zero waste - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/zero-waste/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 10 Jul 2025 10:03:21 +0000 id hourly 1 Rayakan Plastic Free July dengan 4 Gaya Hidup Zero Waste Ini! https://www.greeners.co/gaya-hidup/rayakan-plastic-free-july-dengan-4-gaya-hidup-zero-waste-ini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rayakan-plastic-free-july-dengan-4-gaya-hidup-zero-waste-ini https://www.greeners.co/gaya-hidup/rayakan-plastic-free-july-dengan-4-gaya-hidup-zero-waste-ini/#respond Thu, 10 Jul 2025 10:03:21 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=46960 Plastic Free July atau Juli Bebas Plastik adalah gerakan global yang bertujuan mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Gerakan ini dimulai oleh Rebecca Prince-Ruiz di Australia pada 2011, dan […]]]>

Plastic Free July atau Juli Bebas Plastik adalah gerakan global yang bertujuan mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Gerakan ini dimulai oleh Rebecca Prince-Ruiz di Australia pada 2011, dan kini telah meluas ke lebih dari 190 negara dengan partisipasi lebih dari 120 juta orang pada tahun 2022.

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) melansir bahwa plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan. Setiap tahunnya, lebih dari 8 juta ton sampah plastik mencemari laut dan ekosistem di sekitarnya. Plastik juga mencemari sungai, tanah, hingga udara dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Sekitar 50% dari 380 juta ton plastik yang diproduksi tiap tahun adalah plastik sekali pakai yang langsung terbuang setelah sekali pakai.

Oleh karena itu, Plastic Free July tidak hanya mendorong individu, tetapi juga industri, untuk segera mengurangi ketergantungan pada plastik kemasan. Lebih dari sekadar tantangan bulanan, ini adalah ajakan untuk hidup lebih ramah lingkungan sepanjang waktu.

Berikut lima hal yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi plastik sekali pakai.

1. Kemas Baju Pakai Tas Guna Ulang

Saat ini, kita sering menggunakan plastik untuk mengemas pakaian dari jasa laundry. Namun, sudah saatnya kita mengubah kebiasaan tersebut dengan menghindari plastik sekali pakai saat mengambil baju dari jasa laundry. Bawalah tas kain atau pouch guna ulang untuk mengemas dan membawa pakaian. Selain mengurangi sampah plastik, cara ini juga membantu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

2. Gunakan Pembalut Guna Ulang 

Sobat Greeners, tahu gak sih? Beralih dari pembalut sekali pakai ke pembalut kain atau menstrual cup adalah langkah ramah lingkungan yang bisa kita lakukan lho. Selain mengurangi limbah plastik, langkah ini juga bikin kita lebih hemat!

3. Bawa Snack Pouch untuk Jajan

Saat membeli camilan atau jajanan, mungkin sebagian dari kita masih menggunakan plastik sekali pakai. Nah, untuk mengurangi plastik sekali pakai, sekarang ada alternatifnya lho yaitu dengan bawa snack pouch atau wadah kecil sendiri. Dengan cara ini, kamu bisa menghindari penggunaan plastik pembungkus sekali pakai yang biasanya langsung dibuang. Selain hemat plastik, kamu juga bisa menjaga kebersihan makanan yang kamu bawa.

4. Beralih Menggunakan Kapas Guna Ulang 

Mengganti kapas sekali pakai dengan kapas kain yang bisa kamu cuci ulang adalah cara sederhana, namun efektif untuk mengurangi sampah plastik dari bungkus kapas. Kapas guna ulang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih ekonomis dalam jangka panjang. Cukup cuci bersih setelah digunakan, lalu pakai kembali, sehingga mengurangi kebutuhan kapas sekali pakai yang cepat menumpuk di tempat pembuangan sampah.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/rayakan-plastic-free-july-dengan-4-gaya-hidup-zero-waste-ini/feed/ 0
Sinta Nuriyah Wahid Sahur Keliling di Gresik, Usung Tema Zero Waste https://www.greeners.co/aksi/sinta-nuriyah-wahid-sahur-keliling-di-gresik-usung-tema-zero-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sinta-nuriyah-wahid-sahur-keliling-di-gresik-usung-tema-zero-waste https://www.greeners.co/aksi/sinta-nuriyah-wahid-sahur-keliling-di-gresik-usung-tema-zero-waste/#respond Wed, 19 Mar 2025 03:06:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46179 Jakarta (Greeners) – Sahur keliling menjadi salah satu kegiatan khas di bulan Ramadan. Belum lama ini,  istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid melakukan sahur […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sahur keliling menjadi salah satu kegiatan khas di bulan Ramadan. Belum lama ini,  istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid melakukan sahur keliling bersama ribuan masyarakat Gresik dengan mengusung tema zero waste.

Sahur keliling di bulan Ramadan 2025 ini berlangsung di Pondok Pesantren Internasional Al Illiyin, Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Selain masyarakat setempat, ada pula warga dari berbagai daerah yang turut bergabung, seperti Gresik, Jombang, Mojokerto, Surabaya, dan Pasuruan.

Menariknya, sahur keliling ini mengusung konsep zero waste dengan makanan dan minuman tanpa kemasan plastik. Hal itu bertujuan untuk meminimalisasi sampah plastik yang timbul dari kegiatan sahur keliling.

BACA JUGA: Terapkan 4 Protokol Guna Ulang untuk Kurangi Sampah saat Ramadan

“Dengan tamu yang tidak sedikit, kami berhasil menekan timbulan sampah. Tamu membuang sampah sesuai jenis organik dan anorganik dipandu dengan tim penyuluh zero waste dari para santri. Sampah yang terkumpul juga bisa dimanfaatkan seperti organik akan dikompos dan kardus makan akan dijual dilapak,” kata Koordinator Bidang Persampahan Sahur Keliling 2025, Tonis Afrianto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/3).

Kesuksesan acara ini juga tidak luput dari komitmen tim zero waste pondok yang bekerja sama dengan tim GKMS (Gresik Kawasan Merdeka Sampah) Kabupaten Gresik. Tentunya, hal itu sejalan dengan konsen jaringan GUSDURian untuk mengurangi sampah dan penganggulangan kriris iklim.

Sinta Nuriyah Wahid sahur keliling bersama masyarakat Gresik dengan mengusung tema zero waste. Foto: Ecoton

Sinta Nuriyah Wahid sahur keliling bersama masyarakat Gresik dengan mengusung tema zero waste. Foto: Ecoton

Sahur Keliling Menjadi Agenda Tahunan

Sahur keliling ini merupakan agenda tahunan yang biasa Sinta lakukan sejak mendampingi Gus Dur sebagai presiden. Beliau menyampaikan bahwa sahur keliling ini bersama dengan kaum dhuafa dan marjinal di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Selain itu, Sinta juga mengajak masyarakat untuk membuka pintu langit sepertiga malam dan menunaikan ibadah dengan sabaik-baiknya. Tidak lupa, beliau juga menyalurkan semangat kebangsaan untuk melanjutkan perjuangan yang Gus Dur dan pahlawan lainnya lakukan.

BACA JUGA: Warga Cakung Maknai Ramadan Minim Sampah dengan Praktik Guna Ulang

“Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan,” kata salah satu penggerak komunitas GUSDURian, Mujiburrohman.

Di tengah-tengah jamaah, Sinta membagikan semangat kebangsaan sebagai upaya untuk melanjutkan perjuangan kemanusiaan yang telah diwariskan Gus Dur. Usai kegiatan sahur keliling, Sinta bersama ribuan masyarakat Gresik melakukan solat Subuh bersama.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sinta-nuriyah-wahid-sahur-keliling-di-gresik-usung-tema-zero-waste/feed/ 0
Terapkan Zero Waste, UGM Kelola Sampah secara Mandiri https://www.greeners.co/aksi/terapkan-zero-waste-ugm-kelola-sampah-secara-mandiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=terapkan-zero-waste-ugm-kelola-sampah-secara-mandiri https://www.greeners.co/aksi/terapkan-zero-waste-ugm-kelola-sampah-secara-mandiri/#respond Fri, 24 Jan 2025 04:05:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45758 Jakarta (Greeners) – Masalah sampah di Kota Yogyakarta kini menjadi perhatian serius. Universitas Gadjah Mada (UGM) turut ambil bagian dalam upaya mengatasi hal tersebut. Sebagai kampus yang aktif dalam pelestarian […]]]>

Jakarta (Greeners) – Masalah sampah di Kota Yogyakarta kini menjadi perhatian serius. Universitas Gadjah Mada (UGM) turut ambil bagian dalam upaya mengatasi hal tersebut. Sebagai kampus yang aktif dalam pelestarian lingkungan, UGM menjalankan kampanye zero waste dengan menerapkan pengelolaan sampah mandiri di lingkungan kampus.

Upaya pengelolaan sampah di UGM melibatkan berbagai langkah. Di antaranya, mengedarkan anjuran untuk membuang sampah sesuai dengan jenisnya dan mengurangi penggunaan wadah makan berbahan styrofoam. Selanjutnya, membawa tumbler air sendiri dan mendorong sivitas akademika untuk menjaga kesehatan dengan berolahraga secara rutin.

Menurut petugas dari bagian pemeliharaan sarana dan Prasarana, Direktorat Aset UGM, Nurudin Basyori, setiap harinya mereka mengangkut sekitar tiga truk sampah. Hal itu setara dengan 6-7 kubik sampah. Sampah yang mereka angkut adalah sampah yang sudah terpilah sesuai jenisnya, sesuai dengan peraturan rektor. Petugas tidak akan mengangkut sampah yang belum terpilah.

Namun, implementasi pemilahan sampah ini masih menghadapi tantangan di beberapa lokasi, seperti di Jalan Sekip yang sampahnya masih sering dicampur. Dalam situasi tersebut, petugas harus memilah sampah tersbut. Meski tugas petugas terbatas pada pengangkutan sampah, Basyori tetap mengingatkan pentingnya edukasi yang berkelanjutan mengenai pemilahan sampah.

“Jadi, masih ada beberapa yang sudah, tapi belum semua yang mematuhi peraturan,” tuturnya.

Menurut Nurudin, edukasi ini juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran seluruh sivitas akademika agar lebih disiplin dalam memilah sampah dan mendukung tercapainya tujuan zero waste di kampus UGM.

Olah Sampah

Melansir Berita UGM, selain bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan kampus, pihak UGM juga turut serta dalam mengolah sampah.

“Alurnya dari fakultas yang sudah melakukan pemilahan sesuai dengan jenisnya kami ambil bawa ke Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT),” ujar Nurudin.

Di kompleks PIAT, sampah yang telah terpilah berdasarkan jenisnya akan petugas olah lebih lanjut. Untuk sampah organik, seperti dedaunan, akan mereka proses menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos tersebut kemudian digunakan untuk merawat taman-taman di sekitar kampus.

