unesco - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/unesco/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 02 Feb 2025 03:03:04 +0000 id hourly 1 Data Ilmiah Bisa Dorong Rempah Indonesia Jadi Warisan Dunia https://www.greeners.co/aksi/data-ilmiah-bisa-dorong-rempah-indonesia-jadi-warisan-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=data-ilmiah-bisa-dorong-rempah-indonesia-jadi-warisan-dunia https://www.greeners.co/aksi/data-ilmiah-bisa-dorong-rempah-indonesia-jadi-warisan-dunia/#respond Sun, 02 Feb 2025 03:03:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45819 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah (YNR) untuk menghasilkan data ilmiah tentang rempah di Indonesia. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah (YNR) untuk menghasilkan data ilmiah tentang rempah di Indonesia. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat pengakuan ‘Jalur Rempah’ sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Asep Hidayat mengatakan, kerja sama ini juga akan memberikan rekomendasi untuk perbaikan produksi rempah guna memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen rempah utama dunia.

Saat ini, produktivitas rempah Indonesia menghadapi berbagai kendala. Di antaranya pohon rempah yang sudah tua, kurangnya pengetahuan tentang budi daya, serta pengelolaan pascapanen yang belum optimal.

Oleh karena itu, lanjut Asep, perlu kolaborasi antara produsen, pemerintah, swasta, dan lembaga terkait. Hal ini untuk meningkatkan kualitas dan produksi rempah. Terutama, komoditas unggulan Indonesia yang memiliki potensi ekspor besar.

“Kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi kita semua. Tantangan penelitian semakin besar, dan kita tidak bisa bekerja sendiri. Butuh sinergi kuat untuk mencapai hasil maksimal,” ujar Asep di Jakarta, Kamis, (30/1).

Ia juga mengapresiasi upaya pengusulan “Jalur Rempah” sebagai warisan dunia dan menegaskan bahwa BRIN akan terus mendukung langkah ini. Baginya, perjuangan ini tidak mudah, tetapi rempah Indonesia memiliki nilai luar biasa yang harus dilestarikan.

Asep menekankan pentingnya fokus dalam setiap tahapan kerja sama agar hasilnya optimal. Setelah BRIN dan YNR menyepakati perjanjian kerja sama, keduanya akan segera menyusun rencana aksi untuk tahun 2025. Ini termasuk tahapan, pendanaan, serta pembagian tugas yang jelas.

Perkaya Pengetahuan

Sementara itu, Dewi Kumoratih dari YNR juga menyampaikan bahwa kerja sama ini memberikan nilai positif yang sangat besar. Ia berharap dapat belajar banyak dari teman-teman di BRIN, yang penelitiannya pasti akan berkembang lebih luas lagi.

“Negeri Rempah yang diinisiasi oleh berbagai komunitas dan disiplin ilmu, dengan adanya kerja sama ini, semakin memperkaya apa yang telah kami kumpulkan,” ujar Dewi.

Dewi yakin kerja sama ini akan saling memperkaya pengetahuan dan memperkuat argumentasi Indonesia di dunia internasional. Menurutnya, hal ini adalah bagian dari kekayaan riset BRIN dan YNR yang berkontribusi besar bagi dunia.

Ia mengatakan bahwa YNR hadir sebagai organisasi yang berkomitmen untuk mengangkat keberagaman Indonesia melalui rempah. Sejak 2019, YNR telah menyelenggarakan International Forum on Spice Route (IFSR) yang membahas tantangan sektor rempah serta menciptakan peluang baru bagi seluruh pelaku di rantai pasok rempah.

Organisasi ini memiliki misi untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar rempah global, memperkenalkan inovasi, dan memberdayakan generasi muda yang tertarik pada industri rempah.

Bagian dari Budaya

Rempah-rempah telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Sebagai salah satu penghasil rempah terbesar di dunia, Indonesia terkenal dengan komoditas seperti kayu manis, cengkeh, pala, lada, dan vanili. Potensi rempah Indonesia sangat besar, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal itu menjadikannya komoditas ekspor yang sangat bernilai.

Secara historis, Indonesia telah lama terkenal sebagai produsen utama rempah dunia. Prediksi permintaan global terhadap rempah akan meningkat pesat hingga 12 kali lipat pada 2050.

Namun, meski memiliki potensi besar, ekspor saat ini turun signifikan. Indonesia hanya menguasai sekitar 6,4 persen pasar rempah dunia, jauh tertinggal dari negara-negara seperti Vietnam dan Thailand.

Salah satu tantangan utama yang Indonesia hadapi adalah rendahnya kualitas dan produktivitas rempah. Beberapa faktor yang memengaruhi adalah kebijakan investasi yang belum mendukung, metode budi daya yang masih tradisional, dan kualitas produk yang belum berstandar internasional. Hal ini menghambat daya saing di pasar global.

Menurut BRIN, untuk mengatasi tantangan ini, Indonesia perlu mengadopsi pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi terbaru, kualitas rempah dapat ditingkatkan dan memastikan produk bebas dari mikroba berbahaya, bahan kimia, dan ramah lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/data-ilmiah-bisa-dorong-rempah-indonesia-jadi-warisan-dunia/feed/ 0
Econusa Promosikan Tas Noken, Tas Khas Tanah Papua https://www.greeners.co/aksi/econusa-promosikan-tas-noken-tas-khas-tanah-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=econusa-promosikan-tas-noken-tas-khas-tanah-papua https://www.greeners.co/aksi/econusa-promosikan-tas-noken-tas-khas-tanah-papua/#respond Sat, 03 Aug 2019 01:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=23907 Diskusi ini digelar sebagai bagian dari upaya untuk melindungi Noken, tas tradisional khas Tanah Papua sebagai yang terdaftar dalam UNESCO]]>

Jakarta (Greeners) – Yayasan Econusa menggelar diskusi MaCe (Mari Cerita) Papua yang membahas mengenai tas noken dengan tema “Noken, Rajutan Identitas Masyarakat Papua” di Sinema Hall, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta pada Rabu 31/07.2019.

