vegetasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/vegetasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 16 Oct 2020 10:31:05 +0000 id hourly 1 Pakar Tawarkan Sagu sebagai Solusi Ketahanan Pangan https://www.greeners.co/berita/pergeseran-vegetasi-dan-sagu-sebagai-solusi-ketahanan-pangan-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pergeseran-vegetasi-dan-sagu-sebagai-solusi-ketahanan-pangan-berkelanjutan https://www.greeners.co/berita/pergeseran-vegetasi-dan-sagu-sebagai-solusi-ketahanan-pangan-berkelanjutan/#respond Mon, 12 Oct 2020 03:55:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=29298 Ahli Gastronomi Sekolah Tinggi Pariwisata Triskati, Dr. Saptarining Wulan menyayangkan vegetasi Indonesia yang mengalami perubahan. Saat ini, vegetasi Bumi Pertiwi menjadi prairie atau tanaman rumput tinggi seperti padi, gandum, jagung, dan tanaman yang lebih identik dengan lahan pertanian.]]>

Jakarta (Greeners) – Ahli Gastronomi Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Dr. Saptarining Wulan menyayangkan vegetasi Indonesia yang mengalami perubahan. Dia menerangkan, vegetasi alam Indonesia merupakan hutan hujan tropis dengan ciri tumbuh-tumbuhan tinggi. Dalam satu hektarnya, terdapat sekitar 480 spesies flora dan fauna yang dapat memenuhui kebutuhan furnitur, makanan, dan obat-obatan.

Namun, lanjut Dr. Saptarining, vegetasi Indonesia mengalami perubahan. Saat ini, vegetasi Bumi Pertiwi menjadi prairie atau tanaman rumput tinggi seperti padi, gandum, jagung, dan tanaman yang lebih identik dengan lahan pertanian.

“Kita di Indonesia sudah mengubah vegetasi alam kita yang hutan hujan tropis dari polikultur dalam satu hektar berbagai macam, kita ubah jadi monokultur yaitu padi,” ujar Dr. Saptarining pada acara Sagu Sebagai Solusi Krisis Global, Minggu (11/10/2020).

Baca juga: Dikti Minta Perguruan Tinggi Jadi Imam Pelestarian Lingkungan

Dr. Saptarining melanjutkan, apabila vegetasi hutan hujan tropis dibuka total untuk menjadi lahan pertanian, maka kerusakan tanah niscaya akan terjadi. Kerusakan disebabkan kandungan nutrisi dan humus dalam tanah menurun. Jalan pintas menjaga kesuburan tanah akhirnya dengan menggunakan pupuk dalam jumlah yang banyak.

Penggunaan pupuk, terutama pupuk kimia, dalam jumlah yang banyak ini akan kembali menjadi bumerang yang menambah rusaknya kondisi tanah. Dr. Saptarining menilai tanaman dan lahan dalam vegetasi praire atau monokultur lebih berisiko tinggi dibanding vegetasi hutan hujan tropis yang polikultur. Selain risiko kerusakaan tanah akibat pupuk kimia, vegetasi praire juga dibayangi risiko dari gagal panen. Selain itu, dia tidak mampu menahan kemarau dan hujan yang berkepanjangan serta rentan terhadap serangan hama.

“Apabila (vegetasi) hutan hujan tropis maka akar-akar dapat menahan air dalam tanah dengan jumah besar,” tambahnya.

Sagu: Solusi Ketahanan Pangan yang Dapat Hidup pada Dua Jenis Vegetasi Tanah Air

Mengaitkan pergeseran vegetasi dengan topik ketahanan pangan, Dr. Saptarining menyebut tanaman sagu sebagai solusi ketahanan pangan yang lebih berkelanjutan. Sagu, lanjutnya, bisa hidup di dua vegetasi baik di vegetasi hutan hujan tropis maupun vegetasi prairie. Bahkan, sagu bisa tumbuh di lahan marjinal dan lahan subur.

Menakar keunikan sagu, Dr. Saptarining menilai sagu memiliki banyak kelebihan untuk kebutuhan pangan maupun lingkungan. Dibanding dengan padi, sagu sama sekali tidak memerlukan pupuk. Pasalnya, ujar Dr. Saptarining, sagu memproduksi banyak mikroba pada bagian daun, batang, akar, yang mampu menangkap nitrogen untuk proses fontosintesis. “Tanaman sagu dipupuk atau tidak hasilnya sama,” imbuhnya.

