fashion berkelanjutan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/fashion-berkelanjutan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 11 Mar 2021 03:34:43 +0000 id hourly 1 Apakah Sutra Mode Berkelanjutan? Ayo, Jawab Pertanyaan Anda! https://www.greeners.co/gaya-hidup/apakah-sutra-mode-berkelanjutan-ayo-jawab-pertanyaan-anda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=apakah-sutra-mode-berkelanjutan-ayo-jawab-pertanyaan-anda https://www.greeners.co/gaya-hidup/apakah-sutra-mode-berkelanjutan-ayo-jawab-pertanyaan-anda/#respond Thu, 11 Mar 2021 12:00:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=31942 Sutra adalah serat alami yang dapat terurai secara hayati, tetapi produksinya memiliki dampak lingkungan yang lebih besar daripada kain alami lainnya. Jadi, apakah sutra mode berkelanjutan?]]>

Tidak hanya indah dan terkesan elegan, banyak pihak yang menilai sutra sebagai bahan sandang yang ramah lingkungan. Apakah benar demikian? Menyadur dari TreeHugger, Greeners mencoba menjawab pertanyaan ini. 

Sutra adalah salah satu kain tertua yang paling berharga di dunia. Kain yang halus dan tahan lama ini terbuat dari filamen alami kepompong ulat sutra. Kepomponglalu melewati proses pewarnaan, pemintalan, dan penenunan benangnya.

Penggunaan sutra dalam kain berkembang di Tiongkok kuno; terbukti dari penemuan biomolekuler pertama sutra di sebuah situs Neolitik di provinsi Henan yang berasal dari 8.500 tahun lalu.

Sutra adalah serat alami yang dapat terurai secara hayati, tetapi produksinya memiliki dampak lingkungan yang lebih besar daripada kain alami lainnya. Sehingga bahan yang berbasis hewani ini menimbulkan pertanyaan, apakah sutra mode berkelanjutan?

Bagaimana Cara Membuat Sutra?

Serikultur, atau pembuatan sutra, bermula dari budidaya ulat sutra (Bombyx mori).

Ulat putih memakan daun mulberry segar. Setelah berganti kulit empat kali selama pertumbuhannya, mereka memutar protein yang bersekresi secara alami; mulai dari cairan, menjadi kepompong, yang menempel bersama dengan sericin. Proses pemintalan kokon membutuhkan waktu 2-3 hari.

Jika membiarkannya berkembang biak secara alami, ulat sutra kemudian bertumbuh menjadi ngengat di dalam kepompongnya. Ketika saatnya tiba, ngengat akan mengeluarkan cairan yang membakar lubang melalui untaian kepompongnya untuk muncul dan terbang untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Namun saat keluar dari kepompong, benang sutranya rusak. Jadi di pabrik produksi sutra, ulat sutra hanya hidup sampai mereka menjadi kepompong dalam balutan sutra.

Kemudian, kepompong ini akan melewati proses perebusan, sehingga membunuh ulat dan menghilangkan getah sericin, dan memperoleh filamen sutra secara utuh.

Filamen tersebut dilepas dan digabungkan dengan yang lain untuk membuat benang sutra. Setelah itu, benang sutra tersebut dibuat menjadi benang dengan ketebalan sesuai keperluan untuk menenun sehelai kain sutra.

Perlu sekitar 2.500 filamen ulat sutra untuk menghasilkan sekitar satu pon kain sutra.

cara membuat sutra

Di pabrik produksi sutra, ulat sutra hanya hidup sampai mereka menjadi kepompong dalam balutan sutra. Foto: Pixabay.

Dampak Lingkungan dari Produksi Sutra

Sutra adalah kain alami, dapat terurai secara hayati, dan tahan lama. Namun, secara keseluruhan, sutra tampaknya memiliki dampak lingkungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan serat alami lainnya.

Menurut Indeks Higg Koalisi Pakaian Berkelanjutan, sutra memiliki dampak lingkungan yang lebih buruk daripada kain sintetis.

Pertama, produksi sutra membutuhkan banyak energi. Peternakan sutra harus berada pada suhu yang terkontrol, dan memanen kepompong menggunakan air panas dan udara panas.

Kedua, produksi sutra menggunakan banyak air. Ketergantungan pada mulberry, (pohon yang membutuhkan banyak air), dapat menekan pasokan air tawar jika pohon ditanam di tempat yang jarang air. Perlu volume air yang besar pula untuk beberapa langkah dalam rantai pemrosesan sutra.

Ketiga, penggunaan bahan kimia untuk membersihkan dan mewarnai sutra dapat mencemari air lokal, menghambat biodegradasi kain, dan berkontribusi akan adanya dampak racun pada kain.

sutra

Sutra adalah kain alami, dapat terurai secara hayati, dan tahan lama. Foto: Pixabay.

Apakah Sutra Industri Mode Berkelanjutan?

Dibandingkan dengan tekstil lainnya, sutra hanya menyumbang sedikit persentase dari keseluruhan produksi, hanya 0,2% dari pasar serat global.

Tetapi, kain ini bernilai tinggi. Sutra berharga 20 kali lipat dari kapas untuk volume yang sama; sehingga walaupun persentasenya kecil, ia mencapai nilai pasar hampir $17 miliar pada tahun 2021.

Di Cina, negara penghasil sutra terbesar di dunia, sektor sutra mempekerjakan sekitar satu juta pekerja.

India, produsen sutra terbesar kedua, memiliki tenaga kerja pedesaan yang tersebar luas sebesar 7,9 juta.

Serikultur dapat menjadi cara yang baik untuk bisnis kecil dan industri ‘rumahan’ (sekelompok kecil orang yang bekerja bersama di rumah atau lokakarya terdekat) untuk menjaga produksi dan pendapatan di daerah pedesaan.

Industri sutra pun telah melibatkan pekerja anak di India dan Uzbekistan. Pada tahun 2003, Human Rights Watch memperkirakan bahwa 350.000 anak di India bekerja sebagai buruh terikat di industri sutra, banyak di antaranya dalam “kondisi pelecehan fisik dan verbal.”

Selain itu, pekerja di industri sutra menghadapi risiko kesehatan dan kondisi kerja yang tidak aman.

Menurut sebuah studi tahun 2016 yang terbit dalam Journal of International Academic Research for Multidisciplinary; meskipun sutra berdasar pada asal-usul alaminya, industri sutra memiliki risiko kesehatan tertentu di semua segmen pengolahan sutra dari budidaya mulberry hingga tahap finishing sutra; termasuk toksisitas pestisida dan herbisida dari ladang mulberry, keracunan karbon monoksida, pemeliharaan tidak higienis, penggunaan disinfektan yang menyebabkan masalah pernapasan dan bertindak sebagai karsinogen.

sutra

Meskipun sutra berdasar pada asal-usul alaminya, industri sutra memiliki risiko kesehatan tertentu di semua segmen pengolahan. Foto: Pixabay.

Apakah ada opsi yang membuat sutra jadi mode berkelanjutan?

Sutra Ahimsa adalah sutra yang diproduksi tanpa membunuh ulat sutra. Namun, ngengat Bombyx mori telah manusia budi dayakan selama ribuan tahun, sehingga mereka tidak dapat bertahan lama setelah menetas dan muncul dari kepompong mereka.

Ngengat tidak dapat melihat atau terbang, karena itu, mereka tidak dapat melarikan diri dari predator. Mereka hanya hidup pendek di penangkaran.

Sutra liar (Sutra Tussar atau Tussah) terbuat dari kepompong yang ada di hutan terbuka, tempat beberapa spesies ngengat liar hidup.

Ulatnya memakan berbagai tanaman dan daun, sehingga hasil seratnya kurang konsisten jika perbandingannya adalah serat hasil dari ulat sutra. Kepompongnya dapat dipanen setelah ngengat menetas dan terbang, atau memanennya saat larva masih berada di dalamnya. Sutra ini memiliki serat yang lebih pendek dan berwarna emas.

Alternatif Sutra untuk Vegan

Karena terbuat dari produk hewani, sutra bukanlah kain untuk vegan. Sebagai alternatif, benang seperti sutra dapat terbuat dari beberapa sumber tumbuhan.

Kain sutra yang mewah juga bisa kita peroleh dengan mengolah batang bunga teratai. Membuat tekstil dari batang teratai adalah praktik kuno, tetapi butuh volume batang yang besar untuk membuat sedikit kain. Alternatif lain adalah piña, kain tradisional Filipina yang terbuat dari daun nanas. Piña memiliki tekstur seperti sutra dan ringan, tembus cahaya, dan kaku.

Baca juga: Ulat Sutra, Hewan Imut-Imut Penghasil Benang Mewah

Bagaimana dengan Sutra dari Laba-laba?

Orang-orang telah mencoba membuat kain sutra dari jaring laba-laba yang kuat dan elastis selama ratusan tahun. Namun, keberhasilannya terbatas, karena laba-laba cenderung menjadi kanibal saat dipaksa berdekatan untuk proses pembuatan sutra.

Alternatif baru dan inovatif untuk tetap memanfaatkan laba-laba ini adalah sutra laba-laba sintetis. Satu perusahaan tekstil, Bolt Threads, menggunakan air, ragi, gula, dan rekayasa biologis DNA laba-laba untuk mengembangkan bahan yang secara molekuler mirip dengan sutra laba-laba.

