tembakau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/tembakau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 02 Feb 2026 06:56:04 +0000 id hourly 1 Tingginya Konsumsi Tembakau Picu Lonjakan Kematian Kardiovaskuler https://www.greeners.co/berita/tingginya-konsumsi-tembakau-picu-lonjakan-kematian-kardiovaskuler/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tingginya-konsumsi-tembakau-picu-lonjakan-kematian-kardiovaskuler https://www.greeners.co/berita/tingginya-konsumsi-tembakau-picu-lonjakan-kematian-kardiovaskuler/#respond Mon, 02 Feb 2026 06:56:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48069 Jakarta (Greeners) – Tren prevalensi perokok di Indonesia menunjukkan peningkatan dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dampak dari tingginya konsumsi tembakau ini memicu lonjakan kematian kardiovaskuler. Peningkatan tercatat pada kelompok […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tren prevalensi perokok di Indonesia menunjukkan peningkatan dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dampak dari tingginya konsumsi tembakau ini memicu lonjakan kematian kardiovaskuler.

Peningkatan tercatat pada kelompok demografi laki-laki dan usia remaja. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) Study tahun 2021, jumlah perokok laki-laki di Indonesia mencapai angka 63,2 juta jiwa, sementara perokok perempuan tercatat sekitar 11,6 juta jiwa.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR Kesmaszi) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tati Suryati mengatakan bahwa selama tiga dekade, sejak tahun 1990 sampai 2021, perokok remaja umur 10-15 tahun dan dewasa 15 tahun ke atas terus meningkat.

“Peningkatan itu, perokok pria jauh lebih tinggi daripada yang perempuan,” kata Tati di Jakarta, Kamis (29/1).

Selain jumlah perokok yang masif, intensitas konsumsi rokok di Indonesia juga tergolong tinggi. Data menunjukkan bahwa rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi sekitar 4.190 batang rokok per tahun.

Di tingkat regional ASEAN, tercatat ada 33,1 juta perokok pria yang menghisap lebih dari 15 batang per hari. Indonesia berkontribusi signifikan terhadap angka ini, di mana data menunjukkan sekitar lebih dari 15 juta perokok pria di tanah air mengonsumsi rokok dengan intensitas tinggi tersebut.

Tati menjelaskan bahwa semakin tinggi jumlah konsumsi rokok menyebabkan semakin cepat timbulnya respons penyakit dalam tubuh seseorang.

“Semakin tinggi konsumsi, semakin mencapai pada dosis respons untuk timbulnya insiden penyakit. Perokok pria Indonesia ini jumlahnya lebih dari 50 persen populasi perokok di Asia Tenggara, sehingga timbulnya penyakit di Indonesia mungkin lebih cepat dibandingkan negara lain yang konsumsinya lebih sedikit,” tambahnya.

Tingginya Angka Kematian

Dampak kesehatan dari tingginya konsumsi tembakau ini berakibat pada tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat tembakau adalah penyakit kardiovaskuler. Tingkat kematian akibat kardiovaskuler mencapai 59,60 per 100.000 penduduk.

Kerugian ini tidak hanya dihitung dari angka kematian, namun juga menggunakan indikator Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yaitu tahun produktif yang hilang akibat kematian dini atau disabilitas.

Untuk kasus kardiovaskuler di Indonesia, kerugiannya mencapai hampir 2.000 tahun produktif yang hilang per 100.000 penduduk. Secara total estimasi, terdapat sekitar 5,4 juta tahun produktif yang hilang akibat penyakit ini.

Tingginya beban penyakit ini berimplikasi langsung pada kerugian ekonomi nasional. Tati memaparkan bahwa pada 2019, kerugian ekonomi akibat konsumsi tembakau berkisar antara Rp184,36 triliun hingga Rp410,76 triliun. Angka ini setara dengan 1,16 persen hingga 2,59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Lebih rinci, BPJS Kesehatan harus mengalokasikan dana sebesar Rp10,4 triliun hingga Rp15,6 triliun hanya untuk biaya perawatan penyakit akibat merokok. Namun, Tati menekankan bahwa angka triliunan rupiah tersebut kemungkinan besar masih underestimate atau di bawah angka sebenarnya.

“Perhitungan ini masih estimate, karena biasanya yang dihitung hanya diagnosis utama saja. Belum dihitung jika seseorang memiliki komplikasi atau komorbiditas lain. Selain itu, data ini seringkali hanya menangkap pelayanan rujukan di level 2 atau 3, belum mencakup keseluruhan dampak ekonomi yang riil di lapangan,” jelasnya.