Menilik penggunaan air yang juga menjadi isu besar dalam pangan keberlanjutan, sagu jauh lebih unggul ketimbang padi. Bila dibandingkan dengan padi yang bergantung pada hujan maupun sistem irigasi untuk memenuhi kebutuhan air, sagu jauh lebih efisien. Sagu bisa menahan air dengan jumlah 13 kali lipat dari volumenya. Sehingga, sagu bisa dimanfaatkan masyarakat ketika terjadi kemarau panjang.

“Sagu spesies yang neglected and underutilized. Jadi jumlahnya luar biasa, tapi belum dimanfaatkan secara maksimal,” ucap Dr. Saptarining.

Pergeseran Vegetasi dan Sagu sebagai Solusi Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Pria Sulawesi mengolah sagu dengan cara tradisional. Foto: Shutterstock.

Dia melanjutkan, sagu bersifat replanting. Seperti halnya pisang, sekali menanam sagu dia akan beranak-pinak. Kandungan nutrisi sagu pun sebanding dengan padi. Layaknya padi, sagu juga memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan bisa dipanen setiap tahun. Selain itu, lanjut Dr. Saptarining, sagu juga tahan banjir, angin kencang bahkan kebakaran.

“Pada saat kebakaran anakannya memiliki insulasi yang melindungi sehingga tidak mati dan bisa tumbuh lagi,” terangnya.

Dari segi produktivitas, sagu dia nilai baik untuk menjaga ketahanan pangan. Satu pohon bisa menghasilkan 100-300 kg pati sagu kering untuk proses budidaya. Pada kondisi alami satu pohon sagu mampu menghasilkan 800 kg pati. Kelebihan lainnya adalah produk turunan dari sagu yang banyak.

“Kekurangannya protein rendah. Kekurangan bisa jadi kelebihan sebab masa simpan bisa lebih dari lima tahun,” ungkapnya.

Pandemi dan Urgensi Ketahanan Pangan Nasional

Pada kesempatan yang sama, Direktur Program Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati), Rony Megawanto mengaitkan topik sagu sebagai solusi ketahanan pangan dengan pandemi Covid-19. Rony menuturkan, secara global pandemi mendorong semua negara melakukan proteksi atau mengutamakan pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri. Menurutnya, Indonesia perlu memanfaatkan keanekaragama pangan lokal dan ragam budaya pangannya yang tinggi.

Lebih jauh, Rony menekankan kebijakan pangan lokal sangat dipengaruhi dengan adanya regulasi pemerintah. Sebagai contoh, ketika adanya kebijakan lockdown maka akan menghambat jalur distribusi pangan antar negara dan antar pulau di dalam negeri.

Baca: DKI Jakarta Angkut 398 Ton Sampah Sisa Aksi Unjuk Rasa

Menurut Rony, regulasi dari pemerintah terkait pangan lokal harus menyesuaikan hukum ekonomi supply and demand, penawaran dan permintaan. Supply mencakup produksi pangan lokal sesuai dengan budaya lokal, agroklimatologi, dan agroekologi. Sedangkan demand, mencakup kampanye konsumsi pangan lokal.

Rony menerangkan peningkatan konsumsi pangan lokal di Indonesia sangat diperlukan. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan tahun 2019, konsumsi terigu dan beras di Indonesia terus mengalami peningkatan pesat. Sebaliknya, jenis pangan lain seperti singkong, ubi jalar, kentang, dan sagu tidak mengalami peningkatan.

“Kondisi tersebut berdampak pada tingginya impor beras dan gandum di Indonesia,” tambahnya.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/berita/pergeseran-vegetasi-dan-sagu-sebagai-solusi-ketahanan-pangan-berkelanjutan/feed/ 0
KLHK Teliti 350 Spesies Baru di Pulau Pejantan https://www.greeners.co/berita/klhk-teliti-350-spesies-baru-pulau-pejantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-teliti-350-spesies-baru-pulau-pejantan https://www.greeners.co/berita/klhk-teliti-350-spesies-baru-pulau-pejantan/#respond Sun, 12 Mar 2017 04:51:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16186 Berdasarkan hasil temuan Tim ICZ (Institute of Critical Zoologist), Pulau Pejantan yang terletak di Desa Mantebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, diduga memiliki 350 spesies baru yang belum teridentifikasi.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meneliti ekosistem esensial baru bernama Pulau Pejantan. Kawasan yang belum banyak terjamah oleh manusia ini, diteliti sebagai tindak lanjut arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkait penemuan sebuah pulau oleh lembaga penelitian asal Jepang yaitu Institute of Critical Zoologist (ICZ) pada tahun 2005-2009.

