kota bekasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/kota-bekasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 05 Mar 2025 07:27:34 +0000 id hourly 1 Ratusan Rumah Terendam, Warga Sebut Banjir Bekasi Terparah https://www.greeners.co/berita/ratusan-rumah-terendam-warga-sebut-banjir-bekasi-terparah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ratusan-rumah-terendam-warga-sebut-banjir-bekasi-terparah https://www.greeners.co/berita/ratusan-rumah-terendam-warga-sebut-banjir-bekasi-terparah/#respond Wed, 05 Mar 2025 07:27:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=46071 Jakarta (Greeners) – Guyuran hujan dengan intensitas tinggi pada 3-4 Maret 2025 telah menyebabkan banjir di Kota dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Banyak warga yang menyebutkan bahwa banjir kali ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guyuran hujan dengan intensitas tinggi pada 3-4 Maret 2025 telah menyebabkan banjir di Kota dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Banyak warga yang menyebutkan bahwa banjir kali ini menjadi yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Warga Kelurahan Karang Satria, Tambun Utara, Adella (23), menjadi salah satu korban banjir kali ini. Ia mengungkapkan ini yang terparah setelah puluhan tahun tinggal di Bekasi.

“Sebelumnya gak pernah banjir masuk ke rumah seperti ini. Waktu lima tahun lalu, pada 2020, Bekasi juga banjir parah, tetapi di rumah saya hanya ada genangan air saja. Kalau kali ini benar-benar parah banget, karena airnya sampai masuk rumah dan cukup lama surut,” kata Adella kepada Greeners, Rabu (5/3).

Air yang meluap dari kali-kali di Bekasi menyebabkan banjir semakin tinggi di rumah Adella. Ia mengatakan, ketinggian air di depan rumahnya mencapai sepaha orang dewasa, sementara di dalam rumah, airnya mencapai di atas mata kaki.

Banjir ini mulai terjadi pada pukul 03.00 WIB, kemudian air semakin naik dan masuk ke teras rumah pada pukul 10.48 WIB. Pada pukul 11.10 WIB, air sudah masuk ke dalam rumah. Banjir semakin tinggi saat malam hari dan mulai surut pada dini hari.

Banjir Bekasi. Foto: Dini Jembar Wardani

Banjir Bekasi. Foto: Dini Jembar Wardani

140 Rumah Terendam

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mencatat sebanyak tujuh kecamatan terdampak banjir. Di antaranya Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, dan Rawalumbu.

BPBD Bekasi juga melaporkan bahwa terdapat 140 unit rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 300 sentimeter. Mereka juga telah mendistribusikan bantuan logistik dan mengirimkan sejumlah perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terdampak.

Selain itu, PLN Kota Bekasi mematikan arus listrik di beberapa wilayah terdampak untuk mencegah korban akibat aliran listrik yang tersentuh air banjir.

Di Kabupaten Bekasi, hujan disertai kiriman air dari sungai di bagian hulu menyebabkan banjir di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Setu, Cikarang Utara, Cibitung, dan Tambun Utara.

BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan ketinggian air mencapai 150 sentimeter yang merendam 15 unit rumah. Berdasarkan pemantauan visual di lapangan, hingga Selasa (4/3) pagi, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah. BPBD dan tim gabungan terus melakukan evakuasi warga terdampak menggunakan perahu karet.

Penyebab Banjir

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa penyebab banjir di Bekasi adalah kiriman air dari Bogor, daerah pegunungan di selatan. Bogor diguyur hujan deras dan lama, menyebabkan air mengalir ke sungai-sungai yang bermuara di utara, termasuk Bekasi.

Jembatan Kemang Pratama di Kota Bekasi amblas akibat banjir, mengakibatkan terputusnya aktivitas lalu lintas antara dua wilayah. Akses jalan ditutup oleh kepolisian demi keamanan warga.

Pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall juga kebanjiran, dengan area parkir dan lantai dasar mall terendam air. Barang-barang pedagang di kios lantai dasar turut hanyut terbawa air.

RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid atau RSUD Bekasi juga kebanjiran, yang menyebabkan gangguan pada layanan rumah sakit, termasuk pemadaman listrik. Selain itu, kawasan Stasiun Bekasi juga terendam banjir, dengan sejumlah motor di parkiran motor terendam. Beberapa kantor percetakan juga mengalami kerusakan akibat banjir.

