wadah makanan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/wadah-makanan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 15 Mar 2025 06:22:58 +0000 id hourly 1 Peneliti BRIN Ubah Pelepah Pisang Jadi Wadah Makanan https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-ubah-pelepah-pisang-jadi-wadah-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-brin-ubah-pelepah-pisang-jadi-wadah-makanan https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-ubah-pelepah-pisang-jadi-wadah-makanan/#respond Sat, 15 Mar 2025 06:22:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=46152 Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan bahan baku alternatif untuk wadah makanan yang berasal dari pelepah pisang. Inisiatif ini menjadi salah satu opsi ramah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan bahan baku alternatif untuk wadah makanan yang berasal dari pelepah pisang. Inisiatif ini menjadi salah satu opsi ramah lingkungan yang dapat mengurangi volume sampah plastik dan styrofoam.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Sukma Surya Kusumah, menjelaskan bahwa inovasi ini memanfaatkan teknologi biomassa. Teknologi ini bekerja dengan mengubah berbagai serat tumbuhan menjadi material untuk wadah atau kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Food container berbasis pelepah pisang sangat aman untuk produk-produk kering,” ujarnya di Cibinong, Selasa (4/3).

Ia menambahkan bahwa hasil pengujian migrasi menunjukkan bahwa tidak ada perpindahan bahan kimia dari food container ke dalam produk makanan. Hal ini karena pelepah pisang sudah melalui proses untuk menghilangkan bahan-bahan kimia berbahaya yang mungkin terkandung di dalamnya.

BACA JUGA: BRIN Hadirkan Inovasi Pengolahan Air Siap Minum di Kawasan Pesisir

Pembuatan wadah makanan ini berbasis bahan serat atau lignoselulosa yang dapat diperoleh dari berbagai tumbuhan selain batang pelepah pisang. Contoh tumbuhan tersebut antara lain pelepah pinang, serat nanas, serat kenaf, dan tanaman jagung.

Tumbuhan-tumbuhan tersebut pada dasarnya mengandung serat atau selulosa. Kandungan ini memiliki manfaat baik sebagai bahan penguat untuk wadah makanan.

Selain itu, Sukma bersama salah satu siswa bimbingannya, Aprilia, telah mengembangkan matrik atau perekat berbahan kitosan untuk membuat food container berbasis bahan alam. Kitosan bisa mereja peroleh dari cangkang kepiting, udang, tulang, atau sirip ikan, sehingga sangat ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan.

Peneliti BRIN mengubah pelepah pisang jadi wadah makanan. Foto: BRIN

Peneliti BRIN mengubah pelepah pisang jadi wadah makanan. Foto: BRIN

Belum Meluas

Sementara itu, secara komersial, penggunaan food container berbasis pelepah pisang ini masih terbatas. Namun, dari segi teknologi, komposit untuk pembuatan wadah makanan yang menggunakan bahan alam lainnya—seperti pelepah pinang—sudah dimanfaatkan oleh PT. Jentera Garda Futura. Saat ini, perusahaan tersebut telah memasarkan wadah berbahan pelepah pisang di Jakarta, Bandung, dan Bali.

BACA JUGA: Pengusaha Muda di Nepal Mengaspal Jalan dari Sampah Plastik

Sukma mengatakan, kebanyakan wadah atau kemasan makanan yang umum di kalangan masyarakat saat ini berbahan gabus sintetis, plastik, dan karton yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan food container pelepah pisang membutuhkan treatment yang berbeda daripada yang berbahan plastik konvensional.

