green fashion - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/green-fashion/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 20 Jan 2021 14:27:24 +0000 id hourly 1 Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serat-bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/#respond Mon, 21 Dec 2020 10:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9363 Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?]]>

Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?

Bambu adalah flora yang pertumbuhannya cepat, maka dari itu sangat masuk akal apabila menjadi bahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Namun, praktik budidaya bambu skala besar erat kaitannya dengan sejumlah masalah lingkungan, dan proses untuk mengubah serat bambu menjadi kain sangat intensif secara kimiawi. Masalah ini menimbulkan pertanyaan apakah kain bambu benar-benar bahan yang ramah lingkungan?

Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode

Jenis Bambu untuk Kain

Tumbuhan bambu biasa kita temukan di Cina, Taiwan, Jepang, dan bagian Asia lainnya. Bambu adalah sejenis rumput yang tumbuh dengan cepat – sebanyak 3 kaki per hari, dengan total tinggi 75-100 kaki. Ada sekitar 1.400 spesies bambu, tetapi sub-spesies yang paling umum penggunaannya untuk kain adalah Bambu Moso (Phyllostachus edulis).

Pembuatan Kain Bambu Secara Mekanis

Pemanenan bambu dengan cara dipotong, kemudian olah secara mekanis ataupun kimiawi menjadi serat. Bambu yang prosesnya dengan cara mekanis masyarakatn kenal sebagai linen bambu (atau serat kulit pohon) dan menggunakan proses yang sama seperti linen rami.

Namun, karena teksturnya yang kasar dan membutuhkan usaha yang intensif (yang tentunya mahal) untuk produksinya, maka kain bambu yang terbuat dengan cara mekanis hanya sebagian kecil dari pasaran.

Pemrosesan Kain Bambu Kimiawi

Bambu dengan proses kimiawi jauh lebih umum. Pembuatannya melarutkan serat tumbuhan dalam campuran natrium hidroksida (alkali atau soda api) dan karbon sulfida.

Hasil campurannya keluar melalui lubang kecil menjadi larutan asam sulfat, yang membekukan serat dan memungkinkannya untuk ditenun menjadi kain. Proses ini serupa dengan pembuatan kain rayon dari sumber nabati lainnya, seperti serpihan kayu dan kayu putih. 

Dampak Lingkungan Kain Bambu

Selama beberapa tahun, terutama pada pertengahan 2000an, bambu sering mendapatkan pujian sebagai bahan yang ajaib. Ini karena tingkat pertumbuhannya luar biasa.

Scientific American menyatakan, “bambu dapat dibudidayakan dengan sedikit atau tanpa pupuk, pestisida, mesin pemanen berat atau irigasi, dan sistem akar bambu dapat melindungi tepian yang curam dari erosi.”

Bambu memiliki sistem akar yang dalam dan memotongnya saat panen tidak akan mengganggu tumbuhan dan tanahnya. Bambu juga menyerap karbon lima kali lebih banyak dan menghasilkan oksigen 35 kali lebih banyak daripada sebatang pohon berukuran serupa.

serat bambu

Hanya karena terbuat dari bahan alternatif, tidak berarti produk tersebut berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tinjau bersama, ya! Foto: Shutterstock.

Tekstil Serat Bambu: Masalah dengan Kultivasi

Budidaya Bambu Moso di Cina telah meningkat pesat sejak tahun 2000, menyebabkan banyak petani menebang habis lahan hutan alami untuk memberi ruang bagi pertanian bambu baru.

Hal ini merusak keanekaragaman hayati dan melepaskan karbon dalam jumlah besar. Meskipun bambu tidak membutuhkan banyak pupuk atau pestisida untuk tumbuh, tetapi para petani tetap menambahkannya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil sehingga mendapatkan profit yang lebih banyak. Tentu ini menyebabkan masalah bagi lingkungan.

Proses Produksi Beracun

Dalam produksi kain pun terdapat masalah. Proses kimiawi yang menggunakan karbon sulfida sangat beracun. Paparannya menyebabkan kerusakan sistem saraf dan reproduksi, serta memiliki sejumlah kaitan masalah kesehatan.

Dalam Fake Silk: The Lethal History of Viscose Rayon, Paul D. Blanc, seorang profesor occupational dan environmental medicine, menulis bahwa, “Untuk pekerja di pabrik rayon viscose, keracunan menyebabkan kegilaan, kerusakan saraf, penyakit parkinson, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.”

Produksi viskosa berbasis karbon sulfida tidak lagi diizinkan di Amerika Serikat karena bahaya ini.

Situs mode etis Good On You menuturkan, sekitar setengah dari limbah berbahaya dari produksi rayon (termasuk bambu) tidak dapat digunakan kembali, dan langsung menyatu dengan lingkungan. Senyawa organik yang mudah menguap serta klorin terlepas ke atmosfer, dan limbah dari fasilitas pemutihan mengarah ke saluran air, merusak ekosistem akuatik.

Seiring berjalannya waktu, kain bambu sudah tidak benar-benar terbuat dari bambu. Federal Trade Commission (FTC) menyatakan, “Ketika bambu diolah menjadi rayon, tidak ada jejak tanaman asli yang tersisa. Jika sebuah perusahaan mengklaim produknya terbuat dari bambu, harus memiliki bukti ilmiah yang dapat diandalkan untuk menunjukkan bahwa itu dibuat dengan serat bambu.”

Klaim bahwa kain mempertahankan sifat antimikroba dari tanaman bambu juga salah, menurut FTC.

Perbandingan Viscose Bambu dengan Bahan Viscose Lainnya

Viscose berbahan dasar bambu atau rayon, lebih banyak penggemarnya daripada viscose konvensional. Viscose konvensional biasanya menggunakan bulir kayu yang dapat bersumber dari pohon yang panennya tidak secara berkelanjutan, bahkan hutan purba.

Keduanya dapat terurai secara hayati. Selama tidak ada tambahan pewarna beracun, mereka lebih ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis berbasis minyak bumi.

Ada juga opsi yang lebih baik, yaitu dengan mencari kain bambu yang pembuatannya dengan proses Lyocell. Sistem produksi pengulangan tertutup ini menggunakan lebih sedikit bahan kimia beracun dan hampir tidak memproduksi limbah sampingan.

Meskipun biasanya penggunaannya dengan kayu putih. Kain bambu dengan proses Lyocell bermerek Monocel.

Baca juga: Indonesia Pulangkan Sebelas Orang Utan Korban Perdagangan Ilegal

Alternatif untuk Tekstil Serat Bambu

Jika Anda menggunakan bambu, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam merekomendasikan untuk memilih linen bambu sebagai pengganti viscose.

Jika memungkinkan, pilih linen yang proses pemisahan serat dari bambunya melalui proses dew-retted. Proses ini hanya menggunakan udara, embun, matahari, dan jamur untuk melarutkan bagian yang tidak kita inginkan dari rami dan membuka serat linen. Sehingga membutuhkan lebih sedikit energi dan air daripada water-retted. Pilih juga linen yang memakai pewarnaan alami.

Kapas organik dan rami adalah dua opsi untuk pengganti bambu. Walaupun bambu lebih berkelanjutan dari kapas, namun proses pembuatan kainnya sangat merusak lingkungan.

Ini membuat kapas organik terlihat jauh lebih baik. Di sisi lain, rami, menjadi pilihan yang paling baik. Ia membutuhkan sedikit air dan tumbuh dengan cepat.

