sumba - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sumba/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 24 Jun 2019 03:25:50 +0000 id hourly 1 Terangi Indonesia, Aksi Weston Energy Untuk Masyarakat Sumba https://www.greeners.co/aksi/terangi-indonesia-aksi-weston-energy-untuk-masyarakat-sumba/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terangi-indonesia-aksi-weston-energy-untuk-masyarakat-sumba https://www.greeners.co/aksi/terangi-indonesia-aksi-weston-energy-untuk-masyarakat-sumba/#respond Mon, 24 Jun 2019 00:00:45 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=23608 Jakarta (Greeners) – Light Up Indonesia yang digagas oleh Weston Energy, salah satu Sociopreneur Enthusiast yang bergerak dalam bidang Green Jobs, akan membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil Metawai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Light Up Indonesia yang digagas oleh Weston Energy, salah satu Sociopreneur Enthusiast yang bergerak dalam bidang Green Jobs, akan membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil Metawai Maringu, Sumba untuk mendapatkan akses listrik menggunakan sebuah alat yang diberi nama Helios.

Alat penyimpan tenaga listrik dengan tenaga panel surya ini, disediakan dengan harapan dapat turut berkontribusi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat Sumba.

CEO Weston Energy Wynn Wijaya mengatakan, aksi Light Up Indonesia adalah inisiatif Ground Up untuk membantu mentransformasi masyarakat melalui dukungan komunitas sosial yang memiliki cinta dan kepedulian terhadap lingkungan di bumi ini.

Light Up Indonesia merupakan suatu campaign yang menjadi platform masyarakat urban untuk berkontribusi membantu masyarakat di Indonesia yang belum teraliri listrik. Sekaligus memberikan edukasi bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum teraliri listrik,” ujar Wynn kepada Greeners usai acara Diskusi Panel “Dimulai dari Kita kepada Lingkungan” di Kemang, Jakarta, Sabtu (22/02/2019).

Foto : www.greeners.co/Dewi Purningsih

Helios adalah sebuah produk penyimpan daya listrik yang berbentuk seperti radio yang didesain dan diproduksi sendiri oleh Weston Energy, dengan manfaat memberikan penerangan untuk tiga lampu sekaligus mengisi baterai HP.

“Karena dengan keterbatasan mereka memahami teknologi, produk Helios ini kita buat se-efektif dan se-efisien mungkin untuk digunakan masyarakat Sumba, untuk memahami produk Helios ini pun kami memberikan capacity building edukasi untuk Mayarakat Sumba supaya bisa menggunakan alatnya dengan baik. Seperti cara memegang, instalasi, hingga implementasi menggunakannya,” terang Wynn.

Wynn berharap bahwa donasi 25 produk Helios yang akan membantu aliran listrik di Desa Mentawai Maringgu ini bisa membangkitkan harapan masyarakat Sumba bahwa listrik yang berfungsi pada aktivitas sehari-hari sudah bisa didapatkan terutama untuk anak-anak belajar.

“Hambatan masyarakat Sumba karena tidak ada listrik terutama anak-anaknya, edukasi masih susah, waktu belajar masih kurang, gimana menjadi generasi penerus kalau gap edukasi masih terhambat sama listrik,”

Acara aksi Light Up Indonesia ini juga didukung oleh Koaksi Indonesia, organisasi yang bergerak di bidang energi terbarukan. Juris Bramantyo selaku Manajer Kampanye Koaksi mengatakan bahwa dibutuhkan aksi-aksi seperti Light Up Indonesia yang dilakukan oleh Weston Energy ini supaya mengangkat target pemerintah dalam hal energi terbarukan 23% di tahun 2025.

“Menurut data ESDM per Desember 2018 energi terbarukan kita masih diangka 11% masih butuh banyak angka yang harus kita kejar, tapi kita tidak bisa hanya rely on pemerintah saja, butuh usaha diri kita sendiri, contohnya apa yang dilakukan oleh teman-teman weston ini,” ujar Juris.

 

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/terangi-indonesia-aksi-weston-energy-untuk-masyarakat-sumba/feed/ 0
Penerapan Energi Terbarukan Pulau Sumba Perlu Perhatian dari Banyak Pihak https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/#respond Tue, 15 Sep 2015 04:53:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11106 Jakarta (Greeners) – Bulan September masih menjadi momok bagi masyarakat Pulau Sumba. Di bulan tanpa air hujan ini, fenomena kekeringan yang berkepanjangan kerap terjadi. Sawah mengering, ladang pun tandus dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bulan September masih menjadi momok bagi masyarakat Pulau Sumba. Di bulan tanpa air hujan ini, fenomena kekeringan yang berkepanjangan kerap terjadi. Sawah mengering, ladang pun tandus dan terbengkalai tak terurus.

