produk kecantikan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/produk-kecantikan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 18 Jun 2026 11:49:54 +0000 id hourly 1 Dosen UNP Ciptakan Bulu Mata Palsu dari Pelepah Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/#respond Thu, 18 Jun 2026 11:49:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=48611 Produk kecantikan hingga kini masih didominasi bahan sintetis. Di balik itu, inovasi produk kecantikan ramah lingkungan hadir dari tangan dosen Departemen Tata Rias dan Kecantikan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas […]]]>

Produk kecantikan hingga kini masih didominasi bahan sintetis. Di balik itu, inovasi produk kecantikan ramah lingkungan hadir dari tangan dosen Departemen Tata Rias dan Kecantikan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang (UNP), Vivi Efrianova. Ia menciptakan bulu mata palsu berbahan dasar serat pelepah batang pisang kepok.

Inovasi tersebut berangkat dari keresahan Vivi terhadap dampak lingkungan dan potensi bahaya penggunaan bahan sintetis. Dari situ, ia melihat peluang besar pada serat alami yang selama ini belum banyak dimanfaatkan. Pelepah pisang kepok yang kerap dianggap limbah ternyata memiliki karakteristik yang menyerupai bulu mata manusia. Mulai dari tekstur hingga kilau alaminya.

“Produk bulu mata palsu yang terbuat dari serat pelepah batang pisang kepok dapat berkontribusi signifikan pada keberlanjutan dan ramah lingkungan,” ungkap Vivi melansir Berita UNP, Kamis (18/6).

Tak hanya menyerupai bulu mata sintetis secara visual, penggunaan serat alami ini juga lebih ringan dan nyaman, bahkan dalam waktu yang lama. Penggunaan bahan alami tersebut menjadikannya pilihan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan daripada produk konvensional.

Proses pembuatannya pun tidak sederhana. Serat pelepah pisang harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pemotongan, penyerutan, pencucian, penjemuran, hingga pewarnaan. Setelah itu, serat dirangkai secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi hingga menjadi bulu mata palsu yang siap digunakan.

Di balik inovasi tersebut, terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku berkualitas. Untuk mengatasinya, Vivi menggandeng petani pisang lokal guna memastikan pasokan serat terbaik sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.

Menjawab Kebutuhan Konsumen

Uniknya, inovasi ini juga mampu menjawab kebutuhan konsumen Muslim. Dengan bahan alami yang halal, produk tersebut aman tanpa menimbulkan keraguan dalam aspek ibadah.

“Serat alami yang lebih ringan dan nyaman membuat pengguna dapat mengenakan bulu mata palsu ini dalam waktu yang lebih lama tanpa merasa tidak nyaman,” tambah Vivi.

Saat ini, produk tersebut masih berada pada tahap pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanannya sebelum dipasarkan secara luas. Di saat yang sama, Vivi tengah mengajukan hak paten sebagai bentuk perlindungan atas karya inovatif tersebut.

Ia juga menjalin kerja sama dengan industri, termasuk PT Nanotech Natura Indonesia, untuk mengembangkan produk melalui pemanfaatan teknologi, salah satunya nanoteknologi.

Tak sekadar menawarkan alternatif produk kecantikan yang lebih ramah lingkungan, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru. Pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan baku memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan.

“Dengan bekerja sama langsung dengan petani lokal, kami tidak hanya mendukung ekonomi masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan,” kata dia.

Vivi berharap inovasi ini tidak hanya menjadi pilihan produk kecantikan yang aman dan ramah lingkungan. Lebih dari itu, ia ingin temuannya dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak inovasi berbasis bahan alami yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dosen-unp-ciptakan-bulu-mata-palsu-dari-pelepah-pisang/feed/ 0
Kenali Produk Kecantikan yang Mendukung Hidup Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-produk-kecantikan-yang-mendukung-hidup-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kenali-produk-kecantikan-yang-mendukung-hidup-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-produk-kecantikan-yang-mendukung-hidup-berkelanjutan/#respond Tue, 13 Jun 2023 04:04:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=40416 Kita bisa secara sukarela memulai dari yang kecil untuk membangun gaya hidup berkelanjutan. Misalnya, mengurangi penggunaan sampah plastik, kemasan sekali pakai, dan menggunakan produk kecantikan yang ramah lingkungan. Kini, beberapa […]]]>

Kita bisa secara sukarela memulai dari yang kecil untuk membangun gaya hidup berkelanjutan. Misalnya, mengurangi penggunaan sampah plastik, kemasan sekali pakai, dan menggunakan produk kecantikan yang ramah lingkungan.