Bahannya, yang disebut Microsilk, berpotensi sangat kuat dan tahan lama. Bolt Threads telah bermitra dengan perusahaan Stella McCartney dan Best Made Co. untuk mengembangkan pakaian menggunakan Microsilk.

Penulis: Agnes Marpaung

Sumber:

Treehugger

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/apakah-sutra-mode-berkelanjutan-ayo-jawab-pertanyaan-anda/feed/ 0
12 Alasan Memilih Fesyen Berkelanjutan untuk Gaya Hidup Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/alasan-memilih-fesyen-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alasan-memilih-fesyen-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/alasan-memilih-fesyen-berkelanjutan/#respond Wed, 20 Jan 2021 10:00:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10181 Jika Anda mengaku sebagai seorang yang ramah lingkungan, salah satu aspek yang perlu Anda perhatikan adalah memilih fesyen berkelanjutan.]]>

Greeners merangkum dua belas alasan mengapa Anda harus memilih fesyen berkelanjutan.

Belum banyak desainer dan label yang mengambil jalur eco-fashion atau fesyen yang ramah lingkungan. Industri mode mulai dari make up, pakaian, hingga sepatu terus mengembangkan variasinya dan menawarkan berbagai macam pilihan untuk kita.

Dari semua barang-barang tersebut, hanya sedikit yang mendukung konsep berkelanjutan (sustainable) karena masih menggunakan bahan kimia berbahaya dalam pengolahannya hingga mengesampingkan kesejahteraan pekerja garmen.

Jika kita lebih peka, ada alasan yang patut kita perhitungkan untuk memilih fesyen yang mendukung konsep berkelanjutan. Berikut ini dua belas alasan yang menjelaskan pentingnya sustainable fashion.

12 Alasan Memilih Fesyen Berkelanjutan

1. Menjadikan bumi lebih baik

Industri fesyen meninggalkan jejak karbon yang besar bagi lingkungan, mulai dari pestisida untuk pemeliharaan bunga kapas, limbah kimia untuk mewarnai pakaian, hingga menumpuk pakaian bekas di tempat pembuangan sampah.

Memilih untuk menggunakan serat organik atau kain yang mendukung keberlanjutan, turut membantu untuk mengurangi jejak karbon, emisi gas rumah kaca, dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Langkah ini jelas menjadikan bumi lebih baik.

2. Memberikan keadilan bagi pekerja industri fesyen

Membeli pakaian yang sudah mendapatkan sertifikat Fair Trade dari lembaga terpercaya merupakan salah satu langkah mendukung keberlangsungan. Kita mendapat kepastian bahwa produksi pakaian tersebut dalam lingkungan kerja yang aman, bebas penindasan, dan pekerjanya mendapat upah yang adil. Hal ini penting karena kerap kali terjadi ketidakadilan bagi para pekerja industri fashion. Sertifikasi Fair Trade menyatakan bahwa pekerja dan lingkungan kerja memiliki arti atau bahkan lebih dari sekadar inti perusahaan.

3. Melestarikan keberadaan hewan

Cobalah untuk berpikir dua kali sebelum membeli barang-barang yang terbuat dari bulu atau kulit hewan. Bulu dan kulit hewan dapat kita temukan dalam berbagai produk fesyen, namun pernahkah kita berpikir bahwa hewan harus mati agar dapat diambil kulitnya? Pastikan untuk membeli barang-barang yang bebas dari kekejaman terhadap hewan.

4. Bertahan lama

Fesyen yang berkelanjutan (sustainable fashion) mendukung penggunaan bahan-bahan organik yang minim atau bebas bahan kimia, tapi juga model yang timeless, dan barang yang tahan lama. Mengurangi limbah dan konsumerisme akan berarti banyak bagi bumi dalam hal penghematan energi dan sumber daya.

5. Menaikkan nilai lokal

Cobalah untuk mencari busana di butik yang mendukung label lokal dan menggunakan tenaga kerja, penjahit, atau pengrajin lokal. Kalau ada, busana tersebut dapat menjadi salah satu pilihanmu. Alasannya, selain busana tersebut akan berbeda dari busana buatan massal, Anda juga turut berpartisipasi mengurangi jejak karbon yang timbul karena distribusi barang tersebut.

6. Lebih mudah dan hemat dalam merawat busana

Setelah membeli busana yang mendukung konsep sustainable, langkah selanjutnya adalah merawatnya. Anda dapat merawat busana ini dengan mencucinya menggunakan air dingin serta deterjen biodegradable. Lalu, keringkan dengan memanfaatkan sinar matahari. Dengan demikian, Anda dapat menghemat waktu, uang dan sumber daya alam.

7. Memancing daya kreativitas

Memiliki busana yang sustainable dapat Anda lakukan dengan membuatnya sendiri. Anda dapat membeli pakaian bekas dan mengubahnya atau membuat model vintage. Manfaatkan mesin jahit yang menganggur di rumah dan mulailah berkreasi untuk membuat rancangan yang Anda inginkan.

fesyen berkelanjutan

Memilih fesyen berkelanjutan juga memancing kreativitas. Foto: Shutterstock.

8. Memproduksi lebih sedikit limbah tekstil

Slow fashion adalah solusi untuk tidak membeli lebih banyak pakaian daripada yang kita butuhkan. Merek fesyen berkelanjutan jarang mengikuti tren, dan mereka tidak memaksakan koleksi baru setiap minggu untuk mengelabui Anda agar membeli lebih banyak. Dengan membeli lebih sedikit namun dengan kualitas lebih baik, kita bisa mengurangi limbah pakaian dengan signifikan.

9. Menggunakan lebih sedikit bahan sintetis

Bahan sintetis, seperti poliester, nilon, dan spandeks membutuhkan minyak. Sementara, produksi minyak adalah salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar. Jadi, pilihlah bahan alami nabati.

10. Menggunakan lebih sedikit air

Fashion adalah industri yang sangat boros air. Kapas misalnya, membutuhkan banyak air untuk tumbuh. Alhasil, fesyen berkelanjutan mencoba mengurangi penggunaan kapas. Beralih ke kapas organik adalah solusi yang bagus karena menggunakan 71% lebih sedikit air daripada kapas konvensional. Tetapi merek yang berkelanjutan sering memilih bahan alami lain seperti linen dan rami yang menggunakan lebih sedikit air.

Menggunakan kulit nabati sebagai pengganti kulit tradisional adalah cara lain untuk mengurangi jejak air fashion. Pinatex, misalnya, yang merupakan kulit nabati yang terbuat dari daun nanas tidak membutuhkan air untuk tumbuh karena ini hanyalah produk sampingan dari pertanian nanas yang sudah ada.

11. Penghematan energi

Bahan sintetis, selain menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca, juga menggunakan lebih banyak energi. Polyester daur ulang, misalnya, menggunakan setengah energi daripada polyester baru. Tetapi bahan berkelanjutan seperti rami, linen, bambu bahkan lebih hemat energi. Itulah mengapa mode berkelanjutan mendukung kain ini lebih dari polyester dan kain sintetis lainnya.

12. Mencegah dan mengurangi polusi air

Proses pewarnaan tekstil dan penyamakan kulit mencakup beberapa bahan kimia keras yang menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi para pekerja. Di negara berkembang, bahan kimia dan limbah beracun lainnya biasanya dibuang begitu saja ke sungai. Aliran air beracun ini pun juga terkontaminasi dengan limbah plastik.

Bagian yang paling menyedihkan adalah seringkali sungai-sungai ini menjadi satu-satunya sumber air untuk desa-desa dan satwa liar, karena sistem air yang kurang berkembang. Akibatnya, warga menjadi sakit atau terpaksa meninggalkan rumahnya.

Sebaliknya, merek yang etis dan berkelanjutan tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Membuang sesuatu di alam, terutama yang beracun, tidak ada di dunia mode berkelanjutan. Mereka menggunakan metode pewarnaan alternatif yang tidak beracun dan juga lebih hemat air dan energi.

Dengan membeli mode berkelanjutan, kita semua dapat membalikkan keadaan, dan menciptakan industri mode yang sehat untuk keseluruhan ekosistem. Mari melangkah ke merek fesyen yang sustainable!

Penulis: Agnes Marpaung, Gloria Safira

Sumber:

Treehugger

Pretty Planeteer

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/alasan-memilih-fesyen-berkelanjutan/feed/ 0
Pakaian dari Serat Rami untuk Tren Mode Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pakaian-serat-hemp/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pakaian-serat-hemp https://www.greeners.co/gaya-hidup/pakaian-serat-hemp/#respond Wed, 30 Dec 2020 10:00:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9821 Pernahkah Sobat Greeners mendengar kata “Hemp”? Hemp atau rami merupakan salah satu jenis dari tanaman Cannabis yang mulai dikembangkan dalam industri fesyen.]]>

Pernahkah Sobat Greeners mendengar kata “Hemp”? Hemp atau rami merupakan salah satu jenis dari tanaman Cannabis yang mulai dikembangkan dalam industri fesyen. Simak artikel Greeners tentang pakaian dari serat rami berikut.

Industri fesyen mendapatkan reputasi buruk dalam tanggung jawabnya akan lingkungan. Faktanya, industri ini adalah pencemar terbesar kedua di dunia, setelah industri bahan bakar fosil.

