masalah banjir jakarta - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/masalah-banjir-jakarta/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 22 Feb 2017 10:28:18 +0000 id hourly 1 Pertumbuhan Awan Hujan Sebabkan Hujan Deras di Jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/#respond Wed, 22 Feb 2017 10:13:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15982 Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Selasa (21/02), disebabkan oleh adanya area konvergensi tepat di sekitar wilayah Jakarta yang membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat.]]>

Jakarta (Greeners) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Selasa (21/02) dini hari, disebabkan oleh adanya area konvergensi atau pertemuan angin tepat di sekitar wilayah Jakarta khususnya bagian utara. Hal ini membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat kuat yang ditandai dengan banyaknya awan Cumulonimbus.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yunus S. Suwarinoto mengatakan, dari pantauan kondisi atmosfer global dan regional, pengaruh gelombang tropis memicu munculnya area tekanan rendah serta monsun Asia yang masih cukup kuat. Secara tidak langsung, kondisi ini memengaruhi fenomena cuaca regional dan lokal seperti munculnya daerah konvergensi kuat di pesisir barat Sumatera hingga wilayah Jawa bagian barat.

“Melihat dari potensi perkembangan awan hujan pagi ini, diperkirakan hujan ringan hingga sedang masih akan bertahan di wilayah Jabodetabek. Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati khususnya ketika beraktifitas di luar rumah mengingat sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam puncak musim hujan sehingga peningkatan intensitas curah hujan masih akan terjadi,” kata Yunus, Jakarta, Selasa (21/02).

BACA JUGA: 14 Perumahan di Kota Bekasi Terendam Banjir

Sementara itu, pos pengamatan BMKG mencatat untuk curah hujan selama 24 Jam hingga pukul 07.00 WIB pada Rabu (22/02) sebagai berikut: Lebak bulus 71.7 mm, Pakubuwono 106 mm, Beji 65 mm, Depok 83 mm, Gunung Mas 39 mm, Pasar Minggu 106.5 mm, Tangerang 92.5 mm, Pondok Betung 67.4mm, Cengkareng 72 mm, Tanjung Priok 115.9 mm, Kemayoran 180 mm, Dramaga 75 mm, Curug 37.5 mm, Kepala Gading 145.4 mm, TMII 48.8 mm, Parung 21.8 mm, Jagorawi 72.5 mm, Mekarsari 60.8 mm, Leuwiliang 89.7 mm, Katulampa 35.8 mm, dan Bekasi 65 mm.

Curah hujan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta pada tahun 2007, 2013 dan 2014 yang saat itu mencapai 200-350 mm. Peluang hujan ekstrem saat ini makin sering terjadi. Artinya, risiko terjadinya banjir di wilayah Jabodetabek juga makin tinggi jika tidak dilakukan upaya pengendalian banjir yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Sebagai catatan, hujan memiliki kisaran lebih dari 50 mm selama 24 jam, sehingga hampir sebagian besar wilayah Jabodetabek masih akan terjadi hujan sedang hingga lebat,” jelasnya.

Hujan deras yang terjadi pun menyebabkan banjir yang mengepung wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, kalau kepungan banjir tersebut menunjukkan bahwa wilayah Jabodetabek masih rentan terhadap banjir.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, BNPB dan MIT Luncurkan PetaBencana.id

Dari citra satelit Landsat tahun 1990 hingga 2016 menunjukkan permukiman dan perkotaan berkembang luar biasa. Permukiman nyaris menyatu antara wilayah hulu, tengah dan hilir dari daerah aliran sungai yang ada di Jabodetabek. Sangat minim ruang terbuka hijau atau kawasan resapan air, sehingga suatu keniscayaan air hujan yang jatuh sekitar 80 persennya berubah menjadi aliran permukaan. Bahkan di wilayah perkotaan sekitar 90 persen menjadi aliran permukaan.

