pemberdayaan perempuan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/pemberdayaan-perempuan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 22 Mar 2019 11:11:38 +0000 id hourly 1 Barbie Menginspirasi Perempuan Muda untuk Berkarir di Dunia Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/barbie-menginspirasi-perempuan-muda-untuk-berkarir-di-dunia-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=barbie-menginspirasi-perempuan-muda-untuk-berkarir-di-dunia-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/barbie-menginspirasi-perempuan-muda-untuk-berkarir-di-dunia-lingkungan/#respond Fri, 22 Mar 2019 11:02:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=22882 Selama bertahun-tahun boneka barbie telah menciptakan berbagai jenis boneka perempuan dengan bermacam-macam profesi. Di usianya yang sudah 60 tahun, Barbie mencoba menjelajah dunia keberlanjutan melalui koleksi terbarunya.]]>

Selama bertahun-tahun boneka barbie telah menciptakan berbagai jenis boneka perempuan dengan bermacam-macam profesi. Mulai dari seorang ahli bedah, petugas pemadam kebakaran, koki, balerina dan lain-lain. Namun, di usianya yang sudah 60 tahun, Barbie mencoba menjelajah dunia keberlanjutan melalui koleksi terbarunya.

Dilansir dari Green Matters, baru-baru ini, Mattel selaku produsen Barbie bekerja sama dengan National Geographic menciptakan koleksi Barbie dengan berbagai profesi yang berkaitan dengan alam. Dalam siaran persnya, Mattel mengumumkan bahwa koleksi Barbienya kali ini akan menampilkan perempuan dengan profesi seperti konservasionis, ahli astrofisika, ahli biologi laut kutub, jurnalis lingkungan hidup, entomologis (ahli serangga) dan lainnya. Dengan adanya kerja sama ini, Barbie diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi anak perempuan untuk menggeluti profesi tersebut.

boneka barbie

Foto: Mattel, Inc via greenmatters.com

Dalam proses pembuatannya, setiap boneka Barbie dipastikan akan dibuat autentik, sebuah komite termasuk pemimpin redaksi majalah National Geographic, Susan Goldberg dan beberapa penjelajah National Geographic akan memberi tahu para perancang Barbie tentang aksesori dan set permainan apa yang harus disertakan pada setiap bonekanya.

“Membantu orang dalam memahami dunia selalu menjadi tujuan inti dari National Geographic,” ujar Goldberg dalam sebuah pernyataan. “Melalui kemitraan kami dengan Barbie, kami bersemangat untuk menjangkau anak-anak dengan cara baru, menggunakan kekuatan mainan untuk menginspirasi generasi penjelajah, ilmuwan, dan fotografer penerus kami berikutnya.”

boneka barbie

Foto: Mattel, Inc via greenmatters.com

Lisa McKnight, Wakil Presiden Senior Barbie, juga berharap koleksi boneka barunya ini akan menginspirasi gadis-gadis muda. “Barbie memungkinkan anak perempuan untuk mencoba peran baru dengan menunjukan kepada mereka bahwa mereka dapat menjadi apa saja, dan melalui kemitraan kami dengan National Geographic, anak perempuan sekarang dapat membayangkan diri mereka sebagai seorang ahli astrofisika, ahli biologi laut kutub dan banyak lagi,” ujar McKnight dalam sebuah pernyataan.

“Kolaborasi Barbie dan National Geographic merupakan upaya kreatif bersama yang memungkinkan anak-anak utuk menjelajahi dunia dan bidang karier yang berbeda di rumah mereka sendiri,” kata McKnight menambahkan.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 1959, Mattel telah menggunakan banyak plastik untuk membuat boneka, aksesori termasuk kemasannya. Langkah ini tentu patut diapresiasi karena perusahaan ini akhirnya peduli dengan alam. Kedepannya mungkin Mattel akan mengeluarkan versi 2.0 dari koleksi Barbie yang dibuat dari bahan bioplastik.

