hujan buatan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hujan-buatan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:57:27 +0000 id hourly 1 Turun Hujan Di Area Karhutla, Jumlah Titik Hotspot Mulai Menurun https://www.greeners.co/berita/turun-hujan-di-area-karhutla-jumlah-titik-hotspot-mulai-menurun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=turun-hujan-di-area-karhutla-jumlah-titik-hotspot-mulai-menurun https://www.greeners.co/berita/turun-hujan-di-area-karhutla-jumlah-titik-hotspot-mulai-menurun/#respond Thu, 26 Sep 2019 11:33:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24300 Turun hujan di area karhutla merupakan hujan buatan dari operasi TMC yang dilakukan oleh BPPT dalam rangka membantu mengurangi titik panas atau hotspot.]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan data Rainfall Accumulation from NASA IMERG (Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM) dan pantauan data hujan dalam 24 jam terakhir, hujan telah terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Turun hujan di area karhutla ini membantu mengurangi titik panas atau hotspot di wilayah Indonesia.

Data BNPB mencatat, jumlah hotspot turun sejak Senin lalu (23/9) menjadi sebanyak 3.150 titik. Berselang satu hari kemudian, Selasa (24/9) hotspot turun lagi menuju angka 1.982 titik dan Rabu (25/9) telah berada pada jumlah 1.744 titik.

Hujan ini merupakan hujan buatan dari operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kerap dilakukan sejak karhutla terjadi.

BACA JUGA : Karhutla Di Indonesia, Lebih Dari 300 Ribu Hektar Lahan Terbakar

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bertujuan untuk mempercepat turunnya hujan di wilayah-wilayah yang sudah ada potensi awan hujannya. Dengan demikian diharapkan dapat memadamkan sebagain titik api yang prioritas untuk dipadamkan.

Plt Kepala Pusdatinmas BNPB Agus Wibowo mengatakan, selain menggunakan TMC untuk memadamkan api, operasi helikopter water bombing juga dikerahkan untuk tujuan mematikan titik-titik api yang belum besar, sedangkan pasukan gabungan yang di darat bertugas untuk mematikan titik-titik api dan juga mengisolasi titik-titik api agar tidak menyebar dan menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Kesimpulan hujan yang sudah terjadi hari dan beberapa hari sebelumnya cukup mengurangi kepekatan asap. Di samping itu, dampak kepekatan asap mulai berkurang dan langit mulai terang dan biru kembali. Demikian juga di negara tetangga, Malaysia, asap telah berkurang.,” ujar Agus kepada Greeners, Rabu (25/09/2019).

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT), Tri Handoko Seto, mengatakan tim TMC BPPT telah berupaya maksimal menjangkau dua wilayah sekaligus untuk dilakukan penyemaian awan.

Ini data 24 jam 24.09.2019

Foto : Humas BNPB

“Tim kami terus bekerja keras sepanjang hari ini untuk menabur CaO atau kapur tohor dan melaksanakan penyemaian awan secara simultan. Bersyukur, hujan turun kembali di beberapa wilayah di Riau dan Jambi pada Selasa sore hari,” ujarnya pada konferensi pers di Manggala Wanabhakti, Selasa (24/09/2019).

Pada penerbangan pertama pagi hari, pesawat Hercules C 130 yang membawa flight scientist BBTMC BPPT dan TNI AU terbang dari landasan pacu Roesmin Nurjadin dengan membawa 2.000 kg CaO dan 2.000 NaCl.Wilayah yang dituju, yaitu Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Jambi dan Sumsel.

Penerbangan kedua siang hari, tim TMC bergerak menyasar wilayah Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir (Riau) dan Tebo (Jambi) dengan membawa bahan semai 4.000 kg NaCl.

