Plépah, Wadah Makanan Alternatif yang Bisa Jadi Kompos

Reading time: 5 menit
plepah
Plepah, Wadah Makanan Alternatif yang Bisa Jadi Kompos. Foto: Plépah.

Plépah merupakan alternatif dari kemasan plastik yang merusak lingkungan. Bisnis ramah lingkungan ini juga menerapkan metode fair trade yang melibatkan petani dari Desa Mendis, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. 

Tahun 1900an, penemuan material inovatif berupa plastik bertujuan untuk meringankan permasalahan lingkungan yaitu deforestasi. Material baru yang terjangkau dan tahan lama ini saat itu bermaksud menggantikan produksi kantong kertas. Namun, ketika umur material tidak sebanding dengan masa penggunaan, hal ini menjadi masalah baru untuk lingkungan karena sulitnya proses degradasi oleh alam. Apalagi penggunaan kemasan makanan yang per harinya sangat besar dengan adanya jasa antar makanan yang sangat beragam.

Plépah, Alternatif Solusi Kemasan Makanan

Produk Plépah hadir menjadi pilihan kemasan makanan yang ramah lingkungan bagi para pelaku industri F&B dan Hospitality di saat munculnya regulasi pemerintah untuk pengurangan kemasan yang merusak lingkungan.

“Plépah adalah salah satu inisiatif pemberdayaan masyarakat di area konservasi melalui pengolahan produk hasil hutan non-kayu berupa limbah pertanian pohon pinang yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi alternatif untuk masyarakat.” tutur Rengkuh Banyu Mahandaru, selaku Co-Founder dari Plépah kepada Greeners melalui surel.

Wadahnya terbuat dari pelapah daun pinang, yang dapat terurai secara alami paling lama 60 hari di tanah. Produk ini bisa menahan panas hingga 200 derajat celcius, aman jika ingin Anda pakai dalam microwave atau oven. Selain itu, ia juga tahan air.

Tersedia dalam 2 bentuk, piring dan kemasan. Piringnya berukuran 23 cm x 23 cm x 1.5 cm. Kemasannya berukuran 20 cm x 13 cm x 6 cm. Wadah ini terbuat dari material alami, maka akan terdapat variasi warna dan corak pada setiap alat makan.

Bisnis Eco-sentris dari Desa Mendis

Usaha kemasan alternatif ini berawal dari kisah Pak Supri, seorang petani di desa Mendis, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Dia melawan gengsinya mengambil limbah pelepah pinang di kebun-kebun warga yang selama ini dianggap sampah dan sudah tidak bisa diolah kembali. Siapa sangka limbah pelepah pinang yang diambilnya dapat menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis tinggi?

Plépah pun memulai proyeknya dari masyarakat dan petani di desa Pak Supri. Mereka bekerja sama dengan para petani dan masyarakat lokal untuk mewujudkan produk ramah lingkungan ini. Kini, petani dari daerah lain, seperti dari Desa Teluk Kulbi, Jambi, juga menjadi penyuplai pinang untuk perusahaan ini.

Inovasi limbah pelepah pinang menjadi wadah makanan ini tak hanya dapat terurai oleh alam dan ramah lingkungan, ia juga memiliki memiliki desain yang sederhana dan menarik. Bisnis ini mengedepankan keberlanjutan dan berusaha untuk bertanggung jawab dalam setiap rantai produksi produknya.

Cara pikir yang mendominasi sistem saat ini banyak yang ego-sentris, di mana manusia dan penghasilan ekonomi menjadi fokus utama. Namun, dengan banyaknya bencana yang terjadi terkait dengan krisis iklim beberapa tahun terakhir, kita dituntut untuk berpikir bagaimana mengikutsertakan ekologi dalam perekonomian dan pembagian profit. Transisi ke pemikiran eco-sentris inilah yang melahirkan wadah makanan yang terbuat dari pelepah daun pinang.

Tanah Air sebagai Penghasil Pinang

Pemilihan tumbuhan pinang berawal dari basis Indonesia, sebagai negara agraria, yang bergantung kepada para petani. Nusantara sendiri adalah salah satu eksportir pinang terbesar ke negara-negara tetangga. Dalam mengadvokasikan produk kemasan yang ramah lingkungan, Plépah mengangkat kembali peran petani dan masyarakat sebagai pilar utama dalam proses pengolahan material. 

Selain itu, Indonesia memiliki potensi dan jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang sangat besar untuk dikembangkan. HHBK merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunannya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Salah satu HHBK adalah tanaman Pinang.

Pinang memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi. Selain buah dan biji, limbah daun pelepah pinang pun memiliki nilai ekonomis yang bermanfaat bagi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Pada saat yang sama, pemanfaatan ini sebanding dengan pengurangan ancaman terhadap kawasan dan jasa lingkungan.

plepah

Plépah tersedia dalam dua bentuk, piring dan kemasan makanan untuk dibawa pulang. Foto: Plépah.

Pembuatan Produk Plépah

Dalam menciptakan produknya, mereka menghubungkan desain, teknologi, sosial dan lingkungan menjadi inovasi melibatkan peran pemberdayaan masyarakat.

