pakaian bekas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pakaian-bekas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 15 Mar 2023 06:56:53 +0000 id hourly 1 Ironi Penjualan Pakaian Bekas, Dilarang Tapi Laku dan Melaju https://www.greeners.co/berita/ironi-penjualan-pakaian-bekas-dilarang-tapi-laku-dan-melaju/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ironi-penjualan-pakaian-bekas-dilarang-tapi-laku-dan-melaju https://www.greeners.co/berita/ironi-penjualan-pakaian-bekas-dilarang-tapi-laku-dan-melaju/#respond Wed, 15 Mar 2023 06:24:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39335 Jakarta (Greeners) – Praktik jual beli pakaian bekas impor menjamur di Indonesia. Bahkan telah berlangsung lebih dari belasan tahun lalu. Tetapi praktik ini bak dua mata pisau.  Di satu sisi, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Praktik jual beli pakaian bekas impor menjamur di Indonesia. Bahkan telah berlangsung lebih dari belasan tahun lalu. Tetapi praktik ini bak dua mata pisau. 

Di satu sisi, bagian dari upaya memperpanjang usia pakaian. Namun, di sisi lain berpotensi menyebarkan virus, bakteri yang berdampak pada kesehatan hingga menghancurkan pasar lokal. 

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah melarang agar impor pakaian bekas berdalih sustainability segera dihentikan. Pelarangan tersebut buntut dari impor sepatu dari Singapura. Sepatu dari masyarakat seharusnya disumbangkan ke Pemerintah Singapura untuk didaur ulang. Namun, justru sepatu ini lolos ke pasar Indonesia.

Kebijakan pelarangan produk impor ini bukan hal baru. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2022 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor sudah ada.

Pengkampanye Urban Berkeadilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abdul Ghofar mengatakan, selama ini industri pakaian bekas menjamur dan seolah tak ada penegakkan hukumnya yang jelas.

Di satu sisi bisnis ini bagian dari zero waste, memperpanjang usia pakai barang. Namun di sisi lain membutuhkan penegakan hukum karena adanya potensi selundupan residu di dalamnya.

“Sama halnya dengan sampah impor, adanya residu yang masuk di situ yang akhirnya kualitas barangnya tidak lebih bagus,” katanya kepada Greeners, Selasa (14/3).

Menurutnya, selama ini pakaian-pakaian bekas ini masuk melalui jalur ilegal di berbagai pelabuhan, seperti di pelabuhan di Riau, Sumatera Utara hingga Pontianak sebelum akhirnya masuk ke Jawa.

Terlepas dari prosesnya yang ilegal, Ghofar menyebut pentingnya pengkajian konteks pelarangan komposisi pakaian yang masuk.

“Sebelum penegakan hukum paling tidak, perlu kita riset sebetulnya dari sekian puluh ribu ton pakaian bekas yang masuk ilegal, komposisinya berapa persen yang residu dan bukan,” ungkapnya.

Impor Pakaian Bekas

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, volume dan nilai impor pakaian bekas di Indonesia meningkat, bahkan puncaknya pada tahun 2019. Saat itu total volume impor 329 ton senilai US$ 6,08 juta.

Sementara pada tahun 2021, BPS mencatat impor pakaian bekas Indonesia hanya 8 ton dengan nilai US$ 44.000.

Namun Trade Map menyebut, ekspor baju bekas dari negara eksportir sepanjang tahun 2021 yang masuk ke Indonesia mencapai 27.420 ton. Adapun nilai totalnya US$ 31,95 juta. Perbedaan angka ini memicu kecurigaan banyaknya pakaian bekas ke Indonesia melalui jalur ilegal.

Membeli pakaian bekas.

Pakaian bekas digemari karena murah dan bermerek. Foto: Shutterstock

Pakaian Bekas Cegah Fast Fashion?

Klaim beli hemat (thrifting) mencegah fast fashion lumrah adanya. Sebab fast fashion memproduksi pakaian dalam jumlah besar dan berkualitas rendah memicu dampak serius pada lingkungan. 

Jurnal Nature Climate Change menyebut, total emisi gas rumah kaca dari produksi tekstil mencapai 1,2 miliar ton per tahun. Jumlah ini lebih banyak daripada gabungan semua penerbangan internasional dan pelayaran di laut.

Secara global, industri fast fashion menghasilkan 92 juta ton limbah per tahun dan menggunakan 79 triliun liter air. Kurang dari 15 % pakaian yang didaur ulang atau digunakan kembali.

World Bank menyebut, tahun 2020 setiap harinya kurang lebih 20.000 ton sampah dan 340.000 ton air limbah mencemari Sungai Citarum. Ironisnya, penyumbang limbah tersebut dari 2.000 industri tekstil.

Maraknya fast fashion memproduksi pakaian dalam jumlah besar dan berkualitas rendah memicu dampak serius pada lingkungan. Namun, benarkah pemakaian pakaian bekas ini menyelamatkan lingkungan?

Ancaman Kesehatan dari Pakaian Bebas

Berdasarkan laporan Valuing Our Clothes: The Cost of UK Fashion WRAP terbitkan pada tahun 2017 mengungkap, peningkatan penjualan barang bekas sebesar 10 % dapat menghemat 3 % emisi karbon dan 4 % air.