BACA JUGA : KLHK dan BMKG Tegaskan Asap Karhutla Tidak Sampai ke Malaysia

Terjadinya karhutla yang menurut data KLHK sampai dengan September 2019 ini , telah membakar lahan sebesar 328.724 dan menurut data WALHI, karhutla 2019 ini juga mengakibatkan 149.433 jiwa menderita ISPA.

Diakui oleh Presiden Joko Widodo karhutla ini merupakan kelalaian pemerintah dalam mencegah karhutla yang setiap tahunnya pasti terjadi. Hal itu, disampaikan Jokowi pada Rapat Terbatas di Riau 16 September 2019 lalu. “Sebetulnya sudah tidak perlu lagi rapat seperti ini. Otomatis menjelang musim kemarau semuanya sudah siap, sebetulnya itu saja. Tapi ini kita lalai sehingga asapnya menjadi besar,” ujar Jokowi.

Kedatangan dan Ratas tersebut juga membuat penanganan karhutla lebih diintensifkan dengan menambah 4 pesawat, yaitu 2 di Riau untuk operasi di wilayah Sumatera dan 2 lainnya di Kalimantan untuk TMC.

Penulis: Dewi Purningsih

 

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/turun-hujan-di-area-karhutla-jumlah-titik-hotspot-mulai-menurun/feed/ 0
Baskom Berisi Air Garam Tidak Bisa Memancing Hujan https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/#respond Sun, 25 Oct 2015 12:08:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11656 Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu belakangan, beredar pesan berantai yang mengimbau agar masyarakat meletakkan satu baskom air yang dicampur dengan garam untuk memancing hujan untuk membantu masyarakat di Sumatera dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu belakangan, beredar pesan berantai yang mengimbau agar masyarakat meletakkan satu baskom air yang dicampur dengan garam untuk memancing hujan untuk membantu masyarakat di Sumatera dan Kalimantan yang sedang dilanda kebakaran hutan dan lahan.

Menanggapi pesan berantai tersebut, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menegaskan bahwa apa yang disampaikan dalam pesan berantai tersebut tidak benar dan tidak masuk akal. Menurutnya, penguapan air di lautan dan samudera yang ada di perairan Indonesia saja tidak mampu memproduksi uap air yang akan berkondensasi di atmosfer hingga membentuk awan-awan.

“Pesan berantai itu tidak masuk akal, mohon jangan disebarluaskan karena membodohi masyarakat. Justru malah seharusnya masyarakat menyebarluaskan berita agar jangan membakar hutan dan lahan lagi,” terangnya, Jakarta, Sabtu (24/10).

Dihubungi terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya pun menanggapi isi pesan berantai tersebut. Andi menyatakan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan imbauan agar masyarakat melakukan sebagaimana yang terisi dalam pesan berantai tersebut.

Imbauan agar meletakkan baskom berisi air pada siang hari tersebut, lanjut Andi, tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Penguapan air dari baskom yang terjadi (meskipun jumlah baskom berisi air dalam jumlah banyak) sangat jauh dari memadai bila dibandingkan dengan jumlah uap air hasil penguapan yang diperlukan untuk proses kondensasi pembentukan awan di atmosfer.

“Hujan yang terjadi di bumi sebagian besar berasal dari kondensasi uap air dari hasil penguapan di lautan,” jelas Andi.

Namun, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, menyampaikan hal yang berbeda. Menurutnya, meletakkan air di dalam sebuah baskom mampu menarik partikel debu di udara yang masuk ke ruangan.

“Taruh air satu baskom itu mampu menarik partikel debu kotor di ruangan. Itu sangat bagus jadi tidak usah pakai air purifier (penyaring udara) lagi,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/feed/ 0
Menteri Siti Tolak Bantuan Singapura Atasi Kebakaran Hutan https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-tolak-bantuan-singapura-atasi-kebakaran-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menteri-siti-tolak-bantuan-singapura-atasi-kebakaran-hutan https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-tolak-bantuan-singapura-atasi-kebakaran-hutan/#respond Sun, 20 Sep 2015 08:38:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11170 Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, menolak tawaran bantuan dari Singapura terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan yang menimpa Indonesia. Demikian dinyatakan oleh Siti di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, menolak tawaran bantuan dari Singapura terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan yang menimpa Indonesia. Demikian dinyatakan oleh Siti di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta pada Jumat (18/9).