Kampanye zero waste yang UGM gencarkan ini harapannya bisa mendorong pengurangan volume sampah setiap harinya. Kampanya ini juga bertujuan untuk memudahkan petugas keberishan dalam mengangkut sampah dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/terapkan-zero-waste-ugm-kelola-sampah-secara-mandiri/feed/ 0
Peringati Hari Santri, SDIT Yaa Bunayya Lakukan Gerakan Bebas Sampah https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-santri-sdit-yaa-bunayya-usung-tema-gerakan-bebas-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peringati-hari-santri-sdit-yaa-bunayya-usung-tema-gerakan-bebas-sampah https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-santri-sdit-yaa-bunayya-usung-tema-gerakan-bebas-sampah/#respond Sun, 27 Oct 2024 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45062 Jakarta (Greeners) – Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kali ini dirayakan dengan cara yang istimewa oleh SDIT Yaa Bunayya di Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kali ini dirayakan dengan cara yang istimewa oleh SDIT Yaa Bunayya di Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pada Jumat (25/10), sekolah ini menggelar pameran dan bazar bertema zero waste atau gerakan bebas sampah.

Pada peringatan HSN ini, sekitar 500 siswa dan guru ikut berpartisipasi. Acara ini juga melibatkan kelompok Siswa Peduli Lingkungan (SPILL) yang memamerkan hasil pengelolaan sampah mereka. Mereka menampilkan kompos organik, eco enzyme, kerajinan daur ulang kertas, serta peralatan zero waste yang mereka jual. Dhania, salah satu anggota SPILL, mengungkapkan kebahagiaannya dapat mengajak teman-teman untuk peduli terhadap lingkungan.

“Saya senang bisa mengajak teman-teman pada HSN kali ini. Kami menjual kompos hasil panen dan peralatan zero waste, seperti sedotan stainless dan sendok kayu. Selain itu, kami juga berkampanye untuk mengurangi penggunaan bungkus plastik,” ucap Dhania lewat keterangan tertulisnya, Jumat (25/10).

BACA JUGA: Kresek Man Kampanyekan Pengurangan Sampah dari Bungkus Rokok

Dhania mencatat bahwa penjualan hari itu sangat laris. Mereka semangat menjual produk-produk yang telah disiapkan dan berhasil memperoleh Rp85 ribu. Selain itu, mereka juga memperkenalkan cara belanja sabun dengan refill kepada teman-teman.

Sementara itu, Kepala SDIT Yaa Bunayya, Jajuk Soerjatiningsih, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini sangat tepat. Sebab, sekolahnya telah mendapatkan predikat Adiwiyata yang menandakan komitmen terhadap pendidikan lingkungan.

“Kami bangga bisa merayakan HSN ini dengan memperhatikan lingkungan. Saya wajibkan siswa-siswi membawa wadah dan botol minum sendiri saat membeli makanan. Sehingga, kita dapat bebas dari kemasan plastik,” kata Jajuk.

Ia juga menekankan bahwa semua penjual harus mematuhi aturan untuk tidak menjual makanan yang mengandung 5P (pengawet, pewarna, pemanis, penyedap, dan pengenyal).

SDIT Yaa Bunayya melakukan gerakan bebas sampah dalam rangka Hari Santri. Foto: Ecoton

SDIT Yaa Bunayya melakukan gerakan bebas sampah dalam rangka Hari Santri. Foto: Ecoton

Pamerkan Foto Kondisi Sungai Brantas

Pada kesempatan yang sama, Manajer Edukasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Alaika Rahmatullah, menjelaskan bahwa Ecoton juga memiliki program Sekolah Ekologis. Hal itu untuk menularkan gerakan ramah lingkungan di lingkungan sekolah. Salah satunya di SDIT Yaa Bunayya.

“Program ini mendorong sekolah untuk menjadi zero waste. Semua kegiatan yang dilakukan selalu memperhatikan hak-hak ekologis anak dan kesehatan mereka. Sehingga, dapat mencapai masa depan yang lebih baik,” jelasnya.

BACA JUGA: Waste4Change Beri Penghargaan Komunitas dan Institusi Peduli Sampah

Acara ini juga dimeriahkan dengan pameran foto kondisi Sungai Brantas yang tercemar mikroplastik. Tujuannya untuk menggugah kesadaran siswa agar tidak membuang sampah plastik ke sungai dan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Dengan serangkaian kegiatan yang menarik dan edukatif ini, SDIT Yaa Bunayya berhasil menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan prinsip zero waste.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/peringati-hari-santri-sdit-yaa-bunayya-usung-tema-gerakan-bebas-sampah/feed/ 0
Kampung Siba Klasik Gelar Pasaran Jajanan Tradisional Tanpa Plastik https://www.greeners.co/aksi/kampung-siba-klasik-gelar-pasaran-nol-sampah-dengan-jajanan-tradisional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kampung-siba-klasik-gelar-pasaran-nol-sampah-dengan-jajanan-tradisional https://www.greeners.co/aksi/kampung-siba-klasik-gelar-pasaran-nol-sampah-dengan-jajanan-tradisional/#respond Mon, 26 Aug 2024 05:35:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44584 Jakarta (Greeners) – Bulan Agustus merupakan momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk memperingati Hari Kemerdekaan dengan berbagai acara. Kampung Siba Klasik di Kabupaten Gresik juga turut merayakannya dengan menggelar Pasaran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bulan Agustus merupakan momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk memperingati Hari Kemerdekaan dengan berbagai acara. Kampung Siba Klasik di Kabupaten Gresik juga turut merayakannya dengan menggelar Pasaran Zero Waste bertema “D’trial Pasaran Zero Waste” pada Sabtu, 24 Agustus. Acara ini mengusung konsep ramah lingkungan tanpa penggunaan plastik sekali pakai.

Acara dengan konsep zero waste atau nol sampah ini bertujuan untuk mempromosikan ekonomi hijau dan melibatkan ibu-ibu dari kelompok Dawis (Dasa Wisma).

Ketua RT 02 RW 05 Kampung Siba Klasik, Saifudin Efendi menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari program ‘Merdeka Sampah’ yang telah warga persiapkan dari jauh-jauh hari. Konsep acara ini mengharuskan semua penjual untuk menghindari penggunaan pembungkus plastik sekali pakai dan melakukan transaksi dengan uang kreweng.

BACA JUGA: Peringati HPSN, Kampung Siba Klasik di Gresik Buka Toko Refill

“Konsep acara ini memang bebas plastik sekali pakai. Saya ingin mengajak masyarakat untuk menjual produk olahan pangan sehat dan jajanan tradisional. Dengan cara ini, kita tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga mengurangi produksi sampah. Transaksi menggunakan uang kreweng yang sebelumnya telah ditukar ke panitia,” jelas Saifudin di Gresik, Sabtu (24/8).

Kepuasan Pengunjung dan Keberhasilan Penjual

Bukan sekadar berkelanjutan, pada kegiatan perayaan 17 Agustus ini, ibu-ibu Dawis menjual aneka ragam makanan yang tradisional. Inisiatif ini sekaligus mengenalkan makanan khas Indonesia kepada para warga. Iin Hidayati, salah satu pengunjung, sangat senang karena bisa menemukan makanan tradisional di acara tersebut.

“Saya tidak menyangka bisa menemukan makanan tradisional seperti howok-howok, arang-arang kambang, petulo, dan lainnya. Aromanya wangi karena menggunakan bungkus daun. Rasanya sehat dan enak,” ungkapnya.

Sementara itu, Ninis, anggota Dawis, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan keuntungan signifikan bagi kelompoknya. Dari penjualannya, ia memperoleh keuntungan 600 ribu rupiah. Ninis menambahkan bahwa pengunjung yang berdatangan pun sangat banyak dan antusias. Sehingga, ibu-ibu dari kelompok Dawis sempat kewalahan.

“Namun, semua pembeli tetap kebagian. Mereka ada yang membawa wadah sendiri, dan bagi yang tidak membawa, kami menyediakan wadah daun pisang berbentuk takir dan pincuk,” katanya.

Pasaran zero waste oleh Kampung Siba Klasik. Foto: Ecoton

Pasaran zero waste oleh Kampung Siba Klasik. Foto: Ecoton

Apresiasi dari Lurah dan Dukungan Program Lingkungan

Lurah Sidokumpul, Mukhlisun, memberikan apresiasi tinggi untuk acara tersebut. Ia sangat menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Kampung Siba Klasik.

Mukhlisun berharap kegiatan ini bisa warga lakukan secara rutin dengan konsep zero waste, sehingga dapat mengurangi timbulan sampah dalam kegiatan ekonomi kerakyatan seperti ini.

Selain itu, acara ini juga selaras dengan program Gresik Kawasan Merdeka Sampah (GKMS) yang dicanangkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik. Program ini mendorong masyarakat untuk berkontribusi dalam pengurangan timbulan sampah melalui pemilahan sampah sejak dari rumah dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Dengan semangat dan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, Kampung Siba Klasik menunjukkan bahwa ekonomi hijau dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dapat berjalan beriringan. Pasaran ‘Zero Waste’ mereka bukan hanya acara, tetapi juga langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kampung-siba-klasik-gelar-pasaran-nol-sampah-dengan-jajanan-tradisional/feed/ 0
Warga Gresik Diajak Kurangi Sachet dan Beralih ke Sabun Refill https://www.greeners.co/aksi/warga-gresik-diajak-kurangi-sachet-dan-beralih-ke-sabun-refill/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warga-gresik-diajak-kurangi-sachet-dan-beralih-ke-sabun-refill https://www.greeners.co/aksi/warga-gresik-diajak-kurangi-sachet-dan-beralih-ke-sabun-refill/#respond Mon, 13 May 2024 07:07:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43772 Jakarta (Greeners) – Warga Kampung Siba Klasik memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Gresik untuk mengampanyekan pengurangan sampah sachet. Mereka juga menjual sabun isi ulang untuk memperkenalkan masyarakat Gresik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Warga Kampung Siba Klasik memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Gresik untuk mengampanyekan pengurangan sampah sachet. Mereka juga menjual sabun isi ulang untuk memperkenalkan masyarakat Gresik agar bisa beralih ke sistem isi ulang dan meninggalkan kemasan sachet.

Penjualan yang masyarakat lakukan sungguh unik. Mereka menggunakan kendaraan motor tiga roda untuk memajang berbagai produk sabun. Seperti sabun cuci piring, sabun cuci pakaian, pembersih lantai, dan peralatan zero waste lainnya.

Dalam kampanye ini, anak-anak muda yang tergabung dalam Paguyuban Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik dan tim Gresik Kawasan Merdeka Sampah (GKMS) juga ikut terlibat. Mereka membantu mengampanyekan pentingnya pengurangan kemasan sachet kepada para pengunjung.

BACA JUGA: Peringati HPSN, Kampung Siba Klasik di Gresik Buka Toko Refill

Selain itu, penjualan sistem refill oleh Eco Refill ini berhasil memikat perhatian pengunjung CFD di Jalan Jaksa Agung Suprapto Gresik. Ibu Inggit (38), salah satu pengunjung CFD mengaku kali pertama membeli sabun sistem refill. Ia mengungkapkan pengalamannya saat membeli sabun refill untuk pertama kalinya.

“Saya baru tahu kalau refill lebih murah, ya. Jadi bisa beli agak banyak satu liter dengan wadah botol bekas dari rumah. Saya setuju jika ini bisa mengurangi sampah sachet kemasan sabun-sabun,” kata Inggit di Gresik, Minggu (12/5).