Sementara berdasarkan studi INTEXTER UPC, pemakaian pakaian bekas sebanyak 1 kilogram dapat menghemat 25 kilogram CO2.

Namun, Ahli Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia Budi Haryanto menegaskan, pentingnya pemeriksaan kandungan kimia atau bakteri virus pada pakaian bekas.

“Kalau baju bekas dalam keadaan lembab maka ada bakteri, virus, jamur bahkan serangga dan berisiko menggangu kesehatan manusia,” kata dia.

Salah satu penggemar thrifting, Rafika mengaku mengincar baju dengan model yang unik dan murah lewat thrifting.  

“Dengan harga yang lebih murah, saya bisa mendapat model yang unik,” katanya kepada Greeners, Rabu (15/3).

Setelah membeli blouse atau blazer ia mencucinya dengan air hangat untuk mengindari bakteri yang menempel. Bahkan, jika ia membelinya dari thrift shop yang sudah melaundry pakaiannya tetap ia cuci kembali. 

Rafika paham jika thrifting mengancam produk lokal dari usaha mikro kecil menengah (UMKM). Ia berharap, UMKM bisa berinovasi untuk menciptakan produk yang modelnya menjawab keinginan pasar dan harganya pun ramah di kantong.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/ironi-penjualan-pakaian-bekas-dilarang-tapi-laku-dan-melaju/feed/ 0
Yuk Berikan Kesempatan Kedua pada Pakaian Usang https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-berikan-kesempatan-kedua-pada-pakaian-usang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yuk-berikan-kesempatan-kedua-pada-pakaian-usang https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-berikan-kesempatan-kedua-pada-pakaian-usang/#respond Mon, 21 Jun 2021 02:10:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32790 Lega rasanya jika kita telah membersihkan lemari pakaian dari tumpukan baju-baju tak terpakai. Namun tidak lama setelahnya, kita akan berhadapan dengan masalah baru: apa yang harus kita lakukan terhadap pakaian […]]]>

Lega rasanya jika kita telah membersihkan lemari pakaian dari tumpukan baju-baju tak terpakai. Namun tidak lama setelahnya, kita akan berhadapan dengan masalah baru: apa yang harus kita lakukan terhadap pakaian usang? Pakaian dalam kondisi kurang baik seperti sobek, melar, atau terkena noda tak mungkin kita jual kembali atau kita sumbangkan. Tapi jika pakaian tersebut harus kita buang, rasanya sayang juga. Apakah tidak ada pilihan lain selain membuang pakaian tersebut?

Jawabannya, tentu saja ada! Pakaian lamamu, meskipun sudah terlihat usang, masih bisa diselamatkan dengan beragam cara kok. Yuk berikan kesempatan kedua pada pakaian usang milikmu dengan cara-cara di bawah ini!

1. Perbaki Pakaian Usang Milikmu

Mendapati pakaian lamamu sudah sobek atau terkena noda? Jangan menyerah dulu dan jangan langsung membuang bajumu begitu saja! Jika terdapat bagian yang sobek, cobalah untuk menjahitnya terlebih dahulu. Supaya hasil jahitan terlihat lebih rapi, tak ada salahnya jika kamu membawa pakaian usang milikmu ke penjahit.

Selain itu, jika terdapat noda pada pakaianmu, cobalah untuk mencucinya dengan menggunakan detergen khusus penghilang noda membandel. Jika noda masih sulit untuk kita hilangkan, kamu bisa menutupi noda tersebut dengan patch bordir atau emblem yang menarik.

2. Hubungi Toko Barang Bekas Di Sekitarmu

Salah satu cara untuk memberikan kehidupan kedua pada pakaian usang milikmu adalah dengan cara memberikannya ke toko barang bekas. Cobalah untuk menghubungi toko barang bekas yang ada di sekitar tempat tinggalmu, dan cari tahu apakah mereka mau menerima pakaian bekas dengan kondisi buruk.

3. Kirim Pakaian Bekas Milikmu ke Perusahaan Tekstil Daur Ulang

Jika memungkinkan, kamu juga bisa mengirim pakaian usangmu ke perusahaan tekstil daur ulang. Mereka akan dengan senang hati menerima pakaian-pakaian bekasmu, karena itulah yang mereka butuhkan. Kamu juga bisa meletakkan pakaian lamamu pada drop box yang mungkin tersedia di beberapa tempat.

4. Berkreasilah!

Jadilah kreatif dengan mengubah pakaian-pakaian usangmu menjadi hal lain yang bermanfaat. Saat ini terdapat begitu banyak informasi dan tutorial mengenai upcycling pakaian bekas di Internet, dan kamu bisa mencoba salah satunya. Kamu bisa berkreasi dengan pakaian bekas milikmu dengan mengubahnya menjadi tote bag, ikat kepala, atau kardigan.

Bagaimana, tidak sulit bukan untuk memberi kehidupan kedua pada pakaian usangmu?

