hari gunung internasional - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/hari-gunung-internasional/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:56:52 +0000 id hourly 1 Mbah Rono Suarakan Urgensi Menambah Jumlah Ahli Gunung Api https://www.greeners.co/sosok-komunitas/mbah-rono/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mbah-rono https://www.greeners.co/sosok-komunitas/mbah-rono/#respond Sun, 13 Dec 2020 03:00:27 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=30474 Memperingati Hari Gunung Internasional, Dr. Surono atau lebih terkenal dengan panggilan Mbah Rono, menitipkan pesan untuk generasi muda agar bergabung dengan dia, menjadi ahli gunung api. Menurutnya, Bumi Pertiwi yang dikaruniai banyak gunung api merupakan hadiah dari semesta. Karunia ini harus didukung dengan jumlah ahli gunung api yang mumpuni. ]]>

Memperingati Hari Gunung Internasional (11 Desember), Dr. Surono atau lebih terkenal dengan panggilan Mbah Rono, menitipkan pesan untuk generasi muda agar bergabung dengan dia, menjadi ahli gunung api. Menurutnya, Bumi Pertiwi yang dikaruniai banyak gunung api merupakan hadiah dari semesta. Karunia ini harus didukung dengan jumlah ahli yang mumpuni. 

Dr. Surono mengawali perbincangan kami dengan mengingat kembali lawal mula perjalanan karirnya sebagai ahli gunung api. Mulanya, dia melepas tawaran menjadi dosen di almamaternya, Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk bisa fokus menjadi peneliti vulkanologi.

Ketika tawaran menjadi dosen datang pada 1982, Dr. Surono mendapat tugas untuk menemani tamu seorang peneliti dari University of Wisconsin, Amerika Serikat. Peneliti asing ini tertarik melihat kondisi lingkungan Gunung Galunggung, Jawa Barat, pasca meletus di tahun yang sama.

Interaksi dan perjalanannya kala itu, menimbulkan keresahan dalam sanubari Dr.Surono. Dia pun memutuskan untuk lebih terlibat merawat gunung berapi.

Dr. Surono menceritakan, pada tahun 1980an, belum ada organisasi yang baik mengelola kebencanaan di Gunung Galunggung. Saat itu juga, ketika berada di area gunung pasca meletus, dirinya merasa iba. Dia tidak sampai hati membayangkan nasib warga dan anak-anak sekitar Gunung Galunggung jika gunung api itu kembali meletus.

“Waktu itu saya melihat di bidang kemanusiaannya. Sudah lah kalau begitu, meski berat menolak jadi dosen. Tapi saya memberanikan diri mempelajari gunung api. Mungkin dari situ saya bisa menolong para pengungsi,” ujar Surono kepada Greeners.co, Jumat (11/12/2020).

Dr. Surono dan Awal Mula Panggilan Mbah Rono

Melepas kesempatan menjadi dosen, akhirnya Dr. Surono menggeluti keprofesiannya sebagai peneliti. Awal kariernya bermula di Direktorat Vulkanologi, Departemen Pertambangan dan Energi. Setelah mengantongi ilmu dari program Magister dan Doktoral di Perancis, Dr. Surono kemudian menjadi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 2003 hingga 2006.

Malang melintang sebagai ahli vulkanologi, Dr. Surono banyak memberi masukan kepada pemerintah ketika terjadi peristiwa gunung berapi. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika dirinya menangani dampak letusan Gunung Kelud, Jawa Timur, pada 2007. Saat itu ialah masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dr. Surono menceritakan, kondisi Gunung Kelud berbeda dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Saat itu ada sebelas orang yang mengaku juru kunci atau kuncen Gunung Kelud. Guna menghindari keruwetan karena banyaknya juru kunci, akhirnya, Dr. Surono mendapat mandat untuk terlibat dalam penanganan.

