binatang - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/binatang/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:55:14 +0000 id hourly 1 5 Hewan Terkonfirmasi Positif Covid-19 https://www.greeners.co/berita/5-satwa-dan-hewan-peliharaan-terkonfirmasi-positif-covid-19/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-satwa-dan-hewan-peliharaan-terkonfirmasi-positif-covid-19 https://www.greeners.co/berita/5-satwa-dan-hewan-peliharaan-terkonfirmasi-positif-covid-19/#respond Mon, 20 Apr 2020 05:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26883 Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 tak luput menyerang satwa dan hewan peliharaan. Terdapat lima kasus penularan dari manusia ke hewan]]>

Jakarta (Greeners) – Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 tak luput menyerang satwa dan hewan peliharaan. Setidaknya terdapat lima kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang penularannya diketahui dari manusia ke hewan. Kelima hewan tersebut di antaranya dua ekor anjing dan satu ekor kucing di Hongkong, satu ekor kucing di Belgia, dan satu ekor harimau yang berada di Kebun Binatang Bronx New York, Amerika.

Drh. Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veternier, dan Karantina Hewan, Kementerian Pertanian mengatakan menurut data World Animal Health Information System (WAHIS) atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengonfirmasi lima kasus positif korona pada hewan.

Baca juga: RUU Cipta Kerja Berisiko Gagalkan Komitmen Iklim Indonesia

“Dari lima kasus itu, dua ekor anjing milik satu rumah tangga yang pemiliknya sakit dan positif Covid-19 di Hongkong. Hal yang sama juga terjadi pada satu ekor kucing di Belgia yang tertular dari pemiliknya positif Covid-19. Begitu juga kucing yang ada di Hongkong. Sedangkan, untuk harimau yang positif di kebun binatang diasumsikan berasal dari pekerja kebun binatang positif Covid-19, tetapi tidak memunjukkan gejala,” ujar dokter yang akrab disapa Tata kepada Greeners, Sabtu, (19/04/2020).

Menurutnya, penularan virus pada kelima kasus tersebut melalui manusia ke hewan. Hal itu disebabkan karena adanya kontak dekat antara anjing atau kucing dengan orang yang sakit dan positif Covid-19.

Tata menjelaskan pada kasus dua ekor anjing dan satu ekor kucing di Hongkong tidak menunjukkan gejala sakit. Artinya, infeksi tidak mampu menimbulkan gejala sakit Covid-19 pada tubuh anjing atau kucing. Jika melihat riwayat zoonosis satwa liar seperti SARS, MERS, Ebola, Marburg, kata dia, penularan itu terjadi hanya satu kali (single introduction).

Anjing dan Kucing

Foto: shutterstock.com

“Sampai saat ini baik Organisasi Kesehatan Hewan Dunia maupun Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan belum ada bukti bahwa hewan peliharaan atau hewan kesayangan bisa menular ke manusia,” ujarnya.

Ia menuturkan, lebih dari dua juta kasus Covid-19 pada manusia, hanya ada lima kasus positif pada hewan. Sedangkan kasus penularan dari anjing atau kucing ke manusia tidak ada. “Anjing atau kucing diuji berkali-kali dan hasil uji terakhir negatif. Sudah dikeluarkan dari karantina 14 hari tanpa sakit. Jadi, masyarakat tidak perlu dibuat panik,” kata dia.

Baca juga: Volume Sampah Rumah Tangga di Depok Meningkat Selama WFH

Melansir dari theguardian.com, penelitian di China mengungkapkan Covid-19 dapat menular di antara kucing. Penelitian yang dilakukan oleh Harbin Veterinary Research Institute China ini menemukan bahwa kucing sangat rentan terhadap Covid-19 dan mampu menularkan virus melalui tetesan (droplet) ke kucing lain.

Temuan ini mengikuti laporan terbaru mengenai kucing peliharaan di Belgia yang terinfeksi Covid-19. Sekitar seminggu setelah pemilik kucing mulai menunjukkan gejala, kucing tersebut juga mengalami kesulitan bernapas, diare, dan muntah. Setelah dites oleh dokter hewan di Universitas Liège, kucing tersebut diketahui terinfeksi coronavirus.

