Pangan - Greeners.Co https://www.greeners.co/gaya-hidup/category/pangan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 19 Jan 2026 06:17:24 +0000 id hourly 1 Tren Kukusan Makin Populer, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari? https://www.greeners.co/gaya-hidup/tren-kukusan-makin-populer-amankah-dikonsumsi-setiap-hari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tren-kukusan-makin-populer-amankah-dikonsumsi-setiap-hari https://www.greeners.co/gaya-hidup/tren-kukusan-makin-populer-amankah-dikonsumsi-setiap-hari/#respond Mon, 19 Jan 2026 06:17:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=48010 Kukusan kini kian digemari di tengah banyaknya makanan olahan industri. Tren positif ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi real food. Namun, apakah makanan kukus aman kita konsumsi setiap hari? […]]]>

Kukusan kini kian digemari di tengah banyaknya makanan olahan industri. Tren positif ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi real food. Namun, apakah makanan kukus aman kita konsumsi setiap hari?

Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah, mengatakan bahwa makanan kukus aman, bahkan dianjurkan dikonsumsi setiap hari sebagai bagian dari pola makan harian. Namun demikian, prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi tetap perlu diperhatikan.

“Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang dan mengikuti tren, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal,” ucap Ai melansir Berita IPB, Kamis (15/1).

Menurut Ai, berbagai jenis pangan dalam bentuk kukusan memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Contohnya, jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi harian.

Pengolahan Dikukus Lebih Sehat

Sementara itu, Ai mengungkapkan bahwa metode pengolahan dengan cara dikukus atau direbus cenderung lebih sehat dibandingkan menggoreng. “Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori,” ucapnya.

Suhu pengukusan yang relatif lebih rendah juga membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral. Sebab, bahan pangan tidak kontak langsung dengan air, kehilangan vitamin dan mineral menjadi lebih kecil.

Ai menjelaskan, sejumlah bahan pangan sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat, sementara sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli, wortel, dan labu kuning kaya vitamin serta antioksidan.

Kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan edamame, menjadi sumber protein nabati dan mineral, sedangkan jagung manis mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral. Telur juga termasuk bahan pangan yang cocok dikukus sebagai sumber protein hewani.

Sebagian besar bahan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain mendukung pemenuhan gizi, pengolahannya dengan cara dikukus juga berkontribusi pada penguatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/tren-kukusan-makin-populer-amankah-dikonsumsi-setiap-hari/feed/ 0
Yuk, Kenali 4 Fakta tentang Bahan Makanan Berkelanjutan! https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-kenali-4-fakta-tentang-bahan-makanan-berkelanjutan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yuk-kenali-4-fakta-tentang-bahan-makanan-berkelanjutan https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-kenali-4-fakta-tentang-bahan-makanan-berkelanjutan/#respond Sun, 09 Jun 2024 03:06:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=43969 Food and Agriculture Organisation (FAO) menyebutkan, sepertiga gas rumah kaca global berasal dari sistem pangan dunia, dihitung mulai dari produksi, pengemasan, distribusi, hingga limbah. Itu berarti, pilihan kita terhadap suatu […]]]>

Food and Agriculture Organisation (FAO) menyebutkan, sepertiga gas rumah kaca global berasal dari sistem pangan dunia, dihitung mulai dari produksi, pengemasan, distribusi, hingga limbah. Itu berarti, pilihan kita terhadap suatu bahan makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan bumi. Nah, kita perlu ikut berkontribusi untuk menurunkan gas rumah kaca dengan memilih bahan makanan berkelanjutan.

Menurut FAO, pola makan berkelanjutan adalah pola makan yang meminimalkan dampak lingkungan, berkontribusi terhadap keamanan pangan dan gizi, serta menjaga kesehatan generasi sekarang dan masa depan.