Saat mendapat mandat untuk menangani Gunung Keluh itu lah, Ibu Negara RI waktu itu, Ani Yudhoyono memberi panggilan Mbah Rono kepadanya. Kala itu, hanya segelintir orang saja yang memanggil Dr. Surono dengan sebutan ‘Mbah’. Tapi, pada  2010 ketika terjadi letusan Gunung Merapi, Jawa Tengah, panggilan Mbah Rono kian menyebar.

“Saya bangga diberi nama itu dan banyak orang memanggil saya ‘Mbah Rono’ lebih enak. Sebab itu pemberian nama dari orang yang saya hormati. Sebetulnya belum ada yang tahu banyak. Tapi waktu 2010, kebiasaan Pak SBY memanggil saya Mbah Rono pas di depan wartawan. Itu saja,” jelas Dr. Surono alias Mbah Rono.

Mbah Rono, Dr. Surono bersama SBY

Panggilan Mbah Rono disandingkan oleh Alm. Ani Yudhoyono ketika Dr. Surono menanggulangi Gunung Kelud. Foto: Istimewa.

Mbah Rono: Gunung Bukan Sumber Bencana

Indonesia berada di kawasan ring of fire atau cincin api. Indonesia juga merupakan wilayah dengan gunung dan pegunungan yang sangat banyak. Secara statistik, jumlah gunung api Bumi Pertiwi (127 gunung) setara dengan 13 persen dari keseluruhan gunung api dunia. Bagi awam dari negara asing, fakta ini mungkin terdengar menakutkan. Namun, tidak demikian bagi Dr. Surono.

Untuknya, kondisi tersebut merupakan potensi bagi Tanah Air. Pasalnya, gunung jadi sumber kekayaan alam yang tak ternilai. Jika pengelolaan gunung berjalan baik, lanjutnya, maka bisa menghidupi masyarakat sekitar pegunungan dan melahirkan kemandirian negara di segala sektor.

“Gunung api meletus memberikan kesuburan. Gunung api tidak meletus tidak akan memberikan pasir dan batu yang jadi jalan tol mulus dan gedung yang megah,” jelasnya.

Dr. Surono tidak menampik adanya potensi bencana dengan banyaknya gunung api di Indonesia. Namun dia menyebut berbahaya atau tidaknya gunung api, terlihat dari upaya pengelolaan dan penanganannya. Dr. Surono pun mengakui, di sisi pengelolaan dan penanganan tersebut Indonesia masih belum siap. Baik dari sisi teknologi, penelitian, maupun kesadaran masyarakat.

“Paling-paling kalau ada letusan gunung berapi, banyak pengungsi, banyak yang hubungi saya apa yang harus dibantu. Setelah selesai bencana, lupa semua,” jelasnya.

Mbah Rono: Indonesia Harus Punya Banyak Ahli Gunung

Lebih jauh Dr. Surono menyebut perbandingan jumlah gunung dengan ketersedian tenaga ahli atau peneliti di Indonesia masih belum seimbang. Menurutnya, di luar negeri, setiap satu gunung terdapat 7 sampai 10 ahli gunung. Sedangkan di Indonesia kebalikannya, satu peneliti untuk 7 sampai 10 gunung.

Dr. Surono menambahkan ada pola penanganan berbeda antara gunung api di Indonesia dengan gunung di luar negeri, khususnya Eropa. Perbedaan itu terletak dari sikap masyarakatnya. Menurutnya, pola penanganan gunung di luar negeri lebih banyak untuk aktivitas penelitian. Sedangkan, kedekatan masyarakat dengan gunung api, membuat pola penanganan harus juga mempertimbangkan mitigasi bencana.

“Andai sistem peralatan masih seperti sekarang, ahli-ahlinya dengan jumlah seperti sekarang, itu bahaya sekali bagi masyarakat. Indonesia bisa dituduh tidak peduli padahal memiliki gunung api terbanyak,” katanya.

