penyakit kanker - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/penyakit-kanker/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 13 Dec 2024 06:07:35 +0000 id hourly 1 Menkes Budi Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/#respond Fri, 13 Dec 2024 06:07:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=45433 Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kanker payudara masih menjadi pembunuh tertinggi perempuan Indonesia untuk penyakit kanker. Ia menekankan pentingnya deteksi dini kanker payudara bagi perempuan. Budi juga […]]]>

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa kanker payudara masih menjadi pembunuh tertinggi perempuan Indonesia untuk penyakit kanker. Ia menekankan pentingnya deteksi dini kanker payudara bagi perempuan.

Budi juga meminta agar para perempuan tidak ragu untuk melakukan deteksi dini. Apalagi, program skrining kesehatan untuk perempuan usia di atas 40 tahun akan mencakup skrining kanker payudara.

“Kenapa banyak yang meninggal (karena kanker)? Karena ketahuannya terlambat, setelah stadium tiga atau stadium empat. Padahal, kalau bisa deteksi dini di stadium satu atau dua, kemungkinan hidupnya atau survivability rate-nya tinggi sekali dengan teknologi yang sekarang,” kata Budi lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (7/12).

Saat berkunjung ke salah satu rumah sakit di Sulawesi Tenggara, Budi juga berbincang dengan penyintas atau survivor kanker payudara, Ni Kadek Mulyati. Budi menjelaskan bahwa fasyankes tingkat pertama, seperti puskesmas, sebenarnya dapat melakukan deteksi dini kanker payudara dengan memanfaatkan USG.

BACA JUGA: Deteksi Dini Kanker Payudara, LIPI Perkenalkan Kit HER2

“Saya juga sudah ngomong ke kolegium, yuk, diturunkan (kemampuan) kompetensinya (ke dokter umum), agar 10.000 USG (di puskesmas) itu tidak hanya untuk memeriksa ibu hamil, melainkan juga bisa untuk memeriksa skrining kanker payudara oleh dokter umum,” tambahnya.

Jika ada indikasi kanker payudara seperti yang Ni Kadek alami, dokter akan merujuknya ke rumah sakit. Di rumah sakit, akan ada prosedur biopsi atau pengambilan sampel jaringan, sel, atau cairan tubuh. Selanjutnya, laboratorium memeriksa sampel ini untuk mengetahui tingkat stadium kanker.

Tak Perlu Khawatir Deteksi Kanker Payudara

Sementara itu, Budi juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai hasil pemeriksaan yang buruk. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perempuan enggan melakukan pemeriksaan kanker payudara.

Padahal, sebaiknya perempuan mendeteksi kanker sejak dini. Sebab, peluang hidup akan lebih besar jika terdeteksi lebih awal dibandingkan jika terdeteksi terlambat.

“Jadi, kenapa banyak perempuan nggak mau dimamografi? Karena mereka takut menerima kenyataan kalau ada apa-apa. Padahal, saya yang bukan dokter saja tahu kalau ketahuan stadium satu lebih baik daripada ketahuannya di stadium tiga,” kata Budi.

Senada dengan imbauan Menkes Budi, Ni Kadek Mulyati mengajak perempuan Indonesia untuk tidak ragu melakukan skrining kanker payudara sebelum terlambat.

“Untuk wanita di Indonesia dan seluruh dunia, mari kita memeriksakan diri sedini mungkin untuk mengetahui apakah di tubuh kita ada penyakit yang mungkin saja tidak kita ketahui,” imbau Ni Kadek.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menkes-budi-tekankan-pentingnya-deteksi-dini-kanker-payudara/feed/ 0
Waspada Penyakit Kanker pada Pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-penyakit-kanker-pada-pria https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/#respond Tue, 27 Oct 2015 08:30:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11672 Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Menurut catatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kanker merupakan penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Menurut catatan WHO, kanker menempati urutan ke dua setelah kardiovaskular sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di dunia.

Menurut catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, penyakit kanker menyumbang angka kematian sebesar 5,7 persen dari keseluruhan kematian yang disebabkan oleh penyakit di Indonesia. Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) sendiri menyatakan telah menggelontorkan Rp 163 miliyar untuk pengidap penyakit kanker di Indonesia.

Di Indonesia, penyakit kanker seringkali menyerang kaum hawa. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2T) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Lili S. Sulistyowati, menyatakan bahwa perbandingan antara penderita kanker pada perempuan dan laki-laki adalah 3:1.