Klaim kain bambu yang keberlanjutan ternyata tidak sesederhana itu. Manfaat tumbuhan yang pertumbuhannya cepat ini terkikis karena proses produksinya yang beracun.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Treehugger

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/feed/ 0
Jangan Salah, Liontin Ini Ternyata Pot Tanaman! https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/#respond Thu, 11 Jan 2018 13:13:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19795 Menanam tanaman lazimnya dilakukan di pekarangan rumah ataupun di dalam pot. Namun kini, kita bisa lho menanam tanaman di dalam liontin!]]>

Menanam tanaman lazimnya dilakukan di pekarangan rumah ataupun di dalam pot. Namun tahukah kamu bahwa saat ini kita bisa menanam tanaman di dalam liontin?

Jika biasanya kalung memiliki hiasan berupa liontin yang terbuat dari emas ataupun perak, seorang desainer bernama Colleen Jordan justru melakukan hal yang tidak biasa. Bosan dengan desain kalung yang terkesan itu-itu saja, Colleen menghadirkan kalung dengan liontin yang berbentuk pot tanaman mini! Kalung yang diberi nama Wearable Planter tersebut diciptakan pertama kali oleh Colleen pada tahun 2011 silam.

“Sewaktu saya masih menjadi mahasiswi jurusan desain industri, saya selalu mencoba untuk merancang sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk selalu membawa tanaman kemanapun mereka pergi. Saya membayangkan seandainya saja tanaman bisa tumbuh di kerah baju. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya tercetuslah ide untuk membuat kalung dengan hiasan pot mini ini,” tutur Colleen seperti dilansir dari Etsy.

liontin ini ternyata pot

Foto: www.etsy.com/shop/wearableplanter

Colleen menghadirkan tali kalung Wearable Planter dengan tiga variasi bahan, yakni perak, nilon, dan juga kulit. Dalam proses pembuatan kalung, Colleen memadukan teknik digital serta manual. Pot mini yang menjadi liontin dari kalung Wearable Planter dibuat dengan menggunakan mesin cetak tiga dimensi (3D printer), sedangkan sisanya diproses secara manual dengan menggunakan tangan. Pot mini tersebut dibuat dengan teliti dan bermaterialkan plastik yang kuat.

Desain liontin pot mini yang dirancang oleh Colleen terlihat begitu sederhana namun tetap modern. Liontin pot mini tersebut hadir dalam beberapa bentuk, seperti elips ala vas bunga klasik dan berbentuk geometris. Dihiasi dengan warna-warna menarik seperti cobalt blue, merah muda, dan hijau muda, liontin pot mini tersebut terlihat begitu cantik bila dipadukan dengan tali kalung yang sederhana.

liontin ini ternyata pot

Foto: www.etsy.com/shop/wearableplanter

Dalam pot mini tersebut kita bisa menanam tanaman asli seperti tanaman sukulen dan tanaman bunga. Menanam tanaman di dalam pot mini dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti kita menanam tanaman pada pot biasa, namun dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Menjadikan tanaman hidup sebagai aksesoris yang cantik, rasanya unik sekali bukan?

Tak hanya menghadirkan koleksi kalung berhiaskan pot mini, Colleen juga menghadirkan aksesori berhiaskan pot mini lainnya. Colleen juga menghadirkan koleksi bros dan hiasan untuk sepeda yang tidak kalah cantiknya dengan kalung Wearable Planter.

Penulis: ARF/G42

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-salah-liontin-ternyata-pot-tanaman/feed/ 0
Salvatore Ferragamo Hadirkan Koleksi Pakaian dari Limbah Kulit Jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/#respond Thu, 01 Jun 2017 07:24:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17150 Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito, pemilik merek Salvatore Ferragamo, bagi dunia mode harus diapresiasi.]]>

Kain ramah lingkungan nampaknya terus berkembang dari material yang tidak disangka-sangka. Kali ini, apa yang dilakukan oleh desainer Adriana Santanocito bagi dunia mode harus diapresiasi. Adriana berhasil mengembangkan kain dari limbah kulit jeruk dan mengubahnya menjadi koleksi pakaian yang indah.

Adriana Santanocito merupakan desainer asal Italia yang memiliki brand fesyen bernama Salvatore Ferragamo. Pada awalnya, Salvatore Ferragamo didirikan hanya untuk memenuhi tugas kuliah Adriana yang studi di jurusan fashion design. Namun, saat ini Salvatore Ferragamo telah berkembang luas dan memiliki cabang di berbagai negara.

Kisah Adriana mengolah limbah kulit jeruk menjadi pakaian modis dimulai pada tahun 2016. Di Italia, saat membuat jus jeruk, kurang lebih 700.000 ton kulit jeruk terbuang sia-sia per tahun. Di Italia sendiri, biaya untuk mendaur ulang limbah kulit jeruk cukup tinggi. Kondisi ini memunculkan ide Adriana untuk mengubah limbah kulit jeruk menjadi sesuatu yang lebih berguna yaitu mengubah limbah tersebut menjadi kain.

salvatore ferragamo

Foto: Salvatore Ferragamo via eluxemagazine.com

Untuk membuat kain dari limbah kulit jeruk, Adriana bekerja sama dengan Polytechnic University of Milan. Bersama mereka, Adriana memulai proyeknya dan menamainya dengan “Orange Fiber Fabric”. Hasilnya, kain yangbertekstur halus dan mengilap seperti kain sutra. Kain-kain tersebut dirancang sedemikian rupa menjadi pakaian yang menarik, lalu dipasarkan dengan merek Salvatore Ferragamo.

Kain yang terbuat dari limbah kulit jeruk tersebut dirancang menjadi blouse, gaun, celana panjang, dan juga syal. Koleksi pakaian ini memiliki potongan yang simpel dan bertekstur ringan sehingga cocok untuk digunakan saat musim panas. Meskipun terbuat dari limbah kulit jeruk, pakaian-pakaian tersebut tidak terlihat aneh sama sekali dan tidak terlihat unwearable.

Adriana memilih warna dominan monokrom seperti hitam dan putih dalam koleksi pakaian ini. Motif dalam pakaian ini didesain secara khusus oleh Mario Trimarchi, seorang arsitek dan seniman asal Italia. Ia terinspirasi dari pemandangan di Pantai Mediterranean. Motif-motif seperti bunga, dedaunan, dan buah-buahan digambarkan Mario dalam bentuk sketsa abstrak yang cantik.

Dengan menciptakan pakaian yang terbuat dari limbah kulit jeruk ini, Adriana membuktikan bahwa di bumi ini tidak ada “sampah yang sia-sia”. Ia berharap bahwa Salvatore Ferragamo dapat memicu perusahaan fesyen lainnya untuk kreatif dalam mengolah “sampah yang sia-sia” menjadi produk yang berguna.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/salvatore-ferragamo-hadirkan-koleksi-pakaian-limbah-kulit-jeruk/feed/ 0
Trashion Fashion Show, Ketika Sampah Menjadi Wearable Art https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/#respond Wed, 26 Apr 2017 10:36:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16840 Mengubah sampah menjadi produk fesyen yang berkualitas memang tidak mudah namun bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Amy Merli melakukannya dengan cara yang unik: menggagas Trashion Fashion Show.]]>

Mengubah sampah menjadi produk fesyen yang berkualitas memang tidak mudah namun bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Amy Merli, seorang penghobi daur ulang sampah asal Amerika Serikat, melakukannya dengan cara yang unik.