Beratnya Implementasi Kawasan Tanpa Rokok

Meskipun Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 menargetkan penurunan prevalensi melalui penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), implementasinya masih menghadapi tantangan berat.

Data tahun 2019 menunjukkan 83 persen kabupaten/kota telah memiliki aturan KTR. Namun, survei memperlihatkan 50,53 persen remaja non perokok masih terpapar asap rokok orang lain (second hand smoke) di lingkungan sekolah. Sisanya, sebanyak 46,18 persen terpapar di rumah.

Kondisi ini kian parah akibat tingginya kasus pneumonia pada balita yang berkorelasi dengan paparan asap rokok di rumah tangga. Tati menyimpulkan konsumsi tembakau bukan sekadar gaya hidup, melainkan ancaman vital bagi kesehatan masyarakat. Hal itu berakibat pada tekanan fiskal negara dan keberlanjutan jaminan kesehatan nasional.

Oleh karena itu, Tati menyampaikan perlunya penguatan fasilitas pelayanan kesehatan primer untuk deteksi dini penyakit akibat rokok, serta pengembangan strategi pengendalian tembakau yang lebih efektif dan tegas. Hal itu penting guna menyelamatkan generasi produktif Indonesia di masa depan.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/tingginya-konsumsi-tembakau-picu-lonjakan-kematian-kardiovaskuler/feed/ 0
Aksi Hari Kesehatan Nasional Soroti Lemahnya Pengendalian Tembakau https://www.greeners.co/aksi/aksi-hari-kesehatan-nasional-soroti-lemahnya-pengendalian-tembakau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aksi-hari-kesehatan-nasional-soroti-lemahnya-pengendalian-tembakau https://www.greeners.co/aksi/aksi-hari-kesehatan-nasional-soroti-lemahnya-pengendalian-tembakau/#respond Mon, 17 Nov 2025 11:15:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=47688 Jakarta (Greeners) – Komunitas Save Our Surroundings (SOS) menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (12/11). Aksi tersebut bertajuk “Kesepakatan Asap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas Save Our Surroundings (SOS) menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (12/11). Aksi tersebut bertajuk “Kesepakatan Asap di Meja Rapat: Hak Sehat Rakyat Digadai Cuan Korporasi”. Mereka menyoroti lemahnya kebijakan pengendalian tembakau akibat intervensi industri dan kurangnya komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan publik.

Tobacco Control Lead di Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Beladenta Amalia mengatakan bahwa peringatan Hari Kesehatan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, sejauh mana negara berpihak pada kesehatan rakyatnya. Sayangnya, kebijakan pengendalian tembakau terus dilemahkan oleh industri rokok yang kepentingannya jelas bertentangan dengan kepentingan negara untuk melindungi kesehatan publik.

Bela menyoroti Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan. PP tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang justru mandek akibat intervensi, tekanan industri, serta kompromi lintas kementerian.

“Kementerian Kesehatan seharusnya menunjukkan komitmen nyata agar kebijakan cukai rokok dan turunan PP Kesehatan tetap berpihak pada kesehatan masyarakat. Sementara itu, di Kementerian Keuangan, ia melihat kebijakan fiskal mundur dengan cukai rokok tidak naik dua kali selama pemerintahan Prabowo-Gibran,” kata Bela saat aksi di Jakarta.

Padahal, menurutnya, harga rokok yang diatur dengan cukai adalah instrumen paling efektif untuk menekan konsumsi rokok dan melindungi generasi muda. Ia juga menegaskan bahwa saat ini kebijakan kesehatan telah dikooptasi oleh kepentingan korporasi rokok

“Negara harus kembali pada mandat konstitusi, yaitu menjamin hak atas kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan melindungi kepentingan bisnis,” tegasnya.

Dampak Besar Lemahnya Pengendalian Tembakau

Laporan dari Tobacco Industry Interference (TII) 2025 juga menunjukkan semakin kuatnya pengaruh industri dalam melemahkan kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Lemahnya pengendalian tembakau ini akan berdampak terhadap generasi muda yang menjadi korban.

Data menunjukkan, jumlah perokok anak menjadi meningkat. Pada tahun 2018 Riset Kesehatan Dasar menunjukkan, jumlah perokok anak mencapai 4,1 juta. Kemudian, pada tahun 2023 meningkat menjadi 5,9 juta (Survei Kesehatan Indonesia). Jumlah tersebut setara dengan populasi Singapura.

Project Monitoring and Evaluation dari Indonesia Youth Tactical Changes (IYCTC), Nalsali Ginting menilai adanya kontradiksi oleh pemerintah. Mereka yang gencar berbicara soal pemberdayaan pemuda, namun justru memberi ruang bagi industri rokok menargetkan anak-anak sebagai target pasar mereka.

