kajian perubahan iklim - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kajian-perubahan-iklim/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 16 Jan 2021 15:34:22 +0000 id hourly 1 Paleoclimate, Memahami Fenomena Iklim di Masa Lampau https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/#respond Fri, 19 Apr 2019 05:20:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=23122 Salah satu metode yang digunakan untuk memahami fenomena iklim adalah paleoclimate. Sayang, metode ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah karena isu iklim masih dianggap isu kelas bawah.]]>

Bogor (Greeners) – Untuk memahami fenomena iklim diperlukan berbagai data yang dikumpulkan tidak hanya pada saat ini namun juga arsip dari masa lampau. Salah satu yang peneliti Indonesia yang melakukan penelitian terkait fenomena iklim adalah peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Sri Yudawati Cahyarini. Ia menerapkan metode paleoclimate menggunakan media koral. Sayang, metode ini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah karena isu iklim masih dianggap isu kelas bawah.

“Studi paleoclimate bertujuan membuat modal prediksi iklim lebih akurat, semakin bagus data akan semakin bagus langkah mitigasinya. Untuk memahami dan memprediksi fenomena iklim membutuhkan data yang akurat dengan tidak menggunakan pengukuran alat-alat saja, tapi salah satunya dengan ilmu paleoclimate ini,” ujar Yuda saat mengisi diskusi publik Hari Kartini di Bogor, Kamis (18/04/2019).

BACA JUGA: Perubahan Iklim Pengaruhi Ketersediaan Pakan dan Populasi Burung 

Paleoclimate atau paleoklimatologi merupakan ilmu mengenai pemahaman fenomena iklim melalui pengetahuan kondisi iklim di masa lampau lewat data parameter iklim dalam waktu yang panjang dan tidak terjangkau oleh data pengukuran.

Yuda mengatakan jika ingin mendapatkan data yang sempurna terkait prediksi iklim dengan ilmu paleoclimate maka harus didukung dan dikerjakan bersama-sama dengan para ahli, seperti ahli klimatologi dan meteorologi untuk mendapatkan data masa kini, serta ahli pemodelan yang bisa memverifikasi hasil data lebih akurat.

“Untuk memprediksi iklim harus melihat variabel suhu panas, suhu dingin, curah hujan rendah, dan curah hujan tinggi ketika seratus hingga satu juta tahun yang lalu, apakah kondisinya sama atau tidak, pastinya kan tidak. Kalau saya untuk melihat itu menggunakan media karang, namun teman-teman peneliti yang lain ada yang menggunakan sedimen laut dan danau,” ujarnya.

paleoclimate

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Sri Yudawati Cahyarini menerapkan metode paleoclimate menggunakan media koral. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Dari media karang ini, Yuda mengatakan bahwa dirinya bisa merekonstruksi variasi temperatur air laut sampai resolusi bulanan dengan rincian rekonstruksi curah hujan. Dari data tersebut bisa dilihat pengaruh fenomena iklim El Nino – Osilasi Selatan (ENSO) terhadap curah hujan di masa lampau.

“Saya mendata karang yang berumur 6.000 tahun yang lalu dan hasilnya variabelitas temperaturnya lebih rendah dibandingkan sekarang. Artinya, ada kenaikan variabelitas dari panas bumi yang menandakan perubahan iklim itu ada,” katanya.

Yuda mengatakan bahwa ilmu paleoclimate belum terlalu dihargai dan digunakan di Indonesia dan baru digunakan sebagai kolaborasi individu. “Kalau sekarang kerjasamanya dengan BMKG, itu juga kolaborasi individu. Di Indonesia sendiri paleoclimate belum “eksotik” dan isu perubahan iklim belum terangkat,” katanya.

BACA JUGA: LIPI Dorong Kebijakan Inklusif Perubahan Iklim untuk Masyarakat Pesisir 

Kepala Bidang Perubahan Iklim BMKG Kadarsah juga mengakui kalau penerapan paleoclimate masih sedikit dan biayanya mahal. Menurut Kadarsah, BMKG juga menggunakan metode ini dengan media es stalagmit dan stalaktit di Puncak Jaya, Papua karena mampu merekam kondisi iklim di masa lampau.

“Es mampu merekam CO2 dan polutan namun mahal karena banyak biaya yang harus dikeluarkan, seperti biaya ke Jaya Wijaya, Papua lalu alat ukur esnya,” ujarnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/paleoclimate-memahami-fenomena-iklim-di-masa-lampau/feed/ 0
Donald Trump Bingung Soal Ancaman Keamanan Iklim https://www.greeners.co/berita/donald-trump-bingung-soal-ancaman-keamanan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=donald-trump-bingung-soal-ancaman-keamanan-iklim https://www.greeners.co/berita/donald-trump-bingung-soal-ancaman-keamanan-iklim/#respond Fri, 29 Dec 2017 02:30:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19716 Bingung soal ancaman keamanan iklim? Jangan khawatir -- kalian tidak sendirian. Donald Trump nampaknya mengalami kesulitan untuk bisa mengatasi hal tersebut.]]>

LONDON, 19 Desember 2017 – Bingung soal ancaman keamanan iklim? Jangan khawatir — kalian tidak sendirian. Donald Trump nampaknya mengalami kesulitan untuk bisa mengatasi hal tersebut.

Ia bahkan, secara eksplisit, berseberangan dengan salah seorang kolega senior dan dirinya sendiri. Dan, dia telah meminta saran dari pensiunan militer bahwa angkatan bersenjata Amerika akan terus mempersiapkan kenyataan bahwa perubahan iklim tidak akan berpengaruh.

Pemerintahan Trump telah mengeluarkan perubahan iklim dari daftar ancaman global pada Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy/NSS) yang baru saja diluncurkan oleh Presiden Trump.

Sebaliknya, NSS dari Presiden Trump menekankan pada kebutuhan AS untuk meraih kembali daya saing ekonomi di dunia melalui rencana “Dahulukan Amerika” yang berfokus kepada empat tema seputar keamanan ekonomi bagi AS.

“Dahulukan Amerika”

Kabar berita Associated Press menyebut slogan ini sebagai “melindungi tanah leluhur dan cara hidup: mempromosikan kesejahteraan Amerika; mendemonstrasikan perdamaian melalui kekuatan; dan meningkatkan pengaruh Amerika di dunia yang semakin kompetitif”.

“Perubahan iklim tidak diidentifikasikan sebagai ancaman keamanan nasional namun iklim dan pentingnya lingkungan hidup serta pengelolaan lingkungan tetap dibahas,” jelas salah satu staf senior di pemerintahan kepada Guardian. Bulan Juni lalu, Presiden Trump mengumumkan niatnya untuk menarik AS dari Perjanjian Paris terkait dengan perubahan iklim.

Secara kontras, mantan Presiden Obama menyatakan bahwa “perubahan iklim merupakan ancaman serius bagi keamanan global, sebuah dampak langsung bagi keamanan nasional kita. Dan, jangan salah, hal tersebut akan berdampak kepada bagaimana cara militer kita membela negara ini.”

Doktrin yang baru sulit untuk dipersatukan dengan pernyataan dari orang yang diangkat Trump sendiri di pemerintahan, yaitu Sekretaris Pertahanan AS, Jim Mattis, yang mengatakan pada Maret lalu bahwa perubahan iklim mempengaruhi stabilitas di negara di mana tentara AS sedang beroperasi dan sangat wajar apabila para komandan mempersiapkan ketidakstabilan yang mungkin terjadi.

Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (US Government Accountability Office/GAO) baru-baru ini mengatakan otoritas militer telah mengabaikan rencana untuk risiko iklim. Sebuah tim peneliti GAO menyatakan bahwa dari 45 instalasi militer di seluruh dunia, hanya sepertiga yang mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana mereka.

Puluhan markas dikeluarkan dari kajian kerentanan iklim, termasuk “situs kunci keamanan nasional”. Laporan tersebut mengatakan bahwa Pentagon mengeluarkan sejumlah fasilitas tanpa penjelasan memadai — dalam beberapa kasus hanya disebutkan bahwa tidak ada risiko tapi tanpa alasan.

Perbedaan yang mencolok antara strategi yang baru dan sebelumnya terlihat sebagai kerja Donald Trump sendiri. Pada tanggal 12 Desember, ia menandatangani RUU Otorisasi Keamanan Nasional menjadi UU. Ketentuannya mencakup kewajiban Pentagon melaporkan bagaimana instalasi militer dan staf di luar negeri yang mungkin rentan terhadap perubahan iklim pada dua dekade belakangan.

Untuk meyakinkan tidak ada yang melewatkan intinya, RUU tersebut menyatakan secara jelas : “Perubahan iklim merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasional bagi Amerika Serikat.” Namun, presiden yang menandatangani RUU tersebut, seminggu kemudian, berpikir bahwa perubahan iklim bukanlah sebuah ancaman terhadap keamanan.

Persiapan lebih lanjut

Center for Climate & Security (CCS) merupakan institusi non-partisan dari AS yang berisikan ahli keamanan dan militer (banyak dari mereka memiliki pangkat yang tinggi di militer). Mereka beranggapan bahwaancaman perubahan iklim dan konflil nuklir tidak terpisahkan.

Francesco Femia, salah satu pendiri dan presiden CCS, mengatakan kepada Climate News Network: “Sangatlah tidak menguntungkan bahwa perubahan iklim tidak secara eksplisit dikategorikan sebagai ancaman keamanan nasional dalam Strategi Keamanan Nasional.

“Meski demikian, meskipun strategi ini, yang lebih sebagai dokumen politis, saya berpikir komunitas keamanan nasional secara lebih luas di AS akan terus berlanjut untuk mempersiapkan tantangan ini, seperti yang sudah dijelaskan dalam RUU keamanan dan yang sudah diutarakan dengan jelas oleh Departemen Pertahanan.

“Kita mempunyai tanggung jawab untuk melakukan persiapan dan itu menjadi nyata setiap harinya.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/donald-trump-bingung-soal-ancaman-keamanan-iklim/feed/ 0
Hutan Campuran Mungkin Tidak Tahan terhadap Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/hutan-campuran-mungkin-tidak-tahan-terhadap-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hutan-campuran-mungkin-tidak-tahan-terhadap-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/hutan-campuran-mungkin-tidak-tahan-terhadap-perubahan-iklim/#respond Sat, 23 Dec 2017 03:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19711 Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa hutan di dunia berada dalam ancaman. Penelitian berulang kali juga menunjukkan bahwa hutan alami yang tidak terganggu bisa memberikan dampak ekonomi yang besar.]]>

LONDON, 4 Desember 2017 – Para peneliti asal Jerman telah mengonfirmasikan sekali lagi bahwa hutan yang baik adalah hutan campuran yang alami dengan beragam spesies. Semakin beragam suatu hutan, semakin baik fungsinya sebagai hutan. Hutan yang memiliki jumlah spesies beragam akan tumbuh pada tingkat yang lebih cepat, menyimpan lebih banyak karbon, dan lebih tahan terhadap serangga dan penyakit, menurut penelitian yang dilakukan oleh enam negara di hutan Eropa.

Namun, pendekatan dengan jumlah aman spesies mungkin tidak bisa menawarkan perlindungan yang cukup terhadap perubahan iklim dan dampaknya yang seharusnya diprediksi oleh penelitian semacam itu. Penelitian lanjutan oleh para peneliti Eropa menyarankan bahwa ketika kondisi menjadi sangat basah atau sangat kering, keanekaragaman mungkin tidak bisa memberikan ketahanan secara otomatis.

Pesannya adalah sistem hutan yang sehat, beragam dan alami tetap penting sebagai bufer terhadap perubahan iklim – juga iklim ekstrim dapat menurunkan kapasitas hutan untuk bisa menyerap karbon dan membatasi pemanasan global.

Inti dari kedua penelitian ini adalah kekhawatiran yang mendalam terkait respon alam terhadap perubahan yang dibuat oleh manusia, perusakan habitat, hilangnya tanaman, burung, serangga, mamalia, amfibi dan reptil yang bergantung kepada habitat dan pada kenaikan level gas rumah kaca yang stabil di atmosfer sebagai konsekuensi dari pembakaran bahan bakar fosil.

Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa hutan di dunia berada dalam ancaman. Penelitian berulang kali juga menunjukkan bahwa hutan alami yang tidak terganggu bisa memberikan dampak ekonomi yang besar. Dan penelitian berulang kali mengonfirmasikan bahwa kenaikan suhu global merupakan ancaman bagi keragaman tanaman di seluruh bumi secara umum, dan di Eropa khususnya.

Para peneliti di Centre for Integrative Biodiversity Research di Jerman menuliskan laporan di jurnal Ecology Letters bahwa mereka telah memilih plot hutan di Jerman, Finlandia, Polandia, Romania, Italia, dan Spanyol. Dari plot-plot tersebut, jumlah spesies beragam, mungkin ada satu atau lima spesies. Plot Jerman, contohnya, merupakan rumah bagi pohon beech, ek, burung cemara, pohon birch dan pohon hornbeam.

Para peneliti mengukur 26 fungsi pada plot-plot tersebut yang mungkin bisa menjawab pertanyaan terkait dengan nutrien, siklus karbon, pertumbuhan dan ketahanan serta regenerasi pohon. Tegakan pohon dengan jumlah spesies yang tumbuh lebih cepat dan tahan terhadap hama dan serangan penyakit lebih baik daripada yang hanya sedikit spesies.

Christian Wirth, direktur center dan kepala departemen untuk botani sistematis di Universitas Leipzig, mengatakan, “Musim panas kami akan menjadi lebih kering dan lama sebagai akibat dari perubahan iklim. Dengan demikian kami berasumsi di masa depan, ini akan lebih penting untuk mengelola hutan dengan anggapan bahwa mereka memiliki keragaman tinggi.”

Jawaban beragam

Namun, sebuah studi diterbitkan di Journal of Ecology memperlihatkan bahwa jawabannya tidaklah sesederhana seperti yang diperkirakan.