Namun, di sebagian wilayah, situasi seperti itu masih bisa diselamatkan. Seperti yang terjadi di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya. Keberadaan Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) yang baru beberapa bulan dibangun di desa ini diakui cukup membantu masyarakat saat mengelola ladang dan sawah mereka di musim kemarau.

Solar Water Pump sendiri merupakan proyek energi terbarukan yang digagas oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional yang bekerjasama dengan Yayasan Sosial Donders untuk pendampingan ke masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun agama.

Cara kerja Solar Water Pump berdaya 1.500 Watt ini dilakukan dengan memompa air sungai untuk kepentingan irigasi dengan memakai tenaga sinar matahari. Pompa air ini mampu memberikan debit air sebesar 50 meter kubik per hari yang cukup memenuhi kebutuhan pengairan bagi lahan tanaman warga.

Field Coordinator Sumba Iconic Island dari Hivos, Adi Lagur pada satu kesempatan mengatakan bahwa apa yang terjadi di Desa Dikira hanyalah sebagian kecil dari apa yang menjadi rencana besar dari proyek Sumba Iconic Island, 100% Energi Terbarukan yang digagas oleh Hivos.

Menurutnya, sudah banyak wilayah yang telah menjadi objek penggunaan energi terbarukan di Sumba. Namun, masih banyak pula yang belum tersentuh sama sekali karena masih membutuhkan pendekatan ke masyarakat.

“Pendekatan ini bukan pekerjaan mudah. Mereka punya kebiasaan adat yang sudah dijalani turun temurun. Apalagi, jika mereka tidak benar-benar memahami manfaat dari energi terbarukan yang kita pasang, nantinya akan sulit bagi mereka untuk menjaganya,” tegas Adi ketika diwawancara di Kota Waingapu, Sumba Timur, Selasa (08/09) lalu.

Sedangkan untuk program Sumba Iconic Island, 100% Energi Terbarukan, Adi menyatakan masih dibutuhkan bantuan dana, teknologi dan investasi dari banyak pihak agar program ini mampu terwujud. Menurutnya, ada integrasi yang sesuai antara akses energi bagi masyarakat dengan pengentasan kemiskinan yang masih merajalela di Pulau Sumba. Apalagi, lanjutnya, Nusa Tenggara Timur termasuk Pulau Sumba masih masuk dalam kategori penduduk dengan kemiskinan terbanyak di Indonesia.

“Jadi, selain penggunaan 100% energi terbarukan, ada misi penting juga yang kita emban yaitu pengentasan kemiskinan masyarakat Sumba,” lanjut Adi.

]]>
https://www.greeners.co/berita/penerapan-energi-terbarukan-pulau-sumba-perlu-perhatian-dari-banyak-pihak/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Guido Pertanyakan Penerapan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/#respond Sun, 13 Sep 2015 01:53:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11096 Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari […]]]>

Kamanggih (Greeners) – Keberadaan teknologi energi terbarukan di beberapa desa yang didatangi oleh tim Ekspedisi Sumba 2015, diakui oleh Guido van Zurk masih kurang dimaksimalkan penggunaannya oleh masyarakat. Ayah dari dua orang anak ini memberi contoh seperti keberadaan Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) yang ada di Desa Dikira.

Menurutnya, meskipun Solar Water Pump tersebut dianggap cukup membantu masyarakat Desa Dikira untuk mendapatkan akses air bersih, namun dalam pelaksanaannya masyarakat masih harus mengambil air tersebut dari kolam tampungan yang jaraknya cukup jauh dari ladang masyarakat.

“Seharusnya selain membuat irigasi, masyarakat bisa menggunakan pipa-pipa panjang untuk mengaliri air dari Solar Water Pump itu. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengambil air dengan ember-ember besar. Itu jelas akan mempermudah karena kami di Belanda melakukan hal itu,” jelas Guido menceritakan pengalamannya, Kamanggih, Selasa (08/09).

Selain agar lebih efisien, kata Guido, pengenalan beberapa teknologi sederhana seperti penggunaan springkle (keran air memutar yang digunakan untuk menyiram tanaman) juga bisa diterapkan di beberapa ladang yang memang memiliki akses air bersih cukup jauh dari penampungan.

Sedangkan untuk mengubah kebiasaan, diakui pria 45 tahun ini, juga tidaklah mudah. Masyarakat desa telah memiliki tradisi tersendiri yang telah dilakukan secara turun-temurun. Oleh karena itu, ia merasa masih perlu dilakukan pendekatan secara persuasif agar pendidikan dan pengembangan kemampuan diri masyarakt bisa berjalan dengan baik.

