teknologi pertanian - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/teknologi-pertanian/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 03 Aug 2016 09:49:29 +0000 id hourly 1 Puluhan Insinyur Pertanian Palestina Belajar Pertanian Hidroponik di Malang https://www.greeners.co/berita/puluhan-insinyur-pertanian-palestina-belajar-pertanian-hidroponik-malang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puluhan-insinyur-pertanian-palestina-belajar-pertanian-hidroponik-malang https://www.greeners.co/berita/puluhan-insinyur-pertanian-palestina-belajar-pertanian-hidroponik-malang/#respond Wed, 03 Aug 2016 09:19:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14393 Sebanyak 20 insinyur pertanian Palestina belajar teknologi pertanian sistem hidroponik dan produk obat herbal di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang.]]>

Malang (Greeners) – Kondisi Palestina yang krisis air membuat sejumlah insinyur pertanian negara tersebut mengunjungi negara-negara lain untuk belajar teknologi pertanian. Salah satunya ke Indonesia dengan mengunjungi Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Jawa Timur, pada 31 Juli 2016 hingga 13 Agustus 2016. Di BPPP, sebanyak 20 insinyur pertanian belajar teknologi pertanian sistem hidroponik dan produk obat herbal.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi menjelaskan, pertanian di negaranya sebagian besar mengandalkan air di musim hujan yang berlangsung antara November hingga Januari. Minimnya air untuk pertanian, kata Fariz, juga dikarenakan pendudukan ilegal di West Bank yang mencuri air hingga 80 persen. “Jadi hanya tersisa sedikit air,” kata Fariz di BBPP, Senin (01/08).

BACA JUGA: 63 Persen Anak Petani Tidak Ingin Menjadi Petani

Selain itu, penggunaan pompa air bawah tanah yang berlebihan juga menambah minimnya pasokan air. Persoalan pertanian lainnya yakni salinitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia, erosi tanah akibat terkikis air hujan dan vegetasi tutupan lahan yang minim, serta biaya yang tinggi untuk pengairan.

Peperangan yang berlangsung di negara itu juga menambah sulitnya mengatasi krisis air untuk pertanian serta banyak lahan pertanian yang rusak. Peperangan juga mengakibatkan blokade impor dan ekspor produk serta kebutuhan Palestina, kerusakan pada sumur air, serta larangan mengimpor benih dari luar.

Kondisi Palestina yang krisis air membuat sejumlah insinyur pertanian negara tersebut mengunjungi negara-negara lain untuk belajar teknologi pertanian, salah satunya ke Indonesia. Foto: greeners.co/HI

Kondisi Palestina yang krisis air membuat sejumlah insinyur pertanian negara tersebut mengunjungi negara-negara lain untuk belajar teknologi pertanian, salah satunya ke Indonesia. Foto: greeners.co/HI

Fariz menjelaskan, lahan pertanian di Palestina sekitar 21 persen dari keseluruhan wilayah di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dari luasan lahan pertanian total sekitar 1,2 juta dunums. Dari luasan itu, sekitar 19 persen di antaranya mendapatkan air irigasi dari air bawah tanah, dan sekitar 81 persen menggantungkan air dari hujan.

Karenanya, kerjasama untuk meningkatkan teknologi pertanian tidak hanya dilakukan dengan Indonesia. Kerjasama serupa juga dilakukan dengan negara lain seperti Thailand, Tiongkok, Aljazair, Tunisia dan negara di Eropa seperti Italia.

Fariz berharap pelatihan penanaman hidroponik dengan Indonesia diharapkan mampu mengatasi masalah pertanian dengan kondisi air yang minim tapi menghasilkan panen yang maksimal dan menyediakan produk pertanian organik yang lebih berkualitas untuk konsumen.

BACA JUGA: Pembangunan Berbasis Jawa Sentris Picu Bencana Ekologis Pulau Jawa

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Widi Harjono mengatakan teknologi pertanian hidroponik bagus bila digunakan pada lahan pertanian yang kecil dan pasokan air yang tak banyak. Sebab, penggunaan air secara berulang bisa digunakan sebelum terserap ke tanah.

