spesies terancam punah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/spesies-terancam-punah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 08 Mar 2023 02:28:51 +0000 id hourly 1 Mycena corynephora Jamur Musim Gugur yang Berbulu https://www.greeners.co/flora-fauna/mycena-corynephora-jamur-musim-gugur-yang-berbulu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mycena-corynephora-jamur-musim-gugur-yang-berbulu https://www.greeners.co/flora-fauna/mycena-corynephora-jamur-musim-gugur-yang-berbulu/#respond Wed, 08 Mar 2023 03:00:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39250 Jamur Mycena corynephora yang berasal dari famili Mycenaceae biasa muncul pada musim gugur hingga awal musim dingin. Namun, jamur ini masih jarang ditemukan di alam dan terdaftar sebagai spesies yang […]]]>

Jamur Mycena corynephora yang berasal dari famili Mycenaceae biasa muncul pada musim gugur hingga awal musim dingin. Namun, jamur ini masih jarang ditemukan di alam dan terdaftar sebagai spesies yang terancam punah.

Genus Mycena sebetulnya telah lama para ahli mikrobiologi pelajari selama bertahun-tahun. Namun, tidak semua spesies jamurnya telah ahli deskripsikan dengan baik karena beberapa kendala salah satunya sulitnya mendapatkan spesimennya di alam.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Ukuran pileus (tudung) berkisar antara 2 hingga 6 mm berwarna putih. Seiring bertambahnya usia akan muncul corak abu-abu atau cokelat samar. Jumlah lamelanya sekitar 7-14 lembar dan berwarna putih.

Stipe atau tangkainya berbentuk silindris dengan ukuran 5-18 x 0,1-1 mm, melengkung dan sedikit lentur, melebar pada pangkalnya, terdapat bulu-bulu halus atau butiran seperti tepung berwarna putih di tubuhnya.

Terkadang dapat tembus cahaya dan rambut pada tangkai tersusun dalam alur membujur. Memiliki basidium atau miselium tersier berukuran 17-28 x 9-13 µm. Lebar hifanya sekitar 2 hingga 7 µm yang bentuknya tidak seperti agar-agar tetapi bertekstur halus.

Jamur M. corynephora memiliki ciri khas pileusnya berbulu putih dengan lebar hingga 6 mm, stipe berbulu pendek, putih, tidak memiliki bola basal atau cakram basal. Memiliki spora yang bentuknya bervariasi, mulai dari bulat hingga bentuk elips dan basidia berspora 4. Hal inilah yang membedakan jamur M. corynephora dengan spesies jamur asal Eropa lainnya.

Habitat dan Distribusi Mycena corynephora

Biasanya tumbuh sendiri-sendiri atau berkelompok (koloni) pada kulit kayu yang tertutup lumut di pepohonan. Melansir dari berbagai sumber, jamur M. corynephora ini memiliki distribusi yang luas hampir di seluruh dunia.

Pada beberapa wilayah yang memiliki ekologi serupa, M. corynephora kerap kali dibandingkan dengan M. adscendens yang memiliki morfologi mirip.

Sebagian jamur dari genus Mycena ada yang memiliki racun salah satunya Mycena pura. Namun sebagian spesies lainnya termasuk golongan yang dapat dimakan salah satunya Mycena haematopus. Sayangnya, pengetahuan dan manfaat jamur M. corynephora ini masih minim. 

Taksonomi Mycena corynephora

Penulis: Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mycena-corynephora-jamur-musim-gugur-yang-berbulu/feed/ 0
Aquilegia Barbaricina, Bunga Cantik yang Mirip Burung Merpati https://www.greeners.co/flora-fauna/aquilegia-barbaricina-bunga-cantik-yang-mirip-burung-merpati/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aquilegia-barbaricina-bunga-cantik-yang-mirip-burung-merpati https://www.greeners.co/flora-fauna/aquilegia-barbaricina-bunga-cantik-yang-mirip-burung-merpati/#respond Sat, 03 Sep 2022 03:00:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37215 IUCN Red List memasukkan tanaman ini dalam daftar 50 spesies tumbuhan Mediterania yang terancam punah. Sebagai flora endemik, Aquilegia barbaricina memang tidak bisa kita temukan di mana saja. Habitatnya cukup […]]]>

IUCN Red List memasukkan tanaman ini dalam daftar 50 spesies tumbuhan Mediterania yang terancam punah. Sebagai flora endemik, Aquilegia barbaricina memang tidak bisa kita temukan di mana saja. Habitatnya cukup spesifik sehingga sulit untuk dikembangbiakkan.

Aquilegia barbaricina tergabung dalam famili Ranunculaceae dan genus Aquilegia. Mereka merupakan satu dari 70 spesies columbine, sehingga banyak pula yang menyebutnya sebagai barbaricina columbine.

Columbine sendiri adalah kelompok tumbuhan berbunga yang berasal dari belahan bumi utara. Flora ini jamak ditemukan di wilayah dataran tinggi, serta tergolong sebagai tanaman terna dengan akar rimpang.

Untuk barbaricina columbine sendiri, spesies ini memiliki batang kurus dengan bunga yang indah. Bentuknya mirip seperti semak saat bunga belum mekar, sehingga rentan sekali terinjak oleh manusia dan hewan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Aquilegia Barbaricina

Sebagai tanaman rimpang, Aquilegia barbaricina memiliki batang atau akar yang kokoh di dalam tanah. Sedangkan batang luarnya (umumnya disebut batang udara) terlihat ramping dengan tinggi mencapai 60 cm.

Permukaan batang berwarna kecokelatan, tetapi ditutupi oleh rambut halus. Barbaricina columbine mampu menghasilkan daun berwarna hijau, sedangkan bunganya tumbuh dengan corak yang beragam.

Beberapa individu memiliki bunga berwarna putih, sedangkan yang lainnya bercorak putih kemerah-mudaan. Tangkainya melengkung saat bunga mekar, yang mana proses itu biasanya terjadi pada bulan Mei.

Jika diperhatikan, bentuk bunga ini mirip seperti burung merpati yang sedang bertengger. Karena keunikannya itu, banyak orang yang tertarik menjadikan barbaricina columbine sebagai tanaman hias.

Perlu diketahui, jenis columbine ini mampu menghasilkan biji berbentuk kapsul. Sama seperti akarnya, biji tersebut diyakini mengandung racun kardiogenik sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Peran dan Manfaat Aquilegia Barbaricina

Meski terlihat seperti tanaman terna biasa, spesies Aquilegia barbaricina nyatanya memiliki segudang manfaat. Apalagi bagi sejumlah serangga, tumbuhan ini menyediakan sumber makanan yakni berupa nektar.

Misalnya ngengat Noctuidae, yang dapat menyerap nektar bunga tanpa mengalami keracunan. Selain itu, ada pula jenis Papaipema leucostigma yang dikenal sebagai penyerbuk utama dari tanaman columbine.

Bentuk pemanfaatan itu tak hanya berlangsung satu arah. Mereka juga melakukan simbiosis mutualisme, yang mana kelompok serangga diketahui membantu proses penyerbukan tumbuhan.

Bagi masyarakat setempat, flora berordo Ranunculales ini bahkan dipercaya mempunyai khasiat obat. Akarnya awam olah menjadi obat bisul alami, meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit.

Namun, baik sedikit maupun banyak, memakan barbaricina columbine sangat tidak dianjurkan. Lagi pula belum ada riset yang memvalidasi klaim tersebut, sehingga khasiat obatnya masih dianggap rumor.

Habitat dan Populasi Aquilegia Barbaricina

Aquilegia barbaricina adalah spesies asli dari Italia, khususnya wilayah Sardinia. Tanaman ini umum dijumpai di daerah pegunungan, mulai dari ketinggian 900–1.400 meter di atas permukaan laut (dpl).

Hutan basah, padang rumput, dan area sepanjang aliran sungai adalah lokasi pertumbuhan columbine ini. Mereka tidak menyukai tanah kering dan gersang, walau dapat berbiak di bawah sinar matahari langsung.

Menariknya, usia rata-rata barbaricina columbine hanya mencapai 3 tahun. Namun mereka sangat tangguh menghadapi iklim dingin, sebab dapat bertahan hidup pada suhu -1,1 sampai -12 derajat Celsius.

Lantas, mengapa populasi spesies ini terus merosot? Ini dikarenakan oleh deforestasi hutan. Habitat yang rusak membuat jumlah serangga penyerbuk berkurang, sehingga proses reproduksi menjadi terhambat.

Parahnya lagi, otoritas setempat belum memasukkan flora ini sebagai spesies yang dilindungi. Sehingga pemanenannya di alam masih terus dilakukan, dengan tidak memerhatikan aspek kelestarian tanaman.

Taksonomi Spesies Barbaricina Columbine

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/aquilegia-barbaricina-bunga-cantik-yang-mirip-burung-merpati/feed/ 0
Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/#respond Wed, 01 Jun 2022 05:01:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36327 Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon dan melawan perubahan iklim, keanekaragaman hayati tak lama lagi akan terancam punah.

Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia, Jatna Supriatna menyatakan berdasarkan Journal Nature Climate Change bila tak ada aksi nyata dalam melawan perubahan iklim, 37 % spesies akan punah pada tahun 2050. Lalu pada tahun 2100 nanti 70 % biodiversitas akan terancam punah.

“Artinya jika kita tetap pada business as usual dan tanpa ada perubahan yang berarti dalam me-manage climate change maka biodiversitas kita akan punah,” katanya dalam Webinar “Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia”, Selasa (31/5).

Keanekaragaman hayati tak hanya menyokong kebutuhan pangan, energi, kesehatan, tapi juga kestabilan bumi.

“Karena keanekaragaman hayati menyokong keajegan planet bumi. Kalau keanekaragaman hayati punah mungkin kita akan sulit untuk bisa menghuni planet bumi ini,” ucapnya.

Jamin Cadangan Karbon Tekan Dampak Perubahan Iklim

Aksi untuk melawan perubahan iklim tak lepas dari target pencapaian net zero emission (NZE) pada tahun 2060 nanti. Hal yang tak kalah penting, lanjutnya memastikan pengelolaan cadangan karbon yang besar sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati.

“Kita harus memastikan berapa stok karbon. Terutama pada wilayah hutan, gambut, mangrove hingga blue carbon di pesisir yang menjadi kontributor besar untuk penyelamatan biodiversitas kita,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menyatakan Hari Keanekaragaman Hayati setiap 22 Mei menjadi peringatan penting. Khususnya membagikan pengetahuan kepada seluruh stakeholders dan masyarakat luas pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem termasuk pelestarian keanekaragaman hayati, serta hubungannya dengan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan.