Kini, beberapa perusahaan telah menyadari pentingnya menciptakan produk yang selaras dengan alam. Berbagai langkah pun telah mereka lakukan untuk menjaga agar setiap produk tidak berakhir menjadi limbah sehingga mudah terurai secara alami.

Sobat Greeners, bagi kamu yang menyukai produk kecantikan sekaligus ingin mencintai lingkungan, kamu bisa menggunakan produk kecantikan yang berkelanjutan. Berikut lima produk kecantikan yang mendukung hidup berkelanjutan.

1. Bio Blender Eco Tools

EcoTools adalah merek pilihan yang tepat saat kamu mencari alat rias yang ramah lingkungan. Spons kecantikan BioBlender terbuat dari 5 jenis bahan yang ramah lingkungan termasuk 100% biodegradable pertama di dunia.

Tidak hanya itu, spons ini juga menyempurnakan riasan kamu dan mudah terurai secara alami setelah kamu selesai menggunakannya.

2. Bare Minerals Complexion Rescue Tinted Moisturizer

Produk Bare Minerals memiliki tujuan untuk berbuat baik untuk planet ini. Mereka mengintegrasikan tujuan tersebut ke dalam proses produk dari manufaktur hingga pengiriman ke konsumen.

Mereka optimis pada tahun 2026, 100% kemasan produknya berbahan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang. Pelembab berwarna dengan asam hialuronat, squalane, dan SPF 30 ini dapat meningkatkan hidrasi kulit sebesar 215 % dalam satu minggu.

3. Youth To The People Superfood Cleanser

Bicara tentang perusahaan yang berkomitmen pada keberlanjutan, Youth To The People memiliki formula bersih dengan bahan-bahan lokal yang bersumber dari California.

Perusahaan telah memilih kaca untuk stoples dan botol mereka sebagai alternatif menggurangi sampah plastik. Semua produk mereka kemas dalam kotak yang terbuat dari kertas daur ulang.

4. Sea Witch Botanicals Green Fairy Body Veil

Sea Witch Botanicals menjual produk rumah lingkungan dan baik untuk tubuh yang dibuat secara alami. Mereka juga berdedikasi untuk menyumbangkan sebagian dari keuntungan produk tersebut untuk badan amal lingkungan.

Tidak hanya itu, produk nabati di sini juga dibuat menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Misalnya saat membuat produk, mereka sangat memperhatikan bahan yang digunakan untuk meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan.

Sebagian besar produk dari Sea Witch Botanicals ini memakai bahan aluminium dan kaca. Hal ini juga mendorong pelanggan untuk mendaur ulang dan mengisi ulang produk.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : fizzymag.com

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-produk-kecantikan-yang-mendukung-hidup-berkelanjutan/feed/ 0
Zara Beauty, Koleksi Kosmetik yang Dapat Diisi Ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/zara-beauty-koleksi-kosmetik-yang-dapat-diisi-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=zara-beauty-koleksi-kosmetik-yang-dapat-diisi-ulang https://www.greeners.co/gaya-hidup/zara-beauty-koleksi-kosmetik-yang-dapat-diisi-ulang/#respond Wed, 08 Dec 2021 03:43:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33154 Rumah fesyen kenamaan asal Spanyol, Zara, kini mulai merambah ke dunia kecantikan. Pada pertengahan bulan Mei 2021, merek fesyen yang satu ini secara resmi meluncurkan lini kosmetik bernama Zara Beauty. […]]]>

Rumah fesyen kenamaan asal Spanyol, Zara, kini mulai merambah ke dunia kecantikan. Pada pertengahan bulan Mei 2021, merek fesyen yang satu ini secara resmi meluncurkan lini kosmetik bernama Zara Beauty. Untuk menciptakan rangkaian produk kosmetik terbaru mereka, Zara bekerja sama dengan penata rias terkenal asal Inggris, Diane Kendal.

