Upcycle - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/upcycle/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 21 Feb 2021 04:57:37 +0000 id hourly 1 Bengok Craft: Gebrakan Upcycle Eceng Gondok dari Desa Kesongo https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bengok-craft https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/#respond Sun, 21 Feb 2021 12:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=31616 Kemampuan adaptasi eceng gondok yang sangat baik bisa merusak ekosistem perairan. Menyadari ini, Firman Setyaji membentuk usaha berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft.]]>

Bengok Craft merupakan satu lagi karya putra Tanah Air yang tidak hanya menghadirkan solusi untuk masalah lingkungan, namun juga memberdayakan masyarakat. Simak kisah mereka berikut ini. 

Kita telah mengetahui informasi mengenai eceng gondok yang dapat merusak biota air. Kemampuan adaptasinya yang sangat baik membuatnya bertumbuh dengan pesat; sehingga bisa merusak ekosistem.

Menyadari ini, Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Bengok craft melibatkan seluruh lapisan warga, mulai dari ibu-ibu sampai pemuda-pemudi Desa Kesongo, Jawa Tengah.

“Kita mulai memanfaatkan gulma. Hal yang tidak berguna itu diolah menjadi hal yang lebih bermanfaat,” kata Firman kepada Greeners (17/2/2021).

bengok craft

Firman Setyaji membentuk usaha kerakyatan yang berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mengolah eceng gondok jadi kerajinan, dengan produk bernama Bengok Craft. Foto: Bengok Craft.

Berawal dari Bahan Mentah

Awalnya masyarakat Desa Kesongo juga telah memanfaatkan eceng gondok sebagai sumber penghasilan. Namun, pemanfaatan ini sebatas menyuplai bahan mentah dan mengirim eceng gondok yang mereka usahakan ke daerah Yogyakarta sampai Pekalongan.

“Di sini malah yang belum ada perajinnya. Nah, ini makanya kita bergerak untuk ayo kita di sini juga bisa bikin jadi daerah perajin. Angan-angan nantinya ingin jadi sentra kerajinan, itu kita mulai dan kita terus berproses dan berprogress,” ucap Firman.

Merek Bengok Craft bermakna sederhana, namun erat dengan ciri khas produk yang mereka jual. Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di daerah mereka.

“Sedangkan craft itu nama global. Kita sedari awal pengin bawa produk lokal ini ke ranah global,” tambahnya.

Ketika menjual eceng gondok basah ke para penjemur, biasanya bahan mentah itu terjual Rp500,00 per kilo.

“Dijemur selama 2-3 minggu sampai kering itu dijual per kilonya Rp5000,00. Apabila satu kilo ini dibikin kerajinan, itu bisa menghasilkan berkali-kali lipat,” jelas Firman.

Misalnya, perajin membuat topi; topi membutuhkan eceng gondok sekitar satu kilogram. “Jadi, ada peningkatan harga di situ. Bahkan 10 kali lipat lebih dengan kita berkreasi,” ucap Firman.

bengok craft

Firman menuturkan, bengok merupakan penyebutan nama lokal enceng gondok di Desa Kesongo, Jawa Tengah. Foto: Bengok Craft.

Pemberdayaan Masyarakat dengan Bengok Craft

Menurut Firman, pemanfaatan eceng gondok menjadi kerajinan merupakan peluang untuk meningkatkan taraf hidup.

“Untuk masalah bisa atau tidaknya, itu bisa dipelajari. Dengan kemauan, angan, dan keterampilan, nanti itu bisa menghasilkan suatu kreasi atau karya,” tutur Firman.

Bengok Craft memberikan solusi untuk warga agar bisa mengolah kerajinan enceng gondok. Biasanya mereka memikul bahan mentah, menjualnya, dan menghasilkan Rp100.000,00 – Rp200.000,00.

“Apabila dijadikan kerajinan bisa sampai jutaan rupiah. Caranya bagaimana? Kita mengolah, bisa jadi topi, bisa jadi tas, dan bisa jadi macam-macam kreasi lainnya,” cakap Firman.

bengok craft

Bengok Craft memberikan solusi untuk warga agar bisa mengolah kerajinan enceng gondok. Foto: Bengok Craft.