“Setiap anak yang mulai merokok hari ini adalah bukti kegagalan negara dalam melindungi generasi penerusnya. Pemerintah tak bisa terus berdalih, sementara kebijakan yang longgar justru memelihara pasar rokok di kalangan muda,” tegas Nalsali.

Tiga Tuntutan Utama kepada Pemerintah

Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) Aryana Satrya, menyampaikan bahwa aksi ini membawa tiga tuntutan utama kepada pemerintah.

Pertama, mereka menuntut presiden dan para menteri segera mengesahkan serta menerapkan seluruh turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 dalam klaster pengendalian zat adiktif. Khususnya ketentuan yang selama ini ditolak oleh industri tembakau, seperti standarisasi kemasan dan pembatasan iklan, promosi, serta sponsor rokok.

Kedua, mereka juga mendesak pemerintah agar penetapan tarif cukai hasil tembakau menjadikan kesehatan sebagai pertimbangan utama. Cukai harus naik secara signifikan agar harga pokok mahal dan konsumsi menurun. Terakhir, mereka meminta pemerintah memastikan independensi penuh kebijakan kesehatan dari pengaruh industri tembakau.

Aryana menilai, dalam beberapa teahun terakhir ini, kebijakan pengendalian tembakau lemah. Hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh industri terhadap proses pengambilan keputusan dalam penyusunan kebijakan kesehatan.

“Selama industri masih punya kursi dalam pembahasan kebijakan, kesehatan publik bukan menjadi prioritas pemerintah,” tegasnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/aksi-hari-kesehatan-nasional-soroti-lemahnya-pengendalian-tembakau/feed/ 0
Puntung Rokok Menjadi Sampah Terbanyak ke-8 di Laut https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/#respond Sat, 24 Feb 2024 03:03:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=43153 Jakarta (Greeners) – Riset telah membuktikan bahwa puntung rokok merupakan sumber sampah terbanyak kedelapan di lautan, yaitu sebesar 6,47%. Temuan penelitian tersebut terkonfirmasi di 18 pantai di Indonesia pada Februari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Riset telah membuktikan bahwa puntung rokok merupakan sumber sampah terbanyak kedelapan di lautan, yaitu sebesar 6,47%. Temuan penelitian tersebut terkonfirmasi di 18 pantai di Indonesia pada Februari 2018 hingga Desember 2019 oleh Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova.

“Setiap satu meter persegi ditemukan satu puntung rokok,” ungkap Reza lewat keterangan tertulisnya, Rabu (21/2).

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa rokok tidak hanya membunuh setengah dari konsumennya. Melainkan, juga menyebabkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.

BACA JUGA: Sampah Laut: Ancaman Serius bagi Satwa di Pulau Rambut

Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampah tersebut menyumbang 5-9% sampah. Sekitar 4,5 trilliun puntung rokok yang dibuang sembarangan setiap tahun berakhir ke lautan. Sampah itu mengeluarkan bahan kimia dan logam berat dalam kadar tinggi yang mudah mencemari tanah dan air. Bahkan, membunuh mikroorganisme dan hewan air.

Mengutip dari Stop Tobacco Pollution Alliance, puntung rokok juga melepaskan ribuan serat mikroplastik ke laut. Reza juga sepakat bahwa rokok tidak hanya berbahaya bagi paru-paru, tetapi sampah puntung rokok juga mencemari lingkungan.

Satu filter rokok memiliki 12.000–15.000 helai selulosa asetat dan melepaskan sekitar 100 serat selulosa asetat setiap hari. Puntung rokok yang tersebar di lingkungan memerlukan waktu 10 tahun untuk terurai.

Ilustrasi puntung rokok. Foto: Freepik

Ilustrasi puntung rokok. Foto: Freepik

Konsumsi Tembakau Indonesia Nomor 3 di Dunia

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, konsumsi tembakau di Indonesia telah menempati nomor 3 di dunia, mencapai 322 miliar batang pada tahun 2020. Hal itu berpotensi menghasilkan sekitar 107,333 ton sampah puntung rokok.

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Rofie Alhanif mengatakan pencemaran sampah plastik laut merupakan isu global. Salah satunya di Indonesia yang menjadi salah satu negara kontributor terbesar kebocoran sampah plastik ke laut.

BACA JUGA: Cloud of Sea, Alat Canggih untuk Angkut Mikroplastik di Laut

“Melalui berbagai upaya, sampai dengan akhir tahun 2022 Indonesia sudah berhasil mengurangi sekitar 35% kebocoran sampah plastik ke laut dibandingkan dengan baseline data 2018,” ujar Rofie.

