Styrofoam - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/styrofoam/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 03 Feb 2024 07:06:47 +0000 id hourly 1 Recou, Kemasan dari Sekam Gandum Pengganti Styrofoam https://www.greeners.co/ide-inovasi/recou-kemasan-dari-sekam-gandum-pengganti-styrofoam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=recou-kemasan-dari-sekam-gandum-pengganti-styrofoam https://www.greeners.co/ide-inovasi/recou-kemasan-dari-sekam-gandum-pengganti-styrofoam/#respond Sat, 03 Feb 2024 07:04:37 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=42963 Styrofoam masih masyarakat gunakan untuk mengemas barang yang sulit terurai dan berisiko mencemari lingkungan. Sebagai alternatifnya, perusahaan Jerman bernama Proservation menciptakan kemasan yang lebih ramah lingkungan dari sekam gandum. Produk […]]]>

Styrofoam masih masyarakat gunakan untuk mengemas barang yang sulit terurai dan berisiko mencemari lingkungan. Sebagai alternatifnya, perusahaan Jerman bernama Proservation menciptakan kemasan yang lebih ramah lingkungan dari sekam gandum.

Produk Recou yang Proservation buat telah hadir sebagai pengganti styrofoam dan bubble wrap, untuk pengemasan barang yang lebih ramah lingkungan. Bahan kemasan yang mereka buat dari sekam biji-bijian.

Untuk jenis biji-bijian tertentu, sekam mereka pisahkan dari biji-bijian pada tahap pemrosesan pertama. Kemudian, sekam itu mereka akumulasikan dalam jumlah besar di penggilingan.

BACA JUGA: CornWall, Ubin Ramah Lingkungan dari Limbah Tongkol Jagung

Sebelumnya, seluruh biji-bijian tersebut ketika dipanen akan menjadi sekam. Lalu, biasanya sekam akan dibuang atau dibakar begitu saja. Bahkan, sekam juga kerap menjadi alas tidur hewan.

Melihat permasalahan tersebut, Proservation memiliki solusi alternatif yang inovatif untuk mengolah sekam ini menjadi bahan lembut dan tahan benturan yang berfungsi sebagai styrofoam. Produk itu sekaligus dapat terurai secara hayati.

Yanko Design melansir bahwa bahan sekam gandum akan mereka kumpulkan dan ikat menggunakan bahan pengikat berbasis bio yang sudah mereka patenkan. Produk secara keseluruhan memiliki sifat yang sama dengan styrofoam, namun Recou mudah dikompos.

Recou Pengganti Styrofoam 

Sementara itu, Proservation pun berharap agar Recou dapat menggantikan sebagian besar styrofoam dalam ekosistem pengemasan saat ini. Sebab, bahan yang mereka buat tersebut memiliki kemampuan untuk dibentuk seperti styrofoam, meskipun dengan beberapa keterbatasan karena stok sekamnya yang masih minim.

Proservation membutuhkan waktu antara 6-8 jam, untuk membuat setiap bagian kemasan dari sekam gandum ini. Recou juga tahan terhadap kelembapan agar barang terhindar dari jamur.

BACA JUGA: Pengusaha Ifedolapo Runsewe Ubah Ban Bekas Jadi Paving Block

Proservation melansir bahwa produksi Recou cukup sederhana dan berenergi rendah. Berkat pengikat ekologis yang mereka kembangkan secara khusus, Recou dapat dibentuk sesuai keinginan. Sebab, sifat material yang sebanding, Recou berpotensi menggantikan larutan kemasan petrokimia menjadi alternatif ramah lingkungan.

Di samping itu, dengan tampilan material yang menarik dan mengandung nuansa keberlanjutan, para konsumen pun akan mengetahui pembuangan yang benar. Mereka akan mengomposnya atau memasukkan ke dalam kategori organik. Sebab, bahannya mengingatkan pada biji-bijian, jerami, dan pertanian.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/recou-kemasan-dari-sekam-gandum-pengganti-styrofoam/feed/ 0
Aktivis NTB Kampanyekan Labuan Haji Bebas Sampah Plastik https://www.greeners.co/aksi/aktivis-ntb-kampanyekan-labuan-haji-bebas-sampah-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aktivis-ntb-kampanyekan-labuan-haji-bebas-sampah-plastik https://www.greeners.co/aksi/aktivis-ntb-kampanyekan-labuan-haji-bebas-sampah-plastik/#respond Wed, 04 Jan 2023 04:00:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=38488 Jakarta (Greeners) – Gerakan Masyarakat Cinta Alam Nusa Tenggara Barat (Gema Alam NTB), Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (OASISTALA), Tim Ekspedisi Nusantara (ESN) dan beberapa pemuda lainnya menyerukan protes bebas sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gerakan Masyarakat Cinta Alam Nusa Tenggara Barat (Gema Alam NTB), Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (OASISTALA), Tim Ekspedisi Nusantara (ESN) dan beberapa pemuda lainnya menyerukan protes bebas sampah plastik di muara Sungai Belimbing, Labuan Haji, Nusa Tenggara Barat. Aksi ini mereka lakukan secara bersama-sama pada hari Minggu (1/1/2023) dalam rangka mewujudkan Pantai Labuan Haji dari tumpukan sampah plastik.

Menumpuknya sampah plastik di Pantai Labuan Haji memang bukan persoalan baru. Karena itu melalui aksi ini, Ketua Gema Alam NTB Haiziah Gazali mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memilah sampah.

“Kami ingin mengajak segenap komponen masyarakat di Kabupaten Lombok Timur khususnya Kota Selong bijak atas sampah yang masing-masing kita hasilkan,” kata Haiziah dalam keterangannya, baru-baru ini.

Lebih lanjut ia mengingatkan, penanganan sampah plastik memerlukan pengelolaan dan pemanfaatan sampah dari hulu ke hilir. Tujuannya agar tidak membebani lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Karena itu, pada aksi ini mereka tegas menolak penggunaan tas kresek, sedotan dan kemasan sachet.

Beberapa poster dan spanduk bertuliskan “Sungai Bukan Tempat Sampah”, “Sungai Belimbing Tercemar Mikroplastik” dan “2023 Sungai Belimbing Bebas Mikroplastik” juga mereka gelar sebagai pelengkap orasi.

Selain itu, para aktivis juga membuat daftar nama 10 produsen yang sampahnya banyak mencemari lingkungan dan sulit untuk didaur ulang. Seperti kemasan produk Wings, Indofood, Unilever yang banyak mereka temukan mencemari lingkungan sepanjang Sungai Belimbing dan Pantai Labuan Haji.

Foto: Gema Alam NTB

Tuntutan Pengurangan Sampah Plastik

Sebagai poin penting pada aksi ini, Gema Alam NTB, OASISTALA, dan ESN juga menyampaikan beberapa tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Seperti pengelolaan sampah terutama dalam aspek pengurangan sampah plastik ke perairan hingga 30 % pada tahun 2025, berdasarkan implementasi UU No 18 Tahun 2008.

Para aktivis juga meminta Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk menyediakan sarana infrastruktur sampah pada tiap kelurahan/desa. Membuat regulasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai yakni tas kresek, sedotan, botol plastik, styrofoam, hingga pembungkus makanan plastik sekali pakai.

