sumber pangan asli - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sumber-pangan-asli/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 22 Jan 2021 05:13:50 +0000 id hourly 1 Sagu, Tanaman Pangan Lokal Alternatif di Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/sagu-tanaman-pangan-lokal-alternatif-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sagu-tanaman-pangan-lokal-alternatif-indonesia-timur Tue, 23 Jan 2018 08:15:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19871 Tanaman sagu tidak asing bagi penduduk di wilayah timur Indonesia. Hasil olahan pati dari batang sagu menghasilkan beragam makanan kaya gizi. Tidak hanya itu, tanaman ini juga menyimpan potensi sebagai bioetanol. ]]>

Mendengar kata “papeda” pasti tak asing lagi di telinga kita, apalagi bagi pecinta kuliner Nusantara. Papeda adalah makanan khas dan kebanggaan dari tanah Papua dan Maluku. Tekstur makanan ini unik karena seperti lem. Bagi yang tidak tahu, papeda terbuat dari olahan pati pada batang tumbuhan sagu.

Tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.), atau sering disebut juga palma rawa, termasuk dalam famili palmae dan merupakan tanaman yang menyimpan pati pada batangnya. Pati sagu didapat dari tanaman yang sudah dewasa (Burkill 1935 dalam Hassan, 2002). Terdapat beberapa genus Palmae yang patinya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga karena kandungan patinya cukup tinggi. Sagu merupakan tanaman hidrofilik, hapaxanthic (berbunga satu kali), dan soboliferous (mempunyai anakan).

Berdasarkan sumber yang dirangkum dari kajian penelitian Institut Pertanian Bogor, secara morfologi sagu memiliki batang berbentuk silinder atau bulat memanjang dengan diameter sekitar 50-60 cm, bahkan dapat mencapai 80-90 cm. Pada umumnya diameter batang bagian bawah lebih besar dibandingkan dengan diameter batang bagian atas.

Tumbuhan sagu memiliki batang tertinggi apabila telah sampai pada umur panen yakni 11 tahun atau lebih. Pada masa itu tinggi pohon sagu mencapai 13-16 m, tetapi ada pula yang dapat mencapai 20 m dengan bobot sekitar satu ton (Haryanto dan Pangloli 1992). Batang tumbuhan sagu terdiri dari lapisan kulit bagian luar yang keras berupa lapisan epidermal dan bagian dalam berupa empulur yang mengandung serat-serat dan pati.

tanaman sagu

Batang sagu yang sudah mengandung pati. Foto: wikemedia commons

Tanaman sagu memiliki akar serabut. Pada awal pertumbuhan tumbuh akar primer dan dalam pertumbuhan lanjutannya tumbuh dan berkembang akar-akar sekunder. Pada daunnya, sagu memiliki sistem daun menyirip yang tumbuh pada tangkai daun. Pada bagian tajuk terdapat sekitar 6-15 rangkaian daun (ental) dan pada setiap rangkaian terdapat pelepah daun, tangkai daun, dan kurang lebih 20 pasang helai daun dengan panjang antara 60-80 cm.

Daun muda umumnya berwarna hijau muda, kemudian dengan bertambah waktu secara berangsur-angsur berubah menjadi hijau tua, selanjutnya berubah lagi menjadi coklat kemerah-merahan apabila daun telah tua. Tangkai daun yang telah tua tersebut akan terlepas dengan sendirinya dari batang, dan meninggalkan bekas pada kulit batang.

Tumbuhan sagu mulai berbunga dan berbuah pada umur sekitar 10-15 tahun. Malai bunga menyerupai tanduk rusa yang terdiri atas cabang utama, sekunder, dan tersier. Pada cabang tersier terdapat sepasang bunga jantan dan bunga betina. Jumlah struktur bunga sekitar 15-25 cabang utama dengan panjang 2-3 meter, cabang sekunder terdapat 15-22 cabang, dan cabang ketiga terdapat 7-10 cabang (Jong 2005).

Buah sagu berbentuk bulat menyerupai 15 buah salak dan mengandung biji yang fertil. Waktu antara mulai muncul bunga sampai fase pembentukan buah diperkirakan sekitar 2 tahun (Haryanto dan Pangloli 1992). Jumlah buah yang dihasilkan per pohon sagu yaitu sekitar 2.174-6.675 buah (Jong 2005).

Sumber pangan alternatif

Ketergantungan bangsa Indonesia terhadap beras sangatlah tinggi, terkadang Indonesia harus mengimpor beras dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan pokok dalam negeri. Oleh karena itu, upaya mengurangi ketergantungan terhadap beras dapat dilakukan salah satunya adalah dengan cara mencari alternatif atau mengeksplorasi bahan pangan lain, yang dimana sagu merupakan tanaman pangan lokal yang memiliki segudang potensi di dalamnya.