Boneka-boneka ini diharapkan dapat menginspirasi gadis muda untuk menarik hasrat dan minat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan alam. Koleksi Barbie dengan berbagai profesi yang berkaitan dengan alam ini rencananya akan dirilis pada musim gugur tahun 2019 ini. Anda dapat membelinya di toko-toko mainan dengan harga mulai dari $ 14,99 hingga $ 29,99.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/barbie-menginspirasi-perempuan-muda-untuk-berkarir-di-dunia-lingkungan/feed/ 0
Peran Perempuan Nelayan Masih Belum Diakui https://www.greeners.co/berita/peran-perempuan-nelayan-masih-belum-diakui/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peran-perempuan-nelayan-masih-belum-diakui https://www.greeners.co/berita/peran-perempuan-nelayan-masih-belum-diakui/#respond Mon, 11 Sep 2017 07:37:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=18538 Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA ) pada Mei 2014 mencatat sedikitnya 56 juta orang terlibat dalam aktivitas perikanan. Dari jumlah itu, 70 persen atau sekitar 39 juta orang adalah perempuan nelayan.]]>

Jakarta (Greeners) – Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2012, Indonesia memiliki 2.2 juta jiwa nelayan tangkap yang menggantungkan hidupnya di laut. Di antara jumlah tersebut, 95 persen merupakan nelayan tradisional dengan perahu di bawah 10 Gross Ton. 

Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA ) pada Mei 2014 juga mencatat sedikitnya 56 juta orang terlibat dalam aktivitas perikanan. Aktivitas ini mulai dari penangkapan, pengolahan, sampai dengan pemasaran hasil tangkapan. Dari jumlah itu, 70 persen atau sekitar 39 juta orang adalah perempuan nelayan.

Sayangnya, perempuan nelayan atau istri para pekerja perikanan yang seharusnya menjadi aktor penting atas kontribusinya dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga nelayan ketika pekerja perikanan bekerja di atas kapal perikanan, perempuan nelayan malah mendapat perlakukan yang tidak adil bahkan tidak diakui.

“Perempuan nelayan selalu dituntut untuk mencari pinjaman hutang untuk persiapan perbekalan suami selama bekerja di atas kapal perikanan, tapi bahkan untuk mendapatkan asuransi saja sangat sulit,” tutur Presidium Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI), Umi naiyah saat mengisi diskusi pada Festival Perempuan Nelayan di Jakarta, Sabtu (09/09).

BACA JUGA: KKP Libatkan Nelayan Capai Target Kawasan Konservasi Laut 2020

Perempuan nelayan yang tersebar di 300 kabupaten/kota di Indonesia berkontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan protein ikan masyarakat. Perempuan nelayan, katanya, berkontribusi besar pada kebutuhan pemenuhan pangan bangsa. Namun ironinya, peran startegis perempuan nelayan terancam dengan adanya perampasan ruang hidup mereka.

Ekspansi perkebunan sawit di wilayah pesisir Langkat Sumatera Utara; reklamasi di Teluk Jakarta, Bali, Semarang serta Manado; pertambangan pasir besi di Jawa Tengah; ekspansi pariwisata di NTB dan NTT, dan ekspansi konsesi tambang di wilayah pesisir Indonesia Timur adalah sebagian dari banyaknya ancaman bagi masa depan pangan laut Indonesia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PRL KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengakui bahwa kondisi perlakuan pekerja perikanan di banyak daerah masih belum seimbang. Oleh karenanya, KKP masih akan terus melakukan sosialiasi dan pemberdayaan ke daerah-daerah. Ia pun meyakini bahwa faktor utama kesejahteraan nelayan terletak pada bagaimana peran perempuan mampu diberdayakan. Hal tersebut terlihat dari permasalahan-permasalahan yang terjadi di pantai utara dan pantai selatan Indonesia.

“Di pantai selatan, begitu nelayan laki-laki mendaratkan kapalnya, para nelayan perempuan mulai mengelola penjualannya, kesetaraan itu ada di situ. Sedangkan di utara, praktik seperti ini belum wajar. Setelah kapal merapat, tetap laki-lakinya yang melakukan penjualan dan mengelola keuangan,” terangnya.

BACA JUGA: Implementasi Poros Maritim, Kesejahteraan Nelayan Masih Terpinggirkan

Pemerintah Indonesia sendiri saat ini mulai berusaha memperhatikan keterlibatan peran perempuan dalam setiap kegiatan kehidupan sosial. Terlebih yang menyangkut kegiatan kemaritiman. Hal itu setidaknya tercermin dengan Undang-Undang No.7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam pada 15 Maret 2016 lalu. Pada Pasal 45, kegiatan pemberdayaan harus memperhatikan keterlibatan dan peran perempuan dalam rumah tangga nelayan, rumah tangga pembudidaya ikan, dan juga rumah tangga petambak garam.