Dengan menggandeng desainer-desainer yang peduli dengan lingkungan, Amy menyelenggarakan Trashion Fashion Show. Trashion merupakan singkatan dari trash fashion. Trashion Fashion Show bisa dikatakan sebuah peragaan busana berbahan dasar sampah yang memamerkan karya seni yang bisa dipakai (wearable art).

Setelah debutnya pada tahun 2011, Trashion Fashion Show telah berkontribusi dalam pembuatan lebih dari 400 desain dan menjadi agenda tahunan di Hartford, Amerika. Tahun ini, Trashion Fashion Show akan diadakan pada tanggal 30 April nanti di Hartford, Amerika Serikat. Selain desainer busana, Trashion Fashion Show juga mengajak pelajar, mahasiswa dan komunitas untuk memperlihatkan karyanya.

Berikut ini 3 perancang yang ikut mempertunjukkan karya busana mereka dalam runway Trashion Fashion Show:

trashion fashion show

Foto: Trashion Fashion Show via Instagram

1. Zoe Ilana Grinfeld

Desainer busana asal Rhodes Islands, AS ini telah membuat pakaian dengan mendaur ulang sampah sejak usia 11 tahun. Saat berumur 15 tahun, Zoe memenangkan kompetisi desain di kalangan remaja, Project Runway: Threads. Pada Trashion Fashion Show 2015, Zoe memamerkan 4 busana. Dua di antaranya adalah desain pribadinya.

Busana pertama Zoe adalah atasan yang dipadukan dengan bawahan yang menyerupai sisik. Pakaian yang dikenakan oleh Rachana Talati (kiri) ini dibuat dari lembaran majalah, dan diberi warna dengan cat akrilik dan semprot. Sementara busana keduanya berupa terusan dengan kerah rumit besar yang dikenakan oleh Alexa Pagnani (kanan). Gaun ini terbuat dari bahan-bahan pembungkus paket kiriman dan pewarnaannya juga menggunakan cat semprot.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/trashion-fashion-show-ketika-sampah-menjadi-wearable-art/feed/ 0
Skin-Free Skin, Jawaban Stella McCartney Atas Genuine Leather https://www.greeners.co/gaya-hidup/skin-free-skin-jawaban-stella-mccartney-genuine-leather/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=skin-free-skin-jawaban-stella-mccartney-genuine-leather https://www.greeners.co/gaya-hidup/skin-free-skin-jawaban-stella-mccartney-genuine-leather/#respond Sat, 22 Apr 2017 05:33:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16809 Stella McCartney telah lama dikenal memiliki perhatian besar terhadap fesyen bebas material hewani. Belum lama ini, Stella memperkenalkan material baru yang ia sebut "skin-free skin". Apa itu?]]>

Stella McCartney merupakan seorang desainer asal Inggris yang telah lama memiliki perhatian besar terhadap fesyen bebas material hewani. Oleh karena itu, lini rancangannya tidak pernah menggunakan kulit maupun bulu hewan. Komitmen tersebut terbukti melalui semua koleksi Stella yang diproduksi dengan bertanggung jawab, jujur dan mencermikan mode beretika. Belum lama ini, Stella memperkenalkan material baru yang ia sebut “skin-free skin” pada Paris Fashion Week 2017.

Jika mendengar kata “skin” dalam peragaan busana, hal yang pertama terlintas adalah bahan kulit hewan. Namun skin-free skin yang Stella perkenalkan merupakan kain yang terlihat seperti kulit, tapi sebenarnya merupakan kain alternatif yang ia kembangkan sendiri.

Sejauh ini belum ada informasi yang menjelaskan mengenai proses dan bahan yang Stella gunakan untuk membuat skin-free skin. Stella sedikit menyebutkan bahwa ia menggunakan bahan berbasis sayuran dalam pembuatan kulit alternatif ini. Meski demikian, sebagai perusahaan mode yang transparan, informasi mengenai segala detail busana Stella McCartney dapat diperoleh melalui situs resminya di www.stellamccartney.com.

stella mccartney

Koleksi Winter 2017 dari Stella McCartney. Foto: theguardian.com

Dari bahan skin-free skin, Stella memamerkan koleksi musim gugurnya berupa lengan panjang dengan siluet modern yang kaya akan detail dan fitur di barisan busana, serta gaun dan jaket yang jahitannya berlekuk-lekuk. Selain itu, Stella juga mengeluarkan koleksi sepatu yang dilengkapi dengan material besi pada sol di tumitnya, dan sneakers suede dengan sol yang bertekstur seperti batu. Ia juga menampilkan kumpulan tas jinjingnya yang berwarna cokelat, hitam dan putih gading.

Seperti dilansir The Guardian, Stella mengungkapkan alasan lainnya memproduksi skin-free skin yaitu ketidaktertarikannya untuk menggunakan bahan faux leather atau kulit imitasi. Menurut putri dari salah satu personel The Beatles, Paul McCartney ini, bahan tersebut tidak menonjolkan kesan mewah yang dapat kita temukan pada setiap karyanya.

“Sampai saat ini, saya menghindari menggunakan kulit palsu karena tidak pernah terlihat cukup mewah. Oleh karena itu, saya sangat senang karena akhirnya kami dapat mengembangkan kain yang terlihat sama bagusnya dengan aslinya. Dan oleh karena itu, saya dengan sungguh-sungguh mengajukan pertanyaan ke industri mode: Mengapa orang-orang masih membutuhkan kulit hewan?” ungkap Stella.

Sebelum mengembangkan material skin-free skin, Stella telah menghasilkan lini busana haute couture tanpa menggunakan produk hewani. Ia telah terlebih dahulu menggunakan bahan inovatif bernama Eco Alter Nappa sebagai alternatif kulit untuk pembuatan sepatu dan tas sejak musim gugur 2003. Eco Alter Nappa sendiri merupakan bahan yang memiliki kandungan minyak nabati lebih dari 50% yang merupakan sumber daya alam yang terbarukan. Hal ini memungkinkan Stella untuk mengurangi pemanfaatan minyak bumi pada produknya.

Sebagai informasi, Stella McCartney telah menghabiskan beberapa tahun untuk mendaur ulang kain perca, memperbaiki bahan kasmir rusak, membuat katun dari kapas organik hingga mengembangkan bahan tekstil yang forest-friendly.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/skin-free-skin-jawaban-stella-mccartney-genuine-leather/feed/ 0
Promo Film, Emma Watson Kenakan Eco-Friendly Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/#respond Mon, 13 Mar 2017 13:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16195 Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen "hijau". Sepanjang tur promosi film terbarunya "Beauty and The Beast", ia tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.]]>

Setelah menjawab tantangan #GreenCarpetChallenge dalam acara MET Gala 2016 lalu, Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen “hijau”. Sepanjang tur promosi film terbarunya “Beauty and The Beast”, Emma tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.

Untuk berbagi pengalaman selama tur kepada para penggemarnya, aktris berusia 26 tahun ini membuat akun Instagram khusus, @the_press_tour. Di kanal media sosialnya itu, ia tidak hanya mengisahkan tentang agenda promosinya, namun juga memperkenalkan eco-fashion karya beberapa desainer ternama.

