sikka - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sikka/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 26 May 2015 14:30:00 +0000 id hourly 1 Mengenal Budaya Sikka di Plewo Doi https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/#respond Wed, 27 May 2015 01:30:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=9262 Jakarta (Greeners) – Sore itu sinar matahari cukup menyilaukan mata. Udara yang terasa agak panas ditambah dengan orang-orang yang berkumpul mengitari halaman rumput dengan luas tidak seberapa menambah pengap udara. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sore itu sinar matahari cukup menyilaukan mata. Udara yang terasa agak panas ditambah dengan orang-orang yang berkumpul mengitari halaman rumput dengan luas tidak seberapa menambah pengap udara. Namun, tidak berapa lama, suasana berubah hening ketika seorang wanita setengah baya berteriak dan mulai melantunkan nyanyian.

Seiring “aba-aba” perempuan tadi, tujuh orang perempuan dan lima orang laki-laki masuk beriringan ke tengah lapangan. Mereka menari dan menyanyi dalam bahasa Sikka. Hanya entakan kaki dan pukulan sebatang kayu pada batok kelapa yang mengiringi nyanyian mereka. Tarian tradisional ini disebut tarian “Togo Pare” atau tarian untuk memisahkan padi dengan kaki.

Baik laki-laki maupun perempuan penari tersebut mengenakan kain tradisional khas Sikka. Hiasan kepala, ikat rambut, kalung manik-manik, gelang, hingga tas selempang, semuanya khas Sikka. Beberapa dari antara mereka bahkan mengunyah sirih kala menyanyi.

Kedatangan mereka sore itu tidak terlepas dari Noesa, sebuah studio kecil di Jakarta yang fokus pada pelestarian budaya. Duo pendiri Noesa, Cendy Mirnaz dan Annisa Hendrato mengajak komunitas warga Kabupaten Sikka di Flores, Nusa Tenggara Timur untuk memperkenalkan budaya dan karya buatan tangan mereka dalam acara bertajuk “Plewo Doi” di Dia.lo.gue Artspace Kemang, Jakarta.

(kiri-kanan) Annisa Hendrato dan Cendy Mirnaz, pendiri Noesa. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

(kiri-kanan) Annisa Hendrato dan Cendy Mirnaz, pendiri Noesa. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Sebagaimana nama acara ini “Plewo Doi”, yang dalam bahasa Sikka berarti memperkenalkan diri, Noesa memboyong komunitas dalam Sanggar Seni Watubo dari Kabupaten Sikka untuk memperkenalkan budaya mereka dengan berbagai pertunjukan seni dan pameran kerajinan tangan di Jakarta.

“Di Noesa, kami tidak hanya membuat acara tapi kami membuat produk juga karena target market kami anak muda. Bagaimana caranya memasukan seni dan budaya Indonesia ke anak muda supaya mereka tidak sekadar memakai tapi juga tahu arti motif dan cerita dibaliknya,” ujar Cendy, Jakarta (23/05/2015).

Dalam rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 2-13 Mei 2015 dan tanggal 22-24 Mei 2015 tersebut, berbagai kegiatan seperti pertunjukan tari-tarian tradisional, pameran kain tradisional Sikka, workshop tenun, hingga workshop pewarnaan dengan bahan-bahan alami digelar untuk umum. Selain itu, ada pula bazzar yang menjual pernak-pernik, kain dan busana dalam motif kontemporer Sikka.

Seorang penenun asli Sikka tengah menunjukkan cara menenun kain kepada pengunjung. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Seorang penenun asli Sikka tengah menunjukkan cara menenun kain kepada pengunjung. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

“Ternyata dengan mengadakan acara seperti ini, kami membangun self development bagi mereka (komunitas warga Sikka). Saat pameran pertama kali, mereka banyak diam karena takut salah dan malu. Dulu kami juga sempat membantu administrasi mereka, tapi sekarang mereka sudah menjalankan administrasi mereka sendiri,” ungkap Annisa dengan nada senang.

Cendy dan Annisa yang mengaku baru serius menjalankan Noesa pada akhir tahun 2014 lalu sadar bahwa usaha mereka mengenalkan salah satu budaya dari Timur Indonesia memang tidak besar dan dalam waktu yang terbilang singkat. Namun keduanya optimis dengan konsep yang mereka usung bahwa usaha mereka dapat saling mengisi dan memberdayakan masyarakat adat.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mengenal-budaya-sikka-di-plewo-doi/feed/ 0
Nowela, Bangga Papua https://www.greeners.co/gaya-hidup/nowela-bangga-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nowela-bangga-papua https://www.greeners.co/gaya-hidup/nowela-bangga-papua/#respond Thu, 04 Dec 2014 10:27:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_green_carpet&p=6661 Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki begitu banyak pantai. Berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial, Indonesia memiliki panjang garis pantai 99.093 kilometer. Potensi alam ini, sayangnya, belum […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki begitu banyak pantai. Berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial, Indonesia memiliki panjang garis pantai 99.093 kilometer. Potensi alam ini, sayangnya, belum semuanya dimanfaatkan dengan optimal.

“Kalau orang sampai ke luar negeri untuk vacation, sayang banget karena Indonesia alamnya kaya,” ujar Nowela saat ditemui Greeners di sebuah studio musik di bilangan Fatmawati, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perempuan bernama asli Nowela Elizabeth Mikhelia Auparay ini menyatakan bahwa di Papua banyak pantai yang indah dan masih dalam kondisi asli atau sangat jarang dikunjungi manusia.

“Belum pernah aku temukan pantai di Pulau Jawa yang pasirnya seputih di Papua. Dia (pantai) bersih, terawat, dan terjaga. Saya sudah ke banyak kota di Jayapura. Hampir semua pantainya bagus. Di Biak, Serui, Nabire, mereka punya spot hampir semuanya bagus, enggak ada yang enggak,” ujarnya berpromosi.

Finalis Indonesian Idol musim ke delapan kelahiran Wamena, Papua ini mengaku senang bertualang dan senang pergi ke pantai. Ia pun lantas bercerita bahwa saat dirinya kecil, ia diceritakan ada daerah di Biak yang memiliki sungai yang sangat indah. Keindahan sungai itu menonjol karena ada kilau pasir emas yang mengalir terbawa air. “Waktu itu orang-orang jadi kaya karena itu. Segila itu potensi alamnya,” katanya.

Saat ini, selain dikenal sebagai wilayah tambang emas, Papua juga dikenal sebagai salah satu lokasi diving terbaik di Indonesia dan dunia. Salah satunya adalah Raja Ampat. Namun, menurut Nowela, ketenaran Raja Ampat justru membuatnya khawatir jika pelancong datang ke Papua hanya ke Raja Ampat.

“Sekarang, Raja Ampat sudah mulai komersil, banyak pendatang. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungannya, siapa lagi? Semuanya berawal dari virgin-nya alam itu sendiri karena indahnya di situ. Kalau beberapa puluh tahun ke depan sudah kotor, sayang sekali,” ujarnya.

Nowela juga merasa selama ini potensi alam dan pariwisata, khususnya di wilayah Timur Indonesia, belum tergarap dengan baik. Selain itu, minimnya promosi potensi daerah di kawasan tersebut membuat banyak kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, tertinggal dari segi kesejahteraan ekonomi.

“Ini bukan hanya usah pemerintah saja. Harus ada kerjasama dengan media, sponsor, dan sebagainya. Kalau enggak ada media, bagaimana orang tahu kalau tempat itu keren? Harus banyak pihak yang terlibat supaya lebih terekspos,” pungkasnya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nowela-bangga-papua/feed/ 0