Kerusakan lingkungan pun meningkat seiring pertumbuhan industri mode. Konsumen, terutama generasi muda, menuntut produk yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Tanaman rami alias hemp akhirnya menjadi salah satu alternatif, untuk menjadi bahan mode yang berkelanjutan.

Apa itu tanaman rami?

Rami adalah varietas tanaman Cannabis sativa. Sebagai tanaman, ia memiliki implikasi industri yang luar biasa.

Rami bisa berguna untuk pembuatan tekstil, minyak, makanan, bahan konstruksi, dan banyak lagi. Ia bisa tumbuh tinggi. Batangnya berserat dan memiliki kadar THC atau zat aditif yang tidak terlalu signifikan (kurang dari 0,3%).

Ia merupakan tanaman yang sangat berkelanjutan yang tidak membutuhkan banyak perawatan seperti air, pupuk kimia, insektisida atau pestisida. Rami tumbuh seperti gulma. Ia tumbuh cepat dan secara alami mengusir serangga.

Tidak seperti kapas yang menguras tanah, tanaman rami menyuburkan tanah. 

Rami juga diklaim mampu menghilangkan polutan dari tanah (seperti kadmium) dalam proses fitoremediasi. Ini merupakan proses dekontaminasi tanah dengan menggunakan tanaman untuk menyerap logam berat atau polutan lain.

Keluaran dari produk kain rami

Sebagian besar industri rami berfokus pada pakaian jadi. Awalnya, rami masih populer di kalangan penyuka tanaman ganja. 

Namun, selama bertahun-tahun orang-orang dari seluruh dunia mulai menghargai manfaat seratnya sebagai kain daripada hubungannya dengan ganja yang biasanya memiliki konotasi negatif.

Hasil olahan kain rami ternyata efisien dan tahan lama. Sehingga Anda dapat menemukan pakaian rami seperti dalam model gaun, celana, jaket, rok, pakaian anak-anak, taplak meja, kain pelapis, perlengkapan tempat tidur seperti seprai dan selimut.

Manfaat Pakaian dari Serat Rami untuk Tren Mode Berkelanjutan

1. Membantu lingkungan dengan mengurangi karbon

Setiap industri harus memikirkan jejak karbon dan dampak pemanasan global atas keseluruhan proses, baik saat produksi, ataupun saat pemakaiannya. 

Mode cepat atau fast fashion saat ini telah menciptakan budaya produksi dan pembuangan pakaian yang cepat yang tidak baik bagi bumi.

Pakaian dari tanaman rami membantu masalah ini karena, sebagai tanaman, ia menyerap karbondioksida dari atmosfer. Banyak tanaman konvensional lainnya termasuk kapas yang merusak bumi. 

Rami dapat membantu memerangi tantangan iklim semacam ini.

2. Pakaian dari serat rami menggunakan lebih sedikit air

Tanaman seperti kapas yang biasa digunakan untuk bahan pakaian membutuhkan banyak air dan irigasi yang berat. Hal ini membebani sumber daya air. Rami adalah jenis tanaman yang bisa tumbuh subur tanpa membutuhkan irigasi yang berat.

Kebutuhan konsumsi airnya jauh lebih sedikit daripada tanaman lain. Itulah mengapa beralih ke pakaian rami cara terbaik untuk menghemat air.

Penggunaan bahan kimia yang minimal dapat menghindari erosi tanah yang terjadi karena penebangan. Ini secara tidak sengaja membantu danau dan sungai terhindar dari polusi.

3. Menunjang kesehatan tanah

Anda bisa menanam rami di hampir semua jenis tanah. Ia tidak merampas nutrisi dari tanah. Justru tanaman ini membantu memulihkan beberapa nutrisi penting yang sebelumnya mungkin telah hilang. 

Rami memiliki sifat tahan terhadap hama. Ia juga tidak membutuhkan pupuk karena pengguguran daunnya memupuk tanah secara alami. Rami juga dapat terurai secara hayati.

4. Pakaian dari serat rami lebih tahan lama

Rami sebagai kain memiliki ketahanan yang sangat baik. Ia juga nyaman untuk kulit karena memiliki sirkulasi udara yang baik. Kainnya juga menyerap keringat dan juga mudah untuk Anda warnai. Ia pun sulit memudar. 

Pakaian rami tidak mudah rusak, bahannya terus mempertahankan bentuk. Kainnya tidak mudah luntur bahkan setelah beberapa kali pencucian.

5. Rami memiliki sifat antimikroba

Selain tahan lama, kain rami juga dapat melawan mikroba. Jika tubuh Anda memancarkan bau yang tidak sedap, pakaian dari rami mencegah pertumbuhan bakteri penyebab bau.

Kain rami secara alami bersifat antibakteri yang juga melawan jamur dan lumut, sehingga cocok menjadi pakaian karena bersentuhan dengan bagian tubuh yang lebih lembap seperti kaki, ketiak, kemaluan, dan area mana pun yang mudah berkeringat.

Tidak seperti banyak kain antibakteri yang sintetis dengan campuran bahan kimia, rami benar-benar alami dan organik. Sangat cocok untuk Anda yang memiliki kulit sensitif.

Bahannya mengemas sifat antimikroba yang sangat baik, membuatnya bertahan lebih lama daripada serat tekstil lainnya seperti kapas, poliester, dan lain-lain. Pakaian rami tidak terdistorsi bahkan setelah beberapa kali Anda cuci dan gunakan.

pakaian dari rami

Tidak seperti banyak serat lainnya, rami organik dapat Anda petik dan proses tanpa bahan kimia beracun. Foto: Shutterstock.

6. Semakin Anda cuci, semakin lembut

Pakaian rami sangat nyaman Anda pakai. Hal yang membuatnya semakin menarik adalah setelah pencucian, Anda akan merasakan kain menjadi lebih lembut (tetapi tidak semakin lemah).

7.  Pakaian dari serat rami tahan terhadap sinar UV

Sinar matahari bisa merusak kulit. Namun, Jumlah untaian benang pada pakaian rami yang tinggi berarti tenunannya rapat. Inilah yang menyebabkan sinar matahari tidak mampu menembus materialnya. 

Oleh karena itu, kain rami melindungi Anda dari efek berbahaya sinar UV. Anda bisa menangkal sengatan matahari dan terhindar dari kerusakan kulit dan kanker kulit.

Daya tahan yang tinggi, perlindungan UV, dan kualitas tahan api menjadikannya kain yang ideal untuk Anda kenakan saat pergi ke luar.

Berjalan kaki di jalan setapak, mendaki, mengendarai sepeda, ataupun kegiatan luar ruang lainnya, merupakan momen yang cocok untuk menggunakan pakaian rami Anda. Tidak perlu lagi khawatir tentang keausan kain, atau terus-menerus menjahit pakaian favorit Anda. 

8. Pakaian dari serat rami termasuk mode lambat (slow fashion)

Setelah panen, tanaman rami akan melalui proses retting atau pemisahan serat dari komponen-komponen yang mengikatnya dalam suatu sel tanaman.

Proses ini membutuhkan waktu hingga lima minggu agar serat dapat melunak dan mudah untuk diekstraksi dari tanaman. Ini menghasilkan kain rami yang tahan lama, sehingga ramah lingkungan karena slow fashion.

9. Nol sampah

Rami adalah bahan tanaman tanpa limbah berkat proses pertanian multi guna yang super efisien. Selama rotasi tanaman, batang rami digunakan sebagai serat, dan daun serta umbinya dapat Anda tanam kembali ke dalam tanah sebagai pupuk alami.

Proses bebas limbah ini meningkatkan kesuburan tanah untuk membantu pertumbuhan tanaman rami berikutnya.

10. Menanam rami menjaga standar etis bagi pekerja

Tidak seperti banyak serat lainnya, rami organik dapat Anda petik dan proses tanpa bahan kimia beracun. Ini membuat rami sepenuhnya aman bagi pekerja di sepanjang rantai pasokan. 

Sebagian besar tekstil rami saat ini berasal dari China. Negara tersebut memimpin dunia dalam produksi rami, mengendalikan lebih dari sepertiga industri rami dunia.

Selain etis bagi pekerja, penanaman rami 100 persen alami dan bebas kejahatan atau cruelty-free sehingga tidak membahayakan manusia atau hewan. Ini membuat rami lebih baik bagi lingkungan.

Setiap makhluk hidup di planet ini dapat menghindari bahan kimia beracun yang biasanya digunakan dalam proses produksi pakaian.

Penulis: Agnes Marpaung

Sumber:

Retail Insider

Wama Underwear

Sustain Your Style

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pakaian-serat-hemp/feed/ 0
Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serat-bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/#respond Mon, 21 Dec 2020 10:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9363 Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?]]>

Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?

Bambu adalah flora yang pertumbuhannya cepat, maka dari itu sangat masuk akal apabila menjadi bahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Namun, praktik budidaya bambu skala besar erat kaitannya dengan sejumlah masalah lingkungan, dan proses untuk mengubah serat bambu menjadi kain sangat intensif secara kimiawi. Masalah ini menimbulkan pertanyaan apakah kain bambu benar-benar bahan yang ramah lingkungan?

Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode

Jenis Bambu untuk Kain

Tumbuhan bambu biasa kita temukan di Cina, Taiwan, Jepang, dan bagian Asia lainnya. Bambu adalah sejenis rumput yang tumbuh dengan cepat – sebanyak 3 kaki per hari, dengan total tinggi 75-100 kaki. Ada sekitar 1.400 spesies bambu, tetapi sub-spesies yang paling umum penggunaannya untuk kain adalah Bambu Moso (Phyllostachus edulis).