Sagu merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang memegang peranan penting dalam mendukung program diversifikasi sebagai pendamping beras selain jagung dan umbi-umbian. Keistimewaan lain dari tumbuhan ini ialah sagu merupakan penghasil karbohidrat yang cukup tinggi. Perlu diketahui bahwa kandungan kalori sagu sekitar 357 kalori, relatif sama dengan jagung yaitu 360 kalori ataupun beras giling sekitar 366 kalori.

Potensi sagu di Indonesia mencapai kurang lebih 50% dari sagu dunia. Secara alami tumbuhan sagu tersebar 17 hampir di setiap pulau di Indonesia dengan luasan terbesar berpusat di Papua, sedangkan sagu semi budidaya terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Uniknya, sagu sejak dahulu telah memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat terutama di kawasan Indonesia bagian timur, baik sebagai sumber bahan makanan pokok maupun sebagai bahan bangunan.

Selain itu, kajian Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (2013) mengungkapkan bahwa sagu dapat dijadikan bahan baku pembuatan etanol. Ini berarti sagu di Indonesia juga memiliki potensi untuk menghasilkan bioethanol sebagai subtitusi bahan bakar dari energi fosil. 

Melihat dari pontensi sagu yang sangat tinggi maka perlunya usaha pembudidayaan tanaman ini. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia, meningkatnya eksploitasi hutan sagu alami didorong oleh meningkatnya permintaan produk sagu dari luar dan dalam negeri. Penebangan yang tidak bijaksana dapat menurunkan produktivitas hamparan hutan sagu dan hilangnya jenis sagu yang potensial untuk dikembangkan.

tanaman sagu

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
Sorgum, Sumber Pangan Lokal Potensial Pengganti Beras https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/#respond Tue, 10 Nov 2015 05:45:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11846 Dominasi beras lambat laun berimbas pada ketersediaan bahan pangan lokal di masing-masing daerah, termasuk sorgum.]]>

Berbicara mengenai pangan, khususnya bahan makanan pokok, kebanyakan dari kita akan menyebutkan beras. Hal ini menjadi lumrah karena sejak era 80-an, pemerintah menggalakkan penanaman padi, yang menghasilkan beras, ke seluruh daerah di Indonesia. Itu sebabnya beras menjadi bahan makanan pokok nomor satu di Indonesia.

Dominasi beras ini lambat laun berimbas pada ketersediaan bahan pangan lokal di masing-masing daerah. Dari sekian banyak sumber pangan lokal di Indonesia, sorgum menjadi salah satu bahan pangan yang tergeser oleh beras.

Pegiat pangan dari Terminal Benih Nissa Wargadipura, menyatakan bahwa sorgum sebenarnya ada di hampir semua wilayah di Indonesia. Penggalakan beras, sebut Nissa, hanya menjadikan sorgum sebagai pangan ternak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebenarnya tidak ada pemilahan-milahan dalam pangan. Semua itu (pangan) untuk manusia, bukan hanya ternak,” jelas Nissa kepada Greeners beberapa waktu lalu.

Menurut Nissa, sorgum merupakan sumber pangan yang tidak memerlukan perawatan yang rumit. Tanaman itu, disebutnya, membutuhkan air yang lebih sedikit ketimbang padi. Sorgum juga memiliki daya tahan yang bagus terhadap iklim. Tidak hanya dapat ditanam di daerah kering seperti NTT, sorgum juga dapat ditanam di daerah yang cukup basah.

“Sorgum bisa sangat bagus jika ditanam di daerah seperti Jawa,” ujar perempuan yang juga mengurus Pesantren At Thaariq, Garut.

Selain perawatan yang tidak rumit, sorgum juga dinilai memiliki kandungan gula yang lebih rendah dari padi sehingga dapat menjadi sumber pangan bagi penderita diabetes. Indonesia sendiri adalah negara yang masuk dalam 5 besar dalam jumlah penderita diabetes di dunia.

Nissa yang telah menanam biji sorgum sejak awal tahun ini, menyatakan bahwa tidak seharusnya sorgum menjadi pangan yang terpinggirkan. Pasalnya, sorgum memiliki segala potensi sebagai alternatif pangan pengganti nasi, baik dari segi ekonomis maupun kandungan gizinya. Sorgum pun dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, seperti bubur dan roti.

Maraknya impor beras yang dilakukan pemerintah, menurut Nissa, setidaknya dapat dikurangi secara perlahan dengan pembudidayaan sorgum. “Sebaiknya kita mengubah tatanan pola makan di tingkat konsumsi keseharian kita,” katanya.

