festival - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/festival/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 14 Jun 2023 05:00:35 +0000 id hourly 1 Festival Rumekso Bumi Kembali Gunakan Energi dari Sampah https://www.greeners.co/aksi/festival-rumekso-bumi-kembali-gunakan-energi-dari-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=festival-rumekso-bumi-kembali-gunakan-energi-dari-sampah https://www.greeners.co/aksi/festival-rumekso-bumi-kembali-gunakan-energi-dari-sampah/#respond Wed, 14 Jun 2023 05:00:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40417 Jakarta (Greeners) – Indonesia memiliki kekayaan alam dan beragam budaya lokal. Salah satunya pasar tradisional yang menjadi tempat bertemunya pedagang dan pembeli dari berbagai kalangan.  Untuk mengangkat keunikan pasar tradisional, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia memiliki kekayaan alam dan beragam budaya lokal. Salah satunya pasar tradisional yang menjadi tempat bertemunya pedagang dan pembeli dari berbagai kalangan. 

Untuk mengangkat keunikan pasar tradisional, pada 17-18 Juni 2023 festival pasar tradisional dari energi sampah plastik kembali hadir dengan nuansa alam di Alas Arum Heritage, Desa Adat Silungan, Lodtunduh, Ubud, Bali.

Desa Silungan dipilih karena keasrian hutan desanya serta terdapat panganan khas berupa Tape Silungan yang masih dijaga oleh masyarakat Silungan.

Bertajuk Pasar Tradisional Rumekso Bumi, suplai semua kebutuhan energi selama festival berasal dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang Yayasan Get Plastic Indonesia garap. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga turut mendukung kegiatan ini.

Sebelumnya untuk pertama kali festival ini berlangsung di Desa Cluring, Banyuwangi dengan konsep minimalis sampah plastik dan fokus pada penggunaan kemasan dari daun alami. 

Nantinya dalam festival kedua, sekitar 300 kg sampah plastik akan Get Plastic Indonesia olah menjadi BBM berbentuk solar untuk mengoperasikan generator.

Libatkan UMKM Tradisional di Festival Rumekso Bhumi

Nantinya, Rumekso Bumi Festival 2023 akan menggandeng sejumlah UMKM lokal dan pasar tradisional untuk menyajikan berbagai hidangan. Selain fokus menghidangkan makanan, festival ini juga berkontribusi memperkenalkan pengelolaan alam yang bersih dan lestari melalui pengolahan sampah plastik.

Rumekso Bhumi berasal dari Bahasa Sanskerta. Rumekso berarti menjaga dan Bhumi berarti alam dunia.

Selain menggunakan BBM dari pengolahan sampah plastik, festival ini juga menggunakan pengemasan barang dengan bahan alami. Harapannya festival ini mengajak masyarakat lokal lebih dekat untuk menjaga lingkungan selaras dengan alam.

Masyarakat antusias mengikuti festival pasar tradisional. Foto: Rumekso Bumi

Suguhkan Edukasi untuk Pengunjung

Selama dua hari, pengunjung akan disuguhkan dengan banyak jajanan dan makanan tradisional dari para penjual yang berasal dari Bali. Festival juga dilengkapi dengan beberapa workshop.

Workshop tersebut terdiri dari pengolahan sampah plastik menjadi BBM, pengolahan organik, dan pertunjukan tradisional. Tak kalah seru, pertunjukan musik dari artis yang tergabung dalam Rumekso Bhumi Festival akan memeriahkan acara ini.

Uniknya, mata uang di festival ini berasal dari kepeng residu sisa pengolahan sampah plastik. Dengan adanya hal tersebut, harapannya bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan permasalahan sampah terutama plastik.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/festival-rumekso-bumi-kembali-gunakan-energi-dari-sampah/feed/ 0
Simpati Kickfest 2016, Sarana Berkarya Industri Clothing Lokal https://www.greeners.co/aksi/simpati-kickfest-2016-sarana-berkarya-industri-clothing-lokal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=simpati-kickfest-2016-sarana-berkarya-industri-clothing-lokal https://www.greeners.co/aksi/simpati-kickfest-2016-sarana-berkarya-industri-clothing-lokal/#respond Fri, 04 Nov 2016 11:15:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=15118 SimPATI Kickfest 2016 menjadi sebuah sarana para pelaku bisnis produk clothing lokal untuk tumbuh bersama dengan membangun ekonomi yang kreatif.]]>

Bandung (Greeners) – Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) bersama dengan Dyandra Promosindo kembali menyelenggarakan event tahunan lokal Indonesia bertajuk SimPATI Kickfest 2016. Tahun ini menjadi gelaran yang cukup bersejarah karena bertepatan dengan satu dasawarsa sejak KICK konsisten menggelar acara ini pertama kali pada tahun 2006.

Mengangkat tema “Ten Years Anniversary of KICK”, festival musik indie dan pameran industri clothing serta distro ini berlangsung pada tanggal 4-6 November 2016 di Lapangan Pussenif PPI, Kota Bandung. Acara ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat terutama generasi muda untuk mendukung produk industri lokal.

Rachman Siregar, General Manager PT Dyandra Promosindo, mengatakan, SimPATI Kickfest 2016 menjadi sebuah sarana para pelaku bisnis produk clothing lokal untuk tumbuh bersama dengan membangun ekonomi yang kreatif.

“Perlu peran masyarakat dan industri lokal dalam menggulirkan roda bisnis dan perekonomian dengan cara yang kreatif dan kompetitif. Kickfest kali ini menjadi eksistensi kami dengan menyediakan sebuah sarana yang memiliki rantai yang cukup panjang,” ujar Rachman dalam Konferensi Pers di Loop Station, Bandung, Rabu (2/11).

Pada tahun kesepuluh, lebih dari 100 merek clothing dan distro dari berbagai kota di Indonesia seperti Bandung, Malang, Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar turut meramaikan kegiatan yang menargetkan 50.000 pengunjung selama penyelenggaraan acara. Merek clothing yang berpartisipasi pun lebih bervariatif mulai dari merek berbasis sosial media hingga merek clothing yang berusia belasan tahun.

Perwakilan KICK Ade Andriansyah menyatakan, acara indie clothing dan distro terbesar di Asia Tenggara ini menunjukkan antusiasme pelaku industri lokal yang cukup tinggi untuk terlibat. Hal tersebut membuat tidak semua label indie clothing dapat meramaikan event tahunan ini.

