sosok - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sosok/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 02 Sep 2016 04:39:59 +0000 id hourly 1 Zaini Alif, Mencintai Lingkungan lewat Permainan Tradisional https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zaini-alif-mencintai-lingkungan-lewat-permainan-tradisional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zaini-alif-mencintai-lingkungan-lewat-permainan-tradisional https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zaini-alif-mencintai-lingkungan-lewat-permainan-tradisional/#respond Fri, 08 Jul 2016 02:00:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=14187 Zaini Alif mendirikan komunitas HONG sebagai wahana untuk mengenalkan dan melestarikan permainan tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. Zaini menekankan dengan berinteraksi langsung dengan alam akan tumbuh rasa sayang dan memiliki kepada alam tempatnya bermain.]]>

Papan putih besar bertuliskan “Doktor Permainan”, itulah yang pertama kali Tim Greeners temukan saat berkunjung ke kediaman Zaini Alif di Dago Pakar, Bandung. Suasana yang masih hijau dan asri, membangkitkan kembali ingatan masa kecil ketika kita masih sering bermain bersama teman-teman diluar rumah. “Permainan tradisional membantu menemukan jati diri kita,” tutur pria kelahiran Subang ini.

Menurut Zaini, permainan tradisional tidak hanya sekadar menyenangkan tapi juga memiliki nilai filosofis yang kental. Pada setiap permainan, masing-masing memiliki cara yang unik untuk mengemas nilai yang ditanamkan.

Permainan galasin misalnya. Kemampuan sosial sangat dilatih pada permainan ini. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan. Pada permainan tradisional, kemampuan anak untuk berempati dengan teman, kejujuran, dan kesabaran adalah hal yang sangat penting.

“Permainan tradisional juga mengenalkan anak pada alam,” tutur Zaini. “Anak-anak mulai mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya lewat bermain, misal dengan Kolecer anak bisa mengenal angin, main icikibung anak bisa mengenal air, leuleutakan anak bisa mengenal tanah, sondah mandah bisa mengenal batu.”

Zaini menekankan dengan berinteraksi langsung dengan alam akan tumbuh rasa sayang dan memiliki kepada alam tempatnya bermain sehingga ketika tumbuh besar anak-anak tidak akan semena-mena pada alam. “Anak-anak akan merasa perlu dan kemudian menjaga lingkungannya, hal ini akan dibawa sampai dewasa,” tambahnya.

Pencemaran lingkungan yang kian marak dan perilaku yang tidak bersahabat dengan alam merupakan salah satu indikasi bahwa manusia tidak lagi dekat dengan alam dan menganggap alam hanya sebagai pemenuh kebutuhan semata. Hal ini bisa jadi merupakan indikasi bahwa generasi sekarang adalah generasi yang kurang “bermain”.

Ketiadaan akses permainan tradisional kepada anak-anak terutama yang tinggal di perkotaan, menurut Zaini, adalah salah satu alasan kurang populernya permainan tradisional dibandingkan dengan permainan modern. Kedekatan gaya hidup dengan teknologi, seperti gadget, handphone, komputer membuat pilihan bermain anak semakin sempit. Disamping itu, kekhawatiran orang tua bila anak dapat terkena penyakit dari berkotor-kotoran dan bermain keluar juga menjadi alasan yang dominan. “Kalau sekarang bermain tanah itu jijik, kotor. Padahal tidak semuanya seperti itu,” jelasnya.

Dari keprihatinan itu, pria kelahiran tahun 1975 ini membentuk komunitas HONG sebagai wahana untuk masyarakat mengenal sekaligus melestarikan permainan tradisional Indonesia. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh Zaini dari tahun 1996, sampai saat ini telah tercatat sekitar 2.500 permainan tradisional dari seluruh Indonesia, dengan 250 diantaranya berasal dari Jawa Barat.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zaini-alif-mencintai-lingkungan-lewat-permainan-tradisional/feed/ 0
David Sutasurya: Kita Berada di Ambang Keruntuhan Ekologis https://www.greeners.co/sosok-komunitas/david-sutasurya-kita-berada-ambang-keruntuhan-ekologis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=david-sutasurya-kita-berada-ambang-keruntuhan-ekologis https://www.greeners.co/sosok-komunitas/david-sutasurya-kita-berada-ambang-keruntuhan-ekologis/#respond Mon, 20 Jun 2016 10:50:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=14034 David Sutasurya dan komunitas Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) mencoba mengubah sistem ekonomi yang berdasar pada eksploitasi alam yang berlebih.]]>

