sumber listrik alternatif - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sumber-listrik-alternatif/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 21 Nov 2017 13:26:20 +0000 id hourly 1 Genting Panel Surya untuk Sekolah di Kenya https://www.greeners.co/ide-inovasi/genting-panel-surya-sekolah-kenya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=genting-panel-surya-sekolah-kenya https://www.greeners.co/ide-inovasi/genting-panel-surya-sekolah-kenya/#respond Tue, 21 Nov 2017 11:41:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19401 Sekolah di pedalaman Kenya sering mendapatkan kesulitan untuk memperoleh energi listrik sementara jalur listrik dari pemerintah harganya mahal. Namun mereka menemukan solusinya dengan genting panel surya.]]>

Sekolah di pedalaman Kenya sering mendapatkan kesulitan untuk memperoleh energi listrik sementara jalur listrik dari pemerintah harganya mahal. Namun dengan genting panel surya buatan Strauss Energy, energi alternatif yang lebih murah dan terbarukan membuat listrik mudah terjangkau.

Ini terbukti di sekolah bernama Gaitheri Secondary School di negara bagian Murang’a, Kenya, yang menjadi sekolah untuk 275 murid. Dengan bantuan listrik dari genting panel surya, memungkinkan murid-murid di sekolah tersebut belajar sampai malam hari dan membuat sekolah bisa memberikan pelajaran komputer.

genting panel surya

Ilustrasi. Foto: Strauss Energy via Facebook

Strauss Energy adalah perusahaan yang berusaha membuat building-integrated photovoltaics (BIPV – panel surya yang terintegrasi dengan bangunan), contohnya pada genting bangunan sekolah ini. Genting tersebut akan menyediakan energi yang ‘hijau’ sementara baterai yang dipasang memungkinkan energi tersebut bisa disimpan dan dipakai saat dibutuhkan. Berkat genting panel surya ini, sekolah tersebut hanya membayar sekitar Rp 200.000,- per bulan untuk listriknya, sebuah harga yang setara dengan biaya abonemen listrik disana.

Jackson Kamau Kiragu, seorang guru di sekolah tersebut, mengatakan bahwa mereka sekarang bisa menawarkan pelajaran komputer di sekolah tersebut. “Ada 18 komputer di sekolah ini, namun listrik disini sangat menyulitkan sampai kemudian datang tawaran dari Strauss Energy,” katanya.

genting panel surya

Ilustrasi. Foto: Strauss Energy via Facebook

Organisasi Christian Aid bersama Pan-African Climate Justice Alliance telah mengadakan sebuah survei di awal tahun ini dan hasilnya adalah data bahwa hanya 57% dari seluruh Kenya yang sudah tersambung ke listrik, jadi kebutuhan untuk listrik di luar jaringan yang sudah ada sangat besar. Kepala Operasional untuk amal di Strauss Energy, Wanjiku, berkata bahwa tujuan mereka mengembangkan teknologi BIPV adalah untuk mengambil manfaat dari matahari di Kenya yang belum termanfaatkan dengan baik.

Teknologi ini mungkin terasa mahal untuk rumah tinggal, sebuah genting berharga antara $20 sampai $250, tergantung ukurannya, hanya optimal untuk sekolah, rumah sakit atau pengembang bangunan. Namun Strauss Energy sedang mencari cara untuk menekan biaya pembuatan genting sambil meningkatkan efisiensinya. Mereka optimis bisa memproduksi 10.000 unit genting per hari.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/genting-panel-surya-sekolah-kenya/feed/ 0
Seratus Persen Listrik Terbarukan Akan Tercapai pada Tahun 2050 https://www.greeners.co/berita/seratus-persen-listrik-terbarukan-tercapai-tahun-2050/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seratus-persen-listrik-terbarukan-tercapai-tahun-2050 https://www.greeners.co/berita/seratus-persen-listrik-terbarukan-tercapai-tahun-2050/#respond Tue, 21 Nov 2017 07:09:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19405 Jika ada yang berpikir dunia digerakkan seratus persen energi terbarukan merupakan mimpi yang mustahil, maka mereka akan terkejut.]]>

BONN, 8 November 2017 – Jika ada yang berpikir dunia digerakkan seratus persen energi terbarukan, — dan akan lebih murah secara signifikan dari masa kini –, merupakan mimpi yang mustahil, maka mereka akan terkejut. Sebuah penelitian terbaru menyatakan jalan tersebut sudah ditempuh.