“Kami kembali melihat kapabilitas mereka, apalagi saat ini banyak pelaku industri dan start-up yang baru membuat. Kami mempertimbangkan sesuai dengan kapasitas tempat yang ada karena di Bandung sendiri kami terkendala di pemilihan tempat dari tahun ke tahun,” katanya.

Selain merek-merek clothing lokal, penampilan 50 band lokal indie seperti Rajasinga, Rosemary, M.U.C.K, DJ Ari Irham, Aftercoma, Mesin Tempur, dan Taring akan menghibur para pecinta musik indie. Berbeda dari gelaran Kickfest sebelumnya, artis lokal mainstream seperti NAIF, The SIGIT, Burgerkill, dan Soundwave ikut memberikan penampilan spesial di perayaan satu dasawarsa ini.

Komunitas-komunitas lokal Bandung seperti Bandung Beatbox, CC Fikom Unpad, Full Of Doodle Art (FODA) Bandung dan Pushing Panda akan turut mengisi acara. Media interaktif dan aktivitas unik seperti Chalkzone, Charging Zone, Doodle Table, Movie Time dan Movie Cars diharapkan dapat memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda dalam bentuk yang simpel dan playful.

Selama tiga hari, pengunjung dapat menikmati pameran dan penampilan musik dengan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 25.000 (on the spot) dan acara akan dimulai sejak pukul 10.00 pagi hingga pukul 21.00 malam.

Penulis: ANP/G32

]]>
https://www.greeners.co/aksi/simpati-kickfest-2016-sarana-berkarya-industri-clothing-lokal/feed/ 0
Festival Bumi Bekasi, Aksi Kolaborasi Komunitas Peduli Bumi https://www.greeners.co/aksi/festival-bumi-bekasi-aksi-kolaborasi-komunitas-peduli-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=festival-bumi-bekasi-aksi-kolaborasi-komunitas-peduli-bumi https://www.greeners.co/aksi/festival-bumi-bekasi-aksi-kolaborasi-komunitas-peduli-bumi/#respond Mon, 25 Apr 2016 01:30:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13537 Komunitas Bekasi Berkebun, Earth Hour Bekasi dan Kedutaan Besar Bekasi mencoba menginisiasi sebuah kegiatan kolaborasi bernama "Festival Bumi Bekasi" yang diharapkan mampu mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat khususnya di Kota Bekasi.]]>

Jakarta (Greeners) – Melakukan kegiatan secara bersama-sama (kolaboratif) untuk mengenalkan dan mengedukasi masyarakat agar paham dan mulai mengubah perilaku mereka ke arah konsumsi yang lebih baik bagi lingkungan dan kesehatan diri, bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, Komunitas Bekasi Berkebun, Earth Hour Bekasi dan Kedutaan Besar Bekasi mencoba menginisiasi sebuah kegiatan kolaborasi bernama “Festival Bumi Bekasi” yang diharapkan mampu mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat khususnya di Kota Bekasi.

Koordinator Kota dari Komunitas Bekasi Berkebun, Annisa Paramitha, mengatakan, melalui kegiatan ini masyarakat akan mengetahui bagaimana mengonsumi sesuatu yang baik dan bagaimana mendeteksi produk-produk yang lebih ramah lingkungan. Masyarakat juga diinformasikan bahwa Bekasi juga memiliki industri skala rumahan yang memiliki produk yang baik bagi kesehatan dan ramah pada lingkungan.

“Pada dasarnya kegiatan ini untuk memperingati Hari Bumi 2016. Kita mencoba untuk membuat kegiatan yang lebih aplikatif dan bisa menyebarkan kesadaran masyarakat akan produk yang baik. Di sini kita berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mengajak komunitas dan masyarakat Bekasi untuk sama-sama belajar dan mengetahui bagaimana menjadi konsumen yang lebih baik,” tuturnya saat disambangi oleh Greeners di Kedutaan Besar Bekasi, Bekasi, Minggu (24/04).

Festival Bumi Bekasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Festival Bumi Bekasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Terkait respon masyarakat sendiri, perempuan yang akrab disapa Nissa ini mengakui bahwa tidak mudah untuk mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat. Namun, melalui beberapa kampanye dan kegiatan yang telah dilakukan, setidaknya mampu memberikan sedikit pencerahan pada masyarakat bahwa masih banyak produk-produk organik ramah lingkungan yang bisa dikonsumsi.

“Paling tidak dengan masyarakat sudah mulai mencoba dan menanam sendiri apa yang ingin mereka konsumsi dan mulai mencari tahu apa dan bagaimana bentuk produk-produk ramah lingkungan, itu sudah memperlihatkan indikasi kalau kesadaran mereka sudah mulai terbangun,” tambahnya.

Fithor Faris, salah satu inisiator Festival Bumi Bekasi, mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, paling tidak masyarakat juga bisa mengetahui bahwa ternyata ada banyak permasalahan besar di Kota Bekasi yang tertutup dan tidak diperhatikan oleh banyak pihak.

Sebagai contoh kecil, ia menambahkan, permasalahan sampah di Kota Bekasi telah menciptakan citra buruk Kota Bekasi sebagai kota penuh sampah. Dengan kegiatan ini, ia berharap masyarakat bisa mengubah paradigma dan citra buruk Kota Bekasi dengan mulai melakukan gaya hidup yang lebih peduli dan cinta pada lingkungan.

“Harapan yang paling besar dari kegiatan ini, saya ingin memicu kesadaran dan kepedulian komunitas dan masyarakat di sekitar Bekasi untuk bergerak dan membuat kegiatan kolaborasi yang sama, karena permasalah di Kota Bekasi ini sebenarnya juga permasalahan yang sama yang terjadi di kota-kota sekitar,” tutupnya.

Festival Bumi Bekasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Festival Bumi Bekasi. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sebagai informasi, Festival Bumi Bekasi adalah sebuah kegiatan kolaboratif untuk merayakan Hari Bumi 2016 yang dilakukan oleh beberapa Komunitas di Bekasi dengan inisiasi dari tiga komunitas besar seperti Earth Hour Bekasi, Bekasi Berkebun dan Kedutaan Besar Bekasi.

Mengusung tema Art, Food, Energy, kegiatan ini mencoba melakukan kegiatan berbeda dari yang sering dilakukan saat merayakan Hari Bumi. Festival ini bertujuan mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat agar lebih ramah pada bumi dari sisi seni (art), pangan (food), dan energi (energy).