BACA JUGA: Food Sustainesia Ajak Generasi Muda Mengenal Sistem Keberlanjutan Pangan

CEO dan Co-Founder Eathink, Jaqualine Wijaya mengatakan langkah yang bisa masyarakat lakukan adalah mengadopsi pola makan berkelanjutan, termasuk memilih bahan pangan yang juga berkelanjutan. Ia menguraikan, pola makan berkelanjutan perlu dipandang secara holistik. Hal itu tidak bisa masyarakat lihat dari satu aspek saja, melainkan dari banyak aspek, termasuk lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Lalu, seperti apa bahan makanan yang masuk dalam kriteria berkelanjutan? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Harga terjangkau dan mudah didapat

Makanan yang diproduksi oleh petani lokal merupakan bahan pangan yang ramah lingkungan. Sebab, bahan makanan lokal tidak harus melalui proses perjalanan yang panjang, sebelum kemudian sampai di tangan konsumen.

Hal tersebut berbeda dengan pangan impor yang harus melalui jalur distribusi panjang, menggunakan banyak kemasan untuk memastikan keamanannya, dan membutuhkan waktu penyimpanan cukup lama yang berpotensi menurunkan nilai gizi.

“Keuntungan dari berbelanja produk pangan lokal adalah meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, karena aksi ini dapat mengurangi jejak karbon, sekaligus mendukung produsen lokal, baik petani maupun nelayan. Keuntungan lainnya adalah produk lokal biasanya berlimpah, mudah sekali kita dapatkan di sekitar kita, dan harganya sangat terjangkau,” kata Jaqualine.

2.  Berdampak baik terhadap lingkungan

Praktik penanaman bahan pangan, misalnya padi, yang konvensional masih menggunakan pupuk dari bahan kimia dan pestisida, yang berpotensi merusak tanah. Bahan kimia tersebut menyumbang jejak karbon.

Di samping itu, lahan pertanian padi masih ada yang didapatkan dari pembukaan lahan dengan pembakaran hutan. Padahal, nasi dari beras masih menjadi sumber karbohidrat yang paling banyak masyarakat konsumsi.

BACA JUGA: 5 Tips Membuat Kebiasaan Makan Lebih Berkelanjutan

Nah, kamu bisa memilih beras yang ramah lingkungan, yaitu beras organik. Beras tersebut tidak menggunakan bahan kimia dalam penanamannya dan tidak menggunakan air yang tercemar.

Jaqualine menambahkan, untuk memastikan suatu bahan makanan, carilah kemasan yang melekatkan label organik atau sustainable food. Label tersebut menandakan bahwa bahan pangan tersebut sudah mendapatkan sertifikasi organik.

“Atau, kalau membeli protein hewani dari daging sapi, carilah yang berlabel grass-fed dan telur berlabel cage-free,” imbunya.

3. Berlimpah nutrisi

Dari segi kesehatan, bahan makanan berkelanjutan adalah yang sarat muatan nutrisi. Menurut Jaqualine, langkah awal yang bisa masyarakat lakukan untuk mempraktikkan pola makan berkelanjutan adalah memilih dan mengonsumsi makanan bergizi.

“Masyarakat jangan hanya melihat dari proses produksi dan distribusi yang dinilai ramah lingkungan. Mengonsumsi makanan bergizi merupakan aspek penting dalam pola makan berkelanjutan,” katanya.

Jaqualine menyebutkan, terdapat banyak cara untuk mendapatkan asupan makanan yang bergizi tinggi. Ia mencontohkan panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan. Panduan ini menganjurkan agar dalam satu piring terdapat 50% buah dan sayur, 50% karbohidrat dan protein.

“Untuk memenuhi anjuran porsi buah dan sayur, kita bisa menggunakan bahan makanan lokal yang berbeda jenis, sehingga mendapatkan nutrisi optimal dari berbagai sumber pangan. Jadi, sebaiknya tidak memilih makanan yang itu-itu saja. Keragaman isi piring kita akan mendukung biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan menjaga kekayaan alam,” kata Jaqualine.

4. Berbahan dasar tanaman

Sejak beberapa tahun belakangan ini, para pencinta lingkungan ramai-ramai mendorong masyarakat untuk mengonsumsi bahan makanan berbahan dasar tanaman (plant-based food). Sehingga, banyak orang mempraktikkan urban farming, memanfaatkan lahan sempit di rumah untuk menanam sayuran. Namun, mengapa para pegiat lingkungan menyarankan kita untuk mengurangi konsumsi daging?