Warga Kampung Siba Klasik memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Gresik untuk mengampanyekan pengurangan sampah sachet. Foto: Ecoton

Warga Kampung Siba Klasik memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Gresik untuk mengampanyekan pengurangan sampah sachet. Foto: Ecoton

Masyarakat Antusias Berjualan

Kampung yang menerapkan konsep zero waste ini tampak semangat untuk berjualan sekaligus berkampanye. Ketua Lembaga Zero Waste Kelurahan Sidokumpul, Saifudin Efendi mengatakan bahwa dirinya sudah menyiapkan rencana ini dari jauh-jauh hari.

“Ya, pasti perlu persiapan, kami berkolaborasi dengan tim penyuluh zero waste, karang taruna, bank sampah, dan PKK yang ada di kampung untuk wujudkan refill sabun ini,” terangnya di Gresik, Minggu (12/5).

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

Pria yg akrab disapa Ipung ini mengatakan bahwa di Kampung Siba Klasik sudah memiliki toko refill. Jadi, hal ini bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat di kampung tersebut untuk berjualan konsep refill.

“Sejak januari 2024, kami sudah mengembangkan toko refill bernama Eco Refill agar masyarakat bisa mengurangi konsumsi produk sabun sachet dan berbelanja dengan konsep baru yang berkelanjutan,” tambahnya.

Kampanye Kampung Siba Klasik Perlu Dukungan

Pegiat Zero Waste Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), Tonis Afrianto berpendapat ini sebuah langkah maju memperkenalkan sistem refill ke publik.

“Apa yang Kampung Siba Klasik lakukan ini langkah maju karena berinisiatif memperkenalkan sistem refill sabun rumah tangga ke publik lewat car free day. Ya, semoga ada dukungan dari pemerintah agar kampanye pengurangan plastik sachet terus berjalan melalui inovasi ini,” tegasnya.

Sebelumnya, awal tahun 2024, Ecoton juga telah merilis melalui brand audit bahwa penemuan sampah sachet mencapai puluhan ribu pieces.

“Berdasarkan temuan tahun 2023 sampai awal 2024, kami menemukan pencemaran lingkungan karena sampah plastik sachet sebanyak 33.112 pieces bocor ke perairan sungai dan pantai. Sehingga sachet ini perlu dikurangi, bahkan dihentikan,” imbuhnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/warga-gresik-diajak-kurangi-sachet-dan-beralih-ke-sabun-refill/feed/ 0
KKP Dorong Penerapan Zero Waste pada Produk Perikanan https://www.greeners.co/berita/kkp-dorong-penerapan-zero-waste-pada-produk-perikanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-dorong-penerapan-zero-waste-pada-produk-perikanan https://www.greeners.co/berita/kkp-dorong-penerapan-zero-waste-pada-produk-perikanan/#respond Mon, 09 Oct 2023 04:39:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=41902 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong penerapan zero waste pada produk perikanan. Semua bagian pada ikan dapat menjadi produk bernilai ekonomis. Sehingga, hal ini dapat meminimalkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong penerapan zero waste pada produk perikanan. Semua bagian pada ikan dapat menjadi produk bernilai ekonomis. Sehingga, hal ini dapat meminimalkan sampah organik dari ikan.

Penerapan zero waste merupakan salah satu bentuk praktik perikanan berkelanjutan. Untuk itu, KKP memanfaatkan peringatan Hari Ikan Nasional (Harkanas) ke-10 yang berlangsung November nanti. Momen tersebut mengkampanyekan zero waste produk perikanan.

“Meminimalisasi bagian terbuang, semua bagian ikan bisa menjadi produk,” ujar Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Budi Sulistiyo melalui keterangan tertulisnya di Jakarta.

BACA JUGA: 4 Cara Bangun Kebiasaan Kecil Menuju Zero Waste

Selain itu, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Erwin Dwiyana mengatakan produk perikanan dapat menjadi sumber protein pilihan keluarga. Hal itu untuk mendukung peningkatan konsumsi ikan.

Erwin menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan struktur geografis yang didominasi lautan serta kekayaan rempah-rempah yang melimpah. Itu menjadikan keragaman kuliner Indonesia sebagai potensi yang bisa diangkat.

“Kami berharap masakan khas Indonesia yang berbahan baku ikan bisa mendunia,” tutur Erwin saat membuka Bincang Bahari bertajuk “Keanekaragaman Kuliner Nusantara untuk Generasi Emas”, beberapa waktu lalu.

KKP terus mendorong penerapan zero waste pada produk perikanan. Foto: Freepik

KKP terus mendorong penerapan zero waste pada produk perikanan. Foto: Freepik

Pemanfaatan Ikan Bisa Bernilai Tinggi

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP), Trisna Ningsih memaparkan tentang piramida atau tingkatan nilai produk perikanan. Semakin ke atas, nilai produk pun semakin tinggi.

Untuk tingkatan paling bawah, pemanfaatan ikan hanya sebatas ikan mentah atau sebagai bahan baku saja. Kemudian, ikan untuk pakan ternak dan di atasnya olahan tradisional. Misalnya, pengasinan, pengeringan, pemindangan, dan pengasapan.

Tingkatan selanjutnya ikan sebagai pangan fungsional, suplemen kesehatan, kosmetik dan teratas untuk produk farmasi. Ia juga memberikan contoh konsep zero waste ikan, di mana tidak ada bagian tubuh ikan yang terbuang.

Misalnya, daging ikan selain jadi produk fillet, steak dan loin, bisa untuk produk fortifikasi hingga hidrolisat. Tak hanya dagingnya, bahkan tulang dan kepala ikan pun masih bisa menjadi camilan, sebagai bahan farmasi seperti kandrotin, serta bahan industri seperti gelatin dan lem.

“Jeroannya juga, selain untuk pakan seperti tepung, silase, bisa juga untuk bahan farmasi,” terangnya.

Perikanan Berkontribusi bagi Ketahanan Pangan

Program Director Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, Hirmen Sofyanto menyebut sektor perikanan berkontribusi besar terhadap ekonomi dan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan akan turut memastikan keberlangsungan masyarakat yang bergantung di dalamnya.

“Praktik perikanan yang berkelanjutan memberikan nilai tambah tersendiri,” tutur Hirmen.

BACA JUGA: Life and Co, Toko Grosir Berkonsep Zero Waste

Sementara itu, Co-Founder Foodbank of Indonesia, Wida Septarina menggarisbawahi peran ibu dalam menyediakan dan mengolah pangan terbaik bagi keluarga. Terutama, bagi anak-anak untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Sebab, ia mengimbau para ibu untuk selalu kreatif sekaligus menjadi garda pangan perikanan berkelanjutan.

“Ikan untuk Anak (IUAK) mengajak para ibu di seluruh penjuru Indonesia kembali mengolah ikan lokal dengan rempah-rempah sekitar menjadi makanan lezat dan bergizi untuk keluarga,” jelas Wida.

KKP Usung Lima Kebijakan SDGs

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan KKP mengusung lima kebijakan. Hal ini bertujuan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kelima kebijakan prioritas tersebut yakni memperluas kawasan konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pembangunan budidaya laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan.

Kemudian, pengawasan dan pengendalian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pembersihan sampah plastik di laut melalui gerakan partisipasi nelayan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kkp-dorong-penerapan-zero-waste-pada-produk-perikanan/feed/ 0
30 Maret 2023 jadi Peringatan Pertama International Day of Zero Waste https://www.greeners.co/berita/30-maret-2023-jadi-peringatan-pertama-international-day-of-zero-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=30-maret-2023-jadi-peringatan-pertama-international-day-of-zero-waste https://www.greeners.co/berita/30-maret-2023-jadi-peringatan-pertama-international-day-of-zero-waste/#respond Thu, 30 Mar 2023 08:00:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39528 Jakarta – Hari ini, tepat 30 Maret 2023 menjadi peringatan pertama International Day of Zero Waste. Peringatan ini menjadi momentum menyuarakan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Kementerian Lingkungan Hidup […]]]>

Jakarta – Hari ini, tepat 30 Maret 2023 menjadi peringatan pertama International Day of Zero Waste. Peringatan ini menjadi momentum menyuarakan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mendorong gaya hidup minim sampah semakin masif di masyarakat.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 14 Desember 2022 lalu menetapkan International Day of Zero Waste diperingati setiap 30 Maret. Resolusi ini diusulkan oleh Turki dan 105 negara lainnya. Peringatan ini bertujuan untuk mengaungkan praktik berkelanjutan dan mendorong komunitas global untuk beralih ke prinsip ekonomi sirkular.

Manusia dunia menghasilkan sekitar 2,24 miliar ton limbah padat kota setiap tahunnya. Ironisnya, hanya 55 % yang berhasil terkelola. Selain itu setiap tahun, sekitar 931 juta ton makanan terbuang (food waste) dan sebanyak 14 juta ton sampah plastik mencemari ekosistem perairan. Sektor sampah berkontribusi secara signifikan terhadap hilangnya keanekaragaman hayati hingga krisis iklim. 

Pada kesempatan International Day of Zero Waste ini, United Nation Environment Programme (UNEP) turut mendorong kolaborasi dan partisipasi multisektor untuk meningkatkan kesadaran zero waste.

Memulai dari Diri Sendiri 

Terkait peringatan perdana ini, Direktur Penanganan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK Novrizal Tahar menyambut baik peringatan International Day of Zero Waste.

Ia berharap, peringatan ini memicu perubahan perilaku gaya hidup ramah lingkungan yang cepat dalam masyarakat. “Karena secara empirik dan esensi, zero waste itu sangat dapat diwujudkan dan dimulai dari diri dan rumah sendiri,” katanya kepada Greeners, Kamis (30/3).

Ia menegaskan, pemerintah saat ini gencar mengampanyekan gerakan membangun gaya hidup minim sampah. Gerakan ini terdiri dari lima hal. Pertama, membatasi penggunaan barang-barang sekali pakai. Kedua, belanja tanpa kemasan (bawa wadah belanja). Ketiga, pilah sampah di rumah. Keempat, menghabiskan makanan atau makan tanpa sisa. Kelima, komposkan sisa makanan atau sampah organik di rumah. 

“Harapan kita ini menjadi embedded dalam karakter dan kultur orang Indonesia. Dengan demikian persoalan sampah sebagian besar sudah selesai di rumah atau pada diri sendiri,” tuturnya. 

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati menyatakan, pentingnya pengelolaan sampah organik melalui pengomposan.

“Jika seluruh masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahunnya secara mandiri di rumah, maka 10,92 juta ton sampah organik tidak dibawa ke TPA,” katanya. 

Upaya itu lanjutnya dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 6,834 juta ton CO2eq. Ia menegaskan bahwa sampah merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat.