Transisi global menuju 100 persen energi terbarukan, tidak lagi menjadi visi jangka panjang karena sedang terjadi saat ini, jelas studi tersebut yang digawangi oleh Lappeenranta University of Technology (LUT) di Finlandia dan Energy Watch Group (EWG), dan dipublikasikan pada UN Climate Change Conference, COP23, di Bonn, Jerman.

Para penulis studi tersebut mengatakan bahwa sistem kelistrikan global akan sepenuhnya bergantung kepada energi terbarukan akan segera terwujudkan pada tahun-tahun berikutnya dan menjadi lebih efektif secara biaya ketimbang sistem yang ada saat ini, yang bergantung kepada bahan bakar fosil dan energi nuklir.

Mereka mengatakan bahwa potensi dan teknologi terbaru energi terbarukan, termasuk penyimpanan untuk menjamin ketersediaan energi akan bisa menghasilkan listrik dunia hingga 2050. Dengan dukungan politisi, hal tersebut bahkan bisa terjadi lebih cepat.
Biaya listrik total, — secara kasar, biaya rata-rata — untuk 100 persen listrik terbarukan pada tahun 2050 adalah €52/MWh, dibandingkan dengan €70/MWh pada tahun 2015.

Tidak ada solusi sederhana dalam memecahkan masalah tersebut. Model yang digunakan merupakan yang pertama. Model ini mensimulasikan ketersediaan energi yang efisien dengan mengoptimalkan campuran antara teknologi dengan sumber daya energi terbarukan yang ada di daerah tersebut.

Transisi ke 100 persen energi terbarukan akan menurunkan emisi gas rumah kaca pada sektor listrik menjadi nol dan secara drastis akan menurunkan jumlah pembangkit listrik. Perubahan ini akan menciptakan 36 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2050 dibandingkan 17 juta yang ada saat ini, jelas studi tersebut.

“Tidak ada alasan untuk berinventasi satu dolar untuk bahan bakar fosil atau nuklir,” jelas Presiden EWG Hans-Josef Fell. “Energi terbarukan menyediakan pembangkit listrik dengan biaya yang lebih efektif.”

Penghematan biaya

Christian Breyer, penulis utama dari studi tersebut dan profesor bidang ekonomi surya di LUT, mengatakan, “Semua rencana untuk melanjutkan ekspansi batubara, nuklir, gas dan minyak harus dihentikan. Investasi akan dibutuhkan untuk energi terbarukan dan infrastruktur yang diperlukan. Hal lainnya akan berujung kepada biaya yang tidak perlu dan meningkatkan pemanasan global.”

“De-karbonisasi sepenuhnya dari sistem kelistrikan pada tahun 2050 dimungkinkan pada biaya sistem lebih rendah daripada saat ini, bergantung kepada teknologi yang tersedia. Transisi energi tidak lagi menjadi pertanyaan akan kelaikan teknis atau ekonomis melainkan niat politik,” katanya.

Poin terakhirnya sudah diutarakan beberapa kali. Hampir lima tahun lalu, para peneliti mengatakan bahwa Australia mampu sepenuhnya tergantung kepada energi terbarukan pada tahun 2030 – apabila mampu menggalang kuatnya niatan politik.

Pada tahun 2014, studi lainnya mengatakan bahwa kurangnya niatan politik yangmenghambat dunia beralih sepenuhnya dari bahan bakar fosil. Pada awal tahun ini, dalam salah satu pernyataan di akhir masa kepresidenannya, Barack Obama menyatakan bahwa AS terlibat dalam “perubahan yang tidak terelakkan” (irreversible shift) untuk energi bersih.

