tas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/tas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 08 Jun 2023 05:09:28 +0000 id hourly 1 Mahasiswa Berlin Buat Tas dari Limbah Kulit Buah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-berlin-buat-tas-dari-limbah-kulit-buah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mahasiswa-berlin-buat-tas-dari-limbah-kulit-buah https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-berlin-buat-tas-dari-limbah-kulit-buah/#respond Thu, 08 Jun 2023 05:09:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40356 Mahasiswa desain yang berbasis di Berlin, Lobke Beckfeld dan Johanna Hehemeyer Cürten mengembangkan tas kulit buah. Tas tersebut tembus cahaya, larut dalam air dan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman setelah […]]]>

Mahasiswa desain yang berbasis di Berlin, Lobke Beckfeld dan Johanna Hehemeyer Cürten mengembangkan tas kulit buah. Tas tersebut tembus cahaya, larut dalam air dan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman setelah tidak digunakan lagi.

Tas Soneta155 mereka buat dari dua bahan limbah pascaindustri yang berbeda seperti kulit buah sisa dari produksi jus dan serat selulosa pendek yang bersumber dari pabrik tekstil lokal.

Produk-produk ini memiliki masa pakai yang lebih dekat dengan kantong kertas sekali pakai dan dirancang untuk terdegradasi secara alami. 

Melansir Deezen, Hehemeyer Cürten mengatakan, rancangan tas ini sebagai upaya meningkatkan kantong kertas biasa. 

“Tetapi tentu saja, kami berharap tas ini menarik bagi orang-orang yang kuat untuk memakai, menggunakan dan mencintainya hingga tas ini larut,” katanya.

Bahan utama Soneta155 adalah pektin, zat pembentuk gel yang mereka ekstraksi dari dinding sel buah yang dibuang dan berfungsi sebagai pengikat alami. Kemudian mereka memperkuat dengan serat selulosa yang panjangnya kurang dari lima milimeter.

Selanjutnya, mencampurnya dengan air hangat. Campuran tersebut mereka biarkan mengering di cetakan hingga lima hari sebelum mereka rangkai jadi satu.

Kembangkan Limbah Kulit Buah

Beckfeld dan Hehemeyer Cürten mengekstraksi pektin dari kulit limbah. Persentase selulosa, serta panjang dan kerapatan serat menentukan struktur, tingkat tembus cahaya serta ketahanan material.

Pigmen alami menawarkan berbagai warna dari terang ke gelap, buram dan kusam hingga berkilauan. Selain itu, struktur cetakan juga bisa memberikan hasil akhir matt atau glossy pada bahan.

Bahan tersebut dapat dilarutkan dalam air hangat dan disusun kembali untuk membuat tas baru dengan kualitas yang sama. Sebagai alternatif, selulosa dapat disaring melalui saringan dan digunakan kembali, sedangkan pektin dapat digunakan kembali sebagai makanan nabati.

Beckfeld dan Hehemeyer-Cürten, saat ini terus mengembangkan inovasinya dengan mencari kerja sama dengan produsen industri agar Sonnet155 tersedia secara komersial.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Dezeen

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mahasiswa-berlin-buat-tas-dari-limbah-kulit-buah/feed/ 0
Fjällräven Luncurkan Koleksi Tas Bertemakan Sampah Laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/fjallraven-luncurkan-koleksi-tas-bertemakan-sampah-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fjallraven-luncurkan-koleksi-tas-bertemakan-sampah-laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/fjallraven-luncurkan-koleksi-tas-bertemakan-sampah-laut/#respond Wed, 30 Jun 2021 02:00:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33070 Perusahaan fesyen kenamaan asal Swedia, Fjällräven, baru-baru ini telah meluncurkan koleksi tas terbaru dalam seri Kånken Art 2021. Tahun ini, Fjällräven mengangkat tema berupa sampah laut untuk koleksi Kånken Art […]]]>

Perusahaan fesyen kenamaan asal Swedia, Fjällräven, baru-baru ini telah meluncurkan koleksi tas terbaru dalam seri Kånken Art 2021. Tahun ini, Fjällräven mengangkat tema berupa sampah laut untuk koleksi Kånken Art terbaru mereka. Melalui koleksi terbaru mereka, Fjällräven ingin menyuarakan mengenai pentingnya kesadaran untuk menjaga laut dari sampah plastik.

