seni pertunjukan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/seni-pertunjukan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 24 Apr 2015 03:49:21 +0000 id hourly 1 Pecahkan Rekor, 20.000 Angklung Kumandangkan Pesan Solidaritas https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/#respond Fri, 24 Apr 2015 03:45:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8691 Bandung (Greeners) – Lebih dari 20.000 angklung berkumandang di Stadion Siliwangi, Bandung guna memecahkan rekor dunia memainkan angklung terbanyak. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menerima piagam dari Museum Rekor […]]]>

Bandung (Greeners) – Lebih dari 20.000 angklung berkumandang di Stadion Siliwangi, Bandung guna memecahkan rekor dunia memainkan angklung terbanyak. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menerima piagam dari Museum Rekor Dunia-Indonesia menuturkan aksi ini dilakukan untuk mengingatkan pada dunia bahwa solidaritas adalah kunci dari persatuan, khususnya bagi negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika Ke-60 tahun 2015.

Kepada Greeners, pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, penghargaan pemecahan rekor dunia ini adalah penghargaan untuk solidaritas warga Bandung secara khusus dan masyarakat Jawa Barat secara umum.

“Ini permainan angklung terbanyak sepanjang sejarah. Dua puluh ribu orang pemain menggaungkan pesan perdamaian untuk Asia-Afrika,” katanya, Bandung, Kamis (23/04).

Selain itu, Menteri Pariwisata, Arief Yahya turut menyatakan bangga dengan antusias yang diberikan oleh warga Bandung. Ia pun sempat merasa gemetar melihat begitu besarnya rasa cinta masyarakat Bandung terhadap kotanya.

“Ini sangat membanggakan. Ini membuktikan bahwa angklung ini milik bangsa Indonesia,” jelasnya.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wakil Direktur Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri), Osmar Semesta, menjelaskan bahwa pemecahan rekor bermain angklung terbanyak ini menembus rekor sebelumnya yang dilakukan di Jakarta dengan 11.000 peserta.

“Penilaian kali ini masuk dalam kategori penilaian terbanyak. Selain itu dimainkan dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Semoga pesan solidaritasnya sampai ya ke para delegasi negara,” tambahnya.

Secara rinci Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Bandung, Herlan J.S mengatakan kepada Greeners kalau permainan 20.000 angklung ini dipimpin oleh Group Musik Babendjo dari Saung Angklung Udjo yang sukses mengajak para peserta yang mengikuti Harmony Angklung for The World untuk berjoget bersama.

Sedangkan sebanyak 10.000 dari 20.000 angklung yang digunakan dalam peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika di Stadion Siliwangi, Bandung ini dibuat oleh pengrajin angklung dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

“Setengah dari alat musik tradisional Sunda ini dibuat oleh Mumu Alimudin. Beliau itu perajin Sanggar Angklung Panji Mekar Panyingkiran dari Kampung Nempel, Desa Panyingkiran,Kecamatan Ciamis,” tukasnya.

Sebagai informasi, Harmony Angklung for The World-Angklung for AACC ini merupakan rangkaian perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang digelar untuk pemecahan rekor dunia memainkan angklung dengan jumlah pemain hingga 20.000 orang.

Selama satu jam lebih panitia bersama tim juri dari Muri maupun Guinness World Records melakukan penghitungan jumlah peserta. Sekitar pukul 11.40 WIB, perwakilan dari MURI memastikan jika gelaran di Stadion Siliwangi memecahkan rekor Pagelaran Musik Angklung dengan Pemain Terbanyak. Jumlah yang tercatat mencapai 20.000 peserta dengan memainkan lagi We are The World yang sempat dipopulerkan oleh penyanyi Amerika, Michael Jackson.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pecahkan-rekor-20-000-angklung-kumandangkan-pesan-solidaritas/feed/ 0
Teriakan Hati Untuk Mengusir Kapitalis ala Djoko Pekik https://www.greeners.co/gaya-hidup/teriakan-hati-untuk-mengusir-kapitalis-ala-djoko-pekik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teriakan-hati-untuk-mengusir-kapitalis-ala-djoko-pekik https://www.greeners.co/gaya-hidup/teriakan-hati-untuk-mengusir-kapitalis-ala-djoko-pekik/#respond Tue, 28 Oct 2014 03:00:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6277 Jakarta (Greeners) – Senja semakin pekat, langit pun mulai menghitam. Lampu-lampu neon yang terpasang diberbagai sudut cafe ini menerawang bias menggantikan matahari yang telah berpulang. Sesosok pria tua dengan kacamata […]]]>