Para peneliti yang dipimpin oleh Hans de Boeck dari University of Antwerp melaporkan bahwa mereka melihat berbagai penelitian yang disebut sebagai stabilitas ekosistem dan keanekaragaman hayati saat iklim ekstrim — yaitu panas yang tidak biasa, kekeringan atau banjir.

Jawabannya, mereka menyimpulkan, sangat beragam. Ada beragam keanekaragaman hayati di ekosistem yang terlihat lebih cepat pulih setelah mengalami kejadian iklim ekstrim, namun apabila kejadian tersebut sangat ekstrim maka mungkin tidak bisa memberikan banyak perlindungan.

Hubungan antara keragaman dan ketahanan tidaklah selalu jelas. Para peneliti memiliki banyak pertanyaan untuk dijawab.

Dalam bahasa sains yang kaku, para peneliti menyimpulkan bahwa “ada banyak pengecualian yang tidak sepele terhadap pengetahuan umum yang diketahui bahwa keanekaragaman hayati meningkatkan stabilitas. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah konsep stabilitas keanekaragaman hayati yang ada saat ini diturunkan dari konteks fluktuasi ringan ke kejadian ekstrim.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/hutan-campuran-mungkin-tidak-tahan-terhadap-perubahan-iklim/feed/ 0
Perkembangan Fisik Manusia Mungkinkah Sudah Mencapai Batas? https://www.greeners.co/berita/perkembangan-fisik-manusia-mungkinkah-sudah-mencapai-batas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perkembangan-fisik-manusia-mungkinkah-sudah-mencapai-batas https://www.greeners.co/berita/perkembangan-fisik-manusia-mungkinkah-sudah-mencapai-batas/#respond Fri, 22 Dec 2017 08:08:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19702 Penurunan kapasitas manusia saat ini merupakan tanda adanya perubahan lingkungan hidup, termasuk ikllim.]]>

LONDON, 15 Desember 2017 – Umat manusia mungkin telah berkembang sejauh yang ia bisa. Keterbatasan kita untuk tumbuh memperlihatkan bahwa Homo sapiens telah mencapai tahapan yang baru. Satu spesies yang bisa mengubah iklim, menjadi kekuatan gerak bumi yang paling besar di planet ini, dan mengantarkan kepada era geologis yang baru, kini mungkin lebih menyadari adanya keterbatasan fisiologis.

Peneliti asal Perancis berpikir bahwa meskipun lebih banyak orang hidup lebih lama, rekor usia manusia ditetapkan dua dekade lalu oleh seorang wanita asal Prancis, Jeanne Calment, yang meninggal di Arles pada usia 122 tahun dan 164 hari.

Manusia di masa depan mungkin tidak akan bisa berlari lebih cepat daripada Usain Bolt, peraih medali emas Olimpiade 100 meter dan rekor dunia. Demikian pula manusia – yang rata-rata pertambahan tingginya bisa mencapai 8,3 cm pada 100 tahun terakhir – akan bisa bertumbuh lebih tinggi lagi. Pada satu titik, manusia akan kehilangan potensi fisiknya.

“Ciri-ciri ini tidak bisa lagi berkembang, meskipun adanya nutrisi, perkembangan medis dan pengetahuan. Hal ini memperlihatkan bahwa komunitas modern telah membiarkan spesies kita telah mencapai batasnya,” jelas Jean-Francois Toussaint dari Universitas Paris Descartes, yang memimpin studi tersebut. “Kita merupakan generasi pertama yang menyadari hal ini.”

Dan meskipun kendala tersebut tidak terpengaruh secara langsung dengan perubahan iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil, yang dicapai oleh manusia adalah kombinasi keterbatasan genetik dan lingkungan hidup.

“Hal ini akan menjadi salah satu tantangan terbesar abad ini, karena adanya tekanan dari aktivitas antropogenik bertanggung jawab atas dampak yang merusak bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup,” jelasnya.

“Penurunan kapasitas manusia saat ini yang kita lihat sekarang merupakan tanda adanya perubahan lingkungan hidup, termasuk ikllim, yang sudah berkontribusi pada berbagai kendala yang harus kita perhatikan.”

Profesor Toussaint dan koleganya melaporkan di Journal of Physiology bahwa mereka telah bekerja berdasarkan beberapa penelitian untuk melacak perkembangan yang tidak terduga dalam kapasitas manusia pada abad 20, semua menunjukkan pertanda adanya kemunduran pada beberapa tahun belakangan.

Tanah terlalu dieksploitasi

Mereka mengalkulasikan bahwa perubahan suhu pada beberapa dekade belakangan ini akan mempengaruhi batasan fisik manusia. Mereka juga memperhitungkan adanya stagnasi pada hasil panen, tanah yang terlalu dieksploitasi, dan gangguan manusia pada keanekaragaman hayati.

Banyak dari faktor tersebut sudah dieksplorasi. Para peneliti berhasil menjelaskan polusi planet dengan sampah plastik yang tidak bisa hancur dengan skala yang bisa mendefinisikan penanda geologis baru untuk era baru yang disebut sebagai Antroposen.

Populasi manusia diperkirakan akan melampaui proyeksi PBB pada abad mendatang dan beban konstruksi oleh manusia, – technosphere – telah diprediksi pada 30 triliun metrik ton.

Hal tersebut dan dampak pada iklim seperti pada sebelum gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer melalui pembangkit listrik, cerobong asap pabrik, dan pipa knalpot, akan meninggalkan tanda yang tidak terhapuskan dalam catatan geologis.

Perubahan negatif

Manusia berevolusi pada lingkungan yang kini secara dramatis berubah akibat aksi manusia. Namun, apabila catatan untuk umur, tinggi, dan penampilan atletik bisa bertahan, banyak orang berharap bisa hidup lebih sehat dan lama pada iklim yang lebih stabil dengan persediaan makanan yang cukup.

Namun, iklim sedang berubah dan hasil panen sedang terancam. Profesor Toussaint berpikir bahwa “sesuatu telah berubah tapi tidak untuk kebaikan. Tinggi manusia semakin menurun pada negara-negara Afrika, beberapa dekade belakangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa beberapa komunitas tidak bisa lagi menyediakan nutrisi yang cukup bagi anak mereka dan mempertahankan kesehatan bagi para penghuni muda,” jelasnya.

“Sekarang kita telah mengetahui batasan spesies manusia. Hal ini bisa menjadi tujuan yang jelas bagi negara-negara untuk menjamin bahwa kapasitas manusia telah menjangkau nilai tertinggi bagi sebagian besar populasi. Dengan kendala lingkungan hidup yang makin meningkat, hal ini akan menyerap lebih banyak energi dan investasi untuk menyeimbangkan tekanan ekosistem.

“Namun, apabila berhasil, kita harus melihat kenaikan tambahan dalam arti nilai tinggi, rentang hidup dan penanda biologis lainnya. Tantangan yang utama adalah untuk mempertahankan indeks ini pada tingkat tertinggi.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/perkembangan-fisik-manusia-mungkinkah-sudah-mencapai-batas/feed/ 0
Peneliti: Kadal Dapat Membantu Menjelaskan Dampak Iklim https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/#respond Thu, 07 Dec 2017 05:08:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19487 Para peneliti AS berpikir bahwa kadal dapat membantu mereka satu langkah lebih maju kepada mimpi lama, yaitu 'tabel periodik' untuk ekologi.]]>

LONDON, 23 November 2017 – Para peneliti AS berpikir bahwa kadal dapat membantu mereka satu langkah lebih maju kepada mimpi lama, yaitu ‘tabel periodik’ untuk ekologi.

Saat wawasan yang dikemukakan oleh ahli kimia dari Rusia Dmitri Mendeleev saat ini berarti ahli kimia dapat mengerti lebih baik hubungan antara elemen dan memprediksi reaksi mereka, sebuah klasifikasi relung ekologi dapat membantu para ahli biologi lebih mengerti dampak perubahan iklim terhadap jutaan spesies di Bumi.

Proyek yang mungkin tidak akan pernah bisa diselesaikan, namun sebuah studi terbaru di The American Naturalist memperlihatkan bahwa hal tersebut baru saja dimulai.

Sebuah relung ekologi merupakan keterkaitan antara kondisi lingkungan hidup dan perilaku biologi yang berarti seekor serangga, amfibi, reptil, burung atau mamalia dispesialisasikan untuk memberikan yang terbaik dari hidup mereka yang singkat. Misalnya, tawon membutuhkan pohon ara untuk hidup, dan apabila ada 900 spesies pohon ara di planet, 900 spesies tawon pohon ara akan berevolusi untuk mengisi relung ekologi tersebut.

Para peneliti telah menemukan apa yang menjadikan suatu relung. Mereka memilih habitat, diet, sejarah kehidupan, metabolisme dan pertahanan, kemudian mencatatkan antara tujuh hingga 15 variable dari setiap elemen tersebut. Lalu, mereka mengumpulkan semua data yang bisa ditemukan terkait 134 spesies kadal di empat benua dari 24 famili kadal (total 38 famili kadal yang ada). Selanjutnya, mereka mulai memaksakan perintah untuk bahan-bahan mereka.

Mereka bisa melakukan hal tersebut karena meskipun kadal gurun Australia merupakan spesies yang terpisah dari kadal gurun di Afrika atau Amerika, mereka mencari makanan, hidup atau tidur pada waktu tertentu, reproduksi dan mengeksploitasi habitat mereka dengan cara yang sama. Tekanan evolusi berarti bahwa mereka telah berkumpul untuk mengisi relung ekologi yang serupa.

“Menyimpulkan ciri ekologi utama pada skema yang sederhana tersebut memudahkan para ahli untuk memprediksi bagaimana spesies beraksi terhadap kondisi lingkungan yang baru dan potensi spesies asing,” jelas Eric Pianka, ahli ilmu hewan dari Universitas Texas, di Austin yang memimpin studi tersebut.

“Hal tersebut akan menjelaskan bagaimana relung bisa berevolusi di masa lalu dan bahkan bagaimana mereka bisa berevolusi di masa depan, semua mempunyai pengaruh langsung terhadap dampak perubahan iklim.”

Perubahan iklim menghadirkan masalah bagi para ahli biologi: manusia tergantung kepada alam melalui segudang cara; tanaman, jamur, dan spesies hewan mendaur ulang air dan udara di dunia, mempertahankan curah hujan, menyerbuki tanaman, menumbuhkan buah-buahan dan biji untuk nutrisi dan bahan kimia untuk farmasi, dan pabrik untuk baju serta perumahan.

Mereka membuang kotoran dan limbah biologis dan setiap spesies di ekonomi yang rumit ini bertahan hidup karena mereka hidup dalam relung ekologi.

Risiko global

Namun, ekosistem yang mendukung jaringan tersebut kini sedang menghadapi risiko di mana-mana akibat perubahan iklim. Mereka mengalami kekacauan pada skala global dan pada level negara atau lingkungan laut.

Tanpa kerangka intelektual yang bisa mengidentifikasikan fitur di mana ekosistem dan relung ekologi dalam ekosistem tersebut, mungkin memiliki kesamaan, para ahli konservasi biologi tidak tahu dari mana harus memulai.

Apa yang mereka ketahui adalah konservasi merupakan vital dan mahkluk hidup di dunia menjadi lebih kuat karena mereka sangat banyak dan bervariasi. Namun penelitian lain yang berasal dari Swiss yang melibatkan 2.200 spesies di 450 lanskap yang berbeda telah mengkonfirmasi sekali lagi bahwa semakin kaya ragam kehidupan, semakin produktif lanskap tersebut dan semakin baik untuk bertahan melawan perubahan.

Saat ini, para peneliti dari Texas, Oklahoma, dan Argentina telah mengkonfirmasi hal tersebut dengan yang disebut sebagai “Hipervolume relung kadal”, kemungkinan kehidupan ekuivalen dengan tabel periodik yang memungkinkan adanya prediksi yang bisa dikonfirmasi melalui observasi atau uji coba, tidak hanya bagi kadal tapi juga famili lainya.

Relung yang terpisah

Kadal, seperti burung, hidup di pohon, bertelur dan memangsa serangga. Tidak seperti burung, mereka bergantung pada lingkungan untuk mempertahankan suhu tubuh, sehingga yang bisa menjadi pangan satu hari bagi burung bisa membuat kadal hidup selama sebulan.

Dengan demikian, burung dan kadal menempati relung ekologi yang terpisah. Para ahli ekologi memiliki struktur atau perancah yang bisa menempatkan spesimen hewan dan habitat ideal dan menganggapnya sebaga berelasi dengan relung ekologi lainnya.

Namun, para peneliti menekankan, sejauh ini hanya 2,2 persen dari kadal yang diketahui dimasukkan ke dalam analisa mereka dan lingkungan merupakan hal yang dinamis karena berubah seiring dengan waktu.

Banyak hal yang bisa dilakukan saat meneliti klad, grup organisme yang memiliki leluhur dan keturunan yang sama.

“Dengan banyak tabel periodik diciptakan,” tulis mereka, “analisa komparatif antara klad yang lebih berbeda (ikan-katak-salamander-kadal-ular-burung-mamalia) menjadi lebih mungkin, akhirnya akan menuju pada pemahaman tentang relung evolusi pada vertebrata.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/peneliti-kadal-dapat-membantu-menjelaskan-dampak-iklim/feed/ 0
Menghangatnya Udara Perkotaan Membantu Pertumbuhan Pohon https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/#respond Wed, 06 Dec 2017 11:10:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19482 Dengan perubahan iklim global, pohon-pohon di seluruh dunia bertumbuh dengan cepat, namun di daerah urban yang panas pepohonan tumbuh lebih cepat.]]>

LONDON, 22 November 2017 – Pohon-pohon di perkotaan mulai merasakan panas. Dengan perubahan iklim global, pohon-pohon di seluruh dunia bertumbuh dengan cepat, namun di daerah urban yang panas pepohonan tumbuh lebih cepat.

Ruang tumbuh akar lebih sempit, daun akan bekerja ekstra akibat polusi, namun pohon-pohon limau yang berderet di Unter den Linden, Berlin dan jalan London di Paris, Prancis bertumbuh lebat, membuat hidup lebih baik bagi penduduk kota.