Laporan komprehensif bertajuk Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019 oleh IPBES (The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) memaparkan status keanekaragaman hayati bumi kini semakin mengkhawatirkan.

Para ilmuwan mengungkap saat ini, bumi telah kehilangan lebih dari 80 % satwa menyusui (terdiri dari satwa mamalia dan primata). Pemicunya kerusakan ekosistem alami 100 kali lebih cepat dari yang terjadi selama 10 juta tahun terakhir.

Ia juga mengatakan, keanekaragaman hayati memiliki nilai intrinsik yang berhak untuk tetap hidup. Walau tidak memberikan manfaat langsung bagi manusia. “Kehilangan atau penurunan kondisi keanekaragaman hayati dapat membahayakan nilai dan fungsi tersebut. Serta mempengaruhi kesejahteraan manusia,” imbuhnya.

Dolly menegaskan, upaya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah saja. Namun butuh dukungan aktif semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat dengan pendekatan bentang alam.

Keanekaragaman Hayati Indonesia Unik dan Endemik

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Direktur Pusat Studi Etika Lingkungan Universitas Nasional, Endang Sukara mengingatkan, keanekaragaman hayati Indonesia sangat unik dan sebagian besar endemik. Kondisi ini tidak dapat ditemukan di negara lain.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengungkapkan potensi ekonomi keanekaragaman hayati terutama untuk bisnis farmasi multi miliar dolar.

“Oleh karena itu, kita harus betul-betul menyadari pentingnya keanekaragaman hayati. Tidak hanya melindunginya tetapi yang lebih penting memanfaatkannya dan keuntungan bagi sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur Daemeter Consulting, Aisyah Sileuw menyebut, pendekatan nilai konservasi tinggi dan stok karbon tinggi membantu untuk menyeimbangkan antara kegiatan pembangunan dan konservasi.

“Jika dilakukan secara konsisten, seharusnya tidak ada lagi dikotomi antara pilihan pembangunan dan konservasi karena masing-masing tujuan akan terpenuhi,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/feed/ 0
Ini Strategi BRIN Ungkap Biodiversitas Nusantara di Tahun 2024 https://www.greeners.co/berita/ini-strategi-brin-ungkap-biodiversitas-nusantara-di-tahun-2024/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ini-strategi-brin-ungkap-biodiversitas-nusantara-di-tahun-2024 https://www.greeners.co/berita/ini-strategi-brin-ungkap-biodiversitas-nusantara-di-tahun-2024/#respond Tue, 14 Dec 2021 08:44:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=34695 Jakarta (Greeners) – Keanekaragaman hayati (biodiversitas) di Indonesia belum sepenuhnya terungkap. Upaya mengungkap biodiversitas ini berkejaran dengan cepatnya laju kepunahan karena berbagai faktor salah satunya aktivitas manusia. Pelaksana tugas (Plt) […]]]>

Jakarta (Greeners) – Keanekaragaman hayati (biodiversitas) di Indonesia belum sepenuhnya terungkap. Upaya mengungkap biodiversitas ini berkejaran dengan cepatnya laju kepunahan karena berbagai faktor salah satunya aktivitas manusia.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Organisasi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Imam Hidayat mengatakan, pihaknya melakukan berbagai upaya dalam mengungkap keberagaman hayati yang berada di Indonesia. Salah satunya dengan melakukan sampling hingga pengamatan di hutan untuk mengidentifikasi keragaman hayati yang ada.

“Melakukan beberapa eksplorasi ke berbagai daerah dari ujung barat hingga timur dengan berbagai tipe ekosistem. Contohnya kita masuk hutan, membangun basecamp untuk melakukan persiapan-persiapan sampling dan melakukan pengamatan di lapangan,” katanya dalam webinar BRIN di Jakarta, Selasa (14/12).

Di samping itu, Imam juga mengungkapkan rencana besar lainnya yang telah BRIN susun hingga tahun 2024 mendatang. Pertama, pengungkapan biodiversitas nusantara seperti hewan, tumbuhan dan mikroorganisme. Kedua, membangun database seperti melalui sequencing atau genome.

“Ketiga, kami juga menganalisis perubahan iklim global terhadap populasi, biodiversity dan ekosistem. Kami juga berusaha melalukan meningkatkan populasi dari hewan-hewan yang terancam punah,” imbuhnya.

Selain itu, pada tahun 2022 BRIN menargetkan adanya pengungkapan biodiversitas di ekoregion spesifik dan ekosistem ekstrem. Selanjutnya pada tahun 2023 ingin mengungkap kekayaan biodiversitas di kawasan timur Indonesia. Lalu tahun 2024 akan mengungkap biodiversitas di pulau terpencil dan terluar. Dari kegiatan ini, BRIN menargetkan penemuan 50 spesies baru.

Bangun Kebun Raya Daerah Untuk Konservasi Biodiversitas

Sebagai pusat konservasi, BRIN juga berupaya untuk memperbanyak kebun raya nasional yang ada di Indonesia. Targetnya Indoensia akan memiliki 17 kebun raya nasional. BRIN berencana membangun lima kebun raya nasional pada tahun 2022.

“Selain membangun kebun raya nasional, kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun kebun raya daerah. Tujuannya menyelamatkan tumbuhan-tumbuhan lokal endemik dari daerah tersebut dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat selain untuk konservasi,” paparnya.

Imam menjelaskan, hingga saat ini sudah ada 40 kebun raya daerah yang telah terbangun. Targetnya akan ada 47 kebun raya daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Upaya lain yang BRIN lakukan yaitu melakukan penghijauan dengan menamam tanaman di daerah bukit dan pegunungan guna mencegah adanya banjir.

“Selain kebun raya, Pusat Konservasi Tumbuhan bekerja sama dengan pemerintah daerah menghijaukan kawasan-kawasan sumber air dan konservasi di daerah di bukit dan pegunungan untuk mencegah banjir,” ungkapnya.

Menambah kebun raya di daerah menjadi salah satu upaya mengungkap biodiversitas nusantara. Foto: Shutterstock

Konservasi Tanaman Terancam Punah

Dalam melestarikan tanaman yang terancam punah, Imam menyebut, BRIN memiliki program untuk konservasi tumbuhan terancam kepunahan. BRIN menargetkan mengkonservasi 50 jenis tumbuhan terancam punah pada tahun 2024.

“Mengingat banyak sekali tumbuhan endemik Indonesia yang terancam punah apalagi dengan pembukaan lahan hutan yang masif. Ini sangat mengkhawatirkan sehingga program ini sangat strategis untuk menyelamatkan tumbuhan yang terancam punah khususnya tumbuhan berkayu yang banyak sekali spesiesnya hampir habis,” tandasnya.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/berita/ini-strategi-brin-ungkap-biodiversitas-nusantara-di-tahun-2024/feed/ 0
Harimau Sumatra, Satwa Endemik yang Tersingkirkan https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harimau-sumatra https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/#respond Wed, 30 Dec 2020 00:00:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20189 Harimau sumatra termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Kucing besar ini merupakan sub-spesies harimau terakhir di Indonesia.]]>

Menurut data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, saat ini hanya ada sekitar 400 ekor harimau sumatra yang hidup di habitatnya. Jumlah ini terus merosot seiring meningkatnya aktivitas perburuan di alam liar.

Terdapat sembilan jenis harimau (Panthera tigris) yang ada di dunia; enam di antaranya para pakar nyatakan masih hidup, sedang tiga lainnya telah punah. Salah satu sub-spesies yang masih eksis hingga saat ini adalah Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang berasal dari Indonesia.

Di tanah air, sebenarnya ada dua jenis harimau lain yang dulu masih bisa kita temukan di dua daerah berbeda, yakni Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica).

Namun, sayangnya kedua sub-spesies tersebut sudah masuk dalam kelompok satwa punah. Hanya kucing besar dari Sumatra yang mampu bertahan hidup dengan jumlah yang sangat terbatas.

Menurut data WWF Indonesia, saat ini hanya ada sekitar 400 ekor harimau sumatra yang hidup di habitatnya. Jumlah ini terus merosot seiring meningkatnya aktivitas perburuan di alam liar.

Habitat dan Persebaran Harimau di Dunia

Mulanya, Panthera tigris hanya hidup di benua Asia yakni mulai dari Turki, India hingga Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu hewan tersebut mulai tersebar sampai ke Amerika dan juga Rusia.

Berbeda dengan singa, harimau dewasa adalah satwa soliter. Tipe lokasi yang biasa menjadi habitat fauna tersebut meliputi daerah-daerah berketinggian 0-3.000 m di atas permukaan laut.

Itu sebabnya, jangan heran jika kucing besar ini dapat kita temukan di hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder (dataran tinggi dan rendah), hutan savana, hutan terbuka, mangrove dan sebagainya.

Mengacu pada kawasan biogeografinya, harimau sumatra bisa saja hidup di Pulau Jawa dan Bali. Sehingga, para ilmuwan menyebutnya juga sebagai Harimau Sunda atau Panthera tigris sondaica.

Ada fakta unik terkait harimau dan habitatnya, jika sudah mendapatkan lokasi nyaman untuk menetap hewan ini biasanya mencakar pohon atau tanah di sekitarnya untuk menandai daerah kekuasaan.

Cakaran ini mereka buat setelah melakukan urinasi. Pada saat urinasi, harimau tersebut menyemprotkan urine untuk menimbulkan bebauan serta meninggalkan bekas kotorannya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Harimau Sumatra

Harimau adalah jenis terbesar dari 36 spesies kucing yang ada di dunia, namun harimau sumatra merupakan kucing besar terkecil dari keseluruhan sub-spesises yang tersedia.

Bagaimana tidak, panjang rerata harimau ini hanya 2,4 m untuk pejantan dan 2,2 m untuk betina. Jika diukur dari kaki ke tengah, maka tinggi rerata hewan tersebut berkisar 75-95 cm saja.

Menurut berbagai sumber, fauna yang tergolong sebagai top predator atau predator puncak ini dapat tumbuh hingga seberat 120 kg untuk pejantan dan 90 kg untuk sang betina.

Panthera tigris sumatrae memiliki belang yang paling banyak di antara sub-spesies lainnya. Satwa ini mempunyai warna tubuh lebih gelap, serta garis yang lebih jelas daripada sub-spesies berbeda.