Mbah Rono alias Dr. Surono

Dr. Surono mengajak generasi muda untuk juga tertarik mendalami vulkanologi. Keahlian ini sangat dibutuhkan oleh Tanah Air. Foto: Istimewa.

Baca juga: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Dr. Amir Hamidy Soroti Tren Pelihara Reptil

‘Gunung Indonesia Lestari, Masyarakat Tidak Akan Mati’

Pada momen Hari Gunung Internasional (HGI) tahun 2020 ini, Dr. Surono berpesan agar harmonisasi masyarakat dengan gunung semakin kuat. Tidak hanya untuk mencegah dampak buruk dari bencana, tapi juga mengoptimalkan sumber daya alamnya.

Menurut Dr. Surono, peran ahli atau peneliti serta aktivitas riset dan inovasi terkait gunung menjadi hal yang harus diutamakan. Menurutnya, banyak sekali aktivtas pembangunan atau pemanfaatan gunung yang menyimpang.

Selain itu, dia juga mengkritisi segelintir oknum yang menjadikan gunung sebagai sumber eksploitasi sumber daya alam, sebab tidak mengindahkan masukan dari peneliti. Bahkan, jika pun mendengarkan ahli, jumlahnya masih sedikit. Dampak dari eksplotasi tersebut justru membuat Indonesia menjadi kekurangan dalam kelebihan sumber daya yang ada.

“Kalau gunung di Indonesia lestari, maka dia memberi tanpa pernah meminta kembali untuk penghidupan masyarakatnya. Gunung-gunung Indonesia lestari, maka masyarkat tidak akan pernah mati baik inovasi maupun kehidupannya,” pungkas Dr. Surono.

CV mbah rono surono

Penulis Muhamad Marup

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/mbah-rono/feed/ 0
Pendaki Mesti Ubah Pola Pikir Soal Sampah https://www.greeners.co/berita/pendaki-mesti-ubah-pola-pikir-soal-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pendaki-mesti-ubah-pola-pikir-soal-sampah https://www.greeners.co/berita/pendaki-mesti-ubah-pola-pikir-soal-sampah/#respond Wed, 11 Dec 2019 05:43:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24960 Komitmen pelestarian gunung di Indonesia makin dibutuhkan seiring bertambahnya jumlah kunjungan. Sementara, efektivitas SNI 8748:2019 masih dipertanyakan.]]>

Jakarta (Greeners) – Komitmen pelestarian gunung di Indonesia makin dibutuhkan seiring bertambahnya jumlah kunjungan tiap tahun. Perilaku pengunjung atau pendaki taman nasional dan wisata alam perlu diatur lebih tegas agar persoalan sampah tak kian bertambah. Efektivitas Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 8748 Tahun 2019 tentang pengelolaan pendakian gunung juga masih dipertanyakan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis mengatakan pendakian gunung di Indonesia sudah memiliki peraturan yang mengelola dan mendukung pelestarian alam. Ia mengatakan pengelolaan berupa penyediaan fasilitas, sedangkan peraturan mengarah pada hal teknis bagi pengunjung.

“Dengan adanya peraturan tersebut perilaku pendaki seharusnya bisa berubah. Namun, saat ini perilaku dan kesadaran pendaki masih kurang baik. Karena kebiasaan membuang sampah di gunung masih banyak. Kesadaran untuk menggunakan logistik maupun peralatan yang dapat meminimalisir sampah juga masih kurang,” ujar Rahman, Selasa, 10 Desember 2019.

Baca juga: Standarisasi Pelayanan Jasa, Pemandu Gunung Kini Diminta Bersertifikat

Rahman pun menyarankan kepada para pendaki untuk mengutamakan faktor keselamatan, keamanan, dan kesehatan. Caranya dengan mempersiapkan fisik, mental, pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

“Selain membawa peralatan dan perbekalan untuk diri sendiri, kita juga harus menghargai alam dan makhluk hidup lain dengan membudayakan gaya hidup ramah lingkungan,” kata Rahman.