Selain itu, food container berbahan alam ini juga menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah limbah plastik yang sulit terdegradasi oleh mikroorganisme. Sebaliknya, food container alami ini hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk terurai setelah dibuang. Dengan demikian, wadah ini bisa menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peneliti-brin-ubah-pelepah-pisang-jadi-wadah-makanan/feed/ 0
Rantang, Wadah “Jadul” yang Bisa Kurangi Sampah https://www.greeners.co/aksi/rantang-wadah-jadul-yang-bisa-kurangi-sampah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rantang-wadah-jadul-yang-bisa-kurangi-sampah https://www.greeners.co/aksi/rantang-wadah-jadul-yang-bisa-kurangi-sampah/#respond Thu, 04 May 2023 04:15:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=39943 Jakarta (Greeners) – Halal bihalal menjadi sarana silaturahmi setelah Idulfitri berlalu. Masyarakat pun punya berbagai cara untuk melakukannya. Salah satunya tradisi unik rantangan atau membawa makanan dalam wadah rantang. Tradisi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Halal bihalal menjadi sarana silaturahmi setelah Idulfitri berlalu. Masyarakat pun punya berbagai cara untuk melakukannya. Salah satunya tradisi unik rantangan atau membawa makanan dalam wadah rantang.

Tradisi ini warga Kelurahan Kukusan, Depok lakukan akhir April 2023 lalu. Tradisi ini dikenal dengan Lebaran Kukusan, sebuah acara silaturahmi atau halal bihalal warga Kelurahan Kususan, Kecamatan Beji, Kota Depok. Kearifan lokal semacam ini warga lakukan dengan membawa rantang, kemudian menggelar tikar, dan menyantap makanan bersama-sama.

Tradisi ini mencerminkan penggunaan wadah ramah lingkungan sejak tempo dulu. Sebab, rantang dapat masyarakat gunakan berulang kali dan meminimalisir tumpukan sampah.

Tradisi Rantang Miliki Sejarah Panjang

Menurut Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputran, setiap etnik memiliki tradisi di dalam kehidupannya dan biasanya tersimpan dalam memori masyarakat.

“Ketika ada rasa rindu kepada tradisi yang telah melekat, maka mereka muncul dalam kondisi atau siklus hidupnya. Jadi tradisi rantang ini sudah ada sejak dulu. Kemudian, rantang telah memberikan nilai kontan terhadap rasa rindu itu,” kata Yahya kepada Greeners, Kamis (4/5).

Tradisi rantangan merupakan kearifan lokal adat Betawi sebelum Islam masyarakat Betawi kenal. Rantang adalah tentang menjaga tali silaturahmi antarsesama. Tradisi ini diberikan kepada orang-orang yang kita hormati seperti orang tua dan guru.

Kearifan lokal ini biasanya ada saat Lebaran. Masyarakat Betawi akan membawa wadah ini berisi aneka makanan ke rumah keluarga dan kerabatnya. Setelah itu, mereka saling tukar makanan. Biasanya, makanan dalam rantang berisi nasi, semur, ketupat, dodol, dan sayur pepaya. 

Dulu, tradisi ini disebut “nyuguh” atau sajen. Namun, seiring berjalannya waktu, Islam pun datang dan masyarakat mengembangkan kebiasaan “nyuguh” saat Lebaran. Hal ini adalah simbol perayaan hari besar dan kekuatan persaudaraan.

Silahturahmi rantangan warga Kukusan, Beji, Depok. Foto: Berita Depok

Populer Sejak Tahun 1960-an

Rantang merupakan wadah yang masyarakat gunakan sehari-hari tahun 1960an. Sebab, tempo dulu belum ada wadah sekali pakai seperti sekarang.

“Tahun 60an isu lingkungan belum merebak karena memang alat dan wadah yang masyarakat gunakan pada saat itu adalah rantang,” kata Yahya.

Tidak hanya rantang, masyarakat Betawi tempo dulu juga mengandalkan wadah dari alam, karena ekosistem masih terjaga kuat. Wadah ini kita kenal dengan besek dan bongsang yang terbuat dari bambu. Besek biasanya untuk wadah kue kering atau makanan mentah, sedangkan bongsang wadah untuk buah-buahan.

Wadah kuno ini populer pada era tahun 1960an dan telah berikan manfaat untuk mendukung tren ramah lingkungan karena dapat dipakai ulang. 

