kayu olahan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kayu-olahan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 03 Feb 2021 03:12:06 +0000 id hourly 1 Tengkawang, Pohon dengan Buah Bersayap yang Kaya Guna https://www.greeners.co/flora-fauna/tengkawang-pohon-dengan-buah-bersayap-yang-kaya-guna/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tengkawang-pohon-dengan-buah-bersayap-yang-kaya-guna https://www.greeners.co/flora-fauna/tengkawang-pohon-dengan-buah-bersayap-yang-kaya-guna/#respond Tue, 02 Feb 2021 03:00:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=31354 Tak selamanya buah jatuh dekat dari pohonnya. Di Kalimantan Barat terdapat jenis pohon Shore dari suku Dipterocarpaceae, yang buahnya dapat jatuh atau “terbang” menjauhi pohon induknya. Buah unik tersebut dikenal masyarakat dengan nama Tengkawang.]]>

Tak selamanya buah jatuh dekat dari pohonnya. Di Kalimantan Barat terdapat jenis pohon Shore dari suku Dipterocarpaceae, yang buahnya dapat jatuh atau “terbang” menjauhi pohon induknya. Buah unik tersebut masyarakat kenal dengan nama Tengkawang.

Di tanah air, eksistensi tengkawang tenar sejak dahulu kala. Buah bersayap ini banyak tumbuh di Pulau Kalimantan dan beberapa di antaranya berada di area Sumatra.

Tidak hanya di Indonesia, secara umum peta persebaran Shorea spp. hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Serawak, Sabah hingga Filipina.

Berdasarkan penelitian ahli, flora yang satu ini memiliki segudang khasiat. Nyaris seluruh bagian dari badan pohon bermanfaat untuk berbagai keperluan.

Klasifikasi Umum dan Ciri-Ciri Tengkawang

Untuk mengetahui klasifikasi tengkawang, kita harus mengidentifikasi buah tersebut mulai dari pohonnya. Shorea spp. sendiri merupakan satu dari lima anak suku Shoreae yang ada di dunia.

Ciri-ciri umum dari marga yang satu ini dapat kita lihat dari warna kulitnya yang kelabu hingga kehitaman, bertekstur licin, beralur, bersisik serta tampak mengelupas.

Bagian damarnya berwarna putih bening, kuning, cokelat serta hitam mengkilap. Mereka mempunyai daun penumpu berukuran kecil hingga besar, cenderung lekas luruh dan persisten.

Pada sebagian spesies, daun tersebut terlihat memiliki domatia sedang sebagian lainnya tidak. Keunikan paling kentara spesies shoreae terletak pada bentuk buah atau biji.

Biji tengkawang umumnya memiliki sayap, bila jatuh ia akan berputar dan tampak seperti helikopter kecil. Dimensi biji beragam tergantung jenisnya, mulai dari lebar 25-47 mm dan panjang 35-75 mm.

Pada bagian biji tersebut, tersedia tiga jenis sayap panjang dan dua jenis sayap pendek. Sayap-sayap inilah yang membuat lokasi jatuhnya biji tersebut kerap tak terduga.

tengkawang

Pada bagian biji, tumbuh tiga jenis sayap panjang dan dua jenis sayap pendek. Foto: Shutterstock.

Jenis Pohon Shore Penghasil Tengkawang

Dalam Buku Panduan Identifikasi Jenis Pohon Tengkawang (2013), para ahli botani mengelompokkan genus shorea ke dalam 11 kelompok, yang terbagi menjadi beberapa jenis berbeda.

Kelompok tersebut di antaranya Doona, Pentacme, Anthoshorea, Neohopea, Shorea, Brachypterae, Mutica, Ovalis, Pachycarpae, Rubella, dan Richetioides.

Di Indonesia sendiri, ada 15 jenis shorea penghasil tengkawang yang berhasil ahli identifikasi; 4 jenis berada di Pulau Sumatra, sedang 12 jenis lainnya merupakan flora endemik asli Kalimantan.