Puntung rokok, jelas Rofie, merupakan salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan di sungai dan laut, akibat dibuang sembarangan dan belum dapat dikelola dengan baik. Kandungan sampah tersebut juga berbahaya. Ada ribuan zat kimia dan plastik yang membahayakan lingkungan. Sampah puntung rokok yang bocor ke laut bahkan bisa membahayakan ekosistem laut.

Filter Rokok Bisa Membahayakan Biota Perairan

Sementara itu, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati mengatakan bahwa filter rokok dapat melepaskan berbagai bahan kimia. Bahan tersebut yang berasal dari pemanenan dan pengolahan tembakau.

Filter rokok yang dihisap dapat melepaskan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Terutama naftalena, nikotin, etanol, etilfenol, benzene, toluene, xilena (BTEX), dan logam berat ke dalam air.

“PAH terlarut, nikotin, BTEX dan logam berat dapat terakumulasi dalam jaringan biota perairan,” kata Yuyun.

Yuyun juga mendukung pasal tentang puntung rokok masuk dalam proses negosiasi perjanjian internasional tentang plastik (plastic treaty). Komite Negosiasi antar Negara atau Intergovermental Negotiating Committee yang ketiga (INC-3) sudah berlangsung di Nairobi, Kenya, pada 13-20 November 2023.

“Indonesia harus punya posisi untuk mendukung pembahasan cigarette butts pada INC-4,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/puntung-rokok-menjadi-sampah-terbanyak-ke-8-di-laut/feed/ 0
Tanaman Tembakau, Lebih dari Sekadar Bahan Baku Rokok https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-tembakau-lebih-dari-sekadar-bahan-baku-rokok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tanaman-tembakau-lebih-dari-sekadar-bahan-baku-rokok https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-tembakau-lebih-dari-sekadar-bahan-baku-rokok/#respond Tue, 01 Nov 2022 03:00:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37827 Tanaman tembakau tak ubahnya pisau bermata dua. Di satu sisi kandungannya sangat berbahaya bagi kesehatan, tetapi di sisi lain tumbuhan tersebut dapat memberi manfaat jika digunakan secara tepat. Perannya bahkan […]]]>

Tanaman tembakau tak ubahnya pisau bermata dua. Di satu sisi kandungannya sangat berbahaya bagi kesehatan, tetapi di sisi lain tumbuhan tersebut dapat memberi manfaat jika digunakan secara tepat. Perannya bahkan dapat kita rasakan pada dunia medis, kesehatan, serta lingkungan.

Tobacco atau dikenal juga sebagai tembakau, adalah sejenis tumbuhan herba tahunan yang jamak dibudidayakan di berbagai negara. Flora ini tidak tumbuh liar, sehingga hanya bisa kita jumpai di area perkebunan.

Kalaupun ada, tobacco liar biasanya merupakan tanaman yang berbiak keluar dari proses budidaya. Tumbuhan ini ahli golongkan dalam famili Solanaceae dan genus Nicotiana, serta memiliki nama latin N. tabacum.

Secara klasifikasi, dapat kita diketahui bahwa tobacco masih berkerabat dengan tomat dan cabai. Spesies N. tabacum sendiri adalah jenis yang paling banyak dibudidayakan, sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Tanaman Tembakau

Secara keseluruhan, tanaman tembakau dapat tumbuh antara 3–5 kaki (90–152 cm) dan lebar sekitar 1–2 kaki (30–61 cm). Batangnya berwarna cokelat kekuningan atau agak gelap, dengan panjang berkisar 2 meter.

Bentuk batang terlihat silinder dengan lebar 0,5–5 cm. Permukaannya kasar dengan retakan berserabut, serta dikelilingi oleh rambut kelenjar yang lembap dan mampu mengeluarkan cairan berwarna kuning.

Buat Anda yang belum tahu, cairan kuning itulah yang dikenal sebagai nikotin. Daun-daunnya tumbuh berselang-seling dengan bentuk lanset menjorong, dengan bunga berwarna putih, merah jambu dan merah.

Bunga tobacco ialah jenis bunga majemuk yang tumbuh dalam tandan. Tiap tandan berisi 15 bunga, bentuknya mirip terompet, panjang, dan terdiri atas bagian kelopak, mahkota, bakal buah, hingga kepala putik.

Tidak cuma itu, tanaman ini juga menghasilkan buah lonjong berukuran mini. Di dalamnya terdapat biji-biji kecil dengan bobot yang ringan. Biji ini pun tidak akan berkecambah sebelum melewati masa dorman.