Jakarta (Greeners) – Pak David, begitu sosok pria berkulit putih langsat ini biasa dipanggil. Hampir dua dekade berkutat dengan isu Sustainable Development, David Sutasurya mengaku bahwa motivasi utamanya adalah mempersiapkan dunia yang layak dihuni oleh anak, cucu, dan generasi penerusnya.

“Saya ini manusia normal yang berusaha untuk hidup benar,” begitu David mendeskripsikan dirinya ketika diwawancarai oleh tim Greeners pada Rabu (15/6).

“Sekarang kan sistem ekonomi masih tidak memperhitungkan alam, padahal ekonomi tidak akan bisa bergerak kalau alam rusak. Semua kebutuhan manusia kan berasal dari alam,” tambahnya. Sistem ekonomi yang berdasar pada eksploitasi alam yang berlebih ini coba diubah oleh David dan komunitas Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi.

Menurut pria asal Sukabumi ini, kita telah berada dalam tepian keruntuhan ekologis. Pola konsumsi yang dipengaruhi oleh sistem ekonomi global telah mendorong kita untuk menggunakan kapasitas dukung alam sampai ke titik yang mengkhawatirkan.

David mengibaratkan keadaan yang dialami oleh masyarakat dunia sekarang ibarat tabungan di bank. “Untuk kehidupan sehari-hari, sekarang kita dalam tahap menggunakan dana pokok tabungan, bukan lagi bunganya, sudah terasa kan? Perlahan-lahan aset kita mulai berkurang. Hutan mulai habis, bahan pangan mulai langka,” jelasnya.

David menegaskan bahwa upaya-upaya untuk rehabilitasi harus dimulai dari sekarang karena ketika keruntuhan itu sudah mulai terjadi, tidak akan dapat diperbaiki lagi. Sama seperti keruntuhan sebuah gedung pencakar langit, bila sudah terjadi tidak akan bisa ditahan dan diperbaiki. Dan, langkah awal untuk memulai itu adalah dengan mengubah pola pikir masyarakat dalam melihat persoalan lingkungan ini.

“Selama beberapa tahun saya berkecimpung di bidang ini, akhirnya saya melihat bahwa ada gap antara apa yang kita perjuangkan dan yang kita lakukan sehari-hari,” ujar David. Dia menekankan bahwa prioritas paling utama adalah mengubah pola pikir dengan langkah-langkah yang sederhana dan mudah dilakukan. “Saya saja mulai dengan menggunakan kantong plastik berulang-ulang, itu proses mengedukasi diri saya sendiri,” tambahnya.

(selanjutnya)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/david-sutasurya-kita-berada-ambang-keruntuhan-ekologis/feed/ 0
Nisa Wargadipura, Kritik Kurikulum Pendidikan Melalui Pesantren Berbasis Agroekologi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nisa-wargadipura-kritik-kurikulum-pendidikan-melalui-pesantren-berbasis-agroekologi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nisa-wargadipura-kritik-kurikulum-pendidikan-melalui-pesantren-berbasis-agroekologi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nisa-wargadipura-kritik-kurikulum-pendidikan-melalui-pesantren-berbasis-agroekologi/#respond Thu, 17 Mar 2016 10:53:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=13207 Nisa Wargadipura bersama dengan suaminya, Ibang Lukmanurdin, mendirikan Pesantren Ath Thaariq. Pesantren yang didirikan pada 2008 lalu itu menjadi laboratorium biologi dan pertanian para santri, selain juga sebagai tempat mempelajari agama Islam.]]>

Jakarta (Greeners) – Jika kita membandingkan bentuk fisik pesantren puluhan tahun kebelakang dengan hari ini, terdapat perbedaan yang dapat dilihat dengan mudah secara kasat mata. Dahulu pesantren merupakan bangunan sederhana satu lantai dengan lahan kosong untuk berkebun disekitarnya. Kini sudah umum ditemui pesantren dalam bentuk bangunan bertingkat dengan halaman beton, nyaris tidak ada tanah yang terbuka untuk tumbuhnya tanaman.