Jenis-jenis tengkawang tersebut termasuk dalam beberapa kelompok di atas, yakni Brachypterae, Mutica, Pachycarpae dan Shorea, dengan peta persebaran sebagai berikut:

1. Kelompok Brachypterae

  • palembanica (Ulu Kapuas, Sarawak, Sabah, dan Brunei)
  • scaberrima (Sarawak, Sabah, dan Purukcahu)

2. Kelompok Mutica

  • macrantha (Malaya, Sarawak, dan Sumatera bagian timur)
  • singkawang (Thailand, Malaya, Sumatera bagian timur, dan Lampung)
  • hemsleyana (Malaya, Sarawak, Sumatera bagian timur, dan Kapuas bagian hilir)

3. Kelompok Pachycarpae

  • amplexicaulis (Borneo kecuali di bagian barat daya)
  • macrophylla (Borneo)
  • mecistopteryx (Borneo)
  • pilosa (Kalimantan Barat sampai Sabah)
  • pinanga (Borneo)
  • praestans (Sarawak bagian tengah)
  • rotundifolia (Sarawak bagian tengah)
  • splendida (Kalimantan Barat, Sarawak, Muara Teweh)
  • stenoptera (Kalimantan Barat, Sarawak, Muara Teweh)
  • beccariana (Borneo utara: Kapuas, Sarawak, Sabah, dan Kalimantan Timur bagian utara)

4. Kelompok Shorea

  • seminis (Borneo, Filipina)
  • sumatrana (Thailand bagian selatan, semenanjung Malaya, dan Sumatera)

Manfaat Tengkawang dan Status Konservasinya

Tengkawang sempat menjadi komoditi andalan bagi Provinsi Kalimantan Barat. Di awal 1990-an, ekspor tanaman tersebut mencapai 3519,2 ton dengan nilai berkisar US$7.707.800.

Selain itu, flora yang satu ini mempunyai peran ekologis yang sangat penting sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, serta salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bagi masyarakat.

Bijinya mengandung lemak sebesar 70%, mirip dengan lemak cokelat namun dengan titik leleh lebih tinggi. Di Eropa, biji ini berguna sebagai bahan baku pembuatan cokelat dan juga kosmetik.

Secara tradisional lemak biji tengkawang berfungsi sebagai minyak sayur dan obat-obatan. Berkat nilai ekonomis tinggi, warga lokal juga menjualnya dalam bentuk mentah atau olahan.

Ketika sudah tua, pohon dari buah tersebut lantas ditebang. Kayu dari pohon ini bisa bermanfaat sebagai kayu olahan pembuat perabotan, konstruksi sampai dengan material bangunan rumah.

Perlu kita ketahui, kayu pohon tengkawang sendiri masuk dalam kelompok kayu meranti merah. Itu sebabnya, banyak orang awam yang menyebut tumbuhan ini sebagai pohon meranti.

Karakteristik kayu tersebut berbeda dengan jenis kayu lainnya, mereka terhitung tidak terlalu kuat terhadap pengaruh cuaca namun mudah diawetkan menggunakan campuran minyak diesel dan kreosot.

Sebagai informasi, akibat praktik kegiatan kehutanan yang tidak berkelanjutan dan tingginya tingkat deforestasi habitat tengkawang, membuat sulit untuk menemukan spesies flora endemik ini.

Melansir daftar merah IUCN, status konservasi tengkawang tergolong rentan dan terancam punah. Pemerintah sendiri telah menetapkannya sebagai jenis yang dilindungi dan melarang penebangan pohonnya.

Taksonomi Tengkawang

taksonomi tengkawang

Referensi

Panduan Identifikasi Jenis Pohon Tengkawang, Balai Besar Penelitian Dipterokarpa

Valentinus Heri, dkk., CIFOR

 
 

Penulis: Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tengkawang-pohon-dengan-buah-bersayap-yang-kaya-guna/feed/ 0
Nilai Ekspor Kayu Olahan Indonesia Capai USD 10.59 Miliar https://www.greeners.co/berita/nilai-ekspor-kayu-olahan-indonesia-capai-usd-10-59-miliar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nilai-ekspor-kayu-olahan-indonesia-capai-usd-10-59-miliar https://www.greeners.co/berita/nilai-ekspor-kayu-olahan-indonesia-capai-usd-10-59-miliar/#respond Wed, 14 Nov 2018 10:24:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21732 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, di tengah gejolak ekonomi kayu masih eksis. Hal ini ditandai dengan ekspor kayu olahan Indonesia yang cenderung meningkat.]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengapresiasi bisnis kehutanan yang kian berkembang. Siti mengatakan, di tengah gejolak ekonomi industri kayu masih eksis. Hal ini ditandai dengan ekspor kayu olahan Indonesia yang cenderung meningkat.