Kepala Badan Penelitian dan Inovasi, Dr. Henri Bastaman, mengatakan, berdasarkan hasil temuan Tim ICZ, Pulau Pejantan diduga memiliki 350 spesies baru yang belum teridentifikasi. Atas dasar ini, KLHK menurunkan tim ekspedisi untuk meneliti lebih lanjut temuan tersebut. Pulau yang diketahui memiliki luas 927,34 hektare ini terletak di Desa Mantebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh 12 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk 40 orang suku Melayu yang berprofesi sebagai nelayan.

“Fasilitas umum di pulau ini masih sangat terbatas, sehingga memerlukan sentuhan pembangunan yang intensif,” ujar Henri seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (11/03).

BACA JUGA: Koridor RIMBA Dibutuhkan untuk Penyelamatan Ekosistem Pulau Sumatera

Ketua Tim Ekspedisi Dr. Hendra Gunawan menuturkan bahwa salah satu keunikan kawasan ini adalah ditemukannya ekosistem vegetasi di atas batu granit yang cukup luas dan memiliki mata air yang mengalir. Di sana, katanya, terdapat enam jenis ekosistem khas di Pulau Pejantan, yaitu ekosistem mangrove, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, vegetasi yang tumbuh di batu granit, ekosistem goa batu granit, dan ekosistem terumbu karang.

“Pada masing-masing ekosistem juga ditemukan flora dan fauna endemik yang belum dapat teridentifikasi seluruhnya dan diduga merupakan spesies baru, seperti biawak, tupai tiga warna, burung kuau kerdil, kalong, kantong semar, anggrek, dan masih banyak lagi. Hal menarik lainnya adalah pulau ini juga merupakan habitat bertelurnya dari satwa langka penyu sisik dan penyu pipih, sehingga kawasan ini bernilai penting untuk dilakukan konservasi,” kata Hendra.

BACA JUGA: Keanekaragaman Hayati Indonesia Masih Rentan Pembajakan

Direktur Bina Pengelolaan Eksosistem Esensial, Ir. Antung Deddy R., MP,menyatakan, peluang Pulau Pejantan sangat besar untuk ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Pulau Pejantan, lanjutnya, dapat diusulkan untuk menjadi kawasan Suaka Margasatwa (SM) atau Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Untuk itu diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah dan verifikasi data ilmiah dalam bentuk time series.

“Selain itu, beberapa potensi wisata alam juga dapat dikembangkan di Pulau Pejantan antara lain wisata selam (diving), pemandangan pantai pasir putih, wisata goa dan panjat dinding (rock climbing), wisata susur hutan (jungle tracking), dan pelepasan tukik untuk konservasi satwa penyu,” kata Antung.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-teliti-350-spesies-baru-pulau-pejantan/feed/ 0
Kantong Semar yang Vegetarian https://www.greeners.co/flora-fauna/kantong-semar-yang-vegetarian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kantong-semar-yang-vegetarian https://www.greeners.co/flora-fauna/kantong-semar-yang-vegetarian/#respond Mon, 15 Jun 2015 06:46:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=9682 Nepenthes ampullaria, merupakan salah satu jenis kantong semar yang ada di Indonesia, namun jenis N. ampullaria tidak memiliki kedekatan dengan spesies lain dalam marga Nepenthes. Periuk monyet adalah nama lokal […]]]>

Nepenthes ampullaria, merupakan salah satu jenis kantong semar yang ada di Indonesia, namun jenis N. ampullaria tidak memiliki kedekatan dengan spesies lain dalam marga Nepenthes. Periuk monyet adalah nama lokal dari N. ampullaria, karena jenis ini pada musim kemarau sering digunakan monyet untuk minum.

N. ampullaria di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Maluku dan Papua. N. ampullaria biasanya hidup di tempat yang lembap, hutan teduh sampai ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut.

Di Kalimantan, biasanya hidup di tanah yang datar seperti di hutan kerangas, hutan rawa gambut, dan hutan rawa yang terdegradasi, di ketinggian 0 sampai 1.000 meter. Sedangkan di Sumatera, N. ampullaria tumbuh sampai di ketinggian 1.100 meter pada tanah datar seperti di hutan yang hangat, padang rumput, belukar, hutan rawa gambut, hutan rawa yang terdegradasi, sampai di sawah padi.