Harapan Menjadi Sentra Kerajinan Eceng Gondok

Firman berharap, jika semakin banyak warga yang mengolah kerajinan enceng gondok, desa mereka akan menjadi sentra kerajinan enceng gondok. Dia percaya, keunikan ini bisa menarik wisatawan. Selain menambahkan pemasukan untuk warga, mereka juga menularkan ilmu bagi orang-orang yang datang ke desa mereka.

Di samping menambah nilai bengok, usaha upcycle lewat bengok craft juga mengusung zero waste. Firman mengatakan, mereka sebisa mungkin meminimalisir sampah.

“Jadi sisa kerajinan, apabila kita bikin sandal atau bikin tas, kita bisa olah kembali menjadi sesuatu produk yang baru,” timpalnya.

Bengok Craft mendistribusikan kreasi eceng gondok melalui media sosial. Mereka menjangkau kota-kota yang memang menaruh apresiasi tinggi terhadap kreasi-kreasi upcycle lewat daring seperti Instagram dan Website. Menurut Firman, jika hanya memasarkan di area lokal saja, usahanya kurang bisa berkembang.

“Kita mencoba untuk menjangkau pasaran di kota-kota besar, yaitu di daerah Bali – Jakarta. Memang kita bukan seperti pabrikan atau yang produksi massal. Kita tetep kreasi terbatas. Kita perbanyak inovasi dengan kreasi-kreasi yang baru,” ucapnya.

Saat ini, macam-macam produk olahan eceng gondok yang mereka jual adalah dekorasi ruangan (tempat menyimpan barang), tas, sendal, phone case, dan mangkuk.

Penulis: Agnes Marpaung.

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/bengok-craft/feed/ 0
Sandal Serbaguna dari Upcycle Kain https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-serbaguna-dari-upcycle-kain/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sandal-serbaguna-dari-upcycle-kain https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-serbaguna-dari-upcycle-kain/#respond Sat, 04 Jul 2020 02:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=27751 Kain warna-warni yang sudah tidak terpakai kemudian dimanfaatkan kembali dan diubah menjadi produk repurposed berupa sandal bermotif.]]>

Industri fashion memiliki dampak lingkungan dari tiap produksinya. Mulai dari konsumsi sumber daya yang berlebih, polusi air, hingga limbah material. Akan sangat bagus ketika perusahaan mau mengambil tanggung jawab dan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satu perusahaan di bidang fashion membuat sepatu dari sisa-sisa kain yang dibuang. Kain warna-warni yang sudah tidak terpakai kemudian dimanfaatkan kembali. Mereka mengubahnya menjadi produk repurposed berupa sandal dengan motif yang cerah dan berani.

Berbagai produk berkelanjutan telah dibuat dengan penelitian dan desain yang inovatif. Sejumlah inovasi juga diproduksi seperti menggunakan lem alami dan bahan biodegradasi dari tanaman. Tujuannya adalah agar produk dapat didaur ulang menjadi bentuk lain. Metode pengembalian juga disediakan agar konsumen dapat dengan mudah mengirimnya kembali ke industri.

Sandal dari Upcycle Kain

Foto: Native Shoes

Berdasarkan inisiatif tersebut, komposisi unik sepatu dapat diubah menjadi bahan serbaguna untuk menciptakan produk yang lebih beragam. Melansir inhabitat.com, dengan proses yang ekslusif, perusahaan dapat memecah bahan-bahan yang ditemukan dalam setiap model sepatu, sandal, slip, sepatu rajut, dan sepatu bot.