Pemisahan sampah organik di rumah kompos

Warga Desa Buleleng memisahkan sampah organik untuk diolah di rumah kompos. Foto : Yayasan Bumi Sasmaya

Tak Ada Lagi Pembangunan TPA Baru 

KLHK pun menargetkan tak ada lagi pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) baru pada tahun 2030 nanti. Ini menyusul optimalisasi pengelolaan sampah sebagai upaya mitigasi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Lebih lanjut Vivien menyatakan, target tersebut bertujuan untuk mengurangi polusi, terutama sampah organik dan berimbas pada perubahan iklim

“TPA menghasilkan gas metana dan emisi gas rumah kaca. Tahun 2030 kita tak lagi melakukan pembangunan TPA, dan pada 2040 tak akan ada lagi TPA,” ucapnya.

Negara-negara maju, seperti Denmark, tempat penampungan akhir hanya menampung enam persen karena sampahnya bisa mereka kelola. Menurut Vivien, Indonesia seharusnya bisa melakukan hal serupa. 

Penurunan Emisi dari Sektor Sampah

Pemerintah Indonesia telah menyampaikan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) pada 23 September 2022 yang meliputi target penurunan emisi GRK. Adapun targetnya naik dari yang semula 29 persen menjadi 31,89 persen oleh upaya sendiri (CM1) dan 41 persen menjadi 43,20 melalui dukungan internasional (CM2) pada tahun 2030 nanti.

Pada sektor limbah, tahun 2030 Indonesia menargetkan penurunan tingkat emisi GRK sebesar 40 Mton CO2eg (CM1) dan 43,5 Mton COzeg (CM2).

Vivien mengungkap, KLHK telah menyusun rencana aksi pencapaian zero waste and zero emission dari subsektor limbah padat domestik (sampah).

Dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2023, KLHK mendorong upaya serius penanganan dan pengelolaan sampah. Sampah yang tak terpilah dapat bermanfaat untuk diolah menjadi briket. Demikian pula sampah yang terpilah seharusnya bisa memberikan nilai dalam masyarakat.

Persoalan sampah di Indonesia menghadapi beragam tantangan. Foto: Freepik

Luruskan Definisi Zero Waste

Sementara itu, Dewan Pengarah Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) David Sutasurya mengatakan, momentum International Day of Zero Waste menjadi kesempatan untuk menyelaraskan definisi zero waste yang tepat.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa asal dengan membakarnya, baik secara konvensional maupun dengan teknologi thermal. Selain itu perhatikan pula dampak samping dari aktivitas tersebut. Apakah misalnya menghasilkan abu, zat berbahaya beracun yang bisa membahayakan kesehatan dan lingkungan.

“Ini adalah pesan kami, sudah saatnya kita menggunakan definisi zero waste yang tepat,” imbuhnya.

Pemerintah Indonesia pun perlu mengimplementasikan pengertian zero waste yang tepat. Indonesia perlu mencontoh pengelolaan sampah negara-negara serumpun seperti di Kota San Fernando, Filipina. Negara ini berhasil mengurangi sampah ke TPA tanpa teknologi sebesar 87 %.

Sementara itu lanjutnya, Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen perlu penguatan.

“Karena berbicara plastik ini terkait dengan industri, perdagangan, dan pariwisata dan kita butuhkan koordinasi kementerian itu. Artinya kita butuh peraturan setingkat peraturan pemerintah,” tambah Direktur Eksekutif Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) ini.

David menyatakan, untuk mencapai zero waste 100 % masih menjadi tantangan untuk semua negara di dunia. Namun, paling tidak, pemerintah harus berperan aktif menuju zero waste.

Penulis: Ramadani Wahyu & Ari Rikin

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/30-maret-2023-jadi-peringatan-pertama-international-day-of-zero-waste/feed/ 0
Java Jazz 2023 Konsisten dan Kembali Usung Less Waste More Jazz https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2023-konsisten-dan-kembali-usung-less-waste-more-jazz/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=java-jazz-2023-konsisten-dan-kembali-usung-less-waste-more-jazz https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2023-konsisten-dan-kembali-usung-less-waste-more-jazz/#respond Thu, 09 Mar 2023 05:09:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39269 Jakarta (Greeners) – Melandainya kasus pandemi Covid-19 pada tahun 2022 lalu membuat industri konser dan festival musik tanah air kembali menggeliat, salah satunya Java Jazz 2023. Tak dipungkiri, banyaknya penonton […]]]>

Jakarta (Greeners) – Melandainya kasus pandemi Covid-19 pada tahun 2022 lalu membuat industri konser dan festival musik tanah air kembali menggeliat, salah satunya Java Jazz 2023.

Tak dipungkiri, banyaknya penonton di konser musik menciptakan timbulan sampah. Festival musik yang telah concern dalam pengelolaan sampah adalah Java Jazz Festival oleh PT Java Festival Production. Festival yang eksis sejak tahun 2005 ini selalu menjadi perhatian karena menampilkan musisi-musisi kawakan nusantara dan mancanegara.

Perjalanan konsep Zero Waste Event telah berlangsung sejak tahun 2009 sebelum akhirnya pada tahun 2015 mengalami transformasi menjadi Less Waste More Jazz. Menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Greeners.co, Java Jazz konsisten menampilkan wajahnya sebagai festival musik yang concern pada isu sampah.

Apa Itu Zero Waste Event? 

Dalam Zero Waste Event Planning oleh Pemerintah South Portland, Zero Waste Event menitikberatkan unsur berkelanjutan dan  menyebarkan kampanye pengurangan sampah dalam masyarakat melalui acara atau festival.

Tujuan akhir Zero Waste Event tak lain adalah mengalihkan 90 % sampah hasil festival yang seharusnya masuk ke TPA untuk proses daur ulang dan pengomposan. Khusus untuk daur ulang membutuhkan sampah-sampah anorganik, sedangkan dalam pengomposan membutuhkan sampah organik.

Java Jazz 2023 Konsisten dalam Less Waste More Jazz

Direktur Utama PT Java Festival Production Dewi Gontha mengatakan, meski Java Jazz Festival belum 100 % benar-benar zero sampah, tapi kebiasaan-kebiasaan kecil berupa membuang sampah pada tempat sampah yang sesuai menjadi awal perjalanan Java Jazz Festival.

“Kita pun sebagai penyelenggara banyak belajar. Awalnya hanya memisahkan sampah sampai akhirnya sampah kita angkut tetap dalam keadaan terpisah hingga kita kelola. Itu sebuah proses,” kata dia.

Konsep Less Waste More Jazz menekankan ketersediaan tempat sampah yang terpisah sesuai dengan jenis sampahnya, seperti sampah anorganik (plastik, botol), sampah organik (sisa makanan) dan residu.

Selain itu, Dewi memastikan di area food and beverage sudah tak ada lagi styrofoam sebagai wadah makanan karena kandungannya yang berbahaya. Namun, khusus untuk botol plastik PET masih ditoleransi karena bisa masuk dalam daur ulang.

Konferensi pers bersama Dewi Gontha terkait perhelatan Java Jazz 2023. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Targetkan Masyarakat Teredukasi

Dewi berharap, aksi-aksi dan kampanye kecil ini mampu mengajak masyarakat secara luas mengubah perilaku menjadi lebih ramah lingkungan. Ia juga menegaskan, kesadaran masyarakat untuk terus memilah sampahnya telah meningkat dari tahun ke tahun.

“Kita tidak ngoyo, yang mampu kita kerjakan ya itu kita lakukan sedikit demi sedikit.  Kalau sampai benar-benar nol sampah tak mungkin, karena kita terus konsumsi. Harapannya yang penting masyarakat teredukasi,” ujar dia.

Humas KLHK Pandu Aditya Affandi mengatakan, kampanye pengelolaan sampah Less Waste More Jazz mengajak masyarakat untuk memilah sampah. “Sehingga harapannya ke depannya dapat menjadi gaya hidup baru di rumah,” imbuhnya.

Dorong Festival Musik Lain Terapkan Less Waste

Ia berharap, semangat Zero Waste Event dalam Java Jazz mampu menular pada pihak-pihak penyelenggara festival musik lainnya. “Kami KLHK sangat terbuka untuk kolaborasi, kita berharap ke depan semakin banyak penyelenggara festival yang sadar,” ucapnya.

General Manager Marcomm of PT Sinar Sosro Devyana Tarigan menyatakan, sebagai produksi minuman di Java Jazz Festival, Sosro berkomitmen membantu KLHK untuk mengelola sampah botol untuk kemudian kita daur ulang. “Ini kita lakukan agar sampah kita tak berakhir dan membanjiri TPA,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa proses daur ulang hendaknya tak hanya bermakna sebatas mendaur ulang botol kemasan. Tapi lebih dari itu, sebagai upaya menyadarkan gaya hidup minim sampah pada masyarakat luas.

Helatan Java Jazz Festival akan berlangsung pada 2-4 Juni 2023 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Mengangkat tema Let Music Lead Your Memories, harapannya penonton dapat menciptakan kenangan baru ataupun mengingat kenangan di masa lampau. Seperti cerita perjuangan penyelenggarakan festival yang penuh suka duka, untuk dinikmati semua kalangan dengan penuh suka cita.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2023-konsisten-dan-kembali-usung-less-waste-more-jazz/feed/ 0
5 Tips Mudah Hidup Zero Waste Bagi Pemula https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tips-mudah-hidup-zero-waste-bagi-pemula/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-tips-mudah-hidup-zero-waste-bagi-pemula https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tips-mudah-hidup-zero-waste-bagi-pemula/#respond Wed, 01 Feb 2023 04:00:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38823 Sobat Greeners, apakah kamu cukup familiar dengan gaya hidup zero waste? Jika membicarakan mengenai gaya hidup ramah lingkungan, rasanya belum lengkap apabila kita tidak mengenali gaya hidup minim sampah satu […]]]>

Sobat Greeners, apakah kamu cukup familiar dengan gaya hidup zero waste? Jika membicarakan mengenai gaya hidup ramah lingkungan, rasanya belum lengkap apabila kita tidak mengenali gaya hidup minim sampah satu ini.

Zero waste merupakan sebuah gaya hidup yang mengajak kita untuk meminimalisir timbulan sampah pada kehidupan sehari-hari. Gaya hidup ini juga mengajarkan kita untuk mengurangi pemakaian produk sekali pakai dan menggantinya dengan produk reusable.

Namun pada beberapa kalangan masyarakat, konsep zero waste terdengar sangat sulit untuk diterapkan, apalagi di tengah zaman modern seperti saat ini. Berikut tips mudah untuk menerapkan zero waste atau gaya hidup minim sampah bagi pemula yang harus kamu tahu!

1. Beli Makanan dengan Tempat Makan Pakai Ulang

Salah satu penyumbang timbulan sampah paling banyak di Indonesia adalah sektor makanan. Ketika Sobat Greenes membeli makanan untuk layanan bawa pulang, pedagang atau restoran seringkali memberikan wadah plastik sekali pakai atau styrofoam.

Dalam gaya hidup minim sampah, kamu bisa menanganinya dengan membawa tempat makan pakai ulang sebagai wadah makanan. Ketika bepergian keluar rumah, kamu bisa membawa wadah makanan kosong tersebut di dalam tas.

Tidak hanya tempat makan, Sobat Greeners juga bisa melengkapinya dengan alat makan guna ulang seperti sendok, garpu, sedotan serta botol air minum.

