spesies akuatik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/spesies-akuatik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 15 Jan 2017 11:16:39 +0000 id hourly 1 Kawanan Hiu Paus Berkeliaran Bebas di Sekitar Pantai Wisata Probolinggo https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/#respond Sat, 14 Jan 2017 12:31:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15678 Puluhan Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Satwa laut ini bahkan tidak terganggu dengan kehadiran manusia di dekat mereka.]]>

Probolinggo (Greeners) – Puluhan Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Kawanan ikan penjelajah samudra tropis dan lautan beriklim hangat ini kembali mendatangi perairan Bentar sejak akhir Desember tahun lalu dan sampai saat ini masih bisa dilihat oleh nelayan dan wisatawan dari jarak sangat dekat.

“Mereka sudah datang ke sini sejak akhir Desember. Seperti tahun sebelumnya, mereka biasanya pergi sekitar April – Maret,” kata pengelola Pantai Bentar, Muradi, kepada Greeners, Kamis (12/01/2017).

Sejak empat tahun terakhir, kawanan ikan pemakan plankton ini selalu datang ke perairan Probolinggo pada akhir Desember atau awal Januari dan kembali mengembara pada April atau Maret. Selain ke perairan Probolinggo, spesies ikan besar yang juga disebut whale shark ini juga terlihat perairan Pasuruan di bulan-bulan yang sama.

BACA JUGA: Lima Spesies Hiu Berjalan Tinggal di Indonesia

Kawanan Hiu Paus yang terlihat oleh Greeners berukuran empat hingga enam meter. Meski tubuhnya sangat besar, keberadaan mereka tidak mengganggu nelayan dan wisatawan. Muradi mengatakan, ikan yang dalam bahasa Jawa disebut Geger Lintang ini tidak agresif kepada manusia. Satwa laut ini bahkan tidak terganggu saat perahu nelayan yang membawa wisatawan mendekati mereka.

“Beberapa kali ada nelayan dan wisatawan yang masuk ke laut berenang bersama hiu. Ikan ini pemakan plankton, tidak menyerang manusia,” ujar Muradi.

hiu paus

Hiu Paus (Rhincodon typus) berkeliaran bebas di pesisir Pantai Wisata Bentar, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Foto: greeners.co/Muhajir Arifin

Kemunculan kawanan Hiu Paus di Pantai Bentar sudah diketahui banyak orang. Banyak wisatawan yang sengaja datang ke Pantai Bentar untuk melihatnya langsung dari dekat. Para wisatawan menyewa perahu motor nelayan untuk menuju perairan lepas lokasi hiu berkeliaran. Cukup dengan Rp10 ribu, setiap wisatawan bisa menikmati tingkah pola Hiu Paus dari jarak sangat dekat. Mereka juga bisa mengabadikan perilaku ikan besar ini.

“Karena setiap tahun ikan-ikan ini datang ke sini, banyak warga sudah hafal waktunya, yakni sekitar Desember sampai Maret. Adanya hiu-hiu ini meningkatkan kunjungan pantai, pengunjung naik dua hingga tiga kali lipat. Rata-rata 800 orang per hari, kalau tidak ada hiu sekitar 400 orang per hari,” jelas pengelola tiket Pantai Bentar, Zahar.

BACA JUGA: Indonesia Tidak Memiliki Data Pasti Keanekaragaman Hayati Laut

Pengunjung yang datang bukan hanya dari dalam kota, tapi juga dari luar kota. Salah satu pengunjung asal Jember, Retno Sulanjari mengatakan ia sengaja datang ke Pantai Bentar ingin melihat hiu.

“Sebenarnya sudah tahun lalu ingin ke sini, tapi tahun ini baru sempat. Pengalaman luar biasa bisa berdekatan dengan hiu. Saya sempat foto-foto,” kata Retno saat turun dari perahu motor yang membawanya sekitar 30 menit melihat kawanan hiu dari dekat.

Tidak sebelumnya, tahun ini belum terlihat kawanan Hiu Paus di perairan Pasuruan. Padahal biasanya puluhan hiu sudah tampak di Pasuruan lebih dulu dari Probolinggo. “Sementara belum terlihat di perairan Pasuruan, biasanya sudah bermunculan,” kata seorang perwira di Kesatuan Polisi Air Pasuruan, Bripka Laswanto.

Sama seperti di Pantai Bentar Probolinggo, kemunculan Hiu Paus di Pasuruan juga selalu ditunggu warga. Meski bukan berada di kawasan wisata, namun para nelayan setempat dengan senang hati menyewakan perahu mereka untuk mengantarkan warga yang ingin melihat hiu dari dekat.

“Belum ada hiu di laut. Padahal biasanya lumayan kalau tidak sedang melaut bisa mencari penghasilan tambahan dari pengunjung yang menyewa perahu,” kata Sukarji, seorang nelayan di Kraton, Pasuruan.