Sandal ini memiliki desain dengan dua tali, gesper yang dapat menyesuaikan ukuran kaki, dan berkontur. Alas kaki tersebut berfungsi sebagai opsi sepatu serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai kesempatan seperti kegiatan sehari-hari, hiking, ke pantai, hingga pergi ke pesta. Sandal ini tersedia untuk semua umur mulai dari balita, anak-anak hingga pria dan wanita dewasa. Untuk balita, sandal dilengkapi dengan tali karet pada tumit.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sandal-serbaguna-dari-upcycle-kain/feed/ 0
The 24,000 Plastic Bottles Christmas Tree https://www.greeners.co/english/the-24000-plastic-bottles-christmas-tree/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-24000-plastic-bottles-christmas-tree https://www.greeners.co/english/the-24000-plastic-bottles-christmas-tree/#respond Sat, 04 Feb 2017 07:00:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15832 Recycling is nothing new for Yeni, who is the founder of My Darling Waste Bank. She had created countless upcycle, including the 6.5 meter christmas tree made of thousands of plastic bottles.]]>

Jakarta (Greeners) – Unusual view spotted at the corner of the altar, GPIB Paulus, Menteng, Central Jakarta. A tall, transparent and shiny christmas tree, handmade by one of its churchgoer and green activist, Yeni Mulyani Hidayat.

Recycling is nothing new for Yeni, 46 years old, who is the founder of My Darling Waste Bank (an acronym for Masyarakat Sadar Lingkungan). She had created countless upcycle, including the 6.5 meter christmas tree made of thousands of plastic bottles.

In 2015, GPIB had environment as its annual christmas theme. One of the priest had challenged her to built a christmas tree from recycle materials.

“I was challenged. Do I have ideas for the christmas tree? I have not thought anything because I was in Singapore to teach about recycling to embassy staffs and workers there,” she recalled.

Eventually, she accepted the challenge and started to look for reference from churches which also set up recycle christmas tree.

“I finally came up with the idea to cut plastic bottles and put them together to make up lumps of bottles. One lump equals seven bottles,” she said.

christmas tree

Yeni Mulyani Hidayat. Photo: greeners.co/Renty Hutahaean

All plastic bottles, exclude glass-size plastic bottles, were used up to for the leaves. She designed and welded the tree skeleton of which she divided into three parts. It took 160 kilogram of plastic bottles, one kilo for 150 bottles, for the leaves. It means 24,000 plastic bottles collected by Yeni for the project to built the 6.5 meter tall and 1.75 meter diameter Christmas tree.

“The tree is unique for the congregation of GPIB Paulus as the church has been using real tree which could reach 15 million rupiah. This tree only costs 6.5 million rupiah. It only added 1.5 million rupiah for welding service,” she said adding that there were tensions in the process but finally all satisfied with the result.

Her hard work of 15 days resulted of Yeni being introduced to DKI Jakarta Governor, Basuki Tjahaya Purnama, on Christmas day, as the designer and maker of the plastic Christmas tree.

“I was trembling because of very shy,” she said laughing.

christmas tree

Photo: greeners.co/Renty Hutahaean

A week before 2016 Christmas, the church installed the upcycle tree again. However, Yeni who was still unsatisfied with the animals had changed them with extra LED lights. She also fixed leaves stolen by churchgoers. “Most of them took them for replication,” she said.

In addition to the tree, Yeni and My Darling Waste Bank’s design also being displayed, such as bags, hats, accessories, mirror, lampshade, to carpet, all recycled.

“From all of four years works of My Darling Waste Bank, the Christmas tree was the spectacular one, in my opinion. All other works were made by waste bank. I was challenged to make more spectacular than this tree,” she said adding that she was rejected and underestimated by closest people.

She gained her husband’s support. “It’s beautiful,” she said determined to encourage environmental awareness to more people.

Report by Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/english/the-24000-plastic-bottles-christmas-tree/feed/ 0
Koleksi Tas Ramah Lingkungan dari Kulit Kursi Pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/#respond Fri, 18 Dec 2015 13:03:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12284 Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama menjadi berbagai tas berkualitas tinggi.]]>

Setelah sebelumnya United Airlines meluncurkan koleksi tas yang dibuat dari banner publikasi milik maskapai mereka yang sudah tidak terpakai, kali ini maskapai Alaska Airlines mengikuti jejak yang sama. Maskapai satu ini mengolah kembali bagian dari kursi penumpang pesawat yang telah usang menjadi berbagai produk tas yang unik.