Pembuatan Kain Bambu Secara Mekanis

Pemanenan bambu dengan cara dipotong, kemudian olah secara mekanis ataupun kimiawi menjadi serat. Bambu yang prosesnya dengan cara mekanis masyarakatn kenal sebagai linen bambu (atau serat kulit pohon) dan menggunakan proses yang sama seperti linen rami.

Namun, karena teksturnya yang kasar dan membutuhkan usaha yang intensif (yang tentunya mahal) untuk produksinya, maka kain bambu yang terbuat dengan cara mekanis hanya sebagian kecil dari pasaran.

Pemrosesan Kain Bambu Kimiawi

Bambu dengan proses kimiawi jauh lebih umum. Pembuatannya melarutkan serat tumbuhan dalam campuran natrium hidroksida (alkali atau soda api) dan karbon sulfida.

Hasil campurannya keluar melalui lubang kecil menjadi larutan asam sulfat, yang membekukan serat dan memungkinkannya untuk ditenun menjadi kain. Proses ini serupa dengan pembuatan kain rayon dari sumber nabati lainnya, seperti serpihan kayu dan kayu putih. 

Dampak Lingkungan Kain Bambu

Selama beberapa tahun, terutama pada pertengahan 2000an, bambu sering mendapatkan pujian sebagai bahan yang ajaib. Ini karena tingkat pertumbuhannya luar biasa.

Scientific American menyatakan, “bambu dapat dibudidayakan dengan sedikit atau tanpa pupuk, pestisida, mesin pemanen berat atau irigasi, dan sistem akar bambu dapat melindungi tepian yang curam dari erosi.”

Bambu memiliki sistem akar yang dalam dan memotongnya saat panen tidak akan mengganggu tumbuhan dan tanahnya. Bambu juga menyerap karbon lima kali lebih banyak dan menghasilkan oksigen 35 kali lebih banyak daripada sebatang pohon berukuran serupa.

serat bambu

Hanya karena terbuat dari bahan alternatif, tidak berarti produk tersebut berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tinjau bersama, ya! Foto: Shutterstock.

Tekstil Serat Bambu: Masalah dengan Kultivasi

Budidaya Bambu Moso di Cina telah meningkat pesat sejak tahun 2000, menyebabkan banyak petani menebang habis lahan hutan alami untuk memberi ruang bagi pertanian bambu baru.

Hal ini merusak keanekaragaman hayati dan melepaskan karbon dalam jumlah besar. Meskipun bambu tidak membutuhkan banyak pupuk atau pestisida untuk tumbuh, tetapi para petani tetap menambahkannya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil sehingga mendapatkan profit yang lebih banyak. Tentu ini menyebabkan masalah bagi lingkungan.

Proses Produksi Beracun

Dalam produksi kain pun terdapat masalah. Proses kimiawi yang menggunakan karbon sulfida sangat beracun. Paparannya menyebabkan kerusakan sistem saraf dan reproduksi, serta memiliki sejumlah kaitan masalah kesehatan.

Dalam Fake Silk: The Lethal History of Viscose Rayon, Paul D. Blanc, seorang profesor occupational dan environmental medicine, menulis bahwa, “Untuk pekerja di pabrik rayon viscose, keracunan menyebabkan kegilaan, kerusakan saraf, penyakit parkinson, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.”

Produksi viskosa berbasis karbon sulfida tidak lagi diizinkan di Amerika Serikat karena bahaya ini.

Situs mode etis Good On You menuturkan, sekitar setengah dari limbah berbahaya dari produksi rayon (termasuk bambu) tidak dapat digunakan kembali, dan langsung menyatu dengan lingkungan. Senyawa organik yang mudah menguap serta klorin terlepas ke atmosfer, dan limbah dari fasilitas pemutihan mengarah ke saluran air, merusak ekosistem akuatik.

Seiring berjalannya waktu, kain bambu sudah tidak benar-benar terbuat dari bambu. Federal Trade Commission (FTC) menyatakan, “Ketika bambu diolah menjadi rayon, tidak ada jejak tanaman asli yang tersisa. Jika sebuah perusahaan mengklaim produknya terbuat dari bambu, harus memiliki bukti ilmiah yang dapat diandalkan untuk menunjukkan bahwa itu dibuat dengan serat bambu.”

Klaim bahwa kain mempertahankan sifat antimikroba dari tanaman bambu juga salah, menurut FTC.

Perbandingan Viscose Bambu dengan Bahan Viscose Lainnya

Viscose berbahan dasar bambu atau rayon, lebih banyak penggemarnya daripada viscose konvensional. Viscose konvensional biasanya menggunakan bulir kayu yang dapat bersumber dari pohon yang panennya tidak secara berkelanjutan, bahkan hutan purba.

Keduanya dapat terurai secara hayati. Selama tidak ada tambahan pewarna beracun, mereka lebih ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis berbasis minyak bumi.

Ada juga opsi yang lebih baik, yaitu dengan mencari kain bambu yang pembuatannya dengan proses Lyocell. Sistem produksi pengulangan tertutup ini menggunakan lebih sedikit bahan kimia beracun dan hampir tidak memproduksi limbah sampingan.

Meskipun biasanya penggunaannya dengan kayu putih. Kain bambu dengan proses Lyocell bermerek Monocel.

Baca juga: Indonesia Pulangkan Sebelas Orang Utan Korban Perdagangan Ilegal

Alternatif untuk Tekstil Serat Bambu

Jika Anda menggunakan bambu, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam merekomendasikan untuk memilih linen bambu sebagai pengganti viscose.

Jika memungkinkan, pilih linen yang proses pemisahan serat dari bambunya melalui proses dew-retted. Proses ini hanya menggunakan udara, embun, matahari, dan jamur untuk melarutkan bagian yang tidak kita inginkan dari rami dan membuka serat linen. Sehingga membutuhkan lebih sedikit energi dan air daripada water-retted. Pilih juga linen yang memakai pewarnaan alami.

Kapas organik dan rami adalah dua opsi untuk pengganti bambu. Walaupun bambu lebih berkelanjutan dari kapas, namun proses pembuatan kainnya sangat merusak lingkungan.

Ini membuat kapas organik terlihat jauh lebih baik. Di sisi lain, rami, menjadi pilihan yang paling baik. Ia membutuhkan sedikit air dan tumbuh dengan cepat.

Klaim kain bambu yang keberlanjutan ternyata tidak sesederhana itu. Manfaat tumbuhan yang pertumbuhannya cepat ini terkikis karena proses produksinya yang beracun.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Treehugger

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/feed/ 0
Belanja Pakaian Baru? Perhatikan 5 Hal Ini https://www.greeners.co/gaya-hidup/belanja-pakaian-baru-perhatikan-5-hal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belanja-pakaian-baru-perhatikan-5-hal https://www.greeners.co/gaya-hidup/belanja-pakaian-baru-perhatikan-5-hal/#respond Wed, 18 Oct 2017 11:33:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19030 Disadari atau tidak, kebiasaan membeli pakaian baru dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Meski demikian, bukan berarti bahwa kita tidak boleh membeli pakaian baru.]]>

Fungsi pakaian selain untuk melindungi tubuh, juga dapat menjadi penunjuk kelas sosial dan kepribadian dari diri seseorang. Tak heran, kini banyak orang yang rela merogoh kocek cukup dalam demi membeli pakaian baru yang dinilai dapat menunjang penampilan mereka.

Namun disadari atau tidak, kebiasaan membeli pakaian baru dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap lingkungan. Meski demikian, bukan berarti bahwa kita tidak boleh membeli pakaian baru. Dilansir dari Ecocult, Annching Wang atau Ana Wang, seorang perancang busana ramah lingkungan asal Kanada, menjelaskan lima hal yang harus kita perhatikan ketika akan berbelanja pakaian. Inilah lima poin yang perlu kita perhatikan supaya kita menjadi penikmat fesyen yang cerdas, hemat, dan ramah lingkungan.

pakaian baru

Ilustrasi. Foto: pexels

1. Beli pakaian dengan ukuran sedikit lebih besar

Banyak pakaian yang ukurannya akan menyusut ketika dibersihkan atau dicuci. Maka dari itu, Ana menyarankan lebih baik kita membeli pakaian dengan ukuran sedikit lebih besar dari ukuran tubuh kita. Selain itu, Ana juga memiliki prinsip lebih baik membeli pakaian yang “kedodoran” dibandingkan dengan membeli baju yang terlalu sempit atau terlalu pas.

“Pakaian yang terlalu besar masih bisa diakali dengan cara dilipat. Hal itu jauh lebih baik dibandingkan dengan membeli pakaian yang terlalu ketat hingga akhirnya pakaian tersebut jarang digunakan dan akhirnya didiamkan begitu saja,” ujar Ana.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/belanja-pakaian-baru-perhatikan-5-hal/feed/ 0
3 Merek Fesyen Ini Hadirkan Koleksi Jeans Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-merek-fesyen-hadirkan-koleksi-jeans-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=3-merek-fesyen-hadirkan-koleksi-jeans-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-merek-fesyen-hadirkan-koleksi-jeans-ramah-lingkungan/#respond Tue, 17 Oct 2017 12:28:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19023 Di balik popularitasnya yang tinggi dan modelnya yang bersifat "evergreen", proses pembuatan celana jeans banyak yang dibuat secara tidak ramah lingkungan dan tidak beretika.]]>

Siapa yang tak suka dengan jenis pakaian yang satu ini? Ya, jeans merupakan salah satu bahan pakaian yang digemari oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Celana jeans identik dengan kesan kasual dan dapat dipadupadankan dengan banyak model pakaian. Selain itu, celana jeans juga bersifat kuat dan tidak mudah robek, sehingga cocok untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Celana jeans merupakan salah satu model pakaian yang tak akan lekang oleh waktu dan akan selalu mendapat tempat di hati para penggemarnya.