Seperti misalnya penggunaan teknologi biogas. Alih-alih kagum pada penggunaan biogas untuk memasak, Guido malah merasa bingung karena masyarakat masih saja menggunakan kayu yang diambil dari hutan untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Guido van Zurk, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Padahal, keberadaan biogas yang sudah dibangun bukanlah hal yang mudah dan pasti memberikan dampak yang baik secara efisiensi. Namun ternyata, masyarakat masih tunduk pada kebiasaan adat yang mengharuskan mereka untuk memasak dengan kayu bakar.

“Hal-hal seperti ini tentu akan menjadi sulit karena percuma jika alat sudah terpasang tapi tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya lagi.

Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat masih butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa memahami dan mempelajari betapa bermanfaatnya teknologi dari energi terbarukan yang telah memiliki. Hal itu dibutuhkan agar mereka benar-benar merasa memiliki teknologi tersebut dan setelah ada rasa memiliki, tentunya mereka akan menjaga, merawat dan memanfaatkan teknologi dengan baik.

Sebagai informasi, Guido adalah salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal kota Dordrecht, Belanda. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Guido melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Tujuh peserta yang dimaksud adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Selain Guido, tim dari Belanda yaitu Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-guido-pertanyakan-penerapan-energi-terbarukan/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: Efrat Terenyuh Kondisi Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/#respond Tue, 08 Sep 2015 09:15:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11054 Dikira (Greeners) – Pentingnya akses listrik serta air bersih untuk Desa Dikira di Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya sangat dirasakan oleh salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 […]]]>

Dikira (Greeners) – Pentingnya akses listrik serta air bersih untuk Desa Dikira di Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya sangat dirasakan oleh salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta, Indonesia, Novianus Efrat.

Pemuda 27 tahun ini menyatakan, setelah adanya Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) dan teknologi biogas yang dibangun oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional yang bekerjasama dengan mitra lokal di sana, sedikit banyak telah membantu kehidupan masyarakat khususnya dalam melakukan aktifitas pertanian dan perkebunan.

Namun, menurutnya, warga setempat masih membutuhkan banyak sekali bantuan khususnya untuk alat, dana dan tenaga ahli untuk lebih mengoptimalkan penggunaan Solar Water Pump dan biogas di Desa Dikira.

“Saya merasakan betul bagaimana susahnya hidup tanpa aliran listrik di sini (Desa Dikira) karena sebelumnya saya juga pernah melakukan perjalanan seperti ini di wilayah timur Indonesia yang masalahnya sama,” cerita pria yang sempat aktif di beberapa organisasi pendidikan alternatif ini, Dikira, Jumat (04/09) lalu.

Pemuda yang akrab disapa Efrat ini menyatakan diterimanya ia dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 sejalan dengan ketertarikannya akan energi terbarukan (renewable energi) dan kecintaannya pada anak-anak.

Novianus Efrat, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Novianus Efrat, salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Jakarta. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Menurut Efrat, kebutuhan akan irigasi air untuk persawahan dan akses listrik untuk sekolah dan hidup sehari-hari di Desa Dikira masih sangat jauh dari kata cukup. Oleh karena itu, pengalamannya melihat dan mengalami langsung kehidupan warga Desa Dikira, membuat Efrat berencana untuk menyebarluaskan informasi terkait Desa Dikira tersebut sekembali dirinya ke Jakarta.

“Ini harus diinformasikan. Mereka jelas butuh banyak bantuan dari masyarakat yang cukup mampu di kota-kota besar,” tambahnya.

Di luar kondisi tersebut, Efrat mengaku tersentuh oleh keramahtamahan masyarakat Desa Dikira. Hal ini dikarenakan ia telah merasakan tulusnya masyarakat setempat menerima dan menjamu mereka layaknya keluarga.

“Apalagi waktu kami disambut oleh mereka. Kalau mau jujur, itu sebenarnya saya terharu sekali dengan segala keramahan mereka. Lalu ketika meninggalkan desa, saya langsung merasa harus menginformasikan tentang hal ini kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Dikira adalah salah satu desa yang menjadi tujuan tim Ekspedisi Sumba 2015. Desa ini berada di Sumba Barat Daya dengan 325 Kepala Keluarga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur dan peternak.