Namun, tampaknya modernisasi disikapi dengan bijak oleh Nisa Wargadipura. Nisa bersama dengan suaminya, Ibang Lukmanurdin, mendirikan Pesantren Ath Thaariq dimana kebun dan sawah menjadi bagian dari pesantren tersebut. Pesantren yang didirikan pada 2008 lalu itu menjadi laboratorium biologi dan pertanian para santri, selain juga sebagai tempat mempelajari agama Islam.

“Pesantren Ath Thaariq ini merupakan autokritik terhadap kurikulum pendidikan kita yang sangat jauh dari kearifan lokal,” kata Nisa kepada Greeners saat ditemui pada pertengahan Februari lalu di Pesantren Ath Thaariq, Garut.

Pembelajaran agroekologi yang diterapkan di pesantren ini disebut Nisa menjadi pembeda dari pesantren lainnya. Ia beranggapan bahwa agroekologi yang ia terapkan merupakan bagian dari budaya pertanian Sunda yang mulai dilupakan, bahkan termasuk oleh para petani itu sendiri.

Menurut Nisa, budaya merupakan sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dalam sebuah sistem pendidikan namun sistem pendidikan saat ini telah menjauhkan nilai-nilai dan budaya lokal. Padahal, menurutnya, para murid ataupun santri tentunya hidup pada kehidupan lokal yang berdasar pada budaya dan alam setempat. Anak-anak yang tumbuh dalam era sekarang, menurut Nisa kurang menghargai alam karena memang tidak didekatkan dengan alam.

“Desain kurikulum pesantren modern itu kan pagi masuk kelas, terus makan siang disediakan, lalu kembali ke asrama atau masuk masjid. Lalu, di mana proses pengenalan terhadap alamnya? Buat kami itu ironis,” katanya.

Sistem pendidikan di Pesantren Ath Thaariq didesain untuk mendekatkan santri dengan alam. Tersedianya sawah dan kebun yang cukup luas di pesantren ini diharapkan membuat santri lebih mengenal alam selain juga memperdalam ilmu mengenai agama.

(selanjutnya)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nisa-wargadipura-kritik-kurikulum-pendidikan-melalui-pesantren-berbasis-agroekologi/feed/ 0
Siti Maimunah, Antara Aktivis dan Juru Catat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/siti-maimunah-antara-aktivis-dan-juru-catat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siti-maimunah-antara-aktivis-dan-juru-catat https://www.greeners.co/sosok-komunitas/siti-maimunah-antara-aktivis-dan-juru-catat/#respond Mon, 01 Feb 2016 11:25:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12715 Orang yang biasa berhadapan dengan korporasi tambang dan aparatur negara saat melakukan advokasi, biasanya dibenak tergambar sebagai sosok yang kaku. Namun, gambaran ini sangat berbeda dengan Siti Maimunah, aktivis LSM Jatam.]]>

Jakarta (Greeners) – Awalnya ada rasa gentar untuk menemui sosok Siti Maimunah. Orang yang biasa berhadapan dengan korporasi tambang dan aparatur negara saat melakukan advokasi, biasanya dibenak tergambar sebagai sosok yang kaku dan jutek. Namun, gambaran ini sangat jauh berbeda saat bertatap muka langsung dengan Mai, sapaan akrabnya. Ia ternyata sosok perempuan yang ramah dan hangat.

Mai sudah menjalani berbagai kegiatan advokasi bagi masyarakat yang “diganggu” oleh perusahaan tambang selama 15 tahun terakhir. Dunia advokasi tambang sendiri dikenal Mai sejak ia berstatus mahasiswi di Universitas Jember. Saat itu, di akhir masa kuliahnya, sebuah perusahaan tambang emas ingin menjadikan Taman Nasional Meru Betiri sebagai lokasi penambangan emas. Taman Nasional Meru Betiri merupakan taman nasional yang terletak di antara kota Jember dan Banyuwangi.