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Treehugger

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-berikan-kesempatan-kedua-pada-pakaian-usang/feed/ 0
Royal Ascot Ajak Tamu untuk Gunakan Pakaian Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/royal-ascot-ajak-tamu-untuk-gunakan-pakaian-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=royal-ascot-ajak-tamu-untuk-gunakan-pakaian-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/royal-ascot-ajak-tamu-untuk-gunakan-pakaian-lama/#respond Wed, 16 Jun 2021 03:33:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=32976 Selama lebih dari 300 tahun, Royal Ascot telah menjadi acara sosial terbesar di Inggris Raya. Royal Ascot sendiri merupakan perlombaan balapan kuda eksklusif yang biasa dihadiri oleh keluarga kerajaan Inggris. […]]]>

Selama lebih dari 300 tahun, Royal Ascot telah menjadi acara sosial terbesar di Inggris Raya. Royal Ascot sendiri merupakan perlombaan balapan kuda eksklusif yang biasa dihadiri oleh keluarga kerajaan Inggris. Selain terkenal sebagai acara balap kuda, acara mewah satu ini juga terkenal sebagai ajang bagi para tamu untuk memamerkan koleksi pakaian glamor mereka. Secara tidak langsung, tiap tahunnya acara ini selalu menjadi ajang fashion show bagi para tamu mereka yang kebanyakan berasal dari kalangan elit Inggris.

Jika biasanya acara ini selalu mengedepankan eksklusivitas, maka pada tahun 2021 Royal Ascot mencoba untuk mengambil langkah yang berbeda. Tahun ini mereka mencoba untuk lebih “membumi” dan lebih peduli terhadap lingkungan. Guna mengurangi timbunan sampah produk fesyen dan mendukung gerakan eco fashion, mereka kini mendorong para tamu untuk menggunakan pakaian lama. Selain itu, mereka juga mengajak para tamunya untuk membeli pakaian bekas.

“Pada tahun ini, kami ingin mendorong para tamu untuk mengurangi kebiasaan berbelanja pakaian baru hanya untuk menghadiri Royal Ascot. Kami ingin membuktikan bahwa kemewahan berbusana juga bisa kita tunjukkan dengan mengenakan pakaian lama,” ujar Direktur Komersial dari Ascot Racecourse, Felicity Barnard, kepada Yahoo Life.

Royal Ascot Mendapat Dukungan Penuh dari Keluarga Kerajaan Inggris

Tahun ini, Royal Ascot bekerja sama dengan pengarah gaya ternama asal Inggris bernama Bay Garnett. Bay  sendiri merupakan seorang pengarah gaya yang ahli dalam memadupadankan pakaian lama hingga terlihat menarik seperti baru. Berkolaborasi dengan Bay, Royal Ascot telah mengeluarkan buklet setebal 48 halaman yang berisikan foto-foto inspirasi berpakaian dengan menggunakan pakaian lama.

“Melalui acara ini, saya ingin mengubah persepsi para tamu Royal Ascot terhadap pakaian lama dan pakaian bekas. Menggunakan pakaian lama, selain lebih ramah lingkungan, juga dapat meningkatkan kreativitas setiap individu dalam berbusana,” ujar Bay dalam Yahoo Life.

Upaya Royal Ascot untuk mengajak para tamunya agar menggunakan pakaian lama rupanya mendapat dukungan penuh dari keluarga kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth II dikabarkan akan mengenakan kembali pakaian lamanya untuk menghadiri acara balap kuda di tahun ini. Selain itu, keluarga besar kerajaan Inggris yang lain seperti Putri Anne dan Kate Middeton juga sudah dipastikan akan mengenakan ulang pakaian lama mereka. Keluarga kerajaan Inggris memang sudah lama dikenal sebagai pendukung dari gerakan eco fashion.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Yahoo Life

Treehugger

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/royal-ascot-ajak-tamu-untuk-gunakan-pakaian-lama/feed/ 0
The Big Favorite, Pakaian Dalam Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-favorite-pakaian-dalam-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=the-big-favorite-pakaian-dalam-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-favorite-pakaian-dalam-berkelanjutan/#respond Tue, 15 Dec 2020 10:06:42 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=30504 The Big Favorite datang menjawab permasalahan penumpukan pakaian dalam sekali pakai di tempat pembuangan akhir.]]>

Pakaian dalam bekas menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa Anda sumbangkan atau menjualnya kembali untuk thrift shop. Memang ada merek yang berusaha untuk membuatnya ramah lingkungan, misalnya celana dalam dari katun organik atau pun bambu. Tetapi, mau seramah lingkungan apapun bahannya, mereka masih masuk kategori sekali pakai. Penumpukan pakaian dalam di tempat pembuangan akhir dalam waktu yang lama adalah suatu hal yang sangat mungkin. The Big Favorite datang menjawab permasalahan ini.

Pakaian dalam Berkelanjutan

Eleanor Turner, seorang desainer yang pernah bekerja untuk Tory Burch, J. Crew, dan yang terbaru, label setelan Argent (dia ikut mendirikan merek tersebut pada tahun 2016 dan keluar tahun lalu), baru saja meluncurkan solusi untuk permasalahan pakaian dalam ini, yaitu The Big Favorite. Merek ini menjual berbagai celana dalam berbahan katun pima. Rancangannya tercipta memang untuk Anda pakai, kembalikan ke perusahaan ketika ingin menggantinya, dan mereka daur ulang jadi pakaian baru. Banyak merek mulai menggunakan istilah berkelanjutan untuk mendeskripsikan produk pakaiannya yang terbuat dari konten daur ulang, namun tidak bertanggung jawab atas seluruh siklus pakaian tersebut. Gagasan The Big Favorite ini menjadi solusi yang nyata.

