sustainable clothing - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/sustainable-clothing/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 07 Jul 2021 09:55:52 +0000 id hourly 1 Sisa Benang Olah Kain Sisa Pabrik Jadi Mode Berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/sisa-benang-olah-kain-sisa-pabrik-jadi-mode-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sisa-benang-olah-kain-sisa-pabrik-jadi-mode-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/sisa-benang-olah-kain-sisa-pabrik-jadi-mode-berkelanjutan/#respond Wed, 07 Jul 2021 05:02:19 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=33236 Sobat Greeners, apakah kalian tahu latar belakang pakaian yang sedang kalian kenakan? Mulai dari bahan apa yang dipakai, bagaimana proses pembuatannya, hingga siapa yang membuat? Dengan paham hal tersebut, kita […]]]>

Sobat Greeners, apakah kalian tahu latar belakang pakaian yang sedang kalian kenakan? Mulai dari bahan apa yang dipakai, bagaimana proses pembuatannya, hingga siapa yang membuat? Dengan paham hal tersebut, kita terbantu untuk lebih menghargai pakaian yang kita kenakan. Terlebih ketika pakaian tersebut memberi dampak positif bagi sosial maupun lingkungan.

Hal itu juga sejalan dengan yang dilakukan oleh Tubagus Syailendra Wangsadisastra dan Kea Dela Rosa. Mereka menciptakan produk bernama Sisa Benang untuk memenuhi kebutuhan sandang manusia. Namun, yang berbeda, mereka mengusung visi-visi utama seperti eco fashion, slow fashion, dan ethical fashion pada produknya.

Sisa Benang Menerapkan Mode Berkelanjutan (Sustainable Fashion)

Sisa Benang merupakan merek pakaian yang terbentuk pada Juni 2020. Pada mulanya, mereka melihat sampah garmen masih terabaikan. Bahkan menjadi salah satu penyumbang sampah yang cukup besar ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dari hal tersebut, kemudian tim Sisa Benang memanfaatkan material sisa pabrik tadi sebagai bahan dasar utama produk-produknya. Sebelum kain-kain sisa terbuang, mereka mengolahnya kembali menjadi pakaian bernilai jual dan layak pakai.

Tubagus menyebut, cara itu mereka gunakan untuk memberikan rasa nyaman pada konsumen. Selain turut menjaga lingkungan, ia mengatakan konsep mengolah kembali bahan tak terpakai juga meningkatkan kesadaran konsumen akan konsep mode berkelanjutan. “Kita ingin raising awareness juga lewat campaign dari Sisa Benang,” ucapnya.

Pada proses produksinya, Sisa Benang bekerja sama dengan masyarakat di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. Warga yang terdiri dari ibu-ibu kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tersebut memiliki keterampilan menjahit. Tubagus menyebut, proses pengerjaan produk juga memakai konsep etis yang berarti mengedepankan hak maupun kesejahteraan pekerjanya.

“Kita mengedepankan slow fashion juga. Kalau pabrik besar pakai mesin dan produksi massal, kita di sini ingin empower warga lokal,” ujarnya.

Mode Sisa Benang

Jenis produk Sisa Benang. Foto: instagram @sisabenang

Karena hanya menggunakan bahan kain sisa pabrik, produk-produk dari Sisa Benang menjadi sangat terbatas. Mereka hanya memproduksi sesuai dengan jumlah kain yang tersedia. Menurut Tubagus, mereka paling banyak memproduksi 15 potong baju untuk satu model koleksi pakaian. Meski hanya memproduksi pakaian wanita, jenis juga beragam mulai dari masker, outer, gaun (dress), kemeja, hingga celana.

Seiring perjalanannya, Tubagus dan Kea melihat pakaian sebagai alat untuk mempresentasikan gaya hidup setiap orang. Maka mereka berharap lewat produknya, konsumen akan mengadopsi konsep gaya hidup yang selaras dengan alam.

“Kita berharap orang-orang juga representing hal-hal yang impactful. Ngga cuma sebatas gaya hidup, tapi ada dampak yang bisa dikasih ke lingkungan atau masyarakat,” katanya.

Merangkul Konsumen Anak Muda

Karena mempunyai misi untuk memberikan edukasi, Sisa Benang memilih sasaran konsumen dari kalangan generasi muda. Mereka berusaha menjangkau kalangan tersebut dengan berbagai cara. Sebab, generasi muda memiliki peran dan tanggung jawab yang begitu besar bagi lingkungan.

