yayasan BOS - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/yayasan-bos/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 21 Aug 2017 08:28:49 +0000 id hourly 1 Upaya Konservasi Orangutan Masih Terus Dilakukan https://www.greeners.co/berita/upaya-konservasi-orangutan-masih-terus-dilakukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=upaya-konservasi-orangutan-masih-terus-dilakukan https://www.greeners.co/berita/upaya-konservasi-orangutan-masih-terus-dilakukan/#respond Mon, 21 Aug 2017 08:24:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18289 KLHK mengaku telah menetapkan plot-plot pengukuran populasi orangutan di beberapa habitatnya karena orangutan adalah salah satu dari 25 spesies prioritas yang dipantau populasinya oleh pemerintah.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku telah menetapkan plot-plot pengukuran populasi orangutan di beberapa habitatnya karena orangutan adalah salah satu dari 25 spesies prioritas yang dipantau populasinya oleh pemerintah. Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan bahwa selain penetapan plot-plot populasi orangutan, pemerintah juga terus berupaya melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian mamalia asli Indonesia tersebut.

“Selain sosialisasi, penegakan hukum juga masih terus digalakan,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (19/08).

Menurut Wiratno, strategi pengelolaan orangutan telah dituangkan dalam Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Indonesia yang merupakan hasil kerjasama multipihak antara pemerintah, Forum Orangutan Indonesia (Forina), akademisi, pakar dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Di lapangan, kegiatan penyelamatan orangutan yang dibarengi dengan pelepasan hingga translokasi atau pemindahan.

“Termasuk di dalam SRAK itu ada identifikasi lokasi yang memungkinkan menjadi habitat orangutan, baik di dalam kawasan konservasi maupun yang di luar kawasan konservasi. Nantinya, untuk di luar kawasan konservasi bisa dijadikan sebagai kawasan esensial,” tambahnya.

BACA JUGA: Pemulangan Orangutan dari Thailand Terkendala Proses Hukum Setempat

Terkait perubahan status orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang sebelumnya berstatus “Kritis” (Endangered) lalu turun menjadi “Sangat Terancam Punah” (Critically Endangered) dalam daftar merah Organisasi PBB untuk konservasi lingkungan hidup (International Union for Conservation Nature/IUCN), Wiratno mengatakan bahwa hingga saat ini, pihak pemerintah Indonesia masih belum memberikan respon karena masih menunggu hasil pendataan populasi dan analisis kelangsungan hidup orangutan di habitatnya. Analisis ini melibatkan pakar orangutan dari dalam dan luar negeri.

“Saat ini hasilnya dalam proses finalisasi. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, perubahan status tersebut dasar pertimbangannya adalah berubahnya kawasan hutan yang kemudian dihitung secara ekstrapolasi (perkiraan tanpa pengamatan langsung di wilayah aslinya), dan ini masih jadi perdebatan. Dalam waktu dekat setelah hasil analisis final maka kita akan merespon perubahan tersebut,” katanya.

konservasi orangutan

Foto: Dirjen KSDAE

Instrumen penjaga hutan

Terkait Hari Orangutan Internasional yang diperingati pada 19 Agustus ini, CEO The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Dr. Ir. Jamartin Sihite menyampaikan bahwa masyarakat harus bisa menganggap orangutan sebagai instrumen penjaga hutan yang telah disediakan alam untuk manusia. Menurutnya, banyak tindakan manusia yang secara sadar telah membuat orangutan semakin punah populasinya seperti membuka lahan dengan membakar hutan, memburu satwa liar seperti orangutan, dan menggerogoti kekayaan alam dalam volume yang luar biasa besar tanpa memberi kesempatan bagi alam untuk regenerasi.

“Ini perlu dihentikan sekarang juga. Jika konservasi tidak menjadi prioritas kita dan kita tidak melestarikan alam, maka kita manusia tidak akan bertahan. Sesederhana itu,” tuturnya.