Habitat dan Distribusi Tanaman Tembakau

Asal-usul tanaman tembakau sebenarnya masih menjadi misteri besar. Tidak ada yang tahu dari mana tumbuhan tersebut berasal, sebab tidak ditemukan individu yang tumbuh secara liar di luar kegiatan budidaya.

Kemungkinan spesies ini merupakan bentuk evolusi dari flora yang ada di Brasil atau Andes. Lalu, ada pula yang menyebut bahwa N. tabacum adalah hasil hibridisasi N. sylvestris, N. tomentosiformis atau N. otophora.

Terkait syarat pertumbuhan, spesies N. tabacum tidak toleran terhadap iklim yang kering atau terlalu basah. Kecepatan angin juga tidak boleh terlalu kencang, sebab dapat merusak pertumbuhan tanaman tersebut.

Tembakau tumbuh subur pada suhu lingkungan antara 21–32,3 derajat Celsius. Mereka dapat berkembang biak pada dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukan laut, tergantung varietasnya.

Jenis tembakau Deli misalnya, paling cocok ditanam pada tanah aluvial dan andosol. Sedangkan Virginia flu-cured sesuai untuk tanah podsolik, dengan derajat atau tingkat keasaman tanah mencapai 5,5–6.

Kegunaan dan Manfaat Tanaman Tembakau

Tembakau biasanya mengandung tar, nikotin, gas CO, dan NO. Hampir setiap bagiannya (kecuali biji) mengandung nikotin dengan jumlah yang bervariasi, tergantung varietas, jenis tanah, dan iklim pertumbuhannya.

Karena itu, tanaman ini dinilai lebih besar risiko daripada manfaatnya. Padahal jika dikelola secara baik dan benar, spesies N. tabacum dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya:

– Pembuatan Obat Herbal

Senyawa yang ada di dalam tanaman tobacco dinilai ampuh mengobati berbagai penyakit, seperti nyeri, sembelit, asam urat, kejang-kejang, dan keracunan akibat gigitan reptil atau serangga berbisa.

Bahkan, flora ini bisa bertindak sebagai stimulan napas. Tapal daunnya dapat dioleskan ke permukaan kulit untuk membantu mengurangi rasa gatal maupun nyeri ringan akibat reaksi alergi.

– Mempercepat Produksi Vaksin

Tobacco mengandung antigen yang sebanding dengan virus influenza, sehingga menjadikannya sebagai kandidat vaksin yang cukup potensial.

Dibandingkan virus influenza asli yang membutuhkan waktu satu bulan untuk menjadi vaksin, produksi vaksin dari tobacco ahli nilai lebih cepat.

– Membantu Proses Fitoremediasi

Fitoremediasi adalah upaya menggunakan tumbuhan dan bahan untuk membersihkan sampah dan masalah pencemaran lingkungan. Dengan cara ini, tanah, udara dan air yang tercemar dapat dibersihkan.

Tembakau dianggap sebagai salah satu tanaman yang sempurna untuk proses fitoremediasi, karena pucuk daunnya mengandung logam berat dan biomassa yang tinggi, serta pertumbuhan yang cepat.

Taksonomi Spesies Nicotiana Tabacum

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tanaman-tembakau-lebih-dari-sekadar-bahan-baku-rokok/feed/ 0
Menukar Rokok dengan Susu di Earth Without Tobacco Day https://www.greeners.co/aksi/menukar-rokok-susu-earth-without-tobacco-day/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menukar-rokok-susu-earth-without-tobacco-day https://www.greeners.co/aksi/menukar-rokok-susu-earth-without-tobacco-day/#respond Wed, 01 Jun 2016 14:51:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13843 Health Safety Environment (HSE) Geologi Universitas Padjajaran mensosialisasikan kembali kebijakan Pemerintah Kota Bandung tentang Selasa Tanpa Rokok kepada pengunjung di kawasan CFD Dago dengan tajuk "Earth Without Tobacco Day 2016" pada Minggu pagi (29/5).]]>

Bandung (Greeners) – Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei menjadi salah satu momentum untuk mengingat akan bahaya rokok bagi kesehatan manusia. Tidak hanya berdampak pada perokok aktif saja, perokok pasif juga menjadi korban dari paparan asap rokok.

Di kota Bandung terdapat kebijakan “Selasa Tanpa Rokok” yang dicanangkan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil dengan tujuan mengurangi sedikit demi sedikit jumlah perokok dan dampak rokok. Namun, kebijakan itu terasa sebagai “hiasan” kota karena kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat kota Bandung yang mayoritas perokok aktif.

Untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Health Safety Environment (HSE) Geologi Universitas Padjajaran mensosialisasikan kembali kebijakan Pemerintah Kota Bandung tentang Selasa Tanpa Rokok kepada pengunjung di kawasan Car Free Day Dago dengan tajuk “Earth Without Tobacco Day 2016” pada Minggu pagi (29/5).

Pada kegiatan sosialisasi ini, para mahasiswa meramaikan CFD Dago dengan beberapa aksi seperti tukar rokok dengan susu, pameran foto dan poster bertajuk “Life Less Tobacco” serta pemeriksaan kesehatan gratis yang berlangsung pada pukul 06.00 hingga 09.45 pagi.

Foto yang dipamerkan kepada pengunjung di halaman parkir sebuah cafe mengisahkan beberapa kegiatan yang seru tanpa adanya rokok dan paparan asap rokok. Sebanyak 20 foto yang dipamerkan adalah foto-foto terbaik yang terkumpul pada kontes foto instagram beberapa hari sebelumnya.

Sheila Ayu Pricilla, Ketua Pelaksana dari Fakultas Geologi Unpad menyebut aksi ini dilakukan HSE Geologi Unpad untuk mengkampanyekan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan mengajak para perokok untuk menyadari bahaya rokok sekaligus mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Kota Bandung tentang Hari Selasa Tanpa Rokok.

“Saat dilakukan eksperimen di stand, banyak perokok yang sadar bahaya dari zat yang tekandung dalam rokok dan ingin mengurangi konsumsi rokok dan menukarkan batang rokoknya dengan susu. Ditambah lagi dengan adanya cek medis bagi pengunjung dimana mereka bisa tahu kondisi kesehatannya,” ujar Sheila.

Lebih kurang dua bungkus rokok yang ditukar pengunjung pada dengan susu ini akan dikubur oleh panitia HSE Geologi Unpad pada 31 Mei tepat saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Mengenai fenomena generasi muda yang menjadi mayoritas perokok aktif akhir-akhir ini, Sheila berpendapat, merokok bisa dikatakan menjadi pilihan. Namun, sebagai yang tahu dengan bahaya rokok harus mengingatkan lagi para perokok yang mungkin belum sadar bahwa rokok membahayakan dirinya dan setidaknya menghargai perokok pasif dengan tidak merokok di dekat mereka.

“Gerakan ini tidak hanya HSE Geologi Unpad saja yang mengkampanyekan, namun dari banyak kalangan juga agar semua orang mengetahui dan menjalankan gerakan 31 Mei Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan target jangka panjangnya berkurangnya jumlah perokok aktif di Indonesia,” harap Sheila.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/menukar-rokok-susu-earth-without-tobacco-day/feed/ 0
Kemenkes: Rokok Tidak Ada Hubungannya dengan Kesehatan? Nonsense! https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/#respond Wed, 30 Sep 2015 02:30:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11292 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan menampik anggapan yang menyatakan bahwa merokok tidak menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit kanker. Seperti dilansir dalam lembar fakta dari hasil riset Kemenkes, menurut The Tobacco […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kesehatan menampik anggapan yang menyatakan bahwa merokok tidak menyebabkan gangguan kesehatan, termasuk penyakit kanker. Seperti dilansir dalam lembar fakta dari hasil riset Kemenkes, menurut The Tobacco Atlas, rokok membunuh 217.400 orang di Indonesia setiap tahunnya dan menyebabkan kematian setiap satu dari lima orang (19,8%) pria dewasa dan 8,1% dari wanita dewasa. Kematian ini disebabkan oleh tingginya angka prevalensi perokok, terutama pada kaum pria.

“Jadi, kalau dibilang rokok tidak ada hubungannya dengan kesehatan, nonsense! Penelitiannya jelas ada,” ujar dr.T. Sandra D.Ratih, MHA, Kepala Subdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementerian Kesehatan. Sandra ditemui usai menghadiri acara “Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal” di Jakarta, Selasa (29/09) siang.

Di sisi lain, Sandra mengakui bahwa hingga saat ini belum ada aturan yang secara ketat mengatur tentang rokok dan tembakau, termasuk hukuman bagi orang yang melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. Namun, ia menolak jika Kemenkes dinilai tidak memiliki kekuatan untuk memaksa agar peraturan mengenai rokok dan tembakau diperketat.

“Kami, pemerintah, tetap berusaha. Mungkin kementerian lain berpikir berbeda tapi itu yang kami coba selaraskan,” imbuhnya.

Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal, Jakarta, Selasa (29/09). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Konferensi Pers Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat Pengendalian Tembakau: Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal, Jakarta, Selasa (29/09). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Ditemui dalam acara yang sama, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes, dr. Eni Gustina, MPH, menyatakan apresiasinya terhadap daerah-daerah yang memberlakukan Kawasan Tanpa Rokok sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

“Kami salut dengan daerah-daerah yang sudah memberlakukan peraturan pelarangan merokok di tempat umum, bahkan sampai memberlakukan denda sekitar lima ratus ribu rupiah bagi yang melanggar,” ujarnya.

Eni lantas mengutip data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) di Indonesia tahun 2014 yang menyatakan sebanyak 43,2 persen remaja merokok dan mulai merokok pada usia 12-13 tahun. Terkait data tersebut, ia menyayangkan perilaku orangtua yang menyuruh anaknya untuk membelikan rokok di warung.

“Itu sama saja dengan melakukan kekerasan kepada anak karena memperkenalkan zat berbahaya kepada anak,” katanya.

Sebagai informasi, untuk menunjukkan bahaya dan penyakit akibat penggunaan tembakau pada perokok dan orang disekitarnya, Kementerian Kesehatan meluncurkan Iklan Layanan Masyarakat berjudul “Rokok itu Murah, Obatnya yang Mahal”. Iklan ini menceritakan kisah Robby Indra Wahyuda, seorang pemuda berusia 27 tahun yang meninggal dunia pada Juni 2015 karena kanker laring akibat merokok.

Hasil kerjasama Kemenkes dan World Lung Foundation (WLF) ini ditayangkan di tujuh stasiun televisi nasional dan stasiun radio selama enam minggu. Kampanye ini juga akan dipromosikan dan disebarkan di media sosial dengan menggunakan tagar #SuaraTanpa Rokok.

Hingga saat ini, pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan mengenai rokok dan tembakau. Diantaranya, Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyebutkan bahwa tembakau dan produk yang mengandung tembakau dianggap sebagai zat adiktif. Ada pula Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Sebagai turunan dari PP 109/2012 tersebut, Kemenkes telah membuat Permenkes nomor 28 tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar dan Tulisan pada Kemasan Produk Tembakau, serta Permenkes nomor 40 tahun 2013 tentang Peta Jalan (Road Map) Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemenkes-rokok-tidak-ada-hubungannya-dengan-kesehatan-nonsense/feed/ 0
Gangguan Kesehatan Mengintai Perokok Elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/#respond Thu, 04 Jun 2015 07:38:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9440 (Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman […]]]>

(Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, pendapat tersebut adalah hal yang keliru.

Seperti dilansir dalam situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, www.depkes.go.id, rokok elektrik adalah alat untuk mengubah cairan kimia yang terdiri dari nikotin dan propylene glycol untuk menjadi uap dan mengalirkannya ke dalam paru-paru. Propylene glycol sendiri merupakan salah satu zat penyusun liquid (cairan) rokok elektrik yang berfungsi sebagai penebal uap. Zat kimia ini menjadi perhatian sejumlah peneliti, karena dapat menyebabkan iritasi bagi yang menghirupnya.

Selain itu, nikotin yang terdapat dalam cairan kimia rokok elektronik sama halnya dengan rokok pada umumnya, zat ini dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan, penyakit jantung, serta cacat dan keguguran. Masih dari situs depkes.go.id, nikotin yang terdapat dalam rokok elektrik dapat menyebabkan kecanduan bagi pemakainya. Rokok elektrik hanyalah sebuah cara baru untuk memasukkan nikotin ke dalam tubuh manusia.

Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bahwa ada beberapa kandungan berbahaya lainnya yang terdapat pada rokok elektrik yang dapat memicu kanker. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Ekowati Rahajeng menyebutkan kandungan tersebut adalah nitrosamine, logam beracun (kadmium, nikel dan timbal), carbonyl yang berisi formaldehyde dan acetaldehyde, serta acrolein.

Ia juga mengatakan bahwa, “Berdasarkan sejumlah penelitian, rokok elektrik itu sama bahayanya atau bisa lebih bahaya daripada rokok biasa. Karena rokok elektrik menyasar generasi muda, dikhawatirkan malah meningkatkan jumlah perokok baru di Indonesia.”

Pada tahun 2014 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengeluarkan laporan “Electronic nicotine delivery systems” (ENDS) yang disampaikan dalam Konvensi Kerjasama WHO terhadap Kontrol atas Tembakau (WHO Framework Convention on Tobacco Control/WHO FCTC) di Moskow, Rusia. Dari laporan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kandungan dalam rokok elektrik tidak hanya berbahaya bagi penggunanya namun juga dapat membahayakan orang-orang yang turut menghisap asap dari rokok elektrik.