Tema ini diangkat sebagai bagian upaya untuk melindungi Noken, tas tradisional khas Tanah Papua sebagai “Warisan Budaya Tak Benda” atau intangible heritage yang terdaftar dalam United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki makna filosofis dan simbol-simbol kehidupan yang merepresentasikan wanita Papua, kesuburan, kekeluargaan, ekonomi, kehidupan yang baik, perdamaian dan identitas. Disamping itu, Noken juga menandakan hubungan erat dengan alam.

“Noken adalah idenitas Papua. Di dalam Noken itu kita mengisi kebutuhan seperti hasil bumi, harta benda, juga sebagai gendongan bayi,” ujar Merry Dogopia, selaku ketua Noken Ania yang hadir dalam diskusi. Ia juga menambahkan bahwa proses pembuatan tas Noken ini bisa memakan waktu 1 sampai 2 hari bahkan satu minggu tergantung besarnya ukuran tas.

Turut hadir dalam diskusi, seorang desainer fesyen tanah air, Yurita Puji, yang telah mempromosikan noken hingga ke mancanegara dalam kreasi produk fesyen rancangannya. Yurita mengatakan bahwa Noken dapat diaplikasikan di banyak hal layaknya rajutan pada umumnya. “Buat saya dengan mempromosikannya seperti memberi identitas untuk produk itu, bahwa Noken adalah kepunyaan Indonesia,” ujarnya.

Foto : ich.unesco.org

Noken terbuat dari bahan dasar serat kulit kayu dan pewarna alami yang berasal dari akar tumbuhan dan buah-buahan hutan. Uniknya, setiap suku di Papua memiliki nama dan pola rajutan ciri khas tersendiri. Istilah Noken ini merupakan sebutan untuk menyatukan berbagai nama berbeda di lebih dari 250 suku di Tanah Papua.

Direktur Program Yayasan EcoNusa, Muhammad Farid mengatakan bahwa orang asli Papua (OAP) memiliki hubungan harmonis dengan hutan dan keberadaan tas Noken ini merupakan buktinya. Ia juga menambahkan bahwa Noken bisa digunakan untuk belanja ke supermarket dan bisa mengganti penggunaan kantong plastik sekali pakai.

“Untuk saat ini yang di butuhkan di Papua adalah bagaimana menjaga tutupan hutan yang ada, karena dengan menjaga hutan, proses revegetasi secara alami bisa terjadi. Seperti di pegunungan Arfak, pertaniannya sangat maju dan organik. Bagaimana mereka bisa maju karena jasa lingkungan juga dan ekosistem hutannya terjaga.” jelasnya.

Saat ini, Yayasan EcoNusa tengah membantu provinsi Papua Barat untuk mewujudkan tutupan hutan sebanyak 70% dan berupaya ke berbagai pihak di Papua untuk tidak mengkonversi hutan, karena hutan merupakan sumber penghidupan orang Papua.

Sebagai Informasi, Yayasan EcoNusa (Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan) adalah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan berbagai inisiatif lokal di tingkat nasional dan internasional dalam upaya untuk memberikan dukungan bagi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan setara di Indonesia.

Penulis : Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/aksi/econusa-promosikan-tas-noken-tas-khas-tanah-papua/feed/ 0
Bilou, Owa Terkecil Di Dunia Yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/#respond Thu, 25 Jul 2019 02:57:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23859 International Congress For Conservation Biology (ICCB) 2019, yang berlangsung di Kuala Lumpur, membahas terkait upaya penyelamatan dan konservasi keanekaragaman hayati secara global. Dalam salah satu sesi Oral Presentation (21/7/2019) terdapat […]]]>

International Congress For Conservation Biology (ICCB) 2019, yang berlangsung di Kuala Lumpur, membahas terkait upaya penyelamatan dan konservasi keanekaragaman hayati secara global. Dalam salah satu sesi Oral Presentation (21/7/2019) terdapat pembahasan mengenai Bilou, primata endemik di Taman Nasional Siberut, Mentawai.

Berdasarkan informasi kajian ilmiah, terdapat empat primata endemik di Mentawai yang dilindungi antara lain: 1) primata berhidung pesek atau Simakobu (Simias concolor) dengan dua jenis subspesies S. c. concolor dan S. c. siberu; 2) Lutung atau Joja (Presbytis potenziani) dengan dua subspesies P. p. potenziani dan P. p. siberu; 3) Beruk Mentawai atau Bokkoi (Macaca pagensis) dengan dua subspesies M. p. pagensis dan M. p. siberu; dan 4) Kloss Gibbon atau Bilou (Hylobates klossii).

Dalam sesi tersebut, Biswajit Guha, Kepala Kelompok Ilmu Hayati Taman Safari Indonesia, menyampaikan presentasi dengan judul “Field Conservation Research On Endemic Primates in Siberut National Park on Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia”.

Biswajit menjelaskan bahwa masih terdapat ancaman terhadap primate-primata endemik Mentawai. Ia menerangkan bahwa ancaman datang dari aktivitas manusia dan perburuan liar, salah satunya di area hutan Bojakan.