Jakarta (Greeners) – Senja semakin pekat, langit pun mulai menghitam. Lampu-lampu neon yang terpasang diberbagai sudut cafe ini menerawang bias menggantikan matahari yang telah berpulang.

Sesosok pria tua dengan kacamata bertengger di hidungnya seperti tidak menghiraukan silaunya neon yang menerobos tempatnya duduk. Matanya tajam menatap kanvas di depannya. Dengan tangan rentanya, ia memainkan kuas bercampur cat. Goresan demi goresan yang ia torehkan di atas kanvas berubah menjadi lukisan yang tidak biasa. Satu per satu, perhatian pengunjung beralih ke lukisan itu.

Pria tua itu adalah Djoko Pekik. Ia pernah menjadi tahanan politik akibat geger politik pada tahun 1965. Tapi ia tidak berhenti bersikap kritis. Lewat lukisan, ia sampaikan kritik dan umpatan sumpah serapah kepada penguasa zalim.

Bukan tanpa alasan lagenda hidup seniman lukis Indonesia ini datang melukis di Rolling Stone Cafe, pada Jumat (24/10) malam.

Djoko yang memang tidak tinggal di Jakarta, diundang oleh Awanama Art Habitat dan Folks Mataraman Institute sebagai bagian dari pengisi acara “Wayang Rokenrol”, sebuah pagelaran wayang yang menggabungkan seni visual dan musik yang dikomposisikan secara apik dalam sebuah seni pertunjukan untuk menyambut Malam Satu Suro.

“Lukisan ini judulnya ‘Celeng yang Dijarah Para Anjing-anjing,” tutur Djoko saat disambangi oleh Greeners usai melukis.

Secara harfiah, Djoko menjelaskan, bahwa lukisan yang baru saja ia selesaikan tersebut menggambarkan kalau kapitalisme di Indonesia harus diusir karena telah merampas banyak tanah rakyat.

"Celeng yang Dijarah Para Anjing-anjing" karya Djoko Pekik. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

“Celeng yang Dijarah Para Anjing-anjing” karya Djoko Pekik. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, semakin meluasnya pembangunan perumahan di kota-kota besar yang dilakukan oleh para pengembang, yang entah bagaimana bisa mendapatkan izin untuk membangun, membuat suasana kota menjadi kisruh, panas dan kering.

“Di kota ini, yang perusak alam itu ya para developer perumahan. Mereka, para kapitalis itu, membabat habis pohon-pohon kita, sawah-sawah kita, semuanya dirampas sama mereka,” katanya.

Pria yang kini berusia 77 tahun tersebut menyayangkan sikap pemerintah yang dengan mudah memberikan izin kepada pengembang perumahan untuk untuk membangun rumah atau apartemen di tanah-tanah yang produktif.

“Ini kan aneh, kenapa bukan tanah yang sudah tidak produktif lagi saja yang dijadikan lahan perumahan?” kata Djoko.

Lukisan celeng karya Djoko dibiarkan tergantung di easel. Sudah banyak mata yang melihat lukisan ini malam itu. Entah apa yang ada dalam benak pemilik mata yang melihatnya. Semoga saja mereka tidak berpikir bahwa celeng itu sekadar celeng dan anjing itu sekadar anjing.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/teriakan-hati-untuk-mengusir-kapitalis-ala-djoko-pekik/feed/ 0
Akulturasi Kearifan Lokal Hingga Pembagian Bibit Tanaman di “Wayang Rokenrol” https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/#respond Sat, 25 Oct 2014 11:05:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6245 Jakarta (Greeners) – Tanggal satu bulan Suro merupakan tahun baru dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan satu Muharram dalam penanggalan Hijriah. Satu Suro sendiri memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tanggal satu bulan Suro merupakan tahun baru dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan satu Muharram dalam penanggalan Hijriah. Satu Suro sendiri memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa karena pada tanggal tersebut dianggap sebagai sebuah hari yang kramat, terlebih bila jatuh pada Jumat Legi.