Meski begitu, warna dasar dari spesies harimau sumatra sebenarnya adalah jingga (oranye) dengan garis-garis belang berwarna hitam dan cokelat tua, yang lebih serta lebar lebih jarang.

Tidak main-main lho, menurut para ahli belang yang terdapat pada tubuh hewan tersebut berfungsi sebagai kamuflase. Air liurnya juga berguna sebagai antiseptik untuk mengobati luka.

Penglihatan, pendengaran serta penciuman harimau pun terbilang sangat baik. Selain bermanfaat saat berburu, keistimewaan ini biasanya ia gunakan untuk menghindari musuh saat malam hari.

Ukuran tubuhnya yang kecil memudahkan mereka menjelajahi rimba. Spesies hewan yang satu ini tergolong cukup gesit, bahkan dapat berlari dengan kecepatan prima yakni sekitar 35 mil per jam.

harimau sumatra

Panthera tigris sumatrae memiliki belang yang paling banyak di antara sub-spesies lainnya. Foto: Shutterstock.

Penyebab Kelangkaan Harimau Sumatra

Berdasarkan penelitian Departemen Kehutanan Republik Indonesia (2007), ada beberapa faktor yang menyebabkan populasi harimau sumatra semakin langka di habitatnya, yakni:

1. Deforesasi dan Degradasi

Deforestasi dan degradasi hutan di Pulau Sumatra merupakan salah satu ancaman besar terhadap kelestarian keanekaragaman hayati di pulau ini, terutama bagi mamalia besar seperti harimau.

Hasilnya, harimau yang punya ruang gerak terbatas lantas masuk ke pemukiman warga untuk mencari makan. Warga yang merasa terganggu memburu hewan tersebut karena dianggap membahayakan.

2. Perburuan dan Perdagangan

Bukan karena sekadar warga anggap mengganggu, hewan yang satu ini juga menjadi objek perburuan karena bagian tubuhnya yang berharga tinggi. Sebut saja seperti kulit dan tulang, yang bisa terjual seharga jutaan dolar di pasar internasional.

Malangnya, permintaan akan barang ilegal tersebut juga sangat banyak. Bahkan, masyarakat Tiongkok kuno kerap menggunakan bagian tubuh harimau sebagai bahan obat tradisional.

3. Konflik antara Harimau dan Manusia

Dalam beberapa tahun terakhir ini, konflik antara harimau dan manusia akibat alih fungsi perhutanan para pakar percayai menjadi salah satu ancaman utama bagi kelestarian harimau sumatra.

Melansir kajian TRAFFIC (2002), setidaknya ada 35 ekor harimau yang telah terbunuh selama kurun waktu 1998-2002. Tentu saja, angka ini terus melonjak hingga dewasa kini.

4. Faktor Kemiskinan Masyarakat

Secara mengejutkan faktor kemiskinan dan kurangnya lapangan kerja bagi warga sekitar menjadi salah satu pendorong menipisnya populasi harimau sumatra di habitatnya.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebagian masyarakat tradisional memanfaatkan daging fauna ini untuk kebutuhan pangan, sebagian lagi memburu hewan tersebut untuk dijual dan mendapatkan uang.

Cara Melestarikan Harimau Sumatra

Langkah pelestarian harimau sumatra sebenarnya sudah berbagai kalangan laksanakan, mulai dari organisasi pemerintah sampai dengan non-pemerintah baik lokal maupun internasional.

Bahkan, pemerintah Indonesia secara khusus telah mencantumkan harimau sebagai satwa dilindungi berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Namun, langkah tersebut nampaknya belum cukup untuk menekan laju penurunan populasi satwa ini. Sehingga, perlu adanya langkah kongkrit untuk mengoptimalkan kebijakan yang sudah ada, seperti:

  • Hentikan perambahan hutan secara masif dalam rangka alih fungsi lahan.
  • Edukasi terhadap masyarakat sekitar terhadap pentingnya pelestarian harimau.
  • Optimalkan pengawasan kawasan lindung untuk menjaga habitat satwa di dalamnya.
  • Berlakukan sanki tergas, tidak pandang bulu terhadap oknum perambah hutan serta perburuan liar sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Menjaga kelestarian harimau sumatra tidak hanya tugas segelintir orang namun seluruh masyarakat. Yuk, aplikasikan cara melestarikan hewan ini demi keseimbangan ekosistem alam di masa depan!

Taksonomi Harimau Sumatra

harimau sumatera

Referensi:

Rut Priskila Nainggolan, Universitas Sumatera Utara

Laporan WWF Indonesia

Laman WWF Indonesia

Laporan Departemen Kehutanan 2007

Oki Hadian Hadadi, dkk., Universitas Gajah Mada

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harimau-sumatra/feed/ 0
Kura-Kura Leher Ular Pulau Rote, Reptil Ikonik Diujung Kepunahan https://www.greeners.co/flora-fauna/kura-kura-leher-ular-pulau-rote-reptil-ikonik-diujung-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kura-kura-leher-ular-pulau-rote-reptil-ikonik-diujung-kepunahan https://www.greeners.co/flora-fauna/kura-kura-leher-ular-pulau-rote-reptil-ikonik-diujung-kepunahan/#respond Mon, 15 Jul 2019 01:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23777 Indonesia sebagai negara dengan julukan mega biodiversitas memiliki kelimpahan jenis kura-kura, sayangnya seiring berjalan waktu populasi kura-kura di Indonesia terus mengalami penurunan dan cenderung terancam punah, seperti terjadi pada jenis […]]]>

Indonesia sebagai negara dengan julukan mega biodiversitas memiliki kelimpahan jenis kura-kura, sayangnya seiring berjalan waktu populasi kura-kura di Indonesia terus mengalami penurunan dan cenderung terancam punah, seperti terjadi pada jenis “Kura-Kura Leher Ular Rote”.

Kura-kura Leher Ular Rote (Chelonia mccordi) merupakan reptil unik berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sesuai dengan namanya, kura-kura ini adalah hewan endemik di Pulau Rote yang hidup di lahan basah. Keberadaan kura-kura ini berfungsi untuk menjaga kesehatan perairan dan danau, serta mengontrol populasi serangga agar vegetasi danau terjaga.

Pada umumnya, selain menyebar di Pulau Rote, mereka juga menyebar terutama di Papua, Australia, dan Amerika Selatan. Secara morfologi, kura-kura ini mempunyai ciri khas dari kepala dan lehernya yang menyerupai ular, terutama pada bagian leher.

Dikutip dari Jurnal “Biodiversitas Indonesia, Bhineka Flora Fauna Nusantara” (2012), tidak seperti kura-kura pada umumnya, jenis ini tidak mampu menarik masuk kepalanya hingga ke dalam tempurung karena lehernya yang panjang. Sehingga untuk melindungi bagian kepala, ia hanya melipat lehernya secara menyamping di bawah sisi bagian terluar dari tempurung.

Berdasarkan berbagai sumber, sebelum ditemukan sebagai spesies baru, pada tahun 1994 reptil ini telah dilindungi oleh payung hukum Chelonia novaguineae, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.716/Kpts/um/10/1980.

Oleh karena itu, tidak ada perdagangan secara legal dari C. mccordi antara tahun 1980 dan 1994. Setiap perdagangan dari Kura-kura Leher Ular Rote yang terjadi dalam periode tersebut dianggap ilegal/melawan hukum (Sheperd, 2006).

Foto : Oki Hidayat/Balai Litbang LHK Kupang.

Reptil ini juga masuk kedalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dan terdaftar dalam Appendix II (perdagangan dengan pembatasan kuota) sejak tahun 2005, dan penetapan perdagangan nol kuota untuk spesimen dari alam sejak tahun 2013.

Herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Evy Arida, seperti dilansir pada web resmi yayasantitian.org, menjelaskan kura-kura khas pulau rote ini menjadi salah satu jenis kura-kura yang paling terancam punah di dunia. Jenis ini mengalami penurunan populasi yang begitu drastis, hingga perjumpaannya di alam dan di lokasi yang sebelumnya ditemukan kini sudah tidak lagi.

Evy mengatakan, dua tahun pasca-jenis ini dideskripsikan pada 1994, statusnya langsung Vulnerable atau rentan yang disematkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Empat tahun setelahnya, pada tahun 2000, predikatnya lompat menjadi Critically Endagered atau kritis alias satu langkah menuju kepunahan di alam liar.

Faktor paling berpengaruh yang menyebabkan penurunan besar-besaran populasi kura-kura jenis ini adalah perburuan masif untuk diperdagangkan. Selain itu, sebaran habitatnya yang tidak begitu luas serta siklus perkembangbiakannya yang cenderung lambat, mempercepat laju kepunahannya.

Kini, Keberadaan Kura-kura Leher Ular Rote memang sudah sulit dijumpai di alam liar. Tetapi, di sejumlah tempat seperti kebun binatang dan pusat penangkaran masih ada dan populasinya diusahakan meningkat. Di antaranya di Amerika, Eropa dan Asia, termasuk di Indonesia yang tengah dilakukan breeding atau pengembangbiakan.

Pada 26 Juni 2019 lalu menjadi momentum penting upaya penyelamatan Kura-kura Leher Ular Rote. Dilansir pada laman resmi ksdae.menlhk.go.id, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) menyerahkan fasilitas berupa kandang konservasi yang akan digunakan untuk repatriasi dari kebun binatang di luar negeri ke Indonesia.

Fasilitas sarana kandang konservasi ini adalah langkah pertama untuk mencegah kepunahan, mengembalikan dan menjaga kelestarian kura-kura leher ular rote dihabitat aslinya. Agar upaya ini berjalan maksimal, tentu membutuhkan dukungan dan partisipasi seluruh lembaga dan masyarakat (khususnya masyarakat Rote Ndao).

 

Penulis : Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kura-kura-leher-ular-pulau-rote-reptil-ikonik-diujung-kepunahan/feed/ 0
Bangau Tongtong, Burung Kepala Botak Penghuni Lahan Basah https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/#respond Sat, 11 May 2019 07:29:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23299 Leptoptilos javanicus atau yang dikenal dengan bangau tongtong merupakan salah satu kelas aves yang mempunyai keunikan dari bentuk kepalanya yang botak. Menurut Birdlife Internasional, populasi bangau tongtong di Indonesia pada tahun 2003 diperkirakan tidak lebih dari 2000 ekor.]]>

Leptoptilos javanicus atau yang dikenal dengan bangau tongtong merupakan salah satu kelas aves yang mempunyai keunikan dari bentuk kepalanya yang botak. Menurut Birdlife Internasional, populasi bangau tongtong di Indonesia pada tahun 2003 diperkirakan tidak lebih dari 2000 ekor. Habitat yang terus mengalami gangguan berupa degradasi habitat dan konversi lahan menyebabkan populasi bangau tongtong menurun.

