silikon - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/silikon/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 22 Oct 2017 16:29:04 +0000 id hourly 1 Silikon Menjadi Revolusi Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/silikon-menjadi-revolusi-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=silikon-menjadi-revolusi-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/silikon-menjadi-revolusi-energi-terbarukan/#respond Sat, 21 Oct 2017 13:24:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19072 Silikon untuk menampung tenaga angin dan surya sebagai panas menjadi inovasi terbaru dalam pertaruhan untuk menggantikan semua bahan bakar fosil dengan energi terbarukan.]]>

LONDON, 8 September 2017 − Menemukan cara murah untuk menyimpan kelebihan listrik yang diproduksi oleh pembangkit listrik tenaga angin dan surya saat ini menjadi kegiatan pemerintah dan industri energi terbarukan di seluruh dunia.

Apabila bisa dilakukan pada skala besar, maka pembangkit listrik batubara, yang menjadi penyebab utama perubahan iklim, dapat ditinggalkan sepenuhnya dan gas bisa digantikan perannya.

Saat ini, teknologi baterai mendapatkan perhatian utama. Sebagian karena pemerintah melanjutkan perkenalan mobil listrik dan sebagian lagi karena sangat mungkin menggunakan baterai besar untuk menyimpan kelebihan tenaga angin dan surya untuk bisa digunakan saat jam puncak.

Namun, ada peningkatkan minat dalam menyimpan energi sebagai panas yang bisa digunakan untuk skema pemanasan atau menciptakan uap untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik saat permintaan tinggi.

Silikon murah

Hingga kini, salah satu cara terbaik untuk menyimpan panas adalah dengan garam cair dari berbagai macam bentuk. Namun, silion yang murah dan sudah tersedia kini mampu menyediakan solusi sebagai pengubah keadaan.

Silikon merupakan senyawa berlimpah di bumi setelah oksigen, yang bisa dipanaskan hingga 2000 derajat Celcius, tiga kali dari garam cair. Keuntungan lainya, terlepas dari harganya hanya dua dolar per kilo, adalah untuk menyimpan panas dengan satu silikon blok sama besarnya dengan sepersepuluh ukuran tangki garam cair.

Di antara yang berinvestasi pada penelitian tersebut adalah Uni Eropa yang memiliki dana 3,3 juta euro untuk proyek Amadeus yang dipimpin oleh Solar Energy Institute di Technical University of Madrid (UPM). Uni Eropa berharap bisa mengeluarkan prototipe penyimpanan silikon skala kecil beroperasi pada tahun 2019.

UPM mempercayai penggunaan silikon akan berhasil karena sudah mendirikan perusahaan komersial, Silistore, untuk menggunakan teknologi tersebut.

Garam cair saat ini merupakan metode yang lebih banyak digunakan pada pembangkit listrik tenaga surya, menggunakan cermin untuk memanaskan cairan di menara dan menghasilkan listrik.

Garam menyisakan kelebihan panas untuk ditampung di tangki besar dengan suhu mencapai 600 derajat Celcius, dan digunakan pada malam hari untuk menghasilkan listrik. Sudah ada 17 sistem komersial yang dibangun di seluruh dunia untuk memungkinkan penyediaan listrik setelah matahari terbenam dan di beberapa kasus, 24 jam sehari.

Penampungan energi panas membuat proyek pembangkit listrik tenaga surya menjadi pilihan tepat bagi negara yang disinari matahari secara konstan sehingga bisa menyediakan persediaan listrik yang bisa diandalkan.

Namun, penyimpanan panas tidak praktis di tempat-tempat yang menggunakan panel surya atau energi angin, di mana suplai listrik bisa menyebar atau dalam beberapa kasus, berlebihan. Jika angin bertiup sangat kencang di tengah malam maka listrik tidak diperlukan dan menjadi terbuang percuma apabila tidak bisa ditampung secara ekonomis.

Beberapa negara mengeksplore penggunaan kelebihan listrik untuk membuat hidrogen yang bisa digunakan untuk menjalankan kendaraan, memutar turbin dan bisa ditambahkan kepada pipa gas. Namun, menggunakan silikon untuk menampung panas merupakan terobosan yang dapat mengubah dunia penampungan energi.

Alejandro Datas, peneliti UPM, mengatakan bahwa sistem silikon menggunakan lebih sedikit material, lebih kecil dan sederhana, maka harganya akan berada jauh di bawah garam cair.

“Kami saat ini mencari partner industri,” jelas Datas. “Dengan dukungan dana yang cukup, kami akan mampu membangun prototipe komersial yang pertama sebelum tahun 2019 dan beroperasi pada tahun 2020.”

Namun, Eropa harus segera bergegas. Sebuah perusahaan asal Australia, 1414 Degrees, sudah membangun teknologi silikon, yang diklaim bisa menampung energi sepuluh kali lebih murah ketimbang baterai lithium.

Nama perusahaan tersebut berasal dari kadar pelelehan silikon. Mereka mengklaim sistem yang sudah dipatenkan tersebut dapat mengubah kelebihan listrik dari angin dan surya menjadi energi pada harga yang kompetitif.

Target market

Dr Kevin Moriarty, kepala eksekutif perusahaan tersebut, memiliki dua target market. Satu adalah 10 megawatt unit penyimpan listrik untuk industri. Dan kedua, sistem lebih besar yaitu 200 megawatt yang ditargetkan untuk pembangkit listrik tenaga surya dan angin, sehingga mereka bisa menyimpan kelebihan saat produksi melebihi permintaan dan menjual listrik kembali ke grid pada puncak permintaan.

