water - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/water/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 31 Jul 2020 17:35:29 +0000 id hourly 1 Water Less Levi, Koleksi Jeans yang Dibuat dengan Teknik Hemat Air https://www.greeners.co/gaya-hidup/water-less-levi-koleksi-jeans-yang-dibuat-dengan-teknik-hemat-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=water-less-levi-koleksi-jeans-yang-dibuat-dengan-teknik-hemat-air https://www.greeners.co/gaya-hidup/water-less-levi-koleksi-jeans-yang-dibuat-dengan-teknik-hemat-air/#respond Fri, 31 Jul 2020 23:56:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=28042 Levi’s memulai inovasi Water<Less Jeans yang menggunakan lebih dari 20 teknik penyempurnaan inovatif dengan menghemat sekitar 28 hingga 96 persen air.]]>

Jeans menjadi pakaian yang digemari oleh banyak kalangan bahkan telah mendunia. Setiap orang pasti pernah memakai dan memiliki jeans. Namun, dalam proses pembuatan jeans memerlukan sangat banyak air mulai dari menanam dan memanen kapas sebagai bahan dasar hingga pewarnaan dan penyempurnaan.

Menurut buku Sustainability Fashion: Past, Present, and Future setidaknya dibutuhkan 7.000 liter air atau sekitar 1.800 galon sebagai standar industri untuk menanam kapas dalam memulai proses pembuatan jeans.

Baca juga: Perhiasan Elegan dari Bahan Upcycle

Levi’s Former Head of Global Supply Chain, Geert Peeters mengatakan bahwa 49 persen air digunakan untuk menumbuhkan kapas dan 45 persen lainnya digunakan ketika pelanggan mencuci jeans mereka. Sedangkan enam persen sisanya digunakan selama proses pembuatan jeans.

Pada 2011, Levi’s memulai inovasi Water<Less Jeans, yakni sebuah koleksi yang menggunakan lebih dari 20 teknik penyempurnaan inovatif dengan menghemat sekitar 28 hingga 96 persen air. Teknik ini menggunakan bidal air dan sedikit ozon untuk mendapatkan kelembutan bahan yang biasanya memanfaatkan pelembut kain. Meskipun begitu hasil akhir yang diperoleh tetap sama.

Water Less Levi

Foto: levi.com

Kelangkaan air menjadi salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan sehingga pada 2019, Levi membuat 69 persen produknya dengan Water<Less. Namun, hal itu saja tidak cukup, untuk meningkatkan proses produksi menjadi lebih berkelanjutan, mereka mengundang 20 pesaing ke Eureka Innovation Lab dan berbagi dan belajar tentang praktik hemat air.

Dengan memberikan inovasi Water<Less perusahaan berharap dapat bersama-sama menjadi industri yang menggunakan lebih sedikit air dalam memproduksi barang dan membuat dampak global yang positif.

Baca juga: Sneakers Berbahan Daur Ulang

Levi bertekad untuk terus menggunakan produksi yang berkelanjutan. Di tahun ini merek mode Levi menargetkan untuk membuat 80 persen produknya menggunakan teknik Water<Less.

Desainer perusahaan mengatakan berusaha untuk menciptakan karya yang disukai oleh masyarakat, tetapi memakai lebih sedikit air pada tahap akhir. Hal ini yang menyebabkan perusahaan mengembangkan lebih dari 20 teknik inovatif.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/water-less-levi-koleksi-jeans-yang-dibuat-dengan-teknik-hemat-air/feed/ 0
Rehabilitation for Heavily Polluted Pladen Lake Starts This March https://www.greeners.co/english/rehabilitation-for-heavily-polluted-pladen-lake-starts-this-march/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rehabilitation-for-heavily-polluted-pladen-lake-starts-this-march https://www.greeners.co/english/rehabilitation-for-heavily-polluted-pladen-lake-starts-this-march/#respond Thu, 14 Mar 2019 14:28:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_english&p=22804 Ministry of Environment and Forestry is planning to rehabilitate the heavily polluted Pladen Lake of Depok. The 1.27 hectares lake filled with black water, bad odour and sedimentation.]]>

Jakarta (Greeners) – Ministry of Environment and Forestry is planning to rehabilitate the heavily polluted Pladen Lake of Depok, said a senior official in Jakarta on Tuesday (12/03/2019).