“Menyenangkan rasanya dapat bekerja sama dengan Zara, karena kini mereka mengutamakan keberagaman dan keberlanjutan,” tutur Kendal dalam Vogue.

Ya, kini Zara mencoba untuk lebih “hijau” dalam proses pembuatan produk mereka, termasuk produk kosmetik. Zara dan Kendal menyadari bahwa di tahun 2021 ini, kesadaran masyarakat terhadap penerapan gaya hidup berkelanjutan sudah begitu meningkat.  Konsumen pun kini sudah semakin cerdas, mereka kini semakin peduli dan kritis terhadap produk-produk yang mereka gunakan.

“Maka dari itu, Zara bertekad untuk membuat seluruh produk kosmetiknya secara beretika, vegan dan pastinya cruelty-free. Selain itu, mereka juga mengemas produk kosmetik dengan kemasan yang tidak mudah rusak. Guna mengurangi jumlah sampah, konsumen dapat mengisi ulang kembali kosmetik mereka dengan menggunakan kemasan yang lama,” ujar Kendal.

Untuk mengisi ulang kosmetik Zara Beauty, konsumen dapat mengunjungi gerai Zara terdekat. Adapun jenis kosmetik yang dapat diisi ulang kembali yaitu cat kuku, blush on, bronzer, lipstik dan masih banyak lagi. Terdapat 130 warna kosmetik yang mereka tawarkan, sehingga para konsumen pun tidak akan merasa bosan dan dapat berkreasi dengan kosmetik lebih kreatif lagi.

Apakah Zara Berkelanjutan?

Meskipun telah menghasilkan produk kosmetik secara beretika, rupanya perusahaan yang satu ini belum bisa kita katakan sepenuhnya berkelanjutan. Zara masih memproduksi pakaian fast fashion yang yang berdampak buruk bagi lingkungan. Menurut Business Insider, praktik fast fashion tersebut telah menyumbang 10 persen dari total emisi karbon global dan juga menyumbangkan 500.000 ton serat mikro ke laut setiap tahunnya. Jumlah tersebut setara dengan 50 miliar botol plastik.

Walau demikian, kini Zara mulai berusaha untuk lebih sadar terhadap lingkungan. Mereka telah meluncurkan program bernama Closing the Loop, sebuah program bagi pelanggan di mana mereka dapat mengirim kembali pakaian bekas mereka untuk didaur ulang.

Selain itu, rumah fesyen yang satu ini pun telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan membuang limbah apapun ke tempat pembuangan sampah akhir pada tahun 2023. Dengan ditempuhnya langkah-langkah tersebut, perusahaan fesyen yang satu ini berharap bahwa mereka dapat memimpin jalan menuju masa depan yang berkelanjutan.

Penulis: Anggi R. Firdhani

Sumber:

Vogue

Livekindly

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/zara-beauty-koleksi-kosmetik-yang-dapat-diisi-ulang/feed/ 0
Tetap Cantik dengan Sheet Mask Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/tetap-cantik-dengan-sheet-mask-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tetap-cantik-dengan-sheet-mask-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/tetap-cantik-dengan-sheet-mask-ramah-lingkungan/#respond Tue, 08 Dec 2020 08:00:51 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30388 ESW Beauty datang memberikan solusi untuk memelihara kesehatan kulit sekaligus kesehatan bumi.]]>

Perawatan kulit menjadi salah satu bentuk kecintaan kita terhadap diri sendiri. Namun, tak semua produk saat ini ramah lingkungan. Salah satu produk kecantikan yang saat ini populer adalah sheet mask, masker kertas. Sayangnya, masker ini menimbulkan banyak sampah. Mulai dari kemasan, hingga sisa kertas maskernya. Perusahaan ini berinovasi ciptakan sheet mask dengan bahan yang dapat terurai.