Sisa Benang pun mematok harga yang sesuai dengan segmentasi mereka. Kendati tak mengambil banyak laba, kata Tubagus, yang terpenting label pakaian miliknya bisa memberikan dampak positif dan mencapai tujuan. 

“Kalau kita bikin brand sustainable fashion hanya untuk menengah ke atas, yang ada nggak semua teredukasi. Visi misi kita nggak tersampaikan dan nggak massive juga,” ucapnya.

Selain itu, Sisa Benang hanya fokus menjual produk mereka di media sosial Instagram. Platform tersebut, menurutnya menjadi tempat yang ideal untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan konsumen. Sisa Benang juga mempunyai panggilan khusus untuk para pelanggannya, yaitu Tim Sisa.

Mode Sisa Benang

Hasil produk Sisa Benang yang terbuat dari bahan sisa kain pabrik. Foto: instagram @sisabenang

Program Tanam Satu Pohon untuk Penjualan Tiap Baju

Terdapat dua hal besar yang menjadi fokus utama Sisa Benang, yakni fesyen dan lingkungan. Di bidang lingkungan, label pakaian ini mempunyai program menanam satu pohon mangrove untuk tiap potong baju yang terjual. Kegiatan menanam tersebut mereka lakukan di wilayah pesisir, Jawa Tengah. Sisa Benang juga bekerja sama dengan organisasi Lindungi Hutan dalam kampanye tanam satu tumbuh seribu.

“Jadi memang ada aspek sirkular dari produksi sisa kain yang tidak terpakai. Dikelola lagi oleh orang-orang yang memang membutuhkan, ada aspek kesetaraan. Kemudian dari sisi penjualan juga give back lagi nih dari ekonomi ke lingkungan,” ucapnya.

Sadar akan peran konsumen yang besar terhadap penanaman pohon mangrove, Sisa Benang pun memberikan penghargaan berupa green card. Isinya berupa informasi mengenai satu pohon mangrove yang akan ditanam ketika konsumen telah membeli satu produk dari Sisa Benang.

Penulis: Zahra Shafira

Baca juga: Fast Fashion Perlu Segera Kita Tinggalkan

Baca juga: Produk Ramah Lingkungan, 15 Merek Ini Usung Mode Berkelanjutan!

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sisa-benang-olah-kain-sisa-pabrik-jadi-mode-berkelanjutan/feed/ 0
Salire Studio: Statement Wear dari Daur Ulang Sampah Tekstil https://www.greeners.co/gaya-hidup/salire-studio-mode-daur-ulang-sampah-tekstil/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=salire-studio-mode-daur-ulang-sampah-tekstil https://www.greeners.co/gaya-hidup/salire-studio-mode-daur-ulang-sampah-tekstil/#respond Wed, 09 Dec 2020 10:00:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=30399 Penyebab sepuluh persen dari kerusakan bumi adalah pewarnaan pakaian serta pengolahaannya. Inilah alasan Salire Studio terbentuk.]]>

Sebagai manusia, pasti kita lebih suka hal yang serba cepat. Performa gawai yang cepat, makanan cepat saji, atau produk fesyen yang membutuhkan waktu produksi yang singkat dengan harga terjangkau. Namun, lingkungan lagi-lagi menjadi korban untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat yang inginnya serba cepat.

Limbah Pakaian

Industri mode adalah salah satu contoh industri yang harus memenuhi kebutuhan pelanggan dengan lebih instan. Perkembangan tren di dunia yang terus menerus berubah karena modernisasi membuat jumlah produksinya semakin besar. Mereka kemudian memasarkan produknya kepada konsumen sehingga pembeli menggunakan produk mode tersebut. Tetapi, banyak dari produk mode yang akhirnya terbuang dan berakhir jadi limbah tak terurai yang dapat menjadi racun bagi lingkungan. Setiap kali tren mode berganti maka setiap toko dan konsumen akan mengganti koleksi mereka sehingga makin banyak pakaian yang menjadi limbah.

Industri pakaian merupakan industri kedua yang paling merusak lingkungan. Penyebab sepuluh persen dari kerusakan bumi adalah pewarnaan pakaian serta pengolahaannya. Industri mode mengeluarkan limbah kimia yang mengandung racun, serta menggunakan air dan energi yang banyak, sehingga industri mode memberikan konstribusi besar dalam pemanasan global. Masyarakat dan lingkungan telah terkena dampak oleh pancaran karbon sehingga menyebabkan pergantian cuaca yang ekstrim.