Di taman nasional itu, organisasi pecinta alam yang diikuti Mai rutin melakukan pengesahan anggota baru tiap tahunnya. “Meru Betiri itu seperti tempat bermain dan belajar kami. Dan tiba-tiba kami mendengar kawasan itu masuk dalam konsensi tambang,” ujar Mai.

Kabar itu membuat Mai dan kawan-kawannya dalam organisasi Semesta bergabung dengan beberapa LSM untuk memperjuangkan Taman Nasional Meru Betiri agar tidak berubah menjadi lokasi pertambangan. Kegiatan advokasi yang memakan waktu sampai dua tahun itu membuat Mai harus mengabaikan skripsi yang sedang dikerjakannya. Namun sejak saat itu, Mai mengenal beberapa LSM lingkungan dan pertambangan, termasuk Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), LSM tempat ia kini aktif berkegiatan.

“Sejak itu deh jatuh cinta sama advokasi tambang,” katanya mengenang.

Semasa kuliah, Mai mengaku dirinya bukanlah mahasiswi yang rajin masuk kelas. Ia justru lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan pengajaran dari berbagai aktivitas konservasi yang dilakukan oleh Semesta, termasuk pula dalam kegiatan advokasi Meru Betiri.

Pengalaman saat mengadvokasi Meru Betiri membuat Mai ingin konsisten melawan perusakan oleh industri tambang. Ia juga merasa bahwa aktivitasnya dalam melawan pertambangan sangat linear dengan kuliah yang ia tekuni.

“Dosen gue dulu pernah bilang, proses alam untuk meciptakan tanah kedalaman 1 sentimeter itu butuh waktu 300 tahun. Enggak butuh lama industri tambang untuk merusak itu, ” jelas perempuan lulusan Jurusan Pertanahan Universitas Jember ini.

Kegiatannya sebagai aktivis mengharuskan Mai untuk berkeliling ke berbagai tempat, mulai dari melakukan advokasi di daerah-daerah di Indonesia hingga mengikuti berbagai konferensi internasional di manca negara.

(selanjutnya..)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/siti-maimunah-antara-aktivis-dan-juru-catat/feed/ 0
Alain Compost, Temukan Tantangan di Hutan Indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/#respond Thu, 03 Dec 2015 12:52:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=12114 Sempat tinggal di Malaysia, Alain Compost baru menemukan tantangan di hutan Indonesia. Ia pun tidak sekadar menjadi fotografer hidupan alam liar, namun juga terlibat dalam kegiatan konservasi.]]>

Jakarta (Greeners) – Berbagai macam tanaman terlihat indah pada sebuah kebun mini yang ditata apik di pekarangan sebuah rumah. Di tengah kebun itu, tampak seekor kambing kecil berlari mencari tuannya. Tak lama, sang empunya rumah dan juga tuan dari kambing itu muncul sambil memegang botol susu. Ia berjalan menghampiri kambing kecil itu.

“Dia harus enam kali minum susu dalam sehari karena lahir prematur,” kata pria berkepala plontos itu kepada Greeners seraya memasukkan air susu ke dalam mulut si kambing.

Pria itu adalah Alain Compost. Ia adalah fotografer hidupan liar kelahiran Perancis yang telah lama tinggal di Indonesia. National Geographic, International Wildlife, BBC Wildlife, Science and Nature, dan Paris Match adalah beberapa media skala internasional yang pernah memuat karya fotonya.

Alain menetap di Indonesia sejak tahun 1975. Sejak memutuskan untuk meninggalkan negaranya, ia mengaku tidak pernah terpikir untuk tetap berkecimpung di dunia lingkungan.

“Awalnya hanya ingin bikin foto yang indah-indah tentang satwa, tapi akhirnya memang harus terlibat dalam kegiatan lainnya seperti konservasi,” kisah pria yang sempat aktif di Yayasan Indonesia Hijau pada era 70-an ini.

Meski telah 40 tahun menetap di Indonesia, Alain menyatakan bahwa bukan Indonesia yang menjadi target sebagai laboratorium fotografinya, melainkan Malaysia. Negara itu menjadi negara pertama yang ia tinggali ketika keluar dari Perancis.