“Kami dapat menunjukkan bahwa pohon-pohon di kota dengan usia yang sama lebih besar daripada pohon-pohon di pedesaaan karena tumbuh lebih cepat,” jelas Hans Pretzsch, ahli kehutanan dari Technical University of Munich, yang memimpin studi terkait dengan perubahan perilaku pohon.

“Sementara perbedaan berkisar hingga seperempat pada usia 50 tahun, tetap masih di bawah 20 persen dari [pohon] yang berusia ratusan tahun.”

Sampling yang komprehensif

Para peneliti dari Jerman, Prancis, Jepang, Vietnam, Australia, Afrika Selatan, Cile, dan AS, menerbitkan laporan di Scientific Reports bahwa mereka mengambil sampel dari 1.383 pohon yang sudah dewasa di 10 kota dari berbagai zona iklim, mulai dari zona boreal, iklim sedang, Mediterania, dan subtropis.

Kota-kota tersebut adalah Berlin, Brisbane, Cape Town, Hanoi, Houston di Texas, Munich, Paris, Prince George di Kanada, Santiago de Chile dan Saporo di Jepang bagian selatan. Spesies yang diambil sampelnya antara lain cemara Sakhalin, cemara putih, pohon saru, berangan kuda, pohon London Plane, pohon belalang, kayu ek, mahoni Afrika, pinus, dan pohon ek air.

Para peneliti telah melakukan 73.685 observasi pertumbuhan diameter pohon selama beberapa dekade. Mereka menemukan bahwa pohon-pohon di perkotaan telah bereaksi terhadap dampak panas yang terjadi di pulau, secara bersamaan pertumbuhan yang lebih lama menjadi konsekuensi dari perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer akibat dari penggunaan bahan bakar fosil.

Penelitian semacam ini menjadi penting: lebih dari setengah manusia akan tingal di perkotaan dan pada tahun 2050, populasi di perkotaan akan tumbuh hingga dua pertiga dari total populasi manusia di Bumi.

Pohon dan ruang terbuka hijau menawarkan penduduk perkotaan perlindungan dari udara panas yang ekstrim, mereka membantu mengurangi biaya pemanas dan pendingin ruangan, dan meningkatkan taraf kesehatan yang dikalkulasikan menjadi satu kilometer persegi sama dengan US$1,2 juta. Penelitian kedua menunjukkan bahwa satu areal dengan pohon-pohon bisa menambah US$1 milyar bagi properti di California.

Suhu di kota-kota dalam bisa berkisar antara 3°C dan 10°C lebih hangat ketimbang cuaca di pedesaan. Meskipun kondisi lebih hangat berarti proses fotosintesa akan lebih kuat dan musim pertumbuhan lebih panjang, hal ini akan mempersingkat masa hidupnya, jelas para peneliti. Saat dunia mulai menghangat, pohon-pohon di pedalaman juga akan terkena dampak.

Pertumbuhan perkotaan tidak serta merta buruk bagi tanah yang akan dibangun jalan baru, perumahan, pabrik, dan apartemen pada beberapa abad sesudahnya. Sebuah konsorsium peneliti Rusia, Belanda, dan Italia, melaporkan di Journal of Cleaner Production bahwa mereka menemukan bahwa perkotaan bertumbuh seiring dengan bertambahnya ruang terbuka hijau.

Meskipun karbon dari tanah telah hilang saat jalanan diaspal, tanah di perkotaan masih bisa diperkaya secara sistematis oleh gambut, kompos dan tanaman baru. Pada tahun 2048, Moskow diharapkan akan berkembang hingga 30 persen dan kehilangan lebih dari 2000 kilometer persegi hutan, tanah pertanian, dan rawa.

“Hasil dari penelitian kami menunjukkan potensi urbanisasi untuk peningkatan stok karbon tanah organik. Proses ini, sebagai gantinya, akan bisa melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim,” kata Vyacheslav Vasenev, dari departemen agro-bioteknologi, RUDN atau People’s Friendship University of Moscow.

“Kesimpulan optimistis dari penelitian kami seharusnya bisa lebih dieksplorasi oleh perencanaan tata guna lahan dan akademisi, karena urbanisasi akan lebih penting di masa depan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-udara-perkotaan-membantu-pertumbuhan-pohon/feed/ 0
Ancaman Ganda Perubahan Iklim dan Nuklir https://www.greeners.co/berita/ancaman-ganda-perubahan-iklim-dan-nuklir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ancaman-ganda-perubahan-iklim-dan-nuklir https://www.greeners.co/berita/ancaman-ganda-perubahan-iklim-dan-nuklir/#respond Mon, 04 Dec 2017 06:55:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19458 Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh kelompok kerja yang diketuai Center for Climate and Security (CCS) disebutkan bahwa ancaman perubahan iklim dan nuklir saling terkait erat dan harus diatasi secara bersamaan.]]>

LONDON, 16 November 2017 – Ancaman perubahan iklim dan nuklir saling terkait erat dan harus diatasi secara bersamaan, jelas ahli asal AS. Peringatan tersebut berasal dari kelompok kerja yang diketuai oleh Center for Climate and Security (CCS), institut kebijakan publik yang terdiri dari ahli keamanan dan militer (banyak yang berasal dari angkatan bersenjata), dalam laporan yang menawarkan kerangka untuk memahami dan mengatasi masalah tersebut secara bersamaan.

Laporan tersebut dipublikasikan pada Pertemuan Iklim Tingkat Tinggi PBB tahun ini di Bonn, bersamaan dengan tur Asia dari Presiden Trump, yang mana isu senjata nuklir semakin mengemuka.

Profesor Christine Parthemore, mantan penasihat untuk departemen pertahanan AS yang juga sebagai salah satu ketua kelompok kerja tersebut. Parthemore mengatakan kepada Climate News Network:

“Dampak simultan dari perubahan iklim, tekanan sosial atau ekonomi, dan tantangan keamanan dapat meningkatkan dampak dari konflik antara negara yang memiliki senjata nuklir, meskipun konflik tersebut berasal dari kesalahan perhitungan atau mispersepsi. India dan Pakistan menjadi kekhawatiran utama.

“Mereka masih berurusan dengan isu air, bencana alam, terorisme, dan tekanan lainnya. Saat yang bersamaan, tipe senjata nuklir yang sedang dikembangkan dan kebijakan terhadap senjata tersebut meningkatkan ketegangan antar dua negara.

“Grup kami mempercayai bahwa ini resep untuk tidak hanya meningkatkan konflik tapi juga meningkatkan risiko konflik nuklir.

“Gambaran besarnya: rezim nonproliferasi nuklir dan perjanjian internasional perubahan iklim membantu mempertahankan tatanan global. Mereka menstabilkan kekuatan dan jika kita tidak melanjutkan untuk memperkuat kedua hal tersebut, kita akan melihat lingkungan keamanan global yang tidak bisa diprediksi.

“Hal ini sangat berbahaya terutama saat ini saat beberapa negara menjadi aktif memamerkan kekuatan nuklir ke satu sama lain. Korea Utara menjadi negara yang paling aktif.”

Para penulis mengatakan bahwa negara seperti Nigeria, Yordania, Mesir dan Arab Saudi sedang mengatasi masalah internal, termasuk iklim, ekonomi, keamanan, dan tuntutan lingkungan di saat mereka juga mengejar energi nuklir.

Keselamatan reaktor nuklir

Banglades sedang menghadapi masalah kenaikan muka laut dan perubahan pola gleyser Himalaya, sekaligus dengan terorisme dan overpopulasi. Laporan tersebut mengatakan bahwa tekanan-tekanan tersebut dapat memengaruhi keamanan dan keselamatan dari reaktor nuklir yang dibangun di negara tersebut dengan dukungan Russia.

Laporan tersebut mengatakan bahwa panas ekstrem, kenaikan muka air laut dan bencana alam sudah mempengaruhi stasiun dan dapat merobohkan instalasi nuklir di negara yang sudah kekurangan listrik dan menghadapi tekanan sosial dan politis. Dilema yang sama akan dihadapi saat menangani senjata nuklir.

Kekhawatiran terkait keamanan dan proliferasi nuklir membantu negara-negara tersebut untuk mengandalkan bahan bakar fosil dan mempertahankannya, “membuatnya semakin berbahaya, dan skenario ‘bisnis seperti biasa’ menjadi lebih diterapkan”. Lebih lanjut, penduduk akan dipaksa untuk bermigrasi akibat perubahan iklim dan faktor lainnya yang bisa mempengaruhi stabilitas keamanan dan nuklir.

Laporan tersebut menyatakan pentingnya untuk membangun teknologi untuk membantu negara-negara yang mempromosikan energi nuklir, termasuk desain keselamatan reaktor, sistem keamanan modern dan pengawasan dan kemampuan modeling perubahan iklim yang kuat.

Risiko baru

Hal ini menjadi kritis di saat potensial krisis regional di mana keamanan, iklim dan risiko nuklir harus bisa ditangani secepatnya: Asia Selatan, Timur Tengah, Laut Cina Selatan, Afrika Tengah dan Utara.

Laporan tersebut menyatakan banyaknya bukti yang mengatakan bahwa tantangan keamanan yang beragam, tren iklim dan isu nuklir dikombinasikan menjadi cara baru dan berpotensial dengan risiko tinggi. Memetakan kompleksitas ini merupakan hal yang kritis untuk melindungi kepentingan keamanan AS, tidak hanya di negara-negare tersebut, tapi juga di seluruh Indo-Asia Pasifik dan Eropa.

Hal ini mendorong AS untuk membangun rencana realistik, komunikasi lebih baik tentang risiko nuklir dan iklim, serta pendidikan bagi pembuat kebijakan terkait dengan cara praktis untuk bisa melindungi Amerika menghadapi tantangan tersebut.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa para pemimpin AS harus bisa mendorong keterlibatan publik dan pembuat kebijakan atas risiko konflik nuklir dan perubahan iklim dan harus menyampaikan risiko tersebut pada bahasa yang bisa dipahami oleh publik, misalnya menitikberatkan pada cara menurunkan ancaman terkait dengan infrastruktur yang lemah. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/ancaman-ganda-perubahan-iklim-dan-nuklir/feed/ 0
Suhu Dunia Akan Menghangat 3,4°C pada Tahun 2100 https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100 https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/#respond Mon, 27 Nov 2017 05:16:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19425 Mendekati tahun 2100, dunia dengan peningkatan suhu mencapai 3.4˚C mungkin akan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh generasi mendatang.]]>

BONN, 15 November 2017 – Mendekati tahun 2100, dunia dengan peningkatan suhu mencapai 3.4˚C mungkin akan menjadi realitas yang harus dihadapi oleh generasi mendatang — sedikit lebih hangat dari tahun sebelumnya, jelas para analis. Itu berita baiknya.

Tapi, berita buruknya ada dua. Pertama, perkembangan dalam prospek planet akan tetap membuat suhu global meningkat dua kali lipat dari target internasional 1,5˚C. Dan, kedua, akan bergantung kepada upaya dua negara — Cina dan India.

Mereka membuat kemajuan signifikan dalam menghadapi perubahan iklim pada dua belas bulan terakhir. Sebaliknya, sebuah laporan dari Climate Action Tracker (CAT), mengatakan bahwa tidak hanya kebijakan iklim AS yang mundur di bawah pemerintahan Trump. Banyak komitmen dari pemerintahan, secara individual, berjalan ke arah yang salah.

Berdasarkan tren saat ini, laporan CAT menyatakan bahwa pada tahun 2100 dunia akan mencapai jauh di atas target 1,5˚C untuk suhu maksimum Bumi yang bisa ditoleransi, dan disetujiui pada Kesepakatan Paris.

Climate Action Tracker merupakan kajian berbasiskan sains yang independen yang setiap tahun mencatatkan komitmen dan aksi negara-negara. Anggotanya adalah Climate Analytics, Ecofys dan NewClimate Institute.

Proyeksi emisi gas rumah kaca terbaru dari CAT, berdasarkan kebijakan pemerintahan yang ada, memperlihatkan penurunan 0,2°C ke 3,4˚C pada tahun 2100 dari yang diproyeksikan, dibandingkan dengan 3,6˚C pada bulan November 2016.

Ini merupakan kali pertama sejak CAT memulai mencatatkan aksi pada tahun 2009 di mana kebijakan nasional mulai terlihat menurunkan emisi dari perkiraan suhu akhir abad ini dan juga mengurangi gap emisi 2030 antara kebijakan saat ini dan yang dibutuhkan untuk mencapai batas 1,5°C.

Para analis mengatakan bahwa pertumbuhan emisi Cina telah melambat secara drastis. Pada dekade awal di abad ini, emisi Cina meningkat hingga 110 persen, namun antara tahun 2010 dan 2015, pertumbuhan telah melambat hingga 16 persen. Cina telah melampaui komitmen iklimnya, atau Nationally Determined Contribution sebagai upaya yang diambil oleh negara-negara di PBB.

Estimasi emisi CAT dari Cina di tahun 2030 adalah 13 GtCO2e hingga 0,7 GtCO2e lebih rendah dari prediksi 2016. Apabila Cina melanjutkan aksinya mengurangi batubara, hal ini akan mampu menurunkan 0,7 GtCO2e.

Satu Gt adalah satu gigaton, satu miliar metrik ton; CO2e, karbon dioksida ekuivalen, memperlihatkan dampak dari perbedaan definisi gas rumah kaca dalam kaitannya dengan CO2.

Perlu pengkajian

Sama halnya dengan Cina, India berhasil meningkatkan aksi iklimnya, menurut para analis. Apabila Draft Electricity Plan diimplementasikan secara penuh, maka emisi pada tahun 2030 akan menjadi 4,5 GtCO2e – hampir 1 GtCO2e lebih rendah dari yang diprediksikan oleh CAT tahun lalu.

Apabila India memperkuat NDC untuk mencapai ambisi Draft Electricity Plan, maka target emisi akan mendekati jangkauan target Paris yaitu 1,5˚C.