Pendaki mesti ubah pola pikir soal sampah

Membawa wadah dan kantong mengurangi kemasan sampah plastik yang dapat merusak kelestarian gunung. Foto: Instagram @zerowasteadventure

Pendaki dan pegiat Zero Waste Adventure Siska Nirmala, merupakan perempuan yang menerapkan pendakian tanpa sampah. Sejak 2012, Pieta, panggilan akrab Siska, menerapkan prinsip nihil sampah dalam hidupnya. Ia lalu mempraktikkan pola tersebut dalam kegiatan berpetualang termasuk mendaki gunung.

Pieta mengatakan untuk mempraktekkan zero waste, yang harus dilakukan ialah mengubah pola pikir. Misalnya, dengan membawa perbekalan organik dan menghindari membawa botol minum sekali pakai. Sebab, botol tersebut merupakan jenis sampah yang paling banyak dijumpai saat mendaki.

Baca juga: Jelajah Gunung ala Zero Waste Adventure

“Kalau mindset-nya hanya membawa turun sampah saja mau sampai kapan. Karena di kaki gunung tidak ada sistem pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah hanya akan berakhir di sana dan menjadi sumber makanan hewan liar. Itu mengganggu ekosistem mereka,” ujar Pieta.

Menurutnya, banyaknya pengunjung maupun pendaki akan berbanding lurus dengan jumlah sampah yang ada di gunung. Satu-satunya cara agar gunung bersih, kata dia, pendaki mesti menerapkan pendakian tanpa sampah.

KLHK mencatat sampai Oktober 2019, jumlah pendaki terbesar terdapat di gunung Ciremai, Jawa Barat. Dengan angka 61 persen, jumlah ini naik dibanding tahun lalu, yang berkisar 39 persen. Sedangkan Taman Nasional Bromo Tengger-Semeru, Jawa Timur menempati urutan kedua dengan jumlah pengunjung sebanyak 38 persen, meski angka ini turun dari tahun 2018 yang berjumlah 62 persen.

Sementara, banyaknya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama 2019 mengakibatkan kunjungan maupun pendakian menurun. Beberapa gunung di Indonesia ditutup agar bisa pulih kembali.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Infografis Jumlah Pengunjung Taman Nasional dan Wisata Alam

 

]]>
https://www.greeners.co/berita/pendaki-mesti-ubah-pola-pikir-soal-sampah/feed/ 0
Hari Gunung Internasional, Sampah Pendaki Masih Menjadi Masalah https://www.greeners.co/berita/hari-gunung-internasional-sampah-pendaki-masih-menjadi-masalah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-gunung-internasional-sampah-pendaki-masih-menjadi-masalah https://www.greeners.co/berita/hari-gunung-internasional-sampah-pendaki-masih-menjadi-masalah/#respond Wed, 12 Dec 2018 05:38:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22039 PBB menetapkan tanggal 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional. Peringatan tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pegunungan bagi ekosistem, bumi dan manusia.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tahun 2003, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional. Tujuan dari peringatan tahunan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pegunungan bagi ekosistem, bumi, dan manusia. Namun, sampah yang ditimbulkan dari aktvitas pendakian masih menjadi masalah hingga saat ini.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan bahwa setiap gunung khususnya yang berada di taman nasional sudah memiliki konsep pengelolaan sampah yang ditangani oleh masing-masing Kepala Balai Taman Nasional. Meski demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan pendakian gunung yang semakin ramai menimbulkan sampah yang banyak pula.

“Untuk masalah sampah yang berada di gunung ini, kami dari KLHK sudah memberikan pedoman-pedoman pengelolaan sampah kepada mereka (Kepala Balai TN) seperti pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang sampah yang dimodelkan atau diadaptasi pada masing-masing taman nasional. Misalnya TN Gunung Ciremai, mereka memberikan konsep bahwa sampah menjadi tanggung jawab setiap pendaki,” ujar Novrizal saat dihubungi oleh Greeners melalui telepon pada Selasa (11/12/2018).