“(Penderita) kanker terbanyak adalah kanker pada perempuan dengan jumlah terbanyak adalah kanker payudara dan kanker leher Rahim,” jelas Lili dalam surat elektronik kepada Greeners pada Senin (26/10) lalu.

Meskipun didominasi oleh penderita perempuan, kaum lelaki perlu mewaspadai penyakit kanker. Lili menyebutkan, tingginya kecenderungan makanan berbahan pengawet dan pewarna buatan yang dikonsumsi masyarakat, termasuk oleh pria, sebagai pendorong faktor resiko penyebab kanker. Pasalnya, makanan dengan kandungan tersebut memiliki kandungan zat karsinogen. “Zat karsinogenik merupakan zat yang dapat memicu terjadinya penyakit kanker,” ujar Lili.

Selain itu, Lili menyarankan agar masyarakat menghindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol karena keduanya juga mengandung zat karsinogenik. “Kasus kanker indens pada pria adalah kanker paru, kanker kolorektal dan kanker prostat. Hal ini disebabkan kebiasaan merokok, kurang makan sayur dan buah, serta kurang aktifitas fisik,” jelasnya.

Menurut Lili, ada lima jenis kanker yang menyerang pria di Indonesia. Kelima kanker tersebut adalah kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker nasofaring, dan kanker limfoma malignum.

Seperti diketahui, berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) pada tahun 2015, jumlah perokok aktif pada pria mencapai lebih dari 56 juta orang. Sedangkan pengkonsumsi alkohol pun tidak berbeda, cenderung meningkat tiap tahunnya.

Faktor Hormonal

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof. Dr. dr. Soehartati Gondhowiardjo, menyatakan bahwa kanker payudara dan leher rahim merupakan kanker yang disebabkan oleh faktor hormonal. Oleh karenanya, kanker tersebut hanya bisa diderita oleh perempuan saja. Hal itu, menurut Soehartati, yang menjadikan jumlah penderita kanker pada perempuan sangat signifikan jika dibandingkan laki-laki.

Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti, Soehartati menambahkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat resiko yang sama dalam faktor hormonal yang menyebabkan kanker.

“Kanker prostat adalah contoh kasus kanker karena faktor hormonal pada pria,” jelas Soehartati kepada Greeners via telepon.

Soehartati pun sepakat agar pria juga menghindari alkohol, rokok serta makanan berbahan pengawet, penyedap dan pewarna buatan sebagai bentuk pencegahan dini penyakit kanker. Selain itu, ia juga menyarankan untuk rutin berolahraga dan menghindari obesitas.“Kuncinya adalah perketat pola hidup sehat,” ucap Soehartati.

Ia juga menyarankan agar mengelola stres. Selain berpengaruh pada kondisi hormonal, stres juga dapat merusak gaya hidup sehat secara keseluruhan. “Justru pola hidup sehat itu dimulai dengan pengelolaan stres,” katanya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-penyakit-kanker-pada-pria/feed/ 0
Penyebab Kanker Kulit, BMKG dan Dokter Kulit Beda Pendapat https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/#respond Sun, 27 Sep 2015 09:11:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11245 Jakarta (Greeners) – Paparan sinar Ultra Violet (UV) yang dipancarkan oleh sinar matahari diyakini oleh sebagian orang sebagai penyebab dari timbulnya kanker kulit, termasuk di Indonesia. Namun ternyata anggapan tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Paparan sinar Ultra Violet (UV) yang dipancarkan oleh sinar matahari diyakini oleh sebagian orang sebagai penyebab dari timbulnya kanker kulit, termasuk di Indonesia. Namun ternyata anggapan tersebut dibantah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofosika (BMKG) Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Prof. Dr. Edvin Aldrian, Beng., MSc., menyatakan bahwa hubungan antara paparan sinar UV terhadap kanker kulit hanyalah sebuah mitos belaka.

Kanker kulit akibat paparan sinar UV, dikatakan Edvin, mungkin memang akan terjadi di negara-negara beriklim non-tropis (kering) seperti Amerika dan Eropa, namun tidak untuk negara beriklim tropis seperti Indonesia.

“Untuk Indonesia itu hanya mitos saja. Banyak anak-anak yang bermain di pantai maupun sungai atau di mana pun yang langsung terpapar sinar matahari tidak ada yang mengalami kanker kulit,” tegas Edvin kepada Greeners, Jakarta, Senin (21/09).

