teknologi pangan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/teknologi-pangan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 02 Aug 2019 01:02:55 +0000 id hourly 1 Solar Foods Ciptakan Makanan Dari Karbon Dioksida https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-foods-ciptakan-makanan-dari-karbon-dioksida/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=solar-foods-ciptakan-makanan-dari-karbon-dioksida https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-foods-ciptakan-makanan-dari-karbon-dioksida/#respond Thu, 01 Aug 2019 08:00:06 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=23891 Keberadaan karbon dioksida (CO2) yang berlebihan di atmosfer memang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Namun di sisi lain, karbon dioksida juga memiliki manfaat, khususnya bagi tanaman untuk melakukan proses fotosintesis. […]]]>

Keberadaan karbon dioksida (CO2) yang berlebihan di atmosfer memang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Namun di sisi lain, karbon dioksida juga memiliki manfaat, khususnya bagi tanaman untuk melakukan proses fotosintesis.

Memandang hal diatas sebagai peluang, sebuah perusahaan startup asal Finlandia, Solar Foods, baru saja memperkenalkan Solein, sebuah makanan berprotein yang terbuat dari karbon dioksida.

Didirikan oleh Pasi Vainikka, dosen sekaligus mantan ilmuwan utama dalam penelitian energi terbarukan di Pusat Penelitian Teknis VTT Finlandia pada tahun 2017, Solar Foods adalah perusahaan teknologi asal Finlandia yang memproduksi makanan tanpa melibatkan pertanian.

Dengan solusi bioteknologi yang revolusioner, produk ini memungkinkan produksi protein alami di mana saja dengan menggunakan udara, air, dan listrik.

Meskipun terbuat dari karbon dioksida, Solein memiliki kandungan gizi bahkan bisa jadi alternatif daging nabati atau daging hewani. Melalui Solein, Solar Foods memiliki visi untuk memecahkan krisis pangan dunia dan menciptakan solusi industri makanan yang dapat berkembang melampaui batasan pertanian.

CEO Solar Foods Pasi Vainikka/Foto : solarfoods.fi

Dilansir dari Futurism, proses pembuatan Solein ini diklaim 100 kali lebih ramah lingkungan dibanding sumber protein lainnya. Selain tanpa melibatkan pertanian, Solein juga dapat memenuhi kebutuhan makanan di suatu tempat dimana teknik pertanian tidak bisa diterapkan dan secara tidak langsung dapat mengatasi dampak lingkungan.

Untuk membuat Solein, energi terbarukan digunakan untuk memecah sel-sel air menjadi hidrogen dan oksigen. Kemudian ia menggabungkan hidrogen dengan CO2 dan menambahkan kalium, natrium, dan nutrisi lainnya.

Dan proses selanjutnya yaitu pemberian makan berupa ramuan ke mikroba yang pada akhirnya menghasilkan suatu bahan yang bisa dimakan. Menurut Solar Foods, Solein mengandung sekitar 20 hingga 25 persen karbohidrat, 5 hingga 10 persen lemak dan 50 persen protein.

“Memproduksi Solein sepenuhnya bebas dari pertanian, ia tidak memerlukan tanah yang subur atau irigasi dan tidak dibatasi oleh kondisi iklim. Ini dapat diproduksi di mana saja di seluruh dunia, bahkan di daerah di mana protein konvensional tidak memungkinkan untuk diproduksi,” jelas Solar Foods kepada Dezeen.

Solein diharapkan masuk ke jaringan ke toko bahan makanan dalam dua tahun ke depan, mungkin dalam bentuk protein shake atau yogurt nabati. Untuk memperluas distribusinya, Solar Foods berencana untuk bekerja sama dengan perusahaan startup makanan seperti Beyond Meat dan Impossible Foods di masa depan.

Penulis: Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-foods-ciptakan-makanan-dari-karbon-dioksida/feed/ 0
Pangan Rekayasa Genetika Dapat Mengharapkan Masa Depan yang Cerah https://www.greeners.co/berita/pangan-rekayasa-genetika-dapat-mengharapkan-masa-depan-cerah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pangan-rekayasa-genetika-dapat-mengharapkan-masa-depan-cerah https://www.greeners.co/berita/pangan-rekayasa-genetika-dapat-mengharapkan-masa-depan-cerah/#respond Sat, 08 Jul 2017 03:00:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17595 Pangan hasil rekayasa genetika (GMO) tetap menjadi kontroversial, namun para peneliti masih yakin bahwa GMO dapat menggantikan bahan bakar fosil dan memberikan makan kepada dunia.]]>

LONDON, 29 Mei 2017 – Salah satu topik penelitian yang sensitif, setidaknya untuk Eropa, adalah manipulasi genetik dari tanaman pangan, rumput laut dan alga untuk memproduksi pangan atau menyediakan konversi yang lebih baik ke biofuel. Namun, di sepanjang Atlantik, pangan rekayasa genetika memiliki cerita yang berbeda.