BACA JUGA: Kuota Wisatawan di 23 Gunung di Taman Nasional Akan Dibatasi 

Ketika dikonfirmasi, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Sudiyono membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan Gunung Ciremai saat ini sudah memiliki mekanisme check in-check out. Petugas akan melakukan pemeriksaan tiket masuk dan barang bawaan pendaki serta memberikan daftar barang berpotensi sampah yang harus diisi oleh pengunjung sebelum melakukan pendakian. Daftar tersebut harus diserahkan pendaki kepada petugas di gerbang keluar untuk pengecekan sampah setelah pendakian.

“Saat kita lakukan pengecekan, rata-rata 4 orang (pendaki) membawa sampah 3kg dan sampai saat ini (minggu kedua Desember 2018) ada sekitar 138 orang yang mendaki di Gunung Ciremai. Jumlah tersebut jelas sedikit karena kami hanya membuka satu jalur yakni pada jalur Aik Berik,” jelas Sudiyono kepada Greeners.

Kepedulian Soal Sampah Masih Minim

Masalah sampah di gunung ternyata juga menjadi perhatian pendaki gunung. Heru Putra Rizki, 22 tahun, pernah mendaki beberapa gunung di wilayah Jawa, diantaranya Gunung Gede Pangrango, Gunung Ciremai, Gunung Cikurai, Gunung Salak, Gunung Semeru, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prau, dan Gunung Butak. Dari pengalaman mendaki tersebut, ia mengakui kalau pengelolaan taman nasional sudah mulai baik namun kepedulian para pendaki untuk tidak meninggalkan sampah di gunung dinilai masih kurang.

“Di beberapa gunung yang pernah saya daki, pengelolaan sampah oleh pihak pengelola sudah baik terutama di gunung yang berada di Taman Nasional. Misalnya Gunung Gede Pangrango dan Gunung Semeru, itu sudah ada tempat pengumpulan sampah. Sebelum mendaki pun ada larangan untuk tidak membawa perlengkapan yang bisa merusak alam. Jadi sudah ada peraturan apa saja yang boleh dan enggak boleh dibawa selama pendakian,” kata Heru.

Namun demikian, pemeriksaan barang bawaan pendaki yang seharusnya dilakukan oleh pengelola taman nasional terkadang tidak dilakukan. Menurut Heru hal ini bisa jadi karena banyaknya jumlah pendaki saat jalur pendakian dibuka sehingga membuka celah bagi pendaki untuk berbuat nakal.

“Balik lagi ke kesadaran pendaki, bukan salah dari pihak pengelolanya karena mereka juga sudah memberikan imbauan sebelumnya. Bahkan, setahu saya, setiap taman nasional ada waktu konservasi setahun sekali untuk membersihkan sampah-sampah yang tertinggal dan melakukan penghijauan kembali. Masalahnya, menurut saya edukasi untuk lingkungan ini kurang,” ujar Heru.

Senada dengan Heru, Novrizal juga mengimbau kepada para pendaki untuk selalu mematuhi peraturan yang ada di setiap TN atau gunung. Ia mengatakan akan sulit jika pemerintah bekerja sendiri tapi tidak didukung masyarakat, dalam hal ini para pendaki.

BACA JUGA: Pedoman Prosedur Pendakian Bersih Sampah Mulai Disusun

Sebagai informasi, peringatan Hari Gunung Internasional diselenggarakan dibawah koordinasi Badan PBB bidang Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO). Tahun ini tema yang diusung adalah #MountainsMatter. Menurut data FAO, pegunungan menyediakan sekitar 60 hingga 80 persen sumber air tawar untuk bumi dan menjadi rumah bagi seperempat keanekaragaman hayati daratan yang ada di bumi.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-gunung-internasional-sampah-pendaki-masih-menjadi-masalah/feed/ 0