Kloss Gibbon menjadi salah satu dari primata endemik Mentawai yang populasinya terancam (endangered) berdasarkan daftar merah IUCN. Ia dikenal dengan beberapa penamaan lokal seperti Bilou, Owa Mentawai, dan Siamang Kerdil ini merupakan owa terkecil di dunia.

Secara sebarannya, Bilou tersebar hampir dibeberapa negara kawasan Asia Tenggara, antara lain Brunei, Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Tidak seperti primata mentawai lainnya, ia sangat tergantung kepada pohon untuk bertahan hidup. Primata ini jarang untuk turun ke tanah.

Foto : gibbons.de

Secara morfologi, primata ini memiliki lengan yang panjang, dan berambut hitam. Memiliki kantung tenggorokan yang terletak di bawah dagu yang berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan panggilan apabila ada binatang lain yang masuk ke dalam wilayah teritorial mereka.

Seperti semua spesies owa, Bilou hidup berpasangan. Berat tubuh betina lebih berat dibandingkan jantan. Jantan dewasa beratnya sekitar 5,6 kg, dan untuk betina sekitar 5,9 kg. Mereka mengonsumsi utamanya buah-buahan, namun terkadang juga mereka mengonsumsi makanan yang berbeda, seperti telur burung, serangga dan vertebrata kecil.

Sebagai informasi, Kepulauan Mentawai memiliki kekayaan spesies flora maupun fauna endemik yang tinggi. Telah tercatat lebih dari 65% dari mamalia dan 15% spesies fauna di Pulau Siberut adalah endemik atau tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia (CII, 2002; Wilting dkk, 2012; Sargis dkk, 2014).

Keanekaragaman dan keendemikan flora dan fauna di Kepulauan Mentawai, menyebabkan kepulauan tersebut tepatnya di Pulau Siberut dijadikan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO.

Pada tahun 1993, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 407/Kpts-II/1993 didirikanlah Taman Nasional Siberut yang tujuannya untuk melindungi hutan di Mentawai khususnya satwa endemik yang mulai langka termasuk primata endemik di dalamnya.

Penulis : Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bilou-owa-terkecil-di-dunia-yang-terancam-punah/feed/ 0
Indonesia Usulkan Tiga Cagar Biosfer Baru di ICC MAB UNESCO https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/#respond Tue, 15 May 2018 05:08:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20571 Indonesia akan mengusulkan tiga cagar biosfer baru dalam sidang “30th Session of the International Co-ordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere Programme (MAB)-UNESCO”.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia akan mengusulkan tiga cagar biosfer baru dalam sidang “30th Session of the International Co-ordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere Programme (MAB)-UNESCO”, yang akan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan pada 23-28 Juli 2018 mendatang. Tiga cagar biosfer yang diajukan yaitu Berbak Sembilang (Sumatera Selatan-Jambi), Betung Kerihun Danau Sentarum, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), dan Rinjani Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Enny Sudarmonowati, Ketua Komite Nasional MAB UNESCO yang juga Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, mengatakan bahwa ketiga cagar biosfer ini memiliki keunikan masing-masing. Keunikan tersebut yaitu ekosistem gambut di Barbak Sembilang, biodiversitas khas danau di Danau Sentarum, dan ekosistem pegunungan di Rinjani.

“Kami berharap ketiganya dapat disetujui dan ditetapkan UNESCO saat sidang ke-30 di Indonesia pada Juli mendatang. Alasan kami memilih ketiga cagar tersebut ialah keunikan biodiversity dari masing-masing daerah dan komitmen pemerintah daerah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Status Pulau Sempu Tetap Cagar Alam, Aktivitas Wisata Dilarang

Enny menyebutkan, sidang ICC MAB UNESCO memberi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan adanya pengakuan dan peran Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam hayati di dunia. Utamanya adalah dalam mengembangkan cagar biosfer sebagai wahana penerapan pembangunan berkelanjutan dengan tetap melestarikan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan iptek.

“Sebagai tuan rumah, Indonesia perlu mengambil peran dengan mengusulkan rekomendasi berupa Palembang Recommendation untuk disetujui di sidang dan diacu dunia. Rekomendasi tersebut terkait dengan salah satu nominasi Cagar Biosfer baru Indonesia, yakni Berbak Sembilang. Untuk itu, pemerintah memilih Palembang sebagai kota untuk tuan rumah penyelenggaraan, selain juga karena komitmen pemerintah daerah setempat yang baik dalam cagar biosfer, ” ujarnya.

Jumlah cagar biosfer dunia saat ini sebanyak 669 yang tersebar di 120 negara. Indonesia sendiri hingga kini memiliki 11 cagar biosfer dan mengusulkan nominasi tiga cagar biosfer baru.

“Momen ini juga menjadi ajang promosi keunggulan Indonesia dalam pengembangan cagar biosfer untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan kelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya, yang berbasis multipihak dan lintas sektoral,” kata Enny.

BACA JUGA: KLHK Berharap Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia Meningkatkan Kinerja

Sebagai informasi, LIPI merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai national focal point untuk memberikan masukan ilmiah terkait terlaksananya keseimbangan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Sehubungan dengan peran ini dan juga persiapan pelaksanaan sidang ICC MAB UNESCO, LIPI yang didukung oleh Kementerian dan lembaga lainnya menyelenggarakan Launching “30th Session of the ICC of the MAB-UNESCO” pada 14 Mei 2018 di LIPI Pusat Jakarta.

Penyelengaraan sidang ICC MAB UNESCO kali ini juga istimewa bagi Indonesia karena Indonesia menjadi negara kelima di luar Perancis yang menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Sebelumnya, penyelenggaraan pertemuan di negara di luar Perancis pernah dilakukan di Jeju (Korea Selatan), Dresden (Jerman), Jönköping (Swedia), dan Lima (Peru).