Kegiatan yang didukung penuh oleh Vida Bekasi ini menampilkan pertunjukan seni seperti penampilan live music dari Tamkustik Bekasi Symphony Orchestra. Ada juga pemutaran film dari Patriot Film, art exhibition, mural, Comic meetup dari Komik Bekasi, instalasi seni dari Earth Hour Bekasi.

Selain itu, untuk pertama kali, dikenalkan juga sebuah inisasi Pojok Organik yang diisi aneka makanan sehat lokal, kerajinan tangan dan produk industri rumahan. Lalu ada workshop daur ulang sampah dan talkshow “Beli yang Baik” dari Earth Hour Bandung.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/festival-bumi-bekasi-aksi-kolaborasi-komunitas-peduli-bumi/feed/ 0
45 Tahun di Indonesia, SHARP Hadirkan Produk yang Makin Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/45-tahun-di-indonesia-sharp-hadirkan-produk-yang-makin-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=45-tahun-di-indonesia-sharp-hadirkan-produk-yang-makin-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/45-tahun-di-indonesia-sharp-hadirkan-produk-yang-makin-ramah-lingkungan/#respond Tue, 15 Dec 2015 13:03:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12259 Merayakan 45 tahun kehadirannya di Indonesia, Sharp Indonesia menyatakan komitmennya untuk menghadirkan produk-produk yang ramah lingkungan kepada masyarakat Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Merayakan 45 tahun kehadirannya di Indonesia, Sharp Indonesia menyatakan komitmennya untuk menghadirkan produk-produk yang ramah lingkungan kepada masyarakat Indonesia. Hal ini juga merupakan upaya Sharp untuk menjalin tingkat persahabatan yang lebih kuat kepada masyarakat.

Manajer PR dan CSR Sharp Indonesia Pandu Setio menyatakan bahwa Sharp telah menghadirkan beberapa produk ramah lingkungan dan hemat energi di Indonesia. Beberapa produk yang dihadirkan Sharp Indonesia adalah produk-produk yang eco-friendly seperti vacuum cleaner dengan teknologi plasma cluster, AC dengan freon R-32 yang lebih ramah lingkungan dan juga produk lain dengan fitur low voltage.

“Kami punya produk dengan plasma cluster, di mana plasma cluster ini tidak hanya menjernihkan udara, tapi juga bisa melindungi konsumen dari gigitan nyamuk,” jelas Pandu kepada Greeners pada Sabtu (12/12) dalam perayaan ulang tahun ke 45 Sharp Indonesia di Senayan, Jakarta.

Pandu Setio, Manajer PR dan CSR Sharp Indonesia. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Pandu Setio, Manajer PR dan CSR Sharp Indonesia. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Selain teknologi yang ramah lingkungan dan hemat energi, Pandu juga mengatakan bahwa Sharp sangat menekankan pada pelayanan purna jual. Hal ini menurutnya, merupakan salah satu bentuk komitmen Sharp Indonesia untuk memposisikan diri sebagai sahabat dari masyarakat Indonesia.

Sharp Indonesia sendiri telah memiliki lebih dari 300 service center di seluruh Indonesia. Pelayanan purna jual, disebut Pandu, dapat lebih mempererat hubungan perusahaan dengan masyarakat.

“Kami tidak hanya ingin memiliki hubungan seperti antara penjual dan pengguna saja, tapi kami ingin lebih dari itu. Kami ingin ada engagement yang kuat di antara Sharp dan pengguna,” ujarnya.

Di tempat yang sama, General Manager National Sales Sharp Indonesia Andry Adi Utomo, menyatakan bahwa Sharp akan terus menggenjot produksi elektronik yang berkualitas dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di tanah air. Selain itu, Andry menyatakan bahwa mereka juga akan terus menggelar berbagai kegiatan penjualan melalui pameran kebudayaan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pada perayaan ulang tahun ke 45, Sharp Indonesia mengadakan festival bertemakan Jepang yang bertajuk “Tomodachi Matsuri”. Istilah dalam bahasa Jepang ini dapat diartikan sebagai “Festival Persahabatan”.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/aksi/45-tahun-di-indonesia-sharp-hadirkan-produk-yang-makin-ramah-lingkungan/feed/ 0
Ban Bekas untuk Revitalisasi Kota https://www.greeners.co/ide-inovasi/ban-bekas-untuk-revitalisasi-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ban-bekas-untuk-revitalisasi-kota https://www.greeners.co/ide-inovasi/ban-bekas-untuk-revitalisasi-kota/#respond Mon, 27 Jul 2015 04:58:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=10486 Para seniman di Barcelona berkolaborasi untuk membuat serangkaian karya seni. OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa telah menemukan cara baru memanfaatkan ulang ban bekas. Sebagai bagian dari festival jalanan Us Barcelona, ketiga […]]]>

Para seniman di Barcelona berkolaborasi untuk membuat serangkaian karya seni. OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa telah menemukan cara baru memanfaatkan ulang ban bekas.

Sebagai bagian dari festival jalanan Us Barcelona, ketiga seniman itu menggunakan ratusan ban bekas menjadi seni instalasi yang mereka sebut Pneumatic. Tujuan instalasi ini adalah untuk membangkitkan kembali sebuah daerah industri yang mulai ditinggalkan di kota Barcelona, Spanyol.

Instalasi "Pneumatic" karya OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa. Foto: inhabitat.com

Instalasi “Pneumatic” karya OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa. Foto: inhabitat.com

Ban bekas dalam berbagai ukuran digunakan kembali menjadi sebuah desain menarik yang dipasang di jalan, tangga dan rampa di bekas daerah industri bernama Sant Marti. Penempatan instalasi ini sedemikian strategis sehingga membawa kesegaran baru di lansekap kota yang terlupakan ini.