Penulis: MA/G12

]]>
https://www.greeners.co/berita/kawanan-hiu-paus-berkeliaran-bebas-sekitar-pantai-wisata-probolinggo/feed/ 0
Lima Spesies Hiu Berjalan Tinggal di Indonesia https://www.greeners.co/berita/lima-spesies-hiu-berjalan-tinggal-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lima-spesies-hiu-berjalan-tinggal-indonesia https://www.greeners.co/berita/lima-spesies-hiu-berjalan-tinggal-indonesia/#respond Sat, 14 Jan 2017 09:04:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15674 Perairan Indonesia yang tinggi keragaman hayati lautnya ini ternyata merupakan habitat Hiu Berjalan. Lima dari sembilan spesies sudah berhasil ditemukan dan diidentifikasi berada di perairan Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Semua ikan hiu pasti bisa berenang, tetapi hanya beberapa spesies saja yang bisa berjalan sehingga sering disebut “Hiu Berjalan” (walking shark). Disebut sebagai Hiu Berjalan karena bergerak seperti melata atau berjalan di dasar laut menggunakan sirip-siripnya. Perairan Indonesia yang tinggi keragaman hayati lautnya ini ternyata merupakan habitat Hiu Berjalan. Lima dari sembilan spesies sudah berhasil ditemukan dan diidentifikasi berada di perairan Indonesia.

Marine Program Director Conservation International (CI) Indonesia Victor Nikijuluw mengungkapkan bahwa selain hiu konvensional dan Hiu Paus yang menjadi daya tarik pariwisata, Hiu Berjalan adalah daya tarik lainnya. Dengan melakukan snorkling atau berperahu di perairan dangkal, Hiu Berjalan akan mudah dijumpai.

“Namun karena spesies ini mudah ditemukan, ancaman keberlanjutannya juga semakin besar. Karena itu, sebaiknya spesies ini tidak diganggu ketika kita sedang berwisata di pesisir, dan kita jangan merusak terumbu karang serta padang lamun yang merupakan habitat serta tempat mereka memijah,” papar Victor seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Greeners, Jumat (13/01/2017).

BACA JUGA: Hiu Paus Boleh Dimanfaatkan Sebagai Potensi Wisata, Asalkan…

Kelompok Hiu Berjalan secara taksonomi sering disebut dengan Hiu Bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam genus Hemiscyllium. Empat spesies endemik atau hanya ada di Indonesia antara lain adalah Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), Hiu Berjalan Halmahera (H. halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi). Satu spesies lainnya yaitu H. trispeculare ditemukan di perairan Aru Maluku, namun spesies ini hidup juga di pantai utara dan barat Benua Australia.

Victor menjelaskan, Hiu Berjalan endemik Indonesia dari jenis Hemiscyllium freycineti. Spesies ini ditemukan pertama kali di Raja Ampat pada tahun 1824. Pada tahun 2008, H. henryi ditemukan di perairan Kaimana dan H. galei ditemukan di Teluk Cenderawasih. Sedangkan H. halmahera ditemukan perairan Halmahera pada tahun 2013.

Lima dari sembilan spesies hiu berjalan atau sering disebut juga bamboo shark ditemukan berada di perairan Indonesia. Empat diantaranya merupakan endemik atau hanya ada di Indonesia. Foto: dok. Conservation International (CI)

Studi yang dilakukan CI bersama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Western Australian Museum, dan California Academy of Science terhadap sembilan spesies hiu berjalan tersebut sementara ini menyimpulkan bahwa daerah sebaran sembilan spesies hanya ternyata terbatas di wilayah cincin utara Benua Australia, Papua Nugini, Perairan Papua Barat, Halmahera, dan Aru.

Temuan yang didukung oleh Mark Erdmann dan Gerald Allen dari CI dan Western Australian Museum ini merupakan perkembangan hasil temuan sebelumnya yang menunjukkan daerah sebaran yang luas dari bagian utara Benua Australia, Papua Nugini, hingga Seychelles di Samudera Hindia dan Pulau Solomon di Pasifik.

Lebih lanjut Victor menjelaskan bahwa pemantauan secara berkala yang dilakukan oleh CI di perairan Papua Barat menyimpulkan bahwa populasi Hiu Berjalan berada dalam ancaman karena daerah sebaran yang terbatas daripada perkiraan sebelumnya. Akibatnya, spesies unik ini lebih mungkin terpapar terhadap ancaman setempat seperti penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab, tumpahan minyak, peningkatan suhu, bencana seperti angin siklon dan tsunami, kerusakan pantai, pembangunan wilayah pesisir dengan cara reklamasi, serta perkembangan industri pariwisata yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

BACA JUGA: Hukuman Ringan, Angka Perdagangan Satwa Liar Terus Meningkat

Sementara itu pakar hiu dari LIPI, Fahmi, menjelaskan bahwa kelompok ikan hiu ini memiliki kemampuan berenang yang terbatas dan amat tergantung pada habitat dan kedalaman tertentu sehingga tidak sanggup bergerak jarak jauh dan tidak memiliki potensi sebaran yang tinggi. Selain itu, tipe reproduksi dari kelompok hiu ini adalah dengan meletakkan telurnya pada substrat tertentu untuk kemudian menetas dan berkembang menjadi menjadi individu dewasa pada habitat yang sama.