Efrat sendiri adalah salah satu peserta asal Kota Jakarta yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Efrat melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Tujuh peserta lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda yaitu Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-efrat-terenyuh-kondisi-desa-dikira/feed/ 0
Mengenal Pompa Barsha dan Memasak Garam di Desa Kadahang https://www.greeners.co/aksi/mengenal-pompa-barsha-dan-memasak-garam-di-desa-kadahang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-pompa-barsha-dan-memasak-garam-di-desa-kadahang https://www.greeners.co/aksi/mengenal-pompa-barsha-dan-memasak-garam-di-desa-kadahang/#respond Mon, 07 Sep 2015 07:04:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11037 Kadahang (Greeners) – Perjalanan tim Ekspedisi Sumba 2015 pada hari ke lima dan enam dimulai di Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sini, Kedelapan […]]]>

Kadahang (Greeners) – Perjalanan tim Ekspedisi Sumba 2015 pada hari ke lima dan enam dimulai di Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sini, Kedelapan orang tim ekspedisi tinggal bersama masyarakat Desa Kadahang dan merasakan bagaimana kegiatan mereka sehari-hari tanpa aliran listrik dan akses air bersih.

Martinus Ndappa Nganjar, Kepala Desa Kadahang mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kadahang hidup dengan cara berkebun. Kebanyakan, jenis yang bisa ditanam hanya jagung dan beberapa umbi-umbian. Oleh karena itu, dirinya dan beberapa penduduk yang peduli terhadap hidup masyarakat mulai melakukan pembinaan agar warga Desa bersedia untuk masuk kedalam kelompok tani dan mulai mempelajari cara bercocok tanam dengan menggunakan pupuk organik serta menanam lebih banyak jenis sayuran.

“Kita punya DAS (Daerah Aliran Sungai) yang luas, sekitar 70 hektar. Tapi karena kekurangan alat dan akses akan energi listrik jadi sangat sulit untuk dimaksimalkan dan itu baru dari sisi pekerjaan masyarakat. Beda dengan sisi kehidupan. Akses air bersih sangat sulit, ditambah penerangan masyarakat hanya menggunakan lampu pelita (obor minyak tanah),” tutur Martinus, Kadahang, Minggu (06/09).

Namun, keadaan menjadi berbeda semenjak dipasangnya pompa Barsha, pompa bikinan aQysta, sebuah perusahaan start up yang berbasis di Delft, Belanda yang berfokus pada pengembangan sistem irigasi menggunakan tenaga air. Martinus mengakui ada sedikit kemudahan yang didapatkan oleh masyarakat Desa Kadahang. Walau baru beberapa lahan saja, tapi sudah mampu mengairi lahan pertanian masyarakat setempat.

Selain itu, karena memanfaatkan tenaga air, pompa ini terhitung low-cost. Selama usia pemakaiannya, pompa ini mampu menghemat hingga 70% biaya pemakaian jika dibandingkan dengan pompa bertenaga diesel atau bensin. Pompa Barsha juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas rumah kaca seperti kalau memakai pompa berbahan bakar diesel atau listrik.

“Pompa ini berkapasitas maksimal 30 ribu liter air per hari, mampu mendorong tegak lurus hingga 15 meter. Dorongannya juga bisa mencapai dua kilometer dari turbin,” tambahnya.

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mengenal-pompa-barsha-dan-memasak-garam-di-desa-kadahang/feed/ 0
Ekspedisi Sumba 2015: “Lompatan” Kebiasaan Franka di Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/#respond Sun, 06 Sep 2015 07:57:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11026 Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing […]]]>

Dikira (Greeners) – Bercocok tanam di tengah terik matahari, mengolah kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti pupuk kompos dan bahan bakar biogas, serta hidup tanpa aliran listrik dan terasing dari dunia luar tentu tidaklah mudah.

Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan Ilmu Sains dan Komunikasi dengan fokus Pendidikan Keberlanjutan ini mengaku seperti mengalami lompatan kebiasaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia jalani sehari-hari di kota asalnya.

“Saya punya banyak teman dan keluarga di negara asal saya. Namun, kami tidak pernah bertemu setiap hari karena harus bekerja dan melakukan aktifitas. Di sini, semuanya berbeda. Semua melakukan sesuatu bersama-sama. Bahkan saya hampir tidak memiliki wilayah pribadi untuk melakukan hal yang pribadi untuk diri saya,” tuturnya, Dikira, Kamis (03/09).

Selain itu, ia juga merasakan sulitnya hidup dalam kondisi yang benar-benar tertinggal dibandingkan dengan hidup di tempat di mana ia dibesarkan. Jika, di Utrech ia bisa membeli kebutuhan untuk makan pada siang hari dengan mudah, sehingga setelah sampai di rumah ia bisa langsung memasak dan mengkonsumsinya.