“Kami tidak hanya mengajarkan teknik hidroponik, tapi juga bertukar pengalaman dan pengetahuan dan mempelajari apa yang belum ada di Indonesia dari mereka,” kata Widi.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/puluhan-insinyur-pertanian-palestina-belajar-pertanian-hidroponik-malang/feed/ 0
Pertanian Terapung Berteknologi Modern https://www.greeners.co/ide-inovasi/pertanian-terapung-berteknologi-modern/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertanian-terapung-berteknologi-modern https://www.greeners.co/ide-inovasi/pertanian-terapung-berteknologi-modern/#respond Wed, 24 Jun 2015 03:36:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9923 Meningkatnya populasi dunia dan berkurangnya pasokan makanan dengan lahan pertanian yang terus tergusur merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara saat ini. Untuk itulah sebuah biro arsitektur dari Barcelona membuat […]]]>

Meningkatnya populasi dunia dan berkurangnya pasokan makanan dengan lahan pertanian yang terus tergusur merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara saat ini. Untuk itulah sebuah biro arsitektur dari Barcelona membuat sebuah proposal inovasi : Smart Floating Farms – Pertanian Pintar Terapung.

Didesain untuk melengkapi pertanian tradisional, lahan pertanian terapung ini bertenaga panel surya dan terdiri dari modul-modul yang bisa digunakan pada muka air yang kurang terpakai. Alat ini dapat menjadi media untuk meningkatkan ketahanan pangan dalam jangka panjang.

Smart Floating Farms (SFF). Foto: inhabitat.com

Smart Floating Farms (SFF). Foto: inhabitat.com

Smart Floating Farms (SFF) didesain sangat pintar dan beroperasi secara otomatis dengan mengombinasikan tenaga surya, pertanian hidroponik dan budidaya ikan. Menurut arsiteknya, proyek SFF ini dirancang untuk keperluan komersial dengan bahan-bahan dan teknologi yang sudah teruji. Kebun ini akan bisa digunakan di permukaan perairan untuk mengurangi ketergantungan terhadap makanan impor atau mengurangi jejak karbon pada makanan.

Bentuk modul SFF terinspirasi oleh konfigurasi tradisional yang digunakan oleh keramba jaring apung di banyak negara di Asia. Setiap modul yang ringan ini berukuran 200 x 350 meter dan bisa dihubungkan dengan modul lain untuk membentuk klaster kebun dalam jangkauan pejalan kaki. Walaupun fokusnya ada pada perkebunan, namun proyek ini juga bisa digunakan untuk penelitian atau edukasi.

Metode pertanian pintar terapung atau "Smart Floating Farms" (SFF) mengadopsi kerangka jaring apung yang banyak diterapkan di negara Asia. Foto: inhabitat.com

Metode pertanian pintar terapung atau “Smart Floating Farms” (SFF) mengadopsi kerangka jaring apung yang banyak diterapkan di negara Asia. Foto: inhabitat.com

Modul SFF ini terdiri dari 3 tingkat, yaitu level dasar untuk budidaya ikan dan teknologi pemurnian air laut, level diatasnya adalah untuk perkebunan hidroponik sementara bagian atap untuk pembangkit listrik tenaga surya, pencahayaan alami dan pengumpul air hujan. Dengan menggunakan modul yang bisa digabungkan, SFF dapat diperbesar, diadaptasikan dan efisien dalam sumber daya. Setiap modul diestimasi dapat memproduksi 8.152 ton sayuran per tahun dan 1.703 ton air per tahun.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pertanian-terapung-berteknologi-modern/feed/ 0
Sorgum, Pangan Murah Sumber Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/#respond Tue, 23 Jun 2015 08:04:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9918 Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain […]]]>

Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain seperti gandum, jagung, umbi-umbian dan sorgum.

Banyak ditemukan di daerah kering, sorgum merupakan salah satu pengganti nasi yang kaya karbohidrat, tinggi protein, dan non gluten (sejenis protein yang terdapat dalam serealia atau biji-bijian yang disinyalir dapat memicu alergi Celiac). Selain pengganti nasi, sorgum juga dapat menggantikan gandum untuk sebagian masyarakat yang alergi terhadap pangan tersebut.

