sumba timur - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sumba-timur/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 17 Jan 2021 07:01:33 +0000 id hourly 1 Tenun Ikat Sumba, Eksotisme Nusa Tenggara Timur dalam Kain https://www.greeners.co/gaya-hidup/tenun-ikat-sumba-eksotisme-nusa-tenggara-timur-dalam-kain/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tenun-ikat-sumba-eksotisme-nusa-tenggara-timur-dalam-kain https://www.greeners.co/gaya-hidup/tenun-ikat-sumba-eksotisme-nusa-tenggara-timur-dalam-kain/#respond Mon, 09 Oct 2017 12:44:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18938 Tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan oleh sembarang orang. Butuh proses yang rumit dan panjang untuk menghasilkan satu helai kain tenun ikat Sumba berukuran besar.]]>

(Greeners) – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan eksotis yang berada di wilayah timur Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak objek wisata menarik seperti Danau Kelimutu dan Labuan Bajo, Provinsi NTT juga dikenal memiliki “harta karun” berupa kekayaan budaya yang begitu memesona.

Tenun ikat Sumba adalah salah satu bentuk dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Provinsi NTT. Tenun ikat Sumba merupakan kain nusantara nan eksotis yang diciptakan oleh para seniman tenun dari Sumba Timur. Tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan oleh sembarang orang. Salah satu seniman tenun ikat Sumba senior, Ruth Babang Liau atau Mama Ruth, menceritakan bahwa butuh proses yang rumit dan panjang untuk menghasilkan satu helai kain tenun ikat Sumba berukuran besar. Hal tersebut dikarenakan seluruh proses pengumpulan bahan dan pembuatan tenun ikat Sumba dikerjakan secara manual.

“Satu helai kain tenun biasanya saya kerjakan selama 2 hingga 3 bulan. Bisa 5 bulan kalau ukurannya besar. Mengapa lama, karena kita harus mencari bahan baku dan bahan pewarna ke hutan. Semua kain tenun ikat Sumba sepenuhnya dibuat dari tumbuhan, termasuk pewarnanya juga,” tutur Mama Ruth ketika ditemui oleh Greeners pada acara pameran tenun ikat Sumba di Jakarta, Minggu (01/10).

tenun ikat sumba

Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Mama Ruth juga menjelaskan bahwa setiap helai kain tenun ikat Sumba siap pakai telah melewati 42 tahap proses pengerjaan dan tidak dapat dikerjakan seorang diri.

“Satu helai tenun ikat Sumba biasanya dikerjakan oleh 3 sampai 10 orang. Ada yang mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, dan membuat motif. Selembar kain tenun ikat kita buat melalui 42 proses, mulai dari proses lamihi (proses memisahkan biji dari kapas) hingga proses wari rumata (proses finishing) .Makanya selesainya bisa lama,” papar Mama Ruth.

Tak hanya indah, kain tenun ikat Sumba juga merupakan kain yang sangat ramah lingkungan karena sepenuhnya terbuat dari kapas. Tenun ikat Sumba juga diwarnai dengan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tidak ada bahan kimia sedikitpun yang digunakan dalam proses pembuatan tenun ikat ini.

“Bahan baku tenun ikat Sumba adalah kapas. Kapas diurai dengan pandi lalu dipintal menjadi benang. Setelah itu, benang diwarnai oleh pewarna alami. Warna biru berasal dari tanaman indigo dan nila, merah dari akar mengkudu, dan hitam dari lumpur. Kain tenun ikat Sumba pokoknya jangan dicuci dengan sabun supaya warna kainnya tidak rusak,” katanya.

“Proses pewarnaan juga memakan waktu lama, bisa minimal 2 mingu baru selesai diwarnai. Untuk melakukan pewarnaan warna biru, prosesnya harus dilakukan oleh perempuan dan ada beberapa pantangan yang harus dijaga supaya proses pewarnaannya tidak gagal,” tambah Mama Ruth.

tenun ikat sumba

Berbagai bahan alami, seperti tumbuhan indigo dan akar mengkudu, digunakan sebagai pewarna kain tenun ikat Sumba. Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Tidak seperti kain pada umumnya, setiap lembar kain tenun ikat Sumba yang lahir dari tangan para seniman memiliki cerita dan keunikan masing-masing. Mama Ruth menyatakan bahwa setiap kain tenun ikat Sumba lahir dari suara hati para pembuatnya. Seperti lukisan, setiap helai kain tenun ikat Sumba menggambarkan kreativitas, imajinasi, dan suasana hati dari sang seniman tenun.