Alaska Airlines bekerjasama dengan Looptworks menggunakan kembali kulit kursi penumpang yang sudah lama dari pesawat Horizon Air, anak perusahaan Alaska Airlines, menjadi berbagai tas berkualitas tinggi. Looptworks sendiri merupakan brand asal Portland yang sudah piawai mengolah barang-barang bekas menjadi produk baru. Siapa sangka, dari kulit kursi pesawat yang sudah tidak terpakai, dapat tercipta koleksi seri dompet, tas laptop, tote bag hingga tas selempang.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Banyak hal yang membuat tas tersebut menjadi spesial. Koleksi tas yang diberi label “Carry On Collection” ini dibuat eksklusif dan sesuai pesanan, sehingga tas ini tergolong terbatas dan tidak dibuat dalam jumlah banyak. Selain itu, tas ini pun diproduksi non-profit dan mempekerjakan para penyandang disabilitas di Oregon, serta diproduksi secara handmade dan bergaransi seumur hidup.

“Misi kami adalah untuk menginspirasi perubahan, baik para pembeli dan model dalam industri manufaktur, karena masih mudah untuk membuat produk dari bahan baru, berbeda dengan mengolah ulang bahan yang ada,” ujar Scott Hamlin, pendiri dari Looptworks seperti dikutip dari ecouterre.com.

Produk tas "Carry On Collection" hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Produk tas “Carry On Collection” hasil kerjasama Alaska Airlines dan Looptworks. Foto: www.ecouterre.com

Ide ini pun memangkas kebutuhan produksi kulit dengan jumlah banyak dan mengurangi penggunaan air hingga 1.500 galon air per produk. Sebuah produk upcycling yang diharapkan tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan dan alam, namun juga berguna untuk masa depan dunia fesyen. Sekaligus, memberikan kehidupan kedua bagi barang-barang bekas tersebut untuk bisa menjadi produk yang lebih dihargai.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/koleksi-tas-ramah-lingkungan-kulit-kursi-pesawat/feed/ 0
Marks & Spencer Luncurkan Tote Bag dari Katun Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/#respond Thu, 29 Oct 2015 07:47:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11698 Baru saja selesai dengan kolaborasinya bersama Livia Firth dan Eco-Age beberapa waktu lalu, Marks & Spencer kembali melanjutkan program sustainable retail challenges-nya. Kali ini, M&S menggandeng organisasi PBB yang memperjuangkan […]]]>

Baru saja selesai dengan kolaborasinya bersama Livia Firth dan Eco-Age beberapa waktu lalu, Marks & Spencer kembali melanjutkan program sustainable retail challenges-nya. Kali ini, M&S menggandeng organisasi PBB yang memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan anak, Unicef dan perancang busana ternama Barbara Hulanicki meluncurkan koleksi eco tote bag untuk menggalang dana untuk Unicef United Kingdom.

Untuk pertama kalinya, M&S menggunakan bahan katun yang diproses ulang untuk membuat tas yang dibuat terbatas ini. Bahan katun yang digunakan untuk pembuatan tas ini sebelumnya merupakan taplak meja linen yang digunakan di hotel dan restoran.

Peluncuran tas ini juga merupakan salah satu bagian dari progam Plan A, yakni program eco & etnical yang dicanangkan oleh M&S sejak 2007 lalu yang bertujuan untuk membantu M&S menjaga segala aktifitas produksinya dari pembuangan sampah yang berlebih. Tas ini dibuat sebagai salah satu bentuk keikutsertaan M&S dalam industri fesyen berkelanjutan dan dukungan dalam kampanye untuk melindungi anak dari bahaya. Tote bag ini juga diciptakan sebagai solusi bagi penggunaan tas plastik.

“Tas ini didesain stylish, terjangkau dan menawarkan alternatif lain dari penggunaan tas plastik,” ujar Kate Goldman selaku Director of Partnership and Philanthropy Unicef UK seperti yang dilansir dari situs resmi Unicef UK.