Untuk menghadirkan koleksi Kånken Art 2021, kali ini Fjällräven bekerja sama dengan seorang animator dan ilustrator asal Swedia bernama Linn Fritz. Sama seperti Fjällräven, Linn juga peduli terhadap krisis sampah plastik laut. Ia berkeinginan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai urgensi masalah sampah laut dan kebersihan lautan.

“Kolaborasi Kånken Art 2021 bersama Fjällräven sangat menyenangkan, lantaran Fjällräven mendengarkan, memahami dan menjelaskan misi mereka dengan cara yang sangat bermanfaat. Kami sama-sama memiliki visi yang kuat bahwa masa depan kami dan masa depan alam saling terikat. Oleh karena itu, kita perlu menjaganya bersama. Kita perlu mensyukuri apa yang kita miliki sebelum terlambat,” tutur Linn.

“Istimewa rasanya mengetahui bahwa Kånken akan bekerja sama dengan organisasi lingkungan guna meningkatkan kesadaran terhadap sampah plastik di laut. Saya berharap Fjällräven akan terus menggunakan ajang ini untuk kebaikan dan menciptakan kesadaran untuk  lingkungan yang lebih baik di masa depan,” tambah Linn.

Fjällräven Dukung Pengurangan Sampah Plastik

Tak hanya bekerja sama dengan Linn Fritz, Fjällräven juga bekerja sama dengan dua organisasi lingkungan untuk menghadirkan koleksi Kånken Art 2021. Mereka bekerja sama dengan organisasi The Leave No Trace Center dan 2 Minute Foundation. The Leave No Trace Center sendiri merupakan organisasi non-profit dari Amerika yang berdedikasi dalam melindungi alam bebas dengan mengedukasi orang untuk menikmati alam secara bertanggung jawab. Bersama organisasi tersebut, perusahaan fesyen yang satu ini mendukung penuh aksi pengurangan sampah plastik.

“Fjällräven telah menjadi yang terdepan dalam aktivitas The Leave No Trace Center selama beberapa tahun terakhir. Bertahun-tahun, kami bekerja dengan mereka untuk berbagi semangat kepada kami untuk alam bebas dan membantu menginspirasi komunitas untuk melindungi alam,” ujar Direktur Eksekutif dari The Leave No Trace Center, Dana Watts.

“Dengan Fjällräven, kami membantu melindungi alam, memperkuat jaringan relawan, dan meningkatkan upaya edukasi Leave No Trace,” tambahnya.

Sebagai informasi, produk Kånken Art  2021 hadir dalam dua varian warna yang selaras dengan tema Hari Laut Sedunia: Ocean Deep dan Ocean Surface. Terbuat dari bahan ramah lingkungan seperti poliester daur ulang dan kapas organik, produk Kånken Art 2021 juga hadir dalam empat varian bentuk. Varian tersebut yaitu Kånken Art, Kånken Art Mini, Kånken Art Laptop 15″, dan Kånken Art Sling Bag.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa Fjällräven turut memberikan dukungan finansial kepada organisasi lingkungan yang mendukung gerakan pencegahan sampah plastik. Setiap 1% uang yang didapatkan dari hasil pembelian  Kånken Art  2021 akan mereka donasikan kepada organisasi-organisasi tersebut.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Situs Resmi Fjällräven

