Sonic/Panic - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sonic-panic/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 28 Feb 2025 03:54:49 +0000 id hourly 1 Musisi Indonesia Suarakan Urgensi Lingkungan di Sonic/Panic Jakarta https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/#respond Fri, 28 Feb 2025 03:54:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46030 Jakarta (Greeners) – Festival musik Sonic/Panic Jakarta sukses digelar di M Bloc Space pada Sabtu (22/2). Acara ini menghadirkan sejumlah musisi tanah air yang menyuarakan urgensi perlindungan lingkungan dan isu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Festival musik Sonic/Panic Jakarta sukses digelar di M Bloc Space pada Sabtu (22/2). Acara ini menghadirkan sejumlah musisi tanah air yang menyuarakan urgensi perlindungan lingkungan dan isu sosial, di tengah maraknya kebijakan yang tidak berpihak pada keberlanjutan.

Festival ini merupakan hasil kolaborasi antara IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dan M Bloc Entertainment. Mengusung tema Hutan Punah, Kota Musnah, lebih dari 500 penonton hadir di acara ini. Acara tersebut juga menampilkan berbagai musisi ternama, seperti Efek Rumah Kaca ft. Adrian Yunan, Barasuara, Endah N Rhesa, Voice of Baceprot, Navicula, REP & Tuantigabelas, Matter Mos, Petra Sihombing, Made Mawut, dan Bachoxs.

BACA JUGA: Konser Tak Ramah Lingkungan Tingkatkan Emisi dan Sampah

Sonic/Panic Jakarta hadir di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat terhadap kebijakan yang berisiko memperparah eksploitasi sumber daya alam dan deforestasi. Kebijakan tersebut juga mengancam ruang hidup masyarakat adat serta ekosistem perkotaan.

Iga Massardi, salah satu musisi yang terlibat dalam album kompilasi Sonic/Panic pertama, mengungkapkan bahwa pengalaman ini memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan lagu. Ia merasa semakin terdorong untuk membahas hal-hal yang lebih nyata dan memiliki dasar yang kuat. Hal ini turut berpengaruh pada album terbaru Iga.

“Secara artistik, saya ingin menyampaikan pesan. Namun, dari sisi humanis, saya semakin menyadari bahwa setiap hal yang kita konsumsi dan gunakan sehari-hari memiliki dampak. Kesadaran ini membuat saya lebih berhati-hati dan bijak dalam memilih produk yang saya gunakan,” ujar Iga dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/2).

Sonic/Panic Terapkan Prinsip Refill dan Reuse

Sementara itu, isu pembatasan kebebasan berekspresi melalui musik yang baru-baru ini terjadi semakin menegaskan bahwa suara kritis terhadap isu sosial dan lingkungan masih menghadapi tekanan.

Tagar #IndonesiaGelap, yang mencerminkan keresahan publik terhadap situasi sosial-politik saat ini, semakin menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal kebijakan negara. Oleh karena itu, dalam festival ini, para musisi juga hadir untuk menyuarakan hal tersebut.

Sonic/Panic Jakarta tidak hanya menjadi ruang untuk membahas urgensi isu sosial dan lingkungan. Festival ini juga berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama acara berlangsung.

BACA JUGA: Konser Musik Suarakan Perlindungan Terhadap Orang Utan

Untuk itu, penyelenggara menyediakan water refill station guna mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai. Mereka juga memastikan tidak ada produk dengan kemasan plastik sekali pakai sepanjang acara, baik oleh pengunjung maupun musisi.

Selain itu, makanan dan minuman yang tersaji untuk musisi dan panitia menggunakan wadah yang dapat didaur ulang. Peralatan makan dan gelas juga dapat dipakai kembali. Bahkan, gelang panitia terbuat dari kain perca sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan limbah.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa industri musik dapat berperan penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Industri musik juga berpotensi untuk menginspirasi ekosistemnya agar lebih sadar akan dampak yang timbul terhadap bumi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/feed/ 0
Musisi Indonesia Kembali Suarakan Krisis Iklim Lewat Album Sonic/Panic https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-kembali-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musisi-indonesia-kembali-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-kembali-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/#respond Sat, 02 Nov 2024 05:05:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45122 Jakarta (Greeners) – Setelah sukses meluncurkan album sonic/panic tahun lalu yang melibatkan 13 musisi Indonesia, tahun ini The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab) (IKLIM) kembali merilis sonic/panic Vol. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah sukses meluncurkan album sonic/panic tahun lalu yang melibatkan 13 musisi Indonesia, tahun ini The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab) (IKLIM) kembali merilis sonic/panic Vol. 2. Album kompilasi yang menyuarakan krisis iklim ini melibatkan 15 musisi dari berbagai genre. Karya mereka  dirilis oleh Alarm Records, label rekaman sadar lingkungan pertama di tanah air.

Sonic/panic Vol.2 menghadirkan 15 trek. Masing-masing mencerminkan kepedulian mendalam terhadap krisis iklim dan mengajak pendengar untuk berpartisipasi dalam aksi nyata.