Selain itu, WHO juga menyarankan untuk tidak menghisap rokok elektrik di dalam ruangan, baik ruang publik maupun tempat kerja. Menurut bukti-bukti yang didapat WHO, asap dari rokok elektrik yang mengandung aerosol meningkatkan kadar nikotin, racun, dan partikel lainnya di udara. Lembaga ini juga menyarankan agar badan pemerintah terkait membatasi iklan, sponsor serta promosi dari rokok elektronik agar tidak menyasar kaum muda dan orang yang tidak merokok.

Jadi, baik rokok elektrik maupun rokok konvensional, keduanya sama-sama berdampak buruk bagi kesehatan pengguna dan orang-orang yang ada didekatnya. Berhenti merokok adalah jalan terbaik demi paru-paru yang sehat.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/feed/ 0
Pro Kontra Disahkannya RUU Tembakau Masuk Prolegnas 2015 https://www.greeners.co/berita/pro-kontra-disahkannya-ruu-tembakau-masuk-prolegnas-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pro-kontra-disahkannya-ruu-tembakau-masuk-prolegnas-2015 https://www.greeners.co/berita/pro-kontra-disahkannya-ruu-tembakau-masuk-prolegnas-2015/#respond Wed, 11 Feb 2015 09:32:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7386 Jakarta (Greeners) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengecam tindakan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan dan memasukkannya dalam Program Legislasi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengecam tindakan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia yang mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan dan memasukkannya dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2015 pada Sidang Paripurna Senin (09/02) kemarin.

Pengurus Harian YLKI yang juga pengurus dari Komisi nasional (Komnas) Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, melalui keterangan resminya mengatakan bahwa pengesahan tersebut merupakan sebuah langkah yang gegabah dan merupakan kemunduran yang luar biasa besar untuk melindungi masyarakat Indonesia dari bahaya dan dampak buruk rokok atau tembakau.

“Dengan memasukkan RUU Pertembakauan itu artinya DPR telah menganulir beberapa pasal dalam UU Kesehatan yang mengatur pembatasan konsumsi rokok atau tembakau, bahkan akan merontokan regulasi lain seperti Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah,” tukasnya, Jakarta, Rabu (11/02).

Tulus juga menyatakan bahwa DPR telah menggadaikan kesehatan dan masa depan anak-anak, remaja dan generasi muda dan membiarkan mereka menjadi pecandu tembakau. Menurutnya RUU Pertembakauan adalah regulasi yang didesain oleh industri rokok besar untuk makin mengukuhkan industri rokok agar mampu memproduksi dan memasarkan racun bagi anak-anak dan remaja Indonesia.

“Langkah DPR yang gegabah ini, dengan memasukkan RUU Pertembakauan pada Prolegnas 2015 bahkan menjadikannya skala prioritas pembahasan, adalah bencana yang sangat serius bagi masyarakat Indonesia ke depannya. Kami menduga kuat ini adalah wujud dari RUU transaksional para industri rokok besar,” tandasnya.

Di lain pihak, Koordinator Nasional Komunitas Kretek, Abhisam Madosa, menganggap bahwa masuknya RUU Pertembakauan ini ke dalam Prolegnas 2015 merupakan sebuah “win-win solution” atau langkah untuk menengahi pihak-pihak yang pro dan kontra terhadap tembakau.

Menurutnya, selama tembakau masih berstatus legal di Indonesia maka seluruh aspek yang terkait di dalamnya seperti petani dan pengrajin tembakau, khususnya tradisional dan rumahan, juga memiliki hak perlindungan yang sama dalam mendapatkan perlindungan.

“Kalau dari aspek kesehatan ya sehat itu apa sih? Apa kalau mereka kehilangan mata pencaharian itu bisa dibilang sehat? Mereka yang anti tembakau ini kan enggak mikirin apa mata pencaharian alternatif para petani ini nantinya,” katanya kepada Greeners.

Sebagai informasi, sebelumnya, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI memasukkan Rancangan Undang-Undang tentang Pertembakauan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2015. Wakil Ketua Baleg, Firman Soebagyo mengatakan, masuknya RUU tersebut dalam daftar prioritas pembahasan merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi dominasi rokok putih di pasar domestik dalam negeri.

“Tembakau merupakan komoditas strategis Indonesia dan tembakau kita memiliki sejarah terbaik di dunia. RUU ini sendiri dibuat untuk tidak mematikan petani tembakau, tidak mematikan pabrik rokok kretek, dan tetap memperhatikan masalah kesehatan,” kata dia beberapa waktu lalu.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pro-kontra-disahkannya-ruu-tembakau-masuk-prolegnas-2015/feed/ 0