“Kapasitas sungai-sungai dan drainase perkotaan untuk mengalirkan aliran permukaan masih terbatas. Okupasi bantaran sungai menjadi permukiman padat menyebabkan sungai sempit dan dangkal. Sungai yang harusnya lebar 30 meter, saat ini hanya sekitar 10 meter. Bahkan ada sungai yang 5 meter. Sudah pasti kondisi tersebut menyebabkan banjir. Relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran. Tapi seringkali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat,” ujar Sutopo menerangkan.

Sutopo menyatakan penataan ruang perlu dikendalikan. Daerah-daerah sempadan sungai, kawasan resapan air dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya. Menurutnya, tidak mungkin Pemda Jakarta sendirian mengatasi banjir.

“Harus kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemda lain. Studi banjir dan masterplan pengendalian banjir sudah ada sejak lama. Tinggal komitmen bersama,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pertumbuhan-awan-hujan-sebabkan-hujan-deras-jabodetabek/feed/ 0
Empat Alasan Jakarta Tidak Mengalami Banjir Besar Tahun Ini https://www.greeners.co/berita/empat-alasan-jakarta-tidak-mengalami-banjir-besar-tahun-ini/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=empat-alasan-jakarta-tidak-mengalami-banjir-besar-tahun-ini https://www.greeners.co/berita/empat-alasan-jakarta-tidak-mengalami-banjir-besar-tahun-ini/#respond Thu, 07 Apr 2016 05:54:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13396 Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan bahwa ada empat kemungkinan mengapa banjir Jakarta tidak terjadi pada tahun ini.]]>

Jakarta (Greeners) – Puncak musim hujan yang jatuh pada bulan Februari hingga Maret di tahun 2016 ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap banjir di Ibukota. Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan bahwa ada empat kemungkinan mengapa banjir Jakarta tidak terjadi pada tahun ini.

Pertama, kata pria yang akrab disapa Yudi ini, adalah karena curah hujan di wilayah Jakarta, Bogor, Tanggerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) hanya 100 hingga 150 mm/jam yang mana pada saat puncak banjir, curah hujan bisa mencapai 300 hingga 350 mm/jam.

“Kedua, distribusi hujan di wilayah Jabodetabek tidak merata sehingga tanah masih bisa meresapkan air tidak jenuh yang mengakibatkan saluran air tidak meluap. Jika hujan turun secara merata dan di waktu yang bersamaan, maka bisa dipastikan tanah akan jenuh dan saluran air akan meluap menggenangi jalan,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Rabu (06/04).

Selain itu, wilayah di kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Depok dan Tanggerang tidak diguyur hujan besar dalam waktu bersamaan sehingga tidak ada banjir kiriman dari Puncak, Bogor dan air sungai pun tidak meluap. Terakhir, lanjutnya, laut pantai utara Jakarta juga sedang tidak pasang sehingga aliran sungai dapat mengalir ke laut.

“Jadi kurang tepat kalau tahun ini Jakarta tidak banjir karena saluran airnya sudah berfungsi dengan baik. Apalagi kalau dibilang karena sungainya sudah dinormalisasi. Jakarta sedang diselamatkan oleh alam saja karena ujian sebenarnya baru bisa kita lihat tahun depan saat siklus banjir lima tahunan datang. Apakah Jakarta sudah siap?” tambahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Deputi Meteorologi BMKG Yunus Subagyo Swarinoto mengatakan bahwa bulan Februari 2016 menjadi puncak curah hujan dari musim penghujan ini. Meskipun intensitasnya tidak merata. Hal ini disebabkan setiap wilayah memiliki karakteristik tersendiri dalam mempengaruhi intensitas hujan.