Ia bercerita, kepergiannya ke Malaysia kala itu tidak dipersiapkan dengan matang. Baginya saat itu, tidak penting negara mana yang ia tuju. Ia hanya ingin hidup di bagian dunia lain untuk mendapatkan pengalaman dan tantangan baru.

“Persiapan logistik masih betul-betul minim lah, jadi adventurer, yang penting berangkat dulu bawa baju. Banyak hal yang saya enggak tahu dan lihat di brosur waktu itu ada informasi kalau Malaysia bagus,” kenang Alain dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Di Malaysia, Alain sempat tinggal beberapa bulan. Alih-alih mendapatkan foto, ia justru menghabiskan waktunya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru baginya. “Cuma dapat foto sedikit sekali karena memang enggak ada pengalaman. Alatnya juga sedikit sekali,” katanya.

Merasa hasil yang didapat tidak sesuai dengan ekspetasi, Alain memutuskan untuk mencari tantangan baru. Keputusannya pergi ke Indonesia ia buat setelah ia mendapat rekomendasi dari rekan senegaranya yang ia temui di Kuala Lumpur. Menurut sang kawan, Indonesia lebih kaya akan satwa dan ini akan memudahkan Alain sebagai fotografer hidupan liar.

“Dia bilang lebih bagus di Sumatera karena ada orangutannya. Dia juga bilang banyak pemburu di sana, jadi binatang pasti banyak,” ujar Alain diiringi tawa.

Medan menjadi kota pertama yang disinggahi Alain di Indonesia. “Wah berantakan, kurang ini itu, nyasar jalan. Ini baru saya betah. Kenapa dari kemarin saya enggak ke sini, ya? Baru saya rasakan negara tropis yang memang seperti di film-film,” kelakar Alain.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/alain-compost-temukan-tantangan-di-hutan-indonesia/feed/ 0
Jatna Supriatna, Peneliti yang Gemar Bertualang di Hutan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatna-supriatna-peneliti-yang-gemar-bertualang-di-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jatna-supriatna-peneliti-yang-gemar-bertualang-di-hutan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatna-supriatna-peneliti-yang-gemar-bertualang-di-hutan/#respond Wed, 18 Nov 2015 11:42:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11940 Jakarta (Greeners) – Pada awal bulan November lalu, Greeners sempat melakukan wawancara dengan salah seorang peneliti keanekaragaman hayati kawakan di Indonesia, yaitu Jatna Supriatna. Ditemui di kantor Yayasan Upaya Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada awal bulan November lalu, Greeners sempat melakukan wawancara dengan salah seorang peneliti keanekaragaman hayati kawakan di Indonesia, yaitu Jatna Supriatna. Ditemui di kantor Yayasan Upaya Indonesia Damai, Jatna tampak seperti orang kebanyakan, santai dan luwes. Tidak terkesan seperti ilmuwan atau ahli biologi yang telah menemukan beberapa spesies baru dan telah menuliskan lebih dari 100 jurnal ilmiah internasional.

Selayaknya satwa yang hidup di alam liar, Jatna mengaku dirinya enggan terkekang dan tertekan oleh pekerjaan. Sejak remaja, ia tidak ingin bergelut pada pekerjaan yang menetap dan statis. Suasana kerja yang dekat dengan alam menjadi impiannya saat itu.

“Awalnya ada dua pekerjaan yang ingin saya tekuni. Yang pertama itu jadi dokter hewan, kedua jadi peneliti hewan,” ujar Jatna membuka cerita.

Menjadi anggota organisasi pecinta alam di bangku SMA dan kuliah membuat Jatna tidak dapat melepas alam dari kehidupannya. Ia bahkan mengaku telah berkemah di hutan sedari SMP. Pekerjaan sebagai peneliti pun dapat membuatnya sering berpergian sekaligus membuatnya selalu dekat dengan alam.

Bagi Jatna, bekerja sebagai peneliti hewan merupakan hal yang sangat menyenangkan. Ia bahkan tidak keberatan untuk mengikuti ritme obyek penelitiannya. Ia menyontohkan saat dirinya meneliti hewan malam. Mau tidak mau, ia harus mengikuti “jadwal” kehidupan hewan tersebut. Pada akhirnya, Jatna pun harus melakukan pekerjaan malam hari dan menggunakan waktu siang hari untuk beristirahat.