“Sedangkan di sini, untuk makan saja harus masak dengan waktu yang cukup lama tanpa listrik dan kompor gas yang mempermudah hidup mereka,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Franka sangat senang dengan adanya Solar Water Pump (Pompa Air Tenaga Surya) dan teknologi biogas yang diterapkan di Desa Dikira oleh Hivos yang bekerjasama dengan beberapa mitra lokalnya. Karena, katanya lagi, dengan adanya teknologi tersebut sungguh sangat membantu kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pertanian serta beberapa hal lainnya.

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Franka Maria Bertien Kerklaan (25), salah satu peserta tim Ekspedisi Sumba 2015 asal Utrecht, Belanda. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Khusus untuk biogas, Franka mengaku baru pertama kali melihat dan mempelajari secara langsung mekanisme dan cara kerjanya di Desa Dikira. Karena selama ini ia hanya melihat dari foto dan video yang ia miliki.

Sebelum berangkat ke Sumba, Frangka telah membuat sebuah museum berjalan dari sepeda yang berisi berbagai foto terkait lokasi, keadaan, suasana dan kondisi di Sumba agar orang-orang bisa melihat dan tergerak dan mencari tahu mengenai Sumba.

Kini, setelah ia merasakan sendiri kehidupan di Sumba, khususnya Desa Dikira, ia merasa harus mempublikasikan dan menginformasikan kondisi sebenarnya melalui hasil jepretan yang ia alami sendiri.

Sebagai informasi, Desa Dikira adalah salah satu desa yang menjadi tujuan tim Ekspedisi Sumba 2015. Desa ini berada di Sumba Barat Daya dengan 325 Kepala Keluarga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur dan peternak.

Franka adalah salah satu peserta asal Kota Utrech, Belanda, yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015. Bersama tujuh orang peserta lainnya, Franka melakukan perjalanan untuk mempelajari dan merasakan bagaimana suasana dan keadaan hidup masyarakat Sumba sembari mengkampanyekan perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Selain Franka, tujuh peserta lainnya adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda yaitu Guido, Joyce dan Sylvia.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ekspedisi-sumba-2015-lompatan-kebiasaan-franka-di-desa-dikira/feed/ 0
Tim Ekspedisi Sumba Disambut Hangat dengan Tarian Adat Desa Dikira https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/#respond Fri, 04 Sep 2015 06:09:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=11006 Dikira (Greeners) – Pengembangan proyek energi terbarukan sebagai pemasok energi utama di Pulau Sumba yang digagas oleh Hivos, LSM internasional yang salah satu fokusnya terkait pemanfaatan energi terbarukan telah membawa […]]]>

Dikira (Greeners) – Pengembangan proyek energi terbarukan sebagai pemasok energi utama di Pulau Sumba yang digagas oleh Hivos, LSM internasional yang salah satu fokusnya terkait pemanfaatan energi terbarukan telah membawa delapan orang yang tergabung ke dalam tim Ekspedisi Sumba 2015 tiba di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kedatangan tim yang terdiri dari empat orang asal Jakarta dan empat orang dari Belanda ini disambut baik oleh masyarakat setempat dengan beberapa tarian penyambutan, yaitu tarian adat Woleka, tarian adat Kataga dan Saiso. Direktur Yayasan Sosial Donders (yayasan lokal yang bermitra dengan Hivos), Pater Mikael Keraf, CSSR (47), menyatakan bahwa kehadiran Hivos di Desa Dikira telah banyak membawa manfaat bagi penduduk desa, khususnya dari sisi ekonomi dan kemandirian pangan.

“Kegiatan bantuan dengan konsep ekspedisi seperti ini menurut saya baru Hivos yang punya di seluruh Sumba. Dari hasil evaluasi kami sebelumnya, pola seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat karena langsung menyentuh hati nurani masyarakat,” ujarnya, Dikira, Selasa (01/09).

Kedatangan tim Ekspedisi Sumba 2015, lanjut Pater Mikael, diharapkan dapat mengambil pelajaran dari proyek Solar Water Pump yang telah membantu mengairi persawahan masyarakat desa. Menurut Pater Mikael, sebelumnya, tanah di desa ini merupakan tanah kering dan telah hancur akibat penggunaan pupuk serta pestisida kimia secara berlebihan. Ditambah aliran air yang berada di bawah desa cukup jauh dari lahan persawahan.

Solar Water Pump sendiri adalah proyek energi terbarukan yang digagas oleh Hivos yang bekerjasama dengan Yayasan Sosial Donders untuk pendampingan ke masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun agama.

Cara kerja Solar Water Pump berdaya 1500 Watt ini dilakukan dengan memompa air sungai untuk kepentingan irigasi dengan memakai tenaga sinar matahari yang mampu memberikan debit air 50 meter kubik/hari yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pengairan bagi lahan tanaman warga. Berkat pendidikan dan pendampingan dari Donders, kegiatan pertanian dilakukan secara organik dengan memanfaatkan pupuk alami dari kompos tanaman maupun ampas biogas.