Alasannya, hal itu akan meningkatkan permintaan produk berbahan dasar hewani yang akan berujung pada terlalu banyak lahan untuk produksi.

“Jejak karbon dari produksi bahan pangan hewani bisa mencapai 50 kali produksi bahan pangan nabati,” kata Jaqualine.

Eathink telah mengumpulkan sejumlah data terkait konsumsi produk hewani, seperti daging dan ikan. Saat ini, terjadi penurunan stok ikan laut yang berkelanjutan. Selain itu, eksploitasi yang berlebihan terhadap satwa liar, termasuk ikan telah mengancam keanekaragaman hayati.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/yuk-kenali-4-fakta-tentang-bahan-makanan-berkelanjutan/feed/ 0
Awas! Merek Cokelat Hitam Ini Mengandung Logam Berat https://www.greeners.co/gaya-hidup/awas-merek-cokelat-hitam-ini-mengandung-logam-berat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=awas-merek-cokelat-hitam-ini-mengandung-logam-berat https://www.greeners.co/gaya-hidup/awas-merek-cokelat-hitam-ini-mengandung-logam-berat/#respond Thu, 22 Dec 2022 04:28:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=38355 Cokelat bermanfaat baik bagi tubuh kita. Selain rasanya yang manis dan lezat, cokelat hitam yang berasal dari biji kakao mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral. Namun, kini sobat Greeners harus meningkatkan […]]]>

Cokelat bermanfaat baik bagi tubuh kita. Selain rasanya yang manis dan lezat, cokelat hitam yang berasal dari biji kakao mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral. Namun, kini sobat Greeners harus meningkatkan kewaspadaan karena ada beberapa merek cokelat hitam yang mengandung logam.

Studi terbaru dari Consumer Reports menemukan beberapa merek cokelat hitam populer mengandung logam berat tingkat tinggi. Para peneliti mendeteksi kandungan timbal dan kadmium di antara beberapa merek cokelat.

Para ilmuwan dari organisasi advokasi nirlaba mengambil sebanyak 28 merek cokelat terkenal. Menurut laporan tersebut, jika hanya mengkonsumsi sebanyak satu ons (28 gram) cokelat per hari maka melebihi tingkat yang direkomendasikan untuk logam berat tertentu dalam 23 merek sampel tersebut.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa merek-merek yang menjadi sampel termasuk yang paling populer, termasuk Trader Joe’s, Hershey’s, dan Lindt.

Seorang peneliti dari Consumer Reports, Tunde Akinleye mengatakan, logam tersebut memiliki potensi dampak kesehatan yang sangat besar.

“Logam paling berisiko pada wanita hamil dan anak kecil. Jika anak-anak mengkonsumsi logam tersebut, mereka dapat menghambat perkembangan otak,” kata dia.

Selain anak-anak, kandungan logam ini juga berbahaya bagi orang dewasa. Mereka akan berisiko tinggi hipertensi, kerusakan ginjal, dan masalah reproduksi.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar merek cokelat yang peneliti temukan telah melewati batas kandungan logam berat. Akinleye menyebut, studi ini juga menemukan lima merek yang mengandung kadar kadmium dalam batas aman.

Dugaan Cemaran Cokelat saat Proses Pertanian

Dalam penelitian tersebut, Consumer Reports menggunakan standar California untuk tingkat timbal maksimum yang diperbolehkan pada 0,5 mikrogram dan kadmium pada 4,1 mikrogram.

Sayangnya, beberapa merek mengandung lebih dari 100 % dari jumlah yang disarankan. Misalnya, cokelat hitam Lindt mengandung timbal dan kadmium 166 % lebih banyak daripada yang diizinkan di California.

Juru bicara Grup Lindt & Sprüngli mengatakan, perusahaan memperhatikan keselamatan. Namun, perusahaan tidak dapat menjelaskan tingginya kadar logam berat.