“Jadi memang peneliti tidak dikejar waktu dan tidak di pressure karena dia bisa menentukan waktunya kapan untuk meneliti,” ujarnya.

Meneliti hewan di hutan telah digelutinya sejak tahun 1974, dua tahun sebelum ia meraih gelar Sarjana Muda di Universitas Nasional. Sejak saat itu hingga kini, Jatna telah mendatangi hutan di lebih dari 70 negara.

Pengalaman meneliti di hutan membuat Jatna merasakan penyakit malaria berulang kali saat meneliti hutan-hutan Indonesia, seperti di hutan Tanjung Puting, Mentawai, Sulawesi Selatan dan Papua.

Ia pun bercerita pernah harus mendayung sampai berjam-jam saat sedang diserang malaria. Pengalaman ini ia dapat saat sedang meneliti hutan di Mentawai, Sumatera Barat. “Waktu itu saya harus mendayung perahu sampai 4-5 jam untuk ke rumah sakit,” kenangnya sambil tertawa.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatna-supriatna-peneliti-yang-gemar-bertualang-di-hutan/feed/ 0
Rachmat Witoelar, Tak Lelah Tangani Perubahan Iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rachmat-witoelar-tak-lelah-tangani-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rachmat-witoelar-tak-lelah-tangani-perubahan-iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rachmat-witoelar-tak-lelah-tangani-perubahan-iklim/#respond Thu, 22 Oct 2015 09:24:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11611 Jakarta (Greeners) – Keriput terlihat jelas di sekitar ke dua matanya, rambutnya pun sudah mulai menipis. Demikian juga dengan badannya yang terlihat sudah tidak tegap lagi. Namun, dalam usianya yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Keriput terlihat jelas di sekitar ke dua matanya, rambutnya pun sudah mulai menipis. Demikian juga dengan badannya yang terlihat sudah tidak tegap lagi. Namun, dalam usianya yang telah mencapai 74 tahun, semangat ala anak muda masih tampak dalam diri Rachmat Witoelar.

Hari itu, Rachmat mengatakan bahwa dirinya baru beberapa hari berada di Jakarta setelah sebelumnya melakukan perjalanan tugas di Eropa, New York, dan Tokyo. Namun, tidak tampak tanda kelelahan pada wajah Rachmat. Ia pun terlihat santai dalam setelan kemeja berwarna krem dengan motif bergaris yang ditutupi rompi berwarna hitam.

“Selasa depan saya masih harus ke Brisbane,” ujar Rachmat membuka percakapan dengan Greeners pada Jumat (9/10) lalu di kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, mengharuskan Rachmat Witoelar kerap berkeliling ke mancanegara. Bidang perubahan iklim bukanlah hal baru bagi Rachmat. Ia sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) tahun 2010-2015 sebelum lembaga itu dibubarkan oleh Presiden Joko Widodo pada Januari lalu. Rachmat juga pernah menduduki posisi Menteri Negara Lingkungan Hidup era Kabinet Indonesia Bersatu I periode 2004-2009.

Bagi Rachmat, perubahan iklim sudah sepantasnya mendapat porsi tersendiri dalam dunia politik. Pasalnya, perubahan iklim merupakan isu yang menyangkut langsung terhadap keberadaan semua spesies di bumi ini, termasuk manusia. Terlebih, memasuki milenium ke tiga, perubahan iklim menjadi salah satu isu yang seakan tidak ada hentinya dibahas dalam dunia internasional. “Karena untuk mengambil keputusan-keputusan dalam perubahan iklim masuknya ke dalam bidang politik,” ujar Rachmat.

Ketika menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat juga mengemban tugas sebagai presiden dari beberapa lembaga internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Lembaga internasional tersebut adalah United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan United Nation Environmental Program (UNEP). Selain itu, Rachmat juga sempat menjabat sebagai Presiden Konferensi Para Pihak Konvensi Perubahan Iklim atau Conference of the Parties (COP) ke 13 yang diadakan di Bali pada Desember 2007.