Namun di balik popularitasnya yang tinggi dan modelnya yang bersifat evergreen, proses pembuatan celana jeans banyak yang dibuat secara tidak ramah lingkungan dan tidak beretika. Proses pewarnaan celana jeans dapat mencemari air. Perlu diketahui, pewarna biru pada celana jeans kebanyakan mengandung zat berbahaya seperti merkuri, cadmium, dan lainnya. Selain itu, tidak sedikit dari para pekerja yang membuat celana jeans mengalami keracunan dan kanker paru-paru karena terpapar oleh zat-zat berbahaya tersebut.

Meski demikian, bukan berarti semua produsen celana jeans di dunia ini memproduksi produk jeans dengan cara yang tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Ada juga beberapa merek fesyen yang menghadirkan koleksi celana jeans nan modis namun tetap ramah lingkungan dan memperhatikan kesehatan para pekerjanya. Seperti dilansir dari Ecocult.com, ini tiga merek fesyen yang menghadirkan koleksi jeans yang ramah lingkungan.

jeans ramah lingkungan

Foto: ecocult.com

1. Levi’s

Siapa yang tak kenal dengan merek yang satu ini? Levi’s merupakan merek fesyen asal Amerika Serikat yang memperkenalkan celana blue jeans pada 1873 kepada masyarakat luas. Sebagai salah satu pionir dari munculnya celana jeans, Levi’s tentunya tidak sembarangan ketika memproduksi koleksi celana jeans mereka. Levi’s berkomitmen untuk membuat celana jeans dengan konsep waterless. Selain itu, mereka juga melakukan “Screened Chemistry” terhadap semua produk jeans yang mereka produksi, sehingga dijamin produk yang mereka hasilkan tidak mengandung kandungan zat kimia yang berbahaya.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-merek-fesyen-hadirkan-koleksi-jeans-ramah-lingkungan/feed/ 0
Noorism Beri Kesempatan Kedua bagi Jeans Usang https://www.greeners.co/gaya-hidup/noorism-beri-kesempatan-kedua-bagi-jeans-usang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=noorism-beri-kesempatan-kedua-bagi-jeans-usang https://www.greeners.co/gaya-hidup/noorism-beri-kesempatan-kedua-bagi-jeans-usang/#respond Tue, 22 Aug 2017 11:36:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18342 Di mata Noor Zakka, jeans lama dan usang bukanlah barang yang tidak berguna. Melalui tangan dinginnya, ia merombak jeans lama menjadi pakaian yang modis dan menjualnya dengan merek fesyen bernama Noorism.]]>

Di mata Noor Zakka, jeans lama dan usang bukanlah barang yang tidak berguna. Melalui tangan dinginnya, ia merombak jeans lama menjadi pakaian yang modis dan menjualnya dengan merek fesyen bernama Noorism.

Noor Zakka merupakan desainer wanita asal Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan studinya dalam bidang fesyen, Noor merasa prihatin terhadap menggunungnya jumlah limbah pakaian yang dihasilkan oleh industri fesyen setiap tahunnya. Bertolak dari hal tersebut, Noor berkomitmen untuk menciptakan pakaian yang berkualitas tanpa harus mencemari lingkungan. Maka dari itu, diciptakanlah Noorism pada tahun 2015 dengan berfokus terhadap pembuatan produk fesyen dari jeans bekas.

jeans bekas

Foto: noorism.com

Noorism menghadirkan koleksi pakaian dari jeans bekas dalam model yang beragam. Dalam koleksinya, Noorism menghadirkan pakaian berupa baju, celana, dan rok. Setiap koleksi yang dihadirkan oleh Noorism terbuat dari kain jeans yang berbeda-beda. Maka dari itu, Noorism mengklaim bahwa setiap koleksinya tidak ada yang identik satu sama lain dan memiliki filosofi yang bebeda-beda.

“Pakaian yang kami hasilkan seluruhnya memiliki keunikan tersendiri. Setiap koleksi pakaian memiliki cerita tersendiri, karena setiap pakaian terbuat dari bahan yang berbeda dengan latar cerita yang berbeda pula,” tulis Noorism dalam situs resminya.

Dari segi desain, Noorism menghadirkan pakaian dengan gaya yang simpel dan modern. Noorism mengutamakan kenyamanan bagi penggunanya, sehingga pakaian yang diproduksi oleh mereka tidak memiliki aksen dan potongan yang rumit. Keseluruhan pakaian keluaran Noorism tidak mengalami proses pewarnaan ulang untuk mempertahankan warna asli dari kain jeans lama yang mereka gunakan.

jeans bekas

Foto: noorism.com

Noorism menampilkan baju dengan model yang beraneka ragam mulai dari tank top, blazer, gaun one-piece, dan blus. Label ini juga menghadirkan koleksi berupa rok lilit dan celana kulot. Didesain dengan simpel namun tetap chic, pakaian dari Noorism cocok untuk dikenakan pada suasana santai.

Tak hanya pakaian, Noorism juga menghadirkan koleksi aksesoris yang sama-sama terbuat dari jeans bekas, diantaranya topi bermodel bucket hat yang terinspirasi dari artis Inggris bernama Audrey Hepburn. Tak hanya itu, Noorism juga menghasilkan koleksi totte bag yang dapat menunjang penampilan.

Noor Zakka berkomitmen untuk membuat produk yang berkualitas yang diproduksi dalam lingkungan kerja yang aman. Labelnya sendiri, Noorism, mendonasikan 5 dolar dari setiap barang yang terjual untuk mendukung usaha pelestarian air.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/noorism-beri-kesempatan-kedua-bagi-jeans-usang/feed/ 0
5 Cara Menjadi Konsumen Fashion yang Bertanggung Jawab https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-menjadi-konsumen-fashion-bertanggung-jawab/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-cara-menjadi-konsumen-fashion-bertanggung-jawab https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-menjadi-konsumen-fashion-bertanggung-jawab/#respond Sat, 15 Apr 2017 07:06:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16724 Sudah saatnya bagi para konsumen untuk sebuah revolusi. Kita bisa mengubah industri fesyen hanya dengan mengubah cara kita memperlakukan pakaian. ]]>

Pernahkah kita mengalami kebingungan ketika hendak mengenakan pakaian padahal bertumpuk-tumpuk pakaian ada di lemari? Berdasarkan penelitian Waste & Resources Action Programme, rata-rata rumah tangga di Inggris memiliki pakaian senilai 4.000 poundsterling, 30% diantaranya usang walau tidak terpakai. Begitu juga halnya dengan sepatu, meski jumlah yang dimiliki ada banyak, tapi pada kenyataanya jarang sekali yang terpakai.

Dengan tingkat konsumerisme yang tinggi, sudah saatnya bagi para konsumen untuk sebuah revolusi, diantaranya dengan membeli pakaian dengan lebih bertanggung jawab. Saat ini industri fesyen meyakinkan kita bahwa konsumsi yang berlebihan adalah sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjadi penanda kesuksesan seseorang.

Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang lingkungan Greenpeace menyatakan dalam kampanyenya bahwa dengan menyingkirkan baju lama yang jarang dipakai dan membeli pakaian-pakaian baru, kita menyumbangkan energi tambahan untuk lingkaran pasokan limbah beracun dan memenuhi tempat pembuangan sampah dengan cara membeli yang impulsif.

Tapi kita bisa mengubah industri fesyen hanya dengan mengubah cara kita memperlakukan pakaian. Ini dia caranya:

fashion

Ilustrasi: pixabay.com

1. Perbaiki, bukan mengganti

Sedikit usang atau sobek bukan berarti bajunya siap dibuang. Greenpeace menyarankan: ambil jarum dan benang sebelum menjadwalkan untuk belanja. Katakan pada dunia #ImKeepingThis, atau kalau diterjemahkan secara bebas artinya “saya tidak akan membuang baju ini”.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-menjadi-konsumen-fashion-bertanggung-jawab/feed/ 0
Daur Ulang Fesyen dengan Bedah Lemari Ala Annika Nicklinson https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/#respond Mon, 10 Apr 2017 08:08:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16662 Annika Nicklinson, seorang desainer dan penulis asal London, mendirikan Annika-N. Seluruh produk dan jasa yang ditawarkan Annika-N ditujukan untuk mengurangi limbah pakaian di tempat pembuangan akhir.]]>

Bedah Lemari atau Wardrobe Surgery merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Annika Nicklinson, seorang desainer dan penulis asal London dalam bukunya, “Junky Styling: Wardrobe Surgery”. Junky Styling sendiri merupakan sebuah butik yang ia dirikan bersama Kerry Seager pada tahun 1997 di Shoreditch, London Timur, Inggris.