Prof Eric Fèvre, Ahli Penyakit Menular Hewan dan Veteriner dari Universitas Liverpool mengatakan masyarakat harus melakaukan upaya pencegahan dengan mencuci tangan saat memegang hewan peliharaan mereka dan menghindari kontak terutama jika positif Covid-19.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/5-satwa-dan-hewan-peliharaan-terkonfirmasi-positif-covid-19/feed/ 0
Owa Jawa, Si Primata Setia yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/#respond Sat, 24 Oct 2015 02:00:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=11617 Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International […]]]>

Owa jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis primata endemik yang terdapat di pulau Jawa dengan wilayah penyebarannya meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan kategori International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources (IUCN) tahun 2000, owa jawa masuk ke dalam kategori satwa yang terancam punah dengan kategori kritis (critically endangered), artinya menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam. Hal ini terjadi karena populasi owa jawa di alam mengalami tekanan akibat degradasi habitatnya, perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan serta dipelihara.

Owa jawa memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecoklatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh.

Berdasarkan peraturan Republik Indonesia, owa jawa termasuk satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bagi oknum yang melanggar akan mendapatkan hukuman tindak pidana 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Habitat alami owa jawa berupa hutan lebat dengan pohon-pohon yang memiliki biji-bijian, owa jawa juga termasuk jenis primata arboreal, yaitu primata yang lebih banyak beraktivitas di atas pohon. Owa jawa hidup monogami sehingga populasinya juga sangat kecil yaitu dalam setiap kelompok maksimal hanya terdiri dari enam individu. Hal ini dikarenakan jika salah satu pasangan owa jawa baik individu jantan atau betina mati, mereka tidak akan mencari pasangan lagi. Itulah sebabnya owa jawa mendapatkan julukan si primata yang setia.

Saat ini habitat owa jawa tengah terancam oleh penebangan dan perambahan liar yang disebabkan oleh kurang maksimalnya penegakan hukum dan perlindungan bagi owa jawa di habitatnya. Salah satu upaya konservasi yang ditempuh dapat berupa restorasi ekosistem habitat owa jawa, pendidikan dan penyadaran konservasi, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Semoga lebih banyak pihak yang mau terlibat dan menyuarakan akan pentingnya pelestarian habitat owa jawa ini.

Owa-Jawa

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/owa-jawa-si-primata-setia-yang-terancam-punah/feed/ 0
Macan Tutul, Memburu Tapi Diburu https://www.greeners.co/flora-fauna/macan-tutul-memburu-tapi-diburu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=macan-tutul-memburu-tapi-diburu https://www.greeners.co/flora-fauna/macan-tutul-memburu-tapi-diburu/#respond Mon, 04 Mar 2013 05:59:50 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=3437 Macan Tutul atau dalam istilah asing dikenal dengan nama Leopard atau Panther, seperti halnya pada kucing, pada macan tutul terdapat dimorphisme seksual. Dimana jantan lebih besar daripada betina. Tetapi berbeda […]]]>

Macan Tutul atau dalam istilah asing dikenal dengan nama Leopard atau Panther, seperti halnya pada kucing, pada macan tutul terdapat dimorphisme seksual. Dimana jantan lebih besar daripada betina. Tetapi berbeda dengan kebanyakan kucing, mereka juga dimorphisme dalam warna rambut dan kulit.  Dengan bentuk berotot serta hitam terdapat pada suatu perindukkan (Hasil penelitian Harrison 1974; Lekagul 1977; Delsman 1951).

Panthera pardus  istilah latin dari macan tutul  memiliki dua jenis yang berlainan. Yaitu macan tutul itu sendiri dan macan kumbang. Macan tutul mempunyai warna dasar kuning tua, dengan sisi badan dan punggungnya terdapat bercak-bercak hitam berbentuk seperti bunga (roset) dimana bagian tengahnya lebih gelap daripada warna dasarnya. Bercak-bercak ini terbatas pada punggung dan rusuk. Sedangkan totol tunggal terdapat pada kepala, kaki, telapak kaki dan bagian bawah tubuh dengan warna dasar putih atau abu-abu. Macan kumbang memiliki pola bercak yang sama tetapi dengan warna dasar hitam. Di Indonesia khususnya di Pulau Jawa macan tutul lebih dominan diketemukan dibandingkan macan kumbang. Bentuk yang umum adalah yang kekuning-kuningan atau kuning cokelat dengan sejumlah besar totol-totol hitam yang teratur.