Banyak dari kita sudah mulai memerhatikan bahan-bahan mana yang tidak melakukan uji coba pada hewan, atau menjadi timbunan sampah nantinya. Menjadi ironi ketika kita memelihara kesehatan diri kita namun tidak memelihara bumi kita. Namun, masker dari ESW Beauty datang memberikan jawaban persoalan ini.

Awal Terciptanya ESW Beauty

Berawal dari kisah Elina Sofia Wang, pendiri ESW Beauty, yang berjuang melawan sakit maagnya selama bertahun-tahun. Awal tahun 2018, ia mulai menjalani gaya hidup bersih dengan makan lebih sehat, minum jus mentah, dan mengikuti kelas yoga. Dia juga mulai menggunakan produk kecantikan yang ramah lingkungan. Tetapi ia tidak dapat menemukan sheet mask yang sesuai dengan kebutuhannya. Maka dari itu ia memutuskan untuk membuatnya sendiri.

Dengan 5 tahun pengalamannya bekerja di industri kecantikan, dan hasratnya untuk perawatan kulit bersih dan hidup sehat, ia memutuskan untuk memulai mereknya sendiri di daerah asalnya yaitu New Jersey. Tujuan Elina adalah untuk membuat produknya berbahan alami yang bebas dari pengujian terhadap hewan alias vegan, serta dengan kemasan ramah lingkungan, tanpa mengurangi kualitas produknya.

Baca juga: Produk Perawatan Tubuh Ini Aman Untuk Bumi

Produk Ramah Lingkungan

Sheet mask-nya sendiri merupakan kain cupra yang dapat terurai secara hayati. Kain cupra adalah bahan tahan lama yang terbuat dari linter kapas, yang terkenal kelembutan dan daya serapnya. Kemasannya adalah kantong masker LDPE yang mereka daur ulang.

Formula ESW Beauty tidak beracun. Produknya tidak menggunakan bahan seperti Paraben, Phthalates, PEG, Etanolamin, Wewangian Sintetis, Formaldehida, BHT, BHA, Alkohol, DEA, Deterjen Sulfat, Silikon, Pewarna Sintetis, Bubuk Aluminium, dan Produk Asal Hewan.

Elina memilih jus mentah sebagai seri masker pertamanya karena itu merupakan minuman favorit sekaligus langkah awalnya dalam memulai hidup sehat. Bahan yang produk ini pakai termasuk ekstrak tumbuhan organik yang diuji oleh tim ESW Beauty. Mereka berusaha secara optimal mengkurasi bahan dari pemasok dengan sertifikasi organik (Leaping Bunny dan PETA).

Tetap Cantik dengan Sheet Mask Ramah Lingkungan

Bijak memilih produk kecantikan dapat membuat kita mengurangi jejak karbon yang kita tinggalkan. Foto: ESW Beauty.

Tak Hanya Peduli Lingkungan, Tapi juga Estetik

Kemasan maskernya berbentuk seperti botol pipih yang menarik dengan berbagai warna tergantung variasinya. Ada yang berwarna hijau dengan kandungan kale, bayam, brokoli dan apel untuk mencegah tanda-tanda penuaan. Ada juga yang melembabkan, dengan ekstrak semangka, air mawar, dan jus anggur. Selain itu, ada juga campuran nanas, kiwi, pir, dan jahe untuk meremajakan kulit. Jika Anda ingin detox, Anda bisa menggunakan seri activated charcoal, dan jus lemon. Tipe masker yang terakhir adalah untuk menenangkan, dengan kandungan kelapa, kacang vanila, stroberi, dan susu kacang almond. 

Tak hanya kemasan yang menarik, pembelian produk lengkap dengan tas jinjing transparan, dengan tas saku kecil, botol kaca kecil, serta ikat kepala dengan hiasan kecambah. 