Peluncuran eco tote bag dari M&S ditujukan untuk membantu memperjuangkan keselamatan anak-anak. Foto: www.marksandspencer.com

Peluncuran eco tote bag dari M&S ditujukan untuk membantu memperjuangkan keselamatan anak-anak. Foto: www.marksandspencer.com

Pada bagian depan tas, Barbara Hulanicki menggambar dua kepala anak-anak dan di sampingnya terdapat simbol hati berwarna biru. Ia mengungkapkan bahwa dengan desain tersebut, ia ingin merefleksikan bahwa setiap orang yang membeli tote bag tersebut turut membantu Unicef UK menjaga keselamatan anak-anak.

Tas ini dijual hanya dengan harga 4 Euro atau setara dengan 60 ribu rupiah. Setiap 1 Euro dari penjualan akan disumbangkan langsung kepada Unicef untuk membantu menolong anak-anak yang berada dalam bahaya. “Unicef UK akan dengan bangga menggunakan dana yang didapatkan lewat penjualan setiap tas tersebut untuk membantu upaya perlindungan lebih banyak anak-anak dari bahaya yang menghantui mereka di luar sana,” tambah Kate.

Unicef merupakan organisasi tingkat dunia yang fokus pada anak-anak dan membantu memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan anak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/marks-spencer-luncurkan-tote-bag-dari-katun-bekas/feed/ 0
Chitosan, Dari Laut Untuk Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/chitosan-dari-laut-untuk-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=chitosan-dari-laut-untuk-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/chitosan-dari-laut-untuk-laut/#respond Thu, 11 Jun 2015 09:34:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9611 Mengenakan berbagai asesoris dari kulit kepiting terdengar tidak menarik, bukan? Namun bagaimana kalau produk tersebut dijabarkan seperti ini: pakaian anti mikroba, anti jamur dan juga anti bakteri. Jadi bagi mereka […]]]>

Mengenakan berbagai asesoris dari kulit kepiting terdengar tidak menarik, bukan? Namun bagaimana kalau produk tersebut dijabarkan seperti ini: pakaian anti mikroba, anti jamur dan juga anti bakteri. Jadi bagi mereka yang malas mencuci baju, maka produk fashion ini dapat dijadikan pilihan karena produknya sanggup bertahan dalam waktu yang lebih lama tanpa harus dicuci berulang-ulang.

Sebuah perusahaan dari Alaska, Tidal Vision, melakukan proyek yang sangat menarik dari berton-ton limbah industri perikanan di Alaska. Salah satu produk inovatif mereka adalah baju Chitoskin. Ada juga produk lainnya yaitu dompet dan sabuk yang terbuat dari kulit ikan.

Chitosan adalah sebuah material yang diekstrak dari cangkang kepiting dan kulit udang. Alih-alih melapisi sehelai kain dengan material tersebut, Chitoskin dibuat dari benang yang merupakan perpaduan cangkang kepiting dan udang dan menghasilkan bahan yang lebih kuat dan lebih tahan bau.

Tidal Vision menggunakan teknologi baru untuk menambahkan nilai pada industri perikanan yang berkelanjutan. Dengan memberikan cara bagi industri tersebut untuk mengurangi limbahnya, mereka mendapatkan keuntungan limbah yang terolah kembali, seperti kulit ikan dan cangkang kepiting. Tidal Vision dididirikan di Alaska, dimana hampir 1.000 ton limbah industri perikanan seperti kulit, tulang dan cangkang dibuang ke laut tiap tahun.

Material Chitosan melalui proses yang cukup lama untuk menghasilkan produk jadi. Namun, produk ini diklaim anti mikroba, anti jamur dan anti bakteri. Foto: www.kickstarter.com

Material Chitosan melalui proses yang cukup lama untuk menghasilkan produk jadi. Namun, produk ini diklaim anti mikroba, anti jamur dan anti bakteri. Foto: www.kickstarter.com

Pendiri dan CEO Tidal Vision, Craig Kasberg mengatakan, “Saya tumbuh di komunitas pinggir laut di Alaska Tenggara, tempat dimana kami sangat bergantung pada keberlanjutan laut untuk makanan, budaya, juga tradisi dan perekonomian kami. Saya sudah bekerja di pengolahan salmon, halibut dan perahu penangkap kepiting sejak saya berusia 15 tahun. Kecintaan saya pada laut dimulai sejak usia dini dan terus tumbuh sampai sekarang.”