Christopher Gindlesperger dari National Confectioners Association menghubungkan tingginya kadar timbal dan kadmium dalam cokelat dengan proses pertaniannya. Dalam penyelidikan pada tahun 2008, ia mengatakan bahwa timbal dan kadmium berasal dari tanah tempat kakao tersebut tumbuh.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber : Inhabitat

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/awas-merek-cokelat-hitam-ini-mengandung-logam-berat/feed/ 0
5 Bahan Alami untuk Variasi Infused Water https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-bahan-alami-variasi-infused-water/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-bahan-alami-variasi-infused-water https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-bahan-alami-variasi-infused-water/#respond Thu, 23 Feb 2017 05:01:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15983 Perkembangan gaya hidup yang sehat kini membuat kegiatan minum air mineral menjadi lebih menyenangkan, salah satunya dengan infused water. Selain buah, ada beberapa rempah dan sayur yang dapat digunakan untuk membuat infused water, lho.]]>

Sebagai makhluk yang selalu bergerak, kita senantiasa kehilangan air dari tubuh melalui keringat atau urin. Padahal, lebih dari 50 persen tubuh manusia terdiri dari cairan. Untuk itu, otoritas kesehatan umumnya merekomendasikan untuk mengonsumsi 8 gelas air mineral yang setara dengan 2 liter atau setengah gallon sehari.

Perkembangan gaya hidup yang sehat kini membuat kegiatan minum air mineral atau air putih menjadi lebih menyenangkan, salah satunya dengan infused water. Membuat infused water cukup mudah, cukup menambahkan beberapa potong buah ke dalam air mineral dan diamkan beberapa saat sebelum diminum. Selain buah, ada beberapa rempah dan sayur yang dapat digunakan untuk membuat infused water, lho. Berikut beberapa bahan alami yang bisa kamu gunakan untuk membuat infused water:

infused water

Ilustrasi: pixabay.com

1. Jeruk lemon
Vitamin C dalam jeruk dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, senyawa flavonoid dan serat yang juga terkandung di dalam keluarga Citrus ini berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Untuk membuat lemon infused water, celupkan beberapa potongan jeruk lemon ke dalam air minum. Jika suka, lemon infused water bisa ditambahkan dengan sedikit madu.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-bahan-alami-variasi-infused-water/feed/ 0
Kopi Liberika Tungkal Komposit, Kopi dari Lahan Gambut https://www.greeners.co/gaya-hidup/kopi-liberika-tungkal-komposit-kopi-lahan-gambut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kopi-liberika-tungkal-komposit-kopi-lahan-gambut https://www.greeners.co/gaya-hidup/kopi-liberika-tungkal-komposit-kopi-lahan-gambut/#respond Wed, 09 Nov 2016 10:21:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=15152 Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi telah membudidayakan kopi secara turun-temurun sekitar 70 tahun yang lalu. Budidaya kopi tersebut telah berkontribusi menyelamatkan lahan gambut dari degradasi.]]>

Tanjung Jabung Barat (Greeners) – Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi telah membudidayakan kopi secara turun-temurun sekitar 70 tahun yang lalu. Kopi tersebut ditanam pada lahan gambut dengan kondisi tanah asam yang cukup tinggi. Uniknya, masyarakat Tanjung Jabung Barat ini tidak menyadari bahwa budidaya kopi yang telah dilakukan sejak tahun 1940-an tersebut telah berkontribusi menyelamatkan lahan gambut dari degradasi.

Bimo Primono, fasilitator masyarakat dari Komunitas Konservasi Indonesia Warsi mengatakan bahwa tumbuhan kopi yang ditanam oleh masyarakat memiliki karakteristik yang ramah terhadap gambut dengan tingkat toleransi yang cukup tinggi. Menurut Bimo, dibanding sawit, menanam kopi tidak perlu menguras air gambut hingga kering karena tumbuhan tersebut masih bisa menerima level air setinggi 40 sampai 60 cm dari gambut ke permukaan.

“Jadi tidak perlu harus membuat kanal, cukup dengan parit-parit kecil yang disebut masyarakat sebagai parit cacing dengan lebar tiga jengkal dan kedalaman tiga jengkal pula. Lalu parit besar untuk menampung air gambut berukuran satu depa atau 170 cm dengan kedalaman satu setengah depa,” katanya menjelaskan.

kopi liberika tungkal

Biji kopi Liberika Tungkal yang sudah dikemas. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jenis kopi yang ditanam oleh masyarakat Tanjung Jabung Barat adalah kopi Liberika Tungkal Komposit dan telah mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Sertifikat itu telah diberikan pada Jumat (30/10) di Jakarta. Berdasarkan UU No. 15/2001 Jo.PP No. 51/2007 pula Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) menyadari perlunya untuk mengajukan permohonan Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Liberika ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM, dengan nama Kopi Liberika Tungkal Jambi.