Menekan kerugian

Populasi dunia diprediksi akan bertambah dari 7,3 hingga 9,7 miliar orang pada abad ini. Permintaan listrik global akan meningkat dua kali lipat pada pertengahan abad dari 24.310 TWh pada tahun 2015 menjadi 48.800 TWh pada tahun 2050. Akibat biaya yang turun drastis, tenaga Solar Photovoltaic (PV) dan penyimpanan baterai menjadi penggerak dari sistem kelistrikan.

Emisi gas rumah kaca akan menurun secara signifikan, jelas studi tersebut. Dari 11 GtCO2eq pada tahun 2015 menjadi emisi nol pada tahun 2050 atau lebih awal, seiring dengan penurunan total sistem LCOE.

Kerugian pada sistem kelistrikan 100 persen terbarukan sekitar 26 persen dari total permintaan listrik dibandingkan dengan sistem yang ada saat ini yang mencakup 58 persen.

Penelitian ini merupakan tantangan bagi para pembuat kebijakan dan politisi, jelas para penulis, karena menantang argumen yang sering digunakan para kritik energi terbarukan bahwa tidak akan bisa menyediakan energi secara penuh tanpa putus. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/seratus-persen-listrik-terbarukan-tercapai-tahun-2050/feed/ 0
Tisu Toilet Bekas Juga Bisa Menjadi Energi Listrik https://www.greeners.co/ide-inovasi/tisu-toilet-bekas-menjadi-energi-listrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tisu-toilet-bekas-menjadi-energi-listrik https://www.greeners.co/ide-inovasi/tisu-toilet-bekas-menjadi-energi-listrik/#respond Tue, 10 Oct 2017 07:00:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=18942 Ilmuwan baru-baru ini telah menemukan cara untuk menghasilkan energi melalui limbah tisu toilet. Mereka mengklaim jika energi tisu toilet bekas tersebut memiliki efisiensi setara pembangkit listrik tenaga gas dan panel surya rumahan.]]>

Ilmuwan baru-baru ini telah menemukan cara untuk menghasilkan energi melalui limbah tisu toilet. Para ilmuwan dari Universitas Utrecht dan Amsterdam di Belanda, mengklaim jika energi tisu toilet bekas tersebut memiliki efisiensi setara pembangkit listrik tenaga gas dan panel surya rumahan.

Mereka mengembangkan prosedur dua langkah yang bertujuan untuk mengembalikan tisu kotor tersebut ke bentuk awal tisu yang menyerupai kayu.

Dilansir Live Science, tisu-tisu tersebut dikumpulkan dari fasilitas pengolahan air, lalu dikeringkan dan diubah menjadi gas di dalam ruang dengan suhu mencapai 900 derajat Celsius. Material-material seperti tar, abu, dan uap dibuang sehingga menyisakan metana, karbon dioksida, dan karbon monoksida.

Gas tersebut lalu dialirkan ke dalam solid-oxide fuel cell yang diatur dengan temperatur tinggi untuk menghasilkan listrik rendah emisi melalui metana.

tisu toilet

Ilustrasi: UvA/HIMS via Live Science.com

Sisa-sisa panas yang dihasilkan sel bahan bakar tersebut bisa digunakan untuk mengeringkan tisu toilet selanjutnya. Sistem sirkulasi ini mampu memangkas emisi karbon hingga 1/6 lebih rendah dari pembangkit listrik tenaga batu bara, lalu mampu memproduksi listrik dua sampai tiga kali lebih banyak daripada metode pembakaran konvensional.

Jika semua tisu toilet bekas di Amsterdam diubah menjadi listrik setiap harinya, fasilitas pengolahan air mampu menghemat 40 persen energi untuk memisahkan tisu toilet dari air, energi tersebut juga bisa digunakan untuk menerangi 6.400 unit rumah.