Macan tutul gerakannya sangatlah gesit. Tulang belulang macan tutul menunjukkan bahwa mamalia ini memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk melompat dengan cepat. Sedangkan struktur tulangnya memungkinkan untuk dapat menahan bantingan jika sewaku-waktu jatuh dari dataran tinggi. Bobot rata-rata macan tutul sekitar 45 kg dengan berat badan maksimal dewasa tidak lebih dari 90 kg.

Macan tutul terdapat di berbagai macam lingkungan. Dari hutan sampai padang rumput, dan dari setengah gurun pasir sampai dataran tinggi yang tertutup salju. Penyebarannya tersebar di Afrika, Asia Selatan dari Turki melintasi Rusia dan Cina sampai Korea. Ke Selatan terdapat di Arab Saudi, Sri Langka, Malaysia.
“Kadang Macan Tutul ditemukan juga di sekitar perkampungan walaupun satwa ini adalah penghuni hutan. Hal ini biasa terjadi jika hutan sebagai tempat tinggal mereka rusak dan semakin sempit sehingga sedikitlah satwa lain sebagai makanannya.”

Di Indonesia macan tutul hanya terdapat di Pulau Jawa. Satwa ini pernah ditemukan di puncak Gede Pangrango dengan ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut (Hoogerwerf, 1970). Kadang mereka juga ditemukan di sekitar perkampungan walaupun satwa ini adalah penghuni hutan. Hal ini biasa terjadi jika hutan sebagai tempat tinggal mereka rusak dan semakin sempit sehingga sedikitlah satwa lain sebagai makanannya.

Jika dalam kurungan macan tutul pernah mencapai umur sampai 23 tahun. Tapi jika di alam bebas umur maksimumnya lebih pendek, mungkin hanya 12-15 tahun. Hal ini dikarenakan semakin tua macan tutul, maka dia akan semakin susah untuk mendapatkan makanan. Karena pergerakannya menjadi lambat sehingga tak bisa lagi memangsa satwa-satwa yang mempunyai kecekatan sebagai makanannya sampai akhirnya mereka akan mati kelaparan. Pernah dilakukan suatu percobaan perkawinan silang antara singa dan macan tutul. Hasilnya adalah Leopon, dimana saat itu pejantannya adalah macan tutul.

Si Penyendiri Yang Pandai Menipu

Macan tutul hewan soliter, artinya mereka hidup sendirian kecuali pada masa kawin.  Anak-anaknya dilahirkan sesudah masa hamil 90-100 hari, ketika dilahirkan akan terlihat berbulu lebat. Jumlah anak sekali lahir biasanya dua atau tiga ekor tetapi kadang juga lima. Induk dan anak terus berkumpul sampai anak tersebut hampir dewasa, yaitu pada umur kira-kira 2 tahun.

Macan tutul akan memangsa segala satwa yang dijumpainya. Termasuk diantaranya babi hutan, rusa, kera, burung, bahkan anjing hutan sekalipun. Macan tutul menggunakan sejumlah tipu muslihat untuk mendapatkan mangsanya.  Seperti ketika macan tutul bergulingan di tanah dengan maksud untuk menarik perhatian sekawanan rusa, dengan demikian menggoda beberapa ekor rusa untuk mendekat. Di saat rusa-rusa tersebut terlihat lengah dengan jarak yang cukup dekat, maka saatnya sang macan tutul menyergap sampai akhirnya dia dapat santapan siang.

Di India macan tutul suka akan Rusa Dam, dan di Afrika satwa kornivor ini sekali-sekali menangkap kera sebagai mangsanya. Itupun hanya kera yang sendirian, sebab segerombolan kera dapat menimbulkan kematian bagi si pemangsa atau sedikitnya cedera berat. Macan tutul sering melompati mangsanya dari atas pohon. Selain itu mereka mempunyai kebiasaan membawa mangsanya ke atas pohon. Belum diketahui secara pasti kenapa hal ini dilakukan. Mungkin sesuai dari sifatnya yang suka sendiri, agar tidak ada yang mengganggu ketika dia menikmati hasil buruannya. Berbeda dengan harimau loreng yang mulai memakan mangsa dari bagian belakang. Macan tutul memakan mangsanya mulai dari bagian antara rusuk dan pinggul.