Atas kejadian bencana ini, media sosial pun ramai-ramai memasang tagar #PrayForBekasi sebagai bentuk perhatian publik terhadap bencana banjir yang melanda Bekasi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/ratusan-rumah-terendam-warga-sebut-banjir-bekasi-terparah/feed/ 0
14 Perumahan di Kota Bekasi Terendam Banjir https://www.greeners.co/berita/14-perumahan-kota-bekasi-terendam-banjir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=14-perumahan-kota-bekasi-terendam-banjir https://www.greeners.co/berita/14-perumahan-kota-bekasi-terendam-banjir/#respond Mon, 20 Feb 2017 09:09:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15956 Banjir yang melanda kompleks perumahan di Kota Bekasi sejak Minggu (19/02/2017) pukul 12.30 WIB, hingga saat ini masih menggenangi ribuan rumah di 14 komplek perumahan.]]>

Bekasi (Greeners) – Banjir yang melanda kompleks perumahan di Kota Bekasi sejak Minggu (19/02/2017) pukul 12.30 WIB, hingga saat ini masih menggenangi ribuan rumah di 14 komplek perumahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi melaporkan permukaan air bertambah tinggi karena kondisi hujan masih terus berlangsung.

BACA JUGA: Antisipasi Banjir, BNPB dan MIT Luncurkan PetaBencana.id

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, hingga Senin (20/02) pagi, banjir masih terjadi di Perum Dosen IKIP, Perum Surya Mandala Bekasi Selatan, Mutiara Gading Timur (MGT), Pondok Timur Indah (PTI), Pondok Ungu Permai (PUP), Perum Nasio, Perum Duta Indah, Perum Interup Asri Jati Waringin, Pondok Hijau, Permai Pondok Chandra, Melati Harapan Mulya, Perum Bougenvil, Perum Griya Jatisari dan Komplek Buana Risma.

Salah satu petugas dari BNPB tengah mengevakuasi warga dari lokasi banjir. Baniir setinggi 1,2 hingga 1,3 meter merendam 14 kompleks perumahan di Kota Bekasi, sejak Minggu (19/02). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

“Korban jiwa sampai saat ini ada 119 jiwa mengungsi di Nasio Jatiasih dan 160 jiwa mengungsi di Kalibaru. Jumlah kerugian materil yaitu 5 unit rumah rusak berat dan 14 lokasi perumahan masyarakat terendam dengan tinggi muka air mencapai 1,2 meter sampai dengan 1,3 meter,” terangnya, Bekasi, Senin (20/02).

Sutopo menambahkan, hingga saat ini penyaluran logistik bantuan bencana sudah dilakukan ke lokasi banjir. Peralatan dan perlengkapan bencana banjir juga sudah dikirim ke lokasi kejadian. BNPB juga melakukan evakauasi warga di beberapa titik banjir seperti Perum Dosen IKIP, Perum Pondok Hijau, Perum Pondok Ungu Permai.

BACA JUGA: BNPB: Proses Relokasi Pengungsi Sinabung Terhambat Ketersediaan Lahan

“Kondisi terkini sekarang tinggi muka air di perumahan dosen IKIP Jati bening 1,3 meter dan di Jatiasih 1,2 meter. Kondisi cuaca masih hujan dengan intensitas Ringan – Sedang,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/14-perumahan-kota-bekasi-terendam-banjir/feed/ 0
Fans Iwan Fals Bekasi Gelar Aksi Pungut Sampah https://www.greeners.co/aksi/fans-iwan-fals-bekasi-gelar-aksi-pungut-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fans-iwan-fals-bekasi-gelar-aksi-pungut-sampah https://www.greeners.co/aksi/fans-iwan-fals-bekasi-gelar-aksi-pungut-sampah/#respond Mon, 26 Jan 2015 05:39:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=7160 Bekasi (Greeners) – Para pecinta musisi lagendaris Iwan Fals yang tergabung dalam komunitas Orang Indonesia (OI) melakukan gerakan pungut sampah di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan pada Hari Bebas […]]]>

Bekasi (Greeners) – Para pecinta musisi lagendaris Iwan Fals yang tergabung dalam komunitas Orang Indonesia (OI) melakukan gerakan pungut sampah di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) yang berlangsung Minggu pagi.

Ketua Badan Pengurus OI Kota Bekasi, Fendi Kurniawan, mengatakan, aksi yang pertama kalinya dilakukan oleh OI Bekasi ini didasari atas semakin malasnya masyarakat membuang sampah pada tempatnya.

“Sebenarnya masyarakat sadar, hanya saja malas membuang sampah pada tempatnya padahal sudah disediakan tempat sampahnya,” tutur Fendi saat ditemui oleh Greeners, Bekasi, Minggu (25/01).

Melalui gerakan yang mengusung tema “Aksi CFD Bersih Walikota Bekasi, Pungut Sampahnya Nikmati Car Free Day-nya” ini, Fendi berharap masyarakat dapat diedukasi akan pentingnya menjaga kebersihan.