Meski fasilitas ini dapat memperoleh tisu tanpa biaya karena tisu-tisu tersebut diperlakukan sebagai limbah ketimbang sumber daya, namun para peneliti menyatakan bahwa teknologi bahan bakar-sel belum mencapai kesimpulan bahwa membangun fasilitas ini akan efektif dari segi biaya.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tisu-toilet-bekas-menjadi-energi-listrik/feed/ 0
Lampu Shine, Satu Kali Pengisian Tahan Hingga 30 Jam https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-shine-satu-kali-pengisian-tahan-hingga-30-jam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lampu-shine-satu-kali-pengisian-tahan-hingga-30-jam https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-shine-satu-kali-pengisian-tahan-hingga-30-jam/#respond Sat, 03 Oct 2015 10:00:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11364 Sebuah proyek inovasi terbaru yang akan membawa energi keberlanjutan bergerak lebih jauh kedepan kembali diperkenalkan melalui situs Kickstarter. Proyek terbaru yang datang dari Voltaic System ini bernama Shine. Sebuah panel surya […]]]>

Sebuah proyek inovasi terbaru yang akan membawa energi keberlanjutan bergerak lebih jauh kedepan kembali diperkenalkan melalui situs Kickstarter. Proyek terbaru yang datang dari Voltaic System ini bernama Shine. Sebuah panel surya yang kecil, ringan dilengkapi dengan sebuah charger USB yang sanggup memproduksi listrik untuk sebuah lampu LED selama lebih dari 30 jam dalam satu kali pengisian.

Alat modern ini mudah dipindah-pindahkan. Tidak itu saja, Shine juga tahan air sehingga berpotensi menghasilkan sumber energi yang dapat diandalkan untuk semua orang di manapun dan kapan saja. Baik itu di rumah maupun di lokasi bencana yang sulit mendapatkan akses listrik.

Lampu SHINE karya Voltaic System. Foto: inhabitat.com

Lampu SHINE karya Voltaic System. Foto: inhabitat.com

Baterai internal yang ada di dalam alat ini jauh lebih mampu memberikan energi dibandingkan alat-alat yang sejenis. Desain yang menarik dan warna yang terang. Hal ini menjadi sangat penting saat kejadian bencana alam.

Saat topan Sandy menerpa daerah kantor Voltaic System di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, mereka terdorong untuk merancang alat yang lebih baik, sumber daya yang lebih efisien terutama untuk mereka yang membutuhkan. Pada akhirnya, Shine terbukti tidak hanya bisa dipakai saat keadaan darurat namun juga bisa menolong untuk menghemat energi di manapun lokasinya.

Lampu SHINE karya Voltaic System. Foto: inhabitat.com

Lampu SHINE karya Voltaic System. Foto: inhabitat.com

Sekitar 1 miliar orang di dunia ini hidup tanpa listrik dan terkadang itu terjadi bukan karena pilihan. Bayangkan kehidupan tiap hari tanpa akses ke sumber listrik dan cahaya. Shine memilik potensi untuk menjadi solusi dari masalah tersebut.

Perusahaan Voltaic system adalah sebuah perusahaan yang memfokuskan diri untuk sumber daya dan sumber cahaya portabel. Voltaic System terkenal karena alat yang mereka buat, sebuah ransel punggung (backpack) pembangkit listrik. Backpack ini memiliki panel surya di bagian luarnya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-shine-satu-kali-pengisian-tahan-hingga-30-jam/feed/ 0
Target 50 Persen Energi Terbarukan di Eropa https://www.greeners.co/ide-inovasi/target-50-persen-energi-terbarukan-di-eropa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=target-50-persen-energi-terbarukan-di-eropa https://www.greeners.co/ide-inovasi/target-50-persen-energi-terbarukan-di-eropa/#respond Thu, 09 Jul 2015 07:09:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10224 Secara keseluruhan, Uni Eropa memiliki target yang paling berani dalam hal energi terbarukan. Komitmen mereka saat ini adalah pada tahun 2030 setidaknya 27 persen dari konsumsi energi mereka berasal dari energi […]]]>

Secara keseluruhan, Uni Eropa memiliki target yang paling berani dalam hal energi terbarukan. Komitmen mereka saat ini adalah pada tahun 2030 setidaknya 27 persen dari konsumsi energi mereka berasal dari energi terbarukan. Namun sebuah laporan baru dari komisi di Uni Eropa, yang sudah bocor ke media The Guardian, menunjukkan bahwa target ini sudah berubah, Uni Eropa diharapkan menggunakan 50 persen energi terbarukan.

