kualitas air laut - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kualitas-air-laut/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 11 Jan 2018 13:17:38 +0000 id hourly 1 Mari Kenali Eutrofikasi yang Tengah Mengancam Teluk Jakarta https://www.greeners.co/berita/mari-kenali-eutrofikasi-tengah-mengancam-teluk-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mari-kenali-eutrofikasi-tengah-mengancam-teluk-jakarta https://www.greeners.co/berita/mari-kenali-eutrofikasi-tengah-mengancam-teluk-jakarta/#respond Fri, 05 Jan 2018 13:57:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19754 Laut menyimpan potensi yang sangat besar, termasuk sebagai penyedia sumber protein. Masalahnya, pembangunan dan pertambahan penduduk membuat laut tercemar dan menimbulkan berbagai masalah, salah satunya eutrofikasi.]]>

Oleh: Sarah Rosemery Megumi

Seiring berkembangnya pembangunan, meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan manusia dari waktu ke waktu, berbagai masalah lingkungan pun bermunculan, salah satunya adalah eutrofikasi. Eutrofikasi didefinisikan sebagai peningkatan unsur hara/nutrient (berupa fosfat, nitrat dan silikat) ke level yang sangat tinggi dan melampau batas yang dapat diterima oleh alam. Peningkatan unsur hara ini merangsang meledaknya populasi algae mikroskopik (fitoplankton) yang dikenal pula dengan fenomena pasang merah (Red Tide), baik populasi yang tidak beracun maupun yang beracun (Harmful Blooming Algae/HAB).

Kejadian marak algae merupakan masalah lingkungan serius karena dampaknya yang negatif terhadap ekosistem perairan, industri perikanan, dan kesehatan manusia. Beberapa dekade lalu, wilayah pesisir di seluruh dunia mengalami bencana dari meledaknya populasi mikro algae. Akibatnya, ribuan ton ikan mati dan kerugian yang ditimbulkan mencapai jutaan dolar. Kini, dampak ini terasa pula di Teluk Jakarta.

Dalam laporan penelitian pada tahun 2007 di Perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya, pakar oceanografi dan ahli peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Ir. Sam Wouthuyzen, M.Sc., menjelaskan bahwa terdapat dua penyebab utama eutrofikasi. Pertama, meningkatnya jumlah penduduk yang sangat tinggi dari tahun ke tahun. Kedua, pembukaan lahan yang cepat namun tidak tertata baik dan tidak ramah lingkungan untuk berbagai keperluan pembangunan.

Tingginya jumlah penduduk (>20 juta jiwa) dan tingkat pembukaan lahan untuk pembangunan tidak tertata, tidak terencana dan tidak ramah lingkungan di kota Jakarta berikut kota penyangganya (hinterland), seperti Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi, serta banyaknya sungai yang melintasi kawasan pertanian, perindustrian, perkotaan di daerah ini menjadi ancaman serius baik bagi lingkungan darat maupun lingkungan perairan seperti Teluk Jakarta. Menurutnya, bahan pencemar yang terus-menerus masuk ke Teluk Jakarta dengan tingkat yang makin tinggi setiap tahunnya akan mengakibatkan kualitas perairan di teluk ini semakin menurun.

“Semakin tinggi jumlah penduduk dan pembukaan lahan secara tidak ramah lingkungan terjadi, maka eutrofikasi akan terus berlangsung dan intensitasnya semakin kuat,” kata Sam kepada Greeners.

Kematian Ikan Massal

Kematian ikan massal di Teluk Jakarta sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2004, 2005, dan 2007 berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Pada kasus kematian massal ikan di Teluk Jakarta tahun 2004 dan 2005, koran Kompas (2004) dan Sinar Harapan (2004) melaporkan adanya dampak sosial dari kasus ini. Kedua harian ini menuliskan bahwa banyak nelayan kehilangan mata pencaharian disebabkan hasil tangkapan mereka tidak laku dijual, karena masyarakat takut memakan ikan dan produk laut lainnya yang berasal dari Teluk Jakarta.

Di sisi lain, laporan Sam tahun 2007 menjelaskan bahwa sejauh ini tidak ada catatan penduduk di sekitar Jabodetabek yang sakit atau meninggal akibat memakan produk laut dari perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya yang diakibatkan racun kuat dari mikro alge.

Tahun 2015 lalu, kejadian kematian ikan secara massive kembali muncul di Teluk Jakarta, tepatnya di pantai Ancol. Diduga penyebabnya adalah meledaknya jumlah populasi fitoplankton jenis Coscinodiscus spp yang menyerap oksigen sangat banyak sehingga kadar oksigen terlarut menipis dan memengaruhi keberadaan ikan-ikan di perairan tersebut.