Moriarty mengatakan kepada Renewable Energy World news network bahwa persoalan di Australia, misalnya, adalah pembangkit listrik tenaga angin bekerja pada jam 3 pagi saat orang tidak membutuhkan listrik.

“Persoalan itu juga terjadi di Eropa. Kalian butuh untuk mencocokkan permintaan dengan pembangkit, dan itu tidak bisa dicapai dengan lithium. Terlalu mahal dan kalian perlu kuantitas yang besar untuk menanganinya.”

Moriarty mengatakan bahwa sistem perusahaan menawarkan panas yang bersih dan murah. “Kami tidak memiliki emisi kotor seperti gas atau batubara, jadi pada dasarnya panas keluar sebagai udara panas dan bisa digunakan untuk segala macam.

“Lebih lanjut, kalian bisa menggunakan silikon kembali. Bahan tersebut tidak terbatas.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/silikon-menjadi-revolusi-energi-terbarukan/feed/ 0
Tak Perlu Tebang Kayu untuk Membuat Topeng Malangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/tak-perlu-tebang-kayu-untuk-membuat-topeng-malangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tak-perlu-tebang-kayu-untuk-membuat-topeng-malangan https://www.greeners.co/ide-inovasi/tak-perlu-tebang-kayu-untuk-membuat-topeng-malangan/#respond Thu, 13 Nov 2014 07:40:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=6416 Malang (Greeners) – Seni tari topeng malangan memang sudah melegenda sejak era Kerajaan Hindu dan Budha di Malang, Jawa Timur. Salah satu keunggulan dalam seni tari topeng malangan adalah berbagai […]]]>

Malang (Greeners) – Seni tari topeng malangan memang sudah melegenda sejak era Kerajaan Hindu dan Budha di Malang, Jawa Timur. Salah satu keunggulan dalam seni tari topeng malangan adalah berbagai karakter manusia yang tergambar pada topeng itu sendiri, seperti tertawa, sedih, marah, dan sebagainya.

Untuk membuat satu topeng, biasanya membutuhkan kayu yang rata-rata panjangnya 22 sentimeter dengan diameter 18 sentimeter lalu dibelah menjadi dua bagian. Jika salah dalam mengukirnya, maka proses memotong kayu kembali diulang. Namun, ada cara yang lebih ramah lingkungan untuk membuat sebuah topeng malangan. Yakni dengan memanfaatkan kertas bekas atau bubur kertas bekas. Jika salah, maka bisa dilebur lagi kertas itu menjadi bubur lagi.

Salah satu seniman dari Kedai Seni Dewan Kesenian Malang (DKM), Joko Rendy, menyempatkan diri mendemonstrasikan di depan pelajar dan pengunjung DKM, Rabu (12/11/2014) sore. Beberapa bubur kertas sudah disiapkan di ember. Cetakan topeng dari silikon dan fiber juga sudah siap dengan beberapa karakter.

Bubur kertas di dalam sebuah ember itu dengan cekatan diaduk lagi hingga benar-benar halus. Lem kalsium dan semen putih dicampurkan sedikit sebagai perekat. Secara perlahan bubur kertas itu ditempelkan di cetakan yang sudah ada. “Bagian tersulit dulu seperti hidung, mata dan cekungan-cekungan di wajah didahulukan,” kata Joko.

Setelah itu, Joko melanjutkan ke bagian pinggir dan tengah cetakan hingga mencapai ketebalan sekitar 0,5 centimeter. Untuk meresapkan air, Joko menempelkan kertas kering yang sudah disobek selebar tiga jari lalu ditata hingga menutup bagian dalam.

Proses pembuatan topeng malangan dari bubur kertas. Foto: greeners.co

“Proses pengeringan bisa dijemur atau menggunakan hairdryer,” ujar Joko sambil mengawasi Angelika, salah satu siswi SMAK Santo Albertus yang juga turut mempraktekkan membuat topeng malangan dari limbah kertas.

Topeng baru bisa diangkat dari cetakannya bila sudah benar-benar kering. Setelah itu, langkah finishing dan mewarnai topeng sesuai karakter yang ada. Sangat cepat dan efisien memang.

Membuat topeng dari kayu biasanya membutuhkan waktu hingga satu minggu, bahkan satu bulan. Sebab, proses mengukir kayu membutuhkan keahlian tersendiri dan harus dipelajari dengan tekun. Namun dengan limbah kertas, topeng malangan bisa diciptakan dalam waktu sehari atau beberapa jam saja.

Salah satu guru mata pelajaran Pra Karya Kerajinan, Joko Priyono, mengaku tertarik dengan demo yang ditampilkan. Di dalam pelajarannya, para siswa diajarkan mengolah bubur kertas sesuai imajinasi masing-masing siswa. Ada yang membuat celengan, ada juga hiasan dinding, dan lain-lain. “Nanti siswa yang belajar langsung di sini bisa mengajarkan ke teman-temannya,” kata Joko Priyono, yang mengantarkan Angelika ke DKM.

Angelika sendiri mengaku baru belajar membuat topeng malangan dari limbah kertas. Ia tampak ragu sebelumnya dan hasilnya belum sempurna karena kurang menekan ketika membuat topeng di bagian hidung sehingga ketika diangkat hidungnya putus. “Tidak apa-apa, bikin lagi nanti hasilnya boleh dibawa pulang,” kata Joko.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tak-perlu-tebang-kayu-untuk-membuat-topeng-malangan/feed/ 0