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/feed/ 0
Ciletuh Geopark Festival 2016 Kejar Status Unesco Global Geopark https://www.greeners.co/berita/ciletuh-geopark-festival-2016-kejar-status-unesco-global-geopark/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ciletuh-geopark-festival-2016-kejar-status-unesco-global-geopark https://www.greeners.co/berita/ciletuh-geopark-festival-2016-kejar-status-unesco-global-geopark/#respond Sun, 28 Aug 2016 16:01:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=14591 Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk memperjuangkan kawasan Ciletuh Geopark agar bisa masuk dalam jaringan geopark dunia Unesco Global Geopark (UGG).]]>

Sukabumi (Greeners) – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk memperjuangkan kawasan Ciletuh Geopark agar bisa masuk dalam jaringan geopark dunia Unesco Global Geopark (UGG). Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar saat membuka Ciletuh Geopark Festival 2016 menyampaikan, untuk bisa menjadi Geopark Global atau destinasi pariwisata kelas dunia itu, masih banyak sisi-sisi yang harus terus ditingkatkan.

Deddy menyatakan bahwa keindahan alam yang dimiliki oleh Ciletuh Geopark masih belum cukup untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata dunia. Selain potensi geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keragaman hayati) dan culturdiversity (keragaman budaya), pemberdayaan masyarakat juga harus ditingkatkan.

Untuk itu, katanya, badan pengelola yang sudah ada diharapkan bisa bekerja maksimal dan memberikan sarana serta fasilitas pada masyarakat, baik dari pemberdayaan maupun pelatihan, agar masyarakat siap menyambut Ciletuh menjadi tujuan wisata dunia.

“Dengan keunggulan tersebut, Ciletuh Geopark mampu disejajarkan dengan taman kebumian diseluruh dunia serta menjadi destinasi wisata berskala internasional,” jelasnya di Pantai Batu Namprak, Desa Pangumbahan, Sukabumi, Sabtu (27/08).

BACA JUGA: Gunung Rinjani Bersiap Menjadi Geopark Dunia

Kabupaten Sukabumi memiliki segudang objek wisata yang mampu menarik investor datang ke daerahnya. Hanya saja, hal ini akan terhambat jika akses jalan dan infrastruktur tidak segera diperbaiki. Pemerintah, lanjut Deddy, sudah mempunyai banyak progam terkait Geopark Ciletuh yang merupakan salah satu geopark terbesar di dunia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernidar mengatakan, Ciletuh Geopark Festival 2016 diadakan untuk mengenalkan potensi Ciletuh Geopark kepada masyarakat luas, termasuk ke mancanegara. Rangkaian kegiatan Ciletuh Geopark Festival 2016 ini dimulai dari pra event, main event dan pasca event yang melibatkan banyak komunitas, blogger, pegiat alam, penyelam, peselancar, pesepeda dan jurnalis.

“Tema yang diangkat adalah Eksploring Ciletuh menggunakan konsep Culture Meet Nature. Puncak festival ini akan dihelat di Pantai Batu Namprak, Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi pada 27-28 Agustus 2016. Kegiatannya dipusatkan di tiga titik, yaitu di Pantai Palangpang, Cisolok dan Ujung Genteng,” tambahnya.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Geopark Ciletuh dari Kementerian ESDM, Yunus Kusumahbrata menyampaikan bahwa kawasan wisata geopark atau taman alam batuan tua di Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, telah resmi dikukuhkan menjadi Geopark Nasional. Setelah ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengajukannya sebagai Global Geopark atau Geopark Internasional ke UNESCO tahun 2017.

BACA JUGA: Taman Nasional Komodo Diproyeksikan Menjadi Destinasi Ekowisata Internasional

Kawasan wisata taman alam batuan tua Ciletuh mendapatkan sertifikat sebagai Geopark Nasional dari Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO dan Kementerian ESDM karena telah memenuhi sejumlah persyaratan untuk sebuah taman bumi atau geopark. Syarat tersebut antara lain memiliki keragaman fenomena geologi, memiliki keragaman biologi, dan memiliki keragaman budaya.

Yunus menjelaskan, pihaknya telah menerima dokumen usulan Ciletuh Geopark pada 11 November 2015 lalu. Pengukuhan Ciletuh sebagai geopark juga dilakukan berdasarkan standar geopark yang diterbitkan oleh UNESCO. Hasilnya, Ciletuh layak ditetapkan sebagai Geopark Nasional.

“Targetnya Desember 2017 itu menjadi Geopark Internasional, masuk dalam Global Geopark Network. Itu 2017. Makanya wajib 2015 (Ciletuh Geopark dikukuhkan sebagai Geopark Nasional), karena syaratnya dua tahun setelah Geopark Nasional baru bisa menjadi Geopark Internasional. Makanya dikejar (penilaiannya) tahun ini,” tutup Yunus.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ciletuh-geopark-festival-2016-kejar-status-unesco-global-geopark/feed/ 0
Candi Borobudur dan Prambanan Ikut Galakan Gerakan Earth Hour https://www.greeners.co/aksi/candi-borobudur-dan-prambanan-ikut-galakan-gerakan-earth-hour/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=candi-borobudur-dan-prambanan-ikut-galakan-gerakan-earth-hour https://www.greeners.co/aksi/candi-borobudur-dan-prambanan-ikut-galakan-gerakan-earth-hour/#respond Wed, 23 Mar 2016 05:59:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13248 Candi Borobudur dan Prambanan, dua situs warisan budaya dunia di Indonesia, turut serta menjadi bagian dari pelaksanaan aksi global untuk perubahan iklim, Earth Hour.]]>