“Pada tahapan awal kami melakukan pensortiran material pelepah pinang berdasar ukuran dan warna, kemudian kami lakukan proses sterilisasi dan pencucian, setelah itu kami simpan material pelepah pinang dalam satu ruangan untuk menurunkan kadar kelembaban, lalu material dicetak dengan suhu diatas 200 c, setelah proses pembentukan kami lakukan tahapan pengecekan akhir sebelum di tahap akhir kami lakukan sterilisasi menggunakan sinar uv,” ujar Rengkuh.

Pembuatan produknya ada di Micro Sharing Factory dengan Koperasi Mendis Maju Bersama di Mendis, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mereka bekerja dengan warga lokal untuk produksi wadah makanan yang ramah lingkungan. 

Dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi pada komoditas pinang, perlu sebuah konsep yang tepat dan inovatif, upayanya untuk memberikan kemampuan pada pelaku produksi (Koperasi) di daerah terpencil dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya.

Maka dari itu Plépah mengusung konsep “Manufaktur Mikro” dengan menitikberatkan penguatan teknologi untuk merancang mesin inovatif dan efisien, dalam hal perakitan, perawatan, suku cadang dan yang lebih utama ialah penghematan biaya produksi dan transportasi. Sehingga hasil produk akan lebih terjangkau serta mudah terserap dan oleh pasar. Pendekatan ini memungkinkan sistem produksi yang lebih fleksibel, adaptif dan berkelanjutan.

Plépah secara terperinci merancang seluruh aspek bisnis menjadi suatu sistem pendekatan human centered maka dari  itu mereka memilih proses mikro manufaktur untuk membuat produknya. Mindset mereka adalah memperbesar kapasitas produksi, tapi memperbanyak titik produksi agar lebih banyak komunitas yang terdampak positif secara kemandirian ekonomi.

Distribusi Penjualan Wadah Makanan Ramah Lingkungan

Pemasaran produk mereka saat ini fokus dalam transaksi B2B. “Pasar utama kami saat ini berada Jakarta dan Bali dengan dengan mitra awal kami adalah F&B yang memiliki kesamaan value mengenai eco conscious, fair trade, social impact.” kata Rengkuh.

Produk ini telah melakukan market test respon selama setahun, yang ternyata masyarakat terima dengan sangat positif.

“Terlihat dari antusiasme dari masyarakat terhadap produk Plépah. Selain itu dari data yang kami dapat sudah lebih dari 1200 F&B & Hospitality menyatakan ketertarikan dan permintaan. Hal itu pula yang mendorong kami untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi dengan economic of scale dari Plépah diharapkan kami bisa memberikan harga yang terjangkau dipasar dan bisa berkompetisi dengan kemasan yang sudah beredar pada saat ini” tambah Rengkuh.

plepah

Produk ini telah melakukan market test respon selama setahun, yang ternyata masyarakat terima dengan sangat positif. Foto: Plépah.

Baca juga: Kertas Kemasan dari Ampas Tebu dan Kulit Jagung

Cara Mengompos Produk

Produk peralatan makan sekali pakai ini cocok untuk bisnis makanan tanpa khawatir pengemasannya akan mencemari lingkungan. Mereka pun memberikan langkah-langkah mengompos produk Plépah lewat websitenya. Berikut adalah alat-alat yang Anda butuhkan dan cara mengomposnya:

Alat yang Anda butuhkan:

  • Material coklat untuk memproduksi karbon: daun kering, Plépah food packaging, dahan dan ranting, serbuk gergaji atau serpihan kayu, filter kopi, kapas dan kain wool, robekan kertas, kardus, atau koran dan kulit kacang.
  • Material hijau untuk memproduksi nitrogen: potongan rumput dan dedaunan, potongan buah dan sayur, rambut, serat, teh, dan bubuk kopi.
  • Air

Langkah-langkah:

  • Pilih tempat kering dan teduh yang dekat dengan sumber air: ukuran yang ideal untuk area kompos adalah dengan kedalaman 1m dan ketinggian 1m. Anda dapat membeli tempat sampah, menggunakan kawat ayam, atau memisahkan area tanah untuk tumpukan kompos.
  • Buat lapisan berseling antara material hijau dan coklat: usahakan agar perbandingan material adalah 3 coklat dan 1 hijau. Pastikan potongan material yang besar sudah terpotong-potong kecil.
  • Jaga kompos agar tetap lembab, namun tidak terlalu basah: kelembaban dapat membantu pembusukan bahan-bahan organik.
  • Aduk campuran kompos secara berkala untuk memberikan aerasi: ini dapat membantu mempercepat proses kompos dan menjaga udara tetap masuk. Sehingga dapat mengurangi terjadinya bau tidak sedap.
  • Tumpukan kompos akan lebih hangat ketika material membusuk: adanya cairan itu memungkinkan/ jangan khawatir, itu artinya kompos Anda berhasil. Sekarang hanya perlu menunggu.
  • Selesai, mari bercocok tanam: ketika material berwarna gelap tanpa ada sisa sampah makanan, itu berarti kompos sudah siap. Tambahkan ke halaman dan kebun atau kemanapun yang dapat memberikan manfaat baik untuk tanah.

Plépah dapat digunakan beberapa kali untuk makanan kering. Setelah menggunakan, pastikan Anda membersihkannya dengan lap basah dan segera keringkan atau jemur. Penyimpanannya di tempat yang bersih dan kering.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Website Plépah

Instagram Plépah

Top
You cannot copy content of this page