Berikut ini eco-friendly fashion ala Emma Watson selama tur:

emma watson

Foto: The Press Tour/Instagram

Kota Paris, Perancis, menjadi kota pertama yang disinggahi oleh para pemain film Beauty and The Beast. Di kota yang dijuluki sebagai pusat mode dunia itu, Emma tampak mengenakan setelan monokrom dengan jas yang dipadu dengan sweter, jins dan sneakers. Baju bergaya santai yang dipakai Emma saat itu adalah kombinasi dari karya beberapa perancang.

Sebagai luaran, jas kebesaran Emma dibuat oleh Stella McCartney (@stellamccartney). Stella merupakan desainer yang berkomitmen untuk membuat produk fesyen tanpa menggunakan kulit ataupun bulu hewan. Untuk menepati janjinya itu, Stella menghabiskan beberapa tahun untuk mendaur ulang kain perca, memperbaiki bahan kasmir rusak, membuat katun dari kapas organik hingga mengembangkan bahan tekstil yang forest-friendly.

Di balik luaran hitam putih, Emma mengenakan sweter putih karya Filippa K (@filippa_k). Di Swedia, Filippa K dikenal sebagai perancang baju yang menerapkan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, repair) dalam setiap desainnya. Perancangan ini juga menyediakan jasa penyewaan baju dan mengumpulkan produk dari labelnya yang sudah tidak lagi digunakan. Produk bekas ini nantinya akan dijual ke toko barang bekas atau disumbangkan ke beberapa organisasi sosial.

Dibalik sweternya, Emma mengenakan kaus putih produksi Boody North America (@boodywear). Sebagai bahan dasar, Boodywear tidak menggunakan benang dari kapas, melainkan tanaman bambu yang dibudidayakan secara organik. Tanaman bambu yang memenuhi kriteria dipanen, dipintal menjadi untaian benang, kemudian dirajut menjadi potongan baju dengan teknologi 3D.

Sneakers putih yang melengkapi penampilan Emma merupakan karya Good Guys(@goodguysdontwearleather). Memiliki prinsip yang sama dengan Stella, Good Guys tidak menggunakan kulit hewan pada produknya. Label eco-fashion ini memproduksi busana kulitnya dari vegan leather, yaitu bahan kulit buatan pabrik yang disusun dari beberapa material penyusun garmen.

(berikutnya)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/feed/ 0
Teknologi 3D dan Huruf Braille dalam Busana Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/#respond Thu, 09 Feb 2017 09:05:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15877 Babette Sperling, mahasiswa desain mode dari University of Zwickau, Jerman, membuat produk fesyen melalui printer 3D yang dibuat menggunakan material ramah lingkungan. Lebih dari itu, terdapat pesan khusus dibalik karyanya.]]>

Teknologi printer 3D sedang berkembang dan mulai dimanfaatkan pada berbagai bidang industi dan kesenian, termasuk dalam dunia fesyen, mulai banyak disainer pakaian yang memanfaatkan printer 3D untuk membuat karyanya. Namun apa yang dilakukan Babette Sperling lebih dari sekadar memanfaatkan teknologi.

Sperling, mahasiswa desain mode dari University of Zwickau, Jerman, membuat beragam produk fesyen melalui printer 3D yang memiliki pesan khusus yang dibuat menggunakan material ramah lingkungan. Pesan khusus yang ditampilkan berupa detail berbentuk susunan huruf braille pada bagian depan gaun maupun samping celana rancangannya.

“Bahan-bahan yang saya gunakan sesuai dengan konsep saya mengenai desain produk yang berkelanjutan secara utuh, yaitu memungkinkan busana dapat kembali ke alam setelah masa pakai mereka selesai,” ujar Sperling seperti dilansir dari 3Ders.org.

teknologi 3d

Foto: Steven Tail/3ders.org

Konsep berkelanjutan yang diusung Sperling melalui penggunaan material pembuatan hiasan braille merupakan filamen cetak 3D fleksibel yang terbuat dari bahan baku kompos bernama WillowFlex. Material ini dibuat khusus oleh perusahaan startup asal Jerman, Bioinspiration.

Pemilihan WillowFlex setelah beberapa kali melakukan uji coba material lainya bukan tanpa alasan. Setelah pengujian filamen, Sperling melihat bahwa material ini juga dapat dengan baik menyatu dengan kain yang juga berbahan alami, seperti katun atau sutera. Ia juga menggunakan WillowFlex ini bukan hanya sebagai hiasan braille namun juga sebagai material pembuat kancing pada gaun dan celana rancangannya.

teknologi 3d

Foto: 3ders.org

Sperling menjelaskan, sertifikasi WillowFlex juga telah sesuai dengan standar AS dan Uni Eropa (EN 13423) dan cocok dengan konsep produk yang berkelanjutan yang memungkinkan pakaian dapat kembali ke alam dengan baik setelah sudah tidak terpakai lagi. “WillowFlex juga membuktikan diri sebagai material yang kompatibel untuk digunakan di semua printer 3D yang kita gunakan dalam proses pengujian kami (Ultimaker, Flashforge, dan Makerbot),” jelasnya.

Apa yang dibuat Sperling merupakan upaya mewujudkan sebuah produk fesyen hasil printer 3D yang bisa digunakan sehari-hari bukan hanya konseptual yang dipamerkan pada pegelaran busana. Karyanya juga memiliki akses ke semua kalangan temasuk dengan keterbatasan penglihatan, dan yang terpenting adalah bahwa produknya begitu memperhatikan keberlanjutan alam dan dampak ekologi setelahnya. Tiga hal tersebut yang dilihatnya belum pernah ada selama ini dalam dunia fesyen berbasis printer 3D.

Tidak mengherankan jika apa yang dibuat oleh Sperling mendapatkan begitu banyak respon positif, termasuk penghargaan Audience Choice Award pada peluncuran pertamanya di ajang Mercedes Fashion Night 2006 lalu.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/teknologi-3d-dan-huruf-braille-busana-ramah-lingkungan/feed/ 0
3 Limbah Makanan Dalam Green Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=3-limbah-makanan-green-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/#respond Sun, 03 Jul 2016 05:33:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14155 Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion.]]>

Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Para perancang berusaha keras memasukkan sisa makanan dan hasil sampingan yang berkaitan dengan makanan ke dalam kain, yang kemudian diubah menjadi produk-produk stylish mulai dari jaket, sabuk, dompet hingga sepatu.

Saat ini PBB memperkirakan ada 1,3 miliar ton makanan yang menjadi sampah tiap tahunnya. Angka ini menyamai seperempat dari jumlah total kalori yang dikonsumsi manusia. Mencari cara untuk memecahkan masalah ini adalah sebuah keniscayaan meskipun mengubah makanan menjadi produk fesyen tidak akan menyelesaikan masalah ini secara keseluruhan.

Meski demikian, dampak yang dihasilkan bukan berarti tidak baik. Paling tidak salah satunya edukasi masyarakat terhadap pentingnya 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycling (mengolah kembali) dapat tercapai. Seperti dilansir dalam Treehugger.com, berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion:

1. Ampas kopi
Rata-rata tiap orang meminum 3 cangkir kopi per hari. Hal ini berarti ampas kopi cukup banyak jumlahnya hingga sebuah perusahaan dari Spanyol bernama Ecoalf menciptakan cara untuk mengubah ampas tersebut menjadi benang. Ampas kopi dikumpulkan dari restoran-restoran, dikeringkan, dan minyak diekstrak dari ampas tersebut.