Pendiri ESW Beauty mengajak kita untuk merawat kulit, sekaligus bersikap baik kepada lingkungan. Misinya adalah mengembangkan produk kecantikan dengan bahan-bahan yang bersih, tanpa eksploitasi sumber dan berkelanjutan. Serumnya yang berlimpah dalam produknya dan produksi maskernya tidak mengandung bahan hewani atau bahan turunan hewani.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

ESW Beauty

In Habitat

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tetap-cantik-dengan-sheet-mask-ramah-lingkungan/feed/ 0
6 Cara ‘Hijau’ Memilih Produk Kecantikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/6-cara-hijau-memilih-produk-kecantikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=6-cara-hijau-memilih-produk-kecantikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/6-cara-hijau-memilih-produk-kecantikan/#respond Thu, 30 Nov 2017 07:38:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19447 Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau eco-friendly dapat dimulai dari mana saja, bahkan di saat kita akan memilih produk kecantikan sekalipun.]]>

Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan atau eco-friendly dapat dimulai dari mana saja, bahkan di saat kita akan memilih produk kecantikan sekalipun. Selain lebih eco-friendly, memilih produk kecantikan secara cerdas dan tepat juga dapat menggiring kita untuk hidup lebih sehat dan hemat.

Ada berbagai cara ‘hijau’ yang dapat kita coba ketika akan memilih produk kecantikan, dan salah satunya adalah dengan cara membeli produk yang bersifat cruelty-free alias tidak diujicobakan pada hewan. Selain itu, masih ada beberapa cara ramah lingkungan lainnya yang dapat kita coba ketika akan membeli produk kecantikan, dan berikut adalah enam di antaranya:

produk kecantikan

Ilustrasi: Ist.

1. Pilih produk dengan kemasan yang lebih simpel

Saat memilih produk kecantikan, pilih produk dengan kemasan yang lebih simpel. Hindari pembelian produk kecantikan dengan kemasan ganda seperti sampo botolan yang dikemas kembali di dalam kotak karton atau plastik. Produk dengan kemasan ganda akan menghasilkan sampah yang lebih banyak. Selain itu, pilih produk dengan kemasan yang bisa didaur ulang.

2. Pilih produk yang bisa diisi ulang

Alih-alih membeli produk kosmetik yang bersifat sekali pakai, pilih produk dengan kemasan yang bisa diisi ulang. Misalnya bedak dengan kemasan isi ulang atau sabun cair dalam kemasan botol yang bisa diisi ulang ketika habis. Selain dapat menghemat uang, membeli produk yang bisa diisi ulang juga dapat mengurangi timbulan sampah.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/6-cara-hijau-memilih-produk-kecantikan/feed/ 0
Nadia Mulya, Selektif Memilih Produk Kecantikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-selektif-memilih-produk-kecantikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nadia-mulya-selektif-memilih-produk-kecantikan https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-selektif-memilih-produk-kecantikan/#respond Mon, 21 Aug 2017 11:18:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18295 Aktris, model, penulis, dan presenter Nadia Mulya sudah akrab dengan riasan wajah sejak usia belasan. Saat membeli produk make up, dirinya cukup selektif. Ia mengaku menentang produk kosmetik yang diuji coba pada hewan.]]>

(Greeners) – Menggunakan riasan wajah atau make up nampaknya sudah menjadi hal yang lazim dilakukan oleh para selebriti. Tak terkecuali dengan Nadia Mulya (37), seorang aktris, model, penulis, dan presenter ini. Bagi Nadia, menggunakan riasan wajah bukanlah hal yang baru. Ia mengaku bahwa dirinya telah akrab dengan riasan wajah sejak usia belasan.

“Saya menggunakan make up sejak usia saya masih 17 tahun, saat saya memulai karir menjadi model. Jadi, menggunakan riasan yang tebal bukanlah hal baru bagi saya. Percaya enggak sejak saya berusia 21 tahun, usia dimana saya mulai serius dalam dunia model, saya selalu menggunakan produk kecantikan yang sama,” ujar Nadia kepada Greeners saat ditemui di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat membeli produk make up, Nadia mengaku bahwa dirinya cukup selektif. Saat memilih produk kosmetik, wanita yang kini sedang aktif menulis buku tersebut memiliki beberapa pertimbangan. Kepada Greeners, Nadia mengatakan bahwa dirinya begitu menentang produk kosmetik yang diuji coba pada hewan.