Salire Studio: Berdiri Pada Masa Pandemi Covid-19

Inilah alasan Salire Studio terbentuk. Industri fesyen, apalagi fast fashion, menghasilkan limbah yang sangat banyak dan berbahaya. Syifa Sekar Amira, pemilik bisnis Salire Studio sekaligus mahasiswi bidang tekstil dan fesyen terinspirasi dari pengalamannya sebagai mahasiswi di Institut Teknologi Bandung.

“Setelah menyelesaikan suatu tugas, limbah tekstil yang dihasilkan cukup banyak. Belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan fast fashion yang memproduksi massal semua barang-barangnya. Saya ingin membuat clothing line dimana saya tahu tiap sampah tekstil di daur ulang dengan benar, dan pastinya tanpa packaging plastik.”

Saat ini, mulai banyak juga perusahaan atau wirausaha yang mengusung fesyen berkelanjutan. Syifa sebagai mahasiswa tekstil dan fesyen ingin membuat brand fesyen yang sustainable sejak 2019, namun dia merasa produknya perlu identitas dan ciri khas agar menarik. Maka dari itu, dia membuat Salire dengan model yang unik dan penuh warna.

“Kebanyakan sustainable fashion brand, mengusung konsep basic atau daily wear. Saya baru kesampaian mendirikan Salire Studio sekitar bulan Mei-Juni saat awal pandemi.”

Selain ramah lingkungan, Salire Studio juga memberikan desain orisinal. Semua desain Salire merupakan statement wear. Pakaiannya membuat orang lain tertarik karena modelnya yang mencolok. Saat ini, produk Salire terdiri dari atasan, bawahan, outerwear, reusable tote bag, dan juga scrunchie yang terbuat dari sampah kain.

“Produk-produk tersebut merupakan produk yang biasanya dicari di situs fast fashion, jadi kami membuat alternatif yang lebih kreatif dan juga sustainable,” ujar Syifa.

Koleksi pertamanya bernama Positano, yang terinspirasi dari keindahan kota Positano di Italia. Paduan warnanya bermacam-macam, seperti kuning, biru, hijau, merah, dan ungu; yang biasanya kita lihat pada pop art. Walaupun menggunakan kombinasi unsur seni yang rumit, tetapi Salire berhasil mengemasnya menjadi sebuah kreasi mode yang apik.

Salire Studio: Mode Daur Ulang Sampah Tekstil

Mengusung ‘statement wear’, pendiri Salire memilih motif dan corak yang unik sebagai ciri khas dalam produksi fesyen berkelanjutan mereka. Foto: Instagram Salire Studio.

Baca juga: Kenali Bahan Kimia Berbahaya Dalam Pakaian

Dari Pakaian, Tas, sampai Ikat Rambut Kekinian

Positano terdiri dari berbagai jenis pakaian. Ada salerno two toned bow blazer yang merupakan blazer wanita 2 warna dengan bow belt, yang terbuat dari linen dan katun terpilih. Ada juga naples cropped blouse, fiorentino two-toned satin tank top dan nocella two-toned satin tank top yang terbuat dari satin daur ulang dan dapat Anda kenakan dengan 2 cara, dengan strap yang bisa Anda sesuaikan dengan tubuh Anda. Selain itu ada juga capri satin ruched tank top dan lemon ruched tank top yang stretchable dan strapnya juga bisa Anda sesuaikan. Tidak ketinggalan sorrento mermaid skirt, rok bergaya mermaid dengan ruffle pada bagian bawahnya dan detail kerut di bagian depan.

Selain atasan dan bawahan, ada juga amalfi mini tote bag dan maria mini tote bag dengan bahan kanvas yang bisa Anda pakai untuk membawa barang-barang Anda. Ada juga fluffy scrunchies yang cantik dengan warna-warna salem, dan terbuat dari 100% sampah kain. Jika Anda senang menggunakan scarf, ada juga pilihan maria printed scarf yang menggunakan bahan voal premium.

Harga produk-produk Salire berkisar antara Rp 39.000,- sampai dengan Rp 319.000,-. Anda bisa membeli produk ini lewat instagram dan beberapa toko daring.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Artikel Ilmiah

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/salire-studio-mode-daur-ulang-sampah-tekstil/feed/ 0