Secara keseluruhan sumbangan sektor kehutanan pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional didominasi kayu. Pada tahun 2014 nilainya sebesar Rp 74,6 triliun meningkat menjadi Rp 91,6 triliun pada tahun 2017.

“Nilai tersebut datang dari hasil ekspor kayu olahan yang cenderung meningkat dengan produksi kayu bulat dan (kayu ini) didominasi dari hutan tanaman. Negara-negara Asia, Amerika Utara dan Uni Eropa mendominasi tujuan ekspor kayu olahan Indonesia,” ujar Siti dalam sambutannya di acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) di Ruang Rimbawan Manggala Wanabhakti KLHK, Jakarta, Selasa (13/11/2018).

BACA JUGA: Ilegal Logging di Jambi, KLHK Amankan 42 Meter Kubik Kayu 

Pada tahun 2018 per bulan Oktober tercatat angka ekspor kayu olahan senilai USD 10.59 miliar. Sebelumnya, pada tahun 2017 produksi kayu bulat dari hutan alam sebanyak 5,8 juta meter kubik dan kayu bulat dari hutan tanaman industri sebanyak 38 juta meter kubik, dan pada tahun 2016 sebanyak 32 juta meter kubik.

Cina menempati peringkat pertama tujuan ekspor kayu Indonesia. Proporsinya pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun 2017, naik sebesar 18,52 %. Mengikuti dibelakangnya adalah Jepang, dan USA menggantikan Uni Eropa di posisi ketiga di tahun 2017.

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo mengatakan sektor usaha optimis menghadapi tahun 2019 meskipun berada di tengah perseteruan dagang Amerika Serikat dan Cina serta momen pemilihan kepemimpinan nasional.

“Fondasi kinerja sektor hulu di tahun 2018 cukup kuat, antara lain diindikasikan dari membaiknya harga kayu log, tren positif kenaikan produksi kayu nasional dan peningkatan perolehan sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL),” ujar Indroyono.

BACA JUGA: SVLK Tingkatkan Nilai Ekspor Kayu Indonesia Hingga 10,94 Miliar Dolar 

Ia mengatakan, dari sisi penilaian kinerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), datanya cukup menggembirakan. Kinerja IUPHHK mengalami kenaikan yang diukur dari perolehan sertifikat PHPL atau Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), baik yang bersifat mandatory maupun voluntary.

Menurut data APHI, perolehan sertifikat PHPL mandatory oleh IUPHHK-HA naik dari 121 unit menjadi 131 unit, sertifikat PHPL voluntary (FSC) naik dari 24 unit menjadi 26 unit. Untuk IUPHHK-HT, perolehan sertifikat PHPL mandatory sedikit menurun dari 92 unit menjadi 91 unit, namun peroleh sertifikat VLK mandatory naik dari 17 unit menjadi 44 unit dan perolehan sertifikat PHPL voluntary (IFCC-PEFC) naik dari 57 unit menjadi 63 unit.

Indroyono mengatakan, untuk memperkuat kinerja sektor hulu tersebut, APHI melalui kerjasama dengan PNORS Technology, mengembangkan sistem pemasaran dan perdagangan hasil hutan secara on line berbasis SVLK dalam bentuk bursa produk hasil hutan Indonesia “Indonesia Timber Exchange (ITE) System / E-Commerce”. Sistem ini telah diluncurkan melalui ekspor perdana ke Amerika Serikat pada awal tahun 2018 di Semarang.

“Sistem telah kita sempurnakan dan siap memfasilitasi anggota APHI dan industri kehutanan atau eksportir. Sistem ini untuk memasarkan kayu dan produk kayu olahan yang terhubung dengan jaringan pasar domestik dan dunia,” pungkas Indroyono.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/nilai-ekspor-kayu-olahan-indonesia-capai-usd-10-59-miliar/feed/ 0