“Salah satu hal yang menjadi pertimbangan ketika saya memilih produk kosmetik sebenarnya ada dua hal. Hal yang pertama adalah tidak diuji coba kepada hewan, lalu hal yang kedua adalah sebisa mungkin ada produk isi ulangnya,” ujar wanita yang juga merupakan Puteri Pariwisata tahun 2004 ini.

“Dengan adanya produk kecantikan yang dapat di-refill, kita dapat lebih hemat dan mengurangi jumlah produksi sampah kan?” tutur Nadia menambahkan.

Tak hanya sampai di situ, Nadia juga mempertimbangkan sisi etika dari produk kosmetik yang akan ia beli. Ia harus memastikan bahwa produk kosmetik yang akan ia gunakan dibuat secara layak dan beretika.

“Saat membeli produk kosmetik, saya juga sangat mementingkan fair trade. Produk kosmetik yang saya beli harus dibuat oleh para pekerja yang diperlakukan dengan layak. Saya sangat mementingkan produk kecantikan yang diproduksi secara beretika dan ramah terhadap lingkungan alam ataupun sosial,” tukasnya.

Nadia berharap banyak konsumen menjadi pribadi yang kritis ketika akan membeli suatu produk. Dengan demikian, konsumen juga turut berpartisipasi bagi kelestarian lingkungan.

“Kita dapat menjadi pribadi yang ramah lingkungan dengan melakukan hal-hal kecil, termasuk cermat dalam memilih suatu produk, termasuk produk kecantikan. Kita juga bisa melakukan riset terlebih dahulu terhadap produk kecantikan yang akan kita beli, apakah produk tersebut dites pada hewan atau tidak, tidak ramah lingkungan, atau lain sebagainya. Intinya sih, kita harus menjadi pribadi yang kritis,” pungkasnya.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/nadia-mulya-selektif-memilih-produk-kecantikan/feed/ 0
Microbeads Berbahaya bagi Lingkungan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/microbeads-berbahaya-bagi-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=microbeads-berbahaya-bagi-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/microbeads-berbahaya-bagi-lingkungan/#respond Wed, 24 Feb 2016 10:34:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12947 Produk kosmetik dengan microbeads penggunaannya sudah sangat meluas dan telah mendapat persetujuan dari badan kesehatan di banyak negara. Namun kini microbeads dikhawatirkan akan mencemari lingkungan.]]>

Jakarta (Greeners) –Pada tanggal 28 Desember 2015 lalu, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama telah menandatangani aturan yang melarang pembuatan dan pemasaran produk kosmetik yang mengandung microbeads plastik. Peraturan ini cukup mengejutkan banyak pihak, termasuk produsen kosmetik dan konsumen. Pasalnya, produk kosmetik dengan microbeads penggunaannya sudah sangat meluas dan telah mendapat persetujuan dari badan kesehatan di banyak negara. Lantas, kenapa sekarang dilarang?

Menurut dokter spesialis kulit dari Rumah Sakit Siloam Lebak Bulus, dr. Edwin Tanihaha, SP.KK, Dip. AAAM, MHKes, FKCCS, microbeads merupakan partikel-partikel kecil yang terbuat dari plastik. Plastik berukuran mikro ini biasa digunakan sebagai scrub untuk produk sabun muka, sabun mandi, pasta gigi,dan beberapa jenis produk perawatan tubuh lainnya.

Bahan scrub yang terdapat pada berbagai produk perawatan tubuh utamanya berfungsi sebagai pembuang kotoran dan sel kulit mati. Edwin mengatakan bahwa tidak semua scrub terbuat dari microbeads yang merupakan partikel plastik. Beberapa buah-buahan dapat pula dijadikan scrub, seperti tebu dan alpukat.

“Cuma kekurangannya, scrub yang terbuat dari buah-buahan itu mahal. Itu kenapa kebanyakan farmasi pakai scrub microbeads,” jelas Edwin saat ditemui Greeners di RS Siloam Lebak Bulus.