Pasal ini menegaskan kewajiban negara untuk meningkatkan keterlibatan dan peran perempuan nelayan dalam setiap kegiatan usaha dibidang perikanan dan kelautan hingga skala paling kecil, yaitu keluarga. Pada 2016 juga misalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) No 28 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Program Resposif Gender KKP.

“Intinya KKP dengan perempuan nelayan itu KKP support bagaimana memberikan tambahan kepada keluarganya. Pemberdayaan ekonominya itu kita kasih ke perempuan. Dan kalau sudah ada Permennya, ya Peraturan daerah juga harus mendukung. Program asuransinya juga kita dorong karena untuk ini kan lintas kementerian yang urus ya,” tambahnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa peran perempuan dalam bidang perikanan, atau nelayan perempuan sangatlah penting terutama di industri tambak, nelayan laut maupun pekerja pesisir. Pemerintah, pintanya, harus mulai memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan diri para petambak yang mayoritas adalah perempuan tersebut dengan memberikan asuransi dasar kesehatan dan kecelakaan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/peran-perempuan-nelayan-masih-belum-diakui/feed/ 0
Perempuan Masih Belum Mendapat Tempat Dalam Mempertahankan Lingkungan https://www.greeners.co/berita/perempuan-masih-belum-mendapat-tempat-mempertahankan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perempuan-masih-belum-mendapat-tempat-mempertahankan-lingkungan https://www.greeners.co/berita/perempuan-masih-belum-mendapat-tempat-mempertahankan-lingkungan/#respond Tue, 18 Jul 2017 06:57:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17736 Perempuan masih belum mendapatkan kesempatan untuk membela diri bahkan berjuang mempertahankan tanah kelahirannya, padahal perempuan sangat rentan terkena dampak dari ekploitasi sumber daya alam.]]>

Garut (Greeners) – Rusaknya tanah dan sumber air Indonesia akibat eksploitasi alam yang dilakukan oleh korporasi, secara langsung telah merusak pula kesejahteraan hidup dan masa depan perempuan dan keluarganya. Meski begitu, sayangnya, perempuan masih belum mendapatkan kesempatan untuk membela diri bahkan berjuang mempertahankan tanah kelahirannya. Padahal akibat ekploitasi sumber daya alam, perempuan sebagai sosok yang sangat berdekatan dengan ruang sumber daya alam tersebut, sangat rentan terkena dampaknya.

Siti Maimunah, peneliti dan Koordinator Program Beasiswa Sajogyo Institute saat ditemui di sela-sela pelaksanaan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air mengatakan bahwa masih banyak stigma negatif yang menempel pada perempuan jika terjun untuk melakukan perjuangan. Stigma ini yang menjadi penghalang keberanian dan percaya diri perempuan untuk berjuang.

“Jangankan memimpin perjuangan, mau ikut berjuang saja sudah sulit sekali karena stigma-stigma yang dikonstruksi,” tutur perempuan yang akrab disapa Mai ini, Garut, Minggu (16/07).

BACA JUGA: Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air Pertemukan Para Perempuan Tangguh Indonesia

Ia memberi contoh seperti kasus Aleta Baun atau yang dikenal dengan nama Mama Aleta. Mama Aleta memperjuangkan lingkungan untuk hak-hak masyarakat adat penentang penambangan marmer di Nusa Tenggara Timur. Pada awal perjuangannya, diceritakan Mai, kerap dianggap sebagai Ibu yang tidak bertanggung jawab, pelacur, bahkan dituduh selingkuh dengan tukang ojek karena kerap kali keluar rumah tengah malam untuk mengorganisir perempuan-perempuan adat di tempatnya. “Coba saja jika laki-laki yang seperti itu, tidak akan ada stigma-stigma negatif yang dihadapi,” ujarnya.

Menurut Mai, perjuangan perempuan bukan sesuatu yang mudah untuk didapat. Selain merencanakan strategi, mengorganisir masyarakat dan berjuang untuk tanah kelahirannya, perempuan juga masih harus memikirkan apakah suami dan anak-anak mereka sudah makan atau belum, menyiapkan segala urusan domestik rumah tangga, dimana hal-hal tersebut tidak dilakukan oleh laki-laki.