“Prediksinya hujan masih akan terjadi sepanjang bulan Maret meskipun intensitasnya lama-lama akan menurun. April nanti diprediksi curah hujan sudah kembali memasuki taraf sedang hingga rendah,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/empat-alasan-jakarta-tidak-mengalami-banjir-besar-tahun-ini/feed/ 0
Perlu Ada Mitigasi Bencana Banjir Bagi Warga Jakarta https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/#respond Mon, 16 Nov 2015 08:34:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11910 Jakarta (Greeners) – Peralihan musim kemarau ke musim hujan sudah mulai dirasakan di beberapa tempat, tidak terkecuali dengan DKI Jakarta. Masuknya musim hujan mendatangkan kekhawatiran terhadap bencana banjir yang kerap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peralihan musim kemarau ke musim hujan sudah mulai dirasakan di beberapa tempat, tidak terkecuali dengan DKI Jakarta. Masuknya musim hujan mendatangkan kekhawatiran terhadap bencana banjir yang kerap melanda Ibukota.

E. Peter, Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta menerangkan, jika memperhatikan informasi cuaca pada laman milik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), seminggu terakhir selalu menampilkan wilayah DKI Jakarta yang diguyur hujan. Hal ini tentu perlu diwaspadai apalagi bila Kota Bogor mengalami hal serupa dengan intensitas hujan lebih besar.

“Menanggapi hal ini, tentu perlu dilakukan upaya persiapan bersama-sama, baik oleh pihak pemerintah maupun masyarakat, dalam rangka mitigasi bencana banjir yang bertujuan mengeliminir korban jiwa dan kerugian harta benda,” terangnya, Jakarta, Sabtu (14/11).

Pantauan Walhi Jakarta pada peristiwa bencana banjir tahun lalu, Jakarta selalu merenggut korban jiwa karena kecelakaan seperti tersengat listrik, balita yang luput dari pengawasan orang tua atau kaum lansia penderita penyakit kronis yang kesulitan akses menuju rumah sakit.

Menurut Peter, perlu ada edukasi intensif kepada masyarakat korban banjir agar lebih peka terhadap keselamatan diri. Edukasi yang diberikan diantaranya cara mematuhi instruksi petugas pelaksana tanggap darurat manakala banjir telah membahayakan dan masyarakat diwajibkan mengevakuasi dirinya ke tempat yang telah disediakan.

Masyarakat juga harus disadarkan bahwa lingkungan pada saat banjir membutuhkan banyak sarana yang menunjang atau ketrampilan khusus, sehingga keselamatan dapat menjadi terabaikan dan membahayakan jiwa jika tidak berhati-hati.

Peter juga menekankankan bahwa hal ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar lebih pro-aktif melibatkan masyarakat terdampak langsung sebagai wujud program mitigasi bencana banjir agar dampak yang ditimbulkan menjadi terkendali dan tidak lagi merenggut korban jiwa.

“Kami mengimbau agar pelaksana penanggulangan kebencanaan menggunakan pemetaan sebaran banjir yang ada dan segera memberikan pelatihan tanggap darurat singkat yang melibatkan unsur masyarakat terdampak,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/feed/ 0
Tingkat Konsumsi Air di Jakarta Berbanding Terbalik dengan Pelestariannya https://www.greeners.co/berita/tingkat-konsumsi-air-di-jakarta-berbanding-terbalik-dengan-pelestariannya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tingkat-konsumsi-air-di-jakarta-berbanding-terbalik-dengan-pelestariannya https://www.greeners.co/berita/tingkat-konsumsi-air-di-jakarta-berbanding-terbalik-dengan-pelestariannya/#respond Sat, 11 Jul 2015 06:54:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10278 Jakarta (Greeners) – Pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta ternyata berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan konsumsi air bersihnya. Sayangnya, tingkat kebutuhan konsumsi tersebut tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta ternyata berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan konsumsi air bersihnya. Sayangnya, tingkat kebutuhan konsumsi tersebut tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian badan sungai sebagai sumber air di Jakarta.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Gamal Sinurat mengatakan bahwa wilayah DKI Jakarta memiliki potensi sumber daya air berupa sungai, waduk, danau atau situ, dan air tanah. Namun karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestariannya, maka kondisi badan air yang awalnya merupakan cadangan air baku di Jakarta menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

“Untuk saat ini saja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PDAM Jaya menyediakan air bersih melalui dua mitra kerjanya, yaitu PT Pam Lyonaise Jaya dan PT Aetra Air Jakarta. Air baku yang digunakan sebagian besar berasal dari Waduk Jati luhur, Purwakarta serta Kali Krukut bagian hulu yang bisa digunakan sebagai sumber air baku,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Jumat (10/07).