Jakarta (Greeners) – Candi Borobudur dan Prambanan, dua situs warisan budaya dunia di Indonesia, turut serta menjadi bagian dari pelaksanaan aksi global untuk perubahan iklim, Earth Hour. Hadir di tahun kedelapan, Earth Hour kali ini mengusung tema global “Shine A Light on Climate Action“. Partisipasi dua ikon besar Indonesia ini diharapkan mampu menjadi simbol komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Direktur Pemasaran dan Kerjasama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), Ricky SP Siahaan mengatakan bahwa warisan budaya dunia seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, nantinya tidak akan luput dari dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, Candi Borobudur dan Candi Prambanan pun ingin berpartisipasi dan menjadi bagian dari gerakan Earth Hour untuk turut menyiarkan pentingnya perubahan gaya hidup sebagai salah satu cara memenuhi komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Candi Borobudur telah ikut berpartisipasi pada acara Earth Hour sebagai bentuk komitmen tentang perilaku hemat energi yang sudah dilakukan,” kata Ricky seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Minggu (20/03).

Partisipasi Candi Borobudur dan Candi Prambanan pada Earth Hour 2016 ini didukung penuh oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero), Balai Konservasi Borobudur dan Prambanan, serta UNESCO. Perayaan Earth Hour di Candi Borobudur dipusatkan di Lapangan Aksobya sejak pukul 19.30 WIB dan diisi dengan beragam kegiatan pentas seni masyarakat sekitar Borobudur yang tergabung dalam program UNESCO.

Direktur dan Representatif UNESCO di Jakarta, Shahbaz Khan, mengatakan, UNESCO Climate Change Initiative telah mencakup kegiatan untuk memantau dampak dari perubahan iklim di situs-situs UNESCO antara lain Situs Warisan Dunia dan taman biosfer. Earth Hour yang diadakan oleh WWF di dua situs Warisan Dunia UNESCO dan merupakan ikon Indonesia, Candi Borobudur dan Candi Prambanan ini menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya pelestarian sumber daya alam dan budaya untuk generasi mendatang.

“Kami berharap bahwa acara ini akan meningkatkan kesadaran publik untuk lebih memahami, mencegah dan beradaptasi terhadap perubahan iklim,” tambah Shahbaz.

Sementara itu secara khusus, Iskandar M. Siregar selaku Kepala Seksi Konservasi dari Balai Konservasi Borobudur menyampaikan kalau Balai Konservasi Borobudur mendukung sepenuhnya kegiatan Earth Hour di Candi Borobudur.

Selain untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, partisipasi Candi Borobudur dalam Earth Hour juga diharapkan dapat semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian budaya secara lebih khusus, karena merupakan integritas yang tidak bisa dipisahkan dari Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia (World Heritage) yang telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 1991.

Dr. Efransjah, CEO WWF Indonesia mengatakan, perubahan iklim yang sedang terjadi saat ini merupakan ancaman nyata bagi kelestarian kekayaan alam, keanekaragaman hayati dan kelangsungan hidup bumi dan isinya. Earth Hour sendiri, kembali mengingatkan bahwa setiap diri masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan, yang diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim.

“Setiap dari kita berkewajiban untuk berkontribusi dalam perubahan tersebut agar mampu menjamin anak-cucu kita masih bisa menikmati sumber daya dan kekayaan yang dimiliki bumi kita untuk kesejahteraan mereka,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/candi-borobudur-dan-prambanan-ikut-galakan-gerakan-earth-hour/feed/ 0
7 Destinasi Ekowisata Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/7-destinasi-ekowisata-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=7-destinasi-ekowisata-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/7-destinasi-ekowisata-dunia/#respond Sat, 30 Jan 2016 11:08:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=12695 Beberapa tempat wisata berikut ini menawarkan wisata yang ramah lingkungan untuk pengunjungnya. Inilah 7 destinasi ekowisata dunia terbaik untuk tahun 2016.]]>

Bertualang adalah hal yang menyenangkan. Pergi ke tempat baru untuk meredakan stres dan tekanan hidup di kota. Namun aktivitas traveling sesungguhnya adalah sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi kita tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat baru, lokasi wisata yang menakjubkan dan menginspirasi. Di sisi lain, kita juga tahu bahwa perjalanan yang paling ramah untuk lingkungan seharusnya dimulai dari sekitar kita, bukan dengan perjalanan puluhan jam di dalam pesawat terbang.

Menjamurnya wisata alam atau ekowisata belakangan ini membuat rasa bersalah dalam perjalanan wisata sedikit berkurang. Beberapa tempat wisata berikut ini menawarkan wisata yang ramah lingkungan untuk pengunjungnya. Mereka mengajak para pengunjung menjelajahi banyak tempat dengan tetap membatasi dampak terhadap lingkungan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Inilah 7 destinasi ekowisata dunia terbaik untuk tahun 2016.