Melihat hal tersebut, Yahya menambahkan dengan memanfaatkan apa yang sudah menjadi tradisi ini, justru telah membantu perjuangan aktivis lingkungan hidup.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/rantang-wadah-jadul-yang-bisa-kurangi-sampah/feed/ 0
Wadah Makanan Ramah Lingkungan Dari Bahan Unik Yang Ada Di Pasaran https://www.greeners.co/ide-inovasi/wadah-makanan-ramah-lingkungan-dari-bahan-unik-yang-ada-di-pasaran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wadah-makanan-ramah-lingkungan-dari-bahan-unik-yang-ada-di-pasaran https://www.greeners.co/ide-inovasi/wadah-makanan-ramah-lingkungan-dari-bahan-unik-yang-ada-di-pasaran/#respond Wed, 02 Jun 2021 02:55:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=32818 Bukan rahasia lagi jika penggunaan kemasan makanan berbahan plastik dapat menambah permasalahan lingkungan. Selain sulit terurai, kemasan plastik juga dapat membahayakan hidup hewan dan dapat mencemari isi makanan itu sendiri.]]>

Guna mengurangi dampak buruk dari penggunaan plastik, para pelaku industri kuliner kini berlomba-lomba untuk menciptakan wadah makanan ramah lingkungan. Mereka berusaha untuk menghadirkan wadah makanan yang dapat terurai secepat mungkin dengan tanah. Wadah tersebut diharapkan tidak akan menjadi tumpukan sampah yang membahayakan alam di kemudian hari.

Untuk menciptakan wadah makanan ramah lingkungan, tentunya diperlukan beberapa bahan baku khusus yang bersifat biodegradable. Jika biasanya wadah makanan terbuat dari plastik atau styrofoam, beberapa produsen justru membuat wadah makanan dari rumput laut, tebu, hingga dedak gandum! Unik sekali, bukan?

Lalu, seperti apa ya kira-kira wujud dari wadah makanan berbahan dasar unik tersebut? Daripada penasaran, yuk simak penjelasan di bawah ini!

1. Zero, Wadah Makanan Ramah Lingkungan dari Cangkang Biji Kakao

Perancang produk ramah lingkungan asal Inggris, PriestmanGoode, menciptakan wadah makanan bernama Zero yang terbuat dari cangkang biji kakao. Mereka menggunakan cangkang biji kakao yang berasal dari limbah perusahaan kosmetik. Untuk menciptakan wadah makanan ramah lingkungan tersebut, PriestmanGoode mengolah cangkang biji kakao dengan bahan organik lainnya seperti kulit nanas dan miselium. Meskipun terbuat dari bahan-bahan organik yang terkesan mudah hancur, Zero dapat kita cuci dan kita pakai berulang kali.

2. Biotrem, Wadah Makanan Unik dari Dedak Gandum

Perusahaan asal Polandia, Biotrem, menghadirkan koleksi wadah makanan yang terbuat dari dedak gandum! Untuk mengubah dedak gandum menjadi wadah makanan ramah lingkungan, Biotrem akan mencampur dedak tersebut sedikit air dan bahan-bahan organik lainnya. Setelah itu, campuran dari dedak gandum tersebut akan diproses dengan menggunakan alat bertekanan dan bersuhu tinggi.

Karena terbuat dari bahan alami berupa dedak gandum, wadah makanan Biotrem dapat terurai secara menyeluruh dalam waktu 30 hari. Jika kita simpan dalam tempat yang sejuk dan kering, wadah Biotrem ini dapat kita gunakan dalam jangka waktu yang cukup lama.

3. Biopack, Wadah Telur Berbahan Bibit Tanaman

Jika biasanya wadah telur terbuat dari kertas atau plastik, George Bosnas, seorang desainer asal Yunani, justru membuat wadah telur dari campuran bibit tanaman bernama Biopack! Bagaimana bisa?

Untuk membuat wadah Biopack, George memerlukan bahan baku berupa bubur kertas bekas, pati, dan bibit tanaman. Kedua bahan tersebut nantinya akan bercampur menjadi satu, lalu dibentuk hingga menjadi wadah telur. Setelah kita gunakan, wadah telur Biopack dapat langsung kita tanam ke tanah untuk menumbuhkan tanaman.