Menurut Gamal, air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi misalnya saja untuk pengairan lahan pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan berbagai industri, maka pencemaran air sungai telah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh manusia.

“Kenapa sungai menjadi lingkungan yang paling terancam, karena pada akhirnya sebagian besar air yang telah digunakan oleh industri dan rumah tangga akan dilepaskan ke lingkungan sungai bersama-sama dengan berbagai jenis polutan yang terkandung di dalamnya. Sedangkan, penyumbang pencemaran paling dominan saat ini ya sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai,” tambahnya.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Senada dengan Gamal, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang juga Menteri Lingkungan Hidup pertama di era kabinet Pembangunan III tahun 1978 hingga 1983, Profesor Emil Salim saat ditemui oleh Greeners di Jakarta, Kamis (09/07) lalu, mengutarakan bahwa tingkat konsumsi air di Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat produksi. Hal tersebut mengakibatkan banyak warga khususnya daerah-daerah kumuh yang tidak mendapatkan akses air bersih.

“Penduduk Jakarta ini sendiri tidak ada disiplinnya. Mereka seenaknya membuang sampah tanpa memikirkan dampaknya. Ini sudah kacau untuk air bersih di Jakarta. Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta (Basuki Tjahaja Purnama) itu berjuang mati-matian untuk meniadakan persampahan di air sungai,” kata Emil.

Terkait masalah pengelolaan air, Emil menyatakan, siapapun bisa berperan di sana termasuk juga dengan pihak swasta selama pihak swasta itu tidak menguasai sumber mata air, maka boleh saja mereka (swasta) melakukan pengelolaan air tersebut.

“Contohnya di Jakarta. Iya benar Jakarta harus segera mencari sumber air bersih alternatif sesuai dengan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tapi terkait infrastruktur pengelolaannya kan pihak swasta tidak dilarang,” jelasnya lagi.

Di lain pihak, Corporate Communication Director PT. Tirta Investama (Aqua Grup), Troy Pantouw kepada Greeners menjelaskan bahwa dalam kenyataannya saat ini, permasalahan air bersih di Jakarta masih berkutat di konsumsi sehari-hari seperti mandi dan mencuci, dan bukan pada air minum. Selain teknologi, bahan baku yang ada juga masih belum bisa diolah dengan baik. Ditambah, DKI Jakarta sendiri masih minim akan daerah resapan air untuk membantu timbulnya kantong-kantong air.

“Jakarta itu perlu banget yang namanya penghijauan atau daerah yang dikhususkan untuk pertamanan. Jadi, selain ngurusin teknologi atau bahan baku, pemerintah juga harus memperhatikan aspek ekologi. Oleh karena itu idealnya di sini pasti membutuhkan keterlibatan dari multipihak termasuk swasta itu masih perlu,” katanya.

Dari organisasi akar rumput, arsitek perkotaan sekaligus inisiator Indonesia Berkebun Sigit Kusumawijaya pun mengatakan kerja sama berbagai pihak sangatlah diperlukan dalam melestarikan air dan lingkungan.

“Salah satu masalah lingkungan adalah banjir yang penyebab utamanya adalah sampah yang diperkirakan mencapai 130.000 ton per hari. Sebesar apa pun usaha aparat menangani banjir, jika masyarakat tetap membuang sampah sembarangan maka masalah tidak akan bisa diatasi,” kata Sigit.