Dalam persebarannya, bangau tongtong tersebar di berbagai wilayah di Indonesia antara lain Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan sampai ke Lombok. Untuk di Pulau Jawa sendiri, bangau tongtong tersebar di Brantas, Solo, dan di Segoro Anakan Cilacap. Bangau berpenampilan unik ini juga dapat dijumpai di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi. TNAP merupakan salah satu kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki 227 jenis burung termasuk didalamnya adalah spesies bangau tongtong dan burung-burung migran.

Bangau tongtong merupakan burung bangau dengan ukuran sangat besar. Burung bangau ini mempunyai panjang leher hingga 36 cm (10,5 sampai 14 inchi), mempunyai berat sekitar 4,6 sampai 8,5 Kg. Rentang sayap mencapai 210 cm, panjang tubuh mencapai 110-115 cm, dan memiliki paruh yang besar. Kepala bangau ini botak dan di bagian bawahnya seperti terdapat rambut halus.

Warna burung ini umumnya didominasi oleh warna hitam, putih, dan sentuhan warna metalik. Paruhnya berwarna kuning suram sampai coklat muda. Leher berwarna kuning kehitam-hitaman. Bagian sayap, punggung dan ekor berwarna hitam dengan permukaan hijau.

bangau tongtong

Foto: wikimedia commons

Selain kepala yang botak dan leher yang panjang, keunikan satwa bersayap ini juga terlihat dari cara berjalan dan terbangnya. Cara berjalan bangau ini seperti gerakan berjalan pada militer (tegap). Sedangkan untuk cara terbang burung ini akan berlari terlebih dahulu layaknya pesawat yang hendak lepas landas.

Bangau jenis ini berada di lahan basah untuk mencari makan maupun beristirahat. Pakan dari hewan ini antara lain ikan, belalang dan kodok. Secara umum, lahan basah yang digunakan adalah area terbuka seperti padang rumput, mangrove, rawa, tambak maupun hutan dataran rendah yang dekat dengan sumber air.

Bangau tongtong hidup soliter (tidak secara kelompok). Saat musim kawin mereka akan membentuk sebuah koloni. Bangau ini dapat menghasilkan sekitar 3-4 butir telur. Sayangnya telur-telur ini sering menjadi incaran predator lain seperti spesies elang ikan kepala abu (Ichtyopphaga ichtyaetus). Untuk melindungi telur-telurnya biasanya bangau ini akan melakukan perlawanan dengan mengepakan sayap dan terkadang membunyikan paruhnya dengan cara mengatupkan paruhnya berkali-kali.

Bangau tongtong termasuk satwa yang dilindungi. Bangau jenis ini tercatat sebagai spesies dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta termasuk dalam kategori kelangkaan rentan (vulnerable) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist tahun 2017.

bangau tongtong

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/feed/ 0
Hiu Gergaji, Nyaris Punah di Danau Sentani https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-gergaji-nyaris-punah-di-danau-sentani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hiu-gergaji-nyaris-punah-di-danau-sentani https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-gergaji-nyaris-punah-di-danau-sentani/#respond Fri, 11 Jan 2019 07:28:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=22225 Hiu spesies Pristis microdon memiliki keunikan pada bentuk moncongnya yang menyerupai gergaji. Terdapat 14 hingga 22 gigi di setiap sisi moncong satwa air endemik Danau Sentani ini.]]>

Indonesia memiliki perairan dengan keragaman hayati yang sangat kaya termasuk diantaranya 117 jenis spesies hiu dari 25 suku yang berbeda. Salah satu spesies hiu tersebut adalah hiu Pristis microdon. Bentuk moncongnya yang menyerupai gergaji membuat hiu ini dikenal sebagai hiu gergaji.

Hiu unik ini dikenal dengan banyak penamaan. Dalam bahasa Inggris satwa laut ini disebut sebagai Freshwater sawfish atau Leichhardt’s sawfish. Dalam bahasa Jepang hiu ini dikenal sebagai Nokogiriei. Penamaan dalam bahasa Belanda disebut Zoetwaterzaa grog. Sedangkan dalam bahasa lokal disebut sebagai cucut krakas (Jawa) dan hiu sentani (Papua).

Hiu gergaji merupakan ikan yang beradaptasi dengan perairan air tawar. Pada musim hujan (Desember-Maret) ikan ini akan hidup di sungai air tawar sedangkan pada musim kering (Mei-oktober) ikan ini lebih suka tinggal di muara atau teluk yang menyerupai habitat air laut.

Di Indonesia hiu gergaji merupakan hewan endemik di Danau Sentani, Papua. Sayangnya fauna laut ini diberitakan nyaris punah di alam Danau Sentani. Hampir habisnya populasi hiu ini di Danau Sentani disebabkan eksploitasi berlebihan, pencemaran air danau oleh limbah rumah tangga dan penggunaan jaring insang (gill net). Berdasarkan data terakhir tahun 2013, The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List menyatakan hiu ini secara global termasuk kategori critically endangered yang berarti secara kritis terancam punah.

hiu gergaji

Bentuk moncong yang khas membuat hiu gergaji banyak diincar pemburu satwa liar ilegal. Foto: wikimedia commons

Hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Secara morfologi panjang tubuh hiu ini dapat mencapai 7 meter, diukur mulai dari ujung mocong hingga ekor. Seluruh bagian tubuh atas berwarna polos dengan coklat keabu-abuan, sedangkan bagian perut berwarna putih pucat.

Ciri khas dari keluarga hiu gergaji adalah adanya moncong atau hidung panjang (rostrum) menyerupai pedang dengan deretan gergaji kecil yang menyamping (rostral teeth). Terdapat 14 hingga 22 gigi di setiap sisi moncongnya. Moncong yang menyerupai gergaji tersebut merupakan alat untuk pertahanan terhadap musuh atau ketika ia mulai terancam.

Terdapat lima jenis hiu gergaji di dunia, yaitu Dwarf sawfish, Knifetooth sawfish, Smalltooth sawfish, Largetooth sawfish, dan Green sawfish.

Berbagai aktivitas penangkapan hiu yang kurang terkontrol di Indonesia membuat spesies hiu terus menurun populasinya. Hiu gergaji termasuk hiu yang mengalami banyak ancaman dan penurunan populasi. Dilansir pada laman fishbase.org, faktor penyebab penurunan populasi hiu gergaji diantaranya penangkapan liar karena jaring insang (gill nets); pengambilan sirip, daging, kulit, dan tulang rawan, ditambah pengambil moncongnya untuk perdagangan satwa liar ilegal. Moncong hiu gergaji telah lama dimanfaatkan antara lain sebagai kerajinan oleh suku-suku di beberapa negara, koleksi, serta cenderamata atau suvenir.

hiu gergaji

 

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/hiu-gergaji-nyaris-punah-di-danau-sentani/feed/ 0
Kuskus, Marsupialia Langka dari Tanah Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/#respond Tue, 24 Oct 2017 07:43:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19088 Hewan yang bergerak lamban dan memiliki rupa yang lucu sangat mudah menjadi incaran para pemburu hewan, termasuk juga mengancam hewan kuskus.]]>

Hewan yang bergerak lamban dan memiliki rupa yang lucu sangat mudah menjadi incaran para pemburu hewan, contohnya saja seperti hewan kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Ancaman serupa juga terjadi pada hewan kuskus.

Kuskus adalah hewan endemik berkantung (tergolong marsupialia). Berdasarkan beberapa sumber, penyebaran kuskus tersebar hampir di seluruh Indonesia bagian timur. Hewan berkantung ini termasuk dalam famili Phalangeridae. Menurut para ahli, satwa ini digambarkan bertubuh agak besar dan kokoh, juga memiliki panjang seukuran ternak babi berumur dua bulan. Genus yang termasuk spesies kuskus yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, dan Strigocuscus. Pola pewarnaan bulu mereka pun dibedakan dalam dua genus, yaitu genus Spilocuscus dan Phalanger yang masing-masingnya terdiri dari 3 sampai 8 jenis.

Di Papua terdapat dua jenis kuskus, yaitu kuskus bertotol (Spilocuscus) dan kuskus tidak bertotol (Phalanger). Salah satu jenis kuskus yang merupakan satwa endemik papua adalah Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger. Sementara di kepulauan Sulawesi terdapat tiga jenis kuskus endemik yaitu Ailurops ursinus, Phalanger pelengensis dan Strigocuscus celebensis.

Kepulauan Maluku juga menjadi tempat tinggal bagi beberapa jenis kuskus endemik yaitu Phalanger ornatus, Phalanger rothschildi, Phalanger sp. dan Spilocuscus sp. Selain di Indonesia, kuskus juga dapat ditemukan di New Guinea dan sebagian daerah Australia.

Kuskus memiliki ekor yang panjang dan kuat yang dapat membantunya saat memanjat pohon. Matanya bulat, telinga kecil, memiliki bulu yang tebal mirip wol dengan warna yang beragam sesuai dengan genusnya masing-masing menjadi keunikan tersendiri dari satwa marsupialia ini. Pada betina terdapat kantung sebagai tempat menggendong anaknya.

marsupialia

Kuskus beruang Sulawesi (Ailurops ursinus). Foto: wikemedia commons

Habitat kuskus berada di areal hutan primer yang belum banyak terganggu dengan jenis pohon yang rimbun. Mereka biasa melakukan aktifitas di malam hari (nokturnal) dan beristirahat di siang hari pada pepohonan. Cara tidurnya pun sangat lucu, terkadang kuskus beristirahat dengan membungkuk dan memeluk batang pohon pada kondisi tajuk yang rimbun atau terbuka (dikutip dari portal biovasi09unipa.blogspot.co.id). Kuskus juga sering mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti sayuran, buah-buahan, jagung dan makanan lain yang banyak mengandung serat.

Populasi kuskus semakin menurun akibat ancaman deforestrasi dan banyak diburu. Melalui data IUCN, marsupialia langka dari Indonesia ini dikategorikan Endangered Species, dalam CITES digolongkan Appendiks II. Adapun faktor-faktor yang melatar-belakangi perburuan liar yang dilakukan oleh masyarakat setempat antara lain unsur kebudayaan, konsumsi, diperdagangkan secara ilegal, dipelihara, diambil kulit sebagai bahan tas dan dijadikan hiasan.