Ide-ide produknya, menurut Craig, tidak datang dari keinginan untuk membuat produk fashion semata. “Ide itu datang karena melihat limbah industri perikanan dibuang ke laut dan bertanya-tanya bagaimana kita bisa menggunakan limbah tersebut untuk sesuatu yang lebih baik,” ujar Craig.

Memanfaatkan kulit sisik ikan hanyalah salah satu cara mengangkat limbah tersebut menjadi sesuatu yang berguna. Kulit tersebut digunakan untuk membuat dompet, pembungkus ponsel, atau sabuk. Namun ke depannya, Craig berharap dapat bekerjasama dengan para pengrajin untuk membuat sepatu, boots dan lain-lain dalam edisi terbatas.

Foto: www.kickstarter.com

Foto: www.kickstarter.com

Proses mewarnai kulit sisik ikan tidaklah sederhana. Menurut website Tidal Visions, langkah pertama yang mereka lakukan adalah menghilangkan minyak alami dari kulit salmon. Kemudian dilanjutkan dengan memberi ramuan rahasia yang terbuat dari minyak pewarna dari tumbuhan untuk menggantikan minyak ikan tersebut. Setelah itu, barulah pewarnaan dimulai. Proses ini menghasilkan ketahanan yang paling tinggi dan juga memastikan warna-warna yang dihasilkan bisa diserap sampai ke bagian terdalam kulit tersebut.

“Menggunakan sumber daya laut sampai ke pontensinya yang paling akhir adalah sesuatu yang besar. Tidak ada yang menyukai limbah. Sangat memalukan melihat berton-ton limbah dikumpulkan dan dibuang ke laut tiap tahunnya. Namun mengurangi limbah saja tidak cukup menarik untuk saya. Saya ingin mendorong penangkapan ikan yang berkelanjutan dan meningkatkan perikanan yang berkelanjutan dengan produk-produk kami,” ujar Craig.

Tidal Vision tidak berhenti pada produk-produk dari limbah saja, mereka juga mulai melirik perbaikan lingkungan untuk industri pertambangan, sebuah lahan baru untuk metode ekstraksi Chitosan.

Penulis: NW/G15
Sumber: www.inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/chitosan-dari-laut-untuk-laut/feed/ 0
Memanfaatkan Kemasan Karton Tetra Pak Menjadi Dudukan Lampu LED https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-kemasan-karton-tetra-pak-menjadi-dudukan-lampu-led/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memanfaatkan-kemasan-karton-tetra-pak-menjadi-dudukan-lampu-led https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-kemasan-karton-tetra-pak-menjadi-dudukan-lampu-led/#comments Fri, 22 May 2015 05:02:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9189 Tetra Pak adalah benda sehari-hari yang sesungguhnya dianggap sebagai sebuah penemuan besar. Benda ini adalah wadah yang efektif untuk menyimpan susu dan bahan-bahan yang mudah membusuk lainnya selama berbulan-bulan tanpa […]]]>

Tetra Pak adalah benda sehari-hari yang sesungguhnya dianggap sebagai sebuah penemuan besar. Benda ini adalah wadah yang efektif untuk menyimpan susu dan bahan-bahan yang mudah membusuk lainnya selama berbulan-bulan tanpa dimasukkan ke lemari pendingin. Bahkan kemasan karton ini lebih baik daripada pengalengan karena tidak menggunakan plastik BPA (Bisphenol-A). Walaupun begitu, muncul beberapa kontroversi mengenai seberapa ‘hijau’ produk Tetra Pak ini.

Beberapa orang berpendapat bahwa hanya sebagian kecil dari kemasan karton ini yang bisa didaur ulang. Akan tetapi, baru-baru ini sebuah terobosan dibuat dengan memanfaatkan karton Tetra Pak menjadi barang-barang berguna, salah satunya adalah dudukan lampu LED.