Fahmi menambahkan bahwa hasil temuan ini akan dikomunikasikan kepada pemerintah daerah sebagai pengelola kawasan pesisir untuk mendorong perlindungan bagi spesies hiu berjalan di Indonesia. Pasalnya, baru spesies Hemiscyllium freycineti yang ada di Raja Ampat yang dilindungi oleh Perda Raja Ampat Nomor 9 Tahun 2012 mengenai Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Raja Ampat.

“Saat ini kelompok Hiu Berjalan merupakan kelompok ikan hiu yang sering dijadikan ikan hias dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Beberapa negara maju bahkan sudah melakukan upaya budidaya spesies hiu berjalan uuntuk kepentingan komersial. Perlunya upaya pengelolaan terhadap jenis hiu ini dan habitatnya amat diperlukan, agar jangan sampai jenis hiu tersebut banyak ditemukan di akuarium-akuarium ikan hias namun sulit ditemukan di habitat aslinya,” pungkasnya.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/berita/lima-spesies-hiu-berjalan-tinggal-indonesia/feed/ 0
Indonesia Akan Miliki Dua Management Authority CITES https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/#respond Thu, 12 Nov 2015 11:56:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11879 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa hingga saat ini, masih ada dua permasalahan yang tengah dalam pembahasan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa hingga saat ini, masih ada dua permasalahan yang tengah dalam pembahasan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait penerapan mandat Undang-Undang Perikanan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Direktur Kawasan Konservasi dan Jenis-jenis Ikan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Agus Dermawan kepada Greeners mengatakan bahwa dua permasalahan yang tengah dibahas tersebut adalah tentang mandat berbagi tanggung jawab pengelolaan konservasi sumberdaya ikan atau spesies akuatik, termasuk Management Authority daftar Convention on International Trade in Endangered Species (MA CITES), dan proses pengalihan tujuh taman nasional laut sebagai mandat undang-undang nomor 1 tahun 2014.

“Sekretariat CITES di Jenewa, Swiss sangat mendukung KKP menjadi Management Authority CITES untuk spesies akuatik. Kedepan, Indonesia akan memiliki dua MA CITES. KLHK untuk spesies terestrial dan KKP untuk spesies akuatik,” jelas Agus, Jakarta, Rabu (11/11).

Kementerian Luar Negeri, lanjut Agus, diharapkan dapat berperan sebagai focal point dalam mendukung penerapan mandat bagi ke dua kementerian tersebut. Sementara, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga bisa berperan selaku Scientific Authorithy (SA). Sedangkan peran KKP sendiri, lanjutnya, adalah sebagai MA spesies akuatik yang sangat diperlukan mengingat lalu lintas perdagangan biota laut dunia semakin meningkat dan perlu penanganan khusus.

“Diperlukan kementerian atau lembaga yang kompeten dalam mengelola sumberdaya hayati di laut. Tidak perlu membentuk badan baru karena mandat regulasi pelaksanaan CITES sudah ada dalam PP nomor 60 tahun 2006 pasal 53. KKP di Direktorat Konservasi dan keanekaragaman hayati akan melaksanakan mandat tersebut,” tambahnya.

Terkait penyerahan pengelolaan tujuh taman nasional laut dari KLHK kepada KKP, Direktur Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni, masih harus menunggu revisi Undang-Undang No 5 Tahun 1990.

Hingga saat ini, lanjut Tachrir, kewenangan perubahan-perubahan personel, sarana dan prasarana, dokumen serta lainnya, harus melalui Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara – Reformasi Birokrasi (Menpan – RB), kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Menteri Koordinator Kemaritiman.

“Menko Maritim sebenarnya sudah meminta untuk diadakan pertemuan untuk menyelesaikan peralihan itu. Tapi sampai sekarang masih belum ada rapat yang dimaksudkan,” jelasnya.

Selain itu, Tachrir juga ingin memastikan bahwa misi konservasi pada taman nasional laut yang sejak awal dibangun oleh KLHK sebagai tempat untuk melindungi berbagai jenis ikan, terumbu karang dan banyak spesies laut lainnya tersebut, tidak berubah fungsi menjadi wilayah eksploitasi.

“Kita hanya ingin memastikan kalau tidak ada eksploitasi besar-besaran di wilayah taman nasional laut nantinya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, tujuh taman nasional laut yang akan dikelola oleh KKP tersebut adalah TN Kepulauan Seribu di Provinsi DKI Jakarta, TN Karimun Jawa di Provinsi Jawa Tengah, TN Bunaken di Provinsi Sulawesi Utara, TN Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara, TN Togean di Provinsi Sulawesi Tengah, TN Teluk Cendrawasih di Provinsi Papua Barat, dan TN Takabonerate di Provinsi Sulawesi Selatan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/feed/ 0