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/fjallraven-luncurkan-koleksi-tas-bertemakan-sampah-laut/feed/ 0
Threadapeutic Angkat Mode Berkonsep Upcycling https://www.greeners.co/gaya-hidup/threadapeutic-angkat-mode-berkonsep-upcycling/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=threadapeutic-angkat-mode-berkonsep-upcycling https://www.greeners.co/gaya-hidup/threadapeutic-angkat-mode-berkonsep-upcycling/#respond Sun, 02 Dec 2018 07:19:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21796 Barang bekas dapat menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai estetika, bahkan nilai jual. Konsep upcycling ini diterapkan oleh Nagawati Surya untuk menciptakan berbagai tas unik dengan label Threadapeutic.]]>

Jakarta (Greeners) – Menggunakan ulang (reuse) barang bekas adalah salah satu solusi untuk mengurangi masalah timbulan sampah. Dalam proses yang lebih kreatif, barang bekas dapat menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai estetika, bahkan nilai jual. Konsep yang dikenal dengan istilah upcycling ini diterapkan oleh Nagawati Surya, atau akrab disapa Hana, untuk menciptakan berbagai tas cantik, unik sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.

“Awalnya saya disuruh membuat suvenir untuk goodie bag orang-orang media. Bahan yang boleh dipakai cuma dari perca kain dan spanduk. Dari bahan-bahan tersebut kita mulai eksperimen. Suvenir yang kami buat untuk acara Indonesia Fashion Week 2015 itu mendapat respon positif dari publik. Berawal dari acara itu bisnis ini terus dilanjutkan, ditambah lagi tujuannya buat lingkungan,” ungkap Hana saat dihubungi Greeners melalui telepon.

Tidak hanya memanfaatkan perca kain dan spanduk bekas, karung kopi pun turut ia manfaatkan. Pemanfaatan material sisa tersebut merupakan salah satu upayanya untuk menyelamatkan lingkungan sekaligus mengubah pola pikir masyarakat agar ikut mendaur ulang sebagai upaya tanggung jawab bersama.

“Bahan karung kopi bekas kami ambil dari karung biji kopi roaster asli yang masih ada capnya sedangkan spanduk diambil dari bekas event yang ada di Jakarta Convention Center (JCC). Untuk kain percanya kami olah lagi hingga tampilannya berubah dari aslinya, bukan sekadar kain perca yang cuma ditambal-tambal saja. Kami juga mengombinasikan perca dengan bahan polos. Biasanya bahan kain polos berasal dari sisa toko-toko konveksi jadi kami enggak beli yang baru,” jelas Hana.

threadapeutic

Koleksi Threadapeutic tampil simpel namun unik dengan teknik jahit “quilting” dan “faux chenille”. Foto: Threadapeutic

Hana mengungkapkan bahwa dirinya tidak menganggap bahan bekas sebagai sampah. “Sisa bahan bekas justru saya anggap semacam material umum. Saya suka untuk mengubah sesuatu yang enggak dipandang orang menjadi sesuatu yang ada nilai ekonomi, branding, dan estetiknya. Dari dulu saya sudah suka hal-hal kayak furnitur bekas, jadi enggak aneh kenapa saya akhirnya benar-benar menekuni bidang ini. Soal dampak lingkungannya yah itu bonus dari apa yang kita kerjakan,” katanya.

Hana sendiri menciptakan merek “Threadapeutic” bukan tanpa alasan. Merek ini menggabungkan kata thread dan therapeutic yang secara bebas dapat diartikan sebagai terapi benang.

Produk Threadapeutic dijahit menggunakan teknik quilting: kain disusun berlapis dan bertumpuk, kemudian dijahit rapat dan digores untuk memperlihatkan gradasi warna dari kain tersebut. Ada juga teknik faux chenille, yaitu menyikat kain sehingga tampak berbulu dan bertekstur. Kedua teknik tersebut lebih banyak dilakukan menggunakan tangan. “Segi desain dan kualitas harus bagus agar bisa menyaingi produk-produk yang ada dipasaran,” kata Hana menambahkan.