“Sangat jelas siapa pemimpin di sini: saat AS tidak beraksi, Cina dan India mengambil kepemimpinan, ” jelas Bill Hare dari Climate Analytics. “Namun, keduanya butuh kajian lebih lanjut dan penguatan, untuk komitmen Paris mereka.”

“Sepanjang tahun lalu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang cukup substansial dalam mengembangkan kebijakan iklim, dan hal tersebut memberikan dampak yang dapat dilihat terkait dengan proyeksi emisi global. Contohnya, saat energi terbarukan menjadi lebih rendah, banyak yang kini beralih dari batubara,” ujar Niklas Höhne dari NewClimate Institute. Namun, CAT menunjukkan bahwa banyak pemerintahan tidak mengambil kesempatan terkait dengan energi terbarukan.

Laporan tersebut bersifat mozaik, memperlihatkan detail terkait dengan tren yang memberikan harapan. Contohnya, para penulis saat ini berpikir emisi global di bawah kebijakan pada tahun 2030 akan setidaknya mencapai 1,7 GtCO2e setiap tahun, lebih rendah dari proyeksi tahun lalu.

Kenaikan emisi

Namun, ada kesimpulan negatif juga. Hal tersebut akibat mundurnya AS dari Kesepakatan Paris, sehingga ada kemunduran signifikan pada perkembangan untuk mencapai limit yang ditargetkan.

Apabila semua pemerintahan bisa sepenuhnya mengimplementasikan Kesepakatan Paris, NDC mereka, suhu global yang diproyeksikan meningkat pada tahun 2100 akan mencapai 3,2˚C di atas level pra-industri, lebih tinggi dari 2,8˚C pada tahun lalu, karena AS.

Proyek CAT memprediksikan emisi global akan mencapai 9 hingga 13 persen pada tahun 2020 dan 2030, akibat pertumbuhan emisi dari negara-negara seperti Turki, Indonesia dan Arab Saudi. Dari 32 negara yang dianalisa, sebanyak 17 negara akan mengalami kenaikan lebih dari 20 persen pada periode tersebut.

Sebagian besar NDC tidak setara dengan kontribusi yang dibutuhkan untuk mencapai Kesepakatan Paris untuk jangka panjang. Hanya tujuh pemerintahan yang berhasil mengimplementasikan 2°C atau 1,5°C cocok dengan target tersebut, sementara empat lainnya tidak didukung oleh kebijakan yang cukup.

Saat yang bersamaan, 16 dari 32 negara yang dianalisa, emisi diprediksi akan melebihi NDC. Negara-negara tersebut adalah AS, Australia, Brasil, Meksiko, dan Kanada. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/suhu-dunia-menghangat-34c-tahun-2100/feed/ 0
Emisi Karbon Meningkat di Tahun 2017 https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017 https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/#respond Thu, 23 Nov 2017 05:50:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19419 Analisa tahunan dari Global Carbon Project (GCP) mengatakan bahwa pertumbuhan emisi global di tahun 2017 terjadi akibat pertumbuhan emisi di Cina dan negara berkembang lainnya, dan target Paris bisa tidak tercapai.]]>

LONDON, 13 November 2017 – Emisi karbon dunia diprediksi akan meningkat sekitar dua persen setelah tiga tahun pada kondisi yang stabil. Hal tersebut merupakan kemunduran terhadap upaya memperlambat pemanasan Bumi dan menunjukkan kerapuhan dari perjanjian iklim internasional, Perjanjian Paris, jelas para peneliti.

Dari tahun 2014 hingga 2016, emisi CO2 global dari bahan bakar fosil dan industri tidak mengalami peningkatan yang cukup berarti. Kondisi yang relatif stabil ini, berikut adanya pertumbuhan emisi lebih dari tiga persen tiap tahunnya pada tahun 2000an, memberikan harapan akan negara-negara di dunia telah berhasil memisahkan antara pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan suhu global. Hal ini meningkatkan konsekuensi dari pemanasan yang dipicu oleh kadar gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer, dalam reaksi terhadap konsumsi bahan bakar fosil.

Namun, analisa tahunan dari Global Carbon Project (GCP) terkait dengan tren siklus karbon global menekankan bagaimana gentingnya kemerosotan yang terjadi saat ini dalam pertumbuhan emisi global yang sebenarnya. Publikasi tersebut dikeluarkan bersamaan dengan Pertemuan Iklim PBB 2017, COP 23, yang berlangsung di Bonn.

Mereka mengatakan bahwa pertumbuhan emisi global di tahun 2017 terjadi akibat pertumbuhan emisi di Cina dan negara berkembang lainnya, dan penemuan mereka menunjukkan bahwa target Paris bisa tidak tercapai.

GCP merilis tiga makalah untuk jurnal Nature Climate Change (verifikasi), Environmental Research Letters (tren terbaru), and Earth System Science Data Discussions (siklus karbon lengkap).

“Perlambatan pada pertumbuhan emisi dari tahun 2014 hingga 2016 selalu menjadi keseimbangan yang rumit, dan setidaknya dua persen peningkatan pada tahun 2017 dengan jelas menunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima perlambatan yang ada,” kata Robbie Andrew, periset senior di CICERO, Centre for International Climate Research, di Oslo, dan salah satu penulis laporan tersebut.

“Meskipun kita memproyeksikan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil dan industri meningkat dua persen pada tahun 2017, jumlah besar emisi masih tetap ada dan [laju] pertumbuhan antara satu persen dan tiga persen merupakan kemungkinan yang berbeda mengingat kesulitan-kesulitan dalam membuat proyeksi. Komitmen global yang dibuat di Paris pada tahun 2015 untuk mengurangi emisi tidak bisa diimbangi oleh aksi-aksi yang ada,” jelas Glen Peters, direktur penelitian CICERO yang memimpin salah satu studi.

Peters menambahkan bahwa terlalu awal untuk mengklaim bahwa keadaan sudah membaik dan memulai perjalanan menuju nol emisi. Namun GCP, proyek penelitian global yang berada di bawah inisiatif penelitian Future Earth tentang keberlanjutan global, mengatakan bahwa sementara emisi meningkat hingga dua persen pada tahun 2017, tidak mungkin untuk mengatakan apakah ini kembalinya pertumbuhan atau hanya peningkatan satu kali.

Pengaruh Cina

Cina, pengemiter gas rumah kaca terbesar di dunia, mengendalikan pertumbuhan emisi secara tidak terduga pada tahun 2000an dan berada di belakang perlambatan yang kini terjadi. Hal ini merupakan pendorong utama pada tahun 2017.

“Cina menghasilkan hampir 30 persen emisi karbon dioksida global, dan naik-turunnya ekonomi Cina meninggalkan tanda pada pertumbuhan ekonomi global,” jelas Jan Ivar Korsbakken, peneliti senior CICERO dan salah satu penulis.

Emisi Cina turun hingga satu persen pada tahun 2015 dan stabil pada tahun 2016, namun diproyeksikan meningkat antara 0,7 persen dan 5,4 persen pada tahun 2017, dengan perhitungan terbaik menggunakan data awal 3,5 persen pada tahun 2017.

Emisi AS diproyeksikan menurun hingga 0,4 persen tahun ini, lebih lamban dari 1,2 persen rata-rata per tahun pada satu dekade belakangan karena adanya ide kembali menggunakan batubara.

Para ahli GCP mengharapkan emisi India meningkat hingga 2 persen, lebih rendah dari rata-rata enam persen pada satu dekade belakangan, akibat intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi.

Penantian yang lama

Hal ini secara ‘tentatif’ memproyeksikan emisi Eropa akan menurun 0,2 persen pada tahun 2017, lebih lamban dari pada penurunan 2,2 persen rata-rata per tahunnya dibandingkan dekade sebelumnya. Emisi pada negara-negara lainnya, merepresentasikan 40 persen dari total global, akan meningkat hingga 2,3 persen.

Emisi global CO2 dari bahan bakar fosil dan industri akan mencapai hingga 37 miliar ton pada tahun 2017, dan ini menurut analisa menjadi rekor tertinggi. Hasil dari kegiatan manusia (bahan bakar fosil, industri dan perubahan tata guna lahan) akan mencapai hingga 41 miliar ton, sama dengan rekor yang dicapai pada tahun 2015.

“El Niño tahun 2015-2016 menyebabkan kondisi panas dan kering pada daerah tropis yang mengurangi serapan karbon oleh hutan dan berujung pada peningkatan rekor tertinggi untuk konsentrasi karbon dioksida di atmosfer,” jelas Profesor Corinne Le Quéré, direktur Tyndall Centre, Universitas East Anglia, UK, yang menjadi analis utama.

Hal tersebut membutuhkan sedikitnya sepuluh tahun untuk para peneliti percaya diri memverifikasi perubahan pada emisi dengan menggunakan pengukuran konsentrasi atmosferik karbon dioksida.

Profesor Le Quéré mengatakan, “Global Stocktake di bawah Kesepakatan Paris akan terjadi setiap lima tahun sekali dan ini memberikan tekanan luar biasa bagi komunitas peneliti untuk mengembangkan metode dan pengukuran yang dapat memverifikasi perubahan emisi berdasarkan siklus lima tahunan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/emisi-karbon-meningkat-di-tahun-2017/feed/ 0
Mengubah Pangan dapat Mengantisipasi Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/mengubah-pangan-dapat-mengantisipasi-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengubah-pangan-dapat-mengantisipasi-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/mengubah-pangan-dapat-mengantisipasi-perubahan-iklim/#respond Thu, 16 Nov 2017 09:31:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19365 Dunia dapat menyediakan pangan bagi tambahan jutaan orang dengan mengubah bahan pangan yang tahan dengan kondisi lokal.]]>

LONDON, 7 November 2017 – Para ilmuwan AS dan Italia telah mengerjakan strategi untuk bisa memberikan makan bagi tambahan 825 juta orang dan di mana mereka harus menanamnya. Menu terbaru bagi global dapat melayani hingga 10 persen lebih kalori dan 19 persen lebih protein dengan mengurangi 14 persen air hujan dan 12 persen irigasi.

Rahasianya: perubahan pola pertumbuhan tanaman pangan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, pada dunia yang kian menghangat dengan pola curah hujan yang menjadi susah diprediksi dan kekeringan serta gelombang panas menjadi lebih sering terjadi dan intens.

Artinya, beberapa tempat menjadi lebih rentan untuk bahan pangan tradisional seperti beras, gandum, tepung jawawut, tebu dan bit gula dan beralih ke kacang-kacangan tanah, kedelai, sorgum, akar-akaran dan umbi-umbian.

Perubahan iklim telah terjadi melalui beberapa hal, misalnya panen anggur di Eropa menjadi lebih awal, menjanjikan masa depan untuk anggur di Inggris bagian selatan, dan panen sukses pertama black truffle di Wales Selatan, Inggris.

Namun, secara garis besar, hal tersebut justru mengkhawatirkan: adanya prediksi penurunan produksi kopi di Amerika Selatan dan bagi petani gandum di Eropa, Asia dan Amerika. Ada peringatan bahwa perubahan iklim dapat menghantam keras petani Afrika dan varietas pangan tradisional tidak bisa beradaptasi dengan kondisi baru.

Penyimpangan besar

Kyle Davis dari Columbia University’s Earth Institute di US dan koleganya melaporkan pada jurnal Nature Geoscience dengan mencocokkan model penggunaan air di peternakan dan membuat peta dari 14 tanaman pangan penting di dunia.

Mereka menemukan bahwa model terbaru untuk distribusi pangan mereka dapat menyimpan air di 42 negara, termasuk Australia, India, Meksiko, Maroko, dan Afrika Selatan, sama halnya dengan Central Valley di California dan Sungai Nil di Mesir.

Beberapa region, misalnya di US Midwest, akan terus menghadapi kelangkaan air di manapun pangan ditanam. Namun, setidaknya bagi 63 negara, seperti Etiopia, Kenya dan Spanyol, bergantung pada impor makanan, redistribusi makanan akan bisa mencapai 20 persen lebih tinggi nilai kalori atau protein dan meningkatkan kemampuan diri sendiri secara umum.

Penelitian semacam ini bergantung kepada kondisi lokal dan membuat penilaian yang dapat memberikan hasil terbaik bagi para petani dan komunitasnya. Petani secara tradisional sudah melakukan hal tersebut.

Namun, peningkatan rata-rata suhu global sebesar 1°C pada akhir abad ini berarti bahwa tradisi lokal dipertanyakan. Truffle asal mediterania, Tuber melanosporum , sangat tergantung dengan oak Mediterania dan kondisi iklim di Perancis selatan dan Italia utara. Namun, para peneliti Inggris melaporkan pada Climate Research bahwa mereka telah sukses memanen spesimen seberat 16 gram di Monmouthshire, di Wales.

Truffle hitam merupakan salah satu pangan termahal di dunia. Sukses yang terjadi akibat perubahan iklim, lebih karena kebetulan.

“Ini merupakan salah satu spesies truffle terbaik di dunia dan potensi industri sangatlah besar,” jelas Paul Thomas dari University Stirling di Skotlandia, dan Mycorrhizal Systems Ltd, salah satu penulis.

“Kami menanam banyak pohon untuk melihat ketahanan mereka namun kita tidak mengira bahwa spesies mediterania ini dapat tumbuh di Inggris. Ini jelas merupakan pengembangan yang menarik.”

Titik awal

Perubahan iklim akan bertindak sebagai undian global: akan ada pemenang. Namun, saat populasi global terus meningkat, dan panas ekstrem, kekeringan, badai serta banjir menjadi lebih sering, akan lebih banyak yang kalah.

Para peneliti Nature Geoscience berargumen bahwa perubahan pertanian menjadi titik awal dan bukan jawaban akhir. Pilihan panen musti beradaptasi dengan kondisi lokal dan budaya.

“Analisa kami menunjukkan bahwa redistribusi pangan yang dipanen dapat menggunakan teknologi dan pengetahuan yang sudah ada di suatu negara untuk menawarkan keuntungan dari ketahanan pangan dan lingkungan,” jelas Dr Davis dan koleganya.