Batang dari N. ampullaria berwarna coklat dan bisa tumbuh sampai 15 meter. Daunnya berwarna hijau, panjang 25 cm, dan lebar 6 cm. Kantong dihasilkan pada ujung daun dan sulur tidak lebih panjang dari 15 cm. Kantung bawah berukuran kecil, jarang bisa melebihi 10 cm dan tinggi 7 cm. Kantung atas jarang dihasilkan, biasanya ukurannya lebih kecil dari kantung bawah. Warna kantung bervariasi, mulai dari hijau polos sampai merah tua dan banyak kombinasi lain yang ditemukan.

Foto: greeners.co/Ady Kristanto

Foto: greeners.co/Ady Kristanto

N. ampullaria paling mudah dibedakan dengan jenis Nepenthes lainnya karena keunikannya. salah satu keunikannya adalah kemampuan menghasilkan “kelompok kantung” yaitu segerombolan kantong-kantong tanpa daun yang tumbuh pada batang tegak atau di atas tanah hingga menyerupai karpet tebal di lantai hutan atau di rawa-rawa.

N. ampullaria juga dikenal sebagai satu-satunya spesies kantong semar yang “vegetarian”, dikarenakan kantong tanaman ini tidak memiliki kelenjar nektar pada bibir kantong sehingga jarang ada serangga yang terjebak dalam kantong. Umumnya sebagian besar benda-benda yang ditemukan dalam kantong adalah dedaunan yang membusuk, kotoran hewan, ranting-ranting kecil dan air hujan. Jadi, kantong semar ini sangat berguna sebagai alternatif air minum ketika sedang tersesat atau “survival”.

Di kalangan hobiis tanaman, jenis ini banyak di silangkan dengan jenis Nepenthes lain sehingga menghasilkan beberapa varian baru. Jenis ini juga dimanfaatkan sebagai obat sakit mata dan obat sakit perut.

Penulis: Ady Kristanto/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kantong-semar-yang-vegetarian/feed/ 0
Hotel Berlapis Taman Tropis https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-berlapis-taman-tropis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hotel-berlapis-taman-tropis https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-berlapis-taman-tropis/#respond Mon, 20 Oct 2014 11:04:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=6198 Turis yang berkunjung ke kota besar seperti Singapura biasanya tidak akan berharap untuk melihat taman tropis yang subur di luar jendela hotel mereka – terlebih jika kamar mereka berada di […]]]>

Turis yang berkunjung ke kota besar seperti Singapura biasanya tidak akan berharap untuk melihat taman tropis yang subur di luar jendela hotel mereka – terlebih jika kamar mereka berada di lantai sepuluh. Jadi, dapat dibayangkan pengalaman tamu-tamu yang menginap di Hotel Park Royal, Pickering, Singapura. Hotel ini memiliki taman gantung yang mengelilingi gedung kacanya dan ini merupakan pemandangan yang menarik.

Gedung yang dikonsep oleh WOHA Architect yang berbasis di Singapura tersebut memiliki bentuk yang menarik perhatian dunia arsitektur sekaligus industri gedung ‘hijau’ dengan desain hemat air dan energinya.

Sangat jelas bahwa hotel Park Royal menarik perhatian dengan vegetasi yang mengelilingi gedung dan nampak berlapis-lapis. Bangunan ini dianugerahi Green Mark Platinum pada tahun 2012 oleh Building and Construction Authority (BCA) Singapura karena desain hemat air dan energinya, termasuk sensor pencahayaan, lorong dengan ventilasi alami, mesin daur ulang di kamar tamu dan di seluruh hotel, sistem pendingin ruangan yang hemat energi, sistem ventilasi berdasarkan permintaan, penggunaan lampu LED dan neon, penggunaan cahaya matahari yang maksimal, atap sel surya, kaca berteknologi tinggi yang dapat mengurangi paparan sinar matahari dan menggunakan teknologi Cobiax (tekonologi yang menggunakan ‘pengisi kekosongan’ yang terbuat dari plastik daur ulang untuk mengurangi penggunaan beton). Itu adalah beberapa konsep ramah lingkungan yang diterapkan dalam bangunan ini.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/hotel-berlapis-taman-tropis/feed/ 0