Lebih jauh, Fendi mengungkapkan bahwa aksi pungut sampah ini juga terinspirasi dari konser “Fals Bersih” yang dilakukan oleh Iwan Fals beberapa waktu lalu. Ia merasa bahwa konser “Fals Bersih” mampu mengedukasi ribuan orang akan pentingnya menjaga kebersihan juga bisa diterapkan pada kegiatan CFD yang berlangsung setiap minggu.

Fendi berharap aksi pungut sampah dalam hari bebas kendaraan bermotor ini dapat dilaksanakan rutin setiap dua minggu sekali dan nantinya akan melibatkan masyarakat yang mengikuti CFD.

“Mungkin belum sampai ke tahap bersih 100 persen ya. Tapi, paling tidak ada gerakan moral yang memperhatikan kebersihan Kota Bekasi ini,” tambahnya.

Sebagai informasi, sebelumnya komunitas OI Bekasi juga pernah melakukan pelatihan pengelolaaan sampah mandiri dan workshop pembuatan pupuk kompos di rumah dinas Wakil Walikota Bekasi Ahmad Syaikhu. Peserta pelatihan tersebut berasal dari Rukun Warga yang ada di Kota Bekasi.

Dalam pelatihan tersebut, Ahmad Syaikhu menyatakan bahwa pengelolaan sampah di Kota Bekasi cukup memprihatinkan dan tidak bisa diselesaikan oleh pihak pemerintah daerah saja. Perlu ada kerjasama semua elemen masyarakat agar sampah bisa terkelola dengan baik.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/fans-iwan-fals-bekasi-gelar-aksi-pungut-sampah/feed/ 0
Donasi Mangrove Untuk Pulihkan Ekosistem Muara Gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/#respond Sun, 25 Jan 2015 10:00:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=7158 Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh […]]]>

Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh pembukaan ekosistem mangrove menjadi areal pertambakan, pemukiman, industri, dan lainnya. Ditambah lagi dengan fenomena abrasi pantai, di mana tercatat pada tahun 2014 lalu ada lebih dari 400 hektar daerah pesisir utara Bekasi tersebut terkena abrasi.

Atas dasar kepedulian terhadap rusaknya ekosistem mangrove tersebut, Annisa Paramitha, Humas dari komunitas Bekasi Berkebun, mengungkapkan bahwa gerakan “700 Pohon Bakau untuk Muara Gembong” diharapkan mampu membantu memulihkan ekosistem mangrove Muara Gembong yang semakin hari semakin menghilang itu.

Perempuan yang akrab disapa Nissa ini menyatakan memang sebelumnya telah banyak perusahaan yang melakukan gerakan penanaman ribuan pohon melalui program corporate social responsibility (CSR). Namun, menurutnya, tidak ada kontrol berkelanjutan setelah penanaman tersebut.

“Di sini kami mencoba mengajak masyarakat melakukan donasi untuk gerakan 700 pohon untuk Muara Gembong. Kenapa 700, karena kami mau memulai dari hal yang bisa kami kontrol keberlanjutannya nanti,” jelas Nissa saat berbincang ringan dengan Greeners, Bekasi, Minggu (25/01).

Selain itu, lanjutnya, aksi yang dilakukan bersama dengan Save Muara Gembong (Save Mugo) dan komunitas Waste4Change ini juga dilakukan untuk menyelamatkan Muara Gembong dari berbagai macam ancaman bencana ekologi seperti banjir yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Gerakan yang akan dilakukan pada tanggal 21 Maret 2015 mendatang tersebut, tambah Nissa, juga akan diisi dengan edukasi pengolahan sampah dari komunitas Waste4Change dan penggalangan dana yang bisa dilihat di situs www.ayopeduli.com.

“Gerakan ini hanya sedikit ide untuk menyelamatkan Muara Gembong dari bencana ekologi yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi karena rusaknya alam di sana,” ujarnya.

Sebagai informasi, hampir dari sepertiga penduduk Muara Gembong tinggal di pinggir pantai, dan dari wilayah itu pula, sepertiganya kini sudah “hilang” akibat terkena abrasi pantai. Jika musim air laut pasang, ketinggian ombak bisa mencapai 1-2 meter dengan radius berkisar 300 meter ke arah darat. Tak jarang banyak rumah yang rusak karena hempasan ombak tersebut.

Salah satu dari tiga desa yang berada di pesisir pantai adalah Desa Pantai Mekar yang dihuni oleh 600 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan. Sebanyak 200 dari 600 KK tersebut, sudah pindah ke daerah lain akibat bangunan rumah mereka yang terletak persis di pinggir pantai, hilang terkena abrasi.