“Setiap kain tenun ikat Sumba memiliki cerita masing-masing. Ada yang berisi tentang cerita sejarah dan doa. Cerita tersebut dituangkan dalam kain melalui motif-motif. Saya biasanya membuat motif langsung di atas kain, tidak dibuat sketsa terlebih dahulu,” tuturnya.

Perlu diketahui, tidak semua penenun bisa membuat motif langsung di atas kain seperti Mama Ruth. Kain tenun ikat Sumba sendiri biasanya dihiasi oleh berbagai motif yang terinspirasi dari flora dan fauna. Setiap motif tentunya memiliki cerita masing-masing.

“Motif singa berkepala manusia melambangkan kekuasaan, motif bunga melambangkan kehidupan manusia yang saling membutuhkan, dan motif ular melambangkan kehidupan setelah kematian. Ada juga beberapa motif yang hanya bisa digunakan oleh masyarakat dari kelas bangsawan seperti motif patola ratu,”pungkas Mama Ruth.

Dalam dunia fesyen di Indonesia, keeksotisan kain tenun ikat Sumba mampu menarik peminat yang begitu banyak. Sudah banyak para desainer yang merancang pakaian dengan menggunakan kain tenun ikat Sumba. Meski demikian, para desainer harus sangat berhati-hati dalam merancang busana yang terbuat dari kain tenun ikat Sumba. Sebisa mungkin, kain tenun ikat Sumba tidak mengalami proses pengguntingan supaya nilai seni dari kain tersebut tetap terjaga utuh.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tenun-ikat-sumba-eksotisme-nusa-tenggara-timur-dalam-kain/feed/ 0
Yayasan Sekar Kawung Pamerkan Keindahan Kain Tenun Ikat Sumba Timur https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/#respond Tue, 03 Oct 2017 13:40:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=18866 Melalui pameran seni kain tenun ikat Sumba Timur, Yayasan Sekar Kawung ingin membuktikan bahwa keindahan tenun ikat juga dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Nusa Tenggara Timur tidak hanya memiliki hamparan sabana yang luas dan pemandangan bawah laut yang indah, namun juga kekayaan budaya berupa kain tenun ikat yang memikat. Untuk mengapresiasi keindahan kain tenun ikat, khususnya dari Sumba Timur, Yayasan Sekar Kawung menyelenggarakan pameran seni kain tenun ikat Sumba Timur pada tanggal 1-8 Oktober 2017 di kawasan Kota Tua Jakarta.

Pameran bertajuk “Karya Adiluhung Pendorong Ekonomi Lestari: Menguak Spiritualitas dan Simbolisme di Balik Seni Tenun Ikat Pewarna Alam Sumba Timur” ini merupakan kerja sama antara Yayasan Sekar Kawung dengan kelompok seniman tenun Paluanda Lama Hamu yang berasal dari Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Melalui pameran ini, Yayasan Sekar Kawung ingin membuktikan bahwa keindahan tenun ikat juga dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.

“Tenun ikat Sumba dapat menjadi fondasi sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi lestari di Indonesia karena dari awal hingga akhir proses pembuatan tenun ikat menggunakan bahan-bahan alami dari alam. Selain ramah lingkungan, pembuatan tenun ikat Sumba juga melibatkan masyarakat lokal dan kelompok ekonomi masyarakat setempat,” papar Ketua Yayasan Sanggar Kawung, Chandra Kirana, saat ditemui oleh Greeners di lokasi pameran, Jakarta, Minggu (01/10).

kain tenun ikat sumba

Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Menurut Chandra, seperti halnya lukisan, setiap helai kain tenun mengekspresikan kreativitas, imajinasi, juga suasana jiwa sang seniman tenun. Ada cerita unik tersendiri dalam setiap helai kain tenun.