Kuskus di Indonesia sendiri telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) No. 226 /1931, UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan UU No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Perburuan kuskus yang dilakukan secara terus-menerus dipastikan akan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah populasi bahkan dapat mencapai angka kepunahan. Studi kasus di Desa Lumoli, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, berdasarkan informasi dari masyarakat lokal setempat menunjukkan bahwa kuskus masih diburu oleh masyarakat untuk dikonsumsi dagingnya serta diambil rambutnya (dikutip dari penelitian Usmany et al, Universitas Patimura pada jurnal Sain Veteriner, 2015).

Hutan merupakan surga bagi kehidupan kuskus, dimana hutan sebagai tempat berkembang biak, beristirahat dan mencari makanan. Sangatlah disayangkan kegiatan deforestasi tanpa henti memaksa mereka untuk merubah kondisi ekologi dan jam biologisnya. Aktifitas ini dikhawatirkan akan mengancam kelangsungan hidup mereka, bahkan kepunahan kuskus.

Deforestasi dan perburuan liar memiliki kaitan yang sangat erat, sudah sepatutnya hal ini tidak dipandang sebelah mata oleh segala pihak dan kalangan. Siapa lagi yang akan bercerita keunikan dari satwa khas Indonesia kepada anak-anak dan cucu kita di masa depan jika satwanya saja harus punah bukan karena dimakan oleh waktu namun karena kerakusan manusia.

marsupialia

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kuskus-marsupialia-langka-tanah-indonesia-timur/feed/ 0
71.820 Orangutan Masih Tersisa di Pulau Sumatera dan Kalimantan https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/#respond Thu, 24 Aug 2017 05:53:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18354 Saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. ]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan hasiI analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) Orangutan 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimatan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 meta populasi dan hanya 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100 sampai 500 tahun ke depan.

Ketua Tim Penyusun PHVA yang juga peneliti Forum Orangutan Indonesia (Forina), Suci Utami Atmoko menjelaskan sejak dikaji pada PHVA 2004 yang Ialu, kajian populasi dan distribusi orangutan Sumatera (Pongo abelii) semakin berkembang dan dilakukan lebih rinci. Dari yang semula diprediksi terdapat 6.667 individu dan tersebar di habitat seluas 703.100 hektar dengan batasan ketinggian di bawah 800 m dpl, maka saat ini populasinya diperkirakan terdapat 14.470 individu di habitat seluas 2.155.692 hektar.

BACA JUGA: Upaya Konservasi Orangutan Masih Terus Dilakukan

Saat ini orangutan Sumatera dapat ditemukan di habitat sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl serta tersebar di 10 meta populasi dan hanya dua populasi di antaranya yang diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun kedepan. Itupun adalah lokasi pelepasliaran di Jantho Aceh Tenggara dan Bukit Tigapuluh di Jambi.

“Namun demikian, fakta tersebut sama sekali tidak mengindikasikan terjadinya peningkatan populasi. Sebab, apabila dilihat dari kepadatan populasi, justru berkurang dari 0.95 individu/Km menjadi 0.67 individu/Km persegi,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (22/08).

orangutan

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Status konservasi orangutan berubah

Hasil analisis PHVA yang dilakukan oleh lintas organisasi seperti Forina, Orangutan Foundation-United Kingdom, International Union for Conservation of Nature (IUCN) SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group dan didukung oleh Iembaga-lembaga dan para praktisi-pemerhati konservasi orangutan ini juga memuat hasil penelitian PHVA Orangutan Kalimantan (Borneo).

Walaupun sama-sama mengalami perkembangan wilayah cakupan kajian yang lebih Iuas dan rinci, namun tidak demikian dalam hal estimasi populasi. Saat ini orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan terdapat 57.350 individu di habitat seluas 16.013.600 hektar yang tersebar di 42 kantong popuIasi. Sebanyak 18 di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun ke depan.

Kondisi tersebut memperbaharui fakta 10 tahun yang Ialu yang menyebutkan bahwa populasinya diprediksi terdapat 54.817 individu pada habitat seluas 8.195.000 hektar yang dilakukan di area kajian yang terbatas. Jika membandingkan kepadatan populasi, maka terjadi kecenderungan penurunan individu dari 0.45-0.76 individu/Km menjadi 0.13-0.47 individu/Km persegi.

BACA JUGA: Kebakaran Hutan Ubah Pola Perilaku Orangutan Tuanan

Selain itu, terdapat juga populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang menghubungkan habitatnya di wilayah Indonesia dan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus di meta populasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh dan Hutan Lindung Penrisen. Untuk itu, perlu adanya kerjasama konservasi orangutan dan habitatnya antara Indonesia dan Malaysia untuk melindungi populasi dan habitat yang saling terhubung.

“Walaupun populasi orangutan Kalimantan menurun namun penurunan ini tidak terjadi dengan sangat cepat yang bisa merubah status konservasi orangutan Kalimantan pada daftar merah IUCN. Setidaknya terdapat 43% dari meta populasinya yang memiliki tingkat viabilitas yang baik. Jika dibandingkan Orangutan Sumatera yang hanya 20%.

Sehingga penurunan status konservasi Orangutan Kalimantan yang dilakukan oleh ahli primata IUCN pada tahun 2016 yang menurnkan status Orangutan Kalimantan dari status spesies terancam punah (endangered) menjadi kritis (critical endangered) tidak sesuai dengan fakta saat ini,” ujar Steering Committee PHVA Jito Sugardjito.

Nantinya, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno berharap bahwa hasil dari PHVA Orangutan 2016 ini, dalam waktu dekat akan dijadikan acuan utama dalam pembuatan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2017-2027 menggantikan SRAK 2007-2017 yang akan berakhir Desember tahun ini. “Dengan data yang lebih baik dan lengkap ini diharapkan dalam perencanaan SRAK berikutnya akan dapat menghasilkan suatu strategi yang nyata, terukur dan dapat diimplementasikan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/71-820-orangutan-masih-tersisa-pulau-sumatera-dan-kalimantan/feed/ 0
Rafflesia Patma, Flora Unggulan di Kebun Raya Bogor https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-patma-flora-unggulan-kebun-raya-bogor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rafflesia-patma-flora-unggulan-kebun-raya-bogor https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-patma-flora-unggulan-kebun-raya-bogor/#respond Tue, 16 May 2017 09:30:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17022 Kebun Raya Bogor memiliki banyak koleksi bunga yang menarik untuk dilihat dan dipelajari, salah satunya bunga Rafflesia patma. Tanaman ini menjadi flora unggulan yang akan diperkenalkan pada momen dua abad Kebun Raya Bogor.]]>

Dalam menyambut peringatan dua abad Kebun Raya Bogor (KRB) yang akan berlangsung pada 18-21 Mei 2017 bersamaan dengan ulang tahun emas LIPI ke-50, KRB akan menyuguhkan beraneka ragam acara yang menarik. KRB juga akan memamerkan beberapa koleksi tanaman unggulan, salah satunya adalah Rafflesia (Greeners, 30 April 2017).

Seringkali masyarakat umum salah membedakan antara Rafflesia (Rafflesia spp.) dengan Bunga Bangkai ‘Amorphophallus titanum’, yaitu tanaman dengan jenis bunga majemuk yang memiliki bentuk fisik besar dan lidah/spandek menjulang ke atas.

KRB dalam hal ini menyimpan koleksi bunga yang tak kalah menarik untuk dilihat yaitu bunga Rafflesia patma. Tanaman ini menjadi flora unggulan yang akan diperkenalkan pada momen 200 tahun KRB.

Keunikan khas dari Rafflesia patma adalah sama-sama memiliki aroma yang tak sedap seperti Amorphophallus titanium. Fungsi dari baunya sebagai strategi untuk mengundang kumbang dan lalat, yang merupakan agen penyerbukan bunga Rafflesia.

Semua jenis rafflesia termasuk dalam kategori genting (endangered) karena penyebaran populasinya yang terbatas di satu wilayah yang sempit dan jumlahnya yang sedikit. Hampir semua anggota marga Rafflesiaceae merupakan tumbuhan langka yang hanya ditemukan di tempat yang sangat terbatas di Asia Tenggara. Sebagai tumbuhan holoparasit kehidupannya tergantung sepenuhnya pada inang dan habitat yang sangat spesifik.

Rafflesia patma merupakan bunga parasit berukuran raksasa yang memiliki kekerabatan dengan bunga Rafflesia arnoldii dari Bengkulu. Dari bentuknya, bunga ini memiliki keunikan yaitu mempunyai ukuran bunga yang berdiameter antara 25-30 cm dan terdapat duri-duri pada diktus. Kelopak bunga Rafflesia patma berwarna jingga muda (salem) dan cenderung lebih pucat, keunikan inilah yang menjadi pembeda dari jenis Rafflesia lainnya.

Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Mursidawati (2012) di Buletin Kebun Raya, bahwa bentuk buah Rafflesia patma secara umum seperti cawan terbalik dengan alur-alur vertikal yang dalam di sekeliling permukaannya. Buah Rafflesia patma berasal dari bunga betina yang berhasil diserbuki oleh serangga.

Pada biji Rafflesia patma seperti umumnya biji parasit yang lain (Mursidawati, 2012), biji rafflesia berukuran sangat kecil atau dikenal sebagai “microseed”. Biji-biji yang halus tersebut terkandung dalam buah dan menempel pada daging buahnya.

Dari segi cara hidup Rafflesia patma menumpang pada tumbuhan lain (inangnya) yaitu jenis Tetrastigma (Tetrastigma sp.) dari famili Vitaceae. Tetrastigma sendiri adalah sejenis tumbuhan merambat yang hidup di hutan tropis.

Tetrastigma yang adalah inang dari tumbuhan Rafflesia patma, dimana diambil dari habitat aslinya yang berada di Cagar Alam Pangandaran (Ciamis, Jawa Barat). Tumbuhan ini kemudian disambungkan dengan akar tetrastigma yang sebelumnya, dimana telah tumbuh dan ditanam di KRB. Metode ini pun dikenal dengan metode ‘Grafting’ (teknik penyambungan akar inang rafflesia). Keunggulan tanaman ini berhasil ditumbuhkan di luar habitatnya, yaitu di KRB sendiri yang menjadi kawasan konservasi ex-situ.