Threadapeutic hadir dalam berbagai produk tas, seperti tas tangan, tas selempang, pouch, hingga tas laptop. Modelnya dibuat klasik dan simpel.

Hana mengaku mendapatkan material untuk membuat produk Threadapeutic dari toko konveksi, toko material, kafe dan tempat penyelenggaraan acara. Ia juga mendapat donasi berupa baju dan kain bekas. “Banyak yang memberikan donasi bahan mentah kepada kami seperti baju dan kain. Namun saat ini kami akan membatasi pengiriman donasi tersebut karena kami belum sanggup untuk pegang semuanya,” ujar Hana.

Tidak salah jika berharap Threadapeutic kedepannya dapat menumbuhkan minat penggemar mode Indonesia ke arah mode yang berkelanjutan dan menjadi bagian dari circular economy.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/threadapeutic-angkat-mode-berkonsep-upcycling/feed/ 0
Tas Miselium, Saatnya Jamur ‘Naik Pangkat’ https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/#respond Mon, 08 Oct 2018 07:06:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21454 Sebuah perusahaan mode, Bolt Threads, meluncurkan tas ramah lingkungan bernama Mylo Driver Bag. Persis seperti kulit asli, tas ini terbuat dari material mycelium (miselium).]]>

Kepedulian terhadap bumi menjadi dasar terbentuknya sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan bagi pegiat industri mode. Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof. Rachmat Witoelar mengatakan bahwa industri mode global menghasilkan 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahunnya.

Sebuah perusahaan mode, Bolt Threads, meluncurkan tas ramah lingkungan bernama Mylo Driver Bag. Persis seperti kulit asli, tas ini terbuat dari material mycelium (miselium). Bolt Threads menyatakan bahwa tas ini memakai material yang berasal dari struktur akar jamur. Struktur tersebut berasal dari miliaran sel kecil jamur yang membentuk jaringan skala mikro tiga dimensi (3D). Struktur ini juga berperan sebagai sistem daur ulang alam.

miselium

Bolt Threads memanfaatkan miselium untuk membuat produk Mylo Driver Bag. Foto: yankodesign.com

Sekilas material tas ini terlihat layaknya kulit binatang. “Kulit binatang biasanya terbuat dari kolagen, sedangkan Mylo 100% berbahan miselium dan tidak menggunakan kolagen. Tas ini diproduksi dalam hitungan minggu, berbeda dengan kulit hewan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi,” tulis Bolt Threads dalam situs resminya. Dibandingkan dengan kulit sintetis yang terbuat dari poliuretan (polimer yang mengandung senyawa NHCOO, biasa dipakai dalam resin), Mylo terasa alami dan memiliki kelembaban yang lebih baik.

Bolt Threads mengklaim tas jamur ini memiliki potensi lebih ramah lingkungan daripada kulit binatang dan pengganti kulit lainnya. Tas ini mempunyai tekstur lembut, empuk, kuat dan tahan lama. Model tas ini simpel, di dalamnya terdapat dua kantong internal dan tiga kantong eksternal. Tas jinjing ini dapat digunakan baik perempuan maupun laki-laki.

Proses pembuatan tas ini memakai batang jagung sebagai media pengembangan miselium jamur yang dicampur dengan nutrisi khusus. Nutrisi tersebut berfungsi sebagai makanan miselium agar dapat berkembang. Miselium tumbuh ke atas dan merakit diri menjadi sel-sel yang saling berhubungan. Dari proses tersebut akan menghasilkan sel-sel yang membentuk material yang kuat.

miselium

Foto: yankodesign.com

Mylo tidak hanya memproduksi tas jinjing, tetapi juga tas tangan, tempat pensil dan gantungan kunci. Desain tas ini bekerja sama dengan Chester Wallace, desainer mode asal Portland. Tas ini di banderol $400 dan tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas.