Berdasarkan tulisan ilmiah dari pakar kelautan dan akademisi Dr. Anugerah Nontji, kasus marak algae yang sebenarnya terjadi mungkin lebih banyak lagi tetapi luput dari perhatian dan tidak dilaporkan. Kasus ini pun tidak hanya terjadi di Teluk Jakarta. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi di berbagai daerah Indonesia pada kurun tahun yang berbeda-beda.

Eutrofikasi juga menimbulkan beberapa kejadian marak algae dari jenis mikro algae berbahaya, diantaranya Pyrodinium bahamense var. compressum dan Gymnodinium bahamense, yang menyebabkan kematian pada manusia. Kejadian ini pernah terjadi di Lewotobi, Nusa Tenggara Timur, tahun 1983 dan juga menyerang Teluk Ambon pada tahun 1994. Hingga sekarang ini hanya sedikit anggota masyarakat yang sadar akan ancaman bahaya ledakan populasi mikro algae ini.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/berita/mari-kenali-eutrofikasi-tengah-mengancam-teluk-jakarta/feed/ 0
Pencemaran Teluk Jakarta Masih Didominasi Limbah Domestik https://www.greeners.co/berita/pencemaran-teluk-jakarta-masih-didominasi-limbah-domestik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pencemaran-teluk-jakarta-masih-didominasi-limbah-domestik https://www.greeners.co/berita/pencemaran-teluk-jakarta-masih-didominasi-limbah-domestik/#respond Thu, 15 Dec 2016 11:34:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15404 Kualitas air di kawasan teluk Jakarta dinilai masih relatif sama tanpa ada perubahan yang drastis. Hingga saat ini pencemaran berat di wilayah teluk Jakarta mayoritas masih bersumber dari limbah domestik rumah tangga.]]>

Jakarta (Greeners) – Kualitas air di kawasan teluk Jakarta masih relatif sama tanpa ada perubahan yang drastis. Hal ini dikatakan oleh Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut, Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Heru Waluyo saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon.

Menurut Heru, pencemaran berat di wilayah teluk Jakarta mayoritas masih bersumber dari limbah domestik rumah tangga. Hal ini disebabkan kawasan teluk Jakarta menjadi lokasi akhir dari berbagai macam distribusi limbah yang datang dari hulu 13 sungai di Jakarta. Oleh sebab itu, tingkat pencemaran yang paling tinggi pun terakumulasi di bagian hilir yang menyambung langsung ke laut.

BACA JUGA: Pencemaran di Teluk Jakarta Didominasi Limbah Domestik

Sumber pencemaran tersebut, lanjutnya, dibagi menjadi dua. Pertama, Point Sources (limbah industri) yang sumbernya tetap; dan kedua, Non Point Sources (limbah domestik rumah tangga) yang sumbernya bisa datang dari mana saja. Heru mengakui sangat sulit untuk mendeteksi Non Point Sources karena titik-titik sumber pencemarannya tersebar di banyak pemukiman maupun rumah tangga lainnya.

“Jadi kondisinya masih sama saja, hanya berbeda saat hujan sedang deras. Kalau hujan deras kan hujan itu seperti membersihkan limbah-limbah di teluk secara alami,” katanya, Jakarta, Rabu (14/12).

Untuk pencemaran yang bersumber dari Point Sources terbagi dua, pencemaran dari limbah organik sebanyak 52.862,75 ton dan limbah anorganik sebanyak 24.446,06 ton. Sedangkan limbah non point sources, untuk organik sebesar 10.875.651,69 ton dan anorganik 9.766.670,00 ton. Tumpukan limbah ini dihitung di Jakarta Utara pada November 2015 lalu.

“Jika mau dikomparasi dengan penelitian yang sama di waktu yang sama namun lokasi yang berbeda, dibandingkan teluk Semarang dan teluk Benoa, teluk Jakarta jauh lebih parah pencemarannya,” imbuhnya.

BACA JUGA: KKP Tidak Dilibatkan Dalam Proyek Reklamasi Teluk Jakarta

Juru Kampanye Laut Greenpeace Arifsyah Nasution pun menyatakan hal serupa. Menurutnya, untuk teluk Jakarta, hingga saat ini masih belum terlihat adanya upaya serius dari pemerintah untuk membangun penghalang air agar sampah tidak terbuang ke lautan apabila banjir terjadi. Padahal, katanya, volume sampah di Jakarta setiap tahun terus meningkat dan yang sering dilakukan oleh pemerintah, terusnya, tidak pernah menyasar persoalan dasar terkait sampah di Jakarta.

Ia memberikan contoh sebuah riset yang pernah dilakukan oleh Greenpeace di beberapa pulau di sekitar Jakarta. Menurutnya, sampah-sampah plastik yang ada di teluk Jakarta dan terdampar di beberapa pulau adalah sampah jenis plastik yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Jakarta.

