-mendunia/#respond Sun, 23 Oct 2022 03:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37731 Kayu albasia mungkin adalah salah satu jenis kayu yang paling terkenal di dunia. Kayu ini dinilai mempunyai daya tahan kuat, awet, serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Namun, tahukah Anda […]]]>

Kayu albasia mungkin adalah salah satu jenis kayu yang paling terkenal di dunia. Kayu ini dinilai mempunyai daya tahan kuat, awet, serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Namun, tahukah Anda dari mana kayu itu berasal? Mari berkenalan dengan pohon jeungjing.

Jeungjing termasuk dalam keluarga Fabaceae dan genus Paraserianthes. Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Paraserianthes falcataria, sehingga masih berkerabat dekat dengan pohon sengon (P. moluccana).

Secara histori, mulanya jeungjing dan sengon tergabung dalam genus Falcataria. Keduanya bahkan sempat dimasukkan dalam genus Albazia, tetapi keputusan itu dianulir kembali setelah riset DNA lanjutan.

Berkat penampilannya yang mirip, kedua spesies tersebut pun acap kali disamaratakan masyarakat. Sehingga, tidak heran jika sebagian orang menyebut jeungjing sebagai sengon atau pohon sengon laut.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Jeungjing

Dalam waktu setahun, pohon jeungjing dapat berkembang biak sampai setinggi 7 meter. Jika dibiarkan terus tumbuh, tinggi pohon itu dapat mencapai 40 meter dengan diameter kayu berkisar 100 cm lebih.

Batang utama terlihat lurus dan berbentuk silindris, sementara bagian cabang tumbuh bebas sampai ukuran 20 meter. Kulit terluar jeungjing tidak berbanir, licin atau agak berkutil, dengan pori-pori menonjol.

Flora ini memiliki tajuk yang rindang, berbentuk payung dan renggang. Ranting mudanya tampak bersegi dan berambut, sedangkan daunnya kecil-kecil, mudah rontok, serta tumbuh dengan ukuran 23–30 cm.

Sirip-sirip daun berjumlah 6–20 pasang, masing-masingnya mempunyai 6-26 pasang anak daun berbentuk elips. Ujung daun tampak miring dan runcing, dengan ukuran anak daun berkisar 0,6–1,8 x 0,5 cm.

Jeungjing juga memiliki bunga kecil dengan corak putih kekuningan dan agak berbulu. Pohon tersebut juga bisa menghasilkan buah berbentuk polong tipis serupa pita, yang ukurannya berkisar 6–12 x 2 cm.

Habitat dan Distribusi Pohon Jeungjing

Di habitat aslinya, pohon jeungjing dapat kita temukan di hutan-hutan primer. Mereka menyukai iklim basah atau agak kering, serta tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 1.600 meter di atas laut.

Namun karena sering dibudidayakan, tanaman itu kini bisa kita jumpai pula di hutan primer. Mereka dibiakkan di dekat perkampungan, tepi jalan dan sungai, ladang, pematang sawah, maupun daerah tegalan.

Distribusinya sendiri terbilang cukup luas, sebab menyebar di wilayah Indonesia, Filipina, hingga ke Australia. Di tanah air, spesies ini tersebar dapat kita temukan di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga Papua.

Sebagai informasi, pohon jeungjing sendiri sejatinya memiliki tiga anak jenis. Berbagai anak jenis tersebut menyebar ke berbagai daerah, yaitu:

  • Subspesies f. falcataria menyebar di Maluku dan Papua
  • Subspesies f. salomonensis dari Kepulauan Solomon
  • Subspesies f. fulva dari pegunungan Papua.

Kegunaan dan Manfaat Pohon Jeungjing

Pohon jeunjing mampu menghasilkan kayu berkualitas. Kayu tersebut dikenal sebagai kayu albasia, yang sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, papan, peti pengemas, pulp, hingga perabot rumah tangga.

Tidak cuma itu, kayu albasia juga berguna dalam pembuatan material mainan, korek api, sampan, serta kayu bakar. Sedangkan pohonnya berfungsi sebagai peneduh jalan hingga pengendali erosi tanah.

Daun-daun jeungjing dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti anak dan kambing. Sementara pepagan atau kulitnya menghasilkan zat penyamak, yang dapat digunakan sebagai ubar jala.

Untuk menambah keawetan kayu albasia, Anda dapat mengecat atau mengapuri permukaan kayu tersebut. Jenis kayu ini juga dapat diolah dalam berbagai bentuk, seperti balok, papan, hingga triplek.