Edwin sendiri tidak pernah menganjurkan pasiennya untuk memakai sabun muka yang mengandung scrub. Menurutnya, ada alternatif lain selain scrub yang dapat digunakan untuk membersihkan dan menjaga kulit wajah. Ia menyatakan, sabun biasa tanpa kandungan scrub pun sudah cukup untuk membuang kotoran pada wajah dan sel kulit mati juga dapat dibuang dengan krim malam.

“Kalau saya enggak suka ngasih sesuatu yang enggak perlu. Buat saya itu enggak perlu, karena tanpa itu pun hasilnya bagus,” ujarnya.

(selanjutnya)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/microbeads-berbahaya-bagi-lingkungan/feed/ 0
BPOM Temukan Kosmetik Ilegal dengan Merek Ternama https://www.greeners.co/berita/bpom-temukan-kosmetik-ilegal-dengan-merek-ternama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bpom-temukan-kosmetik-ilegal-dengan-merek-ternama https://www.greeners.co/berita/bpom-temukan-kosmetik-ilegal-dengan-merek-ternama/#respond Mon, 09 Nov 2015 10:40:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11836 Jakarta (Greeners) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali mengumumkan hasil Operasi Terpadu Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal 2015. Operasi ini telah dilaksanakan di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali mengumumkan hasil Operasi Terpadu Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal 2015. Operasi ini telah dilaksanakan di tujuh kota, yakni Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Serang dalam kurun waktu 19 hingga 30 Oktober 2015.

Dalam operasi tersebut, petugas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan POM bersama Balai Besar/Balai POM (BB/BPOM) berhasil menemukan 977 jenis atau 595.218 kemasan kosmetika tanpa izin edar (TIE/ilegal) dan mengandung bahan berbahaya, senilai Rp 20 miliar. Kosmetika tersebut beberapa diantaranya berupa krim pemutih, sabun, losion, maskara, pensil alis, dan cairan pembersih muka.

Kepala BPOM, Roy Sparringa mengungkapkan, dalam temuan tersebut juga ditemukan beberapa produk kecantikan dengan merek terkemuka yang dipalsukan. Seperti diantaranya RDL Baby Face Solution, Clariderm Astringent, SJ Night Cream, Papaya Whitening Soap, UV Whitening Soap (oranye), Ling Zhi Night Cream, Maxi Peel 3, Citra Day and Night Cream, DR Original Cream, Ponds White Beauty Complete Beauty Care, pensil alis merek Revlon, sabun Citra, dan lipgloss Maybelline.

“Produk palsu yang beredar ini berasal dari lokal dan luar negeri, yaitu Tiongkok, Malaysia, Thailand, Filipina dan India. Pelaku pelanggaran dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 196, 197 dan pasal 198,” tegasnya, Jakarta, Senin (09/11).

Lebih lanjut Roy menyatakan, untuk temuan bahan berbahaya lain yang berhasil ditemukan adalah hidrokinon, asam retinoat, resorsinol, bahan pewarna merah k3, diethylene glycol, dan timbal. Roy menerangkan bahwa kandungan dari bahan-bahan tersebut sangat berbahaya bagi kulit seperti contoh efek dari bahan merkuri, misalnya, dapat menyebabkan kanker, diare, dan muntah. Lalu Hidrokinon, dapat menyebabkan hiperpigmentasi, terutama pada daerah yang terpapar matahari langsung.

Ada pula asam retinoat yang dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, dan untuk ibu hamil dapat menyebabkan kecacatan janin. Sedangkan pewarna jingga k1, merah k3, dan merah k10 dapat memicu kanker, dan kerusakan hati.

Sejak Januari hingga September tahun ini, kata Roy, BPOM telah melakukan penyidikan terhadap 125 perkara di bidang obat dan makanan. Dari 125 perkara tersebut, kosmetik merupakan perkara yang paling banyak diungkap, yakni sebanyak 36 perkara, terdiri dari 34 perkara kosmetik ilegal dan 2 perkara kosmetik mengandung bahan berbahaya.