“Seluruh kain tenun ikat Sumba Timur dibuat berdasarkan suara hati dari para penenunnya. Maka tak heran jika di kain tenun tersebut terdapat begitu banyak simbol dan warna yang menceritakan sesuatu. Bagi masyarakat Sumba sendiri, kain tenun ikat berfungsi sebagai pencerita sejarah, penghantar doa, dan media untuk menyampaikan nilai-nilai filosofis kehidupan. Itulah yang membuat tenun ikat Sumba memiliki nilai seni tinggi dan bernilai jual tinggi pula,” ungkap Chandra.

Di tempat yang sama, Menteri Lingkungan Hidup era Kabinet Pembangunan III Profesor Emil Salim mengatakan bahwa seni tenun ikat Sumba Timur perlu terus dilestarikan. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat tenun ikat Sumba mati di rumah sendiri karena tergerus komersialisasi.

“Untuk melestarikan kain tenun ikat Sumba, alam dan kreativitas para penenun adalah dua hal yang perlu dijaga dengan baik. Mengapa demikian, karena alam telah memberikan tanaman kapas untuk diolah menjadi kain dan tanaman lainnya untuk dijadikan pewarna. Selain itu, kreativitas para penenun juga perlu dijaga karena mereka dapat menuangkan keindahan alam pada sehelai kain tenun ikat,” ujar Emil.

Ia pun berharap kain tenun tidak berubah menjadi benda komersial yang diproduksi secara massal yang pada akhirnya akan membuat para seniman tenun Sumba mengerjakan tenun ikat tidak dengan hati dan meninggalkan nilai-nilai seni dari leluhur.

Sebagai informasi, kain tenun ikat khas Sumba Timur sepenuhnya terbuat dari bahan-bahan alami dan dibuat dengan tangan. Mulai dari proses pengumpulan bahan, pewarnaan, hingga proses akhir, seluruhnya dilakukan secara manual oleh para penenun Sumba Timur.

Kain tenun ikat khas sumba terbuat dari serat kapas dan diwarnai oleh pewarna alami yang terbuat dari tumbuhan indigo, akar mengkudu, dan aneka tumbuhan lainnya. Satu helai kain tenun ini perlu dikerjakan oleh 3 hingga 10 orang, dan untuk satu kain tenun berukuran besar membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk diselesaikan.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/yayasan-sekar-kawung-pamerkan-keindahan-kain-tenun-ikat-sumba-timur/feed/ 0
Hama Belalang Kembara Serang Sumber Pangan Warga Sumba Timur https://www.greeners.co/berita/hama-belalang-kembara-serang-sumber-pangan-warga-sumba-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hama-belalang-kembara-serang-sumber-pangan-warga-sumba-timur https://www.greeners.co/berita/hama-belalang-kembara-serang-sumber-pangan-warga-sumba-timur/#respond Wed, 13 Jul 2016 02:30:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14220 Hama belalang kembara menyerang kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak pertengahan Juni 2016. Serangan hama yang semula hanya di satu kecamatan, kini meluas hingga ke empat kecamatan.]]>

Jakarta (Greeners) – Hama belalang kembara menyerang kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sejak pertengahan Juni 2016. Serangan hama yang semula hanya di satu kecamatan, kini meluas hingga ke empat kecamatan. Empat kecamatan tersebut yaitu Rindi, Umalulu, Kahaungu Eti dan Pandawai.

Wahana Lingkungan hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan serangan hama belalang ini akan terus meluas ke berbagai kecamatan lainnya, termasuk ke wilayah Kota Waingapu. Bahkan kini serangan hama dilaporkan terjadi di Kecamatan Haharu dan Pahunga Lodu.

BACA JUGA: Tahun 2016, Menanti Kelahiran Badan Pangan Nasional

Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, Direktur Eksekutif Walhi NTT, mengatakan, perluasan jangkauan hama ini juga diikuti makin bertambahnya kuantitas hama. Dalam pantauan Walhi NTT di Desa Mahubokul, Kecamatan Pandawai, terlihat ribuan belalang di beberapa bidang padang penggembalaan warga. Rerumputan yang menjadi sumber pakan ternak telah banyak diserang oleh hama belalang tersebut.