Tidak dipungkiri lagi apabila pihak KRB tepat memilih Rafflesia patma sebagai tanaman yang akan diunggulkan pada peringatan dua abad KRB. Adapun, varietas-varietas baru yang masuk dalam daftar Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan tumbuhan hasil hibriditasi seperti Begonia dan Aeschynantus, juga menjadi tanaman yang akan menyemarakkan momentum ini.

rafflesia patma

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rafflesia-patma-flora-unggulan-kebun-raya-bogor/feed/ 0
Perilaku Manusia Penyebab Utama Populasi Penyu Terancam https://www.greeners.co/berita/perilaku-manusia-penyebab-utama-populasi-penyu-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perilaku-manusia-penyebab-utama-populasi-penyu-terancam https://www.greeners.co/berita/perilaku-manusia-penyebab-utama-populasi-penyu-terancam/#respond Mon, 15 May 2017 02:30:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17012 Hasil penelitian dari survei sumberdaya penyu laut di Kabupaten Kaimana menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan jumlah penyu secara drastis.]]>

Jakarta (Greeners) – Sebagai spesies yang daur hidupnya sudah rentan secara alamiah, populasi penyu laut juga semakin terancam karena aktivitas manusia. Hasil penelitian dari survei sumberdaya penyu laut di Kabupaten Kaimana yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Sumberdaya Perairan Pasifik (P2SP2), Universitas Papua atas dukungan Conservation International (CI) Indonesia menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan jumlah penyu secara drastis.

Salah satu contoh, dikatakan oleh Ricardo Tapilatu, Ph.D, Dosen Biologi Kelautan dan Konservasi, Universitas Papua, adalah penurunan populasi penyu belimbing yang pada tahun 2008 ada sekitar 15.000 sarang per tahun, menurun jadi 2.000 sarang per tahun di tahun 2011. Bahkan di tahun lalu tercatat hanya ada 1.500 sarang per tahun.

Penurunan jumlah penyu ini terjadi karena beberapa faktor. Ancaman terbesar bagi penyu adalah perilaku manusia, selain predator seperti babi, biawak, elang, hiu dan kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi, seperti suhu pasir yang tinggi dan air pasang.

BACA JUGA: Lima Ancaman Besar untuk Enam Spesies Penyu di Indonesia

Penggunaan alat kerja nelayan yang dapat mengancam kelangsungan hidup penyu juga sangat mempengaruhi keterancaman populasi penyu seperti penggunaan kail pancing yang tertelan penyu dan tersangkut jaring nelayan. Fakta lain membuktikan bahwa sampah plastik banyak menyebabkan kematian pada penyu yang tidak sengaja mengonsumsi sampah plastik.

“Bahkan dari hasil penelitian kami menemukan bahwa kandungan logam berat pada telur penyu hijau dan penyu sisik dari Pulau Venu melebihi batas aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Terdapat paling tidak 8 kandungan zat berbahaya pada telur penyu tersebut antara lain: merkuri, kadmium, arsen, timah, seng, mangaan, besi dan tembaga,” jelas Ricardo, dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (14/05).

BACA JUGA: KLHK Tetapkan 25 Satwa Prioritas Dilindungi

Untuk daerah survei yang dilakukan di Kaimana sendiri, lanjutnya, berada Teluk Etna (Lakahia dan Ombanariki) dan Pulau Venu dengan menggunakan metode wawancara kepada tokoh masyarakat dan nelayan setempat. Survey tersebut diakukan pada bulan Maret 2016 sampai Oktober 2016 yang menyatakan bahwa terdapat 7 jenis penyu di dunia, 6 jenis penyu di antaranya berada di Indonesia dan 4 jenis penyu dapat ditemukan di Papua Barat, antara lain penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing yang pergerakannya menyebar ke Aru, Kei, Kaimana, dan Fakfak.

Victor Nikijuluw, Marine Program Director Conservation International Indonesia menambahkan bahwa keberadaan penyu berperan cukup penting bagi konservasi lingkungan laut. Sebagai contoh penyu hijau yang merupakan spesies kunci pemakan lamun sehingga kesuburan lamun meningkat. Sedangkan penyu sisik mengkonsumsi sponges dan ikut menjaga kesuburan sponges.

“Kedatangan penyu untuk melepaskan telurnya di pantai berpasir bisa merupakan indikator baik-buruknya lingkungan pantai itu. Hanya perairan dan pantai yang tidak tercemar serta tidak rusak ekosistemnya yang menjadi tujuan kedatangan penyu,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perilaku-manusia-penyebab-utama-populasi-penyu-terancam/feed/ 0
Dua Abad Kebun Raya Bogor Jadikan Rafflesia Patma Sebagai Koleksi Unggulan https://www.greeners.co/berita/dua-abad-kebun-raya-bogor-jadikan-rafflesia-patma-koleksi-unggulan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-abad-kebun-raya-bogor-jadikan-rafflesia-patma-koleksi-unggulan https://www.greeners.co/berita/dua-abad-kebun-raya-bogor-jadikan-rafflesia-patma-koleksi-unggulan/#respond Sun, 30 Apr 2017 10:55:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16903 Melalui teknik grafting yang dilakukan oleh para peneliti Kebun Raya Bogor membuat Kebun Raya Bogor sebagai instansi pertama di dunia yang berhasil memindahkan bunga rafflesia di luar habitat aslinya.]]>

Jakarta (Greeners) – Kebun Raya Bogor akan memamerkan beberapa koleksi unggulannya pada perayaan Dua Abad Kebun Raya Bogor Mei mendatang. Kepala Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor, Didik Widyatmoko mengatakan bahwa Rafflesia patma dan varietas-varietas baru yang masuk dalam daftar Perlindungan Varietas Tanaman serta tumbuhan hasil hibriditasi seperti Begonia dan Aeschynantus adalah contohnya.

“Varietas-varietas tersebut merupakan unggulan yang menjadi primadona di Kebun Raya Bogor,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (29/04).

Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor–LIPI Sri Rahayu menjelaskan bahwa Rafflesia patma sangat diunggulkan karena kelangkaan dan sifatnya yang parasit. Melalui teknik grafting yang dilakukan oleh para peneliti Kebun Raya Bogor membuat Kebun Raya Bogor sebagai instansi pertama di dunia yang berhasil memindahkan bunga rafflesia di luar habitat aslinya.

BACA JUGA: Kebun Raya Akan Ekspos Hasil Penelitian Selama 200 Tahun

Grafting adalah teknik penyambungan akar inang rafflesia yaitu Tetrastigma (Tetrastigma sp.) dari famili Vitaceae. Tetrastigma sendiri adalah sejenis tumbuhan merambat yang hidup di hutan tropis. Tetrastigma sebagai inang tumbuhan Rafflesia patma yang berada di Kebun Raya Bogor, merupakan tetrastigma yang terambil dari habitat asli bunga padma di Cagar Alam Pangandaran (Ciamis, Jawa Barat). Tumbuhan ini kemudian disambungkan dengan akar tetrastigma yang sebelumnya telah tumbuh ditanam di Kebun Raya Bogor.

“Karena habitat hidupnya yang sempit, rafflesia merupakan jenis tanaman langka yang terancam punah. Perubahan tipe ekologi hutan tropis menjadi peruntukan lain ikut mengancam kelestarian tumbuhan ini. Kenapa jadi unggulan juga karena dia tumbuhan parasit maka spektakuler kalau berhasil ditumbuhkan di luar habitatnya,” jelas Sri.

Rafflesia sendiri merupakan tumbuhan endemik khas di hutan-hutan Asia Tenggara yang memiliki habitat yang bersifat lokalitas. Di Indonesia dikenal 17 spesies rafflesia. Dari yang paling besar dan terkenal seperti Rafflesia arnoldii yang berada di Bengkulu hingga Rafflesia rochusenii yang berukuran kecil yang hanya dijumpai di lereng Gunung Salak dan Gunung Gede di wilayah Bogor dan Sukabumi.

Selama berbunga, rafflesia mengeluarkan bau yang tidak sedap seperti bangkai. Bau yang tidak sedap ini sengaja dikeluarkan oleh bunga rafflesia sebagai strategi untuk mengundang lalat, yang merupakan agen penyerbukan bunga rafflesia.

BACA JUGA: LIPI: Kebun Raya Bisa Menangkal Praktik Biopiracy

Sedangkan Begonia dan Aeschynantus (bunga lipstik), lanjutnya, adalah varietas baru atau varietas-varietas temuan yang dirakit oleh peneliti di Kebun Raya Bogor, dengan melakukan hibriditasi yang menghasilkan varietas baru dan berada di Kebun Raya Bogor.

“Varietas baru ini juga yang akhirnya jadi istimewa dan itu bukan hanya Begonia dan bunga lipstik saja. Ada juga yang lain, contohnya bunga hoya,” tambahnya.

Sedangkan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) adalah semacam hak paten atau hak eksklusif bagi peneliti atau pemulia tanaman untuk temuan barunya yang telah terdaftar sejak tahun 2000 melalui UU Nomor 29 tentang Perlindungan Varietas Tanaman. Dengan adanya hak PVT, maka pemulia tanaman bisa melindungi secara eksklusif varietas tanaman barunya.

Sebagai informasi, delapan varietas baru dari LIPI yang baru terdaftar oleh PVT yaitu bunga lipstik (Aeschynanthus Soedjana Kassan), bunga hoya (Hoya Kusnoto), bunga lipstik (Aeschynanthus Mahligai), bunga begonia (Begonia Tuti Siregar), dan Begonia Lovely Jo. Sri Rahayu sendiri adalah penemu PVT bunga hoya dan dan bunga lipstik. Sedangkan penemu begonia adalah Ibu Hartutiningsih bersama tim Wisnu Handoyo Ardi dan I Made Ardaka.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-abad-kebun-raya-bogor-jadikan-rafflesia-patma-koleksi-unggulan/feed/ 0
Ikan Coelacanth, Penguasa Lautan Sejak Zaman Purba Kala https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-coelacanth-penguasa-lautan-sejak-zaman-purba-kala/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-coelacanth-penguasa-lautan-sejak-zaman-purba-kala https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-coelacanth-penguasa-lautan-sejak-zaman-purba-kala/#respond Tue, 25 Apr 2017 08:32:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16833 Ternyata, ikan yang hidup pada zaman purba, yaitu ikan coelacanth, diduga masih hidup hingga sekarang dan uniknya lagi spesies mereka hidup di wilayah perairan Indonesia.]]>

Bumi kita telah melewati berbagai proses pembentukan dari masa ke masa. Dari kurang lebih 13 zaman pembentukan bumi, zaman Devonian merupakan zaman yang mengacu pada evolusi oleh beberapa kelompok ikan. Zaman ini muncul pada 400 juta tahun silam, sehingga dikenal juga dengan sebutan ‘zaman Ikan’.