Tabel perbandingan kandungan antara sorgum dan beras (Betti, dkk. 1990). Sumber: www.biodiversitywarriors.org

Tabel perbandingan kandungan antara sorgum dan beras (Betti, dkk. 1990). Sumber: www.biodiversitywarriors.org

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/feed/ 0
Berdayakan Pangan Lokal Sebagai Bantuan Pangan untuk Korban Bencana https://www.greeners.co/berita/berdayakan-pangan-lokal-sebagai-bantuan-pangan-untuk-korban-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berdayakan-pangan-lokal-sebagai-bantuan-pangan-untuk-korban-bencana https://www.greeners.co/berita/berdayakan-pangan-lokal-sebagai-bantuan-pangan-untuk-korban-bencana/#respond Mon, 13 Jul 2015 04:38:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10308 Jakarta (Greeners) – Pada tahun 2014, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terjadi 1.559 bencana di Indonesia yang menyebabkan 490 jiwa menjadi korban dan mempengaruhi kehidupan dua juta orang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tahun 2014, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terjadi 1.559 bencana di Indonesia yang menyebabkan 490 jiwa menjadi korban dan mempengaruhi kehidupan dua juta orang lainnya. Saat bencana datang, bantuan utama yang sangat dibutuhkan selain kesehatan adalah pangan.

Namun, kebanyakan bantuan pangan yang diterima oleh masyarakat yang menjadi korban bencana alam berwujud mi instan maupun beras. Padahal, bantuan tersebut justru beresiko menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap terigu dan beras. Dalam jangka panjang, solusi ini tentu tidak menyelesaikan masalah lantaran di kawasan tertentu, bencana selalu datang tahunan.

Melalui keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Program Officer untuk Ekosistem Pertanian, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Puji Sumedi mengutarakan, jika menilik peta rawan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, lebih dari separuh wilayah di Nusa Tenggara Timur berwarna merah. Ini artinya risiko bencana tinggi, termasuk di dalamnya adalah kekeringan. Musim kering di Nusa Tenggara, berimplikasi langsung ke dalam ketersediaan pangan.

Kasus terakhir adalah bencana kelaparan di lima desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Juni 2015. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah, bantuan datang berupa beras 24 ton dan 800 kardus mi instan dari Menteri Sosial serta 50 ton dari pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut tentu tidak menyelesaikan masalah karena kelaparan terjadi karena sawah dan kebun milik warga tidak bisa ditanami akibat kekeringan yang panjang.

“Oleh karena itu, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menyiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana sehingga mampu mengurangi risikonya (mitigasi) untuk beradaptasi. KEHATI sendiri mendorong pelestarian sumber pangan lokal sesuai dengan potensi setempat atau diversifikasi pangan,” jelas Puji, Jakarta, Sabtu (11/07).

Model pelestarian sumber pangan lokal itu sendiri, lanjut Puji, bisa dilakukan dengan memanfaatkan kembali lumbung pangan lokal. Baik yang ada di keluarga maupun di tingkat desa. Namun yang terpenting adalah mengubah pola pikir masyarakat untuk kembali mengonsumsi pangan lokal itu sendiri.

“Sejak 2013 itu KEHATI telah menggandeng mitra-mitra lokal di NTT untuk membangun kedaulatan pangan berbasis sumber pangan lokal,” tambahnya.

Mulai dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sumba Timur dan Pulau Flores, warga diajak untuk membudidayakan kembali jagung lokal, ragam sorgum, umbi-umbian dan jewawut. Selain itu KEHATI juga mendampingi masyarakat untuk dapat mengelola paska panen yang benar, mengolah sorgum menjadi makanan enak dan sehat untuk keluarga, terutama untuk anak-anak.

Keanekaragaman pangan di tiap daerah dapat menjadi cadangan pangan, termasuk saat bencana terjadi. Menurut Puji, pada dasarnya model diversifikasi pangan yang dilakukan KEHATI sejalan dengan mandat UU Pangan no. 18 Tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah no 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.

“Tinggal pemerintah dan masyarakat yang berkomitmen agar pangan lokal terintegrasi dengan kebijakan daerah. Karena yang sulit adalah mengubah pola pikir beras sebagai makanan pokok dan menaikkan derajat pangan lokal sebagai sumber pangan kaya gizi, aman serta menggugah selera. Dan lewat kebijakan daerah, kebiasaan bisa perlahan diubah,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/berdayakan-pangan-lokal-sebagai-bantuan-pangan-untuk-korban-bencana/feed/ 0
Mendukung Sumber Pangan Non Beras untuk Ketahanan Pangan https://www.greeners.co/berita/mendukung-sumber-pangan-non-beras-untuk-ketahanan-pangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mendukung-sumber-pangan-non-beras-untuk-ketahanan-pangan https://www.greeners.co/berita/mendukung-sumber-pangan-non-beras-untuk-ketahanan-pangan/#respond Mon, 08 Jun 2015 09:41:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9530 Jakarta (Greeners) – Salah satu kebutuhan dasar utama yang harus dipenuhi untuk hidup adalah pangan. Dari segi potensi ketersediaan, seharusnya Indonesia patut berbangga karena negara ini diberkahi dengan sumber daya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Salah satu kebutuhan dasar utama yang harus dipenuhi untuk hidup adalah pangan. Dari segi potensi ketersediaan, seharusnya Indonesia patut berbangga karena negara ini diberkahi dengan sumber daya pangan yang seakan tidak terbatas.