Genetically Modified Organism (GMO) menjadi subyek yang sangat kontroversial karena versi awal dari pangan rekayasa genetika harus diberikan bahan beracun kimia dosis tinggi dan klaim bahwa panen lebih tinggi dan tinggi nutrisi tidak pernah terbukti. Pada beberapa kasus, mereka malah mengancam lingkungan dan Uni Eropa memberikan larangan kepada varietas GMO hingga saat ini.

Namun, AS telah menunjukkan penerimaan GMO sebagai cara untuk mengeruk uang dari pertanian dan para peneliti terus berupaya untuk mengembangkan tanaman pangan dengan modifikasi genetika.

Dua pangan utama global yaitu tebu dan kedelai sedang diteliti oleh tim dari Universitas Illinois. Salah satu grup di College of Agricultural, Consumer and Environmental Sciences (ACES) telah menunjukkan bahwa tebu dapat dimodifikasi secara genetis untuk memproduksi minyak melalui daun dan batang untuk produksi biodiesel. Secara mengejutkan tebu yang dimodifikasi juga memproduksi gula yang dapat digunakan untuk membuat etanol.

Pemasukan Tinggi

Untuk bersaing dengan pangan tradisional, GMO harus bisa menunjukkan bahwa mereka lebih menguntungkan dan peneliti Illinois mengklaim bahwa tebu mereka dapat memproduksi lima kali lipat dari pendapatan kedelai, dan dua kali lebih besar dari jagung.

Lebih lanjut, tebu ini dapat ditanam pada lahan-lahan marjinal yang dikenal sebagai negara bagian Teluk, yaitu Texas, Louisiana, Mississippi, Alabama dan Florida.

“Daripada ladang pompa minyak, kami membayangkan ladang tanaman hijau yang bisa memproduksi biofuel dengan berkelanjutan pada tanah kami, terutama lahan yang marjinal yang tidak cocok untuk memproduksi pangan,” jelas Stephen Long dari universitas tersebut.

Namun, sama halnya dengan kebanyakan penelitian genetik, ada gap panjang antara hasil awal dan penanaman skala besar, berujung kepada produksi biodiesel dan etanol. Long mengakui perlu setidaknya 10 hingga 15 tahun agar bisa digunakan oleh para petani, namun ia percaya bahwa jangka waktu tersebut dibutuhkan untuk menjamin ketahanan energi di masa depan. Tebu akan memproduksi pengganti baik bensin dan diesel.

Para peneliti tersebut telah mempublikaskan sebuah makalah yang menganalisa varietas tebu rekayasa genetik yang pertama pada jurnal Petross Project.

Menggunakan juicer, para peneliti mengekstraksi 90 persen gula dan 60 persen minyak dari tanaman. Jus tersebut difermentasikan untuk memproduksi etanol dan kemudian ditambahkan cairan organik untuk mengambil minyak. Tim tersebut telah mempatenkan metode untuk memisahkan minyak dan gula tersebut.

Mereka mengekstraksi 0,5 dan 0,8 persen minyak dari dua jenis tebu rekayasa genetik, 67 persen dan 167 persen dari tebu yang tidak direkayasa.

“Komposisi minyak dapat dibandingkat dengan yang ditarik dari bahan lainnya seperti rumput laut atau alga yang juga direkayasa untuk memproduksi minyak,” jelas penulis Vijay Singh, direktur Integrated Bioprocessing Research Laboratory di Illinois.

“Kami mengharapkan produksi minyak akan bisa ditingkatkan, produksi gula diturunkan bila berdasarkan model komputer kami,” jelas Long. “Namun, kami menemukan bahwa tanaman dapat memproduksi banyak minyak tanpa kekurangan produksi gula, yang artinya tanaman kami lebih produktif dari yang kami antisipasi.”

Lebih Banyak Pangan

Tim kedua yang meneliti kedelai sangat bersemangat melihat keuntungan dari hasil riset mereka akan bisa menyediakan pangan bagi populasi yang terus meningkat di dunia yang semakin menghangat ini. Kedelai tumbuh di kondisi subtropis dan saat ini hampir bisa ditemukan di makanan olahan di manapun di dunia.

Mereka berhasil merekayasa kedelai untuk memproduksi lebih tinggi pada kondisi di masa depan: dengan banyak karbon dioksida di atmosfer dan tingginya suhu ketimbang saat ini.