2. Menggunakan Sikat Piring Alami

Tips kedua untuk mengurangi timbulan sampah yakni mengganti spons cuci piring dengan sikat piring yang lebih alami. Pasalnya, spons pada umumnya terbuat dari busa poliuretan yang merupakan salah satu jenis plastik. Ketika digunakan, mereka dapat memecah dan menyebarkan partikel kecil plastik ke aliran air.

Sobat Greeners dapat beralih ke sikat cuci piring ramah lingkungan seperti sikat dari loofah. Loofah merupakan serat berbahan alami dari sayuran oyong atau gambas. Ia dapat kita gunakan sebagai pengganti sikat untuk mandi atau pencuci piring.

3. Beralih ke Sikat Gigi Bambu

Sikat gigi menjadi salah satu produk esensial yang harus kita ganti minimal setiap tiga bulan sekali. Bisakah kamu bayangkan berapa banyak sampah sikat gigi berbahan plastik yang terbuang dari seluruh rumah di Indonesia?

Karena itu cobalah beralih ke sikat gigi kayu atau bambu. Sikat gigi ini jauh lebih ramah lingkungan daripada sikat berbahan plastik. Bambu juga merupakan tanaman dengan pertumbuhan tercepat di bumi serta proses produksinya tidak memerlukan penggunaan pestisida atau pupuk.

4. Gunakan Kapas Organik atau Penghapus Make Up Reusable

Tips selanjutnya yang harus kamu perhatikan dalam gaya hidup minim sampah adalah memulai dari hal yang kecil seperti mengganti penggunaan kapas sekali pakai ke produk yang lebih alami dan tidak menambahkan timbulan sampah. Saat ini kamu dapat menemukan dengan mudah produk alternatif kapas sekali pakai seperti kapas organik atau penghapus make up reusable.

5. Ganti Tisu dengan Sapu Tangan

Berdasarkan beberapa sumber, selain plastik tisu merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Tisu sendiri termasuk sampah non organik yang tidak mudah untuk terurai secara alami. Sobat Greeners dapat mengganti penggunaan tisu dengan tisu bambu atau kamu bisa menggunakan sapu tangan untuk penggunaan sehari-hari.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber:

Green With Less

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tips-mudah-hidup-zero-waste-bagi-pemula/feed/ 0
YPBB Latih Daerah Kelola Sampah Sesuai Karakter Wilayahnya https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/#respond Tue, 26 Jul 2022 04:57:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36845 Jakarta (Greeners) – Organisasi non-profit Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) membimbing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mewujudkan kawasan bebas sampah. Setiap daerah harus memiliki rencana teknis pengelolaan sampah (RTPS). Pelatihan online […]]]>

Jakarta (Greeners) – Organisasi non-profit Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) membimbing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mewujudkan kawasan bebas sampah. Setiap daerah harus memiliki rencana teknis pengelolaan sampah (RTPS).

Pelatihan online RTPS (20-22 Juli 2022) ini bagian dari program zero waste cities. Harapannya program ini bisa membangun kapasitas stakeholder terkait tata kelola sampah di wilayahnya masing-masing.

Manajer Zero Waste Cities YPBB Kota Bandung Ismail Rayadi mengatakan, dokumen RTPS ini merupakan turunan dari Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas).

Selain itu juga dari Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstrada) serta masterplan nasional dan regional. Program yang mengerucut pada RTPS perlu daerah sesuaikan dengan eksisting masing-masing wilayah.

“Dalam hal ini, YPBB memfasilitasi para stakeholder OPD untuk memahami fungsi dokumen RTPS untuk mendukung kerja-kerja di tingkat daerah,” katanya dalam konferensi pers Pelatihan Online Rencana Teknis Pengelolaan Sampah (RTPS), baru-baru ini.

Tata Kelola Sampah Berbasis Karakter Daerah

Dalam kegiatan ini, YPBB juga membantu penyusunan modul pembuatan dan penerapan RTPS tata kelola persampahan setiap daerah.

“Terdapat 6 sesi yang dikonversi menjadi 15 jam pelajaran. Sesi-sesinya ada pengenalan mengenai RTPS, pembuatannya, bagian yang cukup penting yaitu ada kelembagaan, penerapan RTPS itu bagaimana dan yang terakhir monitoring dan evaluasi,” paparnya.

RTPS merupakan dokumen perencanaan yang muatannya berupa panduan sistem pengelolaan sampah di setiap tingkat kawasan. Tingkatan itu antara lain kecamatan, sub wilayah kota, kelurahan ataupun desa, dari hulu sampai ke hilir.

Dalam pelatihan ini hadir 56 peserta dari berbagai lembaga dan kedinasan serta LSM. Saat ini di Kota Bandung sudah ada 15 Kelurahan yang memiliki dokumen RTPS di wilayahnya.

Keikutsertaan para OPD ini harapannya dapat menguatkan dan memahamkan fungsi RTPS sehingga dapat lebih semangat untuk menerapkannya secara konsisten.

Terdapat dua poin penting dalam pelatihan ini. Pertama yaitu terkait dengan pembagian peran dalam pengelolaan sampah di wilayah. Terutama wilayah pemukiman, secara kelembagaan antara kewilayahan, masyarakat, pemerintah kota atau kabupaten.

Sistem pengelolaan sampah akan semakin mudah berjalan apabila sesuai dengan kondisi wilayah tersebut. Mulai dari jumlah penduduk, topografi, geografis hingga karakter masyarakat juga tertulis dalam dokumen RTPS.

Sejak berdiri tahun 1993, YPBB mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat mencapai kualitas hidup yang tinggi dan berkelanjutan melalui gaya hidup selaras alam. Sejak tahun 2005 YPBB fokus dalam isu zero waste. Tahun 2017 mereka pun menjalankan program zero waste cities bekerja sama dengan GAIA, Mother Earth Foundation, didanai oleh Plastic Solutions Fund.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ypbb-latih-daerah-kelola-sampah-sesuai-karakter-wilayahnya/feed/ 0
Bulk Store, Peradaban Baru Dalam Berbelanja https://www.greeners.co/berita/bulk-store-peradaban-baru-dalam-berbelanja/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bulk-store-peradaban-baru-dalam-berbelanja https://www.greeners.co/berita/bulk-store-peradaban-baru-dalam-berbelanja/#respond Sun, 18 Apr 2021 22:30:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=32487 Sampah plastik masih menjadi masalah besar dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa upaya dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik, seperti membawa tas belanja sendiri dan mengganti alat makan sekali pakai dengan […]]]>

Sampah plastik masih menjadi masalah besar dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa upaya dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik, seperti membawa tas belanja sendiri dan mengganti alat makan sekali pakai dengan alat makan guna ulang. Selain itu, kini hadir bulk store / pack free store / toko curah yang menekankan pada zero waste alias menghilangkan kemasan plastik pada produk yang dibeli.

Jakarta (Greeners) – Saat ini masyarakat atau konsumen di berbagai belahan dunia ingin ikut berperan dalam melestarikan lingkungan, sehingga kehadiran bulk store atau toko curah mulai menjadi sebuah tren dan berpotensi ke depannya mengisi kebutuhan masyarakat untuk bergaya hidup bebas sampah.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar menyampaikan bahwa gaya hidup zero waste atau bebas sampah akan mendominasi di kehidupan masyarakat kini dan masa mendatang.

Dengan munculnya fenomena toko-toko curah atau bulk store merupakan suatu upaya atau respon terhadap persoalan-persoalan sampah khususnya sampah plastik yang muncul karena kemasan dari produk yang dihasilkan.

“Sehingga munculnya bulk store ini menunjukkan peradaban baru dari kehidupan masyarakat dalam upaya mengurangi persoalan sampah. Dan peradaban ini akan membawa kemajuan untuk Indonesia,” kata Novrizal ketika dihubungi Greeners, Kamis (15/04/2021).

Pemerintah Mendukung Inisiatif Bulk Store 

Pemerintah sendiri pun mendorong bulk store untuk tetap eksis dengan mengeluarkan peraturan yakni peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang tertuang tertuang dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.75/MenLHK/Setjen/Kum.1/10/2019.

Menurut Novrizal, peraturan tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan bulk store. Serta, dapat mengubah perilaku masyarakat dalam berbelanja.

“Untuk mempertahankan bulk store ini tentunya memerlukan demand yakni masyarakat. Untuk menggerakkan hal tersebut kita coba dorong dari regulasi yang sudah kita buat, karena adanya peraturan tersebut pasti produsen memiliki tanggung jawab untuk menjual produknya dengan mengurangi kemasan plastiknya. Seiring berjalan, masyarakat juga terdorong untuk bergaya hidup lebih ramah lingkungan.  Tentu hanya bulk store yang memiliki persediaan produk tanpa kemasan atau curah,” ujar Novrizal.

Di sisi lain, Novrizal juga menyampaikan potensi bulk store terbesar ada di pasar tradisional. Diketahui memang sistem perdagangan di pasar memang curah baik sayur mayur, bumbu-bumbu rempah, ayam, daging hingga buah-buahan.

Kini, pasar tradisional juga sudah mulai menerapkan tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai. Sehingga besar harapannya pasar tradisional bisa didorong ke dalam bentuk bulk store.

“Jadi kalau sistem bulk store ini bisa kita dorong semaksimal mungkin dan terjadi perubahan masif juga di pasar tradisional, saya pikir ini bisa menjadi peradaban yang baru buat kita,” kata Novrizal.

Hadirnya Bulk Store Memudahkan Masyarakat Mengurangi Sampah Plastik Sekali Pakai 

Menurut beberapa data yang dihimpun oleh Greeners dari berbagai sumber, tercatat setidaknya ada 30 bulk store di Indonesia. Salah satunya ialah Saruga Package-Free Shopping Store. Toko curah yang berdiri sejak 15 November 2018 lalu ini sudah menjadi toko curah yang cukup dikenal oleh masyarakat. Nama Saruga sendiri diambil dari bahasa Kalimantan Selatan yang berarti Surga.

Ridha Zaki selaku founder Saruga menyampaikan, Saruga dibuat dengan harapan bisa mengurangi penggunaan sampah terutama sampah kemasan, sekaligus menjadi Gerakan untuk mengajak masyarakat menjalankan gaya hidup minim sampah dan bijak sampah agar lingkungan tetap terjaga dengan baik.

“Kita di Saruga menjual produk-produk di mana konsumen membawa wadah, menimbang, dan membayar sendiri sesuai kebutuhannya. Sehingga tidak ada produk yang terbuang percuma. Jadi Saruga dibuat untuk konsumen yang ingin mengubah gaya hidupnya menjadi minim sampah,” ujar Ridha saat ditemui Greeners di Shopping Center Saruga, Bintaro beberapa waktu lalu.

Ridha mengatakan Saruga menyediakan kebutuhan sehari-hari, seperti makanan pokok, home care, body care yang sebagian besar produknya disuplai oleh UMKM berstandar BPOM. Dari segi harga pun masih terjangkau.