7 Destinasi Ekowisata Dunia. Foto: Palau Visitors Authority/inhabitat.com

7 Destinasi Ekowisata Dunia. Foto: Palau Visitors Authority/inhabitat.com

1. Palau
Palau adalah sebuah kepulauan terisolasi yang terletak 1.600 km sebelah timur Filipina. Penghuninya sekitar 20.000 orang. Tempat ini merupakan cagar alam laut yang luas dan merupakan cagar alam yang melindungi salah satu ekosistem laut terbanyak di dunia. Snorkeling dan menyelam merupakan daya tarik utama di Palau. Berjalan di garis pantai yang masih alami dengan air laut sebening kristal bisa menjadi cara yang tepat menghabiskan waktu disana. Waktu yang tepat untuk berkunjung : Mei hingga Oktober.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/7-destinasi-ekowisata-dunia/feed/ 0
Hari Noken untuk Perlindungan Hak Hidup dan Tanah Masyarakat Papua https://www.greeners.co/berita/12145/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=12145 https://www.greeners.co/berita/12145/#respond Sun, 06 Dec 2015 07:44:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12145 Noken, tas tradisional masyarakat Papua menyimpan filosofi yang mendalam tentang nilai-nilai peradaban Papua. Namun, naiknya pamor noken tidak diiringi dengan peningkatan perlindungan hak hidup manusia dan Tanah Papua. ]]>

Jakarta (Greeners) – Noken, tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia sejak empat Desember 2012 silam dalam Sidang Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) di Paris, Perancis. Pengakuan ini menempatkan noken Papua ke pentas kebudayaan dunia. Selain sebagai karya seni dan artefak budaya, noken Papua juga telah merajut nilai-nilai kehidupan masyarakat Papua.

Zelly Ariane, Koordinator Gerakan Papua Itu Kita mengatakan bahwa filosofi noken mulai dari pengadaan bahan baku, kerja tangan pembuatannya, fungsi dan peruntukannya, semua itu mewakili nilai-nilai asli peradaban Papua yang sangat penting bagi kelangsungan hidup kemanusiaan di tengah arus komersialisasi kehidupan di Tanah Papua.

“Ada empat nilai filosofis tercermin dalam noken Papua. Pertama, peran perempuan sebagai pembuat dan pengguna noken jaring yang dipergunakan untuk mengasuh anak dan menangani beban rumah tangga. Kedua, unsur kerja mengolah tanah, mengambil hasil hutan dan laut yang diperankan oleh kaum laki-laki. Ketiga, penanda kekerabatan dimana noken menjadi simbol persahabatan antarwarga.

“Keempat, noken menjadi penanda perubahan sosial dimana fungsi dan peran awal noken digerus oleh komersialisasi noken dan juga Tanah Papua sendiri,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (04/12).

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Abetnego Tarigan, menyayangkan naiknya noken Papua ke pentas dunia ternyata tidak diiringi oleh peningkatan perlindungan hak hidup manusia dan Tanah Papua. Menurutnya ada tiga hal yang mendasari hal ini. Pertama, industrialisasi dan komersialisasi Tanah Papua yang dimotori oleh korporasi-korporasi nasional dan multinasional telah menjadi ancaman serius. Proyek agribisnis MIFEE di Tanah Marind dan Freeport di Tanah Amungsa hanyalah pucuk-pucuk gunung es yang meminggirkan Papua.

Noken. Foto: Ist.

Noken. Foto: Ist.

Kedua, sejarah panjang dominasi militer dan sekuritisasi Papua tetap menjadikan Papua wilayah dengan tingkat kekerasan struktural yang tinggi. Berdirinya Kodam baru di Manokwari dan Operasi Satgas Damai Papua bentukan Badan Intelijen Nasional akan berpotensi mempertinggi iklim kontrol dan surveilans atas ruang kebebasan warga.

Sejarah kekerasan ini telah merembes ke ranah kekerasan antarwarga yang terdokumentasi dalam insiden-insiden kekerasan dalam 2 tahun terakhir. Berkas-berkas kasus pelanggaran HAM di Komnas HAM dan Kejagung tak kunjung mendapatkan keadilan.

“Ketiga, tingkat hidup orang Papua terus terekam dalam tingginya kematian ibu dan anak. Kasus-kasus kematian anak telah terekam di sejumlah tempat seperti yang tengah terjadi di Kabupaten Nduga. Belum lagi ancaman HIV dan AIDS yang telah mengancam masyarakat umum dan tidak lagi terbatas pada kalangan berisiko,” katanya.

Selanjutnya, degradasi lingkungan yang terjadi akibat pembangunan kota dan desa tanpa rencana tata ruang yang berpihak pada kepentingan warga juga telah menggerus daya dukung lingkungan. Akibatnya kota dan desa di Tanah Papua menjadi makin tidak layak huni karena tidak mampu menampung dinamika sosial antarwarga.

Akhirnya, perlindungan hak hidup manusia dan Tanah Papua tak bisa dilepaskan dari tumpang tindih kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Anehnya, selagi Pemerintah Jokowi mengedepankan pendekatan kesejahteraan, kendali kebijakan justru tidak diletakkan di bawah Kemenko Perekonomian tetapi justru di bawah Kemenko Polhukam,” katanya lagi.

Hal ini menandaskan bahwa sebenarnya Papua tetap ditangani dari perspektif keamanan. Kewenangan yang dimandatkan oleh UU Otonomi Khusus ke Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat juga tidak mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan dan rasa keadilan di Tanah Papua.

“Dengan merayakan noken Papua setiap tanggal empat Desember, kita ditantang untuk menjahit kembali jaring-jaring kehidupan Manusia dan Tanah Papua yang terkoyak. Kepedulian dan solidaritas dibutuhkan agar kemanusiaan kita terselamatkan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/12145/feed/ 0
Kejar Pengakuan UNESCO, Kota Tua Jakarta Lakukan Revitalisasi https://www.greeners.co/berita/kejar-pengakuan-unesco-kota-tua-jakarta-lakukan-revitalisasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kejar-pengakuan-unesco-kota-tua-jakarta-lakukan-revitalisasi https://www.greeners.co/berita/kejar-pengakuan-unesco-kota-tua-jakarta-lakukan-revitalisasi/#respond Sun, 15 Feb 2015 03:31:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7427 Jakarta (Greeners) – Kota tua Jakarta memang telah dicanangkan sebagai salah satu destinasi wisata utama Jakarta oleh Kementerian Pariwisata. Namun sayangnya, hingga saat ini penyediaan toilet publik yang bersih dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kota tua Jakarta memang telah dicanangkan sebagai salah satu destinasi wisata utama Jakarta oleh Kementerian Pariwisata. Namun sayangnya, hingga saat ini penyediaan toilet publik yang bersih dan layak pakai masih sulit sekali ditemui di lokasi yang sedang mencoba mendapatkan pengakuan sebagai Situs Bersejarah Dunia atau World Heritage Site dari UNESCO ini.