Karliansyah, Director General for Pollution and Environmental Damage Control at Ministry of Environment and Forestry, said that the plan is a follow up of the minister’s last visit to Depok in February, which she received reports on the devastated condition of the 1.27 hectares lake with black water, bad odour and sedimentation.

“When [we] got there for the first, the smell so awful it could make people faint because Pladen Lake is turned into domestic waste landfills of residents living in Beji and Pancoran Mas, which comprise of more less 6,000 people,” he said. “Other fact is that the actual cover of Pladen Lake is seven hectares, however, it’s only 1.27 hectares as residents developing in Pladen Lake and ironically, those houses are legally certified.”

He said at least 1,500 families live in the banks of Pladen Lake.

READ ALSO: Minister of Environment and Forestry Calls for Reducing Household Waste 

Furthermore, he said that the rehabilitation of Pladen Lake will cover four principles, — to prevent waste coming to the lake, to restore the lake’s carrying capacity through dredging, to improve water quality by increasing oxygen level to speed up natural clean-up process, and transform the lake as public space to strengthen community engagement–.

READ ALSO: Citarum River Clean Up Focusing on Waste Water Installation 

Local report allegedly stating that grey water, one of waste water, is coming from residents in RW14, RW03, and RW02 of Beji subdistrict with a total of 1,500 families and unknown source which runs through from Pancoran Mas.

Karlianysah said that Pladen Lake’s carrying capacity is 1,148 kilograms of Biochemical Oxygen Demand (BOD) per year, however, from the field checking, it reaches up to 11,348 kilograms BOD/year. Consequently, they need to reduce 89.97 percent of pollution.

Hence, on March, the ministry starts the rehabilitation process by installing nanobubble machine resulting to the increase of dissolve oxygen to 11 mg/L.

Apart from water quality rehabilitation, Ministry of Public Works and People’s Housing, communal wastewater treatment plant, Pladen Lake development for tourism, and institutional capacity building.

“For domestic waste, the plan is to built wastewater treatment plant, four times five square meter for water to be managed before dumped, but we have not found the lands yet. Currently, we will just immediately dredging mud done by local administration.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/rehabilitation-for-heavily-polluted-pladen-lake-starts-this-march/feed/ 0
Duta Kampus Gelar “Plant Tree, Plan Life” Untuk RTH Jakarta https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/#respond Mon, 01 Dec 2014 04:19:36 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=6600 Jakarta (Greeners) – Perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut adanya pemanfaatan lahan untuk pembangunan hunian, akibatnya semakin sedikit lahan yang dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut adanya pemanfaatan lahan untuk pembangunan hunian, akibatnya semakin sedikit lahan yang dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini, kota DKI Jakarta hanya memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 9,8 %, padahal batas minimal yang ditetapkan Undang‐Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa ruang terbuka hijau harus memiliki luas minimal sebesar 30% dari luas wilayah kota.

Para duta kampus yang tergabung dalam Young On Top Campus Ambassadors melalui Divisi Green, mencoba memberikan solusi atas masalah tersebut melalui Kampanye “Plant Tree, Plant Life” yang diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar ikut berpartisipasi meningkatkan jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di DKI Jakarta dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami tanaman hijau.

Vice Project Officer dari kegiatan Plant Tree, Plant Life, Erwin Setiawan mengungkapkan bahwa keberadaan RTH yang minim di Kota Jakarta sudah sangat terasa. Terlebih jumlah pohon-pohon hidup yang ada semakin lama seperti tidak diperhatikan oleh masyarakat. Padahal keberadaan Ruang Terbuka Hijau sangat berperan penting sebagai paru‐paru kota.