Ridha menyampaikan bahwa tantangan besar dari awal Saruga berdiri hingga kini ialah mengubah pola pikir masyarakat untuk berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

Diketahui sumber sampah di Indonesia paling banyak disumbang oleh sampah rumah tangga, karena ketidakbijakan masyarakat dalam hal konsumsi. Sehingga menyisakan banyak sampah organik begitupun sampah anorganik.

Maka itu, menjadi misi Saruga dalam mengurangi limbah kemasan dan produk plastik sekali pakai. Misi ini diaplikasikan dengan mengembangkan sistem retail bahan kebutuhan sehari – hari yang memungkinkan konsumen untuk memakai ulang kemasan dengan menyediakan sarana isi ulang.

Putri Nurfadhilah, salah satu konsumen Saruga mengatakan alasannya berbelanja tanpa kemasan, karena sampah di rumahnya sudah terlalu banyak dan ia berpikir bagaimana cara menguranginya. “Berbelanja tanpa kemasan sudah kulakukan sejak enam bulan lalu. Jadi sekarang kalau belanja ke toko curah dengan membawa wadah atau shopping bag sendiri,” ujarnya.

 Penulis: Dewi

BACA JUGA : Saruga, Jalankan Konsep Ritel Minim Sampah Plastik

BACA JUGA : Qyos, Stasiun Isi Ulang Produk Rumah Tangga di Kawasan Pemukiman Kota

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/bulk-store-peradaban-baru-dalam-berbelanja/feed/ 0
Life and Co, Toko Grosir Berkonsep Zero Waste https://www.greeners.co/ide-inovasi/life-and-co-toko-grosir-berkonsep-zero-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=life-and-co-toko-grosir-berkonsep-zero-waste https://www.greeners.co/ide-inovasi/life-and-co-toko-grosir-berkonsep-zero-waste/#respond Tue, 21 Apr 2020 02:57:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=26887 Karena mengusung konsep zero waste, toko Life and Co tidak menggunakan kemasan sekali pakai dan pelanggan diharuskan membawa wadah mereka sendiri.]]>

Toko kelontong, grosir, maupun agen bagi sebagian masyarakat Indonesia telah banyak ditemukan hampir di semua kota besar dan desa. Namun, bagaimana bila toko penyedia kebutuhan sehari-sehari tersebut menerapkan konsep gaya hidup nihil sampah (zero waste) kepada konsumen?

Baru-baru ini sebuah toko grosir (bulk store), Life and Co menerapkan gaya hidup baru ramah lingkungan dalam kegiatan berbelanja. Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalisir sampah plastik yang selama ini menjadi problem di Indonesia.

Baca juga: Wheels for Heroes Sumbangkan Sepeda untuk Tenaga Kesehatan

Bulk Store merupakan toko grosir versi terkini yang mengadopsi konsep ramah lingkungan. Tidak hanya menjual barang dalam jumlah besar, para penjual juga meniadakan kemasan plastik yang biasanya dipakai untuk mengemas barang-barang yang dijual. Karena barang yang dijual tidak menggunakan kemasan sekali pakai, pelanggan diharuskan membawa wadah mereka sendiri.

Koalisi pemuda di Semarang Back Ind meluncurkan Life and Co, pada Minggu, 19 April 2020. Ide tersebut muncul ketika Direktur dan Inisiator Back Ind, Falasifah, mengunjungi sebuah bulk store di Surabaya dan Yogyakarta. Ia melihat konsep tersebut sangat cocok dengan beberapa program dari komunitasnya, yakni memberdayakan masyarakat melalui ekonomi kreatif yang berlandaskan ekonomi sirkular.

Life and Co

Foto: Life and Co

Tidak berbeda dengan toko grosir yang ada di dunia, Life and co juga menyediakan kebutuhan pokok dengna konsep zero waste. Produk yang disediakan, kata Falah, ialah hasil kolaborasi dengan beberapa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang ada di Kota Semarang.

“Di Life and Co ini bukan hanya sekadar menjual barang-barang curah, tetapi mencoba berkolaborasi dengan beberapa UMKM yang memiliki produk minim sampah sesuai dengan visi,” ucap Falah, Minggu, (19/04).

Baca juga: ICU Alternatif Atasi Covid-19

Dengan bulk store ini, ia dan tim ingin mengembalikan marwah Indonesia yang kembali bergantung dengan alam. “Kalau aku lihat masyarakat di Kota Semarang sendiri banyak yang sudah lupa dengan leluhurnya, seperti lerak yang dahulu dibuat untuk mencuci, makanya kita edukasi,” ucap dia.

Lokasi Life and Co terletak di Jalan Sukun Raya No. 41 Semarang Jawa Tengah. Jam operasional kerja setiap hari dan libur di hari Jumat. Sementara jam buka dimulai dari pukul 14:00 hingga 17:00.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/life-and-co-toko-grosir-berkonsep-zero-waste/feed/ 0
Zero Waste Indonesia: Zero Waste Tidak Membuat Primitif, tapi Progresif https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zero-waste-indonesia-zero-waste-tidak-membuat-primitif-tapi-progresif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zero-waste-indonesia-zero-waste-tidak-membuat-primitif-tapi-progresif https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zero-waste-indonesia-zero-waste-tidak-membuat-primitif-tapi-progresif/#respond Fri, 27 Mar 2020 05:05:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=26597 Zero Waste Indonesia berdiri sejak 1 April 2018. Konsep gaya hidup ini tidak bisa dimengerti sepatah-sepatah karena akan menimbulkan banyak miskonsepsi.]]>

Berbagai cara mulai dilakukan oleh manusia dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Kepedulian terhadap Bumi kini mulai berkembang, salah satunya dengan menerapkan pola hidup minim sampah (Zero Waste), sustainable maupun upcycle fashion.

Zero Waste Indonesia merupakan salah satu kelompok yang hadir untuk mengajak masyarakat melalkukan gaya hidup berkelanjutan. Manajer Pemasaran dan Hubungan Masyarakat Zero Waste Indonesia Amanda Zahra Marsono menceritakan inisiatif berdirinya komunitas ini bermula dari salah satu pendirinya, Maurilla.

Saat itu ia melihat kondisi laut Indonesia yang dipenuhi sampah dan berpikir bagaimana cara mengurangi sampah plastik tersebut. Untuk menjadi seorang yang peduli lingkungan, kata Amanda, tentu sangat sulit. Sebab informasi mengenai pola hidup minim sampah masih terbatas. Zero Waste Indonesia kemudian menerjemahkan berbagai literatur luar negeri ke dalam Bahasa Indonesia dan memuatnya di situs mereka.

Baca juga: Gaya Hidup Zero Waste Dapat Dilakukan Semua Orang

Komunitas yang berdiri sejak 1 April 2018 ini mengampanyekan program mereka melalui dua arah, yakni online dan offline. Amanda mengatakan dari awal Zero Waste Indonesia berbasis online agar dapat diakses siapa pun dan di mana pun. Media sosial dan situs organisasi tetap menjadi platform utama untuk mengedukasi masyarakat.

Menurutnya, dengan teknologi seperti sekarang ini, informasi mengenai gaya hidup zero waste sangat mudah diakses dan diadaptasi. Meskipun kebutuhan esensial akan selalu digunakan, bukan berarti gerakan zero waste sama sekali tidak menghasilkan sampah. Sebagai manusia, kata Amanda, cukup mustahil untuk hidup tanpa membuat sampah sama sekali. Solusinya adalah dengan mencari cara untuk mengurangi sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) seperti refuse, reuse, reduce, recycle, dan rot (5R).

Konsep gaya hidup zero waste, kata dia, tidak bisa dimengerti sepatah-sepatah karena akan menimbulkan banyak miskonsepsi. Menurutnya pelaksanaan Zero Waste dalam hidup juga tidak mahal, tidak ribet, dan bukan berarti anti plastik. Yang utama adalah mengenai pola pikir masyarakat dan hal tersebut bisa diubah secara perlahan.

Zero Waste Indonesia

Komunitas Zero Waste Indonesia. Foto: Zero Waste Indonesia

Di samping itu, masyarakat perlu lebih memanfaatkan bahan baku dari alam, untuk hal seperti pengemasan misalnya. Sekarang sudah banyak ditemukan kemasan dari bahan alami yang dibuat dengan teknologi tertentu sehingga memberi kemudahan.

“Zero waste tidak membuat jadi primitif, tetapi malah progresif karena berpikir dan sadar dengan potensi alam kita. Dahulukan dari alam untuk alam,” kata Amanda saat dihubungi oleh Greeners, (16/02/2020).

Selain melakukan kampanye daring, Zero Waste Indonesia menginisiasi gerakan #zerowasteid31days yang merupakan tantangan selama 30 hari. Alasannya, karena masih banyak orang yang kebingungan untuk memulai pola hidup minim sampah. Tantangan tersebut, kata Amanda, mengajak dan memudahkan seseorang agar secara perlahan berpindah gaya hidup.

“Kami melakukan pendekatan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dengan kebaikan tanpa menghakimi, tapi tegas dalam meluruskan miskonsepsi mengenai gaya hidup zero waste,” ujarnya.

Program Kampanye #TukarBaju

Tukar baju merupakan salah satu solusi dari sekian banyak cara untuk mengurangi limbah tekstil. Dengan adanya program tersebut zero waste Indonesia menyampaikan kepada masyarakat bahwa ada sumber sampah besar lain selain plastik kemasan.

Amanda mengatakan our trash is someone else’s treasure, dengan adanya cara berpikir seperti ini, diharapkan dapat menurunkan permintaan barang. Perusahaan fashion juga diminta untuk mengutamakan bahan, kualitas, dan juga kesejahteraan pembuatnya. Upaya ini, kata dia, akan berdampak pada pengurangan limbah tekstil di dunia.

Supply bergantung pada demand, dengan adanya #TukarBaju kami memberi pilihan untuk tidak membeli baju baru dan justru memaksimalkan apa yang kita miliki di dalam lemari,” ucap Amanda.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/zero-waste-indonesia-zero-waste-tidak-membuat-primitif-tapi-progresif/feed/ 0
Pemerintah Didorong Segera Implementasikan Zero Waste https://www.greeners.co/berita/pemerintah-didorong-segera-implementasikan-zero-waste/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintah-didorong-segera-implementasikan-zero-waste https://www.greeners.co/berita/pemerintah-didorong-segera-implementasikan-zero-waste/#respond Mon, 13 Jan 2020 08:00:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=25323 AZWI mendorong pemerintah Indonesia segera mengimplementasikan program zero waste di masyarakat untuk mengelola sampah dan mengurangi beban di TPA.]]>

Jakarta (Greeners) – Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mendorong pemerintah Indonesia segera mengimplementasikan program zero waste di masyarakat. Upaya tersebut dilakukan untuk mengelola sampah dan mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Anggota AZWI dan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Nur Hidayati atau Yaya mengatakan, langkah awal penerapan ini bisa dilakukan dengan membuat kebijakan di tingkat pemerintah daerah. Tujuannya untuk mengajak masyarakat memilah dan mengolah sampah di rumah masing-masing.

“Peraturan zero waste lebih detail bisa menggunakan peraturan wali kota, peraturan gubernur, atau peraturan bupati. Bisa diterapkan secara efektif, karena dari sisi pemerintah terjadi penghematan biaya pengelolaan sampah,” ujar Yaya, di kantor WALHI, Jakarta Selatan, Jumat (10/01/2020).