“Bahkan di Desa Kilimbatu, Pandawai, belalang juga sudah mulai berada di sekitar kebun warga,” katanya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Greeners, Jakarta, Selasa (12/07).

Ledakan hama belalang ini bukan hal baru. Pada periode tahun 70-an, akhir 90-an, dan awal 2000-an hama ini pernah menyerang sumber pangan warga seperti tanaman padi dan jagung hingga tanaman komoditi seperti kelapa.

BACA JUGA: BPOM: Mutu Pangan Indonesia Ranking 74 dari 109 Negara

Serangan hama belalang ini telah menimbulkan kerawanan pangan hingga kelaparan bagi warga. Menurut Umbu Wulang, atas preseden-preseden tersebut, seharusnya pemerintah sudah dapat mengantisipasi kerawanan, perluasan dan daya rusak dari hama belalang ini.

Berdasarkan data acuan BPS 2015, Walhi memperhitungkan ada sekitar 36 persen lahan sawah warga atau 3.429 hektar dari 9.312 hektar sawah yang ada di Sumba Timur terancam bahaya hama belalang kembara. Jumlah tersebut baru dihitung dari empat kecamatan yang sekarang terkena hama belalang dan hanya memperhitungkan sawah berdasarkan jenis pengairan dan frekuensi tanam. Sawah tadah hujan dan kebun belum termasuk didalamnya.

“Kondisi kerawanan terhadap sektor pertanian dan perkebunan ini belum ditambah dengan tingkat kerawanan di sektor peternakan,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hama-belalang-kembara-serang-sumber-pangan-warga-sumba-timur/feed/ 0
Pendekar Tongkat Emas Hadirkan Kembali Seni Silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/#respond Wed, 17 Dec 2014 10:09:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6798 Judul film: Pendekar Tongkat Emas Sutradara: Ifa Isfansyah Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka […]]]>

Judul film: Pendekar Tongkat Emas
Sutradara: Ifa Isfansyah
Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka Muda), Darius Sinathrya (Naga Putih), Whani Darmawan (Guru Sayap Merah), Landung Simatupang (Guru Cempaka)
Produksi: Miles Films & KG Studio
Durasi: 113 menit

Jika pernah membaca cerita silat karya Kho Ping Hoo atau suka dengan cerita “Si Buta Dari Gua Hantu” dan semacamnya, maka film “Pendekar Tongkat Emas” rasa-rasanya akan mudah untuk dinikmati.

Cempaka (Christine Hakim), pendekar yang sangat disegani dan sangat dihormati dalam dunia persilatan, adalah pemegang maha senjata dan jurus mematikan Tongkat Emas yang kekuatannya tak tertandingi.

Cempaka yang memiliki empat orang murid merasa sudah tiba waktunya untuk mewariskan jurus Tongkat Emas kepada salah seorang muridnya. Sayang, pilihannya justru membuat dua orang muridnya sakit hati dan membunuhnya.

Pengkhianatan, pembunuhan, dan adu jurus silat mewarnai cerita ini hingga akhir. Bumbu percintaan pun tidak ketinggalan menghidupkan jalan cerita. Bagaimana dengan akting para pemainnya? Apakah para pemain ternama ini mampu bertransformasi menjadi pendekar silat yang meyakinkan? Tonton sendiri film ini di bioskop.

Sebagaimana cerita silat yang menampilkan lintas dimensi budaya, entah Jawa, Melayu, Tiongkok, begitupun dengan film “Pendekar Tongkat Emas”. Tim produksi mengangkat keindahan alam dan budaya Sumba Timur sebagai setting film untuk menggambarkan dunia persilatan.

Padang sabana, perbukitan berbatu yang hijau, pantai, dan sungai dengan air yang jernih yang dimiliki Sumba terlihat begitu indah. Kostum yang digunakan semua pemain termasuk dekorasi tempat juga menggunakan kain dengan corak tenun Sumba.