Terinspirasi dari kebiasaan mendaur ulang di San Fransisco dan Tokyo, busana Junky Styling dibuat dari pakaian bekas. Namun, bukan sembarang bekas, lini pakaian rancangan kedua desainer tersebut berkualitas tinggi yang direkonstruksi ulang. Sayangnya, pada tahun 2000-an, mereka menutup toko busana ini.

bedah lemari

Foto: annika-n.co.uk

Meskipun demikian, Annika tidak berhenti menyebarkan pengaruh baik dari mendaur ulang fesyen dengan bedah lemari. Masih dengan tema upcycle dan mengangkat nilai pakaian bekas, pada tahun 2013, ia mendirikan Annika-N. Seluruh produk dan jasa yang ditawarkan Annika-N ditujukan untuk mengurangi limbah pakaian di tempat pembuangan akhir.

Dari sebuah kemeja hitam bekas, Annika dapat membuat satu gaun formal. Atau dari sebuah tirai yang sudah usang, ia dapat mengubahnya menjadi sebuah tuksedo. Bahkan, selimut pun dapat Annika sulap menjadi sebuah gaun dengan atasan khas daerah Basque, Itali. Hal ini membuktikan bahwa hanya dengan pakaian bekas pun, kita masih dapat tampil dengan gaya kasual ataupun formal.

Tidak hanya fesyen wanita, Anikka juga menyediakan produk mode daur ulang bagi pria berupa jaket yang didesain khusus oleh desainer DAM London. Dibuat dengan detail klasik dan bentuk kerah yang unik, pakaian daur ulang ini menambah gaya bagi pemakainya.

bedah lemari

Foto: annika-n.co.uk

Di samping daur ulang produk fesyen, Annika juga membuka jasa konsultasi melalui metode Bedah Lemari andalannya. Lewat bedah lemari ini, kita dapat bertukar pikiran mengenai ide-ide inovatif yang dapat diterapkan pada pakaian bekas kita sendiri.

Selain mendaur ulang produk dan bedah lemari, Annika juga mengadakan berbagai kegiatan berbagi pengalaman seperti kuliah umum dan lokakarya. Di laman resminya, Annika memperkenalkan metode yang digunakan dalam mendaur ulang.

“Menginspirasi dan menanamkan konsep daur ulang yang ditambah dengan pengetahuan teknis merupakan bagian integral dari agenda kami. Kami sering melaksanakan lokakarya di sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan tempat kerja. Kami memastikan tidak ada satu pun yang kecewa atau pergi,” tulis Anikka di laman resminya.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/feed/ 0
Jaket dengan Nilai Kemanusiaan https://www.greeners.co/gaya-hidup/jaket-nilai-kemanusiaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jaket-nilai-kemanusiaan https://www.greeners.co/gaya-hidup/jaket-nilai-kemanusiaan/#respond Tue, 07 Mar 2017 16:20:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16131 Dapatkah mode menjadi media untuk membuat perubahan terhadap persoalan kemanusiaan? Angela Luna, seorang desainer sosial menjawabnya.]]>

Dapatkah mode menjadi media untuk membuat perubahan terhadap persoalan kemanusiaan? Angela Luna, seorang desainer sosial mampu menjawabnya. Melalui rancangan busana, ia mengajak industri fesyen yang seakan terputus dari persoalan kemanusiaan, seperti isu pengungsi, untuk turut menjadi agen perubahan.

“Fesyen atau industri lain dapat dengan mudah menjadi sebuah gerakan perubahan. Hal ini mungkin tidak dapat menyelesaikan krisis secara menyeluruh, namun jelas dapat menghasilkan suatu perbedaan,” kata Angela seperti dilansir dalam laman resmi www.adiff.com

Adiff merupakan startup rintisan Angela yang mengumpulkan donasi dari seluruh dunia melalui platform patungan online Kickstarter. Label fesyen ini menyediakan jaket untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. Bukan hanya sebagai wujud pemecahan masalah, pendirian Adiff juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran global. Hal ini ditunjukkan melalui rancangan garmen yang tidak hanya sebagai penghangat tubuh, namun juga memiliki fungsi lain.

jaket

Tenda untuk dua orang ini dapat dipakai sebagai jaket. Foto: Adiff

Fungsi lain busana ini diperlihatkan pada variasi produk Adiff. Beberapa di antaranya adalah tent jacket, yaitu luaran yang dapat diubah bentuknya menjadi sebuah tenda. Atau, sleeping bag jacket yang bisa dijadikan kantong tidur. Selain itu, Adiff juga menyediakan inflatable jacket atau jaket pelampung yang dapat digunakan saat terjadi bencana banjir. Dan yang tidak kalah penting adalah child carrying jacket, yaitu luaran yang dilengkapi dengan harness yang dapat dibongkar pasang untuk menggendong anak.

Selain dibuat untuk para pengungsi, busana Adiff juga ditujukan bagi masyarakat luas. Luaran ini dapat dikenakan dalam berbagai kegiatan seperti hiking santai di hutan atau berjalan-jalan di kota. Baju yang dapat digunakan baik oleh pria maupun wanita (unisex) ini tahan lama, tahan cuaca dan disiapkan untuk dipakai di berbagai kondisi lingkungan.

jaket

Angela Luna juga merancang tas punggung yang dapat dipakai sebagai jaket. Dengan tas ini, pengungsi dapat membawa barang-barang mereka ke tempat pengungsian namun tetap terlindungi dari panas dan hujan. Foto: Adiff

Perusahaan pemula dengan kesadaran soial yang tinggi ini bertujuan untuk menyediakan busana dan pertolongan bagi pengungsi yang membutuhkan, yang dibiayai melalui pembelian yang kita lakukan. Maksudnya, sebagian hasil dari segala bentuk pembelian produk Adiff akan disumbangkan untuk memberikan produk Adiff yang benar-benar dibutuhkan oleh pengungsi.

Model bisnis yang didasari donasi ini memiliki tujuan untuk memutar uang yang dihasilkan industri mode dan menyalurkannya langsung untuk mendukung inisiatif kemanusiaan. Misinya ini dijalankan melalui produksi yang transparan, beretika dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, Adiff tidak hanya bergerak untuk menolong pengungsi, namun juga memberi pengajaran mengenai isu global itu sendiri, dengan fesyen sebagai media.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jaket-nilai-kemanusiaan/feed/ 0
3 Limbah Makanan Dalam Green Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=3-limbah-makanan-green-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/#respond Sun, 03 Jul 2016 05:33:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14155 Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion.]]>

Dunia fesyen yang ramah lingkungan telah mencapai tingkatan baru dalam perannya mengurangi sampah makanan melalui berbagai inovasi baru. Para perancang berusaha keras memasukkan sisa makanan dan hasil sampingan yang berkaitan dengan makanan ke dalam kain, yang kemudian diubah menjadi produk-produk stylish mulai dari jaket, sabuk, dompet hingga sepatu.

Saat ini PBB memperkirakan ada 1,3 miliar ton makanan yang menjadi sampah tiap tahunnya. Angka ini menyamai seperempat dari jumlah total kalori yang dikonsumsi manusia. Mencari cara untuk memecahkan masalah ini adalah sebuah keniscayaan meskipun mengubah makanan menjadi produk fesyen tidak akan menyelesaikan masalah ini secara keseluruhan.

Meski demikian, dampak yang dihasilkan bukan berarti tidak baik. Paling tidak salah satunya edukasi masyarakat terhadap pentingnya 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycling (mengolah kembali) dapat tercapai. Seperti dilansir dalam Treehugger.com, berikut ini beberapa limbah makanan yang dimanfaatkan menjadi produk green fashion:

1. Ampas kopi
Rata-rata tiap orang meminum 3 cangkir kopi per hari. Hal ini berarti ampas kopi cukup banyak jumlahnya hingga sebuah perusahaan dari Spanyol bernama Ecoalf menciptakan cara untuk mengubah ampas tersebut menjadi benang. Ampas kopi dikumpulkan dari restoran-restoran, dikeringkan, dan minyak diekstrak dari ampas tersebut.

Ampas kemudian dihaluskan sampai menjadi tepung halus. Tepung halus inilah yang kemudian dicampurkan dengan poliester daur ulang untuk membuat benang. Hasilnya adalah benang yang lembut, ringan, fleksibel dan bisa “bernapas” namun bagian luarnya tahan air.

2. Kulit Salmon
Mungkin tidak banyak diantara kita yang makan ikan, namun hal ini tidak mengubah fakta bahwa miliaran kilogram ikan dan kepiting menghasilkan produk sampingan yang biasanya dibuang ke laut tiap tahunnya. Perikanan berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya masalah menangkap ikan saja namun meningkatkan pemanfaatannya.

Perusahaan baru dari Kasberg bernama Tidal Vision, berjuang memanfaatkan setiap bagian dari ikan dan menciptakan bahan kulit dari ikan laut dan chitosan, sejenis polimer yang diekstrak dari kulit kerang. Tidal Vision memproduksi sabuk, dompet dan tas tangan sementara pabrik tekstilnya tidak lama lagi akan meluncurkan produk kaos, kaus kaki dan produk-produk lain yang menggabungkan chitosan dengan serat alami lainnya.

3. Sabut Kelapa
Perusahaan bernama Nau telah mengembangkan pelapis khusus untuk jaket musim dingin yang dibuat dari kelapa, sebagai bagian dari usaha mengurangi pemakaian bulu angsa. Prosesnya yaitu dengan cara membakar sabut kelapa yang selama ini dibuang dan mencampurkan abu sisa pembakarannya dengan poliester daur ulang yang kemudian menghasilkan benang yang mampu menjadi insulasi.