BACA JUGA: Revisi UU Nomor 5 Tahun 1990 Harus Hindari Tumpang Tindih Peran Kementerian

Upaya konservasi sendiri diakuinya merupakan sebuah kerja kolektif dan bukan sekadar masalah hewan yang menghadapi kepunahan, tapi lebih luas lagi adalah masalah kepunahan masyarakat sebagai manusia. Orangutan adalah satwa umbrella species yang diketahui berfungsi menjaga dan memperbaiki kualitas hutan. Penelitian ilmiah membuktikan hal ini. Hutan yang dihuni populasi orangutan liar akan terjaga kualitasnya secara berkelanjutan. Jika orangutan hilang, maka hutan itu akan rusak dalam waktu beberapa tahun saja.

“Memang ini hanya berlaku di hutan-hutan dataran rendah di Sumatra dan Kalimantan sebagai lokasi populasi orangutan saja. Namun selama manusia masih membutuhkan jasa lingkungan dari hutan berupa air bersih, udara bersih, iklim yang teratur, sudah selayaknyalah kita jaga instrumen alami yang membantu menjaga kualitas hutan tersebut. Bukannya mengabaikannya, apalagi memunahkannya,” kata Jamartin.

Sebagai informasi, menurut catatan KSDAE, jumlah individu orangutan Sumatera yang ada di alam sebanyak 6.000 individu dan orangutan Kalimantan sebanyak 65.000 individu.

Sementara di penangkaran, tercatat sebanyak 51 individu orangutan berada di Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) Medan, 289 individu di Orangutan Foundation International (OFI) Pangkalan Bun, 447 individu di Yayasan BOS Nyarumenteng, 180 individu di Yayasan BOS Samboja, 5 individu di Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja, 18 individu di Center Orangutan Protection Kaltim, dan 40 individu di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang. “Ini semua kondisi tahun 2017,” terang Wiratno.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/upaya-konservasi-orangutan-masih-terus-dilakukan/feed/ 0
Kebakaran Hutan Ubah Pola Perilaku Orangutan Tuanan https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-ubah-pola-perilaku-orangutan-tuanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebakaran-hutan-ubah-pola-perilaku-orangutan-tuanan https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-ubah-pola-perilaku-orangutan-tuanan/#respond Sun, 19 Mar 2017 14:13:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16319 Pada tahun 2015, sekitar 18.000 hektar lahan di Program Konservasi Mawas, Stasiun Riset Tuanan, Kalimantan Selatan, terbakar. Kebakaran hutan ini berdampak pada berubahnya pola perilaku orangutan Tuanan.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tahun 2015, El Nino yang berkepanjangan menyebabkan munculnya titik api di hutan sekitar Stasiun Riset Tuanan, Kalimantan Selatan. Kebakaran pun tak dapat dihindari. Akibatnya, sekitar 18.000 hektar lahan di Program Konservasi Mawas terbakar.

Program Konservasi Mawas merupakan sebuah program rancangan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), yaitu sebuah organisasi nonpemerintah yang melindungi 309.860 hektar hutan yang dihuni oleh sekitar 3.000 orangutan liar beserta keanekaragaman endemik lainnya.

Dengan hilangnya 6 persen bagian, hutan konservasi yang terbakar tidak dapat menyediakan makanan bagi orangutan yang hidup di dalamnya. Hal tersebut membuat orangutan liar berpindah menuju bagian hutan yang lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

BACA JUGA: Status Orangutan Menjadi “Sangat Terancam Punah”

Salah satu peneliti dari Yayasan BOS, Maria van Noordwijk, Phd., meneliti pola yang terbentuk dari migrasi tersebut. Menurut Maria, hal yang membuat respon orangutan terhadap kebakaran ini menarik adalah bahwa orangutan liar yang bermigrasi selalu berjenis kelamin betina.