Sumarno, Ketua Kelompok Tani Sri Utomo III Parit Tomo, Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, menjelaskan bahwa tanaman kopi ini memiliki keunikan, dimana buah kopi liberika lebih besar dibandingkan buah kopi arabika maupun robusta.

Kopi ini pun telah dikenal di pasar domestik maupun internasional (khususnya Malaysia) karena telah memiliki reputasi yang baik dari aspek mutu dan citarasa maupun dari harga pasar, dimana harga kopi liberika lebih tinggi dibandingkan jenis kopi arabika maupun robusta.

“Jadi pengembangan kopi liberika ini memang murni dilakukan oleh para petani yang tergabung dalam enam kelompok tani kopi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat,” tuturnya.

Menurut Sumarno, para petani mulai bekerjasama dalam upaya memperbaiki mutu dan memikirkan tentang cara-cara untuk melindungi produk kopi mereka.

kopi liberika tungkal

Sumarno, Ketua Kelompok Tani Sri Utomo III Parit Tomo. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Saat ini yang menjadi tantangan berat menurut Bimo adalah kebiasaan masyarakat yang sering mengikuti tren tanam demi kebutuhan ekonomi. Tren tanam ini biasanya diikuti oleh para petani yang mudah tergiur oleh harga komoditi yang menjanjikan seperti sawit.

“Selain itu, pemasaran untuk jenis kopi ini pun masih sulit. Saat ini kami masih mencari pasar baik itu dalam bentuk komoditi maupun produk agar masyarakat tidak tergiur dan berpindah untuk menanam jenis tumbuhan lain yang merusak wilayah gambut,” katanya.

Berdasarkan uji citarasa yang telah dianalisa oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia, Kopi Liberika Tungkal Jambi (OBKP) memiliki citarasa herbal, rubbery, ratter sourish and too high acidity dengan final score notation speciality grade (82,75). Sedangkan kopi olah basah kopi madu (OBKM) memiliki citarasa herbal, rubbery, sweet, strong aroma, heavybody and very balance dengan final score notation specialty grade (83,5).

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kopi-liberika-tungkal-komposit-kopi-lahan-gambut/feed/ 0
Lentil, Alternatif Sumber Protein Nabati Kaya Gizi https://www.greeners.co/gaya-hidup/lentil-alternatif-sumber-protein-nabati-kaya-gizi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lentil-alternatif-sumber-protein-nabati-kaya-gizi https://www.greeners.co/gaya-hidup/lentil-alternatif-sumber-protein-nabati-kaya-gizi/#respond Mon, 10 Oct 2016 09:11:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14928 Di Indonesia, lentil (Lens culinaris) mungkin kalah populer dibanding kacang hijau. Namun kacang-kacangan yang bentuknya menyerupai lensa ini bisa menjadi sumber pangan alternatif pengganti protein hewani.]]>

Kandungan protein nabati yang terdapat dalam kacang-kacangan seringkali membuat bahan pangan ini dikonsumsi sebagai sumber protein pengganti bagi orang yang tidak mengonsumsi protein hewani dari daging atau susu. Salah satu sumber protein nabati ini adalah lentil.

Lentil (Lens culinaris) memang kurang populer di Indonesia, namun tanaman ini sudah ditemukan di Mesir sejak 2400SM. Dan sekarang banyak dibudidayakan di Timur Tengah dan India. Masuk bagian dari keluarga Legume, lentil dalam setiap butirnya mengandung air (10%), protein (22,7%), serat (13%), karbohidrat (50%), abu (2,60%) dan gula (2%), asam folat dan beberapa kandungan mineral didalamnya, mulai dari kalium, fosfor, magnesium, kalsium, natrium, zat besi, dan selenium. Lentil juga mengandung vitamin B1, B2, B3, B4 dan B6, vitamin E juga vitamin C, K, J.