Perubahan Perilaku dan Kebiasaan

Menurut Pater Mikael, setelah tim Ekspedisi kembali ke tempat asal mereka masing-masing, warga desa akan mengambil banyak pelajaran dari kedatangan tim tersebut.

“Dalam prediksi saya, biasanya setelah tim ini pulang, masyarakat akan mengalami yang namanya lompatan energi yang artinya ada semangat baru dalam pikiran mereka. Mereka akan kumpul dan mulai bertanya kenapa orang Belanda dan Jakarta mau datang jauh-jauh mengunjungi kita. Di sana lah nanti kita mulai masuk untuk mendampingi pikiran-pikiran positif membangun yang datang dalam semangat mereka. Tim ini sangat berguna sebagai jembatan antara kita dan mereka,” tambah Pastor Mikael.

]]>
https://www.greeners.co/aksi/tim-ekspedisi-sumba-disambut-hangat-dengan-tarian-adat-desa-dikira/feed/ 0
Perjalanan Tim Ekspedisi Sumba 2015 Dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/#respond Tue, 01 Sep 2015 08:40:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=10975 Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan […]]]>

Bali (Greeners) – Delapan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Sumba 2015 baru saja memulai perjalanan menuju Pulau Sumba yang menjadi bagian dari kampanye perubahan iklim dan energi terbarukan yang dikembangkan oleh Hivos, organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah internasional.

Pada Senin (31/08), ke delapan peserta ekspedisi tiba di Bali untuk saling bertemu. Delapan orang ini terdiri atas empat orang tim Indonesia dan empat orang tim dari Belanda. Mereka bertemu guna menyusun perencanaan tentang apa saja yang akan mereka lakukan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur selama sembilan hari ekspedisi yang dijadwalkan.

Salah satu peserta dari Indonesia, Novianus Efrat (28), atau yang akrab disapa Efrat, mengungkapkan antusiasmenya terhadap rencana proyek percontohan Pulau Sumba sebagai pulau ikonik untuk energi terbarukan tersebut.

Secara fisik, ia mengaku membutuhkan banyak istirahat karena aktifitas yang padat. Namun, baginya hal tersebut tidak menjadi masalah mengingat ekspedisi yang mereka lakukan adalah untuk menjadikan Sumba sebagai pulau percontohan. “Untuk mental, saya sudah sangat siap sejak awal dimulainya pendaftaran ya,” katanya.

Senada dengan Efrat, Guido (45), salah satu peserta dari Belanda, menuturkan hal serupa. Bahkan, ia mengaku senang karena akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia yang selama ini hanya ia ketahui lewat sosial media.

“Sangat senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan tim Indonesia. Mereka sangat ramah dan terbuka. Kami sungguh tidak sabar untuk memulai ekspedisi ini,” ujar Guido.

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Tim Ekspedisi Sumba mempersiapkan alat tulis, buku, dan tas sekolah sumbangan dari para donatur untuk anak-anak sekolah di Sumba. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Sebagai informasi, Ekspedisi Sumba 2015 direncanakan akan memakan waktu selama sembilan hari. Delapan orang peserta tim ekspedisi yang terdiri dari empat orang dari Indonesia dan empat orang dari Belanda, akan mengunjungi tiga desa di Pulau Sumba. Desa ini akan diteliti oleh para peserta sebagai wilayah yang berpotensi untuk membuat proyek energi terbarukan.

Tim ekspedisi akan menjelajahi Pulau Sumba sekaligus berinteraksi dan bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi penerapan energi terbarukan di pulau dengan jumlah populasi kurang dari 700 ribu orang ini.

Kedelapan peserta tersebut adalah Dea Sihotang dari Cibubur, Novianus Efrat dari Jakarta, Saepul Hamdi dari Sukabumi dan Griksa Gunadarma dari Jakarta. Sedangkan tim dari Belanda, yaitu Guido, Franka, Joyce dan Sylvia.

Sandra Winarsa selaku Project Manager Green Energy (Sumba), Hivos Southeast Asia, pada konferensi persnya beberapa waktu lalu menyatakan pada Ekspedisi Sumba tahun 2015 ini, Hivos bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumba, PLN Sumba, komunitas dan LSM setempat untuk bersama-sama dengan merealisasikan energi terbarukan di Sumba.