4. Avani, Wadah Makanan Berbahan Ampas Tebu

Di Indonesia sendiri terdapat perusahaan hijau bernama Avani yang telah menciptakan wadah makanan ramah lingkungan. Mereka berhasil mengembangkan produk berupa wadah makanan berbahan dasar ampas tebu. Mengutip dari situs resmi mereka, wadah makanan berbahan ampas tebu tersebut dapat hancur dan melebur dengan tanah hanya dalam waktu beberapa bulan.

5. Plépah, Wadah Makanan Ramah Lingkungan Unik dari Pelepah Pinang

Daun pinang sudah sejak lama sering kita manfaatkan sebagai obat dan pembungkus makanan, namun bagaimana dengan bagian pelepahnya? Di tangan Plépah, pelepah pinang yang tampak tak bernilai dapat berubah menjadi wadah makanan ramah lingkungan yang unik dan lain dari biasanya. Wadah makanan Plépah merupakan wadah yang tahan panas dan tahan air, sehingga bisa kita gunakan dalam microwave atau oven. Selain itu, wadah makanan yang satu ini juga dapat terurai secara alami dalam waktu 60 hari.

Penulis: Anggi R. Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/wadah-makanan-ramah-lingkungan-dari-bahan-unik-yang-ada-di-pasaran/feed/ 0
Plépah, Wadah Makanan Alternatif yang Bisa Jadi Kompos https://www.greeners.co/ide-inovasi/plepah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=plepah https://www.greeners.co/ide-inovasi/plepah/#respond Sun, 20 Dec 2020 08:00:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30579 Plépah, hadir menjadi alternatif solusi kemasan makanan yang ramah lingkungan bagi para pelaku industri F&B dan Hospitality.]]>

Plépah merupakan alternatif dari kemasan plastik yang merusak lingkungan. Bisnis ramah lingkungan ini juga menerapkan metode fair trade yang melibatkan petani dari Desa Mendis, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. 

Tahun 1900an, penemuan material inovatif berupa plastik bertujuan untuk meringankan permasalahan lingkungan yaitu deforestasi. Material baru yang terjangkau dan tahan lama ini saat itu bermaksud menggantikan produksi kantong kertas. Namun, ketika umur material tidak sebanding dengan masa penggunaan, hal ini menjadi masalah baru untuk lingkungan karena sulitnya proses degradasi oleh alam. Apalagi penggunaan kemasan makanan yang per harinya sangat besar dengan adanya jasa antar makanan yang sangat beragam.

Plépah, Alternatif Solusi Kemasan Makanan

Produk Plépah hadir menjadi pilihan kemasan makanan yang ramah lingkungan bagi para pelaku industri F&B dan Hospitality di saat munculnya regulasi pemerintah untuk pengurangan kemasan yang merusak lingkungan.

“Plépah adalah salah satu inisiatif pemberdayaan masyarakat di area konservasi melalui pengolahan produk hasil hutan non-kayu berupa limbah pertanian pohon pinang yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi alternatif untuk masyarakat.” tutur Rengkuh Banyu Mahandaru, selaku Co-Founder dari Plépah kepada Greeners melalui surel.

Wadahnya terbuat dari pelapah daun pinang, yang dapat terurai secara alami paling lama 60 hari di tanah. Produk ini bisa menahan panas hingga 200 derajat celcius, aman jika ingin Anda pakai dalam microwave atau oven. Selain itu, ia juga tahan air.

Tersedia dalam 2 bentuk, piring dan kemasan. Piringnya berukuran 23 cm x 23 cm x 1.5 cm. Kemasannya berukuran 20 cm x 13 cm x 6 cm. Wadah ini terbuat dari material alami, maka akan terdapat variasi warna dan corak pada setiap alat makan.

Bisnis Eco-sentris dari Desa Mendis

Usaha kemasan alternatif ini berawal dari kisah Pak Supri, seorang petani di desa Mendis, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Dia melawan gengsinya mengambil limbah pelepah pinang di kebun-kebun warga yang selama ini dianggap sampah dan sudah tidak bisa diolah kembali. Siapa sangka limbah pelepah pinang yang diambilnya dapat menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis tinggi?