Ampas kemudian dihaluskan sampai menjadi tepung halus. Tepung halus inilah yang kemudian dicampurkan dengan poliester daur ulang untuk membuat benang. Hasilnya adalah benang yang lembut, ringan, fleksibel dan bisa “bernapas” namun bagian luarnya tahan air.

2. Kulit Salmon
Mungkin tidak banyak diantara kita yang makan ikan, namun hal ini tidak mengubah fakta bahwa miliaran kilogram ikan dan kepiting menghasilkan produk sampingan yang biasanya dibuang ke laut tiap tahunnya. Perikanan berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya masalah menangkap ikan saja namun meningkatkan pemanfaatannya.

Perusahaan baru dari Kasberg bernama Tidal Vision, berjuang memanfaatkan setiap bagian dari ikan dan menciptakan bahan kulit dari ikan laut dan chitosan, sejenis polimer yang diekstrak dari kulit kerang. Tidal Vision memproduksi sabuk, dompet dan tas tangan sementara pabrik tekstilnya tidak lama lagi akan meluncurkan produk kaos, kaus kaki dan produk-produk lain yang menggabungkan chitosan dengan serat alami lainnya.

3. Sabut Kelapa
Perusahaan bernama Nau telah mengembangkan pelapis khusus untuk jaket musim dingin yang dibuat dari kelapa, sebagai bagian dari usaha mengurangi pemakaian bulu angsa. Prosesnya yaitu dengan cara membakar sabut kelapa yang selama ini dibuang dan mencampurkan abu sisa pembakarannya dengan poliester daur ulang yang kemudian menghasilkan benang yang mampu menjadi insulasi.

Produk yang semula bernama Cocona ini, sekarang diberi nama 37.5 Technology dan sekarang digunakan oleh perusahaan-perusahaan peralatan olahraga terkemuka seperti Adidas, Under Armor, Eddie Bauer dan North Face.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/feed/ 0
Greenpeace Indonesia Launched the First Completed Indicative Map in Indonesia https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/#respond Thu, 17 Mar 2016 11:32:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13211 Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia launched an online digital map which would be able to monitor forest fires and deforestation. The map is claimed as the first map in Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia launched an online digital map which would be able to monitor forest fires and deforestation.

The map is claimed as the first map in Indonesia that also reveals names of the land owner which areas are detected with hotspots.

Greenpeace Indonesia forest campaigner, Teguh Surya, said that the launch, dubbed as “Kepo Hutan” (Forest Curious) was meant to support President Joko ‘Jokowi’ Widodo’s commitment to protect and rehabilitate damaged forest areas.

“The Kepo Hutan map indicative is a map which gives detailed information on companies’ concessions and their relations with peatlands, fire spots, and deforestation increasing rate,” said Surya at the launching event in Jakarta, on Tuesday (15/03).

Technically, Surya added, people can locate hotspots just by clicking the fire spots feature.

In addition, the map can also detect regions that did not have hotspots but located near them.

Furthermore, Surya said that the map’s accuracy was 90 percent considering the rigorous data and files submitted since 2013.

“So, forest and peatland fires occurred in 2013 can also be accessed by public as it provides near real time feature and search features. For instance, we want to know hotspots in 2013, then it can be shown,” he added.

The data, he added, was obtained from Ministry of Environment and Forestry, Ministry of Agriculture, National Land Agency, local governments and Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) which then compiled by Greenpeace to produce structured and presentable format.

He said that Greenpeace aimed to provide real description on hotspots in the country and encouraged local people, companies, NGOs and government to take action.

“If we followed through the debate in the media on land and forest fires in 2015, the biggest public question was they did not who were responsible for these fires, who were liable legally. That debate has been answered.There is no need for arguments on who’s responsible, because you just ‘click’ then you know the names of the concessions holders. It is now how legal actions must be taken,” he said.

Bambang Widjojanto, legal adviser for public policy and former deputy chief of Indonesia’s Corruption Eradication Commission (KPK), said that the new platform would be able to reveal on forest management in the country.

“If today, people could only access information of who’s being given the rights to manage forests then the map could also prevent more losses on the country’s natural resources through corruption in concessions permits,” said Widjajanto.

Meanwhile, Director of Forest Resources Monitoring Inventory at Ministry of Environment and Forestry, Ruwanda Agung, said that nearly all data presented at the map was legally obtained from the ministry.

“We also do have the data and it is interactive. We even put the locations, such as customary areas, region maps, hotspots on critical lands, and river banks,” said Agung.

Furthermore, he claimed that the ministry’s data was more updated than Greenpeace considering the NGO refer to the data.

For instance, if the latest data from the ministry was in 2015, then Greenpeace might have obtained the data on November or July 2015.

“Our data is more update for certain, especially the data is similar to the one launched by World Resources Institute. Forest Watch even gather data from us because we are the data custodian for national forest cover,” he said.

Reports by Danny Kosasih.

]]>
https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/feed/ 0
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
BARE Hadirkan Koleksi Tas dari Karung Biji Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/#respond Fri, 27 Nov 2015 08:09:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12050 Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan […]]]>

Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan karya fesyen yang diciptakan dari bahan-bahan yang tidak biasa dengan penampilan yang unik dan berkelas.

Misalnya saja, karung kopi. Ditangan Justin Biel dan Grason Ratowsky, karung yang semula digunakan menyimpan biji kopi diubah menjadi tote bag, duffle bag dan pouch berpenampilan unik. Keduanya memproduksi tas unik ini dengan label mereka, BARE.

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

BARE merupakan label aksesoris handmade yang berbasis di Colorado. Mengolah karung kopi menjadi tote bag merupakan produk awal yang dihasilkan label ini. Bahan karung yang kuat menjadikan umur pakai tas lebih lama. Handle tas yang digunakan pun menghilangkan aksen kumuh dari karung sehingga membuat tas ini menjadi satu kesatuan yang menarik secara desain.

Desain tas yang dibuat bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Uniknya, antara tas yang satu dengan tas lainnya akan berbeda satu sama lain secara motif dan corak. Hal itu terjadi karena karung yang digunakan merupakan karung bekas dan tidak dapat dibuat mirip dalam jumlah banyak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/feed/ 0
Bikini Handmade Ramah Lingkungan Koleksi Priscilla Lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/#respond Thu, 12 Nov 2015 10:18:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11874 Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk […]]]>

Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk koleksinya kali ini, Lynch menciptakan enam bikini yang terbuat dari material ramah lingkungan.

Lynch menggunakan kain berbahan dasar botol air plastik daur ulang untuk pembuatan bikini yang dibuat handmade ini. Bikini ini menjadi eksklusif karena koleksi ini dibuat dengan jumlah terbatas dan ditawarkan melalui website resminya. Desain yang ditampilkan pun terlihat elegan dan terinspirasi dari para wanita yang modern, klasik dan berseni.

“Saya suka cara saya menggambarkan bagaimana para perempuan itu hidup dan saya tahu saya menginginkannya dengan cara demikian,” ujar Lynch seperti dilansir situs Observer.com.

Bikin dalam koleksi "Into the Water" ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikin dalam koleksi “Into the Water” ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Lynch menciptakan enam macam bikini untuk koleksinya ini. Keenamnya adalah La Maja, Olympia, Sheba, The Picnic, Madam X dan Leda. Keenamnya memiliki desain yang berbeda dan unik. La Maja didesain menjadi bikini silhouette dan dilengkapi dengan removable cup yang dapat digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Olympia pun tak kalah menarik. Bagian atas bikini dibuat lebih tertutup dengan aksen menyilang di bagian depan.