“Walaupun awalnya pemerintah setempat skeptis dengan apa yang akan kita lakukan, namun seiring berjalannya waktu dan pembuktian nyata, mereka mendukung dan membantu program ini,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/perjalanan-tim-ekspedisi-sumba-2015-dimulai/feed/ 0
Pendekar Tongkat Emas Hadirkan Kembali Seni Silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/#respond Wed, 17 Dec 2014 10:09:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=6798 Judul film: Pendekar Tongkat Emas Sutradara: Ifa Isfansyah Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka […]]]>

Judul film: Pendekar Tongkat Emas
Sutradara: Ifa Isfansyah
Pemain: Eva Celia (Dara), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro(Gerhana), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Rahardjo (Dewan Persilatan), Prisia Nasution (Cempaka Muda), Darius Sinathrya (Naga Putih), Whani Darmawan (Guru Sayap Merah), Landung Simatupang (Guru Cempaka)
Produksi: Miles Films & KG Studio
Durasi: 113 menit

Jika pernah membaca cerita silat karya Kho Ping Hoo atau suka dengan cerita “Si Buta Dari Gua Hantu” dan semacamnya, maka film “Pendekar Tongkat Emas” rasa-rasanya akan mudah untuk dinikmati.

Cempaka (Christine Hakim), pendekar yang sangat disegani dan sangat dihormati dalam dunia persilatan, adalah pemegang maha senjata dan jurus mematikan Tongkat Emas yang kekuatannya tak tertandingi.

Cempaka yang memiliki empat orang murid merasa sudah tiba waktunya untuk mewariskan jurus Tongkat Emas kepada salah seorang muridnya. Sayang, pilihannya justru membuat dua orang muridnya sakit hati dan membunuhnya.

Pengkhianatan, pembunuhan, dan adu jurus silat mewarnai cerita ini hingga akhir. Bumbu percintaan pun tidak ketinggalan menghidupkan jalan cerita. Bagaimana dengan akting para pemainnya? Apakah para pemain ternama ini mampu bertransformasi menjadi pendekar silat yang meyakinkan? Tonton sendiri film ini di bioskop.

Sebagaimana cerita silat yang menampilkan lintas dimensi budaya, entah Jawa, Melayu, Tiongkok, begitupun dengan film “Pendekar Tongkat Emas”. Tim produksi mengangkat keindahan alam dan budaya Sumba Timur sebagai setting film untuk menggambarkan dunia persilatan.

Padang sabana, perbukitan berbatu yang hijau, pantai, dan sungai dengan air yang jernih yang dimiliki Sumba terlihat begitu indah. Kostum yang digunakan semua pemain termasuk dekorasi tempat juga menggunakan kain dengan corak tenun Sumba.

Film “Pendekar Tongkat Emas” akan ditayangkan serentak di bioskop pada tanggal 18 Desember 2014.

(G08)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pendekar-tongkat-emas-hadirkan-kembali-seni-silat/feed/ 0
Cerita Dari Tim Ekspedisi Sumba 2014 https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2 https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/#respond Thu, 11 Sep 2014 04:24:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=5772 Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 31 Agustus – 6 September 2014 lalu, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah mengadakan “Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy” sebagai salah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 31 Agustus – 6 September 2014 lalu, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah mengadakan “Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy” sebagai salah satu bentuk kampanye mencarikan solusi atas ketersediaan energi terbarukan bagi masyarakat Indonesia.

Dewi Suciati selaku Communications Officer Hivos menjelaskan, bahwa Sumba, Nusa Tenggara Timur, adalah daerah dengan penduduk termiskin ke tiga di Indonesia dan juga termiskin nomor satu di Indonesia Timur.

“Sebagian besar masyarakat Pulau Sumba itu belum mendapatkan akses terhadap listrik. Nah, bersama dengan masyarakat Sumba, Hivos berupaya untuk mengubah kondisi tersebut,” ujar Dewi.

Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Pembuatan fasilitas biogas dilakukan bersama dengan volunteer dari Indonesia dan Belanda serta warga setempat. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Tim Ekspedisi Sumba yang terdiri dari empat orang volunteer dari Indonesia dan empat orang volunteer dari Belanda ini, jelas Dewi, telah berkeliling, tinggal, berinteraksi, bekerjasama, dan mencari solusi untuk ketersediaan energi terbarukan bersama masyarakat Sumba.

Salah satu peserta dari Indonesia bernama Shally Pristine, mengaku, bahwa setelah melihat minat dan keinginan dari masyarakat Sumba untuk berubah, dirinya pun merasa optimis dengan masa depan energi terbarukan di Indonesia.