“Di sini bukan hanya masyarakat yang bisa kita edukasi, tapi para produsen juga sudah seharusnya memastikan kalau sampah mereka tidak terlepas begitu saja di lingkungan. UU nomor 18 tahun 2008 telah memandatkan pada produsen untuk bertanggungjawab pada sampahnya. Ini tidak dijalankan dan pemerintah membiarkannya,” kata Arifsyah.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pencemaran-teluk-jakarta-masih-didominasi-limbah-domestik/feed/ 0
Kasus Ikan Mati di Teluk Jakarta, Walhi Minta Informasi Satu Pintu https://www.greeners.co/berita/12207/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=12207 https://www.greeners.co/berita/12207/#respond Fri, 11 Dec 2015 14:25:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12207 Walhi DKI Jakarta meminta adanya satu pintu informasi terkait ramainya pemberitaan di media mengenai dugaan penyebab kematian massal ikan di Teluk Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta mengapresiasi aksi reaktif Gubernur DKI Jakarta bersama Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) dan Dinas Kelautan yang langsung melakukan pemeriksaan lapangan terkait ditemukannya banyak ikan yang mati di beberapa titik sepanjang pesisir pantai utara Jakarta.

Namun demikian, Elnard Peter, Kepala Departemen Kajian dan Pengembangan Walhi DKI Jakarta, menyatakan ramainya pemberitaan di media mengenai dugaan penyebab kematian massal ikan-ikan tersebut cukup disayangkan. Menurut Elnard, pemberitaan tersebut tidak berasal dari satu pintu sehingga memberikan teori ataupun dalil yang berbeda sebelum adanya hasil pembuktian yang patut.

“Contoh dugaan yang kami sayangkan adalah dugaan kematian massal ikan akibat limbah industri yang dibuang melalui sungai di Jakarta ataupun yang berasal dari kawasan hulu sungai sehingga ikan-ikan mengalami keracunan dan mati. Demikian pula dengan dugaan adanya Hidrogen Sulfida yang merupakan bahan mudah terbakar dan meledak yang tercampur dengan air laut tanpa didahului pemeriksaan spesimen air maupun bangkai ikan,” terang Elnard seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Kamis (10/12).

Pada pemberitaan hasil uji laboratorium dan dari pihak Dinas Perikanan meyakini pencetus terjadinya fenomena kematian massal ikan murni disebabkan karena kombinasi suhu antara air bawah dengan air permukaan dengan korelasi kepada cuaca ekstrim.

Semestinya, kata Elnard, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang melakukan pengujian laboratorium adalah BPLHD didampingi Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Perikanan dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta untuk menyampaikan perihal fenomena ledakan ganggang dan dampaknya bagi masing-masing industri, khususnya kepada kesehatan maupun keselamatan manusia.

“Perlu diketahui semua pihak bahwa WHO menemukan sekitar 300 mikro alga dalam setiap kejadian ledakan populasi ganggang atau alga. Karena peristiwa tersebut bersifat fenomenal di negara berkembang, maka promosi edukatif mulai pendidikan menengah tengah digencarkan UNICEF di negara-negara berkembang terhadap ledakan ganggang di perairan pantai seperti yang baru saja terjadi,” jelasnya.

Walhi berharap, untuk ke depan ada perbaikan nyata yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam pemantuan dan pengelolaan lingkungan yang proaktif dengan menyediakan situs mikro (laman web) spesifik terkait kegiatan pemantauannya seperti kondisi sungai, pantai, kualitas udara dan lingkungan lainnya yang dapat diakses publik secara real time.

“Saran kami kepada Pak Gubernur Ahok agar pelaksanaan pemantauan dan pengelolaan lingkungan hidup sungguh-sungguh mengikuti standar praktik internasional dengan memenuhi sertifikasi SDM pelaksana serta perangkat kerjanya,” tegas Elnard.

Sementara itu, Kepala BPLHD DKI Jakarta Junaedi, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon mengatakan bahwa hingga saat ini masih belum ditemukan hasil dari penelitian laboratorium terkait sampel yang diambil dari air laut dan ikan mati yang terjadi di pesisir utara Jakarta beberapa waktu lalu.

“Hasilnya belum ada, ya, karena kita belum punya alat-alat atau laboratorium yang mendukung untuk itu. Jadi ada tiga pemeriksaan yang dilakukan; pemeriksaan sedimen lumpur di laboratorium Intertech, pemeriksaan sampel ikan mati di Dinas Perikanan dan kualitas air laut yang juga di Intertech. Kita kan cuma punya laboratorium untuk kualitas air waduk, air sungai, sementara kita belum punya alat dan SDM untuk memeriksa kualitas air laut,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/12207/feed/ 0