Padahal, toilet publik yang bersih dan layak pakai merupakan salah satu infrastruktur dasar yang harus dibangun oleh sebuah kota, selain penyebrangan jalan yang aman, taman kota yang rapi, dan jalur pedestrian yang nyaman bagi semua warganya.

Project Director dari PT Pembangunan Kota Tua Jakarta, Yayat Sujatna saat ditemui oleh Greeners di kantornya mengakui, saat ini masih sangat sedikit akses penyediaan toilet publik di kawasan kota tua. Sekalipun ada, terangnya, bukankah toilet milik publik melainkan toilet yang terletak di dalam institusi sendiri seperti di cafe, museum maupun minimarket.

Yah coba saja lihat sekarang, kalau ditanya ke pengunjung secara random (acak) pasti bilang susah mencari toilet di sini,” terangnya, Jakarta, Sabtu (14/02).

Jakarta atau yang sebelumnya dikenal sebagai Batavia, dahulu dirancang dan dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen berdasarkan konsep “kota ideal” dengan tiap sudut kotanya memiliki benteng yang menonjol keluar. Kota Batavia pada zaman itu dipagari oleh benteng (tembok tinggi) yang di dalamnya terdapat banyak kanal. Untuk wilayah Kota sendiri terbagi menjadi dua bagian, barat dan timur, yang dipisahkan oleh Sungai Ciliwung. Sayang, kanal-kanal itu banyak yang berganti rupa atau kalaupun ada, airnya keruh karena limbah dan sampah.

“Nah, rintisan untuk memperbaiki Jakarta menjadi kota ideal itu salah satunya dengan menggelar pameran ini,” ujarnya. Pameran yang dimaksud adalah pameran Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Gedung Kantor Pos Lantai 2, Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Sketsa toilet publik yang dipamerkan dalam Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sketsa toilet publik yang dipamerkan dalam Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pameran ini sendiri, terang Yayat, telah resmi dibuka pada Selasa (3/2/2015) lalu. Dalam acara ini dihadirkan seni lukisan yang menghubungkan antara masa lalu dan masa kini, dari awal berdirinya Batavia hingga menjadi Jakarta. Selain itu, pameran yang akan berlangsung hingga 3 Mei 2015 ini juga bertujuan memperkenalkan program pemerintah, yakni revitalisasi kawasan Kota Tua.

“Revitalisasi tersebut dimulai dari memperbaiki sanitasi. Jadi, selain seni, toilet menjadi tema yang dimunculkan dalam pameran. Membenahi Kota Tua tidak hanya dengan melakukan pameran seni, tetapi juga membenahi prasarana dasar seperti toilet itu,” tuturnya.

Dengan adanya pameran ini, Yayat berharap Pemerintah Provinsi maupun masyarakat yang datang berkunjung dapat lebih peduli untuk mendukung dan menjaga keindahan serta kebersihan destinasi bersejarah ini.

Menurut Yayat, terdapat tujuh titik di kawasan Kota Tua Jakarta yang akan direvitalisasi oleh beberapa arsitek yang tergabung dalam sebuah konsorsium Jakarta tersebut. Ketujuh titik tersebut di antaranya, Taman Fatahillah, Gedung Kantor Pos, Gedung Kertaniaga, tempat melangsungkan konferensi di dalam Gedung Kertaniaga, Gedung Cipta Niaga, gedung dan lahan di dekat Jembatan Batu, dan yang terakhir sculpture garden berupa pedestrian dan ruang publik terbuka.

“Dalam rencananya juga, ketujuh titik ini dapat dirampungkan kurang lebih hingga dua tahun mendatang dan dua sampai tiga titik di antaranya direncanakan rampung dalam waktu dekat,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/kejar-pengakuan-unesco-kota-tua-jakarta-lakukan-revitalisasi/feed/ 0
Batik Ramah Lingkungan dengan 5R https://www.greeners.co/berita/batik-ramah-lingkungan-dengan-5r/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=batik-ramah-lingkungan-dengan-5r https://www.greeners.co/berita/batik-ramah-lingkungan-dengan-5r/#respond Thu, 30 May 2013 05:33:08 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3586 Jakarta (Greeners) –  Batik merupakan salah satu ikon budaya Indonesia, yang saat ini telah dikenal hingga mancanegara, bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Beragam gaya, corak dan warna […]]]>

Jakarta (Greeners) –  Batik merupakan salah satu ikon budaya Indonesia, yang saat ini telah dikenal hingga mancanegara, bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Beragam gaya, corak dan warna batik mudah ditemui dan tidak lagi hanya dipakai untuk momen tertentu oleh orang-orang tua, tetapi generasi muda pun bangga mengenakan batik. Namun di sentra-sentra kerajinan batik seperti Jawa Tengah, limbah dari pabrik yang memproduksi batik mencemari sungai. Pencemaran terjadi karena industri batik masih menggunakan bahan kimia terutama untuk pewarnaan kain.

Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan 53,4 persen limbah rumah tangga dibuang ke sungai, ditambah kontribusi besar dari limbah industri yang memperparah pencemaran. Untuk mengurangi pencemaran sungai maupun kerusakan lingkungan secara umum, dibuat inisiatif memproduksi batik dengan konsep produksi bersih dan memanfaatkan teknologi tepat guna. Inisiatif tersebut dimulai oleh Ekonid, kamar dagang Jerman bersama-sama dengan Komisi Uni Eropa, merangkul para pengrajin batik. Senior Executive Business Development Ekonid Amalia Yaksa Parijata mengatakan, inisiatif yang diberi nama Clean Batik Initiative tersebut dimulai pada 2010 dengan merangkul 100 Industri Kecil Menengah (IKM) di Yogyakarta dan Klaten.

Amalia menjelaskan, konsep produksi bersih dengan menerapkan teknologi tepat guna, misalnya dengan kompor listrik dimana penghematannya bisa mencapai 95 persen dibandingkan kompor minyak dan kompor gas. “Jadi disini kita bisa efisiensi energi dan biaya. Selain itu juga menggunakan blower untuk melarutkan sisa lilin biasanya dengan kayu bakar dikipas manual pembakarannya tidak efektif,” katanya.

Dengan blower efisiensi biaya sampai 48 persen dan menghemat kayu bakar serta tenaga juga tidak menghasilkan asap dan tidak ada arang sisa pembakaran karena pembakarannya sempurna. Untuk penerangan juga diterapkan lampu botol plastik tenaga surya yang hanya menggunakan botol bekas minuman ringan diisi klorin dan diberi air. Botol diletakkan di atap dan langsung menghasilkan pendar cahaya yang setara dengan 55 watt.

5R

Menurut Amalia, dalam memproduksi batik ramah lingkungan juga diterapkan prinsip 5R yaitu Rethink (berpikir ulang), Reduce (mengurangi), Reuse (memanfaatkan kembali bahan bekas), Recovery (pemulihan kembali) dan Recycle (daur ulang). “Rethink maksudnya kalau kita mau membuat batik kita pikir dulu seberapa banyak kain dan bahan yang akan dipakai, kalau batik tradisional kan tidak begitu,” ujar dia.

Reduce, produksi bersih sudah mengurangi penggunaan air dengan menerapkan teknologi tepat guna. Reuse, menggunakan kembali lilin yang sudah dipakai. Recovery, misalnya lilin yang sudah tidak terpakai bisa digunakan kembali dan Recycle, menggunakan pewarna alami tanpa merusak tanaman yang masih tumbuh tapi memanfaatkan sampah.

Ia mencontohkan, seperti di Cirebon yang mempunyai banyak industri furniture dan menghasilkan limbah serutan kayu. Begitu juga di Pekalongan banyak supermarket yang membuang buah yang sudah busuk. “Limbah kayu dan kulit buah seperti manggis dan jengkol semuanya kita manfaatkan untuk pewarna alami,” katanya seraya menambahkan disetiap daerah ditonjolkan kearifan lokal untuk pewarnaan batik sehingga menjadi khas. Selain menggunakan teknologi ramah lingkungan, proses membatik tidak berbeda dengan pembuatan batik secara tradisional. Namun karena menggunakan pewarna alam dengan warna yang lembut maka pencelupannya lebih banyak dari pada pewarna kimia.

Dari segi harga, batik yang memanfaatkan konsep produksi bersih dengan batik tradisional tidak berbeda jauh bahkan bersaing karena bisa mengurangi biaya produksi. Tapi dari segi teknik dan waktu yang dihabiskan serta pembuatan dengan tangan, sudah sepantasnya dihargai dengan harga yang layak. “Permintaannya banyak karena ada beberapa orang yang suka warna alami, biasanya orang asing. Karena mereka selain peduli dengan lingkungan dan setelah tahu prosesnya batik dibuat dengan tangan mereka lebih menghargai,”  kata Amalia.

Dia menambahkan, Ekonid selain melakukan pendampingan dan pelatihan juga membuka pasar lewat pameran yang digelar hingga ke luar negeri. Selama tiga tahun berjalan, produksi bersih sudah diterapkan di 508 IKM terutama di Pulau Jawa, juga di Tarakan Kalimantan Timur dan Makassar Sulawesi Selatan.

Kaya Pewarna Alami

Penggunaan warna alam sebenarnya sudah digunakan dalam proses membatik sejak dulu. Namun seiring perkembangan teknologi dan munculnya pewarna kimia pengrajin batik mulai beralih ke pewarna kimia karena lebih cepat dan mudah. “Pewarna batik alami dari tumbuhan sudah dikenal sejak dulu karena kita kaya akan keanekaragaman hayati. Tapi semakin kesini ancaman terhadap keanekaragaman hayati semakin tinggi,” kata Agro Ekosistem Officer Yayasan Kehati Puji Sumedi.

Dia mencontohkan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan ada disekitar kita seperti mangrove, jengkol, secang, rambutan, mengkudu, angsana dan mangga. Bagian-bagian yang dimanfaatkan untuk pewarna alami mulai dari buah, daging dan biji, kulit, kayu, daun dan akarnya.

Saat ini Kehati menjalin kemitraan dengan kelompok masyarakat mendorong agar memanfaatkan pewarna alami seperti di Brebes dan Sumba. Selain mendorong memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk produk yang ramah lingkungan, Kehati juga mengajak masyarakat untuk menanam kembali tanaman-tanaman yang bermanfaat dan mulai langka.

]]>
https://www.greeners.co/berita/batik-ramah-lingkungan-dengan-5r/feed/ 0