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/macan-tutul-memburu-tapi-diburu/feed/ 0
Pahlawan itu Bernama Cacing Tanah https://www.greeners.co/flora-fauna/pahlawan-itu-bernama-cacing-tanah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pahlawan-itu-bernama-cacing-tanah https://www.greeners.co/flora-fauna/pahlawan-itu-bernama-cacing-tanah/#respond Sun, 25 Mar 2012 10:32:49 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_kehati&p=2512 Bagaimana bila anda bertemu dengan seekor cacing tanah yang menggeliat di halaman belakang rumah atau di pot tanaman anda. Mungkin itu hal biasa. Tapi bila cacing itu bisa berbicara dengan […]]]>

Bagaimana bila anda bertemu dengan seekor cacing tanah yang menggeliat di halaman belakang rumah atau di pot tanaman anda. Mungkin itu hal biasa. Tapi bila cacing itu bisa berbicara dengan bahasa manusia. Ini baru luar biasa, tapi sungguh di luar akal sehat. Namun untuk mengenal lebih jauh cacing tanah dan mengetahui bagaimana caranya mengolah tanah dan mempertahankan kualitas alaminya serta mengintip khasiatnya yang hebat. Ayolah, saya ajak Anda berbincang dengan sosok ecological engineers yang satu ini.

Artikel ini diterbitkan pada edisi 02 Vol. 3 Tahun 2008

 

Halo, perkenalkan nama ku cacing tanah. Kita pernah bertemu sebelumnya kan? Mungkin anda akan mendelik geli, atau bahkan merasa jijik membayangkan bentukku yang  memanjang dan berlendir. Bentukku memang kurang menyenangkan, dan hidup di tanah memang membuatku terkesan jorok. Tapi, mari kita berkenalan lebih jauh mungkin anda akan berubah pendapat setelah itu.

Bentuk tubuhku memang terlihat sederhana, layaknya spesies lain dari kelas Annelida ( Binatang bergelang), gelang atau segmen ditubuhku bisa jadi petunjuk dimana kelaminku berada, dan menjadi pembeda antar spesies. Secara kelas Annelida terbagi menjadi dua, cacing tanah yang miskin bulu termasuk ke dalam kelas Oligochaeta sedang cacing laut yang biasanya memiliki banyak bulu termasuk ke dalam kelas Polychaeta.

Ditubuhku biasanya ada penebalan (citellum), yang menjadi pembeda antar spesies. Cacing tanah memang terdiri dari banyak spesies, ada sekitar 7000 spesies, tapi yang lazim anda temui adalah jenis Helodrilus caliginosus (cacing kebun), Helodrilus foetidus (cacing merah), Lumbricus terrestris (cacing malam) dan Lumbricus rubellus.

Aku tinggal di tanah, makan dan berbiak tergantung tanah. Jika membicarakan masalah kelamin, aku adalah binatang hermaprodit atau berkelamin dua. Tapi, bukan berarti aku bisa kawin dengan diri sendiri. Itu mustahil. Kalau pun bisa, anda pasti setuju itu sungguh tak menyenangkan. Makanya aku tetap butuh pasangan. Salah satu dari kami akan mengeluarkan kokon berisi telur-telur yang kemudian menjadi cacing tanah baru.

Sekarang aku akan bercerita tentang tanah sebagai tempat tinggalku. Perkembangan tekhnologi membawa manusia terlena dengan penggunaan bahan sintetis untuk menyuburkan tanah secara cepat, namun, tanpa disadari kualitas tanah lama kelamaan akan menurun dan jauh dari sifat aslinya. Kalian seharusnya memperlakukan tanah seperti aku, menjaga kondisi aslinya dan mempertahankannya dengan cara alami, bukan memaksa tanah dengan menambahkan unsur-unsur kimia sintetis dengan harapan bisa membuat tanaman lebih subur. Tapi, akhirnya malah merusak kandungan alami tanah. Pupuk sintetis memang memberikan unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan, bahkan bisa sangat spesifik. Namun tidak baik untuk kondisi tanah dan organisme di dalamnya.

Padahal tanah adalah salah satu unsur kehidupan penting, karena mengandung banyak unsur yang diperlukan untuk hidup oleh banyak makhluk. Bahkan menurut ahli mikrobiologi dalam secangkir massa tanah akan ditemukan organisme yang jumlahnya bisa melebihi jumlah manusia di planet bumi.

