Deteksi Dini Kanker, LIPI Perkenalkan Kit Kanker Payudara HER2

Reading time: 2 menit
kanker payudara
Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara HER2. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Jakarta (Greeners) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan Kit Deteksi Biomarker Kanker Payudara HER2 untuk mendeteksi dini penyakit kanker. Teknologi ini untuk mengetahui arah penentuan pengobatan kanker yang efektif bagi pasien sejak tahap awal.

”Teknologi deteksi ini bukan untuk pencegahan, namun untuk mendapatkan langkah selanjutnya ke arah penentuan pasien untuk terapi dengan trastuzumab,” ujar Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani dalam jumpa pers “Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker” di ruang Media Center LIPI, Jakarta, Senin (04/02/2019).

Laporan terbaru yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer, World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian yang terjadi pada tahun 2018. Sedangkan, penyakit kanker menempati urutan tertinggi di derita oleh pasien kanker wanita yaitu sebesar2,1 juta/pertahun (2018). Angka kematian yang ditimbulkan sebesar 627.000 orang atau sebesar 15% dari total penderita kanker.

BACA JUGA: Pengobatan Kanker, LIPI Manfaatkan Potensi Biodiversitas Laut Indonesia 

Desriani mengatakan pada kanker payudara terdapat tiga gen yang menjadi penyebab munculnya kanker yakni estrogen receptor, progresteron receptor dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2).

“Sebesar 20 persen dari jumlah penderita kanker payudara atau satu dari lima penderita disebabkan oleh HER2 positif. HER2 Positif ini didapatkan karena estrogen receptor dan progresteron receptor hasilnya negatif. Kelebihan protein HER2 inilah yang membuat sel-sel kanker tumbuh dan menyebar lebih cepat daripada sel-sel dengan kadar protein yang normal. Jadi Kit HER2 ini nanti digunakan untuk mendeteksi apakah pasien itu merupakan pasien kategori HER2, sehingga nanti akan menentukan terapi yang akan didapatkan oleh pasien tersebut,” katanya.

BACA JUGA: BPPT Luncurkan Lab Uji Polutan Organik Penyebab Kanker 

Desriani mengatakan bahwa saat ini alat kesehatan Kit HER2 ini masih dalam tahap pengembangan dan masih perlu dilakukan uji karakter kit meliputi, sensitifitas, spesifikasi, stabilitas, dan blind test. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkeinginan ada penelitian lebih lanjut terhadap Kit ini.

”Selain KIT, saat ini penelitian yang dilakukan di LIPI adalah pembuatan protein interferon alfa-2a non fusi dan interferon alfa-2a fusi dengan human serum albumin. Protein ini memiliki aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan sel kanker,” kata Desriani.

Dengan menggunakan human serum albumin, diagnosis dengan Kit untuk menentukan status HER2 ini telah berhasil divalidasi dengan metode CISH (Chromogenic In Situ Hybridization) dengan tingkat kesesuaian tinggi mencapai 86% untuk mendeteksi status HER2 pada pasien kanker.

Penulis: Dewi Purningsih

Top