Instalasi "Pneumatic" karya OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa. Foto: inhabitat.com

Instalasi “Pneumatic” karya OOSS, Iago Buceta dan Mateu Targa. Foto: inhabitat.com

Menurut para senimannya, selain mencari fungsi kreatif dari bahan yang ada, tujuan utama dari proyek ini adalah menembus batas antara dinding dan arsitektur. Mereka bermain dengan pekerjaan fisik dan intuisi terhadap batasan sebuah dinding.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ban-bekas-untuk-revitalisasi-kota/feed/ 0
Jutaan Orang Tandatangani Petisi untuk Hentikan Festival Daging di Yulin https://www.greeners.co/berita/jutaan-orang-tandatangani-petisi-untuk-hentikan-festival-daging-di-yulin/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jutaan-orang-tandatangani-petisi-untuk-hentikan-festival-daging-di-yulin https://www.greeners.co/berita/jutaan-orang-tandatangani-petisi-untuk-hentikan-festival-daging-di-yulin/#respond Sun, 21 Jun 2015 11:51:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9887 Jakarta ( Greeners) – Jutaan orang di seluruh dunia termasuk di Indonesia melakukan penolakan terhadap Festival Daging di Yulin yang berlangsung pada tanggal 21 Juni 2015 (hari ini) di provinsi […]]]>

Jakarta ( Greeners) – Jutaan orang di seluruh dunia termasuk di Indonesia melakukan penolakan terhadap Festival Daging di Yulin yang berlangsung pada tanggal 21 Juni 2015 (hari ini) di provinsi Guangxi, Tiongkok. Melalui petisi yang disebarkan secara daring di situs Change.org, komunitas “Raise Your Paw” bersama dengan tiga juta lebih netizan dari berbagai belahan dunia mendesak Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk menghentikan festival yang akan membantai ribuan anjing dan kucing untuk dimakan tersebut.

Davina Veronica, Ketua Garda Satwa Indonesia (GSI) yang juga mengampanyekan “Dogs Are Not Food” (anjing bukan makanan, Red.) di Indonesia dalam pesannya mengatakan, walaupun pembantaian anjing pada Festival Daging Yulin berlangsung di Tiongkok, tapi hal yang sama juga terjadi di Indonesia dan di banyak negara Asia. Setiap hari, orang membunuh anjing secara brutal untuk dimakan.

“Kita harus hentikan ritual yang keji ini dan menjadikan aktivitas festival ini sebagai tindakan yang ilegal. Anjing-anjing malang ini tak pantas diperlakukan secara kejam seperti itu,” katanya, Jakarta, Jumat (19/06/2015).

Selain Davina, model yang juga pencinta anjing Aline Adita, aktris sinetron Velove Vexia, dan beberapa selebritas dunia termasuk aktor Amerika Ian Somerhalder, penyanyi Sia, aktris dan model Nikki Reed serta aktris Bollywood Sonakshi Sinha pun turut mengajak para followernya untuk menolak festival ini.

Sebagai informasi, hingga Minggu (21/06) pukul 18.00 WIB, petisi pada laman www.change.org/Yulin2015 telah ditandatangani oleh 3.601.786 pendukung dan masih perlu 898.214 dukungan lagi untuk mencapai 4.500.000 tandatangan. Secara garis besar, petisi ini berisi ajakan dari komunitas “Raise Your Paw” yang membutuhkan suara dan bantuan seluruh warga dunia untuk menghentikan Festival Makan Daging Anjing di Yulin yang akan diadakan pada 21 Juni 2015.

Festival ini, seperti dikutip dalam petisinya, melibatkan apa yang disebut sebagai menikmati “kelezatan” hotpot daging anjing, membunuh anjing dengan lebih dulu menggantung tubuhnya dan memadukannya dengan minuman beralkohol keras. Festival ini juga mengakibatkan peningkatan angka penculikan anjing liar dan hewan peliharaan, serta penangkapan dan penyiksaan yang tak manusiawi di peternakan daging anjing.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jutaan-orang-tandatangani-petisi-untuk-hentikan-festival-daging-di-yulin/feed/ 0
Jumlah Pengunjung dan Transaksi Outfest 2015 Lampaui Target https://www.greeners.co/berita/jumlah-pengunjung-dan-transaksi-outfest-2015-lampaui-target/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jumlah-pengunjung-dan-transaksi-outfest-2015-lampaui-target https://www.greeners.co/berita/jumlah-pengunjung-dan-transaksi-outfest-2015-lampaui-target/#respond Sun, 05 Apr 2015 15:58:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8412 Jakarta (Greeners) – Pameran perlengkapan luar ruang terbesar Indonesia Outdoor Festival (Outfest) 2015 usai sudah. Banyak pihak mengaku puas dan senang atas terselenggaranya acara ini. Bahkan, Ronie Ibrahim, Ketua Umum […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pameran perlengkapan luar ruang terbesar Indonesia Outdoor Festival (Outfest) 2015 usai sudah. Banyak pihak mengaku puas dan senang atas terselenggaranya acara ini. Bahkan, Ronie Ibrahim, Ketua Umum Indonesia Outfest 2015, mengaku bahwa dirinya tidak menyangka antusiasme masyarakat terhadap pameran ini begitu besar hingga melebihi target pengunjung yang ia inginkan.

Menurut Ronie,sejak awal pihaknya hanya menargetkan 30.000 pengunjung dalam waktu empat hari pelaksanaan pameran Outfest 2015. Namun yang terjadi, antusiasme masyarakat yang tinggi malah menembus target awal yang direncanakan.

“Puji Tuhan ini luar biasa. Kita bisa lihat banyak sekali pengunjung yang datang. Meski masih banyak kekurangannya karena ini baru pameran pertama, namun sampai hari terakhir itu mungkin tembus dari 30.000 pengunjung. Pada hari ketiga saja, hanya satu hari ada lebih dari 20.000 pengunjung,” jelasnya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (04/04) kemarin.

Brand Manager dari perusahaan perlengkapan olahraga Columbia, Robby Yulianto, turut menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan pameran ini. Menurutnya, pameran Outfest 2015 memberikan masyarakat pilihan akan produk merek lokal maupun internasional yang baik dan bermutu.

Untuk Columbia sendiri, katanya, meski tidak fokus pada profit namun rencana awal untuk mempromosikan dan meluncurkan produk baru bernama Omni Freeze Zero, dirasakan Robby cukup berhasil karena banyaknya pengunjung yang mencari tahu tentang produk tersebut.

“Memang rencana kami itu launching (peluncuran) produk dengan teknologi terbaru yang men-support para pecinta outdoor, khususnya di bawah sinar matahari,” katanya.

Pameran yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 4 April 2015 ini melibatkan puluhan produsen merek lokal maupun internasional, seperti Allsports, Vjall Raven, Outdoorlife dari Singapura, Top Himalaya Guide dari Nepal, Karash Adventure, Deuter, The North Face, Columbia, Black Diamons, dan lainnya. Produsen dari merek lokal cukup diminati pembeli, antara lain Eiger, Avtech, Consina, Mahameru, hingga Forester. Dalam acara ini berbagai perlengkapan luar ruang tersedia, seperti perlengkapan olahraga lari, panjat tebing, hingga selam.