“Sorgum banyak ditemui di daerah Jawa namun masyarakat masih fokus terhadap beras. Menanam sorgum pun biasanya di pematang sawah yang berfungsi untuk mengusir burung. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, sorgum merupakan salah satu pangan yang direkomendasikan,” ujar Tejo Wahyu Jatmiko selaku Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera kepada Greeners melalui sambungan telepon.

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Berbeda dari beberapa jenis pengganti nasi lainnya, harga sorgum masih terbilang rendah karena teknologi pengolahannya yang terbatas. Padahal, sorgum dapat menjadi salah satu potensi karena dapat dijadikan sebagai bubur, nasi, tepung terigu serta sereal. Namun, keberadaan sorgum masih kurang diminati oleh masyarakat terlebih di Jakarta.

“Di NTT, sorgum dimasak sebagai nasi dan bubur dengan lauk yang nikmat seperti sayuran, daging sapi serta ikan. Cara membuatnya pun hampir sama dengan membuat nasi. Sebagai tepung, tepung sorgum dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis kue dengan daya tahan yang lebih lama,” jelasnya.

Sorgum memiliki kadar gula rendah yang dapat bermanfaat bagi penderita diabetes serta yang sedang melakukan tahap diet. Selain itu, sorgum dapat tumbuh dalam kondisi perubahan iklim yang sedang melanda bumi saat ini. Tejo pun menambahkan bahwa sorgum dapat ditanam di halaman rumah. Di Jakarta sendiri, walaupun peminat sorgum terbilang rendah, namun sudah ada beberapa orang yang menjualnya secara daring.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/feed/ 0
Lahan Pertanian Dalam Kontainer https://www.greeners.co/ide-inovasi/lahan-pertanian-dalam-kontainer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lahan-pertanian-dalam-kontainer https://www.greeners.co/ide-inovasi/lahan-pertanian-dalam-kontainer/#respond Mon, 30 Mar 2015 12:36:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=8365 Teknologi baru bagi para pelaku urban farming dapat dilihat di Boston, Amerika. Sebuah perusahaan start-up di bidang agrikultur, Freight Farms, merancang pertanian hidroponik yang dilakukan di dalam kendaraan kontainer. Proyek […]]]>

Teknologi baru bagi para pelaku urban farming dapat dilihat di Boston, Amerika. Sebuah perusahaan start-up di bidang agrikultur, Freight Farms, merancang pertanian hidroponik yang dilakukan di dalam kendaraan kontainer.

Proyek ini disebut Leafy Green Machine (LGM) dan berfungsi layaknya berkebun di lahan tanah seperti pada umumnya. Namun, khusus pada LGM ini, penggunaan air 90 persen lebih sedikit dari metode pertanian tradisional. Dan, karena tanaman di tempatkan dalam kontainer yang tertutup, sistem pertanian ini bebas dari herbisida dan pestisida.

Foto: freightfarms.com

Leafy Green Machine (LGM) berfungsi layaknya berkebun di lahan tanah seperti pada umumnya, namun menggunakan air 90 persen lebih sedikit dari metode pertanian tradisional. Foto: freightfarms.com

Meskipun bertani dalam mobil kontainer, lahan didalamnya dapat memproduksi tanaman segar karena tidak bergantung pada cuaca dan musim. Uniknya kita dapat memantau kondisi air dan udara dari aplikasi Farmhand yang terpasang di ponsel. Aplikasi ini terhubung dengan kamera yang terpasang di dalam kontainer.

Aplikasi Farmhand untuk mengontrol kadar air dan suhu udara dalam kontainer. Foto: freightfarms.com

Aplikasi Farmhand untuk mengontrol kadar air dan suhu udara dalam kontainer. Foto: freightfarms.com

Freight Farms telah lebih dulu memulai teknik bertani di atas atap rumah. Teknik ini dikembangkan oleh pendiri Freight Farms, yaitu Jon Friedman dan Brad McNamara. Mereka memutuskan untuk mengubah haluan bertani dengan sistem pertanian dalam kontainer. Hal ini mereka anggap lebih hemat dan lebih sedikit memakan energi. Saat ini Freight Farms telah memperoleh kucuran dana sebesar 4,9 juta dollar dan sedang mengembangkan teknologi pertanian yang baru.

Penulis: NW/G15
Sumber: www.inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/lahan-pertanian-dalam-kontainer/feed/ 0