Plépah pun memulai proyeknya dari masyarakat dan petani di desa Pak Supri. Mereka bekerja sama dengan para petani dan masyarakat lokal untuk mewujudkan produk ramah lingkungan ini. Kini, petani dari daerah lain, seperti dari Desa Teluk Kulbi, Jambi, juga menjadi penyuplai pinang untuk perusahaan ini.

Inovasi limbah pelepah pinang menjadi wadah makanan ini tak hanya dapat terurai oleh alam dan ramah lingkungan, ia juga memiliki memiliki desain yang sederhana dan menarik. Bisnis ini mengedepankan keberlanjutan dan berusaha untuk bertanggung jawab dalam setiap rantai produksi produknya.

Cara pikir yang mendominasi sistem saat ini banyak yang ego-sentris, di mana manusia dan penghasilan ekonomi menjadi fokus utama. Namun, dengan banyaknya bencana yang terjadi terkait dengan krisis iklim beberapa tahun terakhir, kita dituntut untuk berpikir bagaimana mengikutsertakan ekologi dalam perekonomian dan pembagian profit. Transisi ke pemikiran eco-sentris inilah yang melahirkan wadah makanan yang terbuat dari pelepah daun pinang.

Tanah Air sebagai Penghasil Pinang

Pemilihan tumbuhan pinang berawal dari basis Indonesia, sebagai negara agraria, yang bergantung kepada para petani. Nusantara sendiri adalah salah satu eksportir pinang terbesar ke negara-negara tetangga. Dalam mengadvokasikan produk kemasan yang ramah lingkungan, Plépah mengangkat kembali peran petani dan masyarakat sebagai pilar utama dalam proses pengolahan material. 

Selain itu, Indonesia memiliki potensi dan jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang sangat besar untuk dikembangkan. HHBK merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunannya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Salah satu HHBK adalah tanaman Pinang.

Pinang memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi. Selain buah dan biji, limbah daun pelepah pinang pun memiliki nilai ekonomis yang bermanfaat bagi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Pada saat yang sama, pemanfaatan ini sebanding dengan pengurangan ancaman terhadap kawasan dan jasa lingkungan.

plepah

Plépah tersedia dalam dua bentuk, piring dan kemasan makanan untuk dibawa pulang. Foto: Plépah.

Pembuatan Produk Plépah

Dalam menciptakan produknya, mereka menghubungkan desain, teknologi, sosial dan lingkungan menjadi inovasi melibatkan peran pemberdayaan masyarakat.

“Pada tahapan awal kami melakukan pensortiran material pelepah pinang berdasar ukuran dan warna, kemudian kami lakukan proses sterilisasi dan pencucian, setelah itu kami simpan material pelepah pinang dalam satu ruangan untuk menurunkan kadar kelembaban, lalu material dicetak dengan suhu diatas 200 c, setelah proses pembentukan kami lakukan tahapan pengecekan akhir sebelum di tahap akhir kami lakukan sterilisasi menggunakan sinar uv,” ujar Rengkuh.

Pembuatan produknya ada di Micro Sharing Factory dengan Koperasi Mendis Maju Bersama di Mendis, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mereka bekerja dengan warga lokal untuk produksi wadah makanan yang ramah lingkungan. 

Dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi pada komoditas pinang, perlu sebuah konsep yang tepat dan inovatif, upayanya untuk memberikan kemampuan pada pelaku produksi (Koperasi) di daerah terpencil dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya.

Maka dari itu Plépah mengusung konsep “Manufaktur Mikro” dengan menitikberatkan penguatan teknologi untuk merancang mesin inovatif dan efisien, dalam hal perakitan, perawatan, suku cadang dan yang lebih utama ialah penghematan biaya produksi dan transportasi. Sehingga hasil produk akan lebih terjangkau serta mudah terserap dan oleh pasar. Pendekatan ini memungkinkan sistem produksi yang lebih fleksibel, adaptif dan berkelanjutan.