Terlebih, menurut pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG ini, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak sekali uap air yang berfungsi sebagai bantalan peredam panas.

“Lihat saja orang-orang asing yang datang ke Indonesia, mereka tidak pernah pulang membawa kanker kulit ke negaranya. Paling-paling, ya, menghitam saja,” ujarnya.

Di lain sisi, tanggapan yang berbeda disampaikan oleh Dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp.KK. Dermatologist dan Venereologist dari Perempuan Clinic. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memang memiliki banyak sekali bantalan air yang mampu meredam uap panas dan menepis sinar matahari.

Indonesia, dikatakan Nila, sebagai negara khatulistiwa memiliki sifat matahari yang berbeda dengan negara-negara empat musim yang cenderung beriklim kering, yaitu tegak lurus dengan spektrum cahaya yang memiliki sinar Ultra Violet A (UV-A) yang lebih banyak.

“UV-A memang tidak menyebabkan kanker. UV-B itu yang justru menyebabkan kanker karena bisa terjadi mutasi. Tapi untuk di Indonesia sendiri, UV-A yang paling banyak dan sifatnya bisa menembus kaca sedangkan UV-B tidak. Nah, UV-A ini mampu menyebabkan kulit menjadi kecoklatan dan kulit jadi cepat menua,” tuturnya.

Namun, walau dikatakan lebih jinak, UV-A juga bisa sangat berbahaya jika kulit terpapar dalam waktu yang berlebihan. Apalagi jika paparan tersebut didapati tanpa perlindungan, jelas akan merusak sistem kekebalan pada imun di kulit.

“Memang benar UV-B yang ditakutkan itu yang menyebabkan kanker, tapi untuk UV-A itu juga harus dilihat dari berapa lama kulit terpapar sinar tersebut. Dan, jika dikatakan di Indonesia kanker kulit tidak tinggi, sebetulnya ada benarnya karena pigmen pada kulit orang yang tinggal di daerah khatulistiwa memiliki sistem kekebalan yang lebih baik dari orang yang tidak tinggal di daerah khatulistiwa. Namun, tetap tidak bisa dijadikan dasar kalau di Indonesia tidak ada kanker kulit karena paparan sinar matahari,” ungkapnya.

Indonesia sendiri, terangnya, memiliki beberapa kasus Basal Cell Carcinoma yang merupakan salah satu jenis kanker kulit yang paling sering terjadi. Basal Cell Carcinoma (BCC) sendiri adalah jenis kanker kulit yang terjadi pada sel basal dimana sel ini terletak di bawah lapisan kulit terluar yang paling sering terpapar sinar UV.

Ciri kanker kulit BCC biasanya terlihat pada wajah, telinga, dan kulit kepala. Ciri ini dapat berupa benjolan berbentuk mutiara atau seperti lilin, atau bisa juga terlihat seperti bekas luka yang rata dengan kulit berwarna-warni atau coklat.

“Jadi tidak bisa dikatakan kita tidak punya kasus kanker kulit karena paparan sinar matahari. Memang sistem kekebalan kita lebih baik, tapi kalau terpaparnya itu sangat berlebihan dan berlangsung bertahun-tahun seperti yang terjadi pada petani dan nelayan, itu bisa saja merusak sistem kekebalan tubuh dan sel dalam kulit pun berubah sifat menjadi ganas. Itu lah yang nantinya mampu menyebabkan kanker kulit,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/feed/ 0
Gangguan Kesehatan Mengintai Perokok Elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/#respond Thu, 04 Jun 2015 07:38:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9440 (Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman […]]]>

(Greeners) – Sebagian perokok aktif menganggap salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan merokok tembakau adalah menggantinya dengan rokok elektrik. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa merokok elektrik jauh lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, pendapat tersebut adalah hal yang keliru.

Seperti dilansir dalam situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, www.depkes.go.id, rokok elektrik adalah alat untuk mengubah cairan kimia yang terdiri dari nikotin dan propylene glycol untuk menjadi uap dan mengalirkannya ke dalam paru-paru. Propylene glycol sendiri merupakan salah satu zat penyusun liquid (cairan) rokok elektrik yang berfungsi sebagai penebal uap. Zat kimia ini menjadi perhatian sejumlah peneliti, karena dapat menyebabkan iritasi bagi yang menghirupnya.