Beberapa merek pun telah melakukannya. Ada Kristy Caylor, For Days, dan Thousand Fell, yang membuat sepatu kets vegan yang dapat didaur ulang. Kesamaan mereka dengan The Big Favorite adalah mereka membuat high frequency basics: pakaian dalam, kaus, dan sepatu kets adalah barang yang cenderung kita pakai sampai benar-benar rusak, baru kita menggantinya. Sekalipun Anda ingin mendaur ulang sneakers dari merek lain, sebagian besar produk yang ada di pasaran saat ini tidak bisa didaur ulang. Sepatu kets biasanya memiliki selusin potongan plastik yang tidak dapat terurai. Pakaian dalam juga seringkali terbuat dari serat sintetis campuran yang sulit Anda bongkar menjadi benang baru.

“Produk kami secara khusus dirancang untuk ‘akhir masa pakainya’. Mereka direkayasa agar mudah terlepas. Kami memilih katun pima karena seratnya lebih panjang dan dapat didaur ulang dengan lebih baik. Kami membuat pertimbangan itu. Saya melihat peluang dengan membangun merek ini. Kami juga mengubah perilaku dan kebiasaan orang.” tutur Turner.

Memberikan opsi baru dan menginspirasi perubahan perilaku membuat Turner termotivasi, walaupun pandemi menunda rilisnya selama 6 bulan. Dia menyebut kakeknya sebagai inspirasi. 

The Big Favorite, Pakaian Dalam Berkelanjutan

The Big Favorite memilih katun pima karena seratnya lebih panjang dan dapat didaur ulang dengan lebih baik. Foto: The Big Favorite.

Baca juga: Kenali Bahan Kimia Berbahaya Dalam Pakaian

The Big Favorite Lahir dari Inspirasi Generasi Terdahulu

Kakeknya mendirikan The Big Favorite pada tahun 1930-an sebagai merek pakaian kerja yang segmentasi pasarnya adalah petani pedesaan. Turner menyukai nama tersebut dan membangunnya kembali dengan misi modern. Ia menjual produknya untuk uniseks, mulai dari bokser, thong, briefs, ribbed tank, dan berbagai jenis kaus dalam warna hitam, navy, dan putih, dengan lebih banyak warna dan model yang akan datang. Proses membeli dan mengembalikannya cukup mudah. Setelah Anda memakainya, Anda dapat memindai kode QR pada garment tag untuk membuat label pengiriman gratis. Setelah TBF menerima item Anda, Anda akan mendapatkan kreedit untuk membeli yang baru. Ada juga penawaran pilihan untuk menyumbangkan uangnya untuk inisiatif mendukung iklim, seperti pertanian regeneratif.

Proses pada perusahaannya lebih rumit. Tim Turner akan mengumpulkan, menyortir, dan membersihkan garmen sebelum mengirimkannya ke mitra daur ulang tekstil mereka, yang kemudian akan mengirim benang ke pabrik TBF di Peru untuk menjadi garmen baru. Memang perbandingannya dengan rantai pasokan sekali pakai sangat kontras. Menggunakan pakaian baru setelah menyingkirkan yang lama terdengar lebih mudah dan sederhana. Namun untuk bumi, jelas ini perlu.

Semua perusahaan seharusnya sudah mulai berinvestasi dalam upaya ini. Kesadaran akan keberlanjutan belum bisa memungkiri bahwa sebagian besar pakaian masih berakhir di tempat pembuangan sampah. Sementara itu, New Standard Institute memperkirakan ada produksi 150 miliar pakaian baru setiap tahunnya. Jika merek tertentu tidak mengubah siklus bisnisnya jadi berkelanjutan, setidaknya merek tersebut harus memprioritaskan untuk menggunakan apa yang ada, entah itu stok, atau bahan daur ulang. Turner berharap The Big Favorite dapat membantu menormalkan daur ulang garmen dan tekstil. Ia yakin nantinya akan memengaruhi industri lain untuk melakukan hal serupa.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Vogue

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/the-big-favorite-pakaian-dalam-berkelanjutan/feed/ 0
Tak Hanya Baru, Patagonia Mulai Menjual Barang Bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/patagonia-menjual-barang-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=patagonia-menjual-barang-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/patagonia-menjual-barang-bekas/#respond Fri, 11 Dec 2020 10:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=30451 Perusahaan pakaian Patagonia lagi-lagi melakukan terobosan. Mereka menawarkan opsi untuk membeli barang-barang bekas pakai mereka.]]>

Perusahaan perlengkapan busana outdoor Amerika Serikat, Patagonia, melakukan terobosan yang berani. Peluncuran usaha terbarunya pada Black Friday, mendorong pelanggannya untuk membeli produk mereka yang sudah pernah dipakai –alias barang bekas– ketimbang membeli baru. Perusahaan ini melakukannya dengan menambahkan opsi membeli barang bekas pada daftar produk baru di situs mereka.

Program Penukaran Barang Bekas dari Patagonia

Barang bekas ini berasal dari program Patagonia’s Worn Wear, yang telah beroperasi bertahun-tahun. Dalam program ini, konsumen bisa membawa barang bekas Patagonia mereka untuk perbaikan atau penukaran.