Menteri Siti menyatakan bahwa ia menghargai bantuan yang ditawarkan oleh Negeri Singa tersebut. Namun, ia menilai bahwa pemerintah Indonesia masih dapat menangani masalah kebakaran lahan dan hutan. “Harus dipikirkan apakah kita benar-benar butuh?” katanya.

Singapura yang menjadi salah satu negara yang terkena dampak asap kebakaran hutan dan lahan dari Indonesia menawarkan sebuah pesawat sinop, satu buah pesawat water bombing dengan kapasitas 5 ribu liter dan satu tim pemantau dan penilai kebakaran hutan.

Menurut Siti, saat ini pemerintah menggunakan 24 pesawat yang digunakan untuk water bombing. Jumlah tersebut akan menjadi 25 pesawat karena akan datang tambahan satu pesawat pada hari Minggu (20/9) ini.

Siti menilai 25 pesawat water bombing yang digunakan oleh pemerintah saat ini sudah cukup. Namun ia menekankan bahwa keputusan menerima bantuan dari negara lain merupakan keputusan negara. “Keputusan untuk menerima atau tidaknya bantuan itu keputusan negara, harus berkoordinasi dengan Menlu dan juga Presiden,” ujarnya.

Dari 25 pesawat yang ada, empat di antaranya diperuntukkan untuk menangani hujan buatan. Sedangkan sisanya adalah pesawat untuk water bombing, sepuluh buah pesawat berukuran 3.200-4.300 liter air dan sebelas pesawat berkapasitas 500 liter air.

Ia juga menyebutkan bahwa sampai saat ini, pemerintah telah menghabiskan 36,2 juta liter air untuk memadamkan kebakaran lahan dan hutan. Sedangkan untuk hujan buatan, telah disiapkan 279 ton garam untuk modifikasi cuaca.

Penulis: TW

]]>
https://www.greeners.co/berita/menteri-siti-tolak-bantuan-singapura-atasi-kebakaran-hutan/feed/ 0
Dampak Kemarau Meluas, Kebakaran Hutan Bertambah Banyak https://www.greeners.co/berita/dampak-kemarau-meluas-kebakaran-hutan-bertambah-banyak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dampak-kemarau-meluas-kebakaran-hutan-bertambah-banyak https://www.greeners.co/berita/dampak-kemarau-meluas-kebakaran-hutan-bertambah-banyak/#respond Sun, 30 Aug 2015 06:45:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10950 Jakarta (Greeners) – Dampak El Nino yang melanda Indonesia disebut oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai pemicu utama kasus kebakaran hutan dan lahan di Tanah Air. Badan Nasional […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dampak El Nino yang melanda Indonesia disebut oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai pemicu utama kasus kebakaran hutan dan lahan di Tanah Air.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, berdasarkan hasil pantauan Satelit Modis (Terra Aqua) yang dilakukan oleh BMKG pada Rabu, 26 Agustus 2015 lalu, di Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 523 titik api, Kalimantan Barat 161 titik api, Sumatera Selatan 155 titik api, Kalimantan Selatan 80 titik api, Kalimantan Timur 70 titik api, Jambi 69 titik api, Bangka Belitung 10 titik api, dan empat titik api di Riau.

Mengutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNP, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, BNPB dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi masih terus melakukan operasi hujan buatan di empat wilayah secara serempak dengan posko di Pekanbaru, Palembang, Pontianak, dan Jakarta. Hujan buatan di Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat diprioritaskan untuk pemadaman kebakaran, sedangkan di Jakarta untuk kekeringan.