“Secara khusus, hasil kami sangat menggembirakan bagi beberapa negara yang berkutat dengan kelangkaan air, ketahanan pangan atau keduanya.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/mengubah-pangan-dapat-mengantisipasi-perubahan-iklim/feed/ 0
Bersiaplah Menghadapi Dunia yang Lebih Panas 3°C dalam 80 Tahun ke Depan https://www.greeners.co/berita/bersiaplah-menghadapi-dunia-lebih-panas-3c-80-tahun-depan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bersiaplah-menghadapi-dunia-lebih-panas-3c-80-tahun-depan https://www.greeners.co/berita/bersiaplah-menghadapi-dunia-lebih-panas-3c-80-tahun-depan/#respond Wed, 15 Nov 2017 08:42:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19352 PBB memprediksi dunia akan menghangat sekitar 3 derajat Celcius pada tahun 2100 meskipun negara-negara di dunia berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca pada tahun 2015. ]]>

LONDON, 31 Oktober 2017 – Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh PBB, pemerintah sudah harus menerima bahwa kita akan tinggal di dunia yang lebih hangat 30C ketimbang saat ini pada akhir abad ini, kecuali mereka mempercepat upaya penurunan emisi gas emisi rumah kaca.

Saat ini, jelas PBB, bahkan mengimplementasikan sepenuhnya tujuan Kesepakatan Paris (yang dicapai pada 2015) hanya akan menutupi sepertiga dari yang diperlukan bagi dunia untuk menghindari dampak perubahan iklim.

Hal tersebut akan membuat “suhu naik hingga 30C pada tahun 2100 sangat mungkin terjadi” – artinya bahwa pemerintah perlu melakukan komitmen yang lebih kuat saat merevisi komitmen tersebut pada tahun 2020.

“Seandainya Amerika Serikat meninggalkan Kesepakatan Paris pada tahun 2020, hal tersebut justru akan menjadi lebih suram,” seperti tertulis dalam Emissions Gap report, yang disusun oleh UN Environment dan akan dipublikasikan minggu depan pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn, Jerman.

Laporan tersebut menyatakan bahwa komitmen nasional yang dibuat dua tahun lalu hanya bisa mencakup sepertiga pengurangan emisi yang diperlukan pada tahun 2030 untuk bisa mencapai target iklim yang disetujui. Dan, laporan tersebut menyatakan bahwa sektor swasta dan kota dan grup lainnya di bawah level nasional tidak cukup cepat berkembang untuk menutup gap yang ada.

Kesepakatan Paris bertujuan untuk menahan pemanasan global di bawah 20C, dengan target lebih ambisius yaitu 1,50C. Suhu rata-rata global semakin meningkat sebagai konsekuensi dari pemanasan yang didorong oleh level gas rumah kaca yang tinggi di atmosfer, sebagai reaksi terhadap konsumsi global bahan bakar fosil.

Memenuhi target di Paris akan mampu mengurangi dampak iklim yang berbahaya pada kesehatan manusia, penghidupan dan ekonomi di seluruh dunia. Namun, laporan tersebut menyarankan cara-cara praktis untuk membuat penurunan emisi lebih dalam dan cepat melalui aksi untuk pengurangan dengan beberapa pilihan di sektor pertanian, bangunan, energi, kehutanan, industri, dan transportasi.

Aksi kuat untuk penghangat iklim lainnya, seperti hidroflorokarbon, melalui Kigali Amendment untuk Protokol Montreal, dan polutan iklim lainnya seperti karbon hitam, juga digunakan untuk memberikan kontribusi. Amandemen ditujukan untuk meninggalkan penggunaan dan produksi dari hidroflorokarbon, bahan kimia yang digunakan pada pendingin udara, lemari es, dan insulasi busa.

“Setahun setelah Kesepakatan Paris memasuki masa implementasi, kita masih bertemu pada situasi di mana kita tidak melakukan hal yang cukup untuk menyelamatkan ratusan juta orang dari masa depan yang suram,” jelas Erik Solheim, pimpinan UN Environment.

“Hal ini tidak dapat diterima. Apabila kita menginvestasikan kepada teknologi yang tepat, menjamin bahwa sektor swasta terlibat, kita masih bisa menepati janji yang kita buat untuk anak kita untuk melindungi masa depan mereka. Namun, kita harus melakukannya sekarang.”

Puncak emisi

Emisi CO2 telah menjadi stabil sejak tahun 2014 akibat energi terbarukan yang digerakkan di Cina dan India. Hal ini memberikan harapan bahwa emisi telah memuncak seperti seharusnya pada tahun 2020 untuk mencapai prediksi iklim yang sukses.

Namun, laporan tersebut mengingatkan bahwa gas rumah kaca lainnya, seperti metan, masih meningkat dan pertumbuhan ekonomi global dapat dengan mudah membuat emisi CO2 meningkat kembali.

Pada 30 Oktober, Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat pada kecepatan yang menembus rekor pada tahun 2016 terhadap level tertinggi mereka 800.000 tahun yang lalu.

Perubahan yang mendadak di atmosfer yang terjadi pada 70 tahun yang lalu tidak pernah diprediksikan, jelas laporan tersebut.

Laporan Emissions Gap menyatakan bahwa komitmen Paris saat ini membuat emisi tahun 2030 akan mencapai 11 hingga 13,5 gigaton CO2 ekuivalen (GtCO2e) di atas level yang diperlukan untuk bisa mencapai target 20C. Satu gigaton setara dengan setahun emisi transportasi di Uni Eropa, termasuk dunia penerbangan.

Gap emisi pada kasus target 1.50C adalah 16 hingga 19 GtCO2e, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.

Memperlambat momentum

“Kesepakatan Paris telah mendorong aksi untuk iklim, namun momentumnya semakin goyah,” jelas Dr. Edgar Gutiérrez-Espeleta, Menteri Lingkungan Hidup dan Energi Costa Rica dan presiden 2017 UN Environment.

Menghindari pembangunan tenaga listrik berbahan bakar batubara dan mempercepat penghapusan yang ada akan lebih membantu. Setidaknya ada 6.683 pembangkit listrik tenaga batu bara di dunia dengan kapasitas total 1,964 GW.

Apabila mereka beroperasi hingga akhir dan tidak diretrofit dengan carbon capture and storage (sebuah teknologi kontroversial dan belum terbukti secara komersial), mereka akan mengemisi hingga 190 GtCO2e.

Pada tahun 2017, tambahan 273 GW pembangkit listrik sedang dalam konstruksi dan direncanakan pengembangan hingga 570 GW. Pembangkit baru ini akan berujung kepada emisi sebesar 150 GtCO2e. Sepuluh negara yang mencakup hingga 85 persen dari seluruh pembangkit listrik, yaitu Cina, India, Turki, Indonesia, Vietnam, Jepang, Mesir, Bangladesh, Pakistan, dan Korea Selatan.

Laporan lainya, dari 1 Gigaton Coalition, menunjukkan bahwa proyek energi terbarukan dan efisiensi energi di negara berkembang dapat menurunkan 1,4 GtCO2e pada tahun 2020 – disediakan oleh komunitas internasional untuk menagih janji memobilisasikan 100 milyar dolar per tahun untuk membantu negara berkembang beradaptasi dengan perubahan iklim dan mengurangi emisi mereka. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/bersiaplah-menghadapi-dunia-lebih-panas-3c-80-tahun-depan/feed/ 0
Lautan, Sumber Energi Angin untuk Dunia https://www.greeners.co/berita/lautan-sumber-energi-angin-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lautan-sumber-energi-angin-dunia https://www.greeners.co/berita/lautan-sumber-energi-angin-dunia/#respond Mon, 13 Nov 2017 10:43:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19329 Para ilmuwan menyatakan bahwa turbin bawah laut mampu mewujudkan dunia yang digerakkan oleh angin, menjalankan semua energi yang dibutuhkan oleh peradaban manusia saat ini.]]>

LONDON, 25 Oktober 2017 – Dua ilmuwan asal California berhasil menemukan cara bagaimana mewujudkan dunia tenaga angin yang dapat menyediakan seluruh kebutuhan planet dengan energi angin tanpa merusak pemandangan dengan turbin di setiap puncak bukit.

Jawabannya adalah dengan menggeser turbin angin ke lautan. Kekuatan angin yang berada di atas permukaan laut mampu menggerakkan 18 miliar kilowatt, setara dengan permintaan energi global saat ini.

Para ilmuwan melaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences bahwa meskipun turbin angin di daratan dapat menghasilkan listrik pada laju 1,5 watt per meter persegi, lintang tengah Atlantik Utara dapat menghasilkan lebih yaitu hingga 6 watt per meter persegi.

Pada perhitungan yang hipotetis, mereka memperhitungkan angin sebagai energi kinetik yang bisa dieksploitasi. Kecepatan angin di lautan setidaknya 70 persen lebih tinggi dari kecepatan angin di daratan. Kecepatan angin di permukaan di Atlantik Utara dapat mencapai 11 meter per detik dan 13,5 meter per detik di Hemisfer Selatan, dan dalam teori cukup untuk menghasilkan 20 hingga 80 watt per meter persegi.

Dunia energi terbarukan

Para peneliti pada tingkat ini tidak dapat menjawab masalah energi dunia. Sebaliknya mereka menunjukkan, sekali lagi, kemungkinan dunia bisa digerakkan oleh energi terbarukan ketimbang dengan bahan bakar fosil yang bisa meningkatkan tingkat gas rumah kaca di atmosfer dan berpotensi menciptakan bencana pemanasan iklim dan perubahan iklim.

Ini merupakan satu langkah maju dari bebeberapa tahun belakangan. Pada tahun 2013, para ilmuwan di Universitas Delaware menyimpulkan bahwa angin, sinar matahari dan energi terbarukan lainnya mampu menjawab seluruh kebutuhan energi di Amerika Serikat.

Grup lainnya, termasuk Universitas Stanford di Amerika, tidak hanya mendukung penelitian sebelumnya namun berhasil memperluasnya, dengan menggunakan roadmap untuk setidaknya 139 dari 197 negara pada Desember 2015 mengambil langkah untuk menahan pemanasan global tidak lebih dari 2°C pada tahun 2100.

Namun, hukum termodinamika menghadirkan masalah teknis. Salah satunya adalah energi selalu disimpan, sebuah ladang angin ‘menghilangkan’ energi angin yang menerpa turbin menjadikannya lemah untuk turbin berikutnya.

Jadi meskipun, secara teori, angin dapat bergerak pada laju 60-80 watt per meter persegi, “penyeretan turbin” tersebut dapat memperlambat kecepatan angin pada setiap langkah.

Walaupun demikian, para teknisi dapat menantikan memanen 3 hingga 5 watt per meter persegi, yang lebih tinggi dari energi yang didapatkan di daratan.

Seseorang harus membuat perhitungan. “Apakah angin menjadi lebih cepat karena tidak ada yang bisa memperlambat mereka? Apakah peternakan angin yang raksasa tersebut justru memperlambat kecepatan angin sehingga lebih rendah daripada angin di daratan?” kata Ken Caldeira, ilmuwan senior pada departemen ekologi global, Carnegie Institution for Science, Stanford.

Masalah untuk diselesaikan

“Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah atmosfer di atas lautan dapat menghasilkan lebih banyak energi ketimbang di daratan? Pada prinsipnya, jawabannya adalah : iya. Peternakan angin di lautan terbuka terbentang hingga tiga juta kilometer persegi yang, secara teori, dapat memanen energi lebih banyak di atmosfer dan membangkitkan tenaga yang dibutuhkan dunia saat ini.

Masih ada beberapa masalah lain yang belum terpecahkan : tantangan membangun turbin yang cocok untuk lautan terbuka dan variasi musim untuk energi angin; mengumpulkan arus laut dan menghantarkan kepada kota-kota di dunia, dan masalah yang lebih besar terkait dengan politik nasional dan global. Namun, berdasarkan modeling yang rumit, tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut untuk bisa dilakukan.

“Sementara turbin bawah laut belum hadir dalam skala komersial, hasil kami menunjukkan bahwa teknologi semacam itu apabila dimungkinkan secara teknis dan ekonomis dapat berpotensi menyediakan tenaga bagi manusia,” jelas para ilmuwan. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/lautan-sumber-energi-angin-dunia/feed/ 0
Jumlah Serangga di Eropa Mengalami Penurunan Signifikan https://www.greeners.co/berita/jumlah-serangga-eropa-mengalami-penurunan-signifikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jumlah-serangga-eropa-mengalami-penurunan-signifikan https://www.greeners.co/berita/jumlah-serangga-eropa-mengalami-penurunan-signifikan/#respond Sun, 12 Nov 2017 11:51:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19326 Jumlah serangga terbang di beberapa wilayah Jerman telah menurun hingga tiga-perempat pada 27 tahun terakhir. Dampak ini sangat mengkhawatirkan karena serangga akan "terbang" menuju kepunahan di banyak negara di Eropa.]]>

LONDON, 20 Oktober 2017 – Jumlah serangga terbang di beberapa wilayah Jerman telah menurun hingga tiga-perempat pada 27 tahun terakhir. Wilayah yang dijadikan sampel merupakan area perlindungan alami sehingga terbebas dari pestisida dan gangguan lainnya. Dampak ini sangat mengkhawatirkan karena serangga akan “terbang” menuju kepunahan di banyak negara di Eropa.

Biaya untuk ekosistem alami dan ekonomi manusia akan sangat meresahkan. Serangga berpolinasi 80 persen dari tanaman liar, memangsa spesies yang berpotensi menjadi hama, mendaurulang sampah tanaman dan hewan dan merupakan pangan 60 persen dari burung yang ada. Salah satu perkiraan menetapkan bahwa nilai polinasi serangga pada $57 miliar per tahun di Amerika Serikat.