“Kali ini pemberantasan kami perluas hingga ke level hulu yaitu distributor, importir, dan produsen. Barang-barang berbahaya yang disasar yakni kosmetik ilegal dan/atau mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, hidrokinon, asam retinoat, pewarna merah K3 dan K10. Sebagai tindaklanjut dari temuan ini, kami akan menindaknya melalui pro-justitia. Artinya, pelaku pelanggaran dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bpom-temukan-kosmetik-ilegal-dengan-merek-ternama/feed/ 0
Seleksi Ketat Bahan Alami Wangsa Jelita https://www.greeners.co/aksi/seleksi-ketat-bahan-alami-wangsa-jelita/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seleksi-ketat-bahan-alami-wangsa-jelita https://www.greeners.co/aksi/seleksi-ketat-bahan-alami-wangsa-jelita/#respond Tue, 21 Apr 2015 00:00:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8661 Jakarta (Greeners) – Perkembangan produk perawatan kulit yang mengkategorikan diri sebagai produk alami tengah berkembang pesat. Namun, tidak semua produk tersebut murni alami, bahkan kandungan di dalamnya terkadang berpotensi mengganggu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perkembangan produk perawatan kulit yang mengkategorikan diri sebagai produk alami tengah berkembang pesat. Namun, tidak semua produk tersebut murni alami, bahkan kandungan di dalamnya terkadang berpotensi mengganggu kesehatan.

Salah satu pendiri sekaligus CEO Wangsa Jelita, Nadya Saib mengatakan bahwa produsen produk perawatan kecantikan dapat dengan mudah mengklaim produknya “natural” karena belum ada aturan baku terhadap konsep natural tersebut. “Yang namanya ‘natural’ itu tidak ada aturannya. Itu yang memotivasi saya dan teman-teman memulai bisnis ini,” ujar Nadya usai meluncurkan wajah dan program pengembangan baru dari Wangsa Jelita yang diadakan di Warung Kebunku, Jakarta, Selasa (21/04).

Meski demikian, Nadya pun mengatakan bahwa tidak ada produk perawatan kecantikan alami yang benar-benar bebas bahan kimia. Hanya saja, kadar bahan kimia yang digunakan harus dibatasi dan diseleksi untuk menjaga unsur kealamian produk dengan label tersebut.

“Istilah ‘natural’ tidak ada regulasinya dari segi farmasi. Tetap ada chemical yang digunakan, tapi tetap harus diseleksi,” kata almunus Institut Teknologi Bandung jurusan Farmasi ini.

Salah satu pendiri sekaligus CEO Wangsa Jelita, Nadya Saib (paling kanan). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Salah satu pendiri sekaligus CEO Wangsa Jelita, Nadya Saib (paling kanan). Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Untuk itulah ia menetapkan dua aturan khusus yang harus dipenuhi dalam proses produksi Wangsa Jelita. “Harus ada manfaatnya dengan tubuh dan tidak ada potensi membahayakan tubuh,” katanya tegas.

Nadya juga menyatakan bahwa Wangsa Jelita merupakan sebuah social enterprise, dimana mereka berkolaborasi dengan komunitas lokal seperti petani dan pengrajin lokal sebagai rekan usaha. Salah satunya adalah komunitas Sarongge.

Komunitas Sarongge terdiri atas para ibu yang tinggal di Desa Sarongge, dekat kaki Gunung Pangrango, Jawa Barat. Di bawah bimbingan Yayasan Green Initiative Foundation (GIF) serta supervisi Wangsa Jelita, belasan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas ini mampu memberikan nilai tambah kepada hasil alam yang mereka miliki, yaitu sereh dan kopi, menjadi sabun alami yang berkualitas.

Nadya juga menjelaskan bahwa untuk memajukan komunitas Sarongge, mereka berusaha menggalang dana di laman kitabisa.com/Sarongge. Penggalangan dana publik ini untuk mendanai pembelian peralatan produksi (alat suling), marketing, hingga operasional bagi komunitas Sarongge.

“Kami di Wangsa Jelita percaya bahwa bisnis adalah alat yang powerful untuk menyelesaikan masalah yang ada di komunitas secara berkelanjutan,” pungkas Nadya.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/aksi/seleksi-ketat-bahan-alami-wangsa-jelita/feed/ 0