Lalu mendesak dan tegas kepada para pelaku usaha untuk bertanggung jawab membersihkan sampah produk mereka yang mengotori perairan. Serta memberikan edukasi dan fasilitas bagi masyarakat secara tepat, mengenai dampak plastik sekali pakai bagi kesehatan manusia.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/aktivis-ntb-kampanyekan-labuan-haji-bebas-sampah-plastik/feed/ 0
Yuk, Beralih ke Kemasan Makanan Ramah Lingkungan! https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-beralih-ke-kemasan-makanan-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yuk-beralih-ke-kemasan-makanan-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-beralih-ke-kemasan-makanan-ramah-lingkungan/#respond Fri, 07 Oct 2022 03:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=37550 Kemasan makanan dari plastik dewasa ini telah menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari. Dari banyaknya sampah plastik di seluruh dunia, sekitar 60 % jumlah plastik digunakan untuk kemasan makanan. Hal ini […]]]>

Kemasan makanan dari plastik dewasa ini telah menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari. Dari banyaknya sampah plastik di seluruh dunia, sekitar 60 % jumlah plastik digunakan untuk kemasan makanan. Hal ini terbukti dari keberadaan kemasan plastik yang mulai menggantikan kemasan kaleng dan gelas. Meski memiliki beberapa keunggulan, plastik nyatanya juga banyak menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.

Produk plastik berbasis minyak bumi ini tidak dapat terurai secara hayati atau terurai menjadi zat alami ke tanah. Sebaliknya, mereka akan terurai menjadi mikroplastik yang akan mengancam ekosistem alam.

Selain itu, terdapat beberapa wadah plastik yang tidak boleh kamu gunakan untuk menyimpan makanan karena banyak mengandung bahan kimia yang berbahaya. Bahan kimia tersebut akan meningkatkan risiko gangguan endokrin dan kanker pada manusia. Berikut plastik berbahan dasar minyak bumi yang harus Sobat Greeners hindari untuk membungkus makanan!

  • Plastik dengan Kandungan BPA
    Bisphenol-A (BPA) adalah aditif plasticizer yang digunakan untuk membuat Polyvinyl chloride (PVC), bahan yang paling banyak digunakan dalam produk plastik. BPA tidak hanya terakumulasi di lingkungan, namun juga dapat berpindah dari kemasan makanan ke makanan itu sendiri. Sehingga ketika makanan tersebut kita konsumsi akan meningkatkan risiko infertilitas, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan beberapa gangguan metabolisme lainnya.
  • Hindari Penggunaan Plastik Sekali Pakai
    Segala macam plastik sekali pakai seperti sedotan, botol minuman, tutup botol, gelas atau kotak makan styrofoam, dan kantong plastik merupakan jenis plastik sekali pakai yang paling umum kita gunakan. Jenis plastik ini juga merupakan timbulan sampah yang paling banyak berada di laut maupun TPA, dan sangat berdampak buruk bagi lingkungan.

Beberapa hal di atas membuktikan betapa bahayanya penggunaan plastik sebagai wadah makanan yang akan kita konsumsi. Beruntung, saat ini sudah terdapat banyak produk alternatif pengganti plastik pada kehidupan sehari-hari. Berikut 5 pilihan kemasan makanan ramah lingkungan yang lebih baik bagi bumi dan kesehatan kamu.

1. Kemasan yang Menggunakan Wadah Kaca

Kaca merupakan salah satu wadah makanan yang bisa kita gunakan kembali, dapat didaur ulang, tahan lama dan juga mudah untuk kita bersihkan. Kotak makan kaca juga tahan panas sehingga bisa kamu gunakan untuk memanaskan makanan ke microwave. Selain itu wadah kaca memiliki masa pakai tiga kali lipat lebih lama dari plastik, sehingga dapat mengurangi timbulan sampah baru plastik sekali pakai.

2. Stainless Steel

Sebagai ide kotak makan siang yang ramah lingkungan, stainless steel memberikan nuansa kokoh yang dapat menampung makanan berkuah atau kering. Selain kotak makan, bahan stainless steel juga sering kita temukan pada tempat minum. Wadah ini memiliki banyak manfaat seperti bisa menjaga suhu dari makanan atau minuman, anti karat, ringan, dan yang terpenting bisa kita daur ulang!

3. Kotak Makan Bambu

Kotak makan bambu dapat menjadi pilihan Sobat Greeners untuk beralih dari plastik sekali pakai. Karena berasal dari tanaman alami, bambu dapat terurai sepenuhnya di tanah. Kotak makan dari bambu juga bebas dari BPA dan bahan kimia berbahaya lainnya.

Saat ini sudah banyak sekali kotak makan dari bambu yang bisa Sobat Greeners temukan di pasaran. Jangan khawatir, selain ramah lingkungan kotak makan dengan bahan bambu padat atau dari serat bambu dapat mempertahankan suhu makanan panas atau dingin selama dua hingga empat jam.

4. Sekam Padi

Dalam sebuah penelitian, sekam padi terbukti memiliki sifat bio-adsorben yang dapat menyerap polutan dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, olahan sekam padi banyak kita temukan pada produk sehari-hari. Selain dapat dimanfaatkan sebagai sumpit, sekam padi kini bisa kita temukan pada olahan kemasan makanan. Bentuknya pun seperti styrofoam, hanya saja ramah lingkungan dan mampu terurai secara alami dalam jangka waktu 15 hari.

5. Kemasan Makanan dari Film Gelatin

Meski namanya belum cukup familiar, film gelatin banyak digunakan untuk kemasan makanan karena sifatnya yang lebih aman dari plastik konvensional. Film gelatin ini memiliki beberapa keunggulan, seperti anti racun, serta biaya produksi yang terjangkau. Ia juga bisa melindungi makanan dari bakteri jahat, karena mengandung selulosa antimikroba. Uniknya, film gelatin atau edible film yang terbuat dari protein gelatin ini dapat kita konsumsi ketika digunakan sebagai pengemas produk pangan.

Penulis: Zahra Shafira

Sumber:

Healthline

Greenerlyfe

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-beralih-ke-kemasan-makanan-ramah-lingkungan/feed/ 0
Berbagai Jenis Plastik di Sekitar Kita: Apa Aja Sich? https://www.greeners.co/gaya-hidup/jenis-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jenis-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/jenis-plastik/#respond Fri, 29 Jan 2021 12:00:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10066 Bahan ini murah dan tahan lama, tidak heran bila kita mendapatinya setiap kali kita memandang. Greeners merangkum berbagai jenis plastik yang mudah kita temui di sekitar kita. ]]>

Bahan ini murah dan tahan lama, tidak heran bila kita mendapatinya setiap kali kita memandang. Greeners merangkum berbagai jenis plastik yang mudah kita temui di sekitar kita. 

Berbelanja merupakan salah satu kegiatan yang tidak luput dalam keseharian kita. Sebagian besar barang-barang yang kita beli umumnya terbungkus dengan macam-macam plastik kemasan. Sebenarnya, apa itu plastik? Kenapa plastik ada di mana-mana?

Plastik adalah istilah umum untuk mendeskripsikan berbagai bahan sintetis atau semi sintetis dalam berbagai aplikasi. Bahan polimer ini memiliki kemampuan untuk Anda cetak atau bentuk, biasanya dengan penerapan panas dan tekanan. Adanya kemudahan untuk merekayasa plastik sesuai kebutuhan, membuat merek-merek menggunakannya untuk produk mereka.