Saat Malam Satu Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Selain itu, Malam Satu Suro juga menjadi sebuah momen khusus yang dalam kebudayaan Jawa tradisional selalu diisi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang digelar di tempat lapang atau balai desa.

Lantas, bagaimana jika dalam menyambut Malam Satu Suro tersebut, pertunjukan wayang digelar di sebuah cafe bertema Rock ‘n Roll?

Konsep yang tidak biasa ini digarap Awanama Art Habitat dan Folks Mataraman Institute. Hasilnya, sebuah pagelaran “Wayang Rokenrol” yang menggabungkan seni visual dan musik yang dilebur dan dikomposisikan secara apik dalam sebuah seni pertunjukan.

Salah seorang dalang dan penggagas pagelaran ini, Samuel Indratmo, menjelaskan, bahwa “Wayang Rokenrol” adalah sebuah pertunjukan wayang kontemporer yang diadakan dalam rangka menyambut Malam Satu Suro. Tujuannya, untuk memaknai kembali kegiatan kebudayaan wayang kulit dalam semangat kekinian.

“Jadi, judulnya itu Hamenangi Jaman Mletho yang artinya kehidupan ini sudah semakin tidak karuan,” jelas pria yang akrab dipanggil Sam ini saat berbincang ringan dengan Greeners di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Jumat (24/10).

Beberapa mahasiswa dari Sanata Dharma Yogyakarta yang turut terlibat dalam "Wayang Rokenrol". Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Beberapa mahasiswa dari Sanata Dharma Yogyakarta yang turut terlibat dalam “Wayang Rokenrol”. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sam mengutarakan kalau semakin hari negara ini sudah sangat tidak jelas (mletho), maka masyarakatnya juga jangan terlalu serius. Menurutnya, ketika zaman sudah tidak karuan, masyarakatnya juga harus tidak karuan pula.

“Tapi tidak karuannya bukan sembarangan, tapi dalam konteks bagaimana mencapai sebuah refleksi yang membangun,” imbuhnya.

Selain pertunjukan wayang, dalam pagelaran ini juga dibagikan berbagai macam bibit pohon kepada pengunjung. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Peneliti Konservasi Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma, Setia Budiawan, menerangkan bahwa Sanata Dharma dalam pagelaran ini membawa sekitar 2000 bibit tanaman hasil dari pembibitan di Sanata Dharma Yogyakarta dengan tujuan untuk memberikan penghasil oksigen bagi Ibukota Jakarta.

“Ini hasil dari mahasiswa baru Sanata Dharma yang memunguti biji-bijian yang ada di seputar kampus kemudian dibibitkan. Ini ada bibit tunjung, saputangan dan meranti,” ungkap Setia.

Sebagai informasi, perhelatan “Wayang Rokenrol” ini juga diisi dengan live painting oleh seniman-seniman kontemporer serta disemarakkan mini bazaar produk-produk lokal. Di barisan seniman visual hadir nama-nama besar, seperti Nasirun, Djoko Pekik, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, Bambang Herras, dan Ampun Sutrisno.

Tak ketinggalan, hadir pula musisi Endy Baroque, Hasnan Hasibuan, Bagus Mazasupa, Teguh Jos, Akbar Wicaksono, dan Be Ge, serta dilengkapi penampilan spesial dari Young de Brock, Danilla, Sri Krishna dan Red Dot.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/akulturasi-kearifan-lokal-hingga-pembagian-bibit-tanaman-di-wayang-rokenrol/feed/ 0