Tidak main-main, harga olahan kayu albasia dapat mencapai ratusan ribu per kubiknya. Sebagai gambaran, lihat uraian berikut ini:

  • Kayu balok albasia: sekitar Rp 590.000-840.000 per kubik, untuk kayu berdiameter 25–29 cm dengan panjang 300 cm
  • Kayu papan albasia: sekitar Rp 17.000 untuk diameter 15 cm dan panjang mencapai 2,5 meter
  • Kayu triplek albasia: mulai dari Rp 56.000 untuk ukuran 40 x 60 cm, serta Rp 289.000 untuk ukuran 122 x 244 cm.

Taksonomi Paraserianthes Falcataria

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-jeungjing-dan-kualitas-kayunya-yang-mendunia/feed/ 0
Sengon, Pohon Kayu Unggulan yang Serbaguna https://www.greeners.co/flora-fauna/sengon-pohon-kayu-unggulan-yang-serbaguna/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sengon-pohon-kayu-unggulan-yang-serbaguna https://www.greeners.co/flora-fauna/sengon-pohon-kayu-unggulan-yang-serbaguna/#respond Sun, 02 Aug 2020 00:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=28049 Sebagai tanaman produksi dan konservasi, pohon sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat dan dapat menembus ke dalam tanah.]]>

Sengon merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang cepat tumbuh dan banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan furnitur. Di Indonesia, permintaannya semakin meningkat seiring tingginya minat masyarakat terhadap produk berbahan dasar kayu. Sengon yang mempunyai nama latin Paraserianthes moluccana ialah jenis pohon yang dikembangkan dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri maupun Hutan Rakyat di Indonesia.

Di sejumlah daerah sengon memiliki nama lokal antara lain jeungjing (Sunda), sengon laut (Jawa), sika (Maluku), tedehu pute (Sulawesi), bae dan wahogon (Irian Jaya) (Soerianegara dan Lemmens, 1993; Hidayat, 2002). Secara alami, tanaman ini juga tumbuh di Indonesia seperti di Pulau Irian Jaya dan kepulauan sekitarnya, Papua Nugini, Selandia Baru, dan kepulauan di Solomon.

Baca juga: Sonokeling, Tanaman Agroforestri Populer yang Rentan Punah

Dalam buku Budidaya Sengon Unggul untuk Pengembangan Hutan Rakyat (2014), sengon adalah salah satu spesies yang paling cepat berkembang di dunia dan mampu tumbuh hingga delapan meter per tahun di masa pertama penanaman. Pohon peneduh ini dapat hidup di pantai hingga daerah dengan ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Namun, pada umumnya progresnya akan optimum jika tumbuh pada kisaran nol sampai 800 mdpl (Hidayat, 2002).

Sedangkan di Pulau Jawa, jenis ini diduga tumbuh paling baik pada ketinggian antara 250 sampai 400 mdpl, pada iklim lembap dan panas dengan suhu rata-rata per tahun berkisar antara 26°C–30°C (Alrasyid, 1972; Heyne, 1987). Spesies ini dapat ditanam pada tapak yang tidak subur tanpa pemupukan. Meskipun begitu di lahan dengan drainase yang buruk, pohon ini juga tetap tidak tumbuh dengan baik (Hidayat, 2002).

Pohon Sengon

Foto: shutterstock

Pohon sengon memiliki sejumlah keunggulan, antara lain masa masak tebang yang relatif pendek sekitar 5-7 tahun, pengelolaannya relatif mudah, dan persyaratan tempat untuk tumbuh tidak rumit. Selain kayunya yang serbaguna, pohon yang daunnya bermanfaat sebagai pakan ternak ini juga membantu menyuburkan tanah dan memperbaiki kualitas lahan.

Kayu sengon memberikan manfaat serta keuntungan yang tinggi, misalnya, untuk produksi kayu pertukangan, bahan bangunan ringan di bawah atap, bahan baku bubur kertas dan kertas, peti kemas, hingga papan partikel (Soerianegara dan Lemmens, 1993).

Baca juga: Srikaya, Buah Beraroma Manis yang Kaya Gizi

Tanaman yang tumbuh dengan cepat ini juga memiliki sifat multifungsi dan memberikan dampak ganda sebagai tanaman produksi maupun konservasi. Sebagai tanaman pelestarian, sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus ke dalam tanah. Rambut akarnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen sehingga tanah di sekitarnya menjadi subur (Anggraeni, 2010).

Daun sengon sebagaimana kelompok polong-polongan (Mimosaceae) lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing menyukai daun sengon. Daun hingga akarnya juga dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

Taksonomi Pohon Sengon

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/sengon-pohon-kayu-unggulan-yang-serbaguna/feed/ 0