Untuk The Picnic dan Sheba dibuat dengan motif renda yang cantik dengan tali mengikat bagian atas bikini, sedangkan untuk Anda yang tidak percaya diri dengan bentuk pundak, bisa mencoba Madam X yang dapat menyamarkan kekurangan pada pundak Anda lewat desain atasan bikini yang memiliki tali lebar dan lurus. Last but not least, Leda yang mampu membuat Anda tampil lebih seksi dengan maksimal lewat aksen tali melintang dibagian depan.

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Keenam bikini tersebut dibanderol dengan harga 200 hingga 300 dollar Amerika atau setara dengan kisaran 2,7 jutaan per bikini. Harga yang cukup mahal namun sepadan dengan desain elegan dan upayanya untuk mengurangi sampah plastik.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/feed/ 0
ReWrap Gunakan Serat Batok Kelapa untuk Tas Kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/#respond Sat, 07 Nov 2015 14:00:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11813 Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang […]]]>

Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang satu ini.

Sebuah brand asal Belanda bernama ReWrap akan menunjukkan pada Anda bahwa material bekas atau sisa dapat menghasilkan karya yang luar biasa. Lewat koleksi bertajuk Tree Bag, ReWrap menciptakan tas menarik yang terbuat dari serat batok kelapa. Dirilis pada Dutch Design Week 2015 yang diadakan akhir Oktober lalu, tas dari serat batok kelapa ini menghasilkan serat yang natural dan bentuk motif tersendiri. Siapa sangka, selain nampak chic, tas ini pun dapat tahan air.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Bagian luar tas tersebut terbuat dari 100 persen serat batok kelapa yang di pres bersama dengan getah pohon yang dapat membuat tas ini kuat dan tahan lama. Sedangkan pada bagian dalam tas terbuat dari karet alami yang telah dikeringkan dibawah sinar matahari, bagian karet ini lah yang membuat tas ini dapat anti air.

Tas ini pun dilengkapi dengan handle yang terbuat dari 100 persen kayu dari pohon walnut yang dikelola secara berkelanjutan dan memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC). Dibalik materialnya yang ramah lingkungan dan memiliki desain stylish, tas ini dibuat dengan mempekerjakan para penyandang disabilitas di sebuah workshop kecil di Amsterdam.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tas ini dibuat dalam dua macam ukuran, yakni medium dan besar. Dari segi desain, tas ini cocok digunakan sebagai tas kantor maupun untuk acara formal lainnya. Selain itu, tas ini bersifat unisex atau dapat digunakan oleh pria maupun wanita.

Tas ini dibanderol dengan harga 245 euro atau setara dengan 3,5 juta rupiah untuk ukuran medium dan 275 euro atau 4 juta rupiah untuk ukuran besar. Bagaimana menurut Anda, cukup sepadankah harga dengan kerja keras produksi tas tersebut?

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/feed/ 0
7 Cara Membuat Koleksi Pakaian Lebih Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/#respond Tue, 03 Nov 2015 08:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11757 Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga […]]]>

Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga transportasi dalam proses distribusi, semuanya memengaruhi lingkungan. Belum lagi perilaku boros dan lekas bosan konsumen fesyen turut menambah jumlah sampah.

Meski demikian, ada banyak cara untuk menjadi konsumen fesyen yang peduli lingkungan. Semuanya bisa dimulai dengan langkah sederhana. Apa saja langkahnya?

Ilustrasi: Ist.

Ilustrasi: Ist.

1. Ketahui seluk beluk isi lemari
Langkah ini merupakan hal mendasar untuk mengubah pola pikir Anda sebagai seorang konsumen. Mulailah mengedukasi diri Anda sendiri dengan melihat apa yang ada dalam isi lemari pakaian Anda dan mencari tahu seluk beluk dari setiap pakaian yang dimiliki.

Cari tahu dan bedakan mana pakaian yang terbuat dari bahan organik, daur ulang maupun produk yang bebas bahan kimia. Dengan cara ini, Anda tidak hanya tahu tentang apa yang akan dibeli, tapi juga di mana dan kepada siapa Anda akan membeli barang.

2. Cintai apa yang sudah dimiliki
Anda memiliki setumpuk pakaian di lemari namun baru sekali atau bahkan tidak pernah Anda pakai? Untuk membuat koleksi pakaian Anda lebih ramah lingkungan, cobalah berkreasi pada koleksi pakaian Anda. Teknik memadupadankan pakaian dapat membuat penampilan Anda berbeda tanpa harus membeli pakaian baru.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/feed/ 0
United Airlines Ubah Banner Bekas Jadi Travel Bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/#respond Wed, 21 Oct 2015 07:48:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11595 Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat […]]]>

Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat United Airlines, sebuah perusahaan penerbangan ternama yang juga memanfaatkan banner untuk publikasi, merasa bertanggung jawab atas bentuk pembuangan tersebut.

Dengan menggandeng Re:New dan Columbia College Chicago Department of Fashion Studies, United Airlines mengubah banner-banner bekas publikasi mereka menjadi sebuah travel bag yang unik dan cantik. Mereka mengumpulkan 20 banner raksasa milik United Airlines dari Chicago O’Hare Airport dan mengubah banner tersebut hanya menjadi 100 sustainable travel bag yang siap digunakan.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“United berkomitmen untuk beroperasi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab dan itu berarti kami harus menemukan cara kreatif untuk menurunkan pengaruh penerbangan kami pada lingkungan,” ungkap Angela Foster-Rice selaku Managing Director of Environmental Affairs and Sustainability United Airline, pada release yang dikeluarkan oleh PRNewsWire.com.

Travel bag yang diciptakan sengaja didesain agar cocok ditempatkan di bawah bangku pesawat, wearable dan tahan lama. Seluruh tas tersebut dijahit khusus dengan menggunakan tangan dan setiap tas memiliki corak yang berbeda satu sama lain. Banner-banner tersebut disulap menjadi beberapa jenis tas, seperti travel duffel bag, backpack dan over shoulder bag tempat menaruh paspor, uang dan lain-lain.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“Sebagai bagian dari komitmen kami, kami senang bisa memberikan banner-banner tersebut kehidupan kedua, dan terutama untuk para pelanggan dapat menikmati bagian dari keindahan langit yang mereka bawa pulang,” lanjut Angela.

Travel bag tersebut dibandrol dengan harga US$150 atau sekitar dua juta rupiah. Travel bag ini telah resmi dijual pada Jumat (16/10) lalu di situs United Shop dan hingga berita ini dinaikan, untuk duffel bag telah ludes terjual hingga tinggal menyisakan beberapa unit backpack.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/feed/ 0
Clothing Line Ini Buat Produk dari Sampah Botol Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/#respond Thu, 15 Oct 2015 05:49:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11505 Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New […]]]>

Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New York. Bahkan di Amerika, sampah botol plastik dapat mencapai angka 50 milyar botol plastik dalam setahun. Jumlah yang cukup mencengangkan dan menjadi alasan yang kuat bagi para anak muda ini untuk membuat sebuah bisnis yang juga dapat menanggulangi masalah besar tersebut.