Penulis: Danny Kosasih

Tabel Konsumsi air di Provinsi DKI Jakarta selama tahun 2014. Sumber: Badan Pusat Statistik DKI Jakarta

Tabel Konsumsi air di Provinsi DKI Jakarta selama tahun 2014. Sumber: Badan Pusat Statistik DKI Jakarta

]]>
https://www.greeners.co/berita/tingkat-konsumsi-air-di-jakarta-berbanding-terbalik-dengan-pelestariannya/feed/ 0
BMKG, Intensitas Hujan Dua Hari Belakangan Luar Biasa https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/#respond Wed, 11 Feb 2015 05:49:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7379 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa intensitas hujan di wilayah Jabodetabek yang terjadi pada Minggu (08/02) malam hingga Selasa (10/2/2015) pagi kemarin, hampir sama banyaknya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa intensitas hujan di wilayah Jabodetabek yang terjadi pada Minggu (08/02) malam hingga Selasa (10/2/2015) pagi kemarin, hampir sama banyaknya dengan intensitas hujan dalam kurun waktu satu bulan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) BMKG, Edvin Aldrian saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa rata-rata intensitas hujan yang turun dalam waktu satu bulan sekitar 300-400 milimeter. Namun, untuk hujan yang turun pada hari Senin kemarin mencapai 360 mm per hari, sementara hujan yang turun pada hari Selasa mencapai 190 mm.

“Ini (intensitas hujan) kita ukur dari stasiun kita di kantor BMKG dan ini luar biasa. Ini (intensitas hujan) ekstrim sekali makanya langsung banjir,” terangnya, Jakarta, Rabu (11/02).

Untuk hari ini, BMKG memprakirakan hujan akan mengguyur wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Timur sepanjang hari namun dalam intensitas ringan. “Hari ini akan gerimis saja tapi besok dan lusa kemungkinan akan “basah” lagi,” ujarnya.

Peta lokasi potensi banjir di DKI Jakarta dan sekitanya yang dikeluarkan pada 9 Februari 2015. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Peta lokasi potensi banjir di DKI Jakarta dan sekitanya yang dikeluarkan pada 9 Februari 2015. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Di lain sisi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menganggap jika banjir yang terjadi akibat tingginya intensitas hujan dan beberapa faktor buruknya pengelolaan lingkungan hidup tahun ini tidak lebih buruk dibandingkan puncak hujan yang terjadi pada tahun lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa hingga Selasa siang kemarin, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada penambahan titik genangan air di Jakarta hingga 107 titik genangan.

“Di Jakarta Pusat ada 25 titik genangan, 27 titik di Jakarta Barat, 25 titik di Jakarta Timur, 10 titik di Jakarta Selatan dan 20 titik di Jakarta Utara,” jelasnya.

Akibat banjir ini, 5.986 jiwa korban banjir di 14 lokasi di Ibu Kota mengungsi. Namun, Sutopo menyatakan bahwa mereka telah kembali ke rumah masing-masing.

“Ribuan korban banjir yang berjumlah 2.063 warga di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, masih berada di lokasi pengungsian hingga malam tadi,” kata Sutopo.

Peta potensi banjir. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Peta potensi banjir. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Untuk titik penyebaran pengungsi tersebut, lanjutnya, 1.500 warga mengungsi di Rusun Muara Baru, 168 orang di Kantor Kelurahan Penjaringan, 84 orang di Pos Polisi Pluit, 7 orang di Kantor RW 07, 104 orang di Gedung SD 012, 150 orang di Masjid Nurul Ihwan, dan 50 orang ditempatkan sementara di Rumah Yatim RW 17.

Sebagai informasi, Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya menerangkan hari ini masih terdapat genangan air di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sedangkan sisanya sudah mulai surut.

Salah seorang petugas TMC, Briptu Amung kepada Greeners mengatakan sebaran titik genangan air tersebut antara lain di Jakarta Utara seperti di Pluit Timur (40 cm), depan Lantamal (30 – 40 cm), Jl.RE Martadinata (15 cm), Jl. Jatidia Tj Priok (20 cm), Jl.Batu Ancol (20 cm), KBN Cakung (40 cm), Kebon Baru (15 cm) dan Bundaran Kelapa Gading arah SMR (15 cm).