Selain Mama Aleta, masih ada beberapa perempuan tangguh yang berani tampil untuk memimpin perjuangan untuk membela hak-haknya. Seperti Eva Susanti Hanafi Bande yang memperjuangkan hak-hak petani melawan PT Kurnia Luwuk Sejati serta Gunarti yang menjadi perempuan pertama yang menggerakkan para ibu di desa Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah untuk memprotes penambangan batu kapur di sana.

BACA JUGA: Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air, Merayakan Perjuangan Perempuan bagi Lingkungan

Hanya saja, kata Mai, perjuangan perempuan-perempuan tersebut lahir dari titik balik kehidupan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Termasuk menjadi target pencarian polisi, hingga dipenjara dan harus meninggalkan keluarga.

“Apa iya semua harus mengalami titik balik terlebih dahulu baru berani untuk tampil berjuang mempertahankan tanah lahirnya? Apa iya harus ada korban dulu? Kan tidak. Nah makanya, perempuan-perempuan yang berada di kampung-kampung yang mengalami permasalahan lingkungan kami pertemukan pada acara Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air agar mereka bisa bertukar pikiran, ide dan cerita perjuangannya masing-masing,” katanya.

Penggunaan istilah ‘Pejuang Tanah Air’ sendiri merujuk pada situasi yang dihadapi oleh para perempuan yang tanah airnya terancam oleh berbagai macam perusak. Sedangkan jambore adalah wadah dimana perempuan-perempuan bertemu, belajar dan bertukar pengetahuan dari berbagai latar belakang.

Nissa Saadah Wargadipura, salah satu penggagas Pesantren Ekologi At-Thaariq, Garut, yang membagikan kisahnya tentang krisis sosial ekologi di Garut, menegaskan bahwa memulai perjuangan memang tidak mudah. Apalagi saat memulai kegiatan pesantren ekologi yang mengusung model bertani agroekologi. Saat baru memulai, banyak cibiran dan ketidakpercayaan masyarakat tentang keberhasilan model pertanian yang mereka usung.

“Dahulunya tidak ada yang percaya pola bertani kami bisa berhasil dengan tidak mengukuti pola pertanian mainstream yang merusak tanah dan air. Apalagi semua kebutuhan pertanian kami menyediakan sendiri, seperti pupuk kami buat sendiri, kami buat bank benih untuk menyimpan benih-benih lokal, kami pelihara ular untuk menyeimbangkan ekosistem. Ini jawaban untuk kemandirian pangan. Agroekologi adalah jawaban dari pesantren bagaimana menjaga hubungan baik antara manusia dan alam karena yang dicari kehormatannya, kemuliaannya, martabatnya, bukan hanya keuntungan semata,” ujar Nissa.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perempuan-masih-belum-mendapat-tempat-mempertahankan-lingkungan/feed/ 0
Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air, Merayakan Perjuangan Perempuan bagi Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-merayakan-perjuangan-perempuan-bagi-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-merayakan-perjuangan-perempuan-bagi-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-merayakan-perjuangan-perempuan-bagi-lingkungan/#respond Mon, 17 Jul 2017 11:16:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=17729 Sekitar 150 perempuan dari seluruh penjuru Indonesia hadir dalam acara Perempuan Merayakan Perjuangan Tanah Air pada puncak pelaksanaan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air.]]>

Garut (Greeners) – Sekitar 150 perempuan dari seluruh penjuru Indonesia hadir dalam acara Perempuan Merayakan Perjuangan Tanah Air di Garut pada puncak pelaksanaan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air, Minggu 16 Juli 2017. Acara yang diselenggarakan oleh Sajogyo Institute dan Pesantren Ath-Thaariq Garut ini berlokasi di Hotel Suminar Garut.

Dalam acara ini dihadirkan para perempuan yang dikenal atas usahanya memperjuangkan kelestarian lingkungan, seperti Aleta Baun dari Nusa Tenggara Timur, Eva Bande dari Sulawesi Tengah, dan Gunarti dari Jawa Tengah. Ketua Pelaksana Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air Siti Maimunah menyatakan bahwa jambore ini dijadikan momen bagi para perempuan Indonesia untuk berdiskusi dan merayakan perjuangan mereka dalam mempertahankan kelestarian lingkungan tempat mereka tinggal.