Album sonic/panic Vol. 2 menjadi salah satu yang pertama menggunakan musik sebagai medium utama untuk menyebarkan pesan kesadaran lingkungan secara menyeluruh.

Musisi yang terlibat antara lain Efek Rumah Kaca, Petra Sihombing, Voice of Baceprot, Asteriska, Matter Mos, dan banyak lagi. Mereka berasal dari sembilan kota di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Makassar, Pontianak, Madiun, Malang, Bandung, Solo, Fakfak, dan Denpasar.

BACA JUGA: 13 Musisi Indonesia Suarakan Krisis Iklim Lewat Album Sonic/Panic

Para musisi yang terlibat percaya bahwa musik memiliki kekuatan untuk menjangkau berbagai kalangan, menyentuh emosi, menciptakan ruang untuk refleksi, dan mendorong aksi nyata. Mereka dipersatukan oleh kepedulian terhadap masa depan bumi.

Tahun ini, IKLIM membuka panggilan terbuka untuk merangkul musisi dari berbagai genre dan latar belakang, memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, dari komunitas lokal hingga nasional. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat gerakan kolektif dalam menyuarakan isu krisis iklim.

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album Sonic/Panic. Foto: Alarm Records

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album Sonic/Panic. Foto: Alarm Records

Musisi Indonesia Ikut Lokakarya

Pada bulan Juli lalu, para musisi ini berpartisipasi dalam lokakarya bersama organisasi lingkungan dan pakar iklim. Mereka juga berdiskusi dengan musisi yang terlibat dalam inisiatif IKLIM tahun lalu. Sebagian besar dari mereka merasa tersentak oleh kenyataan tentang dampak krisis iklim yang mereka pelajari. Hal itu mendorong mereka untuk mengekspresikan kegelisahannya melalui musik.

Salah satu penyanyi perempuan Indonesia, Asteriska membagikan pengalamannya selama mengikuti lokakarya. Pada awal workshop, Ateriska merasa cukup dengan informasi dan data yang ia terima. Namun, menjelang akhir, rasa semangat itu mulai tumbuh.

BACA JUGA: Jazz Gunung 2014; Sedekah Bumi Lewat Berbunyi

“Kami, sebagai musisi, bisa berjuang bersama-sama dan harus terus belajar dan tidak berhenti hanya di lima hari ini. Semoga apa yang kami pelajari selama workshop dapat pendengar terima, agar kita bisa belajar bersama sambil tetap menikmati musik yang akan kami ciptakan nantinya,” ucapnya.

Setelah lokakarya, para musisi memiliki waktu dua bulan untuk menciptakan karya musik yang mengangkat pesan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. Lagu-lagu yang mereka hasilkan nantinya akan dirangkum dalam album sonic/panic Vol. 2.

Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya tentang menciptakan musik, melainkan juga bentuk nyata kontribusi terhadap isu yang sangat mereka pedulikan, yaitu krisis iklim dan lingkungan.

Peluncuran album ini akan berlangsung di IKLIM Fest pada 9 November 2024 di Biji World, Ubud, Bali. IKLIM Fest tidak hanya menjadi perayaan musik, melainkan menjadi langkah nyata untuk menyebarkan kesadaran perlunya praktik-praktik yang lebih hijau dalam industri hiburan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-kembali-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/feed/ 0
13 Musisi Indonesia Suarakan Krisis Iklim Lewat Album Sonic/Panic https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/#respond Fri, 27 Oct 2023 02:26:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42092 Jakarta (Greeners) – Berangkat dari kesadaran dan kekhawatiran akan krisis iklim, 13 musisi Indonesia dari berbagai genre bergabung untuk sebuah album kompilasi bertajuk ‘sonic/panic’. Sejumlah musisi ternama dalam negeri pun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berangkat dari kesadaran dan kekhawatiran akan krisis iklim, 13 musisi Indonesia dari berbagai genre bergabung untuk sebuah album kompilasi bertajuk ‘sonic/panic’. Sejumlah musisi ternama dalam negeri pun turut berpartisipasi. Pada album ini, mereka menuangkan ekspresi kreatifnya dengan menyuarakan isu paling darurat di dunia.

Musisi tersebut ialah Iga Massardi, Endah N Rhesa, Navicula, Tony Q Rastafara, Tuantigabelas, Iksan Skuter, FSTVLST, dan Made Mawut. Kemudian, Nova Filastine, Guritan Kabudul, Kai Mata, Rhythm Rebels, dan Prabumi pun ikut berkontribusi.

Uniknya, pada setiap musisi yang terlibat pada album ‘sonic/panic’ telah membawa karakter dan gaya musik mereka masing-masing ke dalam kolaborasi ini. Selain itu, ‘sonic/panic’ diproduksi oleh Alarm Records, label rekaman sadar iklim pertama di Indonesia yang dibentuk oleh ke-13 musisi yang telah terlibat.