Baca juga: 3 Kota di Jawa Barat Ditargetkan Menjadi Zero Waste Cities di Indonesia

Menurut Yaya, peran dan pengaruh masyarakat dalam mengelola sampah sangat besar jika pemerintah menyediakan fasilitas dan kebijakan yang tepat. Seperti penyediaan wadah terpisah, jadwal penjemputan sesuai jenis, hingga pembuatan kebijakan. “Sebenarnya masyarakat bersedia melakukan pemilahan, tapi masalahnya pemerintah tidak menyediakan sistem pengangkutan yang benar. Percuma masyarakat memilah, tapi sampai di truk sampahnya dicampur lagi,” ujarnya.

Yaya menyampaikan presiden dapat memerintahkan seluruh pemimpin pusat maupun daerah untuk melibatkan masyarakat agar program ini dapat cepat dilakukan. Dengan pemilahan, kata Yaya, setidaknya 60 persen sampah organik dapat berkurang. Sampah dapat dijadikan kompos sehingga mengurangi pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran ICEL, Fajri Fadhilah, Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak, Direktur Eksekutif WALHI Nur Hidayati, Ahli toksikologi dan kimia lingkungan, Prof. Emeritus Paul Connett, dan Staf Kebijakan Kampanye Organik YPBB Bandung Yobel Novian Putra, saat menghadiri kampanye Zero Waste di kantor WALHI, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Januari, 2020. Foto: www.greeners.co/Dewi Purningsih

“Dia (presiden) juga dapat memerintahkan industri mengambil kembali kemasannya untuk di-recycle. Selain mengurangi volume sampah, bisa menciptakan lapangan kerja baru. Ini suatu kesempatan untuk menunjukkan pemimpin nasional mengatasi masalah sampah,” ucap Yaya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun. Komposisinya terdiri dari 50 persen sampah organik seperti sisa makanan dan tumbuhan, 15 persen plastik, serta 10 persen kertas. Sedangkan sisa sampah lain berupa logam, karet, kain, kaca, dan lain-lain.

Baca juga: Pemprov DKI Wajibkan Kelola Sampah di Seluruh Instansi

Desember lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies R. Baswedan mensosialisasikan Instruksi Gubernur Nomor 107 Tahun 2019 tentang Pengurangan dan Pemilahan Sampah di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurut Yaya, peraturan tersebut seharusnya dapat ditingkatkan menjadi peraturan gubernur yang dapat menjangkau semua masyarakat di Jakarta. Pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk melakukan upaya-upaya mandiri. Dengan peraturan semacam itu, Yaya menuturkan, masyarakat akan mengikuti, apalagi jika terdapat kompensasi atas sampah yang dikumpulkan. “Hal itu juga bisa dilakukan supaya masyarakat tidak menghasilkan sampah yang banyak,” kata dia.

Sementara seorang ahli toksikologi dan kimia lingkungan, Prof. Emeritus Paul Connett, mengatakan bahwa pemilahan sampah dari rumah merupakan kunci awal penerapan zero waste. Paul mengunjungi kota-kota besar di Indonesia untuk mengampanyekan pentingnya gerakan bebas sampah.

“Tetap upaya yang harus dilakukan ialah melakukan pemilahan dari rumah ke rumah. Sehingga sebanyak mungkin (sampah) organik diolah sebelum ke TPA. Dan di TPA bisa mengelola sisa dari sampah organik dengan baik,” ujar Paul.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintah-didorong-segera-implementasikan-zero-waste/feed/ 0
Stocking Berkelanjutan dari Swedia https://www.greeners.co/gaya-hidup/stocking-berkelanjutan-dari-swedia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=stocking-berkelanjutan-dari-swedia https://www.greeners.co/gaya-hidup/stocking-berkelanjutan-dari-swedia/#respond Mon, 30 Dec 2019 08:14:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25182 Swedish Stockings merupakan produsen asal Swedia yang membuat stocking berkelanjutan. Mereka mengusung pabrik bebas limbah (zero waste factory).]]>

Dalam dunia mode, celana ketat bermotif disebut tight atau kaus kaki (stocking) dan diibaratkan sebagai “sedotan plastik dunia fashion”. Sebagian besar diproduksi dari serat sintetis berbahan plastik dan berasal dari olahan batu bara serta minyak mentah (nilon). Dalam pembuatannya, nilon menghabiskan banyak energi dan menghasilkan nitro oksida pemicu gas rumah kaca.

Setidaknya perlu 30 tahun atau lebih agar tight dan stocking dapat terurai. Setiap pasang produk yang dibuang ke tempat sampah akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam waktu yang lama.

Tight dan stocking mendapat reputasi buruk sebagai plastik sekali pakai dalam industri mode. Lebih dari 103.000 kilogram limbah kaus kaki, tight, dan stocking diproduksi di seluruh dunia setiap tahun. Dikutip dari refinery29.com, masih banyak konsumen yang membeli produk sekali pakain ini. Siklus pemakaiannya serupa dengan sedotan plastik yang akhir ini menjadi perhatian pemerhati lingkungan, yakni beli, pakai, robek, dan ulangi.

Baca juga: Bangunan Unik di Kota Zero Waste

Namun, kini produsen merek mode juga menciptakan produk yang mempertimbangkan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Mereka membuat rancangan pakaian yang berkelanjutan (sustainable), salah satunya seperti Swedish Stockings.

Pendiri Swedish Stockings Linn Frisinger dan Nadja Forsberg mendirikan perusahaan tersebut dengan latar belakang permasalahan lingkungan akibat industri tekstil. Menurut keduanya, sebanyak dua miliar pasang tight hanya dikenakan beberapa kali lalu dibuang setiap tahun. 

Stocking Berkelanjutan

Swedish Stockings mengusung pabrik bebas limbah (zero waste factory) yang didukung energi terbarukan dari tenaga surya dan angin. Foto: swedishstockings.com

Hal tersebut menjadikan industri tekstil sebagai industri yang paling berpolusi kedua di dunia. “Tempat pembuangan sampah di mana-mana penuh dengan tekstil. Produknya dibuat dengan buruk dan murah, tidak dapat terurai. Benang nilon yang saat ini digunakan untuk memproduksi sebagian besar stocking modern dibuat dari proses manufaktur berbasis minyak yang tidak ramah lingkungan. Buruk bagi planet ini,” ucap mereka seperti tertulis di situs resmi swedishstockings.com.

Keduanya menuturkan bahwa praktik tidak ramah lingkungan di industri mode sudah terlalu umum. Mereka percaya bahwa dunia membutuhkan produk yang lebih inovatif dan sadar lingkungan. Hingga muncul ide Stocking Swedia sebagai cikal bakal produk tight dan stocking nilon yang diproduksi secara berkelanjutan.

Baca juga: Rami Bahan Baku Tekstil Bermutu Tinggi

“Kami membuatnya dengan cantik dari benang daur ulang. Pabrik-pabrik kami juga terlibat dalam praktik berkelanjutan termasuk penggunaan pewarna ramah lingkungan, pengolahan air pasca-pewarnaan, dan penggunaan tenaga surya sebagai energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan produk,” ucapnya.

Swedish Stockings mengusung pabrik bebas limbah (zero waste factory), yang didukung energi terbarukan dari tenaga surya dan angin. Produk tight milik Linn dan Nadja ini dibuat dari daur ulang pakaian olahraga yang bermaterial nilon dan poliamida. Pewarnaannya hanya menggunakan penyepuh alami tumbuhan dan memanfaatkan kembali 50 persen sisa air produksi.

Produk mereka dibanderol mulai dari harga £17.21 sampai £40.45 atau sekitar 300 ribu hingga 800 ribuan. Menariknya lagi, setiap pelanggan dapat bergabung dengan klub daur ulang. Keunggulannya, konsumen dapat mengirimkan kembali segala merek tight dan stocking maksimal tiga pasang. Sebagai imbalan, klien mendapatkan diskon untuk pembelian selanjutnya.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/stocking-berkelanjutan-dari-swedia/feed/ 0
Three Cities of West Java To Implement Zero Waste Cities https://www.greeners.co/english/three-cities-of-west-java-to-implement-zero-waste-cities/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=three-cities-of-west-java-to-implement-zero-waste-cities https://www.greeners.co/english/three-cities-of-west-java-to-implement-zero-waste-cities/#respond Wed, 28 Mar 2018 09:34:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=20285 Three cities of West Java, -- Bandung city, Cimahi, and Bandung district, are targeted to be pilot projects of zero waste cities concept.]]>

Bandung (Greeners) – Three cities of West Java, — Bandung city, Cimahi, and Bandung district, are targeted to be pilot projects of zero waste cities concept, said head of International Zero Waste Cities Conference (IZWCC) 2018, Ria Ismaria, on Wednesday (7/3), in Bandung.

“We are developing pilot projects, that is why we selected big cities such as Cimahi, Bandung district, a city but with more close to as a district, and a metropolitan city, Bandung, These cities were selected because they represented different characters of cities,” said Ismaria adding that readiness, support and policies of the cities determine the selection.

Furthermore, she said that Cimahi was ready among other cities to apply zero waste cities.

“Cimahi city is ready as nearly all sub-districts have been familiarized with the concept while only two sub-districts of Bandung city, — Coblong and Cibeunying Kaler and one village, Babakan Sari. Meanwhile, Bandung district only has five villages. Basically, Bandung district and Bandung city are ready but compare to Cimahi, I think Cimahi is set,” she said.

READ ALSO: Green Watchdog: Bottled Water Companies Ranked Low on Plastic Waste Management

Deputy Mayor of Cimahi, Ngatiyana, said that waste management in the city has only been collecting, transferring and throwing, if the concept can be applied, he had hoped that domestic wastes can be separated so that people can do composting from organic waste and economic value can be generated from non-organic wastes.

“Zero waste cities is a program that needs to be implemented and our target to Zero Waste Cities in 2025 are because this waste issues have been reaching to international world. The first step, at minimum, that we must do is to reduce plastic waste in Cimahi because it contributes to 40 percent out of 200,000 tons waste per day. One way to do it is through campaigns to supermarkets and traditional markets by not using plastic wastes,” said Ngatiyana.

The administration had established Central Waste Bank (BSI), dubbed as Cimahi Central Waste (SAMICI), one of the method implemented by Cimahi city under circular economy.

SAMIC receives waste management from 160 waste banks from neighborhood units. “We are branching out SAMICI on local neighborhood units. It has been supported by separating wastes in every household and it’s coming from their own consideration to recycle their wastes,” he added.

READ ALSO: Lack of Attention on Circular Economy for Waste Management

Meanwhile, Mohamad Salman Fauzi, head of Bandung City environmental agency said that the concept needed to be implemented in Bandung city despite of it was being difficult.

“Overall, we establish spots in neighborhood units for training, there’s also Free Waste Area (KBS) so it will change culture, character and mindset, but it requires time and preparation,” he said.

Asep Kusumah of Bandung Environmental District Agency, said that important point of zero waste cities was to develop people’s awareness.