Serangga mulai menghilang

Para peneliti sudah mengungkapkan kekhawatiran terkait dengan menghilangnya jumlah kupu-kupu di Eropa, yang merupakan konsekuensi dari perubahan iklim. Namun, penelitian terakhir tidak membedakan spesies individu ataupun kelompok. Studi tersebut berkonsentrasi pada sebagian kecil serangga terbang di Jerman pada musim tumbuh.

Penelitian yang dipublikasikan di Public Library of Science journal, PLOS ONE menyusun 1.503 data dari serangga bersayap, semuanya tertangkap di perangkap standar di lapangan, pada 63 lokasi unik di daerah lindung di dataran rendah di Jerman saat musim semi, musim panas dan awal musim gugur mulai dari tahun 1989 hingga 2016. Data tersebut mengungkapkan kisah yang menggelisahkan: rata-rata kelompok serangga yang terbang berdasarkan musim menurun hingga 76 persen pada kurang dari tiga dekade. Pada puncak musim panas, penurunan tersebut mencapai 82 persen.

Penurunan tersebut konsisten pada tipe habitat yang berbeda, — bukit pasir, lahan yang luas, dan padang rumput yang subur dan kering, tanah kosong, tutupan semak, dan lainnya –, dan perubahan tata guna lahan atau cuaca, atau perubahan pada habitat yang tidak dapat dijelaskan.

Para peneliti telah mengidentifikasikan beberapa alasan bahwa satu spesies atau kelompok serangga akan menghadapi risiko perubahan iklim. Mungkin karena pembungaan lebih awal mengganggu siklus makan atau karena beberapa spesies pada ekosistem berubah dengan adanya peningkatan suhu.

Namun, selalu ada asumsi yang tidak diutarakan bahwa spesies lain atau kelompok spesies lainnya mungkin mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut, dengan memperluas jangkauan mereka. Studi ini berdasarkan observasi yang dibuat di satu negara saja.

Meski demikian, penemuan tersebut mengimplikasikan bahwa ekosistem pada seluruh bagian Eropa dapat terpengaruh pada skala lebih besar dan setiap level.

Tren menurun

“Saat seluruh ekosistem bergantung kepada serangga untuk makanan dan sebagai polinator, ia menempatkan penurunan serangga pemakan burung dan mamalia pada konteks yang baru. Kami tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila tren menurun ini terus terjadi tanpa ada tindakan,” kata Hans de Kroon, seorang ahli ekologi di Universitas Radboud di Nijmegen, Belanda, yang menjadi salah satu penulis.

“Satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah untuk bisa mempertahankan kondisi dengan perhatian yang lebih. Kita perlu mengurangi tindakan yang memiliki dampak negatif, seperti penggunaan pestisida dan mencegah menghilangnya lahan pertanian yang penuh dengan bunga. Namun, kita juga perlu bekerja keras untuk memperluas daerah dilindungi dan menurunkan perbandingan daerah dilindungi berbatasan dengan lahan pertanian.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/jumlah-serangga-eropa-mengalami-penurunan-signifikan/feed/ 0
Menghangatnya Lahan Berdampak Buruk bagi Atmosfer https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-lahan-berdampak-buruk-bagi-atmosfer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menghangatnya-lahan-berdampak-buruk-bagi-atmosfer https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-lahan-berdampak-buruk-bagi-atmosfer/#respond Sat, 11 Nov 2017 07:07:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19324 Ketika lahan di dunia semakin menghangat, mereka akan berpotensi untuk melepaskan sejumlah karbon yang berbahaya ke atmosfer.]]>

LONDON, 18 Oktober 2017 – Ketika lahan di dunia semakin menghangat, mereka akan berpotensi untuk melepaskan sejumlah karbon yang berbahaya ke atmosfer. Kenaikan suhu dapat berarti peningkatan kadar karbon dioksida yang diserap oleh mikroba.

Eksperimen tanah tertua dan terlama di dunia ternyata tidak menawarkan jalan keluar yang mudah bagi hutan untuk terus menyerap karbon atmosferik yang dihasilkan dari kendaraan bermotor, pembangkit listrik dan cerobong pabrik yang merupakan pembakaran bahan bakar fosil, meningkatkan kadar gas rumah kaca dan menaikkan termometer planet pada angka yang lebih tinggi. Kesimpulan yang didasarkan kepada beberapa ujicoba tersebut dipublikasikan pada jurnal Science.

Budget karbon

Sejak tahun 1991, para peneliti telah mengukur lalu lintas karbon tanah di Harvard Forest, Massachusetts, AS. Hutan yang diteliti merupakan beberapa plot dengan ukuran enam meter persegi. Beberapa dibiarkan tumbuh dengan liar. Beberapa memiliki kabel listrik yang ditanamkan ke dalam tanah untuk memberikan panas sekitar 5°C yang kemungkinan terjadi pada abad ini. Beberapa memiliki tanah yang terganggu namun tidak dihangatkan. Para peneliti mencoba setiap kombinasi dan dibandingkan dengan kehilangan karbon tanah pada waktu tertentu.

Mereka mengukur fase kehilangan karbon yang substansial dari lahan yang dihangatkan, bergantian dengan fase kehilangan yang tidak terdeteksi. Mereka mengukur kehilangan karbon lahan ke atmosfer, dan stasis, namun tidak pernah ada bukti yang diamati bahwa lahan yang dihangatkan akan dapat menyimpan karbon dengan lebih efisien. Hasilnya, lahan yang dihangatkan kehilangan 17 persen karbon yang disimpan oleh tanah pada kedalamanan 60 cm ketimbang tanah yang tidak dihangatkan.

“Kami tahu bahwa respirasi lahan mikroba merupakan hal yang besar dan alami, sumber gas rumah kaca ke atmosfer. Menggunakan penelitian pemanasan secara jangka panjang sebagai jendela melihat perubahan iklim di masa depan, kita melihat bahwa pemanasan memiliki dampak yang luar biasa namun terputus pada emisi gas rumah kaca,” jelas Kristen DeAngelis, asistan profesor mikrobiologi dari Universitas Massachusetts, di Amherst, salah satu penulisnya.

Budget karbon, — aliran karbon masuk dan keluar dari atmosfer –, merupakan inti dari semua prediksi perubahan iklim. Perbandingan yang tinggi dari gas rumah kaca di atmosfer akan meningkatkan suhu planet, berpotensi pada level yang berbahaya. Apabila manusia meninggalkan bahan bakar fosil dan beralih kepada panas matahari dan angin pada kecepatan yang cukup maka mereka harus bergantung kepada alam. Hutan akan menyerap lebih banyak karbon, lahan basah akan terus-menerus menyimpan bagian tanaman menjadi lahan gambut, dan selanjutnya.

Namun, sudah ada bukti bahwa pemanasan lahan akan menjadi tidak begitu efektif dalam menyimpan karbon dioksida. Selanjutnya proses untuk memahami ekonomi bawah tanah dengan lebih baik dan mengidentifikasikanagen-agen yang dapat mengontrol lalu lintas karbon pada lapisan tanah atas.

Studi terbaru memperlihatkan beberapa prediksi yang bisa diandalkan terkait dengan dampak pemanasan, setidaknya pada lahan di hutan kayu keras dengan temperatur sedang. Sudah ada bukti bahwa hutan tropis, di atas tanah, mungkin melepaskan lebih banyak karbon dari yang disimpan akibat adanya perubahan tata lahan untuk peternakan dan pertanian. Sekarang lebih jelas bahwa karbon yang disimpan di lahan hutan akan kembali ke atmosfer.

Lahan-lahan dunia

“Untuk melihatnya dalam konteks, setiap tahun, kebanyakan berasal dari pemanasan bahan bakar fosil, kita telah melepaskan sebanyak 10 miliar tons karbon ke atmosfer. Hal tersebut menyebabkan kenaikan pada konsentrasi karbon dioksida atmosferik dan pemanasan global, ” jelas Jerry Melillo, direktur emeritus Ecosystems Centre of the Marine Biological Laboratory, di Woods Hole, Massachusetts, yang memimpin studi tersebut.

“Lahan-lahan di dunia mengandung sekitar 3.500 miliar metrik ton karbon. Jika sejumlah signifikan karbon lahan ditambahkan ke atmosfer akibat adanya aktivitas mikroba pada lahan yang lebih hangat, akan mempercepat proses pemanasan global. Dan saat hal ini dimulai, akan sulit untuk ditangani. Tidak ada tombol berhenti.”

Manusia mampu untuk menurunkan emisi dengan menutup pembangkit listrik tenaga batubara, kata Profesor Melillo.

“Namun, apabila mikroba di seluruh lanskap bereaksi pada pemanasan dengan cara yang sama dengan yang kita amati di lahan hutan, maka fenomena timbal balik ini akan berlangsung untuk beberapa waktu dan kita tidak akan mampu menghentikan mikroba tersebut. Hal yang menjadi perhatian lebih adalah besarnya karbon yang mudah terdekomposisi yang terdapat di Artik. Apabila lahan tersebut mencair, maka fenomena timbal balik tersebut menjadi komponen yang penting pada sistem iklim, dengan perubahan iklim berkembang pada dunia yang kian menghangat.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/menghangatnya-lahan-berdampak-buruk-bagi-atmosfer/feed/ 0
Penguapan Menyimpan Potensi Energi Terbarukan https://www.greeners.co/berita/penguapan-menyimpan-potensi-energi-terbarukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penguapan-menyimpan-potensi-energi-terbarukan https://www.greeners.co/berita/penguapan-menyimpan-potensi-energi-terbarukan/#respond Fri, 10 Nov 2017 08:58:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19315 Alur penguapan air ke atmosfer mampu menghidupkan hingga 325 gigawatts setara dengan 69 persen pembangkit listrik nasional AS tiap tahunnya. Proses yang sama akan mampu menghemat 25 triliun galon air setiap tahunnya]]>

LONDON, 6 Oktober 2017 – Para ilmuwan AS telah mengidentifikasikan sumber baru energi terbarukan: penguapan air. Alur penguapan air ke atmosfer mampu menghidupkan hingga 325 gigawatts setara dengan 69 persen pembangkit listrik nasional AS tiap tahunnya. Proses yang sama akan mampu menghemat 25 triliun galon air setiap tahunnya atau setara dengan seperlima dari konsumsi air di AS.

Teknologi yang sama dapat digunakan sebagai baterai alam untuk menyimpan energi terbarukan saat angin gagal memutar turbin atau saat tidak digunakan pada malam hari.

Namun, proyek ini baru dilaksanakan di dalam laboratorium. Ujicoba skala kecil semacam ini, yang disebut sebagai mesin penguapan, menunjukkan bahwa sumber baru, secara teori dapat melengkapi teknologi energi terbarukan yang sudah lebih terbangun.

Hal ini bahkan akan bekerja lebih efisien pada landskap yang panas, rentan dengan kekeringan: California, Arizona, dan Nevada, jelas para peneliti.

BACA JUGA: Silikon Menjadi Revolusi Energi Terbarukan

Tim dari Universitas Columbia menuliskan laporan pada journal Nature Communications bahwa mereka mendasarkan kalkulasi pada data dari 934 stasiun cuaca di seluruh Amerika Serikat untuk memperhitungkan potensi kekuatan, — atau lebih sering dikenal dengan panas laten –, yang dikemas oleh aliran ke atas dari molekul air berasal dari semua danau dan penampungan air lebih besar dari 0,1 kilometer persegi di AS. Mereka tidak memasukkan sungai, tanah pertanian, pesisir, dan danau besar.

Teknologi uji coba ini mengeksploitasikan biologi dan fisika alam. Mesin penguapan mengontrol kelembaban dengan aksi menutup cahaya dan pelebaran dan kontraksi spora bakteria sebagai reaksi dari proses ini ditransferkan ke generator yang menghasilkan aliran.

Penelitian ini merupakan salah satu contoh dari besarnya skala dan cakupan dari kepintaran yang didemonstrasikan berkali-kali oleh laboratorium dunia untuk mencari alternatif dari bahan bakar fosil yang telah lama mendorong ekonomi manusia namun mengancam dengan adanya pemanasan global dan perubahan iklim.

BACA JUGA: Penurunan Oksigen di Laut Dapat Terjadi Lagi

Para peneliti AS telah mengeksploitasi penelitian komputer dan meningkatkan teknologi yang ada untuk menunjukkan, berulang kali, bahwa AS dapat digerakkan oleh angin, cahaya matahari dan air dan apa yang bekerja di AS mungkin bisa mendorong pembangunan di berbagai belahan dunia. Argumen saat ini adalah kurangnya niat politik.

Namun, para peneliti di Universitas Columbia tidak membuat klaim tersebut: mereka merancang cara mereka sendiri untuk mengeksploitasi siklus air pada kondisi yang akan mengurangi penguapan pada situasi yang terhangat dan kering dan bersamaan dengan energi elektrik sifon dari proses tersebut.

Mereka juga mendemonstrasikan potensi sistem tersebut sebagai batere energi terbarukan yang mengeksploitasikan infrastruktur yang ada, seperti tempat penampungan air atau danau.

Namun, mereka belum mengetes teknologi tersebut untuk skala lebih besar dan di luar dari laboratorium: pada tempat penampungan air atau di rumah kaca. Penelitian terbaru mengkalkulasikan potensi energi bergerak ke atas dari air yang jatuh, baik pada hari-hari yang dingin juga yang panas.

“Kami memiliki teknologi untuk mengambil energi dari angin, air, dan matahari namun penguapana juga sama kuatnya,” jelas Ozgur Sahin, seorang ahli biokimia dari Universitas Columbia dan penulis senior. “Kami sekarang bisa menuliskan angka pada potensinya.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/penguapan-menyimpan-potensi-energi-terbarukan/feed/ 0
Masa ‘Hiatus’ Pemanasan Global Sudah Berakhir https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/#respond Tue, 07 Nov 2017 07:47:21 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19207 Lautan Pasifik memasuki fase tidak-begitu-panas lagi, sebagai bagian dari siklus alami jangka panjang, namun kini sudah hampir mencapai akhir. Hal ini menjelaskan adanya penurunan nyata pada laju perubahan iklim.]]>

LONDON, 2 Oktober 2017 – Sudah resmi. Dunia menghangat berdasarkan prediksi. Masa yang paling banyak diperdebatkan, ‘masa jeda’ perubahan iklim sudah resmi berakhir. Dan, siapa yang bertanggung jawab terhadap mendinginnya planet meski kadar karbon dioksida semakin meningkat di atmosfer?