Para peneliti mengharapkan bahwa tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kadar tinggi CO2 di atmosfer sebab mereka butuh untuk fotosintesis. Hal ini disebut dengan efek pupuk karbon dioksida. Namun, tambahan panas akan menyebabkan stres pada tanaman dan menghilangkan keuntungan tersebut.

Penelitian di bawah kondisi lapangan pada tahapan eksperimental mereplikasikan perubahan iklim di masa depan yang menempatkan kedelai hasil rekayasa genetika pada kondisi yang sama (termasuk matahari, angin, hujan, dan awan) sama dengan pangan lainnya. Mereka menemukan bahwa mereka justru panen lebih baik pada tiga tahun belakangan.

“Saat kita mencoba untuk memenuhi kebutuhan pangan di masa depan, modifikasi seperti ini merupakan salah satu dari banyak alat yang bisa diandalkan,” kata Carl Bernacchi, profesor rekan bidang biologi tanaman di universitas. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/pangan-rekayasa-genetika-dapat-mengharapkan-masa-depan-cerah/feed/ 0
Keripik dari Buah dan Sayur Organik, Ya atau Tidak? https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/#respond Sun, 06 Dec 2015 12:54:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12154 Keripik belum mendapat predikat sebagai makanan yang sehat. Munculnya produk-produk keripik yang diproduksi pabrikan pun tidak menjamin makanan ini “sehat”. Lantas bagaimana dengan keripik dari buah dan sayur organik?]]>

Jakarta (Greeners) – Keripik sering kali diidentikkan dengan makanan ringan masyarakat Indonesia. Varian cemilan ini sangat banyak, tergantung dari bahan pembuatnya. Keripik juga mudah ditemui, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket, jajanan keripik banyak dicari oleh berbagai kalangan.

Meski demikian, keripik belum mendapat predikat sebagai makanan yang sehat. Munculnya produk-produk keripik yang diproduksi pabrikan pun tidak menjamin makanan ini “sehat” karena adanya bahan pengawet yang terkandung dalam produk tersebut.

Namun, belakangan telah muncul beberapa produsen keripik yang mengklaim bahwa produknya sebagai cemilan sehat. The Kripps misalnya, brand ini mengambil langsung bahan baku keripik dari petani sebagai bahan baku dari 24 varian rasa pada produk keripiknya.

Sang pemilik, Jonathan Adi Prakasa, menyatakan bahwa ia tidak sembarang mengambil bahan baku. Ia mengaku mengambil langsung buah dan sayuran dari beberapa pasar seperti Pasar Induk Tanah Tinggi dan Pasar Induk Tangerang, serta dari petani yang ada di wilayah Lembang, Bandung.

“Jadi kita langsung seleksi, mana yang segar mana yang tidak segar,” ujar Jonathan kepada Greeners pada Rabu (25/11) lalu.

Produk The Kripps sendiri mengandalkan variasi lima jenis buah dan sayuran yang berbeda dalam setiap kemasan produknya. Variasi buah dan sayuran ini juga sebagai antisipasi jika terdapat salah satu bahan baku langka di pasaran.

Dalam produk keripik sayur misalnya, terdapat buncis, ubi, ubi ungu, timun zukini dan wortel. Namun jika salah satu bahan baku tersebut tidak tersedia di pasaran akan digantikan dengan bahan baku yang lain. Hal ini, menurut Jonathan, untuk menjaga keseimbangan dalam hal kuantitas dan kualitas produknya. “Kalau salah satu enggak ada, digantikan dengan labu,” ungkapnya.

Selain bahan baku, Jonathan juga memperhatikan kandungan pada produknya. Ia menyatakan bahwa produknya tidak mengandung bahan perasa buatan seperti monosodium glutamat yang berbahaya bagi tubuh. Monosodium glutamat merupakan bahan perasa yang lazim dipakai dalam produk makanan ringan.

“Produk saya yang mixed fruit itu tanpa bumbu sama sekali. Kalau yang bumbu mixed veggies itu pakai bumbu ekstrak jamur, tapi tanpa MSG,” jelas Jonathan.

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Sementara itu, hal yang sedikit berbeda dilakukan oleh produsen Organik Unik dalam pengadaan bahan baku. Menurut Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik, bahan baku keripik tidak didatangkan langsung dari petani melainkan dari beberapa tempat sekaligus. Hal ini, menurut Yuni, dilakukan demi mengutamakan kualitas keripik yang akan dipasarkan.