Desainer kenamaan Stella McCartney ikut juga membantu dalam membuat prototipe tas Mylo. Sebagai informasi, prototipe tas Mylo diperkenalkan pertama kali dalam pameran Fashioned from Nature yang di selenggarakan di Museum Victoria dan Albert, London. Kerjasama yang dilakukan antara Stella dan Bolt Threads merupakan kali kedua. Sebelumnya mereka pernah membuat inovasi mode berkelanjutan lewat produk Microsilk.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tas-miselium-saatnya-jamur-naik-pangkat/feed/ 0
Doshi Hadirkan Tas Vegan dengan Nuansa Elegan https://www.greeners.co/gaya-hidup/doshi-hadirkan-tas-vegan-nuansa-elegan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=doshi-hadirkan-tas-vegan-nuansa-elegan https://www.greeners.co/gaya-hidup/doshi-hadirkan-tas-vegan-nuansa-elegan/#respond Thu, 14 Dec 2017 07:48:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19638 Dewasa ini terdapat begitu banyak merek fesyen yang berlomba-lomba untuk menciptakan tas dengan konsep vegan, dan ini bukanlah hal yang buruk. Namun sayang, kebanyakan para desainer lebih memilih untuk meniru tren fesyen yang telah ada sebelumnya. ]]>

Dewasa ini terdapat begitu banyak merek fesyen yang berlomba-lomba untuk menciptakan tas dengan konsep vegan, dan ini bukanlah hal yang buruk. Namun sayang, alih-alih berusaha untuk menciptakan sesuatu yang elegan dan praktis, kebanyakan para desainer lebih memilih untuk meniru tren fesyen yang telah ada sebelumnya. Maka jangan heran jika anggapan bahwa fesyen vegan terkesan rumit dan membosankan masih sering kita dengar.

Tak ingin stigma buruk terhadap fesyen vegan terus bertahan di tengah masyarakat, seorang vegetarian asal California Selatan, Paras Doshi, bertekad untuk membangun rumah fesyennya sendiri. Melalui rumah fesyen miliknya, Doshi ingin mengubah sudut pandang masyarakat terhadap fesyen vegan. Setelah melakukan trial and error beberapa kali, ia berhasil menghadirkan koleksi tas vegan yang tentunya bersifat cruelty-free dan ramah lingkungan.

tas vegan

Foto: doshi.shop

“Kami berusaha untuk menjadi rumah fesyen yang beretika, ramah lingkungan, dan tentunya dapat memberikan produk fesyen yang modis. Kami sengaja merancang produk fesyen kami, khususnya tas, sepraktis mungkin dan kuat sehingga produk yang kami berikan dapat bertahan lama,” tulis Doshi dalam situs resmi mereka.

Doshi sendiri menghadirkan koleksi tas yang beraneka macam dan dapat dinikmati oleh semua orang, baik pria maupun wanita. Berbagai jenis tas mulai dari tas kantor yang mewah hingga clutch ditawarkan oleh rumah fesyen yang telah disetujui PETA ini. Terbuat dari kulit sintetis yang dibuat secara beretika dan tentunya ramah lingkungan, Doshi berhasil menghadirkan koleksi tas vegan yang simpel namun tetap terkesan elegan. Seluruh koleksi tas yang ditawarkan oleh Doshi terlihat begitu sleek dan kualitasnya tak kalah dengan tas kulit premium lainnya.

tas vegan

Foto: doshi.shop

Didasari oleh keinginannya untuk menghadirkan tas vegan yang simpel dan elegan, Doshi memilih untuk “bermain aman” dalam proses pemilihan warna. Koleksi tas vegan ala Doshi didominasi oleh warna-warna gelap dan netral seperti hitam, abu-abu, cokelat tua, navy blue, ataupun warna krem. Selain itu, tampilan tas juga dibuat sesederhana mungkin supaya kesan elegan dapat tetap ditampilkan dengan baik.