Salah satu petugas dari Bank Mandiri Regional Empat Jakarta-Thamrin yang menjadi official bank dalam perhelatan ini mengatakan, pemberian potongan harga hingga 70 persen oleh beberapa brand yang menjadi peserta pameran turut mempengaruhi besarnya transaksi selama acara. Ia juga mengatakan bahwa jumlah transaksi hingga tiga hari pelaksanaan pameran saja, diperkirakan mencapai lebih dari satu miliar rupiah.

“Rinciannya, lebih dari Rp 300 juta melalui debit dan kartu kredit. Kalau dari mesin ATM, pada hari pertama dan kedua kami sempat kehabisan padahal isinya lebih dari Rp 200 juta. Nah, hari ketiga kami turunkan tiga mesin ATM yang isinya sekitar Rp 1 miliar. Lalu, hari keempat ini juga kami turunkan tiga ATM. Tapi untuk jumlah transaksi keseluruhan selama empat hari itu belum kami hitung,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jumlah-pengunjung-dan-transaksi-outfest-2015-lampaui-target/feed/ 0
Outfest 2015, Berkumpulnya Para Pecinta Olahraga Outdoor https://www.greeners.co/aksi/outfest-2015-berkumpulnya-para-pecinta-olahraga-outdoor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=outfest-2015-berkumpulnya-para-pecinta-olahraga-outdoor https://www.greeners.co/aksi/outfest-2015-berkumpulnya-para-pecinta-olahraga-outdoor/#respond Thu, 02 Apr 2015 06:53:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8386 Jakarta (Greeners) – Semakin menjamurnya olahraga luar ruang membuat masyarakat kini menjadikan olah raga tersebut sebagai pilihan gaya hidup. Dengan semakin banyaknya peminat olahraga ini, maka Pameran Indonesia Outdoor Festival […]]]>

Jakarta (Greeners) – Semakin menjamurnya olahraga luar ruang membuat masyarakat kini menjadikan olah raga tersebut sebagai pilihan gaya hidup. Dengan semakin banyaknya peminat olahraga ini, maka Pameran Indonesia Outdoor Festival (Outfest) 2015 hadir demi untuk memenuhi kebutuhan para pecinta kegiatan outdoor.

Ketua Umum Indonesia Oudoor festival 2015, Ronie Ibrahim kepada Greeners mengatakan, saat ini industri olahraga luar ruang di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Dengan hadirnya Outfest 2015 ini, katanya, tentu akan membuka mata masyarakat Indonesia serta negara-negara yang hadir sebagai undangan bahwa potensi industri olahraga yang berkaitan dengan alam ini masih akan berkembang di Indonesia.

“Indonesia punya banyak potensi alam yang bisa dijadikan sarana dalam melakukan olahraga menantang. Bahkan, potensi eco wisata-nya pun sudah mulai terlihat. Konservasi alamnya juga sudah mulai berjalan. Dengan hadirnya acara ini, diharapkan olahraga luar ruang di Indonesia bisa lebih maju dan terus berkembang,” jelasnya saat ditemui usai membuka acara Outfest 2015 di Jakarta, Rabu (01/04).

Ketua Umum Indonesia Oudoor festival 2015, Ronie Ibrahim. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ketua Umum Indonesia Oudoor festival 2015, Ronie Ibrahim. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ronie menjelaskan bahwa pameran Outfest 2015 ini diisi oleh para produsen perlengkapan aktivitas outdoor (luar ruangan) seperti perlengkapan untuk naik gunung, panjat tebing, rafting, caving, hingga bersepeda. Selain itu ada pula stan-stan penyedia kegiatan outdoor seperti paket perjalanan (trip) rafting, outbond, dan trip memancing. Ada pula penyedia perlengkapan dan kegiatan diving.

Pengunjung yang ingin datang ke pameran ini tidak dipungut bayaran. Selain itu, pengunjung bahkan bisa mendapatkan perlengkapan dan paket perjalanan wisata dengan harga spesial.

“Acara ini berlangsung sejak tanggal 1 sampai 4 April 2015. Selain itu ada 115 exhibitor juga yang terdiri dari berbagai macam brand. Dengan peminat sebanyak itu, percayalah beberapa tahun lagi Outfest akan terlihat sebagai sebuah pasar industri kegiatan luar ruang dengan aneka inovasi,” katanya.

Tanggapan baik terkait Outfest 2015 ini pun datang dari Riza Marlon, seorang ahli biologi dan fotografer yang telah lama malang melintang di hutan-hutan belantara Indonesia untuk mengabadikan alam dan satwa nusantara. Riza mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini.

Menurut pria yang akrab dipanggil Chacha ini, masyarakat memang sudah “haus” dengan pilihan-pilihan yang sulit dijumpai mengenai perlengkapan dan kebutuhan outdoor. Dengan hadirnya festival ini, jelas Chacha, membuat masyarakat memiliki banyak pilihan karena yang disajikan dalam Outfest 2015 benar-benar memuaskan para pecinta kegiatan luar ruang.

“Khususnya untuk saya ya. Profesi saya membutuhkan banyak pilihan dalam menentukan vendor apa yang akan saya pakai. Oleh sebab itu, acara ini cukup membantu orang-orang seperti saya dalam menentukan pilihan,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/outfest-2015-berkumpulnya-para-pecinta-olahraga-outdoor/feed/ 0
Dua Petisi Beredar Demi Diadakannya Aturan “Diet” Kantong Plastik https://www.greeners.co/berita/dua-petisi-beredar-demi-diadakannya-aturan-diet-kantong-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-petisi-beredar-demi-diadakannya-aturan-diet-kantong-plastik https://www.greeners.co/berita/dua-petisi-beredar-demi-diadakannya-aturan-diet-kantong-plastik/#respond Sat, 21 Feb 2015 08:57:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7491 Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan wacana untuk membatasi penggunaan kantong plastik di DKI Jakarta. Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Gamal Sinurat pun kepada […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan wacana untuk membatasi penggunaan kantong plastik di DKI Jakarta. Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Gamal Sinurat pun kepada Greeners pernah mengatakan, meskipun keberadaan kantong plastik telah meresahkan namun untuk menerbitkan peraturan tersebut harus melalui beberapa kajian dan studi kasus yang membutuhkan proses.

“Iya, saat ini sedang kita bahas, kita kaji dan kita rembukkan bersama-sama. Nantinya, kebijakan tersebut akan diatur melalui instruksi gubernur,” ujar Gamal, Selasa, (17/02).