Foto: greeners.co/Hermintia

Volunteer dan warga berfoto bersama sambil menunjukan hasil ladang. Dengan memanfaatkan energi terbarukan, sawah dan ladang warga Lewa, Sumba Timur, dapat di aliri air. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Shally juga menceritakan bahwa dirinya bertemu dengan banyak tokoh lokal yang sangat berpengaruh selama ekspedisi berlangsung. Di antaranya, Pater Mike, seorang pendeta di Sumba Barat Daya, dan Pak Made, seorang petani teladan di Sumba Timur, yang dapat memberdayakan masyarakat di sekitarnya untuk menggunakan energi terbarukan.

Tidak hanya itu, kedua tokoh lokal ini juga mampu mengelola dan merawat fasilitas, seperti biogas maupun micro-hydro, yang telah dibangun bersama masyarakat di desa-desa. Sehingga, masyarakat Sumba mampu memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena mendapatkan akses energi yang telah diperoleh.

“Adanya orang-orang seperti mereka membuat saya percaya bahwa teknologi yang kami tinggalkan di Sumba dapat dijaga dan dirawat, sehingga masyarakat Sumba mampu memperbaiki kualitas hidupnya,” tutur Shally.

Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Panel surya yang sudah terpasang di Sumba. Foto: greeners.co/Hermitianta Prasetya

Setelah melakukan Ekspedisi Sumba ini, tugas para peserta selanjutnya adalah melakukan kampanye tentang pentingnya energi terbarukan dan melakukan penggalangan dana untuk membantu menyediakan listrik melalui teknologi energi terbarukan bagi masyarakat Sumba.

“Tim ekpedisi berencana membangun 10 unit instalasi biogas di Sumba dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi melalui mekanisme crowd funding secara terbuka,” kata Dewi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/cerita-dari-tim-ekspedisi-sumba-2014-2/feed/ 0
Hivos Indonesia Jadikan Sumba Sebagai Pulau Percontohan Energi Terbarukan https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/#respond Tue, 09 Sep 2014 11:58:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=5754 Jakarta (Greeners) – Ketergantungan penduduk Indonesia akan bahan bakar fosil semakin hari terbukti semakin meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari selalu ramainya antrian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ketergantungan penduduk Indonesia akan bahan bakar fosil semakin hari terbukti semakin meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari selalu ramainya antrian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di banyak daerah. Terlebih, setiap kali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), masyarakat seketika panik dan menuntut pemerintah agar tidak menaikkan harga BBM tersebut.

Di beberapa daerah di Indonesia, ketergantungan akan energi fosil juga mengakibatkan banyak wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik. Salah satu permasalahannya adalah kurang tersedianya bahan bakar fosil untuk menghidupkan pembangkit listrik.

Atas dasar kebutuhan akan listrik di beberapa daerah yang masih belum teraliri listrik itulah, Hivos-Indonesia, sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, berupaya membantu mencarikan solusi ketersediaan energi terbarukan bagi masyarakat.

Pada tanggal 31 Agustus hingga 6 September 2014 lalu, Hivos menyelenggarakan Ekspedisi Sumba untuk mendorong tercapainya akses 100% energi terbarukan di Sumba. Lebih dari 500 pendaftar diseleksi dan terpilih 4 orang volunteer dari Indonesia dan 4 orang dari Belanda yang menjadi peserta ekspedisi ini.

Communications Officer Hivos, Dewi Suciati, menjelaskan bahwa Hivos memang memiliki visi tersedianya akses pada 100% energi terbarukan bagi warga Sumba dan ingin menjadikan Sumba sebagai pulau percontohan bagi seluruh dunia. Untuk itulah ekspedisi ini diadakan.

“Kita mau kasih lihat ke dunia bahwa energi terbarukan dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan mendorong terjadinya pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Dewi saat menjadi pembicara pada konferensi pers ‘Ekspedisi Sumba The Iconic Island for Renewable Energy‘ di hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (09/09).

Dewi juga menjelaskan, bahwa kampanye publik “Ekspedisi Sumba” ini merupakan bagian dari kampanye iklim dan energi dengan tujuan untuk mengalihkan konsumsi energi menjadi 100% energi terbarukan di seluruh dunia.

“Tujuan utama kampanye ini untuk menggalang dukungan publik di Indonesia dan Belanda untuk mendukung akses terhadap energi terbarukan di negara-negara berkembang,” katanya.

Dengan adanya ekspedisi ini, Dewi mengharapkan kampanye tentang pentingnya energi terbarukan mampu membuka mata masyarakat, yang secara kebutuhan sebenarnya sangat mampu untuk mengakses bahan bakar fosil. Dan, menyadarkan semua orang bahwa sudah saatnya energi terbarukan menjadi energi utama untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sumba-sebagai-pulau-percontohan-energi-terbarukan/feed/ 0