Doshi juga menghadirkan berbagai koleksi lainnya seperti dompet dan ikat pinggang. Selain ingin menawarkan koleksi fesyen vegan dan modis, ia juga ingin mengajak para penikmat mode untuk lebih peduli terhadap kasus kekerasan pada hewan. Itu sebabnya ia memutuskan untuk mendonasikan sebagian dari hasil penjualan ke beberapa yayasan perlindungan hewan.

Penulis: ARF/G42

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/doshi-hadirkan-tas-vegan-nuansa-elegan/feed/ 0
Nikki Reed Rancang Tas dengan Pesan Anti Kekejaman Hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/nikki-reed-rancang-tas-dengan-pesan-anti-kekejaman-hewan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nikki-reed-rancang-tas-dengan-pesan-anti-kekejaman-hewan https://www.greeners.co/gaya-hidup/nikki-reed-rancang-tas-dengan-pesan-anti-kekejaman-hewan/#respond Sun, 18 Oct 2015 07:37:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11555 Ada berapa banyak koleksi tas anda yang terbuat dari kulit hewan? Pernahkah terpikir berapa banyak hewan yang harus berkorban demi keinginan penikmat fesyen? Inilah yang menjadi kepedulian utama Nikki Reed […]]]>

Ada berapa banyak koleksi tas anda yang terbuat dari kulit hewan? Pernahkah terpikir berapa banyak hewan yang harus berkorban demi keinginan penikmat fesyen? Inilah yang menjadi kepedulian utama Nikki Reed untuk meluncurkan tas yang bebas dari material bagian tubuh hewan.

Bekerja sama dengan Morgan Bogle, pendiri brand aksesoris etnik Freedom Of Animals, Nikki mendesain tiga gaya dalam koleksinya yang terbuat dari plastik daur ulang dan katun organik. Aktris yang terkenal dalam perannya sebagai Rosalie di Twilight Saga ini berharap tas buatannya ini dapat menyebarkan pesan tentang pentingnya mengembangkan dunia fesyen tanpa adanya kekejaman terhadap hewan.

“Keinginan saya adalah untuk menyebarkan kesadaran sesama khususnya mengenai isu kebijakan hewan yang merupakan salah satu hal yang saya sangat vokal soal itu,” ungkap Nikki, dilansir dari instyle.com

Kampanye produk 'Nikki Reed x Freedom of Animals'. Foto: Adrian Steirn/freedomofanimals.com

Kampanye produk ‘Nikki Reed x Freedom of Animals’. Foto: Adrian Steirn/freedomofanimals.com

Tas ini bertajuk ‘Nikki Reed x Freedom of Animals’ dan terdapat tiga macam desain tas, di antaranya Nikki Bucket Bag, Boromo Circle Bag dan Sohalia Belt Bag. Koleksinya ini diluncurkan pada Sabtu (10/10) lalu di Bloomingdale’s SoHo di New York, Amerika Serikat.

Ketiga desain tas ini sengaja dibuat Nikki karena ketiganya dapat digunakan sepanjang hari, untuk acara formal atau santai, siang atau malam, dan dapat cocok untuk berbagai suasana.

“Kami ingin membuat sesuatu yang tidak dirasa ekslusif. Kami ingin semua orang dapat menggunakannya. Tidak peduli kamu seorang ibu atau fashionista hipster yang keluyuran di New York City,” tambahnya.

Kampanye produk 'Nikki Reed x Freedom of Animals'. Foto: Adrian Steirn/freedomofanimals.com

Kampanye produk ‘Nikki Reed x Freedom of Animals’. Foto: Adrian Steirn/freedomofanimals.com

Selain terbuat dari bahan yang ramah lingkungan dan 100% cruelty-free material, ternyata perawatan untuk tas ini terbilang mudah. Hanya dengan menggunakan sabun dan air yang diusap perlahan ke permukaan tas, tas ini dapat terlihat selalu seperti baru. Selain itu, tas ini tahan terhadap air dan tahan lama.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nikki-reed-rancang-tas-dengan-pesan-anti-kekejaman-hewan/feed/ 0