“Untuk Jakarta Barat ada di Traffic Light Ring Road Purikembangan (50 cm), Depan Univ.Tarumanegara arah Tomang (50 cm), Jl.Tubagus Angke (40 cm), Jl Kyai Tapa (20 cm) dan Jl.Daan Mogot depan Satpas SIM arah Grogol (40 cm),” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/feed/ 0
Banjir Jakarta Bukan Hanya Karena Hujan https://www.greeners.co/berita/banjir-jakarta-bukan-hanya-karena-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-jakarta-bukan-hanya-karena-hujan https://www.greeners.co/berita/banjir-jakarta-bukan-hanya-karena-hujan/#respond Tue, 10 Feb 2015 07:34:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7354 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sejak Senin (09/10) kemarin hingga Selasa siang ini titik banjir di Jakarta menjadi 93 titik. Ttitik banjir tersebut tersebar di 35 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sejak Senin (09/10) kemarin hingga Selasa siang ini titik banjir di Jakarta menjadi 93 titik. Ttitik banjir tersebut tersebar di 35 titik Jakarta Pusat, 28 titik di Jakarta Barat, 17 titik di Jakarta Utara, 8 titik di Jakarta Timur, dan 5 titik di Jakarta Selatan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa banjir yang melanda Jakarta bukan hanya disebabkan oleh turunnya hujan semata, tetapi juga buruknya drainase perkotaan serta kurangnya kawasan resapan air yang akhirnya menyebabkan pasokan air permukaan melimpah.

“Saat ini rata-rata tinggi muka air di berbagai pintu air yang berada di Jakarta dalam posisi siaga tiga. Kami meminta warga disekitar bantaran, terutama bantaran kali Ciliwung untuk terus waspada,” jelasnya, Jakarta, Selasa (10/02).

Sutopo juga menyatakan bahwa BPNB memperkirakan tinggi genangan air berpotensi meningkat di beberapa tempat. Oleh karena itu, Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana DKI Jakarta dan Posko BNPB terus melakukan pemantauan perkembangan banjir di Jakarta.

Posko pendampingan darurat banjir DKI Jakarta yang didirikan BNPB di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Posko pendampingan darurat banjir DKI Jakarta yang didirikan BNPB di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa BNPB telah mendirikan 28 Posko Taktis, yaitu 25 posko di Jakarta, 2 posko di Bekasi dan 1 posko di Tangerang dengan melibatkan 3.600 personel dari TNI dan 614 personel Polri untuk mengantisipasi banjir jika diperlukan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Agus Priyono menyatakan bahwa banjir kali ini bukanlah banjir kiriman dari Bogor. Menurutnya, banjir yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh naiknya air laut hingga ke daratan Jakarta, karena intensitas hujan di Kota Bogor saat ini justru lebih ringan daripada di Jakarta.

“Hujan lokal dan rob dari utara ini yang menyebabkan genangan,” kata Agus saat dihubungi oleh Greeners.

Sedangkan banjir yang melanda wilayah Thamrin dan Istana Negara, terang Agus, dikarenakan pompa air di Waduk Pluit yang tidak berfungsi akibat pemadaman arus listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Berdasarkan data dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, hari ini masih ada titik genangan air dengan tinggi bervariasi, antara 20 hingga 100 meter. Salah seorang petugas TMC, Briptu Amung kepada Greeners mengatakan bahwa setidaknya ada 16 titik genangan banjir di sejumlah ruas di Jakarta yang berhasil dihimpun melalui informasi dari warga.