Ternyata, ikan yang hidup pada zaman purba tersebut diduga masih hidup hingga sekarang dan uniknya lagi spesies mereka hidup di wilayah perairan Indonesia. Bukti penampakannya adalah dengan ditemukan spesimen ikan purba ini di perairan Sulawesi Utara, pada 5 November 2014.

Coelacanth atau dikenal dengan istilah ikan raja laut diasumsikan berkerabat lebih dekat ke hewan berkaki empat (tetrapoda) dan ke ikan paru (lungfish) dari pada ke jenis-jenis ikan biasa yang kita lihat. Ikan-ikan yang biasa kita lihat atau grup Teleostei bernenek moyang ikan yang disebut Paleoniscoids yang melimpah di zaman Carbon sampai permulaan Triasic (lebih kurang 100 juta tahun lalu). Kehidupan ikan ini telah lama ada di bumi, bahkan mereka sudah hidup sebelum zaman Jura (periode munculnya dinosaurus di muka bumi).

Hanya terdapat dua spesies coelacanth di dunia, selebihnya telah punah dan menjadi fosil. Kepunahan tersebut diperkirakan pada akhir masa Kretaseus sekitar 65-70 juta tahun lalu. Oleh karena itu, ikan coelacanth hidup sering juga disebut dengan ikan fosil.

Jenis coelacanth yang masih hidup ditemukan di wilayah perairan timur Indonesia yaitu jenis Latimeria menadoensis, dan yang ditemukan di laut dalam sebelah timur Afrika yaitu jenis Latimeria chalumnae. Perbedaannya terdapat pada warna kulit Latimeria menadoensis yang berwarna coklat sedangkan Latimeria chalumnae berwarna biru baja.

Menurut peneliti ahli kelautan Jepang Yoshitaha Abe, penemuan coelacanth yang berada di timur Indonesia dan timur Afrika, diduga kedua spesies ikan purba tersebut terpisah akibat adanya pergeseran lempeng benua. Pergeseran kontinen selesai sekitar 60 juta tahun lalu. Pergerakan kontinen ke utara turut membantu terbentuknya Nusantara dan jarak dengan Afrika semakin jauh.

Adapun ciri-ciri fisik coelacanth antara lain ekor ikan purba ini berbentuk seperti kipas dengan mata yang besar dan sisik yang terlihat tidak sempurna (seperti batu). Tulang belakangnya terdiri dari tulang-tulang kartilago.

Berdasarkan beberapa sumber yang didapat, habitat ikan ini berada pada kedalaman 700 meter di bawah permukaan laut dengan suhu maksimal 18°C, terkadang mereka bisa berada pada kedalaman laut 200 meter. Panjang tubuh coelacanth dapat mencapai 6 kaki atau sekitar 2 meter dengan bobot tubuh berkisar 95 kg atau lebih.

Coelacanth dapat mengkamuflasekan dirinya dengan karang-karang gua laut. Bentuk tubuhnya pun belum berubah sejak zaman Devonian.

Sayangnya coelacanth pernah ditemukan berada dalam kondisi terancam dan mengkhawatirkan. Portal Tribunnews.com pernah memberitakan, pada tahun 2012 ikan coelacanth ditemukan mati dengan menelan banyak sampah di perairan Manado. Kegiatan dan aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan sangatlah merugikan lingkungan sekitar perairan.

Ikan ini adalah spesies langka yang dilindungi. Coelacanth (Latimeria menadoensis) masuk kedalam IUCN Red List dengan status Terancam Punah. Semua hewan yang masuk dalam daftar merah itu tidak boleh ditangkap apalagi diperjualbelikan. Di Indonesia, coelacanth termasuk ikan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999.

Apabila anda penasaran dengan wujud asli ikan ini, silahkan berkunjung ke Laboratorium Herpetologi, Gedung Widya Satwaloka, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Bogor.

coelacanth

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-coelacanth-penguasa-lautan-sejak-zaman-purba-kala/feed/ 0
5 Spesies Lebah Asli Amerika Utara Terancam Punah https://www.greeners.co/berita/5-spesies-lebah-asli-amerika-utara-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-spesies-lebah-asli-amerika-utara-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/5-spesies-lebah-asli-amerika-utara-terancam-punah/#respond Sat, 08 Apr 2017 02:30:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16642 Lebah berperan penting bagi keberlanjutan hidup manusia. Melalui penyerbukan, serangga membantu menyediakan sepertiga pangan di dunia.]]>

Lebah berperan penting bagi keberlanjutan hidup manusia. Melalui penyerbukan, serangga membantu menyediakan sepertiga pangan di dunia. Namun, populasi lebah di dunia kian menurun. Bahkan, status serangga penyerbuk di Amerika Utara dan Hawaii dilaporkan dalam bahaya. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa dari total 1.437 spesies lebah asli di Amerika Utara, lebih dari 700 spesies menurun, dan hampir satu dari empat spesies terancam punah.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Center for Biological Diversity (Pusat Keanekaragaman Hayati) di Oregon, Amerika serikat, yang berjudul “Pollinators in Peril: A systematic status review of North American and Hawaiian bees” menguraikan pentingnya keberadaan dari spesies lebah asli Amerika Utara dan Hawaii dari segi ekologi dan ekonomi. Sebagai penyerbuk tanaman buah, lebah asli bernilai lebih dari 3 miliar dolar. Lebih dari itu, hewan penyerbuk dari keluarga Apidae ini menjaga keseimbangan ekosistem.

BACA JUGA: Lebah Bisa Tingkatkan Produksi Pangan

Laporan ini mencakup studi tentang lima spesies lebah yang terancam punah di Amerika, yaitu lebah kayu (Xylocopa violacea), lebah pemotong daun bunga matahari (Megachile fortis), lebah liar penyerbuk tanaman ubi (Cemolobus ipomoeae), lebah penyendiri pantai Coast (Hesperapis oraria) dan lebah gila (Epeoloides pilosula). Secara kasat mata, tidak semua orang dapat memahami perbedaan di antara kelima spesies lebah tersebut. Namun, serangga-serangga penyerbuk tersebut bervariasi mulai dari kebiasaan unik hingga kontribusinya masing-masing terhadap ekosistem.

Kelsey juga menjelaskan bahwa bukti yang ditemukan dengan kuat menunjukkan bahwa ratusan lebah asli bergantung pada stabilitas ekosistem.

“Kita sedang berada di ambang kehilangan ratusan spesies lebah asli Amerika Serikat. Lebih dari 90% tanaman liar bergantung pada penyerbukan serangga ini. Jika kita tidak bertindak untuk menyelamatkan mereka, dunia kita akan menjadi tempat yang suram dan sepi,” ujar seorang peneliti penyerbuk di Oregon, Kelsey Kopec di laman resmi Center for Biological Diversity.

BACA JUGA: Mutiara Kini Bisa Digunakan untuk Memprediksi Perubahan Iklim

Menurutnya, krisis yang sudah di depan mata ini merupakan jawaban atas kecerobohan kita sebagai manusia yang telah menggunakan pestisida dan banyaknya lahan pertanian monokultur. Oleh karena itu, kehilangan habitat lebah akibat aktivitas pertanian, penggunaan pestisida yang berlebihan, perubahan iklim dan urbanisasi merupakan penyebab utama menurunnya jumlah lebah asli di Amerika Utara dan Hawaii.

Selain lebah, serangga lain yang juga turut membantu penyerbukan tanaman dan tumbuhan seperti kupu-kupu, lalat, ngengat, tawon, kumbang, burung, kelelawar dan binatang lainnya yang berkontribusi terhadap penyerbukan.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/berita/5-spesies-lebah-asli-amerika-utara-terancam-punah/feed/ 0
Harta Karun yang Tersisa di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/#respond Sat, 09 May 2015 09:45:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8922 Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA […]]]>

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 Ha sedangkan Hutan Lindung Angke Kapuk mempunyai luas 44,76 Ha. Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kedua kawasan ini memiliki banyak keragaman hayati yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki kedua kawasan ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat favorit bagi berbagai jenis burung. Sekitar 117 jenis burung terdapat dikawasan tersebut, dan diantaranya ada dua yang dilindungi secara internasional, yaitu Bubut jawa (Centropus nigrorufus) dan Jalak putih (Sturnus melanopterus). Kedua burung tersebut saat ini berstatus terancam punah dan sangat terancam punah.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus) berukuran 46 cm, berwarna gelap. Kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya juga berwarna hitam mengkilat, sedangkan sayapnya merah karat dan iris matanya berwarna merah. Makanan burung ini adalah serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon, semua disantapnya.

Bubut jawa dapat dijumpai di daerah rawa-rawa di pinggir pantai, semak-semak paku laut, padang ilalang sekitar mangrove, semak dan padang rumput dekat aliran sungai. Burung ini merupakan jenis endemik Pulau Jawa atau hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Di Jakarta, bubut jawa hanya dapat ditemukan di kawasan SMMA dan Hutan Lindung Angke Kapuk. Makin sempitnya tempat hidup bubut jawa, dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup burung ini. Habitat burung ini yang berada di kawasan pesisir mempunyai nilai ekonomi yang tinggi apabila diubah menjadi kawasan pemukiman, tambak, kawasan perindustrian atau pelabuhan.

Sementara itu, jalak putih (Sturnus melanopterus) berukuran sekitar 20-25 cm. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon. Populasi burung jalak putih sekarang ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya tindakan untuk melestarikan keberadaan jalak putih.

Jalak putih merupakan burung yang sangat terancam punah. Di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta populasi burung ini hanya diperkirakan berjumlah 4-6 individu. Status burung ini menurut IUCN adalah Critical Endangered atau sangat terancam punah. Burung jalak putih termasuk burung langka yang di lindungi oleh pemerintah Indonesia. Semoga kedua harta karun di pesisir Jakarta ini dapat terus terjaga kelestariannya.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/feed/ 0
Penyu Hijau di Tanimbar Terancam Punah https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/#respond Mon, 07 Jul 2014 10:00:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5107 Jakarta (Greeners) – Di tengah upaya pemerintah melakukan kampanye dan perlindungan penyu, faktanya pada beberapa wilayah perairan Indonesia, aktivitas dan ekspolitasi terhadap spesies ini masih marak dilakukan. Salah satunya di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Di tengah upaya pemerintah melakukan kampanye dan perlindungan penyu, faktanya pada beberapa wilayah perairan Indonesia, aktivitas dan ekspolitasi terhadap spesies ini masih marak dilakukan.