Namun, kepraktisan itu tidak datang tanpa efek samping. Mari kita cari tahu berbagai jenis plastik dan sifatnya, serta bahayanya bagi kesehatan.

Berbagai Jenis Plastik di Sekitar Kita

1. Polyethylene Terephthalate (PET atau PETE)

Tipe plastik jenis PET ini paling umum penggunaannya dalam produk konsumen. Kita sering menemukannya pada botol minuman yang transparan atau tembus pandang seperti botol air kemasan.

Hampir semua botol minuman dengan gambar segitiga berisi angka 1. Tidak hanya terdapat pada botol minuman saja, jenis PETE bisa juga terdapat pada wadah makanan, karpet dan furnitur.

Jenis plastik PET atau PETE hanya untuk sekali pakai. Jika Anda gunakan untuk menyimpan air hangat dan panas akan menyebabkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik. Zat karsinogenik dapat menyebabkan kanker bila masuk ke dalam tubuh.

Penggunaan berulang jenis plastik ini meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri. Plastik PET sulit untuk Anda dekontaminasi. Pembersihannya membutuhkan bahan kimia berbahaya.

Plastik PET dapat didaur ulang. Caranya dengan menghancurkan PET, kemudian parut menjadi serpihan-serpihan kecil. Kemudian olah kembali menjadi botol PET baru, atau memintalnya menjadi serat poliester.

Serat daur ulang ini merupakan bahan untuk membuat tekstil seperti pakaian, karpet, isian bantal dan jaket pelampung, atau produk serupa lainnya.

Untuk menggunakan lebih sedikit plastik PET, pertimbangkan untuk beralih ke wadah minuman yang dapat Anda gunakan kembali.

Selain itu juga mengganti kemasan makanan sekali pakai dengan alternatif lain seperti wadah bekal yang bisa Anda cuci untuk Anda pakai kembali.

2. High Density Polyethylene (HDPE)

Plastik HDPE adalah plastik kaku yang biasa kita temukan pada botol susu, deterjen dan minyak, mainan anak, dan beberapa kantong plastik.

Plastik HDPE sangat tahan pakai dan tidak rusak di bawah paparan sinar matahari atau suhu panas dan beku yang ekstrem. Oleh karena itu, biasanya HDPE berguna dalam pembuatan meja piknik, tempat sampah, bangku taman, dan produk lainnya yang membutuhkan daya tahan yang kuat dan tahan cuaca. Walau memiliki bahan yang lebih kuat dan tahan terhadap suhu tinggi, namun HDPE juga hanya untuk sekali pemakaian.

Namun, hanya sekitar 30-35% plastik HDPE yang terpakai di Amerika melalui proses daur ulang setiap tahun. Sebaiknya gunakan sesedikit mungkin. Untuk menguranginya, pertimbangkan untuk mengganti tas produk sekali pakai Anda dengan alternatif seperti tote bag.

berbagai jenis plastik

Bagan beragam jenis plastik yang mudah kita temukan setiap hari. Foto: Shutterstock.

3. Polyvinyl Chloride (PVC)

Tidak hanya terdapat pada barang-barang tertentu seperti pipa, film insulasi, kantong darah dan tabung medis, plastik PVC juga dapat kita jumpai pada botol kecap, sambal dan pembungkus makanan. PVC relatif tahan terhadap sinar matahari dan cuaca. Maka dari itu PVC juga menjadi bahan untuk membuat bingkai jendela, selang taman, dan teralis.

PVC mendapat julukan “plastik beracun” karena mengandung banyak racun yang dapat luluh sepanjang siklus hidupnya. Hampir semua produk yang menggunakan PVC membutuhkan bahan murni untuk konstruksinya. Produk yang terbuat dari plastik ini tidak dapat Anda daur ulang. PVC mengandung DEHA yang dapat lumer pada suhu 80 derajat Celcius sehingga berbahaya bagi ginjal dan hati.

Beberapa produk PVC ada yang bisa Anda gunakan kembali. Tetapi, produk PVC tidak boleh Anda manfaatkan kembali untuk segala hal yang berkaitan dengan makanan dan anak-anak.

4. Low Density Polyethylene (LDPE)

Biasanya, kita dapat menjumpai plastik dengan segitiga bernomor empat ini pada botol-botol yang mudah ditekan. Kita juga bisa menemukan plastik ini pada kantong kemasan roti. LDPE sulit dihancurkan walaupun relatif aman untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang terbungkus dalam plastik ini.

Produk yang terbuat menggunakan plastik LDPE dapat Anda gunakan kembali, tetapi tidak selalu dapat Anda daur ulang. Biasanya saat daur ulang, plastik LDPE berguna untuk membuat papan lansekap, pelapis tempat sampah, dan ubin lantai. Produk yang terbuat dari LDPE daur ulang tidak sekeras atau sekaku plastik HDPE daur ulang.

berbagai jenis plastik

Berbagai jenis plastik, kira-kira yang bisa didaur ulang yang mana yah? Foto: Shutterstock.

5. Polypropylene (PP)

Plastik polypropylene kuat dan ringan, serta memiliki kualitas tahan panas yang sangat baik. Ini berfungsi sebagai penghalang terhadap kelembaban, minyak dan bahan kimia.

Secara umum, plastik jenis PP bisa kita temukan pada lapisan plastik tipis di dalam kotak sereal, popok sekali pakai, ember, tutup botol plastik, wadah margarin dan yogurt, kantong keripik kentang, sedotan, selotip dan tali pengepakan.

Polypropylene dapat didaur ulang. Biasanya, PP daur ulang berguna untuk membuat pembungkus baterai, sapu, tempat sampah, dan baki. PP juga aman untuk digunakan kembali.

Untuk mengurangi jumlah PP yang Anda konsumsi, pilih sedotan dan botol yang dapat Anda gunakan kembali daripada yang plastik, dan popok kain.

6. Polystyrene (PS)

Polystyrene adalah plastik yang murah, ringan dan mudah dibentuk untuk berbagai macam kegunaan. Ia paling sering menjadi bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, karton wadah telur, dan nampan pada restoran siap saji.

Ciri plastik PS antara lain kaku, buram, dapat terpengaruh lemak dan pelarut, melunak pada suhu 95 derajat celcius. Pada plastik jenis polystyrene busa (styrofoam), bentuknya busa, beratnya lebih ringan, dan berwarna putih. Umumnya menjadi tempat makan di restoran cepat saji dan wadah kopi.

Secara struktural, polystyrene sangat lemah. Ia mudah rusak dan mudah tersebar ke lingkungan. Tak terhitung jumlah spesies laut yang telah menelan plastik ini yang sangat berbahaya bagi kesehatan mereka.

Polistiren dapat melarutkan stirena, kemungkinan membawa karsinogen ke dalam produk makanan (terutama bila Anda panaskan dalam microwave). Bahan kimia yang ada dalam polystyrene tidak baik bagi kesehatan manusia dan disfungsi sistem reproduksi.

Polystyrene harus kita hindari.