“Acara ini dilaksanakan untuk mempertemukan wanita-wanita yang telah berjuang bagi lingkungan dan kemanusiaan di daerah masing-masing supaya bisa menginspirasi satu sama lain. Sekarang, kita (para peserta jambore) akan merayakan pengetahuan yang telah kita dapatkan selama ini dengan berdiskusi dan bertukar pengetahuan,” ujar perempuan yang akrab disapa Mai ini dalam sambutannya, Minggu (16/07).

jambore perempuan pejuang tanah air

Pendiri Pesantren Ath-Thaariq Garut, Ibang Lukman dan Nissa Wargadipura membuat pesantren ekologi yang mengajak para santrinya untuk menyelamatkan dan memulihkan alam dengan cara bercocok tanam. Mereka mengembangkan benih dan menanam sendiri tanaman sumber pangan dan tanaman obat. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Dalam salah satu sesi acara, pendiri Pesantren Ath-Thaariq Garut, Ibang Lukman dan Nissa Wargadipura, menyampaikan bahwa munculnya kerusakan lingkungan di bumi ini tak lain dikarenakan oleh kesombongan manusia yang selalu serakah dalam mengambil kekayaan alam di bumi. Bertolak dari hal tersebut, keduanya berusaha untuk membuat pesantren ekologi yang mengajak para santrinya untuk menyelamatkan dan memulihkan alam dengan cara bercocok tanam. Mereka mengembangkan benih dan menanam sendiri tanaman sumber pangan dan tanaman obat.

“Melalui Pesantren Ath-Thaariq, kami berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan alam dengan cara bercocok tanam. Dalam bercocok tanam, kami membuat pupuk sendiri, mengembangkan benih sendiri, dan kami juga memelihara ular, burung, dan kupu-kupu untuk menyeimbangan ekosistem. Kami juga membuat bank benih untuk menampung benih-benih lokal. Kita berusaha untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan alam,” ujar Nissa.

Pembicara lainnya seperti Aleta Baun, Eva Bande, dan Gunarti dihadirkan untuk berbagi pengalaman dan memberikan semangat bagi para perempuan lainnya. Ketiga perempuan ini merupakan aktivis perempuan yang berjuang untuk melawan pihak-pihak yang ingin merusak lingkungan di daerah mereka.

Seperti Gunarti misalnya. Ia merupakan perempuan pertama yang berhasil menggerakan para ibu di desanya untuk memprotes penambangan batu kapur di Pegunungan Kendeng. Gunarti melakukan protes karena penambangan tersebut telah mengancam sumber air dan ekosistem tempat ia dan warga Kendengn lainnya bertani dan berkebun.

Diana, salah satu peserta asal Sulawesi Tengah, menyatakan bahwa hadirnya para pejuang perempuan seperti Eva Bande, Gunarti, dan Aleta Baun, benar-benar membantu para perempuan seperti dirinya untuk berani berbicara dan bertindak. Selain itu, ia mengaku merasa lebih percaya diri dan mendapat banyak ilmu baru setelah mengikuti kegiatan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air ini.

“Dengan adanya para pejuang wanita seperti Eva Bande, Mama Aleta (Aleta Baun) dan Gunarti, saya dan teman-teman perempuan yang lain merasa lebih berani untuk melawan pihak-pihak yang ingin merusak alam di sekitar tempat tinggal kami. Kami sebagai perempuan jadi merasa punya peran,” tutur Diana.

Acara Perempuan Merayakan Perjuangan Tanah Air berlangsung dengan meriah dan diramaikan dengan pameran produk dari 13 kampung yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Kepulauan Sunda Kecil. Para peserta dari setiap daerah juga menampilkan drama di atas panggung. Drama tersebut menceritakan kisah krisis sosial-ekologi yang terjadi di daerah mereka masing-masing. Setelah itu, acara ini diakhiri dengan diskusi tertutup dan pembuatan Wall of Hopes di Pondok Pesantren Ath-Thariq, Garut.

“Animo perempuan terhadap kegiatan jambore ini ternyata sangat tinggi, sehingga tidak susah bagi saya untuk menyelenggarakan acara ini. Melalui kegiatan ini, saya melihat bahwa minat belajar perempuan di pedesaan, dari remaja hingga ibu-ibu, ternyata begitu besar. Kedepannya, diharapkan jambore akan terus dilakukan,” pungkas Mai.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-merayakan-perjuangan-perempuan-bagi-lingkungan/feed/ 0
Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air Pertemukan Para Perempuan Tangguh Indonesia https://www.greeners.co/berita/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-pertemukan-para-perempuan-tangguh-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-pertemukan-para-perempuan-tangguh-indonesia https://www.greeners.co/berita/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-pertemukan-para-perempuan-tangguh-indonesia/#respond Wed, 12 Jul 2017 05:04:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=17686 Untuk membahas upaya perempuan dan perjuangannya untuk penyelamatan dan pemulihan tanah air Sajogyo Institut dan pesantren Ath-Thariq akan menggelar "Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air".]]>