Fair Harbor Clothing Line merupakan proyek yang dicetuskan oleh Jake Danehy, Caroline dan Sam Jacobson. Proyek ini terbentuk atas keprihatinan mereka terhadap keberlangsungan pantai tercinta mereka, Fair Harbor. Pantai yang menghiasi kenangan masa kecil mereka tersebut, kini telah berubah dan sudah tidak sebersih, serta sedamai dulu.

Salah satu masalah terbesarnya apalagi kalau bukan sampah botol plastik. Anak-anak muda tersebut akhirnya terinspirasi menciptakan beberapa produk seperti kaos, topi, bahkan board short dari sampah-sampah botol plastik yang menggunung setiap harinya.

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Board short ini terbuat dari botol minum plastik yang didaur ulang dan dikolaborasi dengan bahan katun dan serat polyester daur ulang. Jake dan teman-teman beranggapan bahwa dalam menciptakan sebuah eco fashion, tidak hanya dibutuhkan material-material yang di daur ulang untuk mengurangi dampak lingkungan. Karena itu, mereka mendonasikan 5 persen dari keuntungan penjualan mereka kepada Surfrider Foundation untuk membantu membersihkan sampah dari pantai dan laut.

Dibutuhkan 11 botol minum plastik untuk menciptakan sepasang board short pria. Awalnya botol-botol tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai dengan ketebalan plastik. Lalu, botol-botol tersebut diproses menjadi partikel filament kecil, sebelum akhirnya dipanaskan dan dianyam pada serat polyester daur ulang.

“Kami membuat celana tersebut dengan cermat dan penuh pemikiran untuk mengatasi masalah sampah plastik dari lingkungan dan juga membuatnya menjadi cukup tahan lama untuk segala kondisi dan tantangan alam,” ujar mereka, seperti yang dilansir dari situs resmi Fair Harbor Clothing Line.

Desain yang dibuat pun tidak terlalu rumit mengingat material dan proses pembuatan yang berbeda dengan celana lainnya, namun celana ini tetap dibuat dengan nyaman, tidak panas, tahan lama dan membuat penggunanya bebas bergerak.

Mereka pun akan meluncurkan koleksi busana terbaru, seperti T-Shirt dengan bermacam pilihan gaya, sweater, dan board short bercorak. Board short yang ditawarkan dibandrol dengan harga US$ 65 atau setara dengan hampir satu juta rupiah, serta topi dan T-Shirt seharga US$ 20 atau kisaran 300 ribu rupiah.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/feed/ 0
Baju Renang Terbaru Speedo Berbahan Daur Ulang Jaring Ikan Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/baju-renang-terbaru-speedo-berbahan-daur-ulang-jaring-ikan-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=baju-renang-terbaru-speedo-berbahan-daur-ulang-jaring-ikan-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/baju-renang-terbaru-speedo-berbahan-daur-ulang-jaring-ikan-bekas/#respond Wed, 30 Sep 2015 02:55:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11296 Pengembangan dunia eco-fashion kini makin melebarkan sayapnya. Kali ini giliran Speedo melakukan gebrakan lewat koleksi baju renang terbarunya The Speedo PowerFlex Eco. Dalam koleksinya kali ini, Speedo menggunakan Econyl Nylon […]]]>

Pengembangan dunia eco-fashion kini makin melebarkan sayapnya. Kali ini giliran Speedo melakukan gebrakan lewat koleksi baju renang terbarunya The Speedo PowerFlex Eco. Dalam koleksinya kali ini, Speedo menggunakan Econyl Nylon Fiber, sebuah material (benang nylon) yang terbuat dari hasil daur ulang karpet lama dan jaring ikan bekas.

Dengan menggandeng Aquafill, sebuah pabrik pengolah Econyl asal Italia, Speedo PowerFlex Eco menggabungkan 78% Econyl Nylon Fiber dan 22% Xtra Life Lycra Fiber. Siapa sangka, baju renang ini bisa bertahan 10 kali lebih lama daripada bahan baju renang tradisional biasanya. Selain itu, swimsuit yang dirilis Agustus lalu ini memiliki tingkat ketahanan yang tinggi, tahan terhadap chlorine dan tidak mudah melar dan terkoyak.

“Melalui produk ini kami mencoba menantang produsen-produsen lainnya untuk menciptakan sesuatu yang bersifat berkelanjutan dan menstrukturisasikan kembali rantai pasokan mereka mencoba melirik kembali Tempat Pembuangan Akhir,” ujar Giulio Bonazzi, CEO dari Aquafill, dikutip dari laman ecouterre.com.

Tidak hanya terbuat dengan material yang ramah lingkungan, swimsuit ini pun dikemas dengan desain yang amat menarik dan terkesan futuristik, serta memiliki beberapa tipe desain seperti Got Your Cross Back yakni dengan aksen tali yang menyilang pada bagian punggung dan juga Revolve Splice Energy Back dengan bagian belakang yang mengikuti lekuk tulang punggung.

Desain-desain tersebut sengaja dibuat untuk memberi kenyamanan pada perenang yang menggunakannya agar dapat leluasa menggerakan pundak, punggung dan tangan yang menjadi titik terpenting dalam berenang tanpa memikirkan rasa pegal bagian-bagian tersebut seperti yang biasa dikeluhkan para perenang.

Selain desain yang beragam, warna dan motif yang ditawarkan pun bisa membuat Anda kebingungan memilih. Pasalnya, warna dan motif yang ditawarkan pada koleksi ini terbilang berbeda dengan koleksi sebelumnya, Hydralign Series.

Jangan khawatir bagi para pria, karena Speedo PowerFlex Eco pun menawarkan beragam desain untuk perenang pria mulai dari si maskulin Taper Splice Jammer hingga si seksi Must Be It Brief. Swimsuit ini dibandrol dengan harga mulai dari yang termurah US$44 atau setara dengan 600 ribu rupiah hingga yang termahal US$ 84 atau 1,2 juta rupiah. Bagaimana? Apakah Anda siap menabung untuk koleksi yang super keren ini?

Penulis : DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/baju-renang-terbaru-speedo-berbahan-daur-ulang-jaring-ikan-bekas/feed/ 0
Pewarna Alami, Dukung atau Tinggalkan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/#respond Mon, 20 Jul 2015 10:01:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10401 Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada […]]]>

Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada yang alami dan ada yang kimia.

Saat ini, perubahan iklim dan munculnya kesadaran untuk lebih memperhatikan keberlangsungan alam turut mengubah pola produksi industri fesyen. Untuk pewarna misalnya, menggunakan pewarna alami kini kembali dilirik karena lebih ramah lingkungan.

“Rentetan dari pewarna alami dan kimia sangat panjang. Karena pewarna kimia banyak menggunakan air dan berbahaya bagi lingkungan, kenapa kita enggak mencoba untuk menggunakan pewarna alami yang sebenarnya mudah didapat dan aman bagi lingkungan dan si pembuatnya,” ujar Sancaya Rini, perajin batik yang menggunakan pewarna alami dalam produksi batiknya.

Masalah pewarna tekstil, khususnya pewarna kimia, mulai dikhawatirkan karena sangat berkaitan dengan perusakan lingkungan. Di sisi lain, lanjut Rini, pewarna alami bisa dihasilkan tidak hanya dari tanaman segar dan lebih ramah lingkungan.