Kondisi terkini, lanjut Sutopo, asap sepanjang hari masih menutupi beberapa daerah. Jarak pandang di Pekanbaru hanya 2 kilometer, Pelalawan 1 km, Rengat 5 km, Jambi 900 meter. Selain itu, asap yang berada di Riau sebagian besar juga berasal dari asap kiriman yang datang dari Jambi dan Sumatera Selatan. Sementara itu kebakaran hutan di Gunung Slamet dan Gunung Lawu, hingga saat ini pun masih belum dapat dipadamkan.

“Untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan, maka pemadaman dilakukan oleh sub-satuan tugas darat, udara, dan penegakan hukum. Sedangkan untuk pemadaman di darat dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, MPA, dan masyarakat,” tuturnya, Jakarta, Jumat (28/08).

Untuk mengatasi kebakaran, katanya lagi, pemadaman dilakukan oleh empat pesawat terbang yang dikerahkan untuk menebarkan ratusan garam ke dalam awan-awan potensial yang rencananya dilakukan hingga November 2015 nanti.

Selain itu, BNPB juga mengerahkan delapan helikopter pengebom air di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah karena asap menyebar bukan hanya di wilayah Jambi, tapi juga ke Riau dan Kepulauan Riau.

“Provinsi Jambi masih belum ada permintaan untuk bantuan hujan buatan dan water bombing kepada BNPB sehingga kebakaran hutan dan lahan masih terus meluas. Padahal, upaya pencegahan akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman, karena sesungguhnya kebakaran bisa dicegah,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dampak-kemarau-meluas-kebakaran-hutan-bertambah-banyak/feed/ 0
Membuat Hujan Buatan Bukanlah Perkara Mudah https://www.greeners.co/berita/membuat-hujan-buatan-bukanlah-perkara-mudah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=membuat-hujan-buatan-bukanlah-perkara-mudah https://www.greeners.co/berita/membuat-hujan-buatan-bukanlah-perkara-mudah/#respond Mon, 29 Sep 2014 06:05:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5966 Jakarta (Greeners) – Banyaknya permintaan dari pemerintah daerah kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memberikan hujan buatan kepada wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan membuat BNPB angkat bicara. Kepala Humas BNPB, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Banyaknya permintaan dari pemerintah daerah kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memberikan hujan buatan kepada wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan membuat BNPB angkat bicara.

Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan bahwa banyak daerah yang meminta hujan buatan, namun keterbatasan pesawat yang dimiliki masih belum mampu memenuhi banyaknya permintaan tersebut.

Sutopo mengatakan, bahwa untuk membuat hujan buatan bukanlah hal yang sederhana. Ada beberapa syarat yang harus dilakukan untuk membuat hujan buatan. Terlebih jika kondisi alamnya tidak mendukung.

“Kita cuma punya satu pesawat hercules, sedangkan wilayah yang meminta hujan buatan terpencar-pencar, ini bukan hal mudah,” ujar Sutopo, Jakarta, Senin (29/09).

Selain ketersediaan pesawat yang minim, Sutopo juga menuturkan bahwa wilayah yang akan diberikan hujan buatan harus memiliki waduk yang cukup besar agar bisa menampung hujan buatan tersebut dan mengalirkannya ke tanah-tanah yang mengalami kekeringan.

“Percuma kalau hanya disiramkan langsung ke tanah-tanah, itu tidak akan berpengaruh,” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah, mendesak pemerintah pusat melakukan langkah-langkah agar masalah air bisa ditangani. Arief meminta kepada pemerintah pusat untuk memberikan hujan buatan agar masalah kekeringan yang melanda sungai Cisadane bisa teratasi.

Di lain tempat, Pemprov Jambi juga telah melayangkan surat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk membuat hujan buatan mengingat semakin pekatnya kabut asap di sejumlah kabupaten/kota di Jambi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/membuat-hujan-buatan-bukanlah-perkara-mudah/feed/ 0