7. Other (BPA, Polycarbonate, dan LEXAN)

Plastik ini mengandung polikarbonat (PC) dan plastik “lainnya”, jadi protokol penggunaan ulang dan daur ulang dalam kategori ini tidak ada standarisasi.

Perhatian utama pada plastik ini adalah potensi luluhnya bahan kimia ke dalam produk makanan atau minuman yang terkemas dengan wadah polikarbonat yang mengandung BPA (Bisphenol A). BPA adalah xenoestrogen, yang dikenal sebagai pengganggu endokrin.

Jenis plastik ini bertanda logo segitiga berisi angka 7. Plastik ini terdapat pada nilon sebagai bulu pembersih pada sikat gigi, teflon sebagai pelapis tahan lengket pada penggorengan, dan suku cadang mobil.

Plastik ini tidak untuk Anda gunakan kembali, kecuali mereka yang memiliki kode kompos PLA. Jika memungkinkan, sebaiknya hindari plastik dengan nomor 7 ini, terutama untuk makanan anak-anak.

Plastik berkode PLA harus Anda buang di kompos, bukan tempat sampah. Sebab plastik kompos PLA tidak dapat didaur ulang.

Penulis: Agnes Marpaung dan Gloria S.

Sumber:

Plastics Europe

Britannica

Eartheasy

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jenis-plastik/feed/ 0
Plastik Detox, Aksi Kreatif Dorong Pengusaha Kurangi Sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/plastik-detox-aksi-kreatif-dorong-pengusaha-kurangi-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=plastik-detox-aksi-kreatif-dorong-pengusaha-kurangi-sampah https://www.greeners.co/sosok-komunitas/plastik-detox-aksi-kreatif-dorong-pengusaha-kurangi-sampah/#respond Fri, 15 Feb 2019 04:03:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=22323 Plastik Detox adalah kampanye nonprofit yang bergerak untuk mengkampanyekan pengurangan kemasan plastik sekali pakai di hulu yang dikhususkan bagi pengunjung dan para pebisnis lokal, seperti toko, kafe dan restoran.]]>

Plastik Detox adalah organisasi nonprofit yang bergerak untuk mengampanyekan pengurangan kemasan plastik sekali pakai yang dikhususkan bagi pengunjung dan para pebisnis lokal, seperti toko, kafe dan restoran.

Koordinator Plastik Detox Dwi Jayanthi menjelaskan bahwa kampanye ini telah dilakukan sejak tahun 2013 yang berfokus di wilayah Sanur, Bali dengan tujuan untuk mengurangi sampah mulai dari hulu.

Kampanye ini terbentuk melalui inisiatif empat orang yaitu Marc Antoine Dunais, Anna Sutanto, Natali Gusti dan Ani Yulinda. Dahulunya keempat orang ini bertemu dalam satu konferensi kemudian tergerak untuk membuat suatu kampanye pengurangan sampah plastik di Bali.

“Kita percaya sekali pencegahan itu lebih baik daripada pengelolaan karena di Bali sendiri belum siap proses recycle-nya. Pencegahan itu berhubungan dengan kebiasaan, nah dari kebiasaannya ini kita mulai untuk melakukan pendekatan ke pedagang-pedagang lokal yang ada di hulu,” ujar Dwi saat diwawancara Greeners dalam acara Our Ocean Conference di Nusa Dua Bali, Oktober 2018 lalu.

Yang menarik adalah, bagi pebisnis atau pedagang lokal yang berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong kresek plastik, sedotan plastik dan styrofoam, berhak mendapatkan insentif dari Plastik Detox berupa pelatihan manajemen sampah dan layanan desain.

Selain itu mereka juga membantu para pelaku bisnis tersebut dalam membuat keperluan promo terkait lingkungan. “Jadi intensif yang di dapat juga berupa media promosi dan peliputan video yang berkaitan dengan komitmen mereka (pebisnis), bukan dengan bisnisnya,” ujar Dwi.

plastik detox

Plastik Detox melakukan pemilihan sampah pengunjung Sunday Market Sanur. Foto: Plastik Detox

Sampai saat ini Plastik Detox telah bekerjasama dengan 19 rekan bisnis dari 27 lokasi yang berbeda di Bali dan memiliki cabang. Plastik Detox juga melakukan kerjasama secara rutin dengan Sunday Market Sanur dengan membuat zero waste event setiap bulannya.

Plastik detox menyediakan tiga tong sampah yaitu compostable, recyclable, dan trash dalam acara tersebut. Selain itu mereka juga mencoba menerapkan program pengurangan pemakaian alat makan sekali pakai melalui sistem deposit.

“Jadi maksudnya sistem deposit itu seandainya dalam acara tersebut ada pengunjung yang jajan dan tidak membawa alat makan pribadi, maka Plastik Detox sudah menyediakan peralatan makan ramah lingkungan. Pengunjung hanya membayar biaya sewa sebesar 10.000 rupiah. Setelah selesai dipakai, pengunjung mengembalikan lagi peralatan makan tersebut. Peralatan makan yang sudah dipakai oleh pengunjung kami cuci hingga bersih sehingga dapat digunakan ulang,” ungkap Dwi.

 

plastik detox

Plastik Detox menyewakan peralatan makan ramah lingkungan di lokasi acara. Foto: Plastik Detox

Meskipun aksi ini mendapat respon positif dari pebisnis lokal, namun hambatan masih sering dialami oleh mereka. Salah satunya ketika mencari calon anggota yang mau ikut tergabung dalam kampanye ini.

Beberapa dari calon anggota tersebut masih belum memiliki kemauan untuk mengurangi pemakaian kemasan plastik sekali pakai, karena enggan mengeluarkan modal untuk membeli produk-produk eco alternative.

“Produk-produk eco alternative itu biayanya lumayan besar, misalkan sedotan plastik harganya 100 rupiah terus mereka ganti dengan sedotan kertas yang harganya 600 rupiah, itu benar-benar meningkatkan cost mereka. Maka dari itu kita menyarankan untuk tidak pakai sedotan atau menyediakannya ketika diperlukan saja. Perubahan perilaku itu harus penuh dengan kesabaran, oleh karenanya kita kurangi dulu secara pelan-pelan,” ujar Dwi.

Perjalanan Plastik Detox dari awal terbentuk hingga sekarang adalah berhasil untuk membuat lokasi Sunday Market bebas styrofoam, tidak ada botol minuman plastik dan adanya tempat pengisian air minum.

“Jadi 100% pencapaiannya adalah kita telah bebas dari air botol dalam kemasan. Dulu hampir di setiap stand ada botol minum plastik, sekarang sudah dilarang. Sudah disediakan water filler namun berbayar sebesar 2000 rupiah sebagai bentuk donasi. Kemudian pengunjung menggunakan paper packaging sebagai pengganti kantong plastik,” tegas Dwi.

“Pengunjung juga menggunakan paper packaging sebagai pengganti kantong plastik. Ditambah lagi pengunjung sudah memilah sampahnya dengan baik. Sejauh ini rekan-rekan pelaku bisnis restoran dan kafe disekitar Sanur berkomitmen bersama Plastik Detox menuju zero waste. Usaha ini juga tidak terlepas dari bantuan relawan yang standby mengawasi pengunjung buang sampah seharian, mulai dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore,” ujar Dwi menambahkan.