Salah satunya di wilayah perairan Maluku, tepatnya di Kepulauan Tanimbar (KT), Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Masyarakat di Kepulauan Tanimbar secara terang-terangan memanfaatkan penyu hijau menjadi bahan konsumsi.

Penyu hijau yang bernama latin Chelonia mydas ini umumnya digunakan dalam acara-acara adat, mulai dari acara pernikahan, syukuran, hingga upacara kematian. Penyu hijau masih sering dijadikan salah satu menu hidangan.

Tidak hanya itu, di beberapa pulau kecil telur-telur penyu hijau juga terkadang menjadi santapan masyarakat setempat sehingga generasi penyu hijau baru berkurang. Padahal sebenarnya, ketersediaan jenis pangan lainnya seperti ikan dan udang di Kepulaaun Tanimbar masih terbilang tinggi, sehingga mereka tidak seharusnya mengekspolitasi penyu hijau sebagai bahan konsumsi.

Selain itu juga, ada segelintir masyarakat yang menangkap penyu hijau untuk dijual karapas atau tempurungnya secara diam-diam kepada orang Tiongkok, Taiwan, Singapura, serta Hongkong. Tempurung penyu tersebut dijual dengan harga yang tinggi dan tidak dalam jumlah yang pasti. Diperkirakan sekitar 400-500 ekor penyu per tahun menjadi korban akibat eksploitasi oleh masyarakat setempat.

Maluku dikenal memiliki budaya dengan kearifan lokal yang tinggi terhadap lingkungan, yaitu budaya ‘sasi‘. Menurut kepercayaan masyarakat Maluku, sasi memberlakukan sanksi langsung dari Tuhan terhadap siapapun agar tidak mengeksploitasi suatu jenis sumber daya alam secara lokal sehingga jumlahnya bisa dipertahankan bahkan surplus.

Sayangnya, sasi tidak pernah diberlakukan untuk penangkapan penyu hijau. Di samping itu, nampaknya program konservasi yang dijalankan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Maluku Tenggara Barat juga belum bisa menjangkau upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan terhadap fauna langka seperti penyu hijau serta pentingnya peran penyu hijau dalam ekosistem.

Pada tahun 1987, melalui sidang internasional di Kanada, IUCN (International Union for Conservation of Nature) melaporkan bahwa penangkapan penyu di Indonesia mencapai 30.000 ekor per tahun dan Pemerintah Indonesia merespon dengan diberlakukannya undang-undang pelarangan pemanfaatan penyu secara nasional melalui UU nomor 5 tahun 1990. Namun, sosialisasi dan penerapan peraturan ini belum maksimal sehingga masih banyak warga yang hidup di pulau-pulau terluar Indonesia memburu satwa yang dilindungi ini.

(G34)

]]>
https://www.greeners.co/berita/penyu-hijau-di-tanimbar-terancam-punah/feed/ 0
Sup Sirip Hiu Dorong Hiu Kepala Martil Menuju Kepunahan https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/#respond Mon, 07 Jul 2014 06:23:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5104 (Greeners) – Badan Kelautan dan Perikanan Nasional Amerika atau National Marine Fisheries Service menyatakan hiu kepala martil (Sphyrna lewini) dan empat populasi hiu diklasifikasikan sebagai terancam punah. Hal ini dikarenakan […]]]>

(Greeners) – Badan Kelautan dan Perikanan Nasional Amerika atau National Marine Fisheries Service menyatakan hiu kepala martil (Sphyrna lewini) dan empat populasi hiu diklasifikasikan sebagai terancam punah. Hal ini dikarenakan semakin tingginya permintaan sup sirip ikan hiu. Klasifikasi ini dikeluarkan secara resmi sejak awal bulan Juli 2014.

Seperti dilansir dari laman Huffingtonpost.com, badan tersebut menyatakan populasi hiu kepala martil yang berada di bagian timur Samudera Atlantik dan Pasifik terancam punah. Begitu juga yang ada di pusat dan barat daya Atlantik dan Indo-Pasifik Barat. Ini artinya, hiu tersebut menghadapi resiko kepunahan di masa depan.

Sedangkan populasi yang ada di Pasifik tengah, termasuk hiu kepala martil yang hidup di perairan Hawaii, dianggap cukup memadai dan tidak masuk ke dalam daftar tersebut.

Tingginya permintaan sirip hiu untuk dijadikan sup membuat spesies ini menghadapi penangkapan berlebihan (overfishing). Foto Ilustrasi: hammerheadblog.files.wordpress.com

Tingginya permintaan sirip hiu untuk dijadikan sup membuat spesies ini ditangkap secara berlebihan (overfishing). Foto Ilustrasi: hammerheadblog.files.wordpress.com

Klasifikasi tersebut merupakan respon dari petisi yang diajukan oleh kelompok pecinta lingkungan WildEarth Guardians dan Friends of Animals. “Pencatatan hiu kepala martil merupakan indikasi penting bahwa eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap spesies laut telah memakan korban,” ujar Michael Harris, Direktur Bidang Hukum Satwa Liar dari Friends of Animals.

Klasifikasi ini akan berlaku mulai bulan September. Begitu masuk dalam daftar, agen federal akan memastikan tindakan mereka tidak membahayakan spesies atau merusak habitat spesies yang sudah kritis.

Hiu kepala amartil akan menerima perlindungan internasional di bulan yang sama dari Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Tumbuhan dan Satwa Liar atau CITES. Di bawah pengaturan CITES yang baru, perdagangan hiu kepala martil akan diizinkan hanya bila negara pengekspor mengeluarkan izin setelah hiu tersebut dinyatakan diperoleh secara sah dan menjual hiu tidak akan membahayakan kelangsungan hidup spesies tersebut atau perannya dalam ekosistem.

Hiu kepala martil masuk dalam Apendix II dalam CITES sejak Oktober 2012 sebagai hewan terancam punah (endangered). Namun status yang sama sudah lebih dulu dikeluarkan oleh IUCN Red List pada tahun 2007.

Carl Meyer, peneliti dari Hawaii Institute for Marine Biology, mengatakan permintaan akan sirip hiu mendorong penangkapan hiu secara berlebihan (overfishing). Tingginya jumlah serat dalam sirip hiu kepala martil membuat hiu tersebut sangat diinginkan untuk dijadikan sup sirip ikan hiu. “Nelayan tidak hanya menangkap hiu dewasa, tetapi juga anak hiu,” ungkap Carl.

Tubuh hiu kepala martil betina dapat mencapai panjang hingga empat meter. Spesies ini memiliki bentuk kepala pipih memanjang seperti martil. Makanannya antara lain, ikan pari, cumi-cumi, dan hiu lainnya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/sup-sirip-hiu-dorong-hiu-kepala-martil-terancam-punah/feed/ 0
Armadillo, Maskot Piala Dunia 2014 yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/#respond Tue, 01 Jul 2014 00:30:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=5041 Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala […]]]>

Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala Dunia itu sendiri. Hal ini dikatakan para ilmuwan seperti dikutip dari laman Hufingtonpost.com.

Armadillo Tiga Ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) mempertahankan diri dengan cara menggulung dirinya seperti sebuah bola. Bentuk ini terlihat menarik sebagai simbol dari Piala Dunia.

Namun, dijadikannya armadillo sebagai maskot tidak mampu melawan para pemburu yang dapat mengambil hewan ini tanpa susah payah. Dan, ada ketakutan bahwa publikasi Piala Dunia akan menggiring orang untuk mengadopsi hewan lucu ini sebagai peliharaan. Hal ini membuat jumlah armadillo yang sudah sedikit semakin menyusut.

Biodiversity_Armadillo_Three_Banded_Greeners

Saat merasa terancam, armadillo tiga ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) akan ‘melipat’ tubuhnya serupa bola.

Menurut situs untuk spesies yang terancam punah, Red List, spesies ini diyakini semakin menurun lebih dari sepertiganya selama 10 hingga 15 tahun terakhir karena hilangnya 50 persen habitat lahan semak kering “Caatinga“.

Berdasarkan data 2014 menurut versi International Union for Conservation of Nature (IUCN), armadillo merupakan hewan asli asal daerah timur Brasil yang “rentan” (vulnerable) menuju kepunahan, kondisi ini sama dengan penilaian yang dilakukan tahun 2009.

Namun seorang pakar terkemuka mengatakan bukti baru dari Brasil menunjukan bahwa ancaman terhadap hewan yang dapat tumbuh hingga 50 sentimeter ini, semakin meningkat dan ini akan menempatkan hewan tersebut ke kategori ancaman yang lebih tinggi, yaitu “terancam punah” (endangered) pada bulan-bulan mendatang.

“Situasinya bahkan lebih buruk dari yang kita pikirkan,” ujar Mariella Superina, Ketua kelompok spesialis anteater, sloth dan armadillo IUCN, kepada Reuters. “Armadillo tiga ruas sangat mudah untuk ditangkap.”

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

‘Fuleco’, nama maskot FIFA, adalah kombinasi dari kata “Futebol” (football yang berarti sepak bola) dan “Ecologia” (ecology). Mariella mendesak FIFA untuk mendanai usaha untuk melindungi hewan tersebut, termasuk yang mungkin akan mengacaukan publikasi Piala Dunia.

“Orang-orang mungkin melihatnya sebagai makhluk yang lucu karena spesies ini bisa menggulung tubuhnya menjadi seperti bola. Kami khawatir orang-orang akan menginginkan hewan ini sebagai peliharaan. Hewan ini sama sekali bukan hewan peliharaan,” katanya tegas.

Dari 20 jenis armadillo, hanya satu yang habitatnya di luar Amerika Latin. Armadillo bangkit kembali dari jurang kepunahan setelah sebelumnya diyakini punah sampai ditemukan kembali pada awal tahun 1990-an.

Caroline Pollock, Program Officer dari Red List, mengatakan bahwa pembukaan lahan untuk tebu dan kedelai telah memangkas habitat armadillo dalam beberapa waktu belakangan.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/feed/ 0