Selain itu, nikotin yang terdapat dalam cairan kimia rokok elektronik sama halnya dengan rokok pada umumnya, zat ini dapat menyebabkan penyakit kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan, penyakit jantung, serta cacat dan keguguran. Masih dari situs depkes.go.id, nikotin yang terdapat dalam rokok elektrik dapat menyebabkan kecanduan bagi pemakainya. Rokok elektrik hanyalah sebuah cara baru untuk memasukkan nikotin ke dalam tubuh manusia.

Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bahwa ada beberapa kandungan berbahaya lainnya yang terdapat pada rokok elektrik yang dapat memicu kanker. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Ekowati Rahajeng menyebutkan kandungan tersebut adalah nitrosamine, logam beracun (kadmium, nikel dan timbal), carbonyl yang berisi formaldehyde dan acetaldehyde, serta acrolein.

Ia juga mengatakan bahwa, “Berdasarkan sejumlah penelitian, rokok elektrik itu sama bahayanya atau bisa lebih bahaya daripada rokok biasa. Karena rokok elektrik menyasar generasi muda, dikhawatirkan malah meningkatkan jumlah perokok baru di Indonesia.”

Pada tahun 2014 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengeluarkan laporan “Electronic nicotine delivery systems” (ENDS) yang disampaikan dalam Konvensi Kerjasama WHO terhadap Kontrol atas Tembakau (WHO Framework Convention on Tobacco Control/WHO FCTC) di Moskow, Rusia. Dari laporan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kandungan dalam rokok elektrik tidak hanya berbahaya bagi penggunanya namun juga dapat membahayakan orang-orang yang turut menghisap asap dari rokok elektrik.

Selain itu, WHO juga menyarankan untuk tidak menghisap rokok elektrik di dalam ruangan, baik ruang publik maupun tempat kerja. Menurut bukti-bukti yang didapat WHO, asap dari rokok elektrik yang mengandung aerosol meningkatkan kadar nikotin, racun, dan partikel lainnya di udara. Lembaga ini juga menyarankan agar badan pemerintah terkait membatasi iklan, sponsor serta promosi dari rokok elektronik agar tidak menyasar kaum muda dan orang yang tidak merokok.

Jadi, baik rokok elektrik maupun rokok konvensional, keduanya sama-sama berdampak buruk bagi kesehatan pengguna dan orang-orang yang ada didekatnya. Berhenti merokok adalah jalan terbaik demi paru-paru yang sehat.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gangguan-kesehatan-mengintai-perokok-elektrik/feed/ 0
Bumbu Dapur Anti-Kanker https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencegah-dan-menghadapi-kanker-dengan-bumbu-dapur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mencegah-dan-menghadapi-kanker-dengan-bumbu-dapur https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencegah-dan-menghadapi-kanker-dengan-bumbu-dapur/#respond Sun, 03 Aug 2014 01:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=5341 Rasa-rasanya tidak nikmat suatu makanan jika terasa hambar. Untuk memberi rasa pada makanan, penggunaan bumbu menjadi penting, misalnya garam, merica, kunyit, dan lain sebagainya. Tidak hanya memperkaya aroma dan rasa […]]]>

Rasa-rasanya tidak nikmat suatu makanan jika terasa hambar. Untuk memberi rasa pada makanan, penggunaan bumbu menjadi penting, misalnya garam, merica, kunyit, dan lain sebagainya. Tidak hanya memperkaya aroma dan rasa pada masakan, beberapa bumbu dapur juga dikenal memiliki khasiat obat. Berikut ini beberapa bumbu yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah penyakit dan meringankan rasa sakit karena kanker.

 

Foto: dummies.com

Foto: dummies.com

Jahe
Jahe (Zingiber officinale) telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati segala penyakit, mulai dari pilek hingga sembelit. Jahe dapat digunakan dalam keadaan segar, berbentuk bubuk, atau manisan. Meskipun rasa antara jahe segar dan bubuk jahe sangat berbeda, di banyak resep, jahe segar bisa diganti dengan bubuk jahe atau sebaliknya. Secara umum, takaran 1/8 sendok teh bubuk jahe dapat diganti dengan 1 sendok makan jahe parut segar, dan sebaliknya.

Mengonsumsi jahe dan produk olahan jahe, selain mengonsumsi obat anti-mual seperti dalam resep dokter, dapat memberikan beberapa kenyamanan untuk perut bila terasa mual selama pengobatan kanker.

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencegah-dan-menghadapi-kanker-dengan-bumbu-dapur/feed/ 0