“Melalui kampanye ini kami ingin membantu menambah jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan DKI Jakarta serta turut menjalin kolaborasi yang baik dengan berbagai pihak, khususnya komunitas lingkungan hidup dan komunitas anak muda agar terus konsisten mengampanyekan gaya hidup hijau serta ramah lingkungan,” jelas Erwin saat dijumpai oleh Greeners di Jakarta, Minggu (30/11).

Turut hadir dalam kampanye tersebut Miss Earth Indonesia Water 2014, Fallentina Cotton,  yang mengapresiasi aksi Plant Tree, Plant Life ini bersama dengan puluhan komunitas lainnya. Menurut Fallen, kampanye yang dilakukan oleh Young On Top Green tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak muda terhadap lingkungan. Terlebih ketika kampanye ini dilakukan langsung oleh anak-anak muda.

Selain itu, ia juga berpendapat bahwa pembagian bibit pohon yang dilakukan pada saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor kali ini sangat membantu dalam meningkatkan perhatian masyarakat. Menurutnya, dengan membagikan bibit pohon, sama saja seperti memberikan sedikit pancingan untuk masyarakat agar mulai melakukan kegiatan penanaman pohon dengan dimulai dari lingkungan tempat tinggal sendiri.

Berbagai Komunitas yang turut serta dalam Plant Tree, Plan Life Untuk RTH Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Berbagai Komunitas yang turut serta dalam Plant Tree, Plan Life Untuk RTH Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kampanye Plant Tree, Plant Life juga melibatkan puluhan komunitas lingkungan hidup yang ada di Jabodetabek dengan membagikan 200 bibit pohon seperti, rambutan, pohon tanjung, salam, mahoni, matoa, sirsak dan alpukat.

Selain pembagian bibit tanaman, kampanye ini diisi dengan diskusi melingkar yang dilakukan bersama beberapa komunitas lingkungan hidup dengan tema ‘Memaksimalkan kolaborasi komunitas hijau dalam mewujudkan gaya hidup yang ramah lingkungan”, Instagram competition serta Deklarasi Hijau untuk mengamalkan eco living dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

(G09)

 

]]>
https://www.greeners.co/aksi/young-top-campus-ambassadors-gelar-plant-tree-plan-life-untuk-rth-jakarta/feed/ 0
Billboard Yang Mengubah Udara Menjadi Air https://www.greeners.co/ide-inovasi/billboard-yang-mengubah-udara-menjadi-air/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=billboard-yang-mengubah-udara-menjadi-air https://www.greeners.co/ide-inovasi/billboard-yang-mengubah-udara-menjadi-air/#respond Mon, 14 Apr 2014 10:48:03 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_technology&p=4338 Sebuah Universitas Teknologi di Lima Peru UTEC (University of Engineering and Technology of Peru) menciptakan sebuah proyek yang memberikan dampak luar biasa terhadap warganya. Sebuah papan iklan (Billboard) yang bisa […]]]>

Sebuah Universitas Teknologi di Lima Peru UTEC (University of Engineering and Technology of Peru) menciptakan sebuah proyek yang memberikan dampak luar biasa terhadap warganya.

Sebuah papan iklan (Billboard) yang bisa mengubah udara menjadi air. Dampak dari proyek ini luar biasa karena memberikan solusi bagi sebagian besar warga kota Lima yang hidup dengan keterbatasan sumber air bersih yang layak minum.

Lima adalah Ibukota Peru yang merupakan kota terbesar kedua di dunia yang terletak di wilayah padang pasir. Dimana masih banyak warganya yang kekurangan sumber air layak minum. Intensitas hujan di kota ini pun sangat rendah, bahkan hampir samasekali tidak ada hujan dalam setahun. Akan tetapi kota ini memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi yaitu sebesar 98%.

Atas dasar hal tersebut UTEC bekerjasama dengan sebuah agensi marketing global FCB (Foote, Cone & Belding) menciptakan sebuah proyek untuk memanen kelembaban udara yang tinggi tersebut dan kemudian secara otomatis diolah menjadi air layak minum. Proyek ini juga sekaligus menandai dibukanya gelombang pendaftaran tahun 2013 bagi para calon mahasiswa UTEC.