Dalam bukunya, “Catatan Rachmat Witoelar”, Rachmat menyatakan bahwa ia tidak pernah menyangka akan memimpin sebuah lembaga internasional. Kepada Greeners, Rachmat mengatakan masa-masa tersebut adalah puncak dalam puluhan tahun karir yang telah dilaluinya. Ia pun mengenang penyelenggaraan COP 13 di Bali sebagai momen istimewa dalam hidupnya. “Karena posisi saya sejajar dengan Presiden Indonesia dan Sekjen PBB,” katanya sambil tersenyum.

Dalam konferensi tersebut, Rachmat yang menjadi Presiden COP 13 ditempatkan bersama dalam satu meja dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono dan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/rachmat-witoelar-tak-lelah-tangani-perubahan-iklim/feed/ 0
Tejo Wahyu Jatmiko, Lebih dari Sekadar “Kepalan Tangan” https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/#respond Fri, 02 Oct 2015 06:27:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11345 Jakarta (Greeners) – Siang itu terasa cukup terik di Jakarta. Namun, di sepanjang sisi timur Kebun Binatang Ragunan, tepatnya di area Jalan Kebagusan Raya terasa sangat sejuk dengan banyaknya pohon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Siang itu terasa cukup terik di Jakarta. Namun, di sepanjang sisi timur Kebun Binatang Ragunan, tepatnya di area Jalan Kebagusan Raya terasa sangat sejuk dengan banyaknya pohon besar yang tumbuh di sekitar area tersebut.

“Masuk aja mas, dorong pintunya,” seru seseorang sambil melambaikan tangannya ketika Greeners tiba di sebuah rumah berhalaman luas dengan pintu pagar yang cukup besar.

Orang yang berseru itu adalah Tejo Wahyu Jatmiko, seorang pegiat lingkungan yang cukup lama malang melintang dalam hal pelestarian lingkungan. Meskipun telah menginjak usia 52 tahun, postur badannya yang tinggi dan gerakannya yang energik membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Mengenakan kaos hitam dengan tulisan ‘Locavore’, ia pun tak sungkan menerima Greeners di rumah yang menjadi sekretariat Aliansi Untuk Desa Sejahtera.

Tejo, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai pegiat lingkungan yang aktif di Aliansi Untuk Desa Sejahtera. Ia menjabat sebagai Koordinator Nasional dalam kepengurusan aliansi yang juga bernaung pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB) itu. Organisasi non pemerintah tersebut ia dirikan bersama enam orang kawannya pada 2005. Sebelum mendirikan PIB, Tejo tergabung dalam sebuah LSM bernama Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) dalam rentang waktu 1999-2004.

Semasa kuliah Tejo lebih memilih memasuki organisasi kampus yang berdasar minat dan bakat. Ia sendiri menyukai olah raga basket dan voli. Mengambil jurusan Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada (UGM), masa kuliahnya pun lebih sering dihabiskan untuk mencari uang di jalur sesuai yang berhubungan dengan ilmunya, yaitu konsultan lingkungan.

“Teman kuliah saya yang jadi aktivis di kampus saja kaget sekarang. Mereka sampai bilang ‘kok sekarang kamu jadi begini sih’,” cerita Tejo sambil sedikit tertawa.

Tejo sendiri memang tumbuh di keluarga pegawai negeri. Pekerjaan bapaknya yang menjadi seorang dosen biologi di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) membuatnya harus mencari uang jajan tambahan. Semasa kuliah, pekerjaan konsultan lingkungan yang ia lakukan semata-mata untuk menambah duit malem mingguan saja. Namun, penghasilannya ternyata justru dapat membiayai uang kuliahnya.

“Hasil dari gambar peta saja Rp 5 ribu. Kalau survei tempat, seminggu saja bisa terima Rp 25 ribu. Sedangkan uang kuliah saat itu per semester Rp 18 ribu,” kenangnya.

Meskipun uang yang diterima terbilang cukup besar, namun lama kelamaan Tejo merasa ada satu titik jenuh yang membuatnya merasa harus meningggalkan pekerjaannya sebagai konsultan lingkungan. Perencanaan lingkungan yang dibuatnya semasa menjadi konsultan lingkungan tidak dilaksanakan secara utuh. Bahkan seringkali tidak dijalankan sama sekali oleh para kliennya yang kebanyakan dari pihak pemerintahan.