“Tidak hanya tanaman, tapi sampahnya pun bisa kita gunakan. Contohnya, ketika menyapu halaman rumah, daun-daun kering yang berserakan dapat kita gunakan untuk pewarna alami dengan direbus dan air rebusannya menghasilkan warna,” katanya menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa semua tanaman dapat digunakan sebagai pewarna alami. Daun pisang dan sisa-sisa pemotongan kayu pun dapat diolah sebagai sumber pewarna alami. Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar membuat pilihan warna menjadi sangat beragam. Selain itu, lanjut Rini, jika kita menginginkan pewarna yang lebih banyak, kita bisa menanam sendiri tumbuh-tumbuhan yang diperlukan agar tidak merusak dan menjaga keberlanjutan alam.

“Pesan yang didapat dengan menggunakan pewarna alami ini, kita dapat melakukan gerakan menanam tumbuhan terlebih untuk warna-warna yang kita butuhkan,” imbuhnya.

Meski banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan pewarna alami, namun tetap tidak luput dari kekurangan. Pasalnya, dengan proses yang masih manual dalam pengolahan pewarna alami hingga layak diproduksi menyebabkan pewarna ini lebih mahal saat dijual. Selain itu, pewarna alami hanya dapat digunakan untuk bahan-bahan yang berserat organik.

“Pewarna alami sangat eco-friendly karena dalam penggunaannya pun kita membutuhkan bahan-bahan yang berserat dari alam juga. Oleh karena itu, kalau saya boleh berpesan, marilah untuk orang-orang di industri fashion mulai sedikit demi sedikit untuk merancang dengan bahan alami serta pewarna alami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat bumi yang sudah tua ini?” tutupnya.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/feed/ 0
Re/Done Luncurkan Sustainable Jeans https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=redone-luncurkan-sustainable-jeans https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/#respond Sat, 11 Jul 2015 08:56:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10288 Tampilan celana jins yang usang dengan robekan di lutut dan warna biru yang telah pudar memang dicintai sejak dulu. Dengan mengusung vintage jeans, Re/Done tetap memiliki gaya yang dipastikan dapat […]]]>

Tampilan celana jins yang usang dengan robekan di lutut dan warna biru yang telah pudar memang dicintai sejak dulu. Dengan mengusung vintage jeans, Re/Done tetap memiliki gaya yang dipastikan dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Meski mengambil mode kekinian seperti skinny dan boyfriends jeans tapi Re/Done tetap mempertahankan karakter mereka.

Re/Done bukan hanya label namun telah menjadi satu gerakan untuk menciptakan jins berkelanjutan yang tidak kalah trendi dengan label denim ternama lainnya. Denim ini menggunakan proses berkelanjutan dan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatannya. Bahkan, dari setiap jins berkelanjutan ini, Re/Done menanamkan filosofi kesadaran pada lingkungan.

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Departemen Pemasaran Re/Done, Mia Zee mengatakan bahwa jins ini sudah melalui proses modernisasi dengan melihat dan memperhatikan keadaan lingkungan namun tetap mengikuti tren mode saat ini. Tidak hanya itu, Re/Done pun ingin menjadi salah satu label yang mewah dan mencetak sejarah dalam dunia fashion.

“Kami termotivasi untuk membuat merek warisan seperti Levi yang relevan dalam kemewahan fashion. Tujuannya adalah untuk memberikan produk mewah yang berkelanjutan dan menjadi merek bersejarah di Amerika,” ujar Mia Zee seperti dikutip dari situs ecouterre.com.

Dengan penjualan secara online, Re/Done ingin memudahkan konsumen agar dapat memilih jins yang mereka sukai tanpa perlu membuang-buang waktu di jalan. Selain itu, label ini menggabungkan fashion kontemporer dengan jins usang yang cantik yang bertujuan untuk membuat konsumen menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti perubahan fashion yang begitu cepat.

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Koleksi Re/Done. Foto: www.ecouterre.com

Melihat kebutuhan fashion tidak hanya untuk wanita, Re/Done pun akan mengeluarkan jins berkelanjutan yang ditujukan untuk pria. Selain itu, dapat dilihat juga bahwa kepedulian terhadap lingkungan ditujukan untuk semua masyarakat, tidak hanya kaum wanita. Oleh karena itulah, dengan bermodal keyakinan yang tinggi, merek ini akan meluncurkan koleksinya dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami berencana mengeluarkan koleksi pria dalam beberapa bulan ke depan dan telah berkolaborasi dengan Leandra Medine dari Man Repeller dan model dari merek Victoria’s Secret, Elsa Hosk,” ungkap Mia.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/redone-luncurkan-sustainable-jeans/feed/ 0
Hugo Boss Adopsi Kebijakan Bebas Bulu Hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/#respond Wed, 08 Jul 2015 12:53:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10219 Hugo Boss mengambil keputusan besar untuk memproduksi rancangan busananya dengan tidak menggunakan bulu binatang. Bekerjasama dengan Humane Society Of The United States dan The Fur–Free Alliance, merek busana mewah asal […]]]>

Hugo Boss mengambil keputusan besar untuk memproduksi rancangan busananya dengan tidak menggunakan bulu binatang. Bekerjasama dengan Humane Society Of The United States dan The Fur–Free Alliance, merek busana mewah asal Jerman ini telah mengumumkan untuk mengadopsi kebijakan 100 persen bebas bulu hewan yang akan berlaku untuk koleksi musim dingin tahun 2016.

“Kami telah memutuskan untuk menjalankan rute yang berbeda dari biasanya. Oleh karena itu, kami mengutamakan strategi perusahaan berkelanjutan, dalam hal ini perlindungan terhadap hewan, di atas rute ‘cepat’ dan ‘sederhana’ untuk meraih sukses,” ujar Direktur Label dan Kreatif Busana Olahraga dari Hugo Boss, Bernd Keller seperti dikutip dari situs  ecouterre.com.

Di samping itu, Keller menambahkan bahwa keputusan ini dapat menginspirasi generasi sekarang bahkan generasi yang akan datang dengan kemewahan model baru. Kemewahan yang mempromosikan alternatif buatan yang manusiawi tanpa mengorbankan hewan.

Hugo Boss mendapat apresiasi dari keberaniannya dalam mengambil keputusan. Tidak hanya dari aktivis kesejahteraan hewan, namun Presiden serta CEO dari Humane Society pun memuji perusahaan yang ingin menyelamatkan ribuan hewan dari penyiksaan untuk dijadikan ke dalam rancangan busana.

“Mengganti kekejaman dengan inovasi yang berkelanjutan adalah masa depan dari industri fashion. Tidak hanya Hugo Boss, bahkan merek fashion ternama lainnya seperti Calvin Klein dan Tommy Hilfiger hingga Stella McCartney dan Ralph Lauren semakin tidak ingin ada busananya menggunakan bulu,” ujar Pacelle dalam blog humanesociety.org.

Saat ini, Hugo Boss memilih penyedia wool yang tidak melakukan praktik “mulesing“. Mulesing adalah operasi pembedahan yang menyakitkan untuk mengambil kulit pada bagian belakang hingga ekor pada domba, biasanya tanpa obat anestesi, untuk mencegah infeksi parasit flystrike. Dalam keputusan besarnya ini, Hugo Boss berharap 90 persen produksi busananya bebas dari praktik mulesing pada tahun 2020.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hugo-boss-adopsi-kebijakan-bebas-bulu-hewan/feed/ 0