taman nasional gunung leuser - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/taman-nasional-gunung-leuser/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 03 Apr 2016 13:09:59 +0000 id hourly 1 Klarifikasi Kedatangan Leonardo Terkait Tudingan Kampanye Hitam Kelapa Sawit Indonesia https://www.greeners.co/berita/klarifikasi-kedatangan-leonardo-terkait-tudingan-kampanye-hitam-kelapa-sawit-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klarifikasi-kedatangan-leonardo-terkait-tudingan-kampanye-hitam-kelapa-sawit-indonesia https://www.greeners.co/berita/klarifikasi-kedatangan-leonardo-terkait-tudingan-kampanye-hitam-kelapa-sawit-indonesia/#respond Sun, 03 Apr 2016 12:03:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13353 Aktor Leonardo DiCaprio diancam akan dideportasi dari Indonesia oleh Dirjen Imigrasi karena diduga melakukan kampanye hitam terhadap perkebunan kelapa sawit ketika berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, Minggu (27/03) lalu.]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa hari lalu, kedatangan aktor peraih penghargaan Aktor Terbaik dalam ajang Piala Oscar, Leonardo DiCaprio ke Indonesia sempat mendapat ancaman deportasi dari Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Ronny F Sompie. Ancaman deportasi ini muncul lantaran Dirjen Imigrasi menduga bahwa Leonardo melakukan kampanye hitam (black campaign) terhadap perkebunan kelapa sawit ketika berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh, Minggu (27/03) lalu.

Untuk mengklarifikasi tudingan ini, Greeners mencoba mewawancarai Penasihat Forum Konservasi Leuser (FKL), Rudi Putra yang menemani kehadiran Leonardo di Taman Nasional Gunung Leuser terkait apa yang dilakukan Leonardo dalam kunjungannya tersebut.

Menurut Rudi, Leonardo datang sebagaimana layaknya turis. Dalam kunjungannya, Leonardo melihat gajah di Aceh Timur, karantina orangutan di Sumatera Utara dan Stasiun Penelitian Ketambe di Aceh Tenggara.

“Tidak ada tempat lain yang dikunjunginya. Hanya itu saja,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (02/04).

Sedangkan mengenai tudingan kampanye hitam perusahaan sawit, ia beranggapan bahwa hampir semua pihak sudah mengetahui kalau ekspansi kelapa sawit jelas telah merusak hutan-hutan yang masih tersisa di Indonesia. Bukti tersebut, katanya, bisa disaksikan sendiri di wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua di mana hutan-hutan itu telah banyak yang dikonversi menjadi kelapa sawit, baik dengan izin pemerintah maupun yang secara ilegal.

“Pemerintah tidak bisa menutupi fakta itu. Bukan hanya Leonardo, tapi juga telah banyak yang menyuarakan permasalahan ini. Ini bukan masalah kampanye hitam, tapi situasi ini memang benar terjadi,” tegasnya.

Rudi sendiri menyatakan bahwa sebenarnya banyak pihak yang tidak anti terhadap kelapa sawit. Menurutnya, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Leonardo sendiri hanya tidak ingin kelapa sawit merusak hutan dan ekosistem di dalamnya. Bahkan, terusnya, hingga saat ini kondisi Taman Nasional Gunung Leuser sendiri sudah semakin kritis dan perlu diselamatkan.

“Saya tidak tahu apa yang pejabat pemerintah itu pikirkan. Menuding persaingan sawit melawan minyak nabati lain itu bahkan tidak layak. Saya kira dengan produksi yang melimpah saat ini, Indonesia bisa membangun industri hilirnya lagi dan bukan malah ekspansi lahan untuk terus menerus ekspor CPO (Crued Palm Oil).

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu, Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Ronny F Sompie mengatakan jika Leonardo mengeluarkan pernyataan yang mendiskreditkan pemerintah maupun kepentingan Indonesia, dia bisa dideportasi. Karena dia (Leonardo) sedang berada di Indonesia, pihak imigrasi punya hak mendeportasinya.

Menurut Ronny, proses deportasi sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepada Ditjen Imigrasi sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Leonardo sendiri tiba di Bandara Kualanamu dari Jepang, pada Sabtu (26/03) pukul 06.45 WIB dengan menggunakan pesawat jet pribadi. Pada hari yang sama sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan terbang ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menggunakan helikopter. Hari itu pula, Leonardo kembali ke Medan dan menginap di Hotel JW Marriott. Kemudian sekitar pukul 17.05 WIB, rombongan berangkat dari Bandara Kualanamu menuju Palau.

Diketahui, dalam catatan perjalanannya yang diunggah di akun instagramnya, Leo menyatakan kekecewaannya terhadap sejumlah hewan yang terancam punah habibatnya, salah satunya gajah Sumatera. Leo menuding ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab rusaknya ekosistem hutan yang juga menjadi sumber rantai makanan hewan-hewan langka seperti gajah Sumatera.