Produk yang semula bernama Cocona ini, sekarang diberi nama 37.5 Technology dan sekarang digunakan oleh perusahaan-perusahaan peralatan olahraga terkemuka seperti Adidas, Under Armor, Eddie Bauer dan North Face.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/3-limbah-makanan-green-fashion/feed/ 0
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
Industri Fesyen Ikut “Beraksi” di Konferensi Perubahan Iklim Paris https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/#respond Tue, 08 Dec 2015 10:12:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12169 Sejumlah brand fesyen internasional menandatangani sebuah deklarasi yang mendukung pengurangan emisi dalam konferensi perubahan iklim COP 21 UNFCCC di Paris, Perancis.]]>

Kenaikan emisi gas di dunia mengakibatkan perubahan iklim tak menentu, bukan hanya di belahan Indonesia saja, tapi berdampak bagi negara lainnya. Sekitar 190 kepala negara, termasuk Indonesia, turut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Forum COP 21 UNFCCC di Paris, Perancis. Dengan bahu-membahu, diharapkan konferensi yang diselenggarakan sejak tanggal 30 November hingga 11 Desember 2015 ini, menghasilkan tindakan nyata untuk menanggulangi pemanasan global yang meningkat sebesar dua derajat Celsius.

Dilansir dari situs ecouterre.com, sejumlah brand fesyen internasional, di antaranya, Adidas, Eilen Fisher, Gap, H&M, Levi Strauss hingga VF Corp pun menandatangani sebuah deklarasi yang disampaikan melalui grup advokasi bernama Ceres untuk disampaikan dalam Forum COP21.

Eric Wiseman, CEO dari VF Company (The North Face, Timberland, Vans, dan Wrangler) mengatakan, “Perusahan kami mendukung pengurangan karbon serta efisiensi penggunaan energi untuk dampak ekonomi ke depan. Kami melakukan bagian kami sebagai bentuk kontribusi terhadap perlawanan perubahan iklim yang terjadi belakangan”.

Dalam deklarasi ini, para petinggi perusahaan fesyen ternama berjanji untuk melakukan efisiensi energi dalam kegiatan operasional mereka. Mereka menyatakan bahwa mitigasi perubahan iklim dan inovasi teknologi sangat vital untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi pembuat maupun pemakai produk fesyen, termasuk suplai material yang dibutuhkan untuk membuat produk fesyen di masa yang akan datang.

“Kami harus melihat sisi lain dari bisnis sebagai bentuk akan perubahan. Kami punya kesempatan yang kuat untuk sama-sama membangun industri fesyen. Kesuksesan tidak semata dihitung dari segi dollar saja, tapi juga dari sisi kemanusiaan dan lingkungan,” tutur Eileen Fisher.

Selain petinggi brand fesyen ternama yang bersuara, ribuan aktivis di Perancis juga melakukan aksi demonstrasi pada Minggu (29/11) lalu. Namun aksi ini diredam oleh pemerintah Perancis mengingat kondisi darurat pasca pembomban.

Ribuan demonstran yang sebelumnya berniat bergandeng tangan dan membentuk long march, berakhir dengan menjajarkan sepatu mereka. Seperti dilansir situs The Guardian, sekitar 200 ribu pasang sepatu dijajarkan di kota Paris. Aksi ini juga dilakukan di kota-kota lain di beberapa negara, seperti Hongkong, Seoul, dan Sydney.

Penulis: DJ/G38

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/industri-fesyen-ikut-beraksi-konferensi-perubahan-iklim-paris/feed/ 0
BARE Hadirkan Koleksi Tas dari Karung Biji Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/#respond Fri, 27 Nov 2015 08:09:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12050 Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan […]]]>

Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan karya fesyen yang diciptakan dari bahan-bahan yang tidak biasa dengan penampilan yang unik dan berkelas.

Misalnya saja, karung kopi. Ditangan Justin Biel dan Grason Ratowsky, karung yang semula digunakan menyimpan biji kopi diubah menjadi tote bag, duffle bag dan pouch berpenampilan unik. Keduanya memproduksi tas unik ini dengan label mereka, BARE.

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

BARE merupakan label aksesoris handmade yang berbasis di Colorado. Mengolah karung kopi menjadi tote bag merupakan produk awal yang dihasilkan label ini. Bahan karung yang kuat menjadikan umur pakai tas lebih lama. Handle tas yang digunakan pun menghilangkan aksen kumuh dari karung sehingga membuat tas ini menjadi satu kesatuan yang menarik secara desain.

Desain tas yang dibuat bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Uniknya, antara tas yang satu dengan tas lainnya akan berbeda satu sama lain secara motif dan corak. Hal itu terjadi karena karung yang digunakan merupakan karung bekas dan tidak dapat dibuat mirip dalam jumlah banyak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/feed/ 0
Bikini Handmade Ramah Lingkungan Koleksi Priscilla Lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/#respond Thu, 12 Nov 2015 10:18:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11874 Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk […]]]>

Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk koleksinya kali ini, Lynch menciptakan enam bikini yang terbuat dari material ramah lingkungan.

Lynch menggunakan kain berbahan dasar botol air plastik daur ulang untuk pembuatan bikini yang dibuat handmade ini. Bikini ini menjadi eksklusif karena koleksi ini dibuat dengan jumlah terbatas dan ditawarkan melalui website resminya. Desain yang ditampilkan pun terlihat elegan dan terinspirasi dari para wanita yang modern, klasik dan berseni.

“Saya suka cara saya menggambarkan bagaimana para perempuan itu hidup dan saya tahu saya menginginkannya dengan cara demikian,” ujar Lynch seperti dilansir situs Observer.com.

Bikin dalam koleksi "Into the Water" ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikin dalam koleksi “Into the Water” ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Lynch menciptakan enam macam bikini untuk koleksinya ini. Keenamnya adalah La Maja, Olympia, Sheba, The Picnic, Madam X dan Leda. Keenamnya memiliki desain yang berbeda dan unik. La Maja didesain menjadi bikini silhouette dan dilengkapi dengan removable cup yang dapat digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Olympia pun tak kalah menarik. Bagian atas bikini dibuat lebih tertutup dengan aksen menyilang di bagian depan.

Untuk The Picnic dan Sheba dibuat dengan motif renda yang cantik dengan tali mengikat bagian atas bikini, sedangkan untuk Anda yang tidak percaya diri dengan bentuk pundak, bisa mencoba Madam X yang dapat menyamarkan kekurangan pada pundak Anda lewat desain atasan bikini yang memiliki tali lebar dan lurus. Last but not least, Leda yang mampu membuat Anda tampil lebih seksi dengan maksimal lewat aksen tali melintang dibagian depan.

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Keenam bikini tersebut dibanderol dengan harga 200 hingga 300 dollar Amerika atau setara dengan kisaran 2,7 jutaan per bikini. Harga yang cukup mahal namun sepadan dengan desain elegan dan upayanya untuk mengurangi sampah plastik.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/feed/ 0
ReWrap Gunakan Serat Batok Kelapa untuk Tas Kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/#respond Sat, 07 Nov 2015 14:00:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11813 Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang […]]]>

Industri fesyen ramah lingkungan kerap kali dianggap sebelah mata karena sering kali tidak wearable dan menggunakan desain yang seadanya. Namun, anggapan tersebut akan berubah bila melihat tas ramah lingkungan yang satu ini.

Sebuah brand asal Belanda bernama ReWrap akan menunjukkan pada Anda bahwa material bekas atau sisa dapat menghasilkan karya yang luar biasa. Lewat koleksi bertajuk Tree Bag, ReWrap menciptakan tas menarik yang terbuat dari serat batok kelapa. Dirilis pada Dutch Design Week 2015 yang diadakan akhir Oktober lalu, tas dari serat batok kelapa ini menghasilkan serat yang natural dan bentuk motif tersendiri. Siapa sangka, selain nampak chic, tas ini pun dapat tahan air.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: ecouterre.com

Bagian luar tas tersebut terbuat dari 100 persen serat batok kelapa yang di pres bersama dengan getah pohon yang dapat membuat tas ini kuat dan tahan lama. Sedangkan pada bagian dalam tas terbuat dari karet alami yang telah dikeringkan dibawah sinar matahari, bagian karet ini lah yang membuat tas ini dapat anti air.

Tas ini pun dilengkapi dengan handle yang terbuat dari 100 persen kayu dari pohon walnut yang dikelola secara berkelanjutan dan memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC). Dibalik materialnya yang ramah lingkungan dan memiliki desain stylish, tas ini dibuat dengan mempekerjakan para penyandang disabilitas di sebuah workshop kecil di Amsterdam.

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tree Bag dari ReWrap. Foto: storify.com

Tas ini dibuat dalam dua macam ukuran, yakni medium dan besar. Dari segi desain, tas ini cocok digunakan sebagai tas kantor maupun untuk acara formal lainnya. Selain itu, tas ini bersifat unisex atau dapat digunakan oleh pria maupun wanita.

Tas ini dibanderol dengan harga 245 euro atau setara dengan 3,5 juta rupiah untuk ukuran medium dan 275 euro atau 4 juta rupiah untuk ukuran besar. Bagaimana menurut Anda, cukup sepadankah harga dengan kerja keras produksi tas tersebut?