Jakarta (Greeners) – Perempuan dianggap sebagai pihak yang paling menderita jika berbicara tentang pembongkaran atau eksploitasi Sumber Daya Alam. Siti Maimunah, peneliti dan Koordinator Program Beasiswa Sajogyo Institute, mengakui bahwa akibat ekploitasi sumber daya alam di masa lalu, perempuan, sebagai sosok yang sangat berdekatan dengan ruang sumber daya alam tersebut, sangat rentan terkena dampaknya.

Ia menyontohkan ruang hidup akan air. Perempuan dalam konteks ruang hidupnya sebagai “pihak” yang dianggap wajib untuk mengurus keluarga, hidupnya sangat berdekatan dengan air karena membutuhkan air yang lebih besar. Saat ruang itu dirampas karena eksploitasi, maka akan mengakibatkan hancurnya juga ruang hidup perempuan.

BACA JUGA: Judicial Review: KLHK Tegaskan Pentingnya Komitmen Keadilan Untuk Lingkungan Hidup

Di beberapa tempat memang terdapat perempuan-perempuan tangguh yang mampu memimpin penyelamatan hingga pemulihan kerusakan lingkungan. Hingga menurutnya sudah sangat penting untuk meletakkan perempuan sebagai pemeran utama dalam perjuangan.

Menurut perempuan yang biasa dipanggil Mai ini, hingga saat ini peran perempuan dalam perjuangan masih menghadapi hambatan-hambatan yang berbeda dengan laki-laki. Seperti yang terjadi pada Aletta Baun, tokoh pejuang tanah air dari Mollo, Nusa Tenggara Timur yang sering keluar malam untuk mengorganisir masyarakatnya di kampung dan menjadi target pencarian polisi. Dia dicap sebagai pelacur dan ibu yang tidak bertanggungjawab, yang mana hal ini tidak akan terjadi pada laki-laki.

“Masih banyak contoh-contoh lain dari hambatan dan tantangan yang dihadapi perempuan yang mungkin tidak akan dirasakan oleh laki-laki,” terangnya di Jakarta, Selasa (11/07).

perempuan pejuang tanah air

Poster acara Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air. Sumber: pejuangtanahair.org

Untuk membahas isu-isu yang berkaitan dengan krisis sosial ekologis dan upaya perempuan dan perjuangannya untuk penyelamatan dan pemulihan tanah air, Sajogyo Institut dan pesantren Ath-Thaariq akan menggelar Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air pada 14 hingga 16 Juli 2017 di Garut.

Mai menjelaskan, jambore ini berusaha untuk menyediakan ruang antara perempuan-perempuan yang memiliki pengalaman memperjuangkan lingkungannya dan berhasil hingga sekarang dengan perempuan-perempuan yang ingin belajar dari mereka.

Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air ini, ditambahkan oleh Direktur Sajogyo Institut, Eko Cahyono merupakan ruang perjumpaan dan belajar hingga bertukar pengetahuan antar perempuan dari berbagai latar belakang seperti ibu rumah tangga, petani, wirausaha, kepala dusun, penulis, pembuat film, pejabat pemerintah, dan banyak lainnya.

Acara ini berujuan untuk menyediakan kesempatan bagi perempuan untuk bertukar cerita pengalaman menghadapi krisis sosial ekologi di kampungnya. Para pesertanya sendiri akan hadir dari berbagai daerah di seluruh Indonesia seperti penerima beasiswa Studi Agraria dan Pemberdayaan Perempuan (SAPP), perwakilan perempuan dari desa-desa di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Selatan, Ogan Komering Ilir, Tojo Una-una, Donggala, Sigi, Palu, Melawi, Kapuas Hulu, Kutai Kertanegara, Bulungan, Maluku Utara, Tabanan Bali, Bogor, Garut, Flores, Timor Tengah Selatan, Pati, Kota Samarinda dan Jakarta.