Untuk membuat Noctambula diperlukan baterai, lampu LED dan karton Tetra Pak sebagai sirkuitnya. Foto: www.fattelo.com

Untuk membuat Noctambula diperlukan baterai, lampu LED dan karton Tetra Pak sebagai sirkuitnya. Foto: www.fattelo.com

Dilansir dari laman Treehugger, Ruben Anderson pernah berkata, ” Tetra Pak terdiri dari lapisan tipis yg terbuat dari kertas, plastik dan alumunium. Orang-orang berusaha mendaur ulang Tetra Pak dengan menghancurkannya menggunakan mesin blender untuk memisahkan kertas dari plastik dan logam. Kenapa tidak mendaur ulangnya saja dengan mencuci botolnya dan mengisinya kembali?”

Sebuah firma desain dari Itali, Fattelo!, menemukan cara agar kemasan karton ini dapat didaur ulang dengan mudah. Desain yang dinamakan Noctambula tersebut dirancang oleh Mireia Gordi Vila dan Frederico Trucchia sebagai “kerangka kerja desain yang terbuka”. Prinsip desain tersebut adalah berusaha menggunakan limbah peralatan rumah tangga dan menjadikannya barang-barang baru yang berguna. Para desainer ini menitikberatkan pada penggunaan alumunium pada kemasan karton Tetra Pak sebagai sirkuit listrik bervoltase rendah yang potensial.

(kiri ke kanan) Karton Tetra Pak yang sudah berbentuk pola hingga menjadi dudukan lampu LED. Foto: www.fattelo.com

(kiri ke kanan) Karton Tetra Pak yang sudah berbentuk pola hingga menjadi dudukan lampu LED. Foto: www.fattelo.com

Lapisan almunium pada kemasan karton Tetra Pak digunakan sebagai konduktor listrik. Mereka memotong-motong karton tersebut untuk membentuk pola sirkuit listrik. Setelah menambahkan baterai dan lampu LED, kita bisa melipat pola tersebut sesuai dengan instruksi yang diberikan dan membuat sendiri dudukan lampu dari karton Tetra Pak (saat ini belum ditampilkan di website Fattelo!, namun mereka berjanji dalam waktu dekat akan ada).

Pola sirkuit Noctambula. Foto: www.fattelo.com

Pola sirkuit Noctambula. Foto: www.fattelo.com

Fattelo! akan mempublikasikan metodenya dalam Creative Commons dalam waktu dekat. Mereka juga menawarkan segala yang dibutuhkan untuk membuat sendiri dudukan lampu tersebut. Jadi mulai sekarang, kumpulkan Tetra Pak bekas susu dan sejenisnya di rumah dan mulai berkreasi dengannya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/memanfaatkan-kemasan-karton-tetra-pak-menjadi-dudukan-lampu-led/feed/ 1
Lenny Agustin, Fashion Designer Jangan Lupakan Unsur Keberlanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/lenny-agustin-fashion-designer-jangan-lupakan-unsur-keberlanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lenny-agustin-fashion-designer-jangan-lupakan-unsur-keberlanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/lenny-agustin-fashion-designer-jangan-lupakan-unsur-keberlanjutan/#respond Mon, 04 May 2015 09:33:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=8855 Jakarta (Greeners) – Kiprah perancang muda Lenny Agustin dalam dunia fashion Indonesia patut diapresiasi. Perempuan yang dikenal kerap menggunakan tenun dalam rancangannya ini tidak hanya memiliki kepedulian pada potensi budaya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kiprah perancang muda Lenny Agustin dalam dunia fashion Indonesia patut diapresiasi. Perempuan yang dikenal kerap menggunakan tenun dalam rancangannya ini tidak hanya memiliki kepedulian pada potensi budaya Indonesia, tetapi juga terhadap sustainable fashion.

“Dari dulu aku suka disebut ‘pemulung elit’ sama teman-teman karena aku cenderung enggak membuang sampah. Waktu aku kuliah, aku suka memanfaatkan barang-barang yang terbuang, misalnya kabel telepon atau apapun itu. Saya manfaatkan itu untuk tugas kuliah,” ujar Lenny membuka cerita kepada Greeners usai pagelaran busana terbarunya bertajuk “Borneo Off Beat” beberapa waktu lalu.