Saat ini, sekitar seperempat energi listrik Uni Eropa datang dari energi terbarukan. Sebagai tambahan dari target 27 persen energi bersih yang dipakai, mereka juga menetapkan target untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 40 persen dibandingkan tahun 1990. Menurut The Guardian, komisi Uni Eropa itu melaporkan bahwa untuk mencapai target di bidang energi dan iklim di Uni Eropa tahun 2030 berarti meningkatkan penggunaan energi terbarukan sebanyak 50 persen dari kapasitas listrik terpasang.

Semua ini berarti peningkatan besar-besaran terhadap jaringan listrik di daratan tersebut akan datang lebih cepat sehingga memuluskan transisi penggunaan listriknya ke energi yang terbarukan. Lebih jauh lagi, komisi tersebut melaporkan bahwa diperlukan sebuah sistem pengalihan daya listrik yang lintas batas antar negara sehingga energi terbarukan bisa dipakai secara langsung untuk memenuhi kebutuhan yang ada, tanpa memerlukan tempat penyimpanan.

Namun komisi ini juga menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa telah membuat sendiri target energi terbarukan mereka, dimulai dari 10 persen oleh negara Malta sampai ke 49 persen oleh Swedia. Ditambahkan juga bahwa target 27 persen untuk 2030 dibuat sebagai perjanjian yang tidak mengikat dan bahwa Belanda, Inggris dan Perancis bisa jadi meleset dari target negara mereka masing-masing.

Berbicara kepada Guardian, Oliver Joy – juru bicara untuk Asosiasi Energi Angin untuk Eropa, meminta Uni Eropa untuk menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang mencegah beberapa negara Uni Eropa tertinggal dibanding negara yang lain di bidang energi terbarukan ini.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/target-50-persen-energi-terbarukan-di-eropa/feed/ 0
Berhemat Listrik dengan UNplug https://www.greeners.co/ide-inovasi/berhemat-listrik-dengan-unplug/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berhemat-listrik-dengan-unplug https://www.greeners.co/ide-inovasi/berhemat-listrik-dengan-unplug/#respond Thu, 04 Jun 2015 10:44:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9446 Insinyur perangkat lunak Markus Loeffler ingin membantu konsumen untuk mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik dan menghemat biaya tagihan listrik. Markus meluncurkan proyeknya “One Fridge Off the Grid” yang terinspirasi dari kejadian badai […]]]>

Insinyur perangkat lunak Markus Loeffler ingin membantu konsumen untuk mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik dan menghemat biaya tagihan listrik. Markus meluncurkan proyeknya “One Fridge Off the Grid” yang terinspirasi dari kejadian badai parah di tahun 2011 dan mengakibatkan matinya jaringan listrik. Pada saat momen itu terjadi, Markus hidup selama beberapa hari tanpa listrik. Akibatnya, semua persediaan makanan di kulkasnya membusuk.

Bertekad untuk menghindari kejadian yang sama di masa depan, Markus menghabiskan waktu selama empat tahun untuk mengembangkan produk yang ia sebut UNplug. UNplug adalah sebuah metode penghematan daya listrik yang sederhana, murah dan beroperasi secara otomatis.

Peralatan UNplug. Foto: www.kickstarter.com

Peralatan UNplug. Foto: www.kickstarter.com

UNplug dapat disebut sebagai produk revolusioner, terutama karena memungkinkan konsumen untuk menyediakan sendiri sumber daya listrik di rumah masing-masing dengan menggunakan sebuah panel surya dan baterai dan sanggup memastikan sumber daya listrik yang tidak terputus setiap saat. Selain itu, mewujudkan listrik yang lancar namun tetap aman dan penghematan biaya, menggunakan UNplug akan membantu menjawab tantangan lingkungan.