Beberapa titik tersebut adalah :
1. Di wilayah Patra Raya, terdapat genangan air setinggi 40 cm. Pengguna yang hendak melintasi daerah tersebut diminta untuk mencari jalan alternatif.
2. Di Kompleks Duta Bandara Permai, Dadap, Cengkareng, terdapat genangan air setinggi 40 cm.
3. Di Jembatan Gantung Daan Mogot, ketinggian air mencapai hingga 80-100 cm.
4. Di Pasar Cipulir Jakarta Selatan dan Jalan Raya Ciledug, ketinggian genangan air dilaporkan mencapai 20 cm. Kendaraan dikatakan masih bisa melintasi kawasan tersebut.
5. Di depan Universitas Trisakti, Grogol, ketinggian air mencapai 60-80 cm. Jalan di kawasan tersebut tidak dapat dilintasi kendaraan.
6. Di depan Mall Artha Gading, ketinggian genangan air mencapai 40-50 cm.
7. Di Jalan Bank-Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketinggian genangan air mencapai 50-60 cm.
8. Di depan Pasar Jagal Buncit, Jakarta Selatan, ketinggian genangan air mencapai 40-50 cm.
9. Di depan SMP 124/SMA 60 di Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan, ketinggian genangan air mencapai 40 cm.
10. Di depan Tarakanita di Jalan Tendean, Jakarta Selatan, ketinggian genangan air mencapai 30 cm.
11. Di Exit Tol Kemayoran PRJ, ketinggian genangan air mencapai 40-50 cm.
12. Di wilayah Duri Kosambi, Jakarta Barat, ketinggian genangan air mencapai 60-80 cm.
13. Di KM 25 Tol Kamal (arah ke Tol JLB), ketinggian genangan air mencapai 30 cm.
14. Di depan RSAL Mintohardjo di Jalan Bendungan Hilir Raya, Jakarta Pusat, ketinggian genangan air mencapai 40-60 cm.
15. Di depan Kemchick di Jalan Kemang Raya, ketinggian genangan air mencapai 20-40 cm.
16. Di depan RS Atmajaya Pluit, ketinggian genangan air mencapai 40 cm.

(G09)

[See image gallery at www.greeners.co]

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-jakarta-bukan-hanya-karena-hujan/feed/ 0
Muka Air Meningkat, BNPB Nyatakan Jakarta Dikepung Banjir https://www.greeners.co/berita/muka-air-meningkat-bnpb-nyatakan-jakarta-dikepung-banjir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=muka-air-meningkat-bnpb-nyatakan-jakarta-dikepung-banjir https://www.greeners.co/berita/muka-air-meningkat-bnpb-nyatakan-jakarta-dikepung-banjir/#respond Mon, 09 Feb 2015 12:00:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7343 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyatakan bahwa saat ini Ibu Kota Jakarta telah dikepung banjir di beberapa wilayah secara merata dengan ketinggian air yang terus meningkat. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyatakan bahwa saat ini Ibu Kota Jakarta telah dikepung banjir di beberapa wilayah secara merata dengan ketinggian air yang terus meningkat.

Kepala Pusat Humas Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan, hingga pukul 12.00 WIB ketinggian air di Pintu Air Karet terukur setinggi 630 sentimeter yang artinya telah masuk siaga I. Selain itu, pintu air di beberapa aliran sungai juga bergerak naik, seperti ketinggian air di Pintu Air Katulampa yang naik menjadi 80 sentimeter (Siaga III) pada pukul 12.00 WIB. Pintu Air Manggarai naik menjadi 800 sentimeter (Siaga III) pada pukul 11.00 WIB dan 825 sentimeter (Siaga III) pada pukul 12.00 WIB.

“Muka air pada Pintu Air Pasar Ikan sudah setinggi 208 sentimeter (Siaga II), sedangkan Pintu Air Pluit naik menjadi 30 sentimeter,” jelasnya, Jakarta, Senin (09/02) siang.

Sejumlah rumah di kawasan Tendean, Jakarta Selatan terkena banjir, Senin (09/02). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sejumlah rumah di kawasan Tendean, Jakarta Selatan terkena banjir, Senin (09/02). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Banjir Jakarta ini, tambah Sutopo, bukan saja disebabkan oleh luapan sungai, tapi juga buruknya drainase perkotaan dan tata ruang yang tak terkendali sehingga menyebabkan banjir semakin sulit untuk ditangani.

Sementara itu, beberapa wilayah lain di Jakarta Timur dan Selatan, juga terpantau telah mengalami peninggian air hingga mencapai satu meter. Seperti yang terjadi di Kelurahan Cipinang Indah, Kalimalang Jakarta Timur. Berdasarkan pantauan Greeners, hingga pukul 16.45 WIB, setidaknya ada tiga Rukun Warga yang terkena banjir.