Salahkan Lautan Pasifik. Lautan Pasifik memasuki fase tidak-begitu-panas lagi, sebagai bagian dari siklus alami jangka panjang, namun kini sudah hampir mencapai akhir. Hal ini menjelaskan adanya penurunan nyata pada laju perubahan iklim. Keputusan ini dibuat oleh Met Office di Inggris, yang menyimpan data suhu tertua di dunia, sekaligus pionir ilmu cuaca.

“Setelah periode pada awal tahun 2000an ketika kenaikan suhu global berarti ada perlambatan, nilai pada tahun 2015 dan 2016 memecahkan rekor dan telah melampaui 1°C di atas level pra-industri,” jelas Profesor Stephen Belcher, kepala ilmuwan di Met Office. “Data dari Met Office menunjukkan bahwa laju perubahan iklim jangka panjang kini telah kembali kepada level pada pertengahan kedua di abad 20.”

Masa hiatus pada perubahan iklim yang terjadi antara tahun 1999 dan 2014 merupakan fenomena yang digembor-gemborkan oleh para ilmuwan penyangkal perubahan iklim sebagai bukti bahwa pemanasan global tidak ada atau bahkan sudah berhenti. Tetapi, hal tersebut juga memberikan teka-teki baru bagi pada ilmuwan iklim, ahli kelautan, ahli gunung es, dan prediksi cuaca: bagaimana suhu atmosferik tidak berjalan sesuai dengan ekspetasi?

Hal yang selanjutnya terjadi memberikan para akademisi sebuah kasus studi bagaimana ilmu pengetahuan dilakukan bahwa para peneliti di seluruh dunia melihat persoalan dari berbagai cara dan memberikan lusinan jawaban yang masih belum pasti.

Rekor pemanasan global

Rekor pertama, untuk pertengahan kedua pada abad 20, dunia menghangat secara tetap dan konsisten sesuai dengan prediksi berdasarkan efek rumah kaca. Artinya, karbon dioksida yang dilepaskan ke dalam atmosfer melalui pembakaran bahan bakar fosil sejak Revolusi Industri telah menangkap radiasi infra merah dan menghangatkan planet.

Namun, untuk dekade pertama dan setengah dari abad ini, laju pemanasan melambat. Beberapa peneliti berargumen bahwa efek tersebut hanya temporer, sementara yang lain mempertimbangkan bukti yang ada dan membayangkan apakah bisa dikatakan ada pelambatan sama sekali bahwa bukti tersebut, antara ilusi atau hanya melihat pelambatan pada jangka pendek. Peneliti lainnya berargumen bahwa sekalipun rata-rata laju kenaikan suhu telah menurun, jumlah panas ekstrim telah meningkat atau kenaikan jumlah erupsi volkanik mungkin menutupi radiasi matahari dan menurunkan suhu.

Peran lautan

Meski demikian, grup lainnya mengesankan bahwa lautan telah memegang peran yang tidak terduga atau penurunan yang terjadi tidak membuat perubahan sama sekali, dengan kata lain pemanasan akan terjadi seperti biasa.

Selama tiga tahun, rekor suhu global telah dipecahkan, setiap tahun bertambah panas dari tahun sebelumnya dan pada tahun 2016, suhu rata-rata global bertahan pada 1°C di atas rata-rata tahun industri jangka panjang.

Bagian dari penjelasan adalah suhu global meningkat akibat fenomena alami di Lautan Pasifik, yaitu El Niño. Namun, selama satu dekade atau awal abad, bagian lautan Pasifik lainnya mulai terungkap: Pacific Decadal Oscillation, yang menghembuskan hangat dan dingin beradasarkan pola putaran. Dan saat ini, jelas para ilmuwan Met Office, telah meredam laju pemanasan global.

Tahun ini akan mustahil untuk memecahkan seluruh rekor. Namun, para kepala ilmuwan di Met Office mengatakan, laju pemanasan telah meningkat. Dunia akan menjadi lebih panas.

“Akhir dari pelambatan pemanasan global diakibatkan oleh adanya perputaran suhu permukaan air laut di Pasifik, jelas Adam Scaife, yang memimpin prediksi bulanan-hingga-dekaden di Met Office. “Hal ini disebabkan adanya perubahan pada Pacific Decadal Oscillation yang memasuki fase positif, memanaskan daerah tropis, pantai barat Amerika Utara dan global secara keseluruhan.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/masa-hiatus-pemanasan-global-sudah-berakhir/feed/ 0
Meningkatnya Alarm bagi Karbon Hutan https://www.greeners.co/berita/meningkatnya-alarm-bagi-karbon-hutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=meningkatnya-alarm-bagi-karbon-hutan https://www.greeners.co/berita/meningkatnya-alarm-bagi-karbon-hutan/#respond Sun, 05 Nov 2017 10:55:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19286 Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa secara keseluruhan, hutan tropis pada abad ini telah melepaskan lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer dari yang bisa diserap.]]>

LONDON, 4 Oktober 2017 – Para auditor iklim, — para akuntan karbon yang mengkalkulasikan berapa banyak bahan bakar fosil dibakar sebelum planet menghangat pada level yang berbahaya –, mungkin harus kembali membaca buku dan memulai semua dari awal.

Salah satu tim ilmuwan AS menyarankan bahwa asumsi terkait dengan peran hutan ternyata bisa salah: secara keseluruhan, hutan tropis pada abad ini telah melepaskan lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer dari yang bisa diserap, demikian kesimpulan yang diambil.

Dan, studi kedua yang terpisah didukung oleh data dari AS memperlihatkan bahwa emisi dari gas rumah kaca, yaitu gas metan, setidaknya 11 persen lebih tinggi dari yang diprediksi pada tahun 2006. Jadi, perhitungan yang didasarkan kepada keseimbangan antara penggunaan energi di sektor industri dan masyarakat, dan peran dari mitigasi lahan serta meningkatkan perubahan iklim harus diperiksa kembali.

Berita tersebut menjadi berat saat ada penelitian yang mengisyaratkan bahwa, dalam definisi budget karbon, kemungkinan bisa menahan pemanasan global di bawah 2°C di atas level pra-industri, yang disetujui oleh hampir 200 negara pada tahun 2015, membuat banyak negara sudah mulai mengurangi bahan bakar fosil hingga nol dalam waktu 40 tahun.

Ilmu tidak pasti

Ketiga penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu ikilm merupakan ilmu yang tidak pasti dan prediksi kondisi atmosferik pada 30 atau 80 tahun mendatang akan menjadi lebih tentatif. Namun, ketiganya menunjukkan kesimpulan yang suram: dampak manusia terhadap atmosfer hanya meninggalkan pilihan antara masa depan yang berbahaya dan bencana. Saat peningkatan suhu, gleyser dan tutupan es meleleh, lautan menjadi lebih asam, banjir di daerah pantai, badai dan taifun menjadi lebih intens dan destruktif, aliran udara panas menjadi lebih berbahaya dan musim kemarau menjadi lebih mengerikan.

Semua ini terjadi karena banyak karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang dilepaskan ke atmosfer ketimbang diserap. Hutan di planet, utamanya hutan tropis, telah memainkan peranan yang besar dalam perhitungan karbon. Pohon tumbuh menggunakan proses fotosintesis dengan mengambil karbon dioksida dari udara untuk membentuk batang, dedaunan dan buah-buahan dan mengembalikan oksigen ke atmosfer. Jadi, selalu ada anggapan bahwa hutan-hutan di Amerika Tengah dan Amazon akan menyerap, setidaknya beberapa CO2 yang diemisikan dari cerobong asap pabrik dan polusi kendaraaan.

Namun, laporan para peneliti di Science journal yang menggunakan citra satelit dan pengukuran di lapangan, mereka menganalisa kepadatan karbon pada vegetasi kayu hidup di daerah Afrika, Amerika dan Asia selama satu dekade, antara tahun 2003 dan 2014. Pada setiap benua, kehilangan karbon ‘di atas tanah’ telah melebihi keuntungan dengan kerugian terbesar terjadi di daerah tropis Amerika. Kebanyakan dari kehilangan tersebut akibat penebangan pohon dan hutan untuk perkebunan dan peternakan.

“Penemuan ini merupakan panggilan bagi dunia untuk melihat kondisi hutan,” jelasAlessandro Baccini dari Woods Hole Research Centre di Massachusetts, yang memimpin studi tersebut. “Jika kita ingin mempertahankan suhu global naik ke level yang berbahaya, kita harus secara drastis menurunkan emisi dan meningkatkan kemampuan hutan untuk menyerap dan menampung karbon. Hutan menjadi satu-satunya ‘teknologi’ penyerap dan penahan karbon yang terbukti aman, murah dan tersedia, mampu memberikan efek riak yang menguntungkan, — mulai dari mengatur pola curah hujan hingga menyediakan kebutuhan hidup hingga komunitas adat.”

Emisi karbon

Laporan tim kedua yang dipublikasikan di jurnal Carbon Balance and Management mengestimasikan emisi karbon dari peternakan, — kebanyakan gas metan dari fermentasi enterik pada sapi dan hewan ternak lainnya, — telah diremehkan. Mereka memeriksa emisi ternak global pada tahun 2011 dan menemukan bahwa levelnya 11 persen lebih tinggi dari yang diestimasikan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change pada tahun 2006. Peningkatan juga muncul dari pengelolaan pupuk secara ekstensif pada peternakan.

“Pada beberapa region di dunia, jumlah ternak telah berubah dan pembiakan telah menghasilkan hewan yang lebih besar dengan kebutuhan pangan lebih besar. Hal ini, bersamaan dengan perubahaan pengelolaan peternakan, dapat meningkatkan emisi gas metan jauh lebih tinggi,” jelas Julie Wolff dari Departemen Pertanian, yang juga penulis senior.

“Gas metan merupakan moderator penting bagi suhu atmosferik Bumi. Ia mengandung empat kali lebih tinggi potensi pemanasan ketimbang karbon dioksida.”

Profesor Bill Collins dari Universitas Reading, Inggris, mengatakan, “Jika penelitian ini benar maka akan sulit untuk mencapai tujuan dari Kesepakatan Paris. Pertanian menjadi satu-satunya sumber gas metan dari aktivitas manusia yang berkontribusi ke atmosfer, mencakup lebih dari sepertiga emisi gas metan buatan manusia lainnya.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/meningkatnya-alarm-bagi-karbon-hutan/feed/ 0
Melelehnya Gleyser akan Mengacaukan Ekosistem https://www.greeners.co/berita/melelehnya-gleyser-mengacaukan-ekosistem/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melelehnya-gleyser-mengacaukan-ekosistem https://www.greeners.co/berita/melelehnya-gleyser-mengacaukan-ekosistem/#respond Sun, 29 Oct 2017 05:39:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19142 Tingkat penyusutan glasial yang cepat secara global telah mengancam jalan hidup kita saat ini, mulai dari keanekaragaman hayati hingga pariwisata, tenaga hidro hingga ketersediaan air bersih.]]>

LONDON, 15 September 2017 – Gleyser mencakup satu persepuluh dari permukaan bumi – tapi tidak untuk waktu yang lama. Gleyser secara global mengalami kemunduran dan kehilangan massal. Mereka berkurang dan meleleh dan hal tersebut akan menciptakan masalah di mana pun, jelas penelitian terbaru.

Antara tahun 2003 dan 2009, gleyser mencair pada skala yang sangat besar, yaitu sekitar 1.350 kilometer kubik air meleleh dari areal yang dulunya merupakan bongkahan es.

Es telah mengalami kemunduran di teluk di Alaska, Artik Kanada, Greenland dan Antartika. Pada musim panas, pegunungan Alps di Eropa telah menjadi lebih hangat pada 30 tahun belakangan, hujan salju berkurang dan 54 persen tutupan es di pegunungan telah menghilang sejak tahun 1850. Pada tahun 2100, puncak Alpine mungkin telah kehilangan sembilan persepuluh dari es yang masih menutup mereka di tahun 2003. Di Amerika Selatan, gleyser di Bolivia telah kehilangan hampir 50 persen dari massa mereka sepanjang 50 tahun terakhir.

Kanada di bagian barat, antara 60 hingga 80 persen es yang diukur pada tahun 2005 akan menghilang dan mengalir ke laut meningkatkan permukaan air laut di mana pun di bumi. Dan, menurut tim para ahli internasional dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, kehilangan gunung es menciptakan masalah bagi masyarakat yang tinggal di bagian hilir.

Gleyser pada basin Sungai Gangga, Brahmaputra dan Indus, saat ini berkurang hingga 24 miliar ton metrik es per tahunnya antara 2003 dan 2009, yang ditambahkan sekitar sepersepuluh dari seluruh kehilangan es gleyser di bumi ini. Kehilangan es di hulu berarti perubahan waktu, magnitude, dan frekuensi yang mengalir ke hilir, dan pada akhirnya akan berdampak kepada level sedimen dan nutrien baik bagi manusia yang menggantungkan diri kepada pertanian di bukit dan daerah dataran rendah, dan juga bagi ekosistem alami di sungai, danau, dan pantai.

Menurut para ahli, sudah waktunya untuk pemikiran yang lebih serius: kehilangan gleyser tidak bisa dilepaskan dari kompleksitas, misalnya perubahan bencana alam yaitu banjir dan kekeringan, di sektor pertanian, pariwisata, tenaga hidro, kehidupan budaya dan ekonomi politik.