UNplug membantu penggunanya untuk menghemat listrik. Foto: www.kickstarter.com

UNplug membantu penggunanya untuk menghemat listrik. Foto: www.kickstarter.com

Produk sehari-hari seperti lemari pendingin, laptop, dan modem bila digabungkan akan mengonsumsi kurang lebih 622 kWh setiap tahun. Hal ini berarti membuang 150kg CO2 ke udara. UNplug memungkinkan penggunanya untuk memutuskan jaringan listrik utama dan beralih pada sumber daya listrik yang bersih untuk benda-benda yang diutamakan untuk dipakai.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/berhemat-listrik-dengan-unplug/feed/ 0
Ilmuwan Kembangkan Baterai Ramah Lingkungan dari Kayu https://www.greeners.co/ide-inovasi/para-ilmuwan-mengembangkan-baterai-yang-tahan-lama-dan-ramah-lingkungan-dari-kayu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=para-ilmuwan-mengembangkan-baterai-yang-tahan-lama-dan-ramah-lingkungan-dari-kayu https://www.greeners.co/ide-inovasi/para-ilmuwan-mengembangkan-baterai-yang-tahan-lama-dan-ramah-lingkungan-dari-kayu/#respond Tue, 27 May 2014 02:00:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=4712 Saat mencari inspirasi untuk menciptakan baterai yang ramah lingkungan, para peneliti dari University of Maryland, Liangbing Hu, Teng Li, dan timnya mencari di pepohonan. Penemuan mereka menggunakan potongan kecil kayu […]]]>

Saat mencari inspirasi untuk menciptakan baterai yang ramah lingkungan, para peneliti dari University of Maryland, Liangbing Hu, Teng Li, dan timnya mencari di pepohonan. Penemuan mereka menggunakan potongan kecil kayu dari pohon-pohon pinus kuning yang dilapisi timah untuk menciptakan sebuah alat yang jauh lebih tipis dari selembar kertas. Alih-alih menggunakan lithium, mereka memilih sodium yang walaupun tidak efisien dalam menyimpan energi, tapi merupakan bahan yang lebih murah dan lebih mudah didapatkan. Anda mungkin tidak akan menemui baterai ini pada peralatan portabel, tapi ini bisa menjadi pilihan ideal untuk bangunan berskala besar seperti pembangkit listrik.

Baterai-baterai yang umum dibuat dengan dasar yang kaku yang tidak memungkinkan untuk mengakomodasikan kontraksi dan ekspansi yang besar. Tim peneliti di University of Maryland menemukan bahwa serat-serat kayu yang mereka gunakan bisa cukup mengembang dan berkontraksi untuk membuat baterai sodium-ion bertahan selama lebih dari 400 siklus pengisian ulang dan menyaingi sebagian besar baterai nano lainnya.

Setelah beberapa kali pengujian, ketua penulis Hongli Zhu dan rekan-rekannya menemukan bahwa serat-serat itu akan mengerut, tapi tetap utuh. Contoh dari komputer membuat mereka mengerti bahwa kerutan-kerutan ini mengurangi tekanan dan ada di dalam baterai selama pengisian ulang, membuatnya bertahan lebih lama. Cukup lembut untuk membantu menahan ikatan pada perubahan di timah saat ion-ion sodium terdorong, serat-serat ini berfungsi sebagai kunci keberhasilan baterai ini.

“Serat-serat kayu yang menopang pohon mengandung air yang kaya mineral, dan sangat ideal untuk menyimpan elektrolit cair, yang tidak hanya menjadikannya sebagai dasar tapi juga bagian aktif dari baterai ini,” kata Hu. Dengan menggunakan bahan yang umum dan murah serta penggunaan biomimicry, kelompok ini berhasil membuat langkah besar dalam mengurangi polusi dan meningkatkan potensi penyimpanan energi hijau.

sumber : http://bit.ly/1nLhlXE

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/para-ilmuwan-mengembangkan-baterai-yang-tahan-lama-dan-ramah-lingkungan-dari-kayu/feed/ 0