Di lain tempat, Sugi, Ketua RT 9/RW 2 Komplek Polri, Pondok Arya, Kelurahan Pela Mampang, Tendean, Jakarta, Selatan menyatakan bahwa air yang mulai meninggi sejak pukul sembilan pagi, kini telah mencapai hampir satu meter.

“Ada lebih dari seratus rumah yang terisolasi akibat akses yang terkena banjir di sini,” jelasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/muka-air-meningkat-bnpb-nyatakan-jakarta-dikepung-banjir/feed/ 0
Betonisasi Ciliwung Bukan Solusi Untuk Atasi Banjir Jakarta https://www.greeners.co/berita/betonisasi-ciliwung-bukan-solusi-untuk-atasi-banjir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=betonisasi-ciliwung-bukan-solusi-untuk-atasi-banjir-jakarta https://www.greeners.co/berita/betonisasi-ciliwung-bukan-solusi-untuk-atasi-banjir-jakarta/#respond Wed, 01 Oct 2014 05:20:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5991 Jakarta (Greeners) – Begitu banyak upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah untuk mengatasi masalah banjir di Ibukota. Mulai dari pembenahan gorong-gorong hingga proyek normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 19 kilometer. Akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Begitu banyak upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah untuk mengatasi masalah banjir di Ibukota. Mulai dari pembenahan gorong-gorong hingga proyek normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 19 kilometer.

Akan tetapi, Koordinator Ciliwung Institute, Sudirman Asun, berpendapat lain terhadap upaya tersebut. Menurutnya, proyek normalisasi yang menggunakan beton berukuran besar tersebut justru akan mengancam usaha konservasi keanekaragaman hayati yang telah diupayakan oleh banyak komunitas yang peduli terhadap Sungai Ciliwung. Proyek ini dinilai sama sekali tidak menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.

Sudirman menganggap bahwa rencana proyek normalisasi Sungai Ciliwung dengan melakukan pengerukan untuk pelebaran sungai dan pembangunan turap beton di kanan-kiri bantaran sungai merupakan langkah yang keliru.

“Yang dilakukan oleh pemerintah ini tidak menyelesaikan masalah. Untuk mengatasi banjir bukan hanya di badan sungai saja,” ujar Sudirman saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Rabu (01/10).

Rencana pembangunan turap beton, lanjutnya, jelas kontradiktif dengan judul tujuan usaha penanggulangan banjir, karena beton adalah musuh dari resapan. Diperkirakan akan ada banyak daya dukung resapan yang berkurang dengan dinding beton terbangun sepanjang 19 kilometer pada kanan dan kiri sungai.

Sudirman menjelaskan bahwa pembetonan segmen TB. Simatupang-Manggarai berbeda kasus dengan pembetonan aliran Ciliwung Lama ataupun kanalisasi daerah Kota Tua yang mempunyai kontur lebih landai dan datar. Turap betonisasi aliran TB.Simatupang- Manggarai dengan lansekap kontur yang lebih curam akan mengakibatkan arus air lebih cepat menuju hilir di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.

“Beton ini bukan menyelesaikan banjir, hanya memindahkan airnya saja ke hilir. Air yang lebih cepat dialirkan ke daerah hilir itu mempunyai persoalan sendiri. Air sungai tidak bisa dialirkan secara alamiah dibuang ke laut karena permukaan laut lebih tinggi dari pada permukaan air sungai,” tambahnya.

Selain itu, terang Sudirman, rekam jejak kemampuan pemeliharaan dari pemerintah yang buruk dalam perawatan pompa folder jelas akan mengancam daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Penyebab lain dari banjir yang lebih parah adalah buruknya sistem drainase Kota Jakarta.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/betonisasi-ciliwung-bukan-solusi-untuk-atasi-banjir-jakarta/feed/ 0