Baru-baru ini hadir juga toko daring worn wear, tempat pelanggan dapat menjual kembali barang lama mereka dengan penukaran uang atau kredit. Nantinya, kredit ini bisa digunakan kembali untuk berbelanja barang bekas Patagonia. Konsep ini semacam thrift shop khusus Patagonia.

Situs utama Patagonia sekarang sudah terhubung dengan worn wear melalui tombol “beli bekas”. Tak hanya membuat proses transaksi lebih mudah dan nyaman untuk barang bekas, tetapi juga menormalisasi untuk pembelian barang bekas pakai.

Fakta bahwa opsi ini disediakan oleh Patagonia sendiri, membuat pelanggan yang mungkin merasa skeptis dengan kualitas dan kondisi barang; menjadi percaya dengan apa yang mereka beli.

CEO Patagonia, Ryan Gellert, menjelaskan menggunakan barang bekas adalah tindakan peduli lingkungan dan apa yang Patagonia lakukan untuk membuat aksesnya lebih mudah bagi pembeli.

“Membeli pakaian bekas memperpanjang umur barangnya rata-rata 2,2 tahun, yang bisa mengurangi karbon, sampah, dan penggunaan air sampai 73%. Dari menambal jaket favorit Anda, hingga mengganti ritsleting yang rusak, masing-masing tindakan ini dapat memberi kita kesempatan yang lebih baik untuk hidup di planet yang layak huni pada tahun-tahun mendatang. Saat ini, kami memiliki 35 pusat perbaikan di seluruh dunia, termasuk Reno, fasilitas Nevada, dan 1 dari pusat perbaikan terbesar di Amerika Utara. Faktanya, tahun lalu, kami berhasil memperbaiki lebih dari 100.000 pakaian secara global, dan menolong Anda untuk memperbaiki lebih banyak lagi dengan 50 panduan perbaikan daring.”

Tak Hanya Baru, Patagonia Mulai Menjual Barang Bekas

Memperbaiki pakaian dan menggunakannya sampai usang, ketimbang terus membeli pakaian baru, lebih baik untuk lingkungan. Foto: Patagonia.

Memperbaiki Pakaian untuk Lingkungan

Solusi ini dapat menghilangkan permintaan akan sumber daya dan kemasan plastik, serta mengalihkan tekstil dari tempat pembuangan sampah. Banyak orang terlalu terpikat dengan inovasi mode dan solusi teknis yang kompleks untuk lingkungan. Sebenarnya, yang harus kita lakukan sederhana, yaitu memakai terus pakaian kita sampai benar-benar usang.

Memang sulit untuk memperbaiki pakaian yang sudah rusak dengan benar. Tetapi, ketika perusahaan dari merek tertentu bertanggung jawab atas apa yang mereka jual dengan menawarkan layanan pembaruan, tentu akan menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat. Selain itu, hal ini juga bermanfaat supaya perusahaan membuat pakaian yang lebih berkualitas. Sehingga nantinya dapat membentuk siklus yang berkelanjutan bagi pelanggan.

Patagonia menyatakan mereka adalah merek pakaian pertama yang menjual produk bekas bersamaan dengan produk barunya. Ini merupakan suatu pergerakan yang menggemparkan, namun tidak mengagetkan. Sebab, perusahaan ini pun pernah membuat iklan kontroversial di New York Times tahun 2011. Iklan ini berisi kalimat ‘Jangan Beli Jaket ini’. Hal ini mereka lakukan untuk memerangi konsumerisme yang berlebihan. Iklan tersebut mendorong orang untuk mengevaluasi kembali apakah mereka benar-benar perlu membeli barang baru.

Baca juga: Kenali Bahan Kimia Berbahaya Dalam Pakaian

Tak hanya iklan kontroversial itu, mereka juga menyumbangkan 100% dari penjualan Black Friday pada tahun 2016 kepada kelompok nirlaba peduli lingkungan. Total sumbangannya mencapai $10 juta.

Pada 2019, mereka menggabungkan donasinya dari penjualan Black Friday dan malam tahun baru, untuk kelompok nirlaba peduli lingkungan melalui program Patagonia Action Works.

Persepsi akan fesyen dan bisnis pakaian mulai beralih secara signifikan beberapa tahun terakhir. Lebih banyak orang yang mengatakan untuk menggunakan pakaian mereka lebih lama, dan memaksimalkan apa yang mereka punya. Patagonia mengambil keputusan yang cerdas untuk bergabung pada tren ini. Namun, karena terobosan mereka yang selalu berani, tampaknya ini bukan sesuatu yang mengagetkan.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Treehugger

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/patagonia-menjual-barang-bekas/feed/ 0
Sarung Bantal Cantik dari Sweater Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/sarung-bantal-cantik-dari-sweater-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sarung-bantal-cantik-dari-sweater-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/sarung-bantal-cantik-dari-sweater-lama/#respond Thu, 29 Mar 2018 09:35:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=20287 Jangan dulu buang sweater lama Anda karena kita bisa memanfaatkannya dengan mendaur ulang sweater lama menjadi sesuatu yang menarik lho, misalnya sarung bantal.]]>

Pernah membeli baju hangat atau sweater namun akhirnya hanya menumpuk di lemari karena warnanya sudah sedikit memudar, kekecilan atau robek pada bagian tertentu? Jangan dulu buang sweater lama Anda. Pada umumnya, sweater terbuat dari bahan yang nyaman dan empuk di kulit. Kita bisa memanfaatkannya dengan mendaur ulang sweater lama menjadi sesuatu yang menarik lho, misalnya sarung bantal.

Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuatnya cukup sederhana. Siapkan mesin jahit, gunting, jarum sulam, jarum pentul, penjepit, kapur tulis, pita ukuran atau metlin/meteran, dan tentu saja sweater lama. Pastikan sweater sudah dicuci bersih dan dijemur sebelumnya. Berikut ini, Anda bisa mengikuti cara membuat sarung bantal berkancing dan sarung bantal model amplop. Tertarik? Silahkan ikuti tutorial berikut ini.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sarung-bantal-cantik-dari-sweater-lama/feed/ 0
H&M Bring It On, Komitmen Mode yang Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hm-bring-it-on-komitmen-mode-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hm-bring-it-on-komitmen-mode-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/hm-bring-it-on-komitmen-mode-berkelanjutan/#respond Sat, 06 May 2017 12:25:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16957 Hennes dan Mauritz AB, pendiri H&M, berkomitmen untuk ikut mengemban tanggung jawab melindungi lingkungan hidup. Salah satunya adalah dengan program “Bring It On” yang menampung busana dengan nilai guna yang turun karena rusak atau noda.]]>

Beranggapan bahwa industri mode sebagai industri terbesar kedua di dunia, Hennes dan Mauritz AB, pendiri H&M, berkomitmen untuk ikut mengemban tanggung jawab melindungi lingkungan hidup. Salah satunya adalah dengan program “Bring It On” yang menampung busana dengan nilai guna yang turun karena rusak atau noda.

“Kemarikan pakaian yang tidak lagi kamu inginkan, dari segala merek dan segala kondisi. Kita akan memberinya kehidupan yang baru. Bring it on (bawa kepada kami), stocking robek, kaus yang bernoda, celana dalam yang pudar, kaus kaki yang hilang sebelah, gaun yang warnanya hilang, pakaian yang tidak pernah kamu gunakan, dan pakaian yang warnanya bukan lagi seleramu, bawakan kepada kami,” tulis H&M di situs resminya.

Menurut H&M, tidak ada pakaian yang benar-benar robek, usang ataupun bekas. Busana-busana tersebut sebenarnya masih dapat digunakan atau didaur ulang, namun pada kenyatannya terbuang bersama dengan sampah rumah tangga.

bring it on

Foto: www.hm.com/id/inspiration/ladies/bring-it-on

Untuk menjalankan salah satu inisiatif Conscious ini, H&M mengelompokkan pakaian-pakaian usang yang telah terkumpul menjadi lebih dari 350 kategori yang berbeda. Secara sederhana, busana dibagi menjadi kelompok yang masih dapat digunakan dan tidak layak pakai.

“Busana yang masih layak pakai akan didistribusi ke seluruh dunia sebagai pakaian bekas. Sementara itu, pakaian yang tidak dapat digunakan lagi akan dikonversi menjadi produk lain, seperti kain pembersih atau produk lain, atau digiling untuk kemudian dimanfaatkan dalam industri konstruksi atau otomotif sebagai bahan bantalan dan isolasi. Beberapa di antaranya akan diolah menjadi serat tekstil dan dipintal menjadi benang dan digunakan dalam produksi inisiatif Conscious H&M yang baru,” tambahnya.

Selama prosesnya, H&M menjelaskan bahwa tidak ada bahan yang terbuang. Misalnya bahan-bahan logam seperti kancing atau ritsleting juga akan didaur ulang. Bahkan potongan paling kecil dari hasil cacahan yang berupa debu akan diolah, yaitu dengan mengumpulkan kemudian disalurkan ke pabrik kertas. Debu-debu tersebut akan dimasukkan ke dalam mesin penekan yang mengolahnya menjadi kardus.

H&M menyatakan bahwa mengubah industri fesyen menjadi lebih hijau menjadi tantangan yang cukup berat dan bukan sesuatu yang dapat dilakukan sendiri. Oleh karena itu mereka mengajak konsumen untuk memisahkan dan memberikan busana yang tidak terpakai lagi atau usang.

“Sebagai salah satu perusahaan mode terbesar di dunia, kami mengemban tanggung jawab yang besar. Karena itulah kami meluncurkan inisiatif pengumpulan pakaian bekas ini pada tahun 2013. Bersama-sama kita bisa menyempurnakan mode,” tulis H&M.

bring it on

Foto: www.hm.com/id/inspiration/ladies/bring-it-on

Sebagai informasi, H&M group merupakan sebuah perusahaan fesyen dunia yang tampil dengan merek H&M and H&M Home, COS, & Other Stories, Monki, Weekday dan Cheap Monday. Setiap label memiliki identitas yang unik, di mana semuanya mengajak konsumen untuk mengenakan busana dengan cara yang berkelanjutan.

Menurut H&M, perubahan di dalam industri ini tidak hanya terkait produksi dan material yang berkelanjutan. Namun lebih jauh dari sekadar itu. Tanggung jawab tersebut terletak di setiap mata rantai industri mode.