BACA JUGA Walhi Jatim: Regulasi Masih Menjadi Ancaman Keselamatan Lingkungan

Dalam studinya, Sajogyo Institut memandang setidaknya ada babak baru yang terjadi dalam perjuangan agraria dan perempuan. Menurut Eko, sebelumnya paling tidak ada tiga babak perjuangan perempuan di tanah air. Pertama, perjuangan melawan penjajah; kedua, perjuangan perempuan di era pembangunan; dan peran ketiga atau babak baru dimana peran perempuan melawan tanah airnya dari rezim yang baru yaitu neokolonialisme.

“Ciri utama dari babak baru ini adalah perjuangan perempuan ini dihadapkan pada komoditifikasi sumber-sumber agraria. Memperdagangkan sumber-sumber agraria menjadi komoditi pasar sehingga industri ekstraktif baik tambang maupun perkebunan ini masuk jauh hingga ke desa-desa,” terangnya.

Pada Jambore ini akan ada publikasi beberapa produk pengetahuan dari proses belajar tentang perempuan dan agraria selama dua tahun terakhir meliputi buku foto “Potret Agraria Perempuan”, buku putih “Perempuan Merayakan Perjuangan Tanah Air”, “Perempuan Dalam Perjuangan Agraria” – Tematik Kelompok Belajar, buku profil kampung halaman: “Berjuang Mengubah Nasib”, lalu peluncuran film “Tutur Perempuan Pejuang Tanah Air”.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jambore-perempuan-pejuang-tanah-air-pertemukan-para-perempuan-tangguh-indonesia/feed/ 0
Perempuan Adat Harus Dilibatkan dalam Negosiasi Perubahan Iklim https://www.greeners.co/berita/perempuan-adat-harus-dilibatkan-dalam-negosiasi-perubahan-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perempuan-adat-harus-dilibatkan-dalam-negosiasi-perubahan-iklim https://www.greeners.co/berita/perempuan-adat-harus-dilibatkan-dalam-negosiasi-perubahan-iklim/#respond Mon, 23 Nov 2015 05:53:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11996 Jakarta (Greeners) – Pengetahuan dan kearifan lokal yang dilakukan oleh perempuan adat dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan telah dipraktikkan dan berkembang sejalan dengan posisi mereka sebagai penjaga ketahanan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pengetahuan dan kearifan lokal yang dilakukan oleh perempuan adat dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan telah dipraktikkan dan berkembang sejalan dengan posisi mereka sebagai penjaga ketahanan hidup keluarga dan komunitasnya. Kearifan lokal tersebut termasuk memanfaatkan berbagai jenis tanaman untuk bahan tenun dan pewarna alam, mengelola tanaman obat-obatan serta lahan pertanian atau perkebunan dengan kearifan tradisional yang ramah emisi.

Sementara itu, menurut Mina Susana Setra, Deputi I Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN), umumnya dalam negosiasi perubahan iklim (terutama adaptasi dan mitigasi) perempuan adat selalu dimasukkan dalam kategori kelompok rentan bersama anak-anak, lansia dan disabilitas.

“Perempuan adat itu seharusnya mendapatkan perlindungan khusus, seperti misalnya dalam implementasi REDD+ atau isu konservasi yang mengharuskan perempuan adat digusur dari wilayah adatnya,” jelasnya seperti dikutip melalui keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (21/11).

Padahal, lanjutnya, kunci pemberdayaan perempuan adat Indonesia adalah pengakuan atas pengetahuan dan kearifan perempuan adat dalam pengelolaan sumber-sumber hidup dan wilayah kelola yang selama ini diabaikan. Jika hal ini dipenuhi, maka sumber daya alam Indonesia yang berada di dalam wilayah masyarakat adat bisa terselamatkan.

Namun yang terjadi saat ini, seperti diakui oleh Dewan Nasional Perempuan AMAN region Sumatera Utara, Khairina Arif, penguasaan perkebunan sawit atas wilayah kelola perempuan adat telah menghancurkan pewarisan pengetahuan perempuan adat antar generasi yang diperparah oleh minimnya pendokumentasian.