“Zero waste is a momentum to learn from other nations, don’t just observe. It is why Bandung district make the programs such as sabilulungan hiji dua (sajiwa), sabilulungan tanam pohon kesayangan (satapok), and biopori holes of which organic wastes will be given themes to develop people’s mindset and Zero Waste Cities,” said Kusumah.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/three-cities-of-west-java-to-implement-zero-waste-cities/feed/ 0
Green Watchdog: Bottled Water Companies Ranked Low on Plastic Waste Management https://www.greeners.co/english/green-watchdog-bottled-water-companies-ranked-low-on-plastic-waste-management/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-watchdog-bottled-water-companies-ranked-low-on-plastic-waste-management https://www.greeners.co/english/green-watchdog-bottled-water-companies-ranked-low-on-plastic-waste-management/#respond Tue, 27 Mar 2018 11:21:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20277 Green watchdog slammed large bottled water companies for doing less than expected to manage its plastic wastes.]]>

Bandung (Greeners) – Green watchdog slammed large bottled water companies for doing less than expected to manage its plastic wastes, on Monday, in Bandung, West Java.

The Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) report ranked ten bottled water companies based on their residual wastes, the first place went to PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (8.36 percent), PT Santos Jaya Abadi (7.17 percent), PT Unilever Indonesia Tbk (6.99 percent), PT mayora Indah Tbk (4.95 percent), Wings Corporation (4.91 percent), PT Djarum (2.28 percent), Group Danone (2.16 percent), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (2.00 percent), Orang Tua (1.81 percent), PT Garuda Food Putra Putri Jaya (1.79 percent).

“So, these companies have been doing something, but not much. For example, Nestle tried to collect packaging wastes and turned them into brick. However, I don’t think that’s a good solution and not for long term,” said Froilan Grate, representative of GAIA Asia Pacific.

Meanwhile, Danone-AQUA, one of largest bottled water company in Indonesia, ranked 7th, or 2.16 percent for producing residual waste in the country.

The data was launched at Zero Waste Cities Conference (IZWCC 2018), held March 5 – 7, on a session “The Role Corporations Play”, in Monday (5/3), in Bandung. The Conference was attended by representatives by cities and foreign countries, such as India, Philippines, Unite States, and Europe, which have been developing the concept of zero waste cities. The countries showed their ways to reduce wastes before going to landfills.

READ ALSO: Lack of Attention on Circular Economy for Waste Management

Grate said that companies need to consider of using environmentally friendly products. In addition, the product must be re-designed not to use disposable plastic materials.

Karyanto Wibowo, Director of Sustainable Development Danone-AQUA, claimed the company had implemented the commitment to preserve environment.

“Everyone has the rights to make research or analyzing however we already have [our] commitment and will implement initiatives based on that commitment. Their feedback (GAIA) will be used for our reference,” said Wibowo.

Furthermore, he said that Danone-AQUA had initiated six Recycling Business Unit (RBU) development in South Tangerang, Bali and Bandung, collaborating with Namasindo to recover more plastic wastes produced by the company on 2030.

“From 15 percent products of Aqua per day, we have already recycled 12,000 tons per year under six RBU. We have ambition to get to 2030, that is why we have the milestone to collect and recycle based on defined targets,” he said. “As 2020, we’re targeting 25 percent to recover of which the target will continue to increase every year.”

READ ALSO: Recycling Industries Can Promote Circular Economy System

He said that Danone-AQUA received recycle products only from areas already connected and assessed by the company so that it will have direct impacts to informal sector, including scavengers.

“Currently, we are developing a pilot model which would be replicated. We have to admit that not all waste banks are sustainable, lots of them not operational because they’re supposed to be given access to supply the products. Hence, waste banks located in West Java was established alongside with Central Waste Bank (BSI), comprises of units waste banks so that they could have their own outlets for the products. From the bank, the wastes go to recycling unit then being processed to Danone-AQUA,” he said.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/green-watchdog-bottled-water-companies-ranked-low-on-plastic-waste-management/feed/ 0
Ancol Kelola Sampahnya Secara Mandiri https://www.greeners.co/aksi/ancol-kelola-sampahnya-secara-mandiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ancol-kelola-sampahnya-secara-mandiri https://www.greeners.co/aksi/ancol-kelola-sampahnya-secara-mandiri/#respond Wed, 11 Oct 2017 11:51:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18966 Dimulai sejak tahun 2012, Taman Impian Jaya Ancol mencoba untuk mengolah sampah di kawasan wisata yang mereka kelola secara mandiri.]]>

Jakarta (Greeners) – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk sebagai pengelola kawasan wisata terpadu Taman Impian Jaya Ancol berinisiatif untuk mengolah sampah yang berada di kawasan rekreasi secara mandiri. Dimulai sejak tahun 2012 dan diresmikan oleh Gubernur Fauzi Bowo kala itu, Taman Impian Jaya Ancol mencoba untuk mengolah sampah di kawasan wisata yang mereka kelola secara mandiri.

Rika Lestari, Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk mengatakan bahwa tempat pengolahan sampah mandiri “Ancol Zero Waste” yang memiliki luas 360 meter per segi dan terletak di bagian timur kawasan rekreasi Ancol ini akan mengolah dua jenis sampah, yaitu sampah organik (daun, ranting dan dahan) dan sampah anorganik (plastik).

“Permasalahan sampah ini merupakan salah satu dampak dari kehidupan. Tidak hanya di kawasan permukiman dan perkantoran, sampah juga menjadi sorotan di kawasan wisata,” katanya, Jakarta, Selasa (10/10).

mengolah sampah

Hanggar untuk menampung pupuk kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah. Foto: dok. Ancol

Sampah organik nantinya akan diolah menjadi pupuk kompos yang selanjutnya digunakan untuk pemupukan dan perawatan taman di area rekreasi dan properti Ancol. Sampah yang dihasilkan dari unit Atlantis Water Adventure, Dunia Fantasi, Allianz Ecopark, Seaworld Ancol, Putri Duyung Ancol dan Ocean Dream Samudra ini rata-rata berjumlah 122 meter kubik per bulan dan menghasilkan 80 persen menjadi pupuk kompos dan sisanya adalah sampah an-organik.

Sementara volume sampah yang dihasilkan dari kawasan taman dan pantai berjumlah 45.713 meter kubik atau rata-rata 3.809 meter kubik per bulan. Namun saat ini sampah tersebut belum dapat diolah secara mandiri karena kapasitas tempat yang belum memadai. Untuk membuat kawasan pantai menjadi bersih dan nyaman, pihak manajemen Ancol mengalokasikan biaya sekitar 40 miliar per tahun.

mengolah sampah

Pupuk kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah. Foto: dok. Ancol

Volume sampah yang diolah ini nantinya akan meningkat sebab manajemen berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah tidak hanya di kawasan rekreasi tetapi juga properti. Untuk kawasan properti, manajemen Ancol mengalokasikan biaya sekitar 6,7 milyar setahun dengan volume sampah rata-rata 2.100 meter kubik perbulan.

“Harapannya Ancol dapat menjadi kawasan wisata terpadu yang terawat, bersih serta peduli terhadap kualitas lingkungan yang lebih baik,” pungkas Rika.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ancol-kelola-sampahnya-secara-mandiri/feed/ 0
Jelajah Gunung ala Zero Waste Adventure https://www.greeners.co/gaya-hidup/jelajah-gunung-ala-zero-waste-adventure/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jelajah-gunung-ala-zero-waste-adventure https://www.greeners.co/gaya-hidup/jelajah-gunung-ala-zero-waste-adventure/#respond Tue, 04 Jul 2017 09:01:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17551 Hingga kini gunung yang dipenuhi sampah plastik masih menjadi masalah. Melalui buku Zero Waste Advanture, Siska Nirmala, seorang jurnalis asal Bandung, mengajak pembacanya, terutama pendaki gunung, untuk bersama-sama mengatasi isu ini.]]>

Judul: Zero Waster Adventure
Penulis: Siska Nirmala
Penerbit: Expedisi Nol Sampah
Jumlah Halaman: 111 halaman
Cetakan pertama, edisi Mei 2017

Zero Waste Adventure merupakan buku karangan Siska Nirmala, seorang jurnalis asal Bandung, yang diterbitkan pada bulan Mei 2017 oleh Expedisi Nol Sampah. Buku yang terdiri dari 111 halaman ini mengangkat tema tentang isu lingkungan yang memprihatinkan: gunung yang dipenuhi oleh sampah plastik. Berangkat dari isu tersebut, Siska tergerak untuk mengajak pendaki gunung lainnya supaya tidak membawa perbekalan dengan kemasan plastik dan memegang prinsip zero waste. Kisah untuk menerapkan prinsip zero waste tersebut Siska rangkum dalam buku Zero Waste Adventure.

Prinsip zero waste sendiri memiliki arti berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir produksi sampah hingga sama sekali tidak memproduksi sampah. Melalui buku ini, Siska menyatakan bahwa pendakian dengan prinsip zero waste bisa dilakukan dengan tidak membawa perbekalan yang berpotensi menjadi sampah sejak awal. Sesederhana itu saja.

Dalam buku Zero Waste Adventure, Siska menceritakan pengalamannya ketika mendaki Gunung Gede, Tambora, Argopuro, Lawu, Papandayan, Rinjani, dan Semeru. Selama melakukan pendakian, ia menemukan bahwa sampah kini tak hanya mengotori kawasan perkotaan; gunung pun sudah turut tercemari sampah.

Kegelisahan Siska terkait permasalahan sampah di pegunungan lahir ketika ia mengunjungi Gunung Semeru dan Rinjani yang begitu kotor. Dari situ, ia bertekad untuk mengurangi produksi sampah ketika mendaki gunung dengan membawa benda yang tidak bersifat sekali pakai.

Buku Zero Waste Adventure tak hanya menceritakan pengalaman Siska ketika mendaki gunung dengan prinsip zero waste saja. Dalam buku ini, terdapat beberapa tips dan panduan kepada para pendaki yang ingin mempraktikkan prinsip zero waste saat menjelajahi gunung. Misalnya, saat mendaki gunung kita dapat membawa botol minum (tumbler) dan kotak makanan sendiri, membawa kain lap sebagai pengganti tisu, dan tidak membawa makanan instan. Siska juga mencantumkan contoh barang apa saja yang ia bawa ketika ia mendaki gunung.

Pada bagian akhir buku, Siska berharap bahwa prinsip zero waste dapat diimplementasikan dimanapun dan kapanpun, tak hanya di gunung saja. Dengan membaca buku ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perubahan bisa terjadi dengan aksi-aksi yang sederhana. Misalnya, dengan tidak membawa perbekalan yang berpotensi menjadi sampah saja, kita sudah bisa mengubah lingkungan menjadi lebih asri lagi.

Melalui buku ini juga, diharapkan prinsip zero waste dapat mengembalikan budaya tidak mengonsumsi produk instan yang sudah jarang dipraktikkan dalam keseharian kita.

Zero waste is not a trend, it’s a return to culture – Siska Nirmala

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jelajah-gunung-ala-zero-waste-adventure/feed/ 0