H&M beranggapan bahwa perubahan ini tidak hanya terkait produksi dan material yang berkelanjutan namun lebih dari itu. “Bagi kami, tanggung jawab tersebut lebih jauh dari itu dan membentang di seluruh rantai nilai kami. Kami mengajukan tuntutan yang sangat ketat kepada pemasok kami, termasuk peraturan sosial dan lingkungan, sesuai dengan kode etik kami: the Sustainability Commitment.”

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hm-bring-it-on-komitmen-mode-berkelanjutan/feed/ 0
Daur Ulang Fesyen dengan Bedah Lemari Ala Annika Nicklinson https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/#respond Mon, 10 Apr 2017 08:08:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16662 Annika Nicklinson, seorang desainer dan penulis asal London, mendirikan Annika-N. Seluruh produk dan jasa yang ditawarkan Annika-N ditujukan untuk mengurangi limbah pakaian di tempat pembuangan akhir.]]>

Bedah Lemari atau Wardrobe Surgery merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Annika Nicklinson, seorang desainer dan penulis asal London dalam bukunya, “Junky Styling: Wardrobe Surgery”. Junky Styling sendiri merupakan sebuah butik yang ia dirikan bersama Kerry Seager pada tahun 1997 di Shoreditch, London Timur, Inggris.

Terinspirasi dari kebiasaan mendaur ulang di San Fransisco dan Tokyo, busana Junky Styling dibuat dari pakaian bekas. Namun, bukan sembarang bekas, lini pakaian rancangan kedua desainer tersebut berkualitas tinggi yang direkonstruksi ulang. Sayangnya, pada tahun 2000-an, mereka menutup toko busana ini.

bedah lemari

Foto: annika-n.co.uk

Meskipun demikian, Annika tidak berhenti menyebarkan pengaruh baik dari mendaur ulang fesyen dengan bedah lemari. Masih dengan tema upcycle dan mengangkat nilai pakaian bekas, pada tahun 2013, ia mendirikan Annika-N. Seluruh produk dan jasa yang ditawarkan Annika-N ditujukan untuk mengurangi limbah pakaian di tempat pembuangan akhir.

Dari sebuah kemeja hitam bekas, Annika dapat membuat satu gaun formal. Atau dari sebuah tirai yang sudah usang, ia dapat mengubahnya menjadi sebuah tuksedo. Bahkan, selimut pun dapat Annika sulap menjadi sebuah gaun dengan atasan khas daerah Basque, Itali. Hal ini membuktikan bahwa hanya dengan pakaian bekas pun, kita masih dapat tampil dengan gaya kasual ataupun formal.

Tidak hanya fesyen wanita, Anikka juga menyediakan produk mode daur ulang bagi pria berupa jaket yang didesain khusus oleh desainer DAM London. Dibuat dengan detail klasik dan bentuk kerah yang unik, pakaian daur ulang ini menambah gaya bagi pemakainya.

bedah lemari

Foto: annika-n.co.uk

Di samping daur ulang produk fesyen, Annika juga membuka jasa konsultasi melalui metode Bedah Lemari andalannya. Lewat bedah lemari ini, kita dapat bertukar pikiran mengenai ide-ide inovatif yang dapat diterapkan pada pakaian bekas kita sendiri.

Selain mendaur ulang produk dan bedah lemari, Annika juga mengadakan berbagai kegiatan berbagi pengalaman seperti kuliah umum dan lokakarya. Di laman resminya, Annika memperkenalkan metode yang digunakan dalam mendaur ulang.

“Menginspirasi dan menanamkan konsep daur ulang yang ditambah dengan pengetahuan teknis merupakan bagian integral dari agenda kami. Kami sering melaksanakan lokakarya di sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan tempat kerja. Kami memastikan tidak ada satu pun yang kecewa atau pergi,” tulis Anikka di laman resminya.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/daur-ulang-fesyen-bedah-lemari-ala-annika-nicklinson/feed/ 0
7 Cara Membuat Koleksi Pakaian Lebih Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/#respond Tue, 03 Nov 2015 08:38:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11757 Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga […]]]>

Industri fesyen bergerak dengan cepat, selalu ada yang baru dari industri ini. Namun, belum banyak yang memahami bahwa industri fesyen juga memberikan dampak bagi lingkungan. Penggunaan pestisida, bahan kimia, hingga transportasi dalam proses distribusi, semuanya memengaruhi lingkungan. Belum lagi perilaku boros dan lekas bosan konsumen fesyen turut menambah jumlah sampah.

Meski demikian, ada banyak cara untuk menjadi konsumen fesyen yang peduli lingkungan. Semuanya bisa dimulai dengan langkah sederhana. Apa saja langkahnya?

Ilustrasi: Ist.

Ilustrasi: Ist.

1. Ketahui seluk beluk isi lemari
Langkah ini merupakan hal mendasar untuk mengubah pola pikir Anda sebagai seorang konsumen. Mulailah mengedukasi diri Anda sendiri dengan melihat apa yang ada dalam isi lemari pakaian Anda dan mencari tahu seluk beluk dari setiap pakaian yang dimiliki.

Cari tahu dan bedakan mana pakaian yang terbuat dari bahan organik, daur ulang maupun produk yang bebas bahan kimia. Dengan cara ini, Anda tidak hanya tahu tentang apa yang akan dibeli, tapi juga di mana dan kepada siapa Anda akan membeli barang.