Film “Pendekar Tongkat Emas” akan ditayangkan serentak di bioskop pada tanggal 18 Desember 2014.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/feed/ 0
KLH – Pemprov NTT Kerjasama Tangani Dampak Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/klh-pemprov-ntt-kerjasama-tangani-dampak-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klh-pemprov-ntt-kerjasama-tangani-dampak-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/klh-pemprov-ntt-kerjasama-tangani-dampak-perubahan-iklim/#respond Wed, 27 Mar 2013 08:30:06 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3491 Kupang (Greeners) – Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim, dimana dampaknya sudah semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir, misalnya […]]]>

Kupang (Greeners) – Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim, dimana dampaknya sudah semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir, misalnya musim kemarau yang semakin panjang dan ketidakpastian pola curah hujan.

Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersepakat untuk bekerjasama menangani dampak perubahan iklim di wilayah NTT. Kerjasama tersebut ditandai dengan penyusunan nota kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur, dengan dukungan tiga (3) Kabupaten yaitu Kabupaten Manggarai, Sumba Timur dan Sabu Raijua.

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH, Arief Yuwono dalam keterangan yang diterima Greeners, Selasa (25/03) mengatakan inisiatif pemerintah daerah dalam mengangkat isu dampak perubahan iklim perlu didukung oleh Pemerintah Pusat.

“Harapannya dengan penyusunan nota kerjasama ini akan terlaksana program untuk memfasilitasi penguatan kapasitas adaptasi perubahan iklim di wilayah Nusa Tenggara Timur yang sejalan dengan strategi nasional. Keberhasilan dan pengalaman yang diperoleh dengan pelaksanaan kegiatan di wilayah NTT ini dapat menjadi masukan penting bagi para pengambil kebijakan di tingkatan nasional dan contoh bagi daerah lain di Indonesia,” katanya.

Penanganan dampak perubahan iklim di NTT tersebut dikuatkan oleh KLH melalui program Strategic Planning and Action to strengthen climate resilience of Rural Community (SPARC) atau program penguatan ketahanan iklim untuk masyarakat pedesaan  dalam pencapaian stabilitas ketahanan pangan, air dan mata pencaharian. Nota Kerjasama ini juga menjadi salah satu titik awal implementasi dari program SPARC di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Sedangkan Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya mengharapkan program SPARC dapat meningkatkan kapasitas pemerintah propinsi dan tiga kabupaten serta ketahanan masyarakat desaterhadap perubahan iklim. “Selain itu, diharapkan pula terwujud sebuah integrasi pendekatan adaptasi perubahan iklim dalam program pembangunan daerah,” katanya.

Program SPARC merupakan kerjasama yang didanai oleh the Global Environment Facility’s Special Climate Change Fund dan didukung oleh United Nations Development Programme (UNDP). Program ini memfokuskan kegiatan pada penguatan dan pembangunan lembaga serta masyarakat agar memiliki ketahanan terhadap risiko perubahan iklim dalam aspek stabilitas mata pencaharian, produksi pangan dan akses terhadap air bersih.

Berdasarkan data tahun 2010, NTT merupakan salah satu propinsi dengan presentase angka kemiskinan lebih tinggi (25,7%) dibandingkan dengan rata-rata angka kemiskinan nasional (16%). Perbedaaan kondisi antara tingkat nasional dan provinsi di NTT terefleksi dalam laporan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Meskipun kemajuan berarti telah dapat dicapai oleh Pemerintah Indonesia, Propinsi NTT masih berada jauh dari harapan pencapaian tujuan MDGs tahun 2015.

Kerjasama antara Perserikatan Bangsa-bangsa dengan Pemerintah Indonesia didasari oleh peta jalan pembangunan tahun 2011-2015 yakni the United Nations Partnership for Development Framework (UNPDF). UNPDF tidak hanya mengindetifikasi tujuan pembangunan di wilayah miskin dan rentan namun juga memperkuat kapasitas pada tatanan pusat dan daerah dalam merespon isu perubahan iklim maupun isu kebencanaan. (G03)

]]>
https://www.greeners.co/berita/klh-pemprov-ntt-kerjasama-tangani-dampak-perubahan-iklim/feed/ 0