Tapi, tak semua jenis tanah aku suka. Banyaknya  bahan organik akan menjadi pertimbanganku untuk memilih tempat tinggal, karena ini berhubungan dengan ketersediaan makananku. Selain itu aku lebih senang tanah yang memiliki derajat keasaman netral, kandungan garam rendah, lembab, hangat (sekitar 21ºC) serta tata udaranya baik.

Kadang kamu bisa menemukan aku di lapisan atas tanah, tapi terkadang pada lapisan yang dalam. Sesama cacing tanah juga punya kebiasaan hidup ada yang hidup di permukaan tanah pada serasah dedaunan (epigeic), ada pula yang hidup di kedalaman 10-30 cm tanah (endogeic) serta yang hidup vertikal samapi kedalaman satu meter (aneceic).

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pahlawan-itu-bernama-cacing-tanah/feed/ 0
Mandikan Gajah, Ajak Jurnalis Sadar Konservasi Satwa https://www.greeners.co/berita/mandikan-gajah-ajak-jurnalis-sadar-konservasi-satwa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mandikan-gajah-ajak-jurnalis-sadar-konservasi-satwa https://www.greeners.co/berita/mandikan-gajah-ajak-jurnalis-sadar-konservasi-satwa/#respond Wed, 22 Feb 2012 03:00:11 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2217 Surabaya (Greeners) – Beberapa jurnalis bergabung dengan sejumlah suporter Persebaya atau Bonek (Bondo Nekat) dan individu lain ramai-ramai memandikan Ilir. Ilir adalah seekor gajah betina berumur sekitar 20 tahun yang […]]]>

Surabaya (Greeners) – Beberapa jurnalis bergabung dengan sejumlah suporter Persebaya atau Bonek (Bondo Nekat) dan individu lain ramai-ramai memandikan Ilir. Ilir adalah seekor gajah betina berumur sekitar 20 tahun yang dipelihara di Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Mereka tampak gugup dan ragu lantaran baru pertama kali bersentuhan dengan gajah. Gajah adalah satwa yang punya ingatan kuat yang bakal tetap mengingat siapa yang menyakiti dan siapa yang menyayangi.

Badan Ilir disiram dengan air dan menggosok badannya memakai sabut kelapa. Sabut kelapa dipilih karena merupakan bahan alami yang bisa menghilangkan kutu atau parasit lain di tubuh gajah.

“Keeper” atau pengasuh menyuapi Ilir dengan pisang dan wortel supaya lebih tenang ketika dimandikan oleh orang asing. Sebelum memandikan Ilir, para relawan lebuh dulu membersihkan kandang karena gajah tidak mau mandi kalau kandangnya tidak bersih.

Forum Konservasi Satwa Liar (FOKSI) Jawa Timur yang ikut dalam aksi ini menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat pada konservasi, misalnya saja bagaimana menangani satwa dan pengetahuan tentang karakteristik hewan.

Manager Operasional FOKSI, Indra Harsaputra meminta kepada pers agar menempatkan satwa sebagai subyek konservasi bukan obyek. “FOKSI mengajak pers untuk peduli pada satwa bukan melulu pada lahan KBS. Apapun yang terjadi jangan sampai pemberitaan malah mengorbankan satwa.” tegas Indra.
Siti Nasyah, salah satu Bonita (Bonek Wanita) yang ikut dalam aksi itu mengatakan kalau Bonek tidak sekadar ikut-ikutan. Siti memandang KBS merupakan icon dan kebanggaan warga Surabaya, “Sesama icon kota pahlawan, Bonek ingin ikut peduli dan mendukung konservasi tanpa harus masuk ke dalam lingkaran konflik.”

Sebagai salah satu bukti sadar konservasi, para relawan meminta pengunjung KBS untuk tidak memberi makan pada satwa, karena makanan yang diberikan pengunjung belum tentu sesuai dengan kebutuhan gizi hewan. Bahkan makanan yang diberikan pengunjung bisa berpotensi membunuh satwa. (G13)

]]>
https://www.greeners.co/berita/mandikan-gajah-ajak-jurnalis-sadar-konservasi-satwa/feed/ 0