2. Cintai apa yang sudah dimiliki
Anda memiliki setumpuk pakaian di lemari namun baru sekali atau bahkan tidak pernah Anda pakai? Untuk membuat koleksi pakaian Anda lebih ramah lingkungan, cobalah berkreasi pada koleksi pakaian Anda. Teknik memadupadankan pakaian dapat membuat penampilan Anda berbeda tanpa harus membeli pakaian baru.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/7-cara-membuat-koleksi-pakaian-lebih-ramah-lingkungan/feed/ 0
Ancaman Dalam Pakaian Bekas Impor Ilegal https://www.greeners.co/berita/ancaman-dalam-pakaian-bekas-impor-ilegal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ancaman-dalam-pakaian-bekas-impor-ilegal https://www.greeners.co/berita/ancaman-dalam-pakaian-bekas-impor-ilegal/#respond Mon, 09 Feb 2015 06:02:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7315 Jakarta (Greeners) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengaku sepakat dengan larangan importasi pakaian bekas menyusul laporan terkait adanya bakteri pada pakaian dan merugikan konsumen. Terkait hal ini, Pengurus Harian […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengaku sepakat dengan larangan importasi pakaian bekas menyusul laporan terkait adanya bakteri pada pakaian dan merugikan konsumen. Terkait hal ini, Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menyarankan agar pemerintah lebih giat lagi memberantas importasi pakaian bekas ilegal terutama di pelabuhan-pelabuhan tikus yang banyak tersebar di Indonesia.

Tulus juga meminta kepada pemerintah agar melakukan penelusuran dari distributor ke pengecer dan konsumen dengan tujuan agar peredaran pakaian bekas impor ilegal di Indonesia bisa diberantas. Namun, langkah ini harus tetap mempertimbangkan kesadaran konsumen dalam membeli dan menggunakan pakaian bekas karena tingkat kemampuan membeli masyarakat Indonesia dinilai masih lemah.

“Pemerintah tidak boleh melakukan pembiaran terhadap barang ilegal, termasuk impor pakaian bekas. Apalagi pakaian bekas berdampak pada konsumen akibat tercemar bakteri,” terangnya kepada Greeners,” Jakarta, Senin (09/02).

Menurut Tulus, selain memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan pemakainya, baju bekas yang dijual di pasaran juga membawa dampak negatif bagi dunia usaha di dalam negeri, khususnya industri skala kecil dan menengah di sektor garmen.

Pakaian bekas impor sendiri, tambahnya, seharusnya tidak perlu diperdagangkan di Indonesia dengan alasan masih banyak produk murah yang bisa digunakan oleh konsumen di dalam negeri. YLKI berharap pemerintah mampu mendorong produksi garmen lokal agar bisa memasok kebutuhan garmen nasional.

“Tentunya dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat sehingga masyarakat bisa beralih dari konsumen pakaian bekas menjadi konsumen pakaian lokal,” tuturnya.

Senada dengan Tulus, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API,) Ade Sudrajat, mengatakan, kalau semakin maraknya peredaran pakaian bekas di Indonesia membuat industri garmen lokal kesulitan untuk berkembang.

“Minimnya pertumbuhan industri garmen lokal juga salah satunya disebabkan oleh pasar garmen yang direbut oleh pakaian bekas tersebut,” tambahnya.

Di lain sisi, Sub divisi AIDS dan Penyakit Menular Seksual Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Endang Budi Hartuti kepada Greeners menegaskan bahwa hingga saat ini Kemenkes belum pernah mencatat ada kasus penularan HIV terjadi lewat penggunaan pakaian bekas seperti yang dikatakan oleh Menteri Perdagangan. Endang menjelaskan bahwa HIV (Human Imunodeficiency Virus) hanya menular melalui tiga cara, yakni, lewat darah, cairan kelamin, dan dari ibu ke anak.

“Jadi tidak tepat jika HIV disebut-sebut bisa menular melalui pakaian bekas,” tegasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel geram terhadap maraknya peredaran baju bekas di Tanah Air. Ia menyatakan bahwa baju bekas impor tersebut bisa jadi mengandung berbagai penyakit. Bahkan Gobel menyebut bahwa pakaian bekas bisa menularkan virus HIV. Beberapa hari berikutnya, Ia lantas mengklarifikasi pernyataan tersebut.

Ditemukannya bakteri yang ada dalam pakaian bekas impor tersebut diketahui setelah petugas dari Direktur Jenderal (Ditjen) Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kemendag melakukan pengujian terhadap 25 sampel pakaian bekas yang beredar di pasar.

Sampel diambil dari pakaian bekas impor yang dijual pedagang di Pasar Senen Jakarta. Pengujian dilakukan terhadap beberapa jenis mikroorganisme yang dapat bertahan hidup pada pakaian, yaitu bakteri Staphylococcus (S. aureus), bakteri Escherichia coli (E. coli), dan jamur (kapang atau khamir).

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, ditemukan sejumlah koloni bakteri dan jamur yang ditunjukkan oleh parameter pengujian angka lempeng total (ALT) dan kapang pada semua contoh pakaian bekas yang nilainya cukup tinggi.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ancaman-dalam-pakaian-bekas-impor-ilegal/feed/ 0