“Orangutan betina liar yang ditemui lebih sering membawa anak. Awalnya, hal ini merupakan berita baik bagi kami karena orangutan betina memiliki peran penting bagi perkembangan perilaku anaknya,” kata Maria pada acara Seminar dan Diskusi Orangutan Tuanan Sebelum dan Sesudah Kebakaran di Universitas Nasional, Jakarta, Jumat (17/03).

Menurutnya, seperti halnya manusia, anak orangutan memerlukan panutan atau role model. Oleh karena itu, agar dapat bertahan hidup, anak orangutan akan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh induknya. Selain itu, anak orangutan juga butuh bermain sehingga mereka juga perlu berinteraksi dengan anak orangutan lainnya.

“Namun, kebakaran telah mengubah perilaku para orangutan betina liar domestik. Sejak api mengusir orangutan liar dari habitatnya, orangutan betina domestik tidak mau berinteraksi dengan orangutan betina lainnya. Hal ini disebabkan karena ketersediaan makanan yang terbatas dan perilaku alami orangutan betina yang hanya mau berinteraksi dengan kerabatnya,” ujar Maria.

BACA JUGA: Penembakan Orangutan Marak, Polri Diminta Perketat Pengawasan Senapan Angin

Padahal, interaksi tersebut dapat menjadi kegiatan bertukar informasi bagi sesama orangutan untuk dapat bertahan hidup. Maria menjelaskan bahwa orangutan betina memiliki area jelajah yang stabil. Hal ini berarti bahwa orangutan betina yang terusir sulit menemukan habitat yang baru. Bahkan, sejak tahun 2016, tidak sedikit orangutan betina yang menyerang satu sama lain untuk mempertahankan sarangnya.

Di samping itu, orangutan liar yang berpindah juga mengubah pola makannya. Pada dasarnya, orangutan merupakan pemakan buah. Namun, karena kelangkaan pohon buah di luar habitatnya, orangutan mulai mengonsumsi yang tersedia di hutan pasca kebakaran, yaitu buah ara, bunga akar kamunda hingga serangga seperti rayap.

Sebagai informasi, Maria van Noordwijk merupakan peneliti asal Belanda yang telah mempelajari perilaku orangutan di Indonesia selama lebih dari 40 tahun. Kepada Greeners, Maria menyatakan keprihatinannya terkait perubahan perilaku orangutan Tuanan sebagai respon dari kebakaran.

“Tanpa manusia, tidak akan ada fenomena pemanasan global sehingga tidak akan terjadi kebakaran hutan. Namun, karena hal ini sudah terjadi, kita harus melakukan sesuatu. Jika kita bertindak dengan cepat, maka kita dapat menghentikan sesuatu yang buruk untuk terjadi. Sama halnya dengan penebangan pohon. Tidak akan ada orangutan yang perlu kita selamatkan,” kata Maria.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-ubah-pola-perilaku-orangutan-tuanan/feed/ 0
Tujuh Orangutan Hasil Repatriasi Akan Direhabilitasi di Pulau Asalnya https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/#respond Wed, 10 Feb 2016 06:04:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12795 Orangutan yang berhasil dipulangkan kembali (repatriasi) akhirnya akan direhabilitasi ke pulau-pulau asal mereka di Sumatera dan Kalimantan.]]>

Jakarta (Greeners) – Orangutan yang berhasil dipulangkan kembali (repatriasi) akhirnya akan direhabilitasi ke pulau-pulau asal mereka di Sumatera dan Kalimantan. Orangutan tersebut dua ekor direpatriasi dari Kuwait, empat dari Thailand dan satu hasil sitaan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Berdasarkan tes DNA yang dilakukan, satu orangutan betina bernama Puspa yang direpatriasi dari Kuwait telah dinyatakan memiliki DNA orangutan Sumatera (Pongo abelii), sementara hasil tes DNA keenam orangutan lainnya berasal dari Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii).

Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tachrir Fathoni, mengatakan, pemilihan orangutan sebagai hewan yang menjalani proses rehabilitasi sebelum akhirnya nanti dilepasliarkan ini didasarkan pada kesepakatan tim ahli yang dibentuk oleh KLHK berdasarkan tes DNA, usia, perilaku serta hasil pemeriksaan kesehatan.