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/rewrap-gunakan-serat-batok-kelapa-untuk-tas-kantor/feed/ 0
7 Cara Membuat Koleksi Pakaian Lebih Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/#respond Tue, 03 Nov 2015 08:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11757 Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga […]]]>

Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga transportasi dalam proses distribusi, semuanya memengaruhi lingkungan. Belum lagi perilaku boros dan lekas bosan konsumen fesyen turut menambah jumlah sampah.

Meski demikian, ada banyak cara untuk menjadi konsumen fesyen yang peduli lingkungan. Semuanya bisa dimulai dengan langkah sederhana. Apa saja langkahnya?

Ilustrasi: Ist.

Ilustrasi: Ist.

1. Ketahui seluk beluk isi lemari
Langkah ini merupakan hal mendasar untuk mengubah pola pikir Anda sebagai seorang konsumen. Mulailah mengedukasi diri Anda sendiri dengan melihat apa yang ada dalam isi lemari pakaian Anda dan mencari tahu seluk beluk dari setiap pakaian yang dimiliki.

Cari tahu dan bedakan mana pakaian yang terbuat dari bahan organik, daur ulang maupun produk yang bebas bahan kimia. Dengan cara ini, Anda tidak hanya tahu tentang apa yang akan dibeli, tapi juga di mana dan kepada siapa Anda akan membeli barang.

2. Cintai apa yang sudah dimiliki
Anda memiliki setumpuk pakaian di lemari namun baru sekali atau bahkan tidak pernah Anda pakai? Untuk membuat koleksi pakaian Anda lebih ramah lingkungan, cobalah berkreasi pada koleksi pakaian Anda. Teknik memadupadankan pakaian dapat membuat penampilan Anda berbeda tanpa harus membeli pakaian baru.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/feed/ 0
Clothing Line Ini Buat Produk dari Sampah Botol Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/#respond Thu, 15 Oct 2015 05:49:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11505 Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New […]]]>

Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New York. Bahkan di Amerika, sampah botol plastik dapat mencapai angka 50 milyar botol plastik dalam setahun. Jumlah yang cukup mencengangkan dan menjadi alasan yang kuat bagi para anak muda ini untuk membuat sebuah bisnis yang juga dapat menanggulangi masalah besar tersebut.

Fair Harbor Clothing Line merupakan proyek yang dicetuskan oleh Jake Danehy, Caroline dan Sam Jacobson. Proyek ini terbentuk atas keprihatinan mereka terhadap keberlangsungan pantai tercinta mereka, Fair Harbor. Pantai yang menghiasi kenangan masa kecil mereka tersebut, kini telah berubah dan sudah tidak sebersih, serta sedamai dulu.

Salah satu masalah terbesarnya apalagi kalau bukan sampah botol plastik. Anak-anak muda tersebut akhirnya terinspirasi menciptakan beberapa produk seperti kaos, topi, bahkan board short dari sampah-sampah botol plastik yang menggunung setiap harinya.

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Board short ini terbuat dari botol minum plastik yang didaur ulang dan dikolaborasi dengan bahan katun dan serat polyester daur ulang. Jake dan teman-teman beranggapan bahwa dalam menciptakan sebuah eco fashion, tidak hanya dibutuhkan material-material yang di daur ulang untuk mengurangi dampak lingkungan. Karena itu, mereka mendonasikan 5 persen dari keuntungan penjualan mereka kepada Surfrider Foundation untuk membantu membersihkan sampah dari pantai dan laut.

Dibutuhkan 11 botol minum plastik untuk menciptakan sepasang board short pria. Awalnya botol-botol tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai dengan ketebalan plastik. Lalu, botol-botol tersebut diproses menjadi partikel filament kecil, sebelum akhirnya dipanaskan dan dianyam pada serat polyester daur ulang.

“Kami membuat celana tersebut dengan cermat dan penuh pemikiran untuk mengatasi masalah sampah plastik dari lingkungan dan juga membuatnya menjadi cukup tahan lama untuk segala kondisi dan tantangan alam,” ujar mereka, seperti yang dilansir dari situs resmi Fair Harbor Clothing Line.

Desain yang dibuat pun tidak terlalu rumit mengingat material dan proses pembuatan yang berbeda dengan celana lainnya, namun celana ini tetap dibuat dengan nyaman, tidak panas, tahan lama dan membuat penggunanya bebas bergerak.

Mereka pun akan meluncurkan koleksi busana terbaru, seperti T-Shirt dengan bermacam pilihan gaya, sweater, dan board short bercorak. Board short yang ditawarkan dibandrol dengan harga US$ 65 atau setara dengan hampir satu juta rupiah, serta topi dan T-Shirt seharga US$ 20 atau kisaran 300 ribu rupiah.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/feed/ 0
Eco-Fashion Ala Desainer Dalam Green Carpet Challenge https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/#respond Sat, 03 Oct 2015 08:10:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11359 Busana-busana indah dan penuh kesan glamor kerap kali menghiasi red carpet sebuah pagelaran besar dunia, mulai dari Golden Globe hingga Cannes Film Festival. Namun, inovasi yang dikeluarkan para desainer dunia […]]]>

Busana-busana indah dan penuh kesan glamor kerap kali menghiasi red carpet sebuah pagelaran besar dunia, mulai dari Golden Globe hingga Cannes Film Festival. Namun, inovasi yang dikeluarkan para desainer dunia tidak berhenti sampai di situ. Desainer-desainer dunia pun kini melirik eco-fashion, salah satunya dengan berpartisipasi dalam Green Carpet Challenge.

Green Carpet Challenge merupakan sebuah program yang dicetuskan oleh Livia Giuggioli Firth, seorang produser film ternama yang kini merambah dunia fesyen lewat kolaborasinya bersama dengan beberapa desainer kelas dunia seperti Sergio Rossi hingga selebriti sekelas Emma Watson. Green Carpet Challenge sendiri menantang para selebriti dan desainer papan atas untuk berkolaborasi memamerkan koleksi-koleksi yang ramah lingkungan namun tetap wearable dan dalam tampilan yang berkelas.

Lalu, siapa saja sih desainer-desainer yang turut meramaikan Green Carpet Challenge? Let’s find out!

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/feed/ 0
Pewarna Alami, Dukung atau Tinggalkan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/#respond Mon, 20 Jul 2015 10:01:05 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10401 Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada […]]]>

Banyak hal yang menyusun sebuah fashion item. Selain bahan dan desain, teknik pewarnaan juga ambil bagian dalam proses kreasinya. Teknik pewarnaan pun banyak ragamnya, begitu pula dengan bahan pewarnanya, ada yang alami dan ada yang kimia.

Saat ini, perubahan iklim dan munculnya kesadaran untuk lebih memperhatikan keberlangsungan alam turut mengubah pola produksi industri fesyen. Untuk pewarna misalnya, menggunakan pewarna alami kini kembali dilirik karena lebih ramah lingkungan.

“Rentetan dari pewarna alami dan kimia sangat panjang. Karena pewarna kimia banyak menggunakan air dan berbahaya bagi lingkungan, kenapa kita enggak mencoba untuk menggunakan pewarna alami yang sebenarnya mudah didapat dan aman bagi lingkungan dan si pembuatnya,” ujar Sancaya Rini, perajin batik yang menggunakan pewarna alami dalam produksi batiknya.

Masalah pewarna tekstil, khususnya pewarna kimia, mulai dikhawatirkan karena sangat berkaitan dengan perusakan lingkungan. Di sisi lain, lanjut Rini, pewarna alami bisa dihasilkan tidak hanya dari tanaman segar dan lebih ramah lingkungan.

“Tidak hanya tanaman, tapi sampahnya pun bisa kita gunakan. Contohnya, ketika menyapu halaman rumah, daun-daun kering yang berserakan dapat kita gunakan untuk pewarna alami dengan direbus dan air rebusannya menghasilkan warna,” katanya menjelaskan.

Ia juga menambahkan bahwa semua tanaman dapat digunakan sebagai pewarna alami. Daun pisang dan sisa-sisa pemotongan kayu pun dapat diolah sebagai sumber pewarna alami. Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar membuat pilihan warna menjadi sangat beragam. Selain itu, lanjut Rini, jika kita menginginkan pewarna yang lebih banyak, kita bisa menanam sendiri tumbuh-tumbuhan yang diperlukan agar tidak merusak dan menjaga keberlanjutan alam.

“Pesan yang didapat dengan menggunakan pewarna alami ini, kita dapat melakukan gerakan menanam tumbuhan terlebih untuk warna-warna yang kita butuhkan,” imbuhnya.

Meski banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan pewarna alami, namun tetap tidak luput dari kekurangan. Pasalnya, dengan proses yang masih manual dalam pengolahan pewarna alami hingga layak diproduksi menyebabkan pewarna ini lebih mahal saat dijual. Selain itu, pewarna alami hanya dapat digunakan untuk bahan-bahan yang berserat organik.

“Pewarna alami sangat eco-friendly karena dalam penggunaannya pun kita membutuhkan bahan-bahan yang berserat dari alam juga. Oleh karena itu, kalau saya boleh berpesan, marilah untuk orang-orang di industri fashion mulai sedikit demi sedikit untuk merancang dengan bahan alami serta pewarna alami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat bumi yang sudah tua ini?” tutupnya.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/pewarna-alami-dukung-atau-tinggalkan/feed/ 0