Kedepannya target yang ingin diraih oleh Plastik Detox adalah dengan membuat Sanur bebas dari pemakaian plastik sekali pakai di tahun 2020. “Meskipun kita tidak terlalu ketat dengan angka atau presentase pengurangannya, tetapi kita percaya bahwa target tersebut dapat tercapai dan prosesnya itu benar-benar harus dijaga,” pungkas Dwi.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/plastik-detox-aksi-kreatif-dorong-pengusaha-kurangi-sampah/feed/ 0
Selamat Tinggal Styrofoam, Halo Biofoam Engkong! https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/#respond Mon, 26 Nov 2018 07:28:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=21609 Dua orang siswi kelas XII SMAN 1 Kedungpring, Lamongan membuat kemasan alternatif pengganti styrofoam yang mereka namakan Biofoam Engkong. Kemasan ini terbuat dari tanaman enceng gondok yang banyak ditemukan di daerah mereka.]]>

(Greeners) – Sampah styrofoam menjadi salah satu sampah yang paling banyak ditemukan di tempat pembuangan akhir (TPA). Seperti di daerah Benowo, Surabaya, sampah kemasan styrofoam yang ditemukan di TPA mencapai 1.000 ton per harinya. Sifat enceng gondok yang dapat berkembang biak dengan cepat juga sering sekali menyumbat aliran sungai sehingga berpotensi menyebabkan banjir.

Melihat fenomena ini, Suprihatin dan Siti Nur Kholisah, siswi kelas XII SMAN 1 Kedungpring, Lamongan melakukan eksperimen untuk memanfaatkan enceng gondok. Mereka membuat sebuah kemasan alternatif pengganti styrofoam yang terbuat dari tanaman eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang banyak ditemukan di daerah Lamongan, Jawa Timur. Kemasan inovatif ini mereka namakan Biofoam Engkong.

“Kami mengetahui bahwa sampah styrofoam sangat mencemari lingkungan dan juga berdampak buruk untuk kesehatan manusia,” ujar Siti kepada Greeners saat ditemui di pameran Indonesia Science Expo (ISE) 2018, Serpong pada awal November lalu.

Lebih lanjut Siti menjelaskan, umumnya proses pembuatan styrofoam dilakukan dengan mencampurkan bahan utama berupa stirena dengan bahan lain yaitu seng dan butadiene. Untuk meningkatkan kelenturan kemasan tersebut ditambahkan zat plasticizer seperti dioctyl phthalate (DOP).

“Styrofoam kurang baik digunakan untuk mengemas produk makanan atau minuman karena adanya kemungkinan terjadi migrasi bahan kimia yang terkandung dalam kemasan ini ke dalam makanan atau minuman tersebut. Migrasi ini dipengaruhi oleh suhu, lama kontak dan tipe pangan. Semakin tinggi suhu, lama kontak dan kadar lemak suatu pangan maka migrasinya juga akan semakin besar,” kata Siti.

Dari hasil penelitian dan percobaan Suprihatin dan Siti, keduanya menemukan bahwa serat dan pati enceng gondok cocok diolah menjadi bahan wadah makanan. Enceng gondok mengandung serat selulosa yang melimpah pada batangnya. Tanaman ini juga bukan tanaman musiman, dan perkembangbiakannya secara generatif maupun vegetatif dengan kecepatan tumbuh 3% setiap hari membuat tanaman ini mudah diperbanyak. Dalam proses pembuatannya, Biofoam Engkong menggunakan pati singkong yang dimanfaatkan sebagai bahan perekat.

“Kami hanya mengambil bagian batangnya saja lalu kami keringkan selama 3 hari. Eceng gondok yang telah dikeringkan lalu dihaluskan dengan blender hingga berukuran partikel 60 mesh, setelah itu disaring dan dicampur dengan tepung singkong. Adonan itu kemudian dicetak lalu dimasukan ke dalam oven listrik selama 2 jam pada temperatur sekitar 70°C,” kata Siti menjelaskan.

biofoam engkong

Hasil biofoam engkong menggunakan cetakan piring dan gelas. Foto: greeners.co/Sarah R. Megumi

Lebih lanjut Suprihatin dan Siti menjelaskan bahwa selain menguji material yang dapat terurai di alam (biodegradable), mereka juga melakukan uji coba jumlah zat padat terlarut (TDS) dan pH pada kemasan Biofoam Engkong. Semua pengujian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Lamongan. Percobaan tersebut dilakukan untuk membuktikan agar kemasan enceng gondok ini aman dipakai sebagai wadah makanan dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia.

“Jumlah zat padat terlarut pada kemasan ini adalah 154mg/liter. Menurut peraturan Kementerian Kesehatan jumlah TDS maksimal 500, dikarenakan (Biofoam Engkong) kita dibawah 500, jadi Biofoam Engkong masih aman untuk dipakai sebagai wadah makanan maupun minuman. Kita juga melakukan uji coba pH dan uji sianida yang ada pada singkong. Hasilnya tidak ada pengaruh asam pada makanan dan hasil uji sianida pada singkong pun nilainya nol, yang berarti tidak berpengaruh pada makanan,” kata Suprihatin.

Siti mengungkapkan bahwa saat ini mereka belum memiliki thermopressing (mesin yang biasa dipakai untuk mencetak kemasan styrofoam). “Kami belum punya thermopressin sehingga kami masih menggunakan piring atau gelas sebagai wadah cetakan sementara,” katanya.

Pihak sekolah sangat mendukung inovasi yang dilakukan oleh Suprihatin dan Siti. Kedepannya kedua siswi ini berencana akan membeli thermopressing agar kemasan Biofoam Engkong lebih menarik untuk dijual dan dapat diproduksi dalam jumlah banyak. Mereka juga ingin memperbaiki perwarnaan produk agar terlihat lebih menarik untuk disosialisasikan kepada masyarakat.

“Kalau kemasan kami sudah bagus kami ingin bekerjasama dengan tim ahli untuk memproduksi Biofoam Engkong dengan kuantitas yang lebih banyak. Harganya pun relatif lebih murah dibandingkan harga styrofoam umum. Setelah diperhitungkan tiap harinya kami bisa mencetak 33 Biofoam Engkong. Kami bisa menjual satu biofoam engkong seharga 100 rupiah, satu styrofoam yang biasa saja harganya berkisar antara 300 sampai 700 ratus rupiah,” kata Suprihatin.

Selain dapat memproduksi dalam skala besar, harapan dari kedua siswi yang berhasil memamerkan inovasinya di ISE 2018 ini adalah agar inovasi kemasannya bisa menjadi solusi kemasan ramah lingkungan dan mampu mengurangi permasalahan limbah styrofoam yang ada di Indonesia.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/selamat-tinggal-styrofoam-halo-biofoam-engkong/feed/ 0
Ulat Tepung, Serangga Kecil Pemakan Styrofoam https://www.greeners.co/flora-fauna/ulat-tepung-serangga-kecil-pemakan-styrofoam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ulat-tepung-serangga-kecil-pemakan-styrofoam https://www.greeners.co/flora-fauna/ulat-tepung-serangga-kecil-pemakan-styrofoam/#respond Tue, 25 Sep 2018 07:29:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21368 Ulat tepung (Tenebrio molitor) ternyata berjasa bagi lingkungan. Serangga kecil ini ternyata mampu mencerna styrofoam menjadi kotoran yang bisa diurai lingkungan.]]>

Berbagai macam cara dilakukan untuk mengurangi limbah kemasan sekali pakai jenis styrofoam. Umumnya limbah ini dibiarkan menumpuk begitu saja dan lambat laun mencemari lingkungan. Seorang peneliti bernama Wei-Min Wu dari Stanford University memanfaatkan mealwarm atau dalam penamaan lokal disebut ‘ulat tepung’ sebagai pengurai styrofoam.