Pernyataan Leonardo tentang ekspansi sawit tersebut mendapat protes dari pengusaha sawit asal Aceh, Asmar Arsyad. “Leonardo salah sasaran. Mestinya dia kampanye pelestarian lingkungan di hutan Amazon yang habis untuk perkebunan minyak nabati kedelai,” kata Asmar.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klarifikasi-kedatangan-leonardo-terkait-tudingan-kampanye-hitam-kelapa-sawit-indonesia/feed/ 0
Sambut Hari Diplomasi Iklim, Uni Eropa Adopsi Anak Gajah https://www.greeners.co/berita/sambut-hari-diplomasi-iklim-uni-eropa-adopsi-anak-gajah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sambut-hari-diplomasi-iklim-uni-eropa-adopsi-anak-gajah https://www.greeners.co/berita/sambut-hari-diplomasi-iklim-uni-eropa-adopsi-anak-gajah/#respond Sun, 21 Jun 2015 02:30:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9878 Jakarta (Greeners) – Dalam rangka “European Climate Diplomacy Day 2015” atau Hari Diplomasi Iklim yang berlangsung setiap tanggal 17 Juni, Delegasi Uni Eropa yang bertempat di Jakarta mengadopsi seekor anak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka “European Climate Diplomacy Day 2015” atau Hari Diplomasi Iklim yang berlangsung setiap tanggal 17 Juni, Delegasi Uni Eropa yang bertempat di Jakarta mengadopsi seekor anak gajah dari Kawasan Ekosistem Leuser di Provinsi Sumatera Utara.

Kepala Bagian Kerjasama Delegasi UE untuk Indonesia, Franck Viault mengatakan bahwa adopsi anak gajah bernama Aras ini dilakukan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan sekaligus berkontribusi terhadap penanganan perubahan iklim. Selain itu, adopsi anak gajah ini juga dilakukan untuk menjadikan Aras sebagai maskot resmi dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

“Dengan adanya masalah perubahan iklim yang semakin memprihatinkan, upaya menjaga keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser menjadi semakin penting dan menjadi tanggung jawab mendesak kita untuk memiliki komitmen dengan semangat seperti yang ditunjukkan oleh Aras muda dalam kesehariannya di Unit Patroli Gajah,” ungkapnya seperti yang tercantum dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (18/06).

Unit Patroli Gajah (UPG) Aras Napal merupakan salah satu aktivitas yang berhasil bertahan lama setelah berakhirnya pendanaan lembaga donor untuk Program Pembangunan Leuser (LDP) yang berlangsung pada tahun 1997-2004. Program ini untuk mendukung pelestarian jangka panjang ekosistem Leuser dan pembangunan berkelanjutan dari kawasan sekitarnya.

Bertempat di tepi areal Taman Nasional Gunung Leuser, UPG dibentuk oleh LDP pada tahun 2000 dengan mendatangkan gajah-gajah terlatih dari selatan Sumatra. UPG dibentuk dengan tujuan untuk mengawasi dan melindungi bagian timur Kawasan Ekosistem Leuser serta kawasan sekitar Hutan Aras Napal.

Foto: dok. Uni Eropa

Foto: dok. Uni Eropa

Saat ini, UPG beroperasi penuh. Bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, UPG menjalankan kegiatannya dengan pendanaan sektor swasta dan lembaga donor. UPG bertugas untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, serta melaksanakan pengawasan terhadap hutan dengan tujuan untuk mencegah kegiatan-kegiatan yang merusak seperti perambahan, pembalakan liar dan perburuan. Kegiatan edukatif untuk sekolah, kegiatan ekowisata dan penelitian juga berlangsung di Aras Napal.

“Aras kecil yang kami adopsi kurang dari 2 minggu sebelum ulang tahunnya yang ke tujuh melambangkan upaya para pemangku kepentingan yang berkomitmen membuat UPG Aras Napal menjadi sebuah kisah yang sukses,” kata Viault melanjutkan.

Sejak adanya UPG pada tahun 2000, hutan Besitang Sekundur dekat Aras Napal juga pulih secara perlahan dari pembalakan yang terjadi selama tahun 1980an. Dibandingkan dengan hutan-hutan di selatan areal ini yang sebagian besar telah musnah dan menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan dataran rendah dibawah pengawasan UPG berkondisi baik dan memiliki sebagian besar megafauna yang sangat terkenal di seluruh dunia, termasuk orangutan Sumatera dan gajah liar.

Melalui pencapaian ini, UPG telah memberi kontribusi meski kecil namun stabil dan nyata bagi upaya mengatasi permasalahan perubahan iklim. Aras muda melambangkan pula upaya-upaya baik ini, saat hutan alami Sumatera telah menyusut setengah dalam kurun waktu satu generasi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/sambut-hari-diplomasi-iklim-uni-eropa-adopsi-anak-gajah/feed/ 0