Plépah secara terperinci merancang seluruh aspek bisnis menjadi suatu sistem pendekatan human centered maka dari  itu mereka memilih proses mikro manufaktur untuk membuat produknya. Mindset mereka adalah memperbesar kapasitas produksi, tapi memperbanyak titik produksi agar lebih banyak komunitas yang terdampak positif secara kemandirian ekonomi.

Distribusi Penjualan Wadah Makanan Ramah Lingkungan

Pemasaran produk mereka saat ini fokus dalam transaksi B2B. “Pasar utama kami saat ini berada Jakarta dan Bali dengan dengan mitra awal kami adalah F&B yang memiliki kesamaan value mengenai eco conscious, fair trade, social impact.” kata Rengkuh.

Produk ini telah melakukan market test respon selama setahun, yang ternyata masyarakat terima dengan sangat positif.

“Terlihat dari antusiasme dari masyarakat terhadap produk Plépah. Selain itu dari data yang kami dapat sudah lebih dari 1200 F&B & Hospitality menyatakan ketertarikan dan permintaan. Hal itu pula yang mendorong kami untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi dengan economic of scale dari Plépah diharapkan kami bisa memberikan harga yang terjangkau dipasar dan bisa berkompetisi dengan kemasan yang sudah beredar pada saat ini” tambah Rengkuh.

plepah

Produk ini telah melakukan market test respon selama setahun, yang ternyata masyarakat terima dengan sangat positif. Foto: Plépah.

Baca juga: Kertas Kemasan dari Ampas Tebu dan Kulit Jagung

Cara Mengompos Produk

Produk peralatan makan sekali pakai ini cocok untuk bisnis makanan tanpa khawatir pengemasannya akan mencemari lingkungan. Mereka pun memberikan langkah-langkah mengompos produk Plépah lewat websitenya. Berikut adalah alat-alat yang Anda butuhkan dan cara mengomposnya:

Alat yang Anda butuhkan:

  • Material coklat untuk memproduksi karbon: daun kering, Plépah food packaging, dahan dan ranting, serbuk gergaji atau serpihan kayu, filter kopi, kapas dan kain wool, robekan kertas, kardus, atau koran dan kulit kacang.
  • Material hijau untuk memproduksi nitrogen: potongan rumput dan dedaunan, potongan buah dan sayur, rambut, serat, teh, dan bubuk kopi.
  • Air

Langkah-langkah:

  • Pilih tempat kering dan teduh yang dekat dengan sumber air: ukuran yang ideal untuk area kompos adalah dengan kedalaman 1m dan ketinggian 1m. Anda dapat membeli tempat sampah, menggunakan kawat ayam, atau memisahkan area tanah untuk tumpukan kompos.
  • Buat lapisan berseling antara material hijau dan coklat: usahakan agar perbandingan material adalah 3 coklat dan 1 hijau. Pastikan potongan material yang besar sudah terpotong-potong kecil.
  • Jaga kompos agar tetap lembab, namun tidak terlalu basah: kelembaban dapat membantu pembusukan bahan-bahan organik.
  • Aduk campuran kompos secara berkala untuk memberikan aerasi: ini dapat membantu mempercepat proses kompos dan menjaga udara tetap masuk. Sehingga dapat mengurangi terjadinya bau tidak sedap.
  • Tumpukan kompos akan lebih hangat ketika material membusuk: adanya cairan itu memungkinkan/ jangan khawatir, itu artinya kompos Anda berhasil. Sekarang hanya perlu menunggu.
  • Selesai, mari bercocok tanam: ketika material berwarna gelap tanpa ada sisa sampah makanan, itu berarti kompos sudah siap. Tambahkan ke halaman dan kebun atau kemanapun yang dapat memberikan manfaat baik untuk tanah.

Plépah dapat digunakan beberapa kali untuk makanan kering. Setelah menggunakan, pastikan Anda membersihkannya dengan lap basah dan segera keringkan atau jemur. Penyimpanannya di tempat yang bersih dan kering.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Website Plépah

Instagram Plépah

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/plepah/feed/ 0