Seperti yang dilansir pada laman sains kompas, pemanfaatan hewan mungil ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah limbah styrofoam. Keunggulan dari ulat tepung (Tenebrio molitor) yaitu mampu mengurai plastik berbahan polysyrene. Hampir semua jenis plastik berbahan polysyrene dapat diurai ulat ini. Dijelaskan dalam hasil penelitian Min Wu bahwa ulat tepung mampu mengubah styrofoam menjadi karbon dioksida dan butiran-butiran materi yang bisa diuraikan.

Hasil uji kesehatan yang dilakukan pada ulat tepung menunjukkan styrofoam yang dimakan sama bergizinya dengan biji-bijian yang biasa dimakan ulat tepung, sehingga tidak berdampak buruk pada tubuh ulat ini. Meskipun menjadi serangga yang dimusuhi petani, ulat tepung mampu mengekskresikan hasil cernaan styrofoam yang mereka makan menjadi kotoran ramah lingkungan.

ulat tepung

Ulat tepung memiliki tiga pasang kaki dan tubuh dibedakan menjadi caput, thorax dan abdomen. Foto: flickr.com

Secara morfologi, ulat tepung memiliki panjang antara 23-26 mm. Ulat ini memiliki tiga pasang kaki dan tubuhnya terbagi antara caput (kepala), thorax (dada) dan abdomen (perut). Warna tubuh ulat kecil ini hitam kemerahan mendekati hitam. Ketika baru keluar dari pupa (kepompong), ulat dewasa berwarna putih atau warnanya cenderung pucat (Borror et al., 1996). Bagian rangka luarnya memiliki lapisan kitin (kulit) dengan tekstur yang keras dan lentur.

Ulat tepung adalah serangga dengan metamorfosis sempurna. Siklus hidupnya terdiri dari empat stadium yaitu telur, larva, pupa dan serangga dewasa. Perubahan dari telur menuju larva membutuhkan waktu 1 -4 hari. Dari larva menuju pupa membutuhkan waktu 50-122 hari, dan dari pupa munuju kumbang membutuhkan waktu 6-8 hari.

Ulat tepung membutuhkan media bertelur untuk meletakkan telur-telurnya. Media bertelurnya adalah kulit kayu, kayu keropos, pasir, daun yang lebar dan di tanah (Jones, 2004).

Selain senang makan plastik dan styrofoam, ulat tepung memiliki nilai ekonomis karena dapat digunakan sebagai pakan ternak dan mudah dibudidayakan (Setiana, 2006). Selain pakan ternak, ulat tepung digunakan sebagai pakan kaya protein untuk hewan lain, diantaranya reptil, amfibi, burung, primata, dan ikan hias (Listiana, 2008).

Klasifikasi ulat tepung

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ulat-tepung-serangga-kecil-pemakan-styrofoam/feed/ 0
Styrofoam, Bukan untuk Kemasan Makanan! https://www.greeners.co/gaya-hidup/styrofoam-bukan-kemasan-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=styrofoam-bukan-kemasan-makanan https://www.greeners.co/gaya-hidup/styrofoam-bukan-kemasan-makanan/#respond Wed, 12 Apr 2017 13:30:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16689 Pada Minggu (9/4) lalu, melalui instagram, Walikota Bandung Ridwan Kamil berterimakasih kepada salah satu perusahaan consumer goods yang mengubah kemasan styrofoam pada produknya. Sebenarnya, apa bahaya styrofoam bagi kesehatan?]]>

(Greeners) – Walikota Bandung Ridwan Kamil memang sudah mendeklarasikan larangan penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan makanan di Bandung sejak Oktober 2016. Namun pada Minggu (9/4/2017), pria yang akrab disapa Kang Emil ini kembali mengunggah foto berikut secuil berita lama di akun instagram (@ridwankamil) terkait pelarangan penggunaan styrofoam. Dalam postingan tersebut, Kang Emil mengucapkan terimakasih kepada salah satu perusahaan consumer goods besar yang telah mengganti kemasan produknya dengan material berbasis kertas.

Styrofoam atau polistirena (PS) merupakan bahan kemasan yang sangat populer di kalangan penyedia produk makanan. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), bahan kemasan polistirena dipilih karena dapat menjaga makanan agar nyaman dipegang, tidak mudah bocor dan menjaga makanan agar tetap panas. Karena kelebihannya tersebut, kemasan polistirena sering digunakan untuk membungkus pangan siap saji, segar, maupun yang memerlukan proses lebih lanjut.

Namun sebenarnya pembuatan styrofoam tidak diperuntukkan di dalam industri pangan. Awalnya, styrofoam merupakan nama dagang yang telah dipatenkan oleh perusahaan Dow Chemical, Amerika Serikat. Perusahaan yang memproduksi plastik, kimia dan produk pertanian ini membuat styrofoam sebagai alat penyekat atau insulator untuk konstruksi bangunan.

styrofoam

Sumber: Instagram Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Dalam InfoPOM (Vol. 9, No. 5, September 2008), dijelaskan bahwa polistirena merupakan plastik yang tidak reaktif (inert) sehingga relatif tidak berbahaya bagi tubuh. JECFA-FAO/WHO menyatakan bahwa monomer stirena (zat penyusun styrofoam) tidak mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya tidak melebihi 5.000 parts per million (ppm). Meski demikian, perlu diwaspadai akan adanya perpindahan zat kimia ini ke dalam makanan.

Menurut Adrienne dkk. (2009), paparan monomer stirena juga dapat menimbulkan dampak kesehatan yang akut seperti iritasi pada kulit, mata, infeksi pernapasan saluran atas, gangguan pencernaan, hingga gangguan siklus menstruasi pada wanita.

Studi yang dilakukan di New Jersey juga menunjukkan sebanyak 9 dari 12 sampel ASI yang diteliti mengandung monomer stirena bersama dengan bahan kimia berbahaya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa stirena tidak sengaja dikonsumsi dapat bertahan dalam jaringan tubuh manusia.

Selain itu, berdasarkan penelitian dari Universitas Illinois, monomer stirena dalam styrofoam dapat berpindah ke makanan atau minuman yang bersuhu panas. Zat ini akan lebih banyak terlepas dari styrofoam jika makanan panas yang dikemas dengan bahan ini mengandung vitamin A. Pangan tersebut misalnya pizza dengan keju, atau sereal dan oatmeal instan yang membutuhkan air panas untuk menghidangkannya.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/styrofoam-bukan-kemasan-makanan/feed/ 0
Bandung City Ban Styrofoam for Food Packaging https://www.greeners.co/english/bandung-city-ban-styrofoam-for-food-packaging/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bandung-city-ban-styrofoam-for-food-packaging https://www.greeners.co/english/bandung-city-ban-styrofoam-for-food-packaging/#respond Thu, 20 Oct 2016 06:13:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15003 Bandung's Mayor, Ridwan Kamil, made headline in virtual world after he announced the ban on Styrofoam for food packaging which will take effective on November 1st, 2016.]]>

Bandung (Greeners) – Bandung’s Mayor, Ridwan Kamil, made headline in virtual world after he announced the ban on Styrofoam for food packaging which will take effective on November 1st, 2016.