“Lentil dengan segala kandungannya bisa menjadi alternatif sumber protein yang baik termasuk untuk orang vegetarian dan juga buat orang yang sedang diet,” kata Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, Prof. Dr. Hardinsyah, MS.

Untuk orang yang baru memulai diet, mengonsumsi lentil sangat baik karena kandungan protein dan seratnya yang tinggi bisa memberikan kalori yang cukup bagi tubuh. Serat yang tinggi juga baik untuk mengatur aktivitas usus dan mengontrol tingkat kolesterol dalam darah.

Namun Dosen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor ini mengingatkan, sebanyak dan sebaik apapun kandungan gizi yang dikandungnya, seseorang tidak cukup hanya mengonsumsi lentil sebagai asupan tubuhnya terus-menerus setiap hari, masih perlu pangan lain sebagai pelengkap. “Sebagai contoh, lentil tidak mengandung asam amino dan vitamin B12, sementara itu terdapat pada tempe,” ujar Hardinsyah.

Butuh Inovasi

Lentil memiliki bentuk yang khas, bulat pipih sedikit cembung dikedua sisinya, menyerupai bentuk lensa. Sementara untuk tekstur dan rasanya gurih lembut seperti kacang hijau. Lentil sendiri terdiri atas tiga jenis, yaitu lentil kuning, hijau, dan merah. Umumnya lentil kuning yang banyak diolah menjadi makanan.

Baik di Timur Tengah maupun India, lentil umumnya disajikan dalam bentuk sup, namun sering juga dijadikan sebagai campuran salad atau kebab. Di India lentil juga diolah menjadi panganan yang disebut puree atau dal.

Kurang populernya lentil di Indonesia, menurut Hardinsyah, salah satunya dikarenakan rasanya yang kurang cocok dan belum ada inovasi pengolahan pangan yang sesuai dengan lidah orang Indonesia. “Kalau dibuat sup, menurut saya lentil kalah bersaing dengan bubur kacang hijau yang sudah lebih dulu ada,” katanya.

Menurut Hardinsyah, lentil bisa digunakan sebagai isian makanan seperti kue, roti atau bisa juga makanan khas indonesia seperti mochi. “Harus kreatif menyesuaikan kebiasaan orang Indonesia, biar bisa populer,” tambahnya.

Kurang populernya lentil juga berujung pada sulitnya lentil ditemukan dipasaran Indonesia. Saat ini hanya supermarket tertentu toko-toko masakan India yang menjual lentil. Jika melihat negara asalnya yang merupakan kawasan sub-tropis seperti Indonesia, lentil tentu bisa dibudidayakan juga di Indonesia. “Pasti bisa ditanam di Indonesia, meskipun secara kuantitas tidak bisa sebanyak di Timur Tengah sana,” katanya.

Penulis: AT/G39

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/lentil-alternatif-sumber-protein-nabati-kaya-gizi/feed/ 0
Mandiri Pangan dengan Berkebun https://www.greeners.co/gaya-hidup/mandiri-pangan-dengan-berkebun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mandiri-pangan-dengan-berkebun https://www.greeners.co/gaya-hidup/mandiri-pangan-dengan-berkebun/#respond Thu, 21 Jan 2016 08:07:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12596 Semakin banyaknya makanan atau bahan pangan impor di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia masih belum mandiri dalam sektor pangan. Berkebun atau "home farming" dapat menjadi solusi dalam kondisi ini.]]>

Jakarta (Greeners) – Berkebun atau saat ini biasa disebut home farming, merupakan salah satu budaya agraris masyarakat Indonesia. Namun, maraknya bangunan beton di wilayah perkotaan membuat lahan untuk berkebun semakin sempit dan masyarakat perkotaan larut dalam kehidupan yang berorientasi industri. Semakin banyaknya makanan atau bahan pangan impor di Indonesia juga menunjukkan bahwa Indonesia masih belum mandiri dalam sektor pangan.

Menurut pegiat Bekasi Berkebun, Annisa Paramita, kegiatan berkebun sangat bermanfaat bagi masyarakat perkotaan. Menurutnya, dengan berkebun, masyarakat dapat mengetahui dan menjamin kesegaran makanan yang mereka konsumsi.