Selain Desa Pantai Mekar, masih ada dua desa yang juga terkena abrasi. Kedua desa itu adalah Desa Pantai Bakti dan Desa Pantai Bahagia.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/feed/ 0
Bekasi di Bully Netizen, Ini Tanggapan Dari Komunitas Bekasi Berkebun https://www.greeners.co/berita/bekasi-di-bully-netizen-ini-tanggapan-dari-komunitas-bekasi-berkebun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekasi-di-bully-netizen-ini-tanggapan-dari-komunitas-bekasi-berkebun https://www.greeners.co/berita/bekasi-di-bully-netizen-ini-tanggapan-dari-komunitas-bekasi-berkebun/#respond Sun, 12 Oct 2014 09:47:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6133 Jakarta (Greeners) – Beberapa hari belakangan ini, nama Kota Bekasi menjadi perbincangan yang cukup hangat di kalangan pengguna media sosial (medsos). Mulai dari jarak antara Bekasi dan Jakarta yang cukup […]]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa hari belakangan ini, nama Kota Bekasi menjadi perbincangan yang cukup hangat di kalangan pengguna media sosial (medsos). Mulai dari jarak antara Bekasi dan Jakarta yang cukup jauh, hingga suhu panas dan infrastruktur yang kurang baik pun menjadi bahan bulan-bulanan para netizen (pengguna internet, Red.).

Menanggapi fenomena “meme” tersebut, Environment Activist Bekasi Berkebun, Annisa Paramita, menyampaikan pendapatnya. Menurutnya, jika dilihat dari sudut pandang komunitas yang bergerak di bidang lingkungan, “meme” yang banyak beredar di medsos belakangan ini sebenarnya adalah fakta yang diabaikan baik oleh masyarakat maupun pemerintah kota.

Salah satu "meme" yang beredar di dunia maya.

Beberapa “meme” tentang Kota Bekasi yang beredar di dunia maya.

Ia mengatakan, saat ini Kota Bekasi menuju pada perkembangan yang cukup pesat, baik dari sisi perumahan maupun pusat perbelanjaan yang bertebaran hingga ke sudut kota.

“Tapi sayangnya, dari sisi infrastrukturnya tidak menyeluruh sehingga menyebabkan ketimpangan di sana-sini,” ujar Annisa kepada Greeners, Jakarta, Minggu (12/10).

Menurut Annisa, pembangunan massal ini menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrim karena lahan hijau yang seharusnya menjadi paru-paru Kota Bekasi telah banyak berkurang. Ia mengingatkan bahwa ketika ada pohon yang ditebang untuk pembukaan lahan demi pembangunan, sebaiknya dibuat juga lahan hijau sebagai penggantinya.

“Taman kota di Bekasi juga sama. Untuk sekarang, kan ada di Gelanggang Olahraga (GOR) dan di alun-alun. Namun, itu masih enggak cukup,” ujarnya.

Annisa menjelaskan bahwa saat ini masyarakat dituntut untuk ikut serta melakukan gerakan penghijauan yang bisa dimulai dari rumah dengan cara menanam atau berkebun. Dengan demikian, diharapkan “virus” berkebun itu nantinya dapat dilakukan secara kolektif di RT-RW.

“Meski lingkupnya terlihat kecil, tapi bayangkan kalau setiap RT-RW di Bekasi menggalakkan aksi ini,” katanya.

Menanggapi fenomena ini, pihak pemerintah Kota Bekasi sendiri mencoba menggalang dukungan dari warganya melalui akun resmi pemerintah kota Bekasi, @pemkotbekasi. Admin akun ini mengajak warga Bekasi untuk menyebarkan dukungan dengan tanda pagar #IniBekasiKu dan #saveBekasi.

“Tuips, akhir2 ini bekasi sering di bully. Utk support, yuk tuip twet ttng bekasi dgn hastag #IniBekasiKu” tulis akun @pemkotbekasi pada 10 Oktober 2014.

Sebelumnya, Kota Bekasi menjadi candaan dan bahan “bully” di media sosial, seperti Twitter, Path, Instagram dan Facebook. Banyak meme, yaitu foto yang disertai dengan kata-kata, yang menggambarkan buruknya Kota Bekasi untuk mengkritik kondisi kota tersebut. Bahkan “Bekasi” sempat menjadi trending topic twitter sehingga makin luas dibicarakan.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bekasi-di-bully-netizen-ini-tanggapan-dari-komunitas-bekasi-berkebun/feed/ 0