“Seperti yang terjadi pada perempuan adat rakyat Penunggu yang melakukan penuntutan pengakuan kembali atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT LONSUM (kebun sawit) untuk dikelola kembali sebagai lahan pertanian yang dikombinasikan dengan tanaman keras agar bisa mengembalikan unsur tanah dan adaptif untuk tanah,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perempuan-adat-harus-dilibatkan-dalam-negosiasi-perubahan-iklim/feed/ 0
Solar Sister Berdayakan Perempuan Melalui Energi Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-sister-berdayakan-perempuan-melalui-energi-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=solar-sister-berdayakan-perempuan-melalui-energi-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-sister-berdayakan-perempuan-melalui-energi-ramah-lingkungan/#comments Thu, 21 May 2015 04:18:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=9170 Apa yang dilakukan mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, usai melepas jabatannya sebagai orang nomor satu di negeri Paman Sam? Ternyata ia menyibukkan diri di Yayasan Clinton. Yayasan tersebut memiliki […]]]>

Apa yang dilakukan mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, usai melepas jabatannya sebagai orang nomor satu di negeri Paman Sam? Ternyata ia menyibukkan diri di Yayasan Clinton. Yayasan tersebut memiliki program-program yang dijalankan di seluruh dunia sebagai bagian dari usaha pemberdayaan perempuan dengan pengetahuan dan kesempatan di bidang ekonomi.

Atas dasar tujuan tersebut, baru-baru ini Bill Clinton mengunjungi lingkungan Solar Sister di kota Karatu, Tanzania, Afrika. Solar Sister merupakan tempat dimana para perempuan di sana mendapatkan pelatihan dan pembiayaan mikro untuk menjual lampu energi matahari dan kompor untuk memasak.

Solar Sister adalah proyek solusi energi berkelanjutan yang digerakkan oleh perempuan dari Clinton Global Initiative Commitment to Action. Solar Sister menitikberatkan pada peran perempuan dalam jaringan penjualan yang bertujuan untuk membawa energi yang ramah lingkungan pada komunitas-komunitas terpencil di Afrika.

Bill Clinton diantara anggota Solar Sister. Foto: www.solarsister.org

Bill Clinton diantara anggota Solar Sister. Foto: www.solarsister.org

Dalam kunjungannya, Clinton menemui Chrecensia Shoki, seorang perempuan yang menggunakan teknologi sederhana panel surya di atap rumahnya sehingga rumahnya menghasilkan energi listrik mandiri.

Untuk meningkatkan pendapatannya, Shoki menjual barang-barang ramah lingkungan, seperti lampu tenaga surya dan tungku masak. Pendapatan dari hasil penjualan digunakan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya, membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari. Shoki merupakan satu penjual paling besar dan berhasil mendapatkan keuntungan penuh dari program tersebut berupa kesempatan dan pelatihan wirausaha.

Shoki berjualan di rumahnya, kadang dari rumah ke rumah dan juga berjualan di pasar. Dia bisa menjelaskan pada calon-calon konsumen bagaimana lampu tenaga surya bisa membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari, termasuk kemampuannya mengisi daya telepon seluler sehingga mempermudah komunikasi. Solar Sister sejauh ini telah melatih wirausahawati sebanyak 1.300 orang di Afrika, dan 476 orang diantaranya berada di Tanzania.

Solar Sister menitikberatkan pada peran perempuan dalam jaringan penjualan yang bertujuan untuk membawa energi yang ramah lingkungan pada  komunitas-komunitas terpencil di Afrika. Foto: www.solarsister.org

Solar Sister menitikberatkan pada peran perempuan dalam jaringan penjualan yang bertujuan untuk membawa energi yang ramah lingkungan pada komunitas-komunitas terpencil di Afrika. Foto: www.solarsister.org

Mengutip dari halaman Instagram milik Rachel Pritzker dan Mike Berkowitz di Stanford Social Innovation Review, tentang mengapa energi begitu berdampak besar, “kami melihat bahwa energi itu bukan – dan tidak bisa dilihat hanya sebagai permasalahan lingkungan, karena sebenarnya ini permasalahan mendasar dan mencakup banyak isu kontemporer lain yang diminati para filantropis, termasuk diantaranya isu kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan dan kemiskinan.”

Melalui pendekatan usaha kecil, para perempuan di program Solar Sister mendapatkan paket berupa peralatan awal untuk inventarisasi, pelatihan dan pemasaran untuk membawa energi ramah lingkungan ke rumah para pelanggannya. Cara ini efektif membuat mereka menjadi pengusaha yang mandiri, yang mampu membawa kepuasan pribadi dan pertumbuhan ekonomi kepada keluarga dan komunitas mereka.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/solar-sister-berdayakan-perempuan-melalui-energi-ramah-lingkungan/feed/ 1