“Kami tidak percaya dampak yang sangat dahsyat dari penyusutan gleyser di ekosistem hilir akan bisa sepenuhnya terintegrasi pada masa kini. Dari keanekaragaman hayati hingga pariwisata, dari tenaga hidro hingga ketersediaan air bersih, risiko yang dihadapi oleh gaya hidup kita saat ini sangatlah luas. Langkah pertama haruslah menyusun kembali cara kita melihat penyusutan gleyser, dan agenda riset yang mengakui adanya risiko bagi daerah yang terdampak,” jelas Alexander Milner, profesor ekosistem danau di University of Birmingham, Inggris, yang memimpin studi.

Empat tugas

Milner dan koleganya dari Alaska, Swiss, Norwegia, Austria, Prancis, Islandia, Denmark, Italia, dan universitas di Inggris lainnya, menginginkan komunitas sains global memikirkan tentang empat hal besar.

Mereka menginginkan teknologi baru untuk memetakan detail terkait hilangnya es dengan sangat tepat. Mereka menginginkan pemantauan global yang lebih baik untuk nutrien dan kontaminan yang kini menetes lebih deras dari gleyser ke hilir. Mereka menginginkan pemahaman yang lebih baik terkait dampak yang disebut para ilmuwan sebagai “jasa lingkungan” dari gleyser — termasuk apa yang terjadi dengan habitat salmon dan olahraga perikanan.

Mereka juga menginginkan adanya rencana kelola untuk perubahan yang terjadi di region gleyser yang lebih sensitif, dan mampu memasukkan peraturan internasional untuk melindungi yang mereka katakan sebagai “sumber air gleyser yang strategis.”

Para peneliti sudah lama memperingatkan adanya penyusutan gleyser bertahun-tahun lamanya. Mereka sudah menggarisbawahi alarm bagi region di Greenland, Asia Tengah, Antartika, dan Andes Bolivia.

Mereka menyatakan dengan tegas kaitan antara penyusutan gleyser dengan pemanasan global yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dari manusia dan memperingatkan bahwa penyusutan tersebut berisiko perubahan sosial dan katastrope bagi jutaan manusia.

Air gleyser

Jadi, studi terbaru menjadi ringkasan dari penelitian yang sudah dilakukan sejauh ini dan merupakan upaya untuk mengidentifikasi apa yang ahli gleyser, ahli geografi, ahli hidrologi dan ilmu sosial harus lakukan untuk mengerti masalah ke depannya dan mengidentifikasikan langkah-langkah untuk memulihkan dampak terburuk.

Mereka melihat adanya potensi konflik terkait dengan ketersediaan air yang menipis di bagian hilir dari yang dulunya merupakan sistem gleyser yang sempurna. Dan, mereka memperingatkan, ada dimensi religius.

“Misalnya, ribuan peziarah setiap tahunnya melewati Gleyser Gangotri di India, yang dianggap sebagai tempat sakral, dan di Peru, dan Areal Yukon di Kanada, masyarakat adat menganggap gleyser sebagai dewa. Di Peru, kehilangan es dan salju dari puncak gunung diasosiasikan dengan kepergian dewa dan akhir dunia. Pada Plato Tibet, penghuni di sana menganggap Gunung Salju Yulong rumah spiritual mereka, namun sudah 65 persen bermigrasi untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim dan memiliki penghasilan lebih berkelanjutan,” tulisnya.

“Pergolakan sosial ini jelas akan berujung kepada implikasi atas jasa yang sudah diberikan dari gleyser bagi populasi manusia.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/melelehnya-gleyser-mengacaukan-ekosistem/feed/ 0
Peningkatan Suhu Menurunkan Pemasukan Ekonomi https://www.greeners.co/berita/peningkatan-suhu-menurunkan-pemasukan-ekonomi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peningkatan-suhu-menurunkan-pemasukan-ekonomi https://www.greeners.co/berita/peningkatan-suhu-menurunkan-pemasukan-ekonomi/#respond Sun, 15 Oct 2017 11:33:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19000 Peningkatkan suhu akibat perubahan iklim tidak hanya mengancam untuk menghancurkan ekosistem di dunia, namun peningkatan panas di tempat kerja akan mengarah kepada penurunan signifikan terhadap produktivitas ekonomi.]]>

LONDON, 4 September 2017 − Kita kepanasan, kita kelelahan, dan kita bekerja lebih singkat. Peningkatkan suhu akibat perubahan iklim tidak hanya mengancam untuk menghancurkan ekosistem di dunia di mana hewan dan manusia bergantung hidup, namun peningkatan panas di tempat kerja akan mengarah kepada penurunan signifikan terhadap produktivitas ekonomi.

Penelitian yang masih berlangsung terkait dengan dampak peningkatan suhu pada sektor ekonomi memperlihatkan adanya penurunan produktivitas hingga 25 persen pada beberapa kasus.

Profesor Lars Nybo, wakil kepala Departemen Olahraga dan Nutrisi dari University of Copenhagen di Denmark, kini sedang melakukan penelitian yang disebut Heat-Shield (perisai panas) untuk proyek Uni Eropa.

Proyek ini menganalisa kenaikan suhu dapat berpengaruh kepada kesehatan dan produktivitas pekerja di bidang pertanian, transportasi, konstruksi, manufaktur dan turisme di Eropa.

Aspek hijau

“Ketika kita berbicara tentang perubahan iklim, fokus biasanya pada aspek “hijau’ atas apa yang akan terjadi di masa depan,” jelas Nybo pada jurnal online ScienceNordic.

“Namun, jika kalian ingin politisi dan pihak berpengaruh lainnya dapat melakukan sesuatu terkait dengan permasalahan peningkatan suhu, kalian juga perlu memahami aspek ekonomi. Ini yang menjadi fokus penelitian kami dan hasil awal kami menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat meningkat hingga 25 persen dari produktivitas sebuah perusahaan.”

Produktivitas ekonomi akan menurun tidak hanya di beberapa bagian di dunia yang sudah mengalami panas ekstrim, seperti di selatan Eropa, Timur Tengah, dan negara bagian selatan AS, namun juga di negara-negara dan perusahaan di Eropa timur, yang mengalami penurunan ekonomi drastis.

Tidak mengejutkan, hasil dari penelitian Heat-Shield menunjukkan sektor yang paling terkena dampak dari peningkatan suhu akan banyak meliputi pekerjaan luar ruangan dan juga dalam ruangan yang tidak memiliki atau sedikit akses ke pendingin ruangan.

“Di Uni Eropa, perusahaan ini mencakup 40 hingga 50 persen dari kedua tempat kerja dan produksi domestik bruto,” jelas Nybo.

“Jika produktivitas di sektor-sektor ini menurun hingga lima persen akan memberikan dampak yang besar.”

Hasil terbaru dari penelitian pergerakan waktu di sektor pertanian di Cyprus menunjukkan bahwa jam kerja para pekerja di sektor tersebut menurun hingga 25 persen ketika suhu mencapai 35 derajat Celcius dibandingkan dengan suhu 25 derajat Celcius atau lebih rendah. Peningkatan suhu juga memicu kecelakaan di tempat kerja.

Nybo mengatakan bahwa perkiraan sebelumnya memperlihatkan peningkatan suhu global akan menghasilkan penurunan produktivitas global antara satu hingga dua persen, berdasarkan perhitungan konservatif.

Solusi berkelanjutan

“Sangat paradoksikal saat, misalnya, Donald Trump mengatakan bahwa biaya terlalu mahal untuk menangani perubahan iklim ketika kita melihat bahwa akan jauh lebih mahal apabila kita tidak menghadapi masalah tersebut,” jelas Nybo.

“Beralih kepada solusi lebih hijau dan berkelanjutan akan membutuhkan investasi namun ada insentif ekonomi yang kentara pada jangka panjang.”

Peningkatan suhu sering disalahkan untuk peningkatan pada laju kematian pada pekerja asing yang terlibat di proyek konstruksi di Qatar.

Penelitian tahun 2016 oleh Max Planck Institute di Jerman menyimpulkan bahwa sepanjang Timur Tengah dan Afrika Utara, intensitas panas akan membuat bekerja di luar ruangan menjadi sangat tidak mungkin , pada pertengahan abad ini. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/peningkatan-suhu-menurunkan-pemasukan-ekonomi/feed/ 0
Pepohonan di Perkotaan Dorong Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan https://www.greeners.co/berita/pepohonan-perkotaan-dorong-peningkatan-kesehatan-dan-kesejahteraan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pepohonan-perkotaan-dorong-peningkatan-kesehatan-dan-kesejahteraan https://www.greeners.co/berita/pepohonan-perkotaan-dorong-peningkatan-kesehatan-dan-kesejahteraan/#respond Sun, 08 Oct 2017 08:52:56 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18933 Tumbuhnya pepohonan di ibukota dapat memberikan keuntungan. Tanaman hijau dapat mengubah kumuhnya daerah perkotaan menjadi sumber keuangan dan memerangi perubahan iklim secara bersamaan.]]>

LONDON, 29 Agustus 2017 – Berikut cara menghasilkan banyak uang di megapolitan: tanam lebih banyak pohon. Pepohonan di jalanan dan perumahan sudah bernilai $500 juta per tahun, dan pemerintah bisa menambahkan angka tersebut.

Hal ini hanya masalah mengakui keuntungan ekonomis dari menanam pohon. Pohon memberikan perlindungan, menyerap karbon, menghalangi polusi udara dan menyerap air. Saat melakukan hal-hal tersebut, pohon memperbaiki iklim, menghemat biaya pemanas dan pendingin ruangan, dan meningkatkan kesehatan publik.

Pelayanan ekonomi yang disediakan oleh pohon-pohon maple di Naples, Italia, atau pohon oak di Oakland di California, sangat diakui sehingga para ilmuwan dapat menentukan nilai dari kanopi perkotaan.

Mereka menemukan bahwa rata-rata tutupan pohon 39 meter persegi setiap penduduk sama dengan $35 untuk setiap penduduk di kota besar. Setiap satu kilometer persegi pohon di kota besar setara dengan $1,2 juta per tahun bagi warga yang berjalan di bawah rantingnya.

Dan, dari sampel di sepuluh kota-kota besar — yaitu daerah urban dengan 10 juta orang atau lebih — nilai rata-rata setiap kota untuk hutan, taman dan ruang terbuka hijau adalah $505 juta. Dan, untuk menggandakan uang tersebut, hanya perlu menanam lebih banyak.

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

“Kota-kota besar dapat meningkatkan keuntungan rata-rata hingga 85 persen,” jelas Theodore Endreny dari State University of New York, College of Environmental Science and Forestr, di Syracuse, New York.

“Jika pohon dapat ditanam pada daerah-daerah yang potensial, mereka akan bisa menyaring polusi udara dan air, mengurangi kebutuhan energi pada gedung dan meningkatkan kesejahteraan manusia sementara menyediakan habitat dan sumber daya alam bagi spesies lainnya untuk hidup di perkotaan.”

Endreny dan lima kolega lainnya dari Italia melaporkan di jurnal Ecological Modelling bahwa mereka sudah membuat analisa tentang potensi tutupan pohon yang sebenarnya dan kontribusinya, yang disebut oleh para ilmuwan sebagai jasa lingkungan, di sepuluh kota-kota besar di lima benua.

Daerah tersebut adalah Beijing di Cina, Buenos Aires di Argentina, Kairo di Mesir, Istanbul di Turki, London di Inggris, Los Angeles di AS, Mexico City di Meksiko, Moskow di Russia, Mumbai di India dan Tokyo di Jepang.

Pohon-pohon mempunyai nilai sudah lama ditentukan: para ilmuwan telah berhasil memperhitungkan kontribusi mereka terhadap nilai properti. Para peneliti juga telah memperlihatkan, berulang kali, bahwa hutan alami dengan cara yang berbeda merepresentasikan kekayaan lokal dan dapat memberikan lebih lagi apabila bisa dilindungi secara efisien.

Namun, hutan makin menghilang dengan laju yang sangat cepat. Jadi, penelitian terbaru mencoba untuk menempatkan nilai uang yang diberikan oleh pohon-pohon tersebut di kota-kota besar.

Para ilmuwan mengkalkulasikan kadar karbon monoksida, dinitrogen oksida, sulfur dioksida, dan jelaga dan partikel dari kendaraan dan sumber lainnya yang diserap oleh pohon-pohon di kota-kota, cara pepohonan mengisolasi bangunan dari dingin dan melindungi dari panas, dan cara pepohonan menyerap gas karbon dioksida, di sepuluh kota besar.

Mereka menemukan bahwa manusia diuntungkan secara ekonomi dari pohon pinus, dataran dan pohon palem di jalan-jalan. Rata-rata, pepohonan menyelamatkan anggaran kota hingga $11 juta karena mampu menahan limpahan air hujan yang biasanya hanya dialirkan ke selokan-selokan.

Menyimpan lebih besar

Limpahan air hujan tersebut diubah menjadi udara panas di perkotaan menjadi lebih sejuk pada saat musim panas.

Pada tahun 2016, para ilmuwan menghitung 40 kota besar dengan total populasi 722 juta orang, setara dengan sepersepuluh dari populasi manusia di planet Bumi. Dari sepuluh kota yang terpilih, rata-rata pepohonan mencakup 21 persen dari areal bangunan dan mereka bisa bertambah hingga 19 persen lagi. Implikasinya adalah pepohonan dapat menghemat pengeluaran penduduk kota dengan membuat hutan kota lebih banyak lagi.

“Menempatkan hasil tersebut pada skala besar sistem sosio-ekonomi menjadi bukti akan sejauh mana alam mendukung keberadaan individual dan komunitas dengan memberikan jasa lingkungan secara gratis,” kata Sergio Ulgiati dari University Parthenope di Naples, yang turut menulis laporan tersebut dan telah mendirikan laboratorium kesejahteraan perkotaan di Naples.

“Pemahaman lebih mendalam tentang nilai ekonomis dari jasa yang disediakan oleh alam akan meningkatkan keinginan kita untuk berinvestasi dalam upaya dan sumber daya menjadi modal konservasi dan menerapkan eksploitasi yang benar, sehingga kekayaan sosial, stabilitas ekonomi dan kesejahteraan bisa meningkat.” – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/pepohonan-perkotaan-dorong-peningkatan-kesehatan-dan-kesejahteraan/feed/ 0