Atas kepeduliannya ini, Lenny sempat didaulat oleh salah satu produk perawatan kecantikan terkemuka yang peduli lingkungan untuk membuat karya fashion dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

Menurut Lenny, material fashion tidak terbatas pada bahan yang biasa dipakai. Mengolah bahan-bahan yang terbuang atau berinovasi menciptakan bahan baru dapat dilakukan seorang desainer untuk meningkatkan hasil karyanya.

“Waktu gas elpiji menggantikan kompor minyak sehingga sumbu kompor banyak yang terbuang di pasar, aku ambil sumbu-sumbu kompor itu. Aku suka reuse, recycle, dan upcycle menggunakan barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang bisa dipakai,” katanya.

Lenny pun pernah berinovasi dengan membuat kain dari tepung singkong dan menjahitnya menjadi pakaian. Koleksi pakaian ini lantas dibuatkan pameran oleh kedutaan Perancis dan dibawa keliling dunia bersama dengan rancangan 50 desainer dari berbagai negara.

Desaigner yang gemar mengubah warna rambutnya ini mengatakan bahwa industri fashion sedang mencoba untuk mulai melakukan perubahan menuju sustainable fashion atau fashion yang berkelanjutan. Hal ini ditandai dengan penelitian yang dilakukan beberapa pabrik tekstil untuk mencari pewarna sintetis yang seramah mungkin dengan lingkungan.

“Biasanya menggunakan cairan kimia untuk melengketkan warna. Tapi sekarang, diproses dengan air saja sudah bisa dan waktu dibuang itu tidak menjadi limbah. Kita harus update mengenai masalah ini,” katanya.

Menjadi seorang perancang busana atau fashion designer, lanjut Lenny, harus terbuka dengan teknologi baru namun tidak melupakan unsur keberlanjutan. “Kita sebagai fashion designer berusaha ‘mengonsumsi’ bahan-bahan yang ramah lingkungan. Gerakan ini sudah mulai ada tapi butuh waktu,” ujarnya.

Ia pun berpesan agar para perancang busana Indonesia dapat menjadi contoh untuk konsumennya dalam hal keberlanjutan. “Mereka harus lebih kreatif, memperhatikan lingkungan, lebih banyak bereksperimen untuk menghasilkan karya yang sustainable,” pungkasnya.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/lenny-agustin-fashion-designer-jangan-lupakan-unsur-keberlanjutan/feed/ 0
Topeng Darth Vader Dari Daur Ulang Besi Bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/topeng-darth-vader-dari-besi-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=topeng-darth-vader-dari-besi-bekas https://www.greeners.co/ide-inovasi/topeng-darth-vader-dari-besi-bekas/#respond Wed, 19 Nov 2014 07:24:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=6503 Sebuah topeng Darth Vader dibuat sepenuhnya dari daur ulang besi bekas. Topeng tokoh antagonis dalam seri film Star Wars ini terbuat dari paduan besi perunggu dan besi kuningan. Alain Bellino […]]]>

Sebuah topeng Darth Vader dibuat sepenuhnya dari daur ulang besi bekas. Topeng tokoh antagonis dalam seri film Star Wars ini terbuat dari paduan besi perunggu dan besi kuningan.

Alain Bellino adalah seorang seniman dari Prancis, ia menemukan dunia restorasi besi emas, perak dan perunggu dari bengkel ayahnya sejak tahun 1980an.

Setelah bertahun-tahun berlatih dan melakukan eksperimen merehabilitasi dan mendaur ulang barang barang yang terbuat dari besi, ia menemukan caranya sendiri dalam menciptakan karya dari besi bekas sejak tahun 2010.

Foto : www.alain-bellino.net

Foto : www.alain-bellino.net

Pecahan besi bekas yang diambli dari bermacam produk ia sambung dan bentuk dengan penuh presisi menggunakan teknik menyambung besi dengan cara las (welding).

karya karya Alain Bellino bisa dilihat lebih lanjut di website pribadinya

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/topeng-darth-vader-dari-besi-bekas/feed/ 0