Namun sayangnya, saat ini, dari begitu banyaknya sumber daya pangan yang dimiliki oleh Indonesia, masyarakat masih sangat tergantung pada beras sebagai pangan utama. Padahal, menurut Murdjiati Gardjito dari Pusat Kajian Pangan Tradisional Universitas Gajah Mada (UGM), jika melihat kembali pada masa lampau sebelum pulau-pulau utama Indonesia terhubung secara baik, pangan masyarakat di beberapa kawasan di Indonesia bukanlah beras.

Seperti sumber pangan utama di Maluku dan Papua yang mengonsumsi Sagu, jagung di Nusa Tenggara Timur dan Madura, ubi jalar di sebagian kawasan Papua, dan sorgum yang menjadi pangan utama di beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur. Kemudahan perhubungan antar pulau memicu perubahan kekhasan daerah terhadap sumber pangan non beras ke arah beras. Dari segi rasa, beras lebih mudah diterima oleh pemakan non beras.

“Di sini kita harus bisa melihat bahwa beberapa ancaman masa depan yang memengaruhi ketersediaan pangan khususnya beras di Indonesia merupakan hal yang nyata yang bisa terjadi kapanpun,” ujarnya pada keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (08/06/2015).

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan penduduk yang besar, perubahan iklim, dan kondisi geografis yang ekosistemnya tidak selalu sesuai untuk budidaya padi akan menimbulkan kerentanan di masa yang akan datang. Sedikit saja terjadi gagal panen padi, maka ketersediaan pasokan akan terganggu dan kekurangan pangan dapat berujung pada bahaya kelaparan akan muncul di depan mata.

Menurut laporan Bappenas tahun 2013, terangnya, jumlah penduduk Indonesia akan meningkat dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Melihat proyeksi tersebut, maka sudah seharusnya pemerintah mulai melakukan rencana jangka panjang yang strategis untuk mendorong masyarakat menghidupkan kembali sumber pangan asli non beras yang secara alami tumbuh di wilayahnya.

Kembalinya pola makan masyarakat pada sumber pangan alami ini, ia melanjutkan, akan mendukung terjadinya ketahanan pangan sekaligus kedaulatan pangan di masa yang akan datang. Selain itu juga dapat menekan transportasi pangan untuk mengurangi emisi karbon. Kearifan lokal ini seharusnya menjadi dasar dari strategi makro ketahanan pangan Indonesia.

“Yang menjadi masalah adalah, selama ini Badan Pusat Statistik hampir tidak pernah membuat data tentang sumber pangan non beras. Data-data terkait besaran produksi atau konsumsinya sangat sulit di temukan. Karenanya upaya untuk menggali potensi dari sumber pangan non beras masih sulit berkembang,” tambahnya lagi.

Senada dengan Murdjiati , Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko juga mengamini bahwa ada banyak sumber pangan yang sebenarnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat selain beras. Menurut Tejo, Indonesia memiliki lebih dari 77 sumber karbohidrat yang baik dan mampu menggantikan beras.

“Kenapa harus beras kalau sumber karbohidrat lainnya masih banyak untuk dikonsumsi?” tukasnya.

Sebagai informasi, jika ditilik dari data dari Kementerian Pertanian, pada tahun 1954 silam, pola makan masyarakat Indonesia masih bisa dikatakan bervariasi. Kala itu, beras sudah menguasai separuh sumber bahan makanan pokok. Namun, ubi kayu dan jagung masih bisa bersaing.

Pergeseran pola makanan masyarakat Indonesia yang menjurus hanya pada beras mulai terjadi pada tahun 1984 yang saat itu sudah mencapai lebih dari 80 persen. Dan pada tahun 2010, sumber pangan non beras bisa dikatakan mulai menghilang. Masyarakat Indonesia sangat tergantung pada beras yang ketersediaannya terjaga karena ditunjang oleh impor beras yang semakin tinggi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/mendukung-sumber-pangan-non-beras-untuk-ketahanan-pangan/feed/ 0