Kuota Wisatawan di 23 Gunung di Taman Nasional Akan Dibatasi

Reading time: 2 menit
kuota wisatawan
Wisatawan membludak di pinggir Danau Ranu Pani, Jawa Timur. Ranu Pani adalah bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: wikimedia commons

Jakarta (Greeners) – Pengembangan wisata alam di kawasan taman nasional sebagai kawasan konservasi berbeda dengan pengembangan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) yang cenderung berkembang menjadi wisata massal. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan dan Kehutanan Wiratno menegaskan bahwa wisata di taman nasional bukan pariwisata massal (mass tourism).

“Kuota wisatawan segera akan kita evaluasi ke semua gunung yang ada di kawasan taman nasional dan semoga saja akhir tahun selesai. Pembatasan kuota tersebut berwujud Surat Keputusan (SK) dari saya yang isinya memastikan bahwa wisata alam di dalam kawasan konservasi bukan mass tourism dan keselamatan pengunjung menjadi tanggungjawab kami. Pembatasan tersebut termasuk juga untuk masalah sampah di gunung,” jelas Wiratno pada wartawan di Jakarta, Kamis (09/08/2018).

BACA JUGA: Gempa Lombok, 689 Pendaki Terjebak di TN Gunung Rinjani

Pembatasan jumlah kuota wisatawan akan diterapkan di 23 gunung di dalam taman nasional dan akan berlaku pada akhir tahun ini. Gunung-gunung tersebut diantaranya Gunung Leuser, Gunung kerinci, Gunung Merapi, Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Cermai, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Rinjani, Gunung Tambora.

Wiratno mengatakan pembatasan kuota ini bertujuan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan bagi kesehatan lingkungan taman nasional itu sendiri. Seperti peristiwa kebakaran di lokasi wisata Gili Lawa, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo beberapa waktu lalu.

“Hingga saat ini belum ditemukan penyebabnya dan masih dalam tahap penyelidikan. Informasi terakhir yang saya terima ada 13 orang yang diperiksa termasuk staf saya. Hal-hal seperti itu yang membuat kenapa ada pembatasan kuota ini. Peraturan untuk masuk ke tempat wisata di dalam taman nasional akan lebih ketat dan dibatasi. Alur pembatasan kuota ini nantinya akan bersistem online, mendaftar terlebih dahulu, setelah itu membayar lewat ATM. Ada proses mengantre nantinya,” kata Wiratno menjelaskan.

BACA JUGA: Pengamat Temukan Anak Orangutan Tapanuli Kembar

Jumlah kuota diakui Wiratno masih dalam tahap pembicaraan, namun ia mengatakan bahwa pembatasan akan dipotong 50% dari jumlah rata-rata wisatawan per bulan atau per hari di tempat wisata di dalam taman nasional.

“Pembatasannya tergantung jumlah wisatawan. Misalnya di Taman Nasional Komodo saat ini jumlahnya 10.000 pengunjung per bulan, itu terlalu berat. Nanti akan dibatasi menjadi 5.000 pengunjung per bulan. Di Gunung Semeru per hari ada 500-600 orang pengunjung, masih aman” ujar Wiratno.

Ia juga menegaskan bahwa wisata di kawasan konservasi sangat segmentasi dan jumlah wisatawan terbatas, itulah yang disebut dengan eco-tourism.

Penulis: Dewi Purningsih

Top