UTEC_Skema_ Vimeo_Capture

Billboard ini bekerja dengan menyerap udara sekitar yang memiliki kelembaban tinggi lalu mengolahnya melalui sistem reverse osmosis dan menampung hasil filtrasi berupa air pada sebuah tanki berukuran 96 liter.

Hingga saat ini papan iklan tersebut berhasil memproduksi ribuan liter air sejak diluncurkan dan mendapatkan sambutan yang sangat tinggi dari warga Lima. Billboard yang menghabiskan biaya pembangunan sebesar 1200 dollar ini kini menjadi ikon terbaru kota Lima Peru.

 

sumber : FCB.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/billboard-yang-mengubah-udara-menjadi-air/feed/ 0
Monyet Wendit Kian Tergusur https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=monyet-wendit-kian-tergusur https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/#respond Fri, 24 Feb 2012 03:00:12 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2234 Malang (Greeners) – Keberadaan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) sebagai ikon pariwisata Wendit Water Park di Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur kian tergusur dengan pembangunan tempat wisata tersebut sejak akhir […]]]>

Malang (Greeners) – Keberadaan monyet ekor panjang (macaca fascicularis) sebagai ikon pariwisata Wendit Water Park di Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur kian tergusur dengan pembangunan tempat wisata tersebut sejak akhir tahun lalu. Perkembangbiakan monyet menjadi tak teratur karena pola makannya terbiasa diberi makanan manusia.

Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid mengatakan dalam satu tahun biasanya monyet melahirkan anak satu kali, namun berdasarkan pemantauan ProFauna, jumlah monyet di Wana Wisata Air Wendit sejak lima tahun terakhir tidak berkembang secara baik. “Dalam satu tahun ada yang tidak bunting,” kata Rosek, Rabu (22/02).

Rosek menambahkan, saat ini keberadaan monyet di tempat wisata itu lebih sulit ditemui dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kalau dulu, kata Rosek, orang pergi ke Wendit pasti ingin melihat monyet, tapi sekarang keberadaan monyet tersebut kian berkurang sejak adanya pembangunan tempat wisata tersebut.

Berdasarkan data ProFauna Indonesia, hasil pemantauan tiga bulan terakhir jumlahnya sekitar 200 ekor Monyet. Jumlah itu tidak jauh berbeda dengan data beberapa tahun sebelumnya. ProFauna berharap pihak pengelola wisata melestarikan keberadaan monyet tersebut.

Saat ini, kata Rosek menjelaskan, pola hidup monyet di tempat wisata itu sudah bergeser dari yang bergantung terhadap alam sekarang sudah bergeser bergantung kepada makanan para pengunjung yang datang. Bahkan, sejak lahir monyet di Wendit sudah terbiasa dengan makanan manusia sehingga sulit mengubah kebiasaan itu.

Hal ini pernah terjadi ketika tempat ini ditutup untuk pembangunan, monyet-monyet yang terbiasa diberi makan oleh manusia menjadi kelaparan karena tidak ada pengunjung yang datang. Akibatnya, monyet-monyet tersebut menjadi kelaparan dan menjarah ke perkampungan di sekitar tempat wisata yang sudah terkenal dengan keberadaan monyet ini.

Karena itu, ProFauna berharap pihak pengelola tempat wisata ini tetap memperhatikan kelangsungan hidup monyet ini, sebab, keberadaan monyet di tempat wisata ini mempunyai nilai lebih karena Wisata Wendit sudah terkenal dengan adanya monyet-monyet yang selalu menyapa pengunjung.

Para pengunjung yang biasa datang ke tempat wisata tersebut juga mengaku kalau jumlah monyet di tempat itu tidak sebanyak dulu. Menurut Saiful, salah satu pengunjung yang berasal dari Pakisaji, Malang mengaku sewaktu dia kecil dulu kalau musim libur sekolah sering ke Wendit untuk melihat Monyet dan mandi di air sumber yang ada di sana. “Sekarang monyetnya tidak sebanyak dulu,” ujarnya saat menemani keluarganya berkunjung ke tempat wisata Wendit. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/monyet-wendit-kian-tergusur/feed/ 0