BACA JUGA: Net Zero Summit 2023 Galang Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

“Aku paling cengeng sepanjang workshop dan sempat mengalami mental breakdown di hari kedua. Ini merupakan masalah yang berat. Sebagai musisi, kami harus punya cara untuk mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan,” ungkap Personil Endah N Rhesa, Endah Widiastuti dalam Press Conference di Jakarta, Selasa (24/10).

Menurut Endah, meskipun bukan bermaksud menakut-nakuti, faktanya telah ada bahwa di kurun waktu tertentu krisis ini akan terjadi.

Gagasan untuk membuat album kompilasi ‘sonic/panic’ muncul setelah ke-13 musisi ini berkumpul di Bali beberapa bulan lalu. Para musisi mengikuti workshop serta diskusi soal isu iklim dan cara musisi dapat turut berkontribusi dalam mengatasi isu ini.

“Setelah workshop waktu itu aku hampir tidak bisa ikut press conference di Bali karena aku merasa hancur melihat kenyataan yang terjadi,” ujar Endah.

Angkat Beragam Topik Isu Lingkungan

Sementara itu, album ‘sonic/panic’ terdiri dari 13 lagu dari 13 musisi dengan berbagai genre. Misalnya, seperti hip-hop, rock, blues, electronica, reggae, pop, hingga world music. Adapun topik di tiap lagu juga beragam seperti isu krisis iklim, degradasi alam, polusi plastik, dan panggilan untuk aksi nyata secara kolektif.

“Harus ada gerakan masif di mana semua pihak perlu terlibat demi generasi yang akan datang. Sebab, rasanya tidak adil kalau kita sudah tua, atau sudah tidak ada, tetapi menyisakan suatu hal yang tidak kita perjuangkan dengan baik,” tambah Endah.

Rapper Upi atau Tuantigabelas juga merasakan pengalaman yang hampir sama. Dirinya ‘menyesal’ mengikuti workshop di Bali waktu itu, karena melihat fakta yang banyak dan menakutkan.

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

“Hari pertama kami semua masih bisa ngobrol. Hari kedua semua terdiam. Ini bumi bagaimana, ya? Faktanya bikin kami bengong. Aku sama Endah sempat makan bareng, lalu saling pandang dan kami tanpa sadar menangis. Ini serius sekali. Ini adalah tongkat estafet yang harus disampaikan dalam bentuk yang aku tahu, yaitu musik,” ujarnya.

Menurut Upi, seluruh lagu dalam album ini merupakan suara terdalam dari para musisi. Dirinya menyatakan bahwa lagu ini yang paling sulit untuk ditulis.

“Jadi ada khawatir, putus asa, tapi harus punya harapan karena saya punya tiga anak. Saya tidak mau bumi ini habis begitu saja buat generasi berikutnya,” tambah Upi.

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album sonic/panic. Foto: Music Declares Emergency (MDE) Indonesia

Musisi Indonesia menyuarakan krisis iklim lewat album sonic/panic. Foto: Music Declares Emergency (MDE) Indonesia

Ada Sense of Urgency pada Album ‘Sonic/Panic’

Dalam kesempatan yang sama, Gede Robi dari band Navicula mengungkapkan, musisi sebagai bagian dari masyarakat juga ingin terlibat dalam menyuarakan isu ini melalui ‘sonic/panic’.

“Sonic adalah audio, panic ada sense of urgency. Kami sebagai musisi berkontribusi terhadap negara karena tujuan negara memang harus membersihkan emisi Indonesia sesuai target tahun 2060,” kata Robi.

Lagu ‘Plastic Tree’ milik Endah N Rhesa, misalnya. Lagu itu menggambarkan dunia tanpa pohon yang digantikan replika plastik. Lewat liriknya, telah menjadi pengingat yang kuat tentang dampak lingkungan dari tindakan manusia.

“Kami membawa imajinasi jika di dunia ini tidak ada pohon, tidak ada burung yang bernyanyi, ayam berkokok, lebah memanfaatkan baterai supaya mereka bisa terbang, segalanya lebih artifisial. Semua jadi mengagumkan, tapi menyeramkan. Kita jangan menganggap remeh kemampuan kita menemukan hal-hal baru, tetapi ada risiko juga. Ada kemegahan, ada kehancuran, ketakutan. Jadi mixed feelings,” imbuh Robi.

Navicula Suarakan Pemanasan Global

Pada lagu ‘House on Fire’, band Navicula menyuarakan pemanasan global dan spirit kolaborasi. Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 telah membicarakan isu lingkungan sejak awal.

“Meskipun sepertinya sudah gencar mengangkat isu ini, rasanya tidak ada perubahan. Kami menyadari rasanya harus lebih banyak kolaborasi. Jadi, spirit lagu  ‘House on Fire’ ini adalah kolaboratif. Alangkah besarnya gaung ini jika semua industri kreatif membicarakan isu ini,” kata Robi.

Selain itu, album ‘sonic/panic’ ini akan meluncur secara serentak di seluruh platform streaming digital, pada  4 November 2023 mendatang.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/13-musisi-indonesia-suarakan-krisis-iklim-lewat-album-sonic-panic/feed/ 0