“Itu juga hanya orangutan-orangutan yang masih menunjukkan harapan untuk menjalani proses rehabilitasi yang kemudian akan dilepasliarkan. Orangutan ini akan direhabilitasi di pusat-pusat pengenalan kembali (reintroduksi) orangutan yang ada di Sumatera dan Kalimantan,” katanya di Jakarta, Selasa (09/02).

Puspa akan diserahterimakan kepada Program Konservasi Orangutan Sumatera atau Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) yang berpusat di dekat kota Medan, Sumatera Utara. Sementara enam orangutan lainnya bernama Moza, Junior, serta dua pasang orangutan ibu dan anak yang dikembalikan dari Thailand akan dibawa ke Pusat Reintroduksi Orangutan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Direktur Jendral Penegakan Hukum Lingkungan KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan bahwa orangutan merupakan satwa terancam punah prioritas yang menjadi target KLHK untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10 persen selama lima tahun ke depan. Orangutan sendiri diketahui adalah spesies payung yang berperan penting dalam regenerasi hutan dan menjadi satwa kebanggaan Indonesia.

Saat ini, katanya, diperkirakan hanya ada sekitar 6.600 orangutan yang tersisa di Sumatera dan sekitar 54.500 di Kalimantan. Oleh karena itu, orangutan Sumatera terdaftar sebagai Critically Endangered atau sangat terancam punah dan terdaftar sebagai salah satu primata yang paling terancam punah tahun 2014-2016 berdasarkan Worlds Top 25 Most Endangered Primates, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sedangkan orangutan Kalimantan dikategorikan oleh IUCN sebagai Endangered atau terancam punah di dalam daftar merah spesies terancam lainnya.

“Tahun 2015 kemarin, ada sekitar 190 kasus Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) ilegal yang kita tangani. Untuk mengatasi perdagangan internasional, kita akan bekerjasama dengan Interpol dan negara-negara Asean untuk mengatasi kejahatan luar biasa ini,” tandas pria yang akrab disapa Roy ini.

Sebagai informasi, tujuh orangutan yang akan direhabilitasi tersebut merupakan bagian dari 17 orangutan yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal sejak tahun 2015. Sementraa itu, 14 orangutan hasil repatriasi dari Thailand yang pada tanggal 13 November 2015 lalu telah mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, baru tujuh yang siap dilepasliarkan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tujuh-orangutan-hasil-repatriasi-akan-direhabilitasi-di-pulau-asalnya/feed/ 0
Sepuluh Orangutan Kembali Ke Hutan Kalimantan https://www.greeners.co/berita/akhirnya-sepuluh-orangutan-dilepasliarkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=akhirnya-sepuluh-orangutan-dilepasliarkan https://www.greeners.co/berita/akhirnya-sepuluh-orangutan-dilepasliarkan/#respond Mon, 24 Mar 2014 06:34:27 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4176 Kalimantan Timur (Greeners) – Dalam semangat Hari Kehutanan Sedunia yang diperingati tiap tanggal 21 Maret, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) kembali melepasliarkan orangutan (Pongo pygmaeus morio) ke habitat aslinya. […]]]>

Kalimantan Timur (Greeners) – Dalam semangat Hari Kehutanan Sedunia yang diperingati tiap tanggal 21 Maret, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) kembali melepasliarkan orangutan (Pongo pygmaeus morio) ke habitat aslinya. Dari total sepuluh orangutan yang dilepasliarkan, delapan orangutan telah lebih dulu dikembalikan ke hutan pada tanggal 20 Maret 2014 dan dua sisanya pada Jumat (21/03). Orangutan yang sebelumnya dirawat di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari tersebut dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Orangutan yang terdiri atas enam orangutan betina dan empat orangutan jantan tersebut dibawa ke Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur menuju Bandara PT Swakarsa Sinar Sentosa, yang berada di kecamatan Muara Wahau. Selanjutnya, mereka diterbangkan dengan helikopter menuju hutan Kehje Sewen.