“Begitu kita dapat bahan baku yang kurang baik kualitasnya, maka hasilnya juga akan kurang baik. Jadi istilahnya produksinya pakai hati, enggak sembarangan bikin,” ungkap Yuni saat ditemui Greeners pada Jumat (27/11) lalu di Jakarta.

Vacuum Fryer

Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Ronny Purwadi, menyatakan bahwa kualitas produk makanan seperti buah dan sayur kering tergantung pada kesegaran bahan baku. Hal ini dikarenakan tidak adanya kandungan tambahan seperti gula dan garam.

Produk makanan seperti keripik buah dan sayur organik sendiri diklaim oleh produsennya tidak mengandung bahan perasa, maka aroma dan rasa bahan baku menjadi kekuatan produk tersebut.

“Lain halnya jika produk dicampur dengan bahan tambahan seperti gula atau garam, rasa bahan tambahan cukup dominan dibandingkan dengan rasa buahnya (sebagai bahan baku),” jelasnya kepada Greeners melalui email.

Kandungan gizi pada buah dan sayur didominasi oleh serat serta gula. Menurut Ronny, kedua kandungan tersebut tidak mudah hilang jika dikeringkan. Namun, proses pengeringan justru akan mengurangi kadar vitamin dan aroma buah atau sayur tersebut. “Karena itu, pengeringan dianjurkan pada temperatur yang rendah,” ungkapnya.

Senada dengan Ronny, Jonathan dan Yuni pun sepakat untuk menggunakan temperatur rendah dalam pengolahan produk mereka. Keduanya menggunakan teknik pengeringan vacuum fryer yang menggunakan suhu rendah dalam proses pengeringan produk.

Vacuum fryer merupakan mesin penggoreng makanan yang mengeringkan makanan pada temperatur yang cukup rendah, sekitar 50-70 derajat Celcius. Dengan menggunakan temperatur yang rendah, mesin ini memang didesain untuk menghindari kerusakan atau berubahnya bahan baku makanan.

“Jadi enggak menghilangkan kadar gizi. Mungkin memang berkurang kandungan gizinya, tapi enggak hilang,” ujar Jonathan.

Dengan vacuum fryer, Jonathan mengklaim bahwa produknya sehat dan aman untuk dikonsumsi. Mengenai kandungan gizi, ia menyatakan bahwa produknya telah diperiksa oleh tim dari IPB.

“Kita enggak bisa klaim 100 persen sehat, tapi tertera di sini ada kandungan gizinya,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/feed/ 0
Sorgum, Pangan Murah Sumber Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/#respond Tue, 23 Jun 2015 08:04:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9918 Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain […]]]>

Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain seperti gandum, jagung, umbi-umbian dan sorgum.

Banyak ditemukan di daerah kering, sorgum merupakan salah satu pengganti nasi yang kaya karbohidrat, tinggi protein, dan non gluten (sejenis protein yang terdapat dalam serealia atau biji-bijian yang disinyalir dapat memicu alergi Celiac). Selain pengganti nasi, sorgum juga dapat menggantikan gandum untuk sebagian masyarakat yang alergi terhadap pangan tersebut.

“Sorgum banyak ditemui di daerah Jawa namun masyarakat masih fokus terhadap beras. Menanam sorgum pun biasanya di pematang sawah yang berfungsi untuk mengusir burung. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, sorgum merupakan salah satu pangan yang direkomendasikan,” ujar Tejo Wahyu Jatmiko selaku Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera kepada Greeners melalui sambungan telepon.

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Berbeda dari beberapa jenis pengganti nasi lainnya, harga sorgum masih terbilang rendah karena teknologi pengolahannya yang terbatas. Padahal, sorgum dapat menjadi salah satu potensi karena dapat dijadikan sebagai bubur, nasi, tepung terigu serta sereal. Namun, keberadaan sorgum masih kurang diminati oleh masyarakat terlebih di Jakarta.

“Di NTT, sorgum dimasak sebagai nasi dan bubur dengan lauk yang nikmat seperti sayuran, daging sapi serta ikan. Cara membuatnya pun hampir sama dengan membuat nasi. Sebagai tepung, tepung sorgum dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis kue dengan daya tahan yang lebih lama,” jelasnya.

Sorgum memiliki kadar gula rendah yang dapat bermanfaat bagi penderita diabetes serta yang sedang melakukan tahap diet. Selain itu, sorgum dapat tumbuh dalam kondisi perubahan iklim yang sedang melanda bumi saat ini. Tejo pun menambahkan bahwa sorgum dapat ditanam di halaman rumah. Di Jakarta sendiri, walaupun peminat sorgum terbilang rendah, namun sudah ada beberapa orang yang menjualnya secara daring.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/feed/ 0