The move was considered as a follow up on Ministry of Environment and Forestry’s instruction letter on reducing food waste and its packaging which was issued on August 3.

Hikmat Ginanjar, chief of environment agency of Bandung city, said that the Bandung administration has supported all efforts to reduce environmental pollution.

“We are currently preparing technical guidance related to this Styrofoam ban,” said Ginanjar citing October 18 as official date to disclose the guidance.

READ ALSO: Retailers Stopped Paid Plastic Bag Program

Meanwhile, Program Director of Cleanaction Network, Hendro Talenta, said that though they had appreciated on the ban, it was a little too late as the ban campaign had already begun since 2014.

“It is important to have good socialization and agrees that Styrofoam is not good for environment,” said Talenta.

Several reasons to ban Styrofoam on food packaging, he added, were it would take long time for earth to degrade the material. In addition, there is little economical value from its waste making it difficult to recycle.

Styrofoam made from a mix of 90-95 percent of polystyrene and 5-10 percent of gas using blowing agent such as CFC which damaging the ozone. EPA and WHO have categorized the Styrofoam process as the 5th most dangerous toxic producer in the world.

READ ALSO: Plastic Waste Littering Indonesia’s Mountains and National Parks

Talenta said that biggest challenge of the ban is the legal umbrella and public’s opinion. “It should be continuous socialization to reach the same perspective,” he added.

Nevertheless, he is optimistic that the ban can be implemented in the city under the condition that it would be applied in steps starting from pilot projects then cover a bigger scope.

Reports by Gede Surya Marteda

]]>
https://www.greeners.co/english/bandung-city-ban-styrofoam-for-food-packaging/feed/ 0
Kemasan Berbahan Styrofoam Dilarang Penggunaannya di Kota Bandung https://www.greeners.co/berita/kemasan-berbahan-styrofoam-dilarang-penggunaannya-kota-bandung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemasan-berbahan-styrofoam-dilarang-penggunaannya-kota-bandung https://www.greeners.co/berita/kemasan-berbahan-styrofoam-dilarang-penggunaannya-kota-bandung/#respond Fri, 14 Oct 2016 05:20:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14958 Dunia maya digemparkan dengan pernyataan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, tentang pelarangan penggunaan kemasan makanan berbahan styrofoam di Kota Bandung.]]>

Bandung (Greeners) – Dunia maya digemparkan dengan pernyataan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, tentang pelarangan penggunaan kemasan makanan berbahan styrofoam per 1 November 2016 di Kota Bandung. Pernyataan ini sejalan dengan surat edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan no SE.12/PSLB3/PS/PLB.0/8/2016 tentang Langkah-Langkah Pengurangan Sampah Sisa Makanan dan Wadah/Kemasan Makanan dan Minuman yang diterbitkan pada 3 Agustus 2016 lalu.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Bandung, Hikmat Ginanjar, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung mendukung segala upaya baik dalam pengurangan potensi pencemaran pada lingkungan. “Kami sedang menyiapkan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan terkait pelarangan styrofoam ini,” tambah Hikmat.

Ketika diminta keterangan lebih detail, Hikmat menerangkan bahwa mekanismenya masih dipersiapkan dan rencana akan dipublikasikan pada hari Selasa, 18 Oktober 2016 di acara Bandung Menjawab yang akan dilangsungkan di Balai Kota Bandung.

BACA JUGA: Pembuangan Limbah B3 Akan Dipantau dengan Sistem GPS

Diwawancarai di tempat yang berbeda, Program Director Cleanaction Network, Hendro Talenta, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bandung untuk melarang penggunaan kemasan makanan berbahan styrofoam ini. Namun Hendro sedikit menyayangkan pelarangan ini baru muncul meskipun kampanye pelarangan penggunaan styrofoam sudah dilakukan sejak tahun 2014.

“Penting sosialisasi yang baik dan sepakat bahwa styrofoam ini tidak baik untuk lingkungan,” ujar Hendro. Beberapa alasan kuat menghentikan penggunaan kemasan makanan dan minuman berbahan styrofoam, menurut Hendro, adalah karena waktu penguraian oleh alam yang sangat panjang serta nilai ekonomi dari limbahnya kecil sehingga sulit untuk didaur ulang.

Styrofoam dibuat dari campuran 90-95% polistirena dan 5-10% gas dengan menggunakan blowing agent seperti CFC (freon) yang merusak lapisan ozon. EPA dan WHO bahkan mengkategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.

BACA JUGA: Pasar Tradisional, Hotel dan Mall Akan Dikenakan Aturan Pengelolaan Sampah

Hendro melihat bahwa tantangan terbesar dalam pelaksanaan larangan ini adalah polemik payung hukum kebijakan dan opini masyarakat yang sudah lebih dahulu antipati terhadap berjalannya larangan ini. “Perlu sosialisasi yang terus menerus ke masyarakat sehingga bisa memiliki persepsi yang sama,” tambahnya.

Walaupun begitu, dia tetap optimis bahwa larangan ini dapat berjalan dengan baik di Kota Bandung, dengan catatan bahwa mekanisme larangan diatur sedemikian rupa menjadi bertahap di beberapa wilayah kecil yang bisa menjadi percontohan setelah itu baru diatur mekanisme untuk mencakup wilayah yang lebih luas.

Penulis: Gede Surya Marteda

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemasan-berbahan-styrofoam-dilarang-penggunaannya-kota-bandung/feed/ 0
Ketidakseimbangan Ekosistem Picu Banjir di Kota Jakarta https://www.greeners.co/berita/ketidakseimbangan-ekosistem-picu-banjir-di-kota-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ketidakseimbangan-ekosistem-picu-banjir-di-kota-jakarta https://www.greeners.co/berita/ketidakseimbangan-ekosistem-picu-banjir-di-kota-jakarta/#respond Fri, 13 Feb 2015 07:27:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7410 Jakarta (Greeners) – Fenomena banjir yang selalu melanda DKI Jakarta mendapat perhatian khusus dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Organisasi yang bergerak pada bidang pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Fenomena banjir yang selalu melanda DKI Jakarta mendapat perhatian khusus dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Organisasi yang bergerak pada bidang pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ini menganggap ketidakseimbangan ekosistem tengah mengancam keberlangsungan Kota Jakarta. Hal ini pula yang dapat mengakibatkan banjir.

Menurut Direktur Program Yayasan KEHATI, Teguh Triono, sebelumnya banjir besar yang kerap mengunjungi ibukota datang setiap lima tahun sekali. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banjir selalu datang setiap tahun. Hal ini, katanya, terjadi karena adanya ketidakseimbangan keanekaragaman hayati khususnya pada tingkat ekosistem di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya.