Target pelepasliaran orangutan memang sudah ditetapkan dalam Strategi Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017. Rencana Aksi ini dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 lalu. Dalam pertemuan itu, ditetapkan bahwa semua orangutan di pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitatnya paling lambat pada tahun 2015.

Manajer Program Samboja Lestari, drh. Agus Irwanto, mengatakan “Tahun 2014 kami mulai dengan melepasliarkan 10 orangutan. Selanjutnya kami optimis untuk melepasliarkan lebih banyak lagi orangutan ke habitat alaminya. Tentu saja ini harus didukung dengan ketersediaan hutan yang layak dan aman. Kami sangat berharap kepada para pemangku kepentingan untuk terus mendukung baik dalam pelaksanaan kegiatan pelepasliaran ini, juga dalam penyediaan hutan yang layak dan aman di masa depan,” katanya seperti dikutip dalam siaran pers pada situs resmi Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) http://theforestforever.com.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/akhirnya-sepuluh-orangutan-dilepasliarkan/feed/ 0
Orangutan Kembali ke Hutan, Petugas Terharu https://www.greeners.co/berita/orangutan-kembali-ke-hutan-petugas-terharu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=orangutan-kembali-ke-hutan-petugas-terharu https://www.greeners.co/berita/orangutan-kembali-ke-hutan-petugas-terharu/#respond Mon, 24 Mar 2014 06:28:28 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_news&p=4177 Delapan orangutan dilepasliarkan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo di Kalimantan Timur.]]>

Kalimantan Timur (Greeners) – Acul, Nila, Oneng dan Upi masuk dalam kelompok pertama yang kembali ke ‘rumah’ mereka. Selanjutnya, Indo, Maduri, Leke, dan Bajuri menyusul pulang. Mereka semua adalah delapan orangutan (Pongo pygmaeus morio) yang dilepasliarkan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 20 Maret 2014 di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Sehari kemudian (21/03), dua orangutan lainnya yang diberi nama Kent dan Wani, juga dilepasliarkan ke hutan yang sama.

Memindahkan orangutan kembali ke habitatnya bukanlah perkara mudah. Setelah orangutan dibius dan dipindahkan ke kandang transport, makhluk penuh rambut ini harus dipastikan sudah bangun dari tidur mereka. Hal ini penting untuk keselamatan orangutan karena dalam keadaan tidak sadar banyak hal bisa terjadi. Misalnya saja, jalan nafas tertutup karena leher yang tertekuk, atau mabuk dan muntah karena terguncang-guncang saat dibawa.

Dalam siaran pers pada situs resmi Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) http://theforestforever.com , dijelaskan secara rinci langkah-langkah pemindahan orangutan hingga dilepasliarkan. Namun, meski sudah dilakukan beberapa kali, rupanya kegiatan pelepasliaran orangutan selalu mengundang rasa haru petugas yang terlibat. “Mengirimkan orangutan untuk kembali ke rumahnya selalu menjadi peristiwa yang mengharukan untuk kami,” tulis mereka.

Sebelum dikembalikan ke habitatnya, orangutan yang dirawat di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari telah menjalani proses rehabilitasi selama beberapa waktu. Makhluk primata tersebut selanjutnya dibawa ke Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur menuju Bandara PT Swakarsa Sinar Sentosa, yang berada di kecamatan Muara Wahau. Kemudian, mereka diterbangkan dengan helikopter menuju hutan Kehje Sewen untuk dilepasliarkan.

Sepuluh orangutan sudah kembali ke habitat aslinya, namun masih banyak orangutan lainnya yang tidak pada habitat asli mereka. Mari dukung pelestarian orangutan dan hutan sebagai tempat hidup mereka agar ekosistem tetap terjaga.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/orangutan-kembali-ke-hutan-petugas-terharu/feed/ 0