Menanggapi hal tersebut, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) sebenarnya sudah mendorong adanya aturan tersebut sejak tahun 2013. Rahyang Nusantara, Koordinator Harian GIDKP, mengatakan, pada pagelaran Festival Jakarta Great Sale 2013, DKI mengeluarkan surat seruan untuk gerakan Jakarta diet kantong plastik kepada Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).

“Saat itu hanya Carrefour yang merespons dengan membuat satu hari tanpa kantong plastik (kantong plastik berbayar),” katanya saat dibungi oleh Greeners pada Hari Peduli Sampah Nasional, Jakarta, Sabtu (21/02).

Rahyang juga menyatakan bahwa GIDKP juga mendorong Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2014 untuk mengeluarkan surat seruan serupa namun bersifat general. Surat seruan ini, terangnya, sebagai langkah awal sebelum adanya Peraturan Daerah.

Di tahun yang sama, GIDKP juga sudah berkoordinasi dengan beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) termasuk dengan BPLHD. “Namun, saat itu belum ada respons yang meyakinkan dari BPLHD,” akunya.

Menurut Rahyang, GIDKP sempat mencoba mengimplementasikan Perda Nomor 17 Tahun 2012 di Bandung. Namun, ada beberapa temuan, diantaranya sulitnya menembus ritel yang bersifat nasional dan berpusat di Jakarta sehingga penerapan Perda tersebut juga sulit dilakukan.

“Saat ini kami mendorong mereka lewat petisi di www.change.org/dietkantongplastik untuk dorongan ke pemerintah dan www.change.org/p/hero-hypermart-dan-supermarket-lainnya-kantong-plastik-jangan-gratis untuk mendorong ritel terkait pembatasan kantong plastik ini,” tuturnya.

Sebagai informasi, dalam petisi tersebut disebutkan bahwa jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di ibukota saja bisa mencapai 6,000 ton dan tumpukannya bisa sebesar 30,000 meter kubik – lebih dari setengah ukuran candi Borobudur.

Rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun. Sampah kantong plastik saja di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau sama dengan 16 pesawat Boeing 747, sehingga sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi per tahunnya di Indonesia. Produksi kantong plastik tersebut menghabiskan 12 juta barel minyak bumi yang tidak bisa diperbaharui, yang setara dengan 11 triliun rupiah.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/dua-petisi-beredar-demi-diadakannya-aturan-diet-kantong-plastik/feed/ 0
Kampanye Penyelamatan Mata Air, Warga Bulukerto Gelar Festival Mata Air https://www.greeners.co/berita/kampanye-penyelamatan-mata-air-warga-bulukerto-gelar-festival-mata-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kampanye-penyelamatan-mata-air-warga-bulukerto-gelar-festival-mata-air https://www.greeners.co/berita/kampanye-penyelamatan-mata-air-warga-bulukerto-gelar-festival-mata-air/#respond Sun, 09 Nov 2014 05:29:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6362 Batu (Greeners) – Warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, menggelar Festival Mata Air pada tanggal 7 hingga 8 November 2014. Kegiatan ini merupakan inisiatif warga terhadap kondisi […]]]>

Batu (Greeners) – Warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, menggelar Festival Mata Air pada tanggal 7 hingga 8 November 2014. Kegiatan ini merupakan inisiatif warga terhadap kondisi mata air di wilayahnya yang terus berkurang. Yang tersisa pun mengalami penyusutan debit air sehingga mengancam pertanian dan kebutuhan akan air bersih.

Ari Prayitno, Panitia Festival Mata Air 2014 mengatakan, festival ini terdiri dari berbagai kegiatan. Di antaranya, selamatan di Sumber Gemulo yang mata airnya digunakan warga di Bulukerto dan desa lainnya untuk berbagai kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Selain itu, ada juga Sarasehan Pelestarian Lingkungan yang mengangkat tema “Mari Kita Jaga Kelestarian Sumber Mata Air dari Ancaman Krisis”.

Menurut Ari, krisis mata air sudah sedemikian rumit. Sudah saling kait-mengait antara satu sebab dengan penyebab lainnya. Meski sudah ada yang berhasil melakukan penyelamatan mata air, namun sangat tidak sebanding dengan penurunan debit dan berkurangnya mata air.

Kegiatan semacam ini, menurutnya, adalah salah satu bentuk kampanye kepada masyarakat luas untuk saling mengingatkan, menjaga dan melestarikan mata air yang tersisa. “Salah satunya dengan mewujudkan dalam bentuk aksi-aksi budaya berupa Ruwat Mata Air atau bentuk-bentuk acara yang mendorong masyarakat memosisikan mata air dalam dimensi sakralitas,” katanya, Jumat (7/11/2014) malam usai acara sarasehan.

Dengan memosisikan mata air dalam dimensi sakralitas, kata Ari, keberadaan mata air bukan hanya perlu dirawat secara fisik, namun juga perlu di“ruwat” sebagai bentuk perawatan nonfisik.

“Kearifan budaya mengajarkan, bahwa alam semesta ini, termasuk mata air harus dihormati, tidak boleh diperlakukan semena-mena, karena alam semesta telah banyak memberikan jasa kepada umat manusia,” tutur Aris lebih lanjut.

Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, Ony Mahardika yang juga hadir dalam acara ini, mengapresiasi kegiatan warga semacam ini. “Kepedulian penyelamatan lingkungan seperti ini harus terus dikembangkan,” katanya.

Ony meminta pemerintah tegas terhadap keselamatan ekologis wilayah dan tidak membiarkan ketidaktaatan terhadap tata ruang, pengalihfungsian wilayah-wilayah serapan, serta penghancuran sumber mata air dan kerusakan keseluruhan ekosistem terus berlarut-larut.

Menurutnya, keberadaan mata air di Jawa timur semakin tahun terus berkurang. Ia menyontohkan, data Dinas Pengairan Provinsi Jawa Timur menyebutkan, tahun 2010, Jawa Timur mempunyai mata air sebanyak 4.389 yang tersebar di 30 kabupaten. Sedangkan data Perum Jasatirta I, menyebutkan jumlah mata air di wilayah DAS Brantas sebanyak 1.597 buah yang tersebar 10 kabupaten.

“Di Kabupaten/Kota Malang terdapat 358 sumber mata air dan di kota Batu sebanyak 109 sumber mata air,” ujarnya.