“Manfaat paling minimal, kita dapat bahan makanan yang kita tahu asalnya dari mana dan juga cara perawatan serta perlakuan tanaman,” jelas perempuan yang biasa disapa Nissa ini kepada Greeners saat dijumpai di kantornya yang berada di daerah Bekasi timur, akhir Desember lalu.

Menurut Nissa, bahan baku makanan yang diproduksi massal sering kali bersentuhan dengan zat kimia tertentu yang mungkin tidak baik bagi tubuh. “Sementara kalau kita melakukan home farming, misalnya kita mau mengulek sambel, ternyata kita menanam cabai beberapa pot, ya sudah, petik saja cabainya dan ulek,” imbuhnya.

Nissa sendiri melakukan home farming sejak 2013 lalu. Baginya, berkebun bukan sesuatu yang rumit. Pesatnya perkembangan teknologi dapat memudahkan masyarakat untuk mencari metode yang tepat untuk memulai home farming, dari metode konvensional yang menggunakan tanah hingga hidroponik.

Beberapa jenis syuran yang dapat dihasilkan dari "home farming". Foto: pixabay.com

Beberapa jenis syuran yang dapat dihasilkan dari “home farming”. Foto: pixabay.com

Tidak hanya menyediakan bahan pangan, kegiatan berkebun juga dapat menjadi alternatif untuk menjauhkan penat dan kejenuhan yang dirasakan masyarakat perkotaan sebagai dampak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Berkebun juga dapat mendekatkan masyarakat dengan alam meski tinggal di perkotaan.

“Ketika mengajak keluarga atau anak-anak (untuk berkebun), kita akan menanamkan ke mereka bagaimana mengapresiasi alam,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko, berpendapat bahwa jauhnya masyarakat perkotaan terhadap pertanian telah dimulai sejak peradaban kuno. Ia menyebut bahwa wilayah perkotaan identik dengan pusat pemerintahan, pemasaran dan jasa sejak tumbuhnya kota-kota kuno pada peradaban Babilonia. Hal itu menurutnya menjadi kecenderungan wilayah perkotaan pada era-era selanjutnya. Akibatnya, pertanian dan alam pun semakin melekat dengan wilayah pedesaan.

“Kemakmuran akibat perekonomian membuat berbagai macam bahan makanan mudah didapat sehingga muncul mantra ‘kenapa harus bersusah payah menanam sendiri?’” jelas Tejo melalui surat elektroniknya kepada Greeners.

Kondisi demikian, lanjutnya, membuat masyarakat wilayah perkotaan semakin tidak menghargai alam. Hal ini diperburuk dengan meningkatnya konsumerisme yang diiringi oleh memudarnya nilai-nilai kolektif atau gotong-royong. Masyarakat perkotaan lebih mengedepankan kekuatan membeli produk, termasuk dalam masalah “perut” dan “meja makan”.

Menurut Tejo, permasalahan di atas adalah hal mendasar yang mengakibatkan masyarakat mudah ‘diracuni’ brand image tertentu, termasuk pendapat bahwa produk impor lebih sehat dan berkualitas.

“Dampaknya bisa kita lihat sekarang ini, Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi produk impor seperti buah-buahan, sayuran, tepung-tepungan dan sebagainya. Padahal produsen pangan kita mampu menghasilkan,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Nissa, Tejo pun sangat menyarankan masyarakat melakukan berkebun. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang dinamis akan mengarahkan masyarakat itu sendiri untuk kembali menyelaraskan diri dengan alam. Terlebih, menanam dan berkebun merupakan bagian dari budaya dalam kehidupan agraris Indonesia.

“Kegiatan home farming ini bisa dikemas secara menyenangkan dan massal. Demikian juga pengenalan atau edukasi pangan lokal dan sehat. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling terkait,” tutup Tejo.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mandiri-pangan-dengan-berkebun/feed/ 0
Mengombinasikan Makanan, Berbahaya? Ini Fakta dan Mitosnya https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengombinasikan-makanan-berbahaya-ini-fakta-dan-mitosnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengombinasikan-makanan-berbahaya-ini-fakta-dan-mitosnya https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengombinasikan-makanan-berbahaya-ini-fakta-dan-mitosnya/#respond Tue, 05 Jan