“Awalnya, sih, enggak apa-apa, orang kita mikir yang penting dibayar, kan? Tapi lama-lama capek juga. Kita susah-susah survey, bikin analisis lingkungan dan rekomendasinya, tapi enggak dijalanin,” ujarnya.

Menjadi pegawai konsultan lingkungan sejak awal bangku kuliah, membuat Tejo memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, dari pemerintahan hingga aktivis lingkungan. Tejo pun mengakui bahwa pekerjaannya sebagai konsultan lingkungan adalah pintu masuk untuk ‘karier’ di dunia LSM hingga sekarang.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/feed/ 0
Eva Bande, Pejuang Agraria yang Keras Kepala https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eva-bande-pejuang-agraria-yang-keras-kepala/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eva-bande-pejuang-agraria-yang-keras-kepala https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eva-bande-pejuang-agraria-yang-keras-kepala/#respond Tue, 04 Aug 2015 11:55:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=10613 Jakarta (Greeners) – Cuaca cukup sejuk di GG House Happy Valley, Ciawi, Puncak, Jawa Barat ketika Greeners menyambangi Eva bande yang tengah asik berdiskusi dengan teman-teman dari Sajogyo Institue. Di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Cuaca cukup sejuk di GG House Happy Valley, Ciawi, Puncak, Jawa Barat ketika Greeners menyambangi Eva bande yang tengah asik berdiskusi dengan teman-teman dari Sajogyo Institue. Di tengah diskusi tersebut, Eva pun menyambut tim Greeners dengan ramah.

Eva Bande, seorang Ibu dengan tiga anak. Perempuan yang lahir di Luwuk, Sulawesi Tengah, 37 tahun lalu ini adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia serta Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS) Sulawesi Tengah. Ia juga salah satu pendiri organisasi perempuan pertama di Kabupaten Poso pasca konflik tahun 2002-2003 yang bertujuan untuk membela perjuangan hak-hak kaum perempuan khususnya perempuan korban kekerasan di berbagai daerah di Sulawesi Tengah.

Perempuan bernama lengkap Eva Susanti Hanafi Bande ini sempat menarik perhatian masyarakat kala dirinya mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo pada tanggal 19 Desember 2014 lalu. Eva bebas setelah ditahan hampir satu tahun.

Sebelumnya, dia ditahan 4 bulan 25 hari pada 2010, tatkala menjalani pemeriksaan di Kepolisian Resor Luwuk, Banggai. Pada 12 November 2010 Pengadilan Negeri Luwuk memvonis Eva empat tahun penjara. Hukuman ini lebih berat daripada tuntutan jaksa, yakni 3 tahun 6 bulan penjara.

Hukuman itu dikuatkan lagi oleh Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah. Sempat dibebaskan, namun sejak Mei 2014 Eva kembali dibui setelah Mahkamah Agung menolak permohonan kasasinya.

“Dan yang lebih aneh, dalam putusan itu tidak ada satupun pertimbangan yang meringankan untuk saya. Semuanya memberatkan. Padahal, bahkan seorang koruptor pun masih mendapat pertimbangan yang meringankan, lho,” tegasnya.

Eva divonis bersalah melanggar Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana karena dianggap menghasut petani dalam unjuk rasa pada tanggal 26 Mei 2010. Waktu itu, Eva yang menjadi Koordinator FRAS datang ke lokasi demonstrasi di Kecamatan Toili Barat, Banggai, Sulawesi Tengah.

Ia mengaku sempat “galau”saat mendapat telepon dari Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly di Lembaga Pemasyarakatan Petobo, Palu, perihal grasi yang akan diberikan oleh Presiden Joko Widodo.

“Saat itu saya menjelaskan bahwa saya di sini tidak sendiri. Saya masih bersama teman-teman saya. Lalu Yasonna menjawab, ‘Eva tenang saja. Setelah Eva, nanti teman-teman yang lain akan diurus’,” tuturnya.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eva-bande-pejuang-agraria-yang-keras-kepala/feed/ 0