Ia menuturkan, ekosistem memiliki peran penting dalam menunjang keberadaan sebuah kota. Ekosistem juga memiliki jasa untuk menjamin tersedianya pangan, regulasi air dan oksigen, perlindungan terhadap bencana alam, serta fungsi rekreasi dan budaya.

“Perkembangan kota yang tidak tertata akan merusak komponen ekosistem yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada kota itu dan wilayah sekitarnya. Padahal, secara alami ekosistem berperan dalam proses regulasi air,” jelasnya pada keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (12/02).

Air hujan, lanjutnya, akan diserap oleh tumbuhan dan tanah di ruang terbuka hijau atau dialirkan ke tempat-tempat yang mampu menampung air seperti situ yang ada di kota. Namun kenyataannya, kota besar seperti Jakarta tidak memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang cukup.

Officer Eksosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, Basuki Rahmad dan Direktur Program Yayasan KEHATI, Teguh Triono. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Officer Eksosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, Basuki Rahmad dan Direktur Program Yayasan KEHATI, Teguh Triono. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Undang Undang Nomor 26 tahun 2007 menyebutkan bahwa RTH harus 30 persen dari total luas daerah. Akan tetapi, saat ini luasan RTH di Jakarta hanya sekitar 10 persen saja. Keadaan ini membuat daya serap dan daya tampung air dari ekosistem di perkotaan seringkali tidak memadai.

Kondisi ini juga, terang Teguh, diperparah dengan aktifitas pembangunan tanpa perencanaan yang terpadu. RTH di sepanjang bantaran sungai, tempat pepohonan dan tanah terbuka dulunya ada dan berfungsi sebagai penyerap, penampung dan penahan laju air, sudah berubah menjadi bangunan. Perubahan ini, lanjutnya, mengganggu fungsi regulasi air dari ekosistem. Salah satu akibatnya adalah banjir yang kembali melanda Jakarta pada 9 Februari 2015 lalu. Setidaknya terdapat 53 titik banjir yang mengepung ibukota dan sebagian besar berada di pusat-pusat perekonomian.

Teguh juga memberi saran terkait rencana Presiden Joko Widodo untuk mendorong penyelesaian terowongan dari Ciliwung menuju Kanal Banjir Timur dan waduk di Ciawi yang harus dibarengi dengan perbaikan ekosistem di Jakarta maupun di daerah-daerah penunjang di sekitarnya. Menurutnya, perbaikan daerah aliran sungai, menambah ruang terbuka hijau, dan koordinasi dengan pemerintah Kota Depok dan Bogor untuk memperbaiki kawasan hulu sungai juga harus menjadi prioritas dan mendapatkan pendanaan yang cukup.

“Presiden juga harus mampu membaut kebijakan terpadu dari hulu sampai hilir yang melibatkan pemerintah DKI Jakarrta dan kota-kota satelitnya, seperti Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan,” tuturnya.

Sementara itu, Officer Eksosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, Basuki Rahmad menambahkan, konservasi bambu di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung juga bisa menjadi salah satu alternatif pencegahan banjir untuk jangka panjang. Menurut Basuki, jika pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan semua restoran dan penyedia makanan di kotanya dilarang menggunakan styrofoam, dan menggantinya dengan boks makanan dari bambu, maka penduduk di desa-desa sekitar Sungai Ciliwung akan bergairah menanam bambu.

“Kalau seperti itu kan masyarakat mendapat income tambahan dan daerah aliran sungai terlindungi,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ketidakseimbangan-ekosistem-picu-banjir-di-kota-jakarta/feed/ 0
Menangkap Sampah Menyalurkan Solusi Lewat Kampung 3R https://www.greeners.co/berita/menangkap-sampah-menyalurkan-solusi-lewat-kampung-3r/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menangkap-sampah-menyalurkan-solusi-lewat-kampung-3r https://www.greeners.co/berita/menangkap-sampah-menyalurkan-solusi-lewat-kampung-3r/#respond Sun, 17 Jun 2012 03:00:11 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2871 Jakarta (Greeners) – Tong! Tang! Teng! Tung! Tang! Teng! bam! bam! Suara dentuman perkusi dari tong bekas menggema ke seluruh gedung pameran Pekan Lingkungan Indonesia (PLI) 2012. Dengan asik Ismail […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tong! Tang! Teng! Tung! Tang! Teng! bam! bam! Suara dentuman perkusi dari tong bekas menggema ke seluruh gedung pameran Pekan Lingkungan Indonesia (PLI) 2012.

Dengan asik Ismail memukul alat perkusi daur ulang milik kelompok musik Sirkus Perkusi dalam “Workshop Bunyi” yang digelar Kampung 3R. Ismail adalah salah satu dari lima puluh murid SDN 15 Karet Tengsin Jakarta Pusat yang diundang untuk hadir mengikuti edukasi mengenai sampah di area Kampung 3R PLI 2012.

Workshop Bunyi bertujuan untuk memberikan ruang bermain yang sehat bagi anak-anak SD sekaligus ajang edukasi mengenai pemilahan sampah. “Kepolosan energi anak adalah Modal Akal utama yang akan menumbuhkan Rasa melalui proses yang menyenangkan” jelas Edi Bonetski selaku kordinator dari Sirkus Perkusi. “Sehingga mereka dengan secara mudah menyerap informasi yang kami coba sampaikan” tambahnya.

Sejak tanggal 14 – 17 Juni , Kampung 3R digelar dalam rangkaian PLI 2012 untuk melakukan monitoring pemilahan sampah serta memberikan edukasi kepada pengunjung PLI 2012 dalam hal pemilahan sampah di sumbernya. Kerjasama antara Greeners Magazine (greenersmagz.com) , Kementerian Lingkungan Hidup dan PT Indonesia Power ini telah dilakukan untuk yang kedua kalinya dalam rangkaian Pekan Lingkungan Indonesia.

Chief Editor Greenersmagz.com Syaiful Rochman mengatakan bahwa Kampung 3R adalah salah satu aksi nyata dari Greeners Magazine sebagai media lingkungan hidup. “Dalam penanganan masalah lingkungan hidup, utamanya adalah perubahan prilaku dengan aksi nyata. Ini adalah salah satu bukti kami sebagai media yang juga aktif turun ke lapangan untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat” jelasnya

Dalam pelaksanaan kali ini, Kampung 3R dibantu oleh 15 orang relawan dari Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI DEPPERIN) yang secara aktif memandu pengunjung untuk memilah sampah di area PLI 2012. Risky Anggun Kurnia mengatakan bahwa dirinya yang baru pertama kali menjadi relawan Kampung 3R sangat terkejut ketika melihat respon pengujung waktu diajak memilah sampah. “Ada yang sangat antusias mendukung program ini tapi ada juga yang hanya memandang sebelah mata dan berlalu begitu saja” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam waktu 4 hari selama pelaksanaan PLI 2012 total sampah terpilah yang berhasil ‘ditangkap’ oleh tim Kampung 3R adalah 81,3 kg sampah Organik , 60,5 kg sampah plastik (campuran), 4,9 kg styrofoam, 0,6 kg sampah logam, 69,3 kg sampah kertas serta 1,4 kg sampah kaca. Seluruh sampah terpilah diatas telah disalurkan kepada Bank Sampah di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI. (G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/menangkap-sampah-menyalurkan-solusi-lewat-kampung-3r/feed/ 0