Namun saat ini, lanjut Ony, sumber mata air yang berada di Batu telah mengalami kekeringan di 52 mata air dan 30 % berada di Kecamatan Bumiaji. Sumber mata air yang mengalami kekeringan tersebut 20 titik berada di lahan milik Perhutani dan 32 sumber mata air di lahan rakyat.

Dari data di atas, ujar Ony, di Kota Batu saat ini hanya tersisa 6 mata air yang tergolong baik dengan debit air yang cukup besar, lima diantaranya berada di Kecamatan Bumiaji dan satu di Kecamatan Batu. Salah satunya, yaitu Sumber Umbul Gemulo yang berada di Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, yang memiliki debit 179 liter/detik.

Sumber Umbul Gemulo menjadi tumpuan hidup tidak hanya bagi enam ribu warga Desa Bulukerto, tapi juga bagi ribuan warga di enam desa lainnya dan PDAM Kota Batu yang menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga Kota Batu. Enam desa tersebut diantaranya, adalah Desa Sidomulyo, Bumiaji, Pandanrejo, Sisir, Mojorejo, dan Pendem.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/kampanye-penyelamatan-mata-air-warga-bulukerto-gelar-festival-mata-air/feed/ 0
Selamatkan Mangrove Indonesia, Kembalikan Kejayaan Negeri https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selamatkan-mangrove-indonesia https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/#respond Mon, 19 May 2014 06:40:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=4647 Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan ( KIARA ) mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut serta melestarikan Mangrove. Ajakan ini disampaikan dalam acara Festival Negeri Bahari pada Sabtu (10/5) yang mengangkat tema […]]]>

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan ( KIARA ) mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut serta melestarikan Mangrove. Ajakan ini disampaikan dalam acara Festival Negeri Bahari pada Sabtu (10/5) yang mengangkat tema “Mengembalikan Kejayaan Negeri Bahari”.

Berdasarkan catatan KIARA, luasan hutan mangrove di Indonesia terus menyusut. Tahun 2009 tercatat luas mangrove di Indonesia 1,9 juta hektare. Padahal pada 1982 luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare. Pusat Data dan Informasi KIARA mendapati fakta bahwa konversi hutan mangrove menjadi kawasan reklamasi, perkebunan sawit, tambang pasir dan ekspansi tambak udang telah menggerus keberadaan mangrove. Hal ini juga berdampak pada menyusutnya jumlah nelayan dari 3,3 juta orang di tahun 2007 menjadikanya 2,7 orang di tahun 2013.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, dalam rangka meningkatkan kepedulian penanaman mangroove di Indonesia. KIARA meluncurkan “Gerakan Turun Tangan Selamatkan Mangrove Indonesia”. Gerakan yang diluncurkan pada pelaksanaan Festival Negeri Bahari ini berupa gerakan donasi untuk penanaman bibit mangroove di daerah Indramayu Jawa Barat.

Ketua Pelaksana Festival Negeri Bahari, Selamet Daroyni mengatakan bahwa mangrove adalah elemen yang paling penting bagi masyarakat nelayan dan sekaligus sebagai banteng penahan abrasi pantai. “Hanya dengan mendonasikan uang sebesar Rp.10.000 melalui gerakan ini, berarti masyarakat telah ikut menanam 1 batang pohon mangrove yang akan tumbuh di Blok Karang Mulya RT.01 RW 01, Desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat.” jelas Selamet.

Festival Negeri Bahari Sabtu lalu itu juga diramaikan oleh berbagai kegiatan mulai dari pameran kuliner dan sandang khas pesisir, demo masak olahan khas pesisir bersama Perempuan Nelayan Indonesia serta Rembug Pangan Pesisir.

(G30)

]]>
https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/feed/ 0
Lawuh Boled Raih Penghargaan Film Pendek Fiksi StoS 2014 https://www.greeners.co/berita/lawuh-boled-raih-penghargaan-film-pendek-fiksi-stos-2014/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lawuh-boled-raih-penghargaan-film-pendek-fiksi-stos-2014 https://www.greeners.co/berita/lawuh-boled-raih-penghargaan-film-pendek-fiksi-stos-2014/#respond Wed, 19 Mar 2014 15:26:13 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4155 Jakarta (Greeners) – Kebodohan dan kemiskinan nampaknya masih menjadi identitas yang melekat pada masyarakat yang tinggal di desa dan daerah pedalaman Indonesia lainnya. Kondisi yang tidak menguntungkan  itu membuat warga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kebodohan dan kemiskinan nampaknya masih menjadi identitas yang melekat pada masyarakat yang tinggal di desa dan daerah pedalaman Indonesia lainnya. Kondisi yang tidak menguntungkan  itu membuat warga tidak berdaya saat hak-haknya dirampas penguasa setempat. Mungkin hanya omelan sesaat yang bisa disampaikan kepada sang penguasa. Selanjutnya, hidup akan berjalan kembali seperti sebelumnya.

Potret kemiskinan dan ruwetnya proses untuk mendapatkan jatah beras miskin (raskin) di desa menjadi tema utama yang diangkat dalam film pendek berjudul Lawuh Boled. Cerita yang dikemas sederhana dalam durasi delapan menit ini menyentil nurani siapapun yang mengecilkan nilai raskin bagi warga yang membutuhkan.

Misyatun, pelajar SMK Negeri 1 Rembang, Purbalingga yang menyutradarai film ini nampaknya  resah akan kondisi yang jamak terjadi dilingkungannya. Bersama teman-teman pelajar lain yang tergabung dalam Pedati Film, ia membuat film ini hampir dua bulan lamanya. Mulai dari melakukan riset hingga film siap tayang.

Kerja keras Misyatun berbuah manis. Film Lawuh Boled berhasil memenangi penghargaan dari South to South Film Festival (StoS) 2014 untuk kategori Film Pendek Fiksi. Sebuah piagam dan sejumlah uang seyogyanya diterima Misyatun di malam penutupan StoS yang berlangsung pada Selasa (18/03) di Goethe Institut, Jakarta. Namun karena berhalangan hadir, ia diwakilkan oleh Bowo Leksono, Direktur Cinema Lovers Community Purbalingga.

“Cerita dalam film ini merupakan pengalaman mereka disana. Kondisi seperti itu masih terjadi sampai sekarang dan mereka sampaikan protes dan keluh kesah itu melalui film,” ungkap Bowo. Menurutnya, penyampaian kritik tidak melulu serius. Kritik bisa disampaikan dalam bentuk yang lebih halus seperti cerita dalam film Lawuh Boled. “Penonton tadi kan tertawa saat melihat film itu, padahal kita pelan-pelan mengkritik,” katanya. (G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/lawuh-boled-raih-penghargaan-film-pendek-fiksi-stos-2014/feed/ 0
South to South Film Festival 2014 Berakhir Meriah https://www.greeners.co/berita/south-south-film-festival-2014-berakhir-meriah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=south-south-film-festival-2014-berakhir-meriah https://www.greeners.co/berita/south-south-film-festival-2014-berakhir-meriah/#respond Wed, 19 Mar 2014 15:22:58 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4153 Jakarta (Greeners) – Setelah diselenggarakan selama lima hari berturut-turut, festival film South to South (StoS) 2014 akhirnya ditutup dengan meriah pada Selasa (18/03) malam di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah diselenggarakan selama lima hari berturut-turut, festival film South to South (StoS) 2014 akhirnya ditutup dengan meriah pada Selasa (18/03) malam di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat. Penutupan festival film yang didedikasikan untuk kelestarian lingkungan ini diawali dengan penampilan Bianglala Voices yang bernyanyi acapella. Selain itu, suguhan musik jazz oleh Bintang and Friends yang dibuka dengan ajakan untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negara yang peduli lingkungan pada pemilu mendatang, menjadi pertunjukan yang cukup menghibur para tamu yang hadir.

Untuk mengapresiasi dan memberikan dorongan semangat pada para sineas muda yang filmnya berpartisipasi dalam festival film, panitia mengumumkan pemenang penghargaan StoS 2014. Film berjudul Tambaksari Last Land dengan sutradara Fajar Kuncoro berhasil meraih penghargaan untuk kategori Film Pendek.  Pada kategori Film Pendek Fiksi, penghargaan diberikan untuk film Lawuh Boled karya sutradara muda Misyatun dari SMKN 1 Rembang, Purbalingga. Selain itu, StoS 2014 juga memberikan penghargaan terhadap para pemenang lomba foto di media sosial, yaitu Nurdiyansyah Setropawiro (facebook) dan @Sholahuddin90 (twitter).

“Sebuah kegiatan dengan pesan peduli lingkungan melalui film memang banyak diminati oleh generasi saat ini,” ujar Voni Novita selaku Direktur StoS Film Festival. Ia pun berharap, festival film yang memutar hingga puluhan film bertema lingkungan dari dalam dan luar negeri ini dapat menumbuhkan inisiatif penontonnya untuk memelihara lingkungan.

WALHI selaku salah satu konsorsium pelaksana StoS juga  berharap hal yang sama. “WALHI akan mendukung acara-acara kreatif seperti ini  karena penyampaian pesan secara film memang bersifat lebih universal,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Utama WALHI.

Kepedulian terhadap lingkungan memang perlu dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. “Karena, kalau kami melakukan ini sendiri tidak akan cukup,” imbuh Voni mengakhiri wawancara.

Penulis : Vaqor

]]>
https://www.greeners.co/berita/south-south-film-festival-2014-berakhir-meriah/feed/ 0
Semangat Tanpa Batas South to South Film Festival https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/#respond Fri, 17 Feb 2012 03:00:10 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2194 Jakarta (Greeners) – Pada Kamis 16 Februari kemarin di sebuah kedai makan di daerah Cikini Jakarta, panitia South to South Film Festival (StoS) mengadakan konfrensi pers terkait pelaksanaan StoS tahun […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada Kamis 16 Februari kemarin di sebuah kedai makan di daerah Cikini Jakarta, panitia South to South Film Festival (StoS) mengadakan konfrensi pers terkait pelaksanaan StoS tahun 2012. South to South Festival (StoS) merupakan festival film lingkungan dua tahunan yang dilaksanakan oleh sebuah konsorsium sejak tahun 2006. Tema yang dipilih untuk StoS tahun 2012 ini adalah “Semangat Tanpa Batas”.

Festival film lingkungan yang memiliki visi awal menjadi gudang film lingkungan hidup di Indonesia ini mencoba menampilkan cerita keseharian tokoh-tokoh perubahan di masyarakat. Seperti perjuangan yang luar biasa sebuah kelompok masyarakat yang dikepung “keserakahan” atas nama pembangunan di beberapa wilayah negara “Selatan” oleh negara-negara “Utara”. Istilah Negara “Selatan” dan “Utara” sendiri digunakan untuk membedakan negara berkembang/miskin dan negara maju.

Permasalahan sosial, politik dan lingkungan di negeri ini sepertinya tiada akhir. Konflik agraria yang meminggirkan petani dan nelayan, pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan, perkebunan skala besar, reklamasi pantai, konversi hutan mangrove, dan pencemaran laut oleh perusahaan perikanan, menjadi pemandangan yang biasa, tanpa penindakan hukum yang tegas di negeri ini. Kini beban mereka bertambah dengan cuaca tak menentu akibat dampak perubahan iklim.

Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim sekaligus negara agraris, justru mengimpor kebutuhan pangannya. Mulai dari garam, ikan, beras, hingga bawang merah.

Direktur festival film StoS Ferdinand Ismail menyampaikan kepada Greeners bahwa festival ini bukan sekedar mengadu skill teknis penggarapan sebuah film semata, tetapi lebih kepada bagaimana masyarakat bisa menangkap permasalahan yang dirasa perlu untuk disampaikan kepada publik dan menyampaikan permasalahan tersebut secara lebih kreatif.

“Tahun 2012 ini kita mempunyai beberapa kategori diantaranya dokumenter, fiksi dan non kompetisi. Total lebih dari 70 judul film yang telah masuk ke meja panitia dan akan diseleksi oleh tim yang terdiri dari perwakilan praktisi perfilman, LSM dan Media” jelas Ferdinand.

Festival Film StoS akan dilaksanakan pada tanggal 22 – 26 Februari 2012 bertempat di Goethe Institut, Kine Forum dan Institut Français d’Indonésie dan pada malam penutupan akan dipilih 5 pemenang utama dari 30 karya esai “Semangat Tanpa Batas” yang telah diseleksi tim juri.

Selama pelaksanan StoS juga akan digelar Pameran tentang Masyarakat Mollo yang berhasil memperjuangkan kearifan lokalnya dan memilih mempertahankan lingkungan, pangan lokal dan tenunnya, dari kegiatan yang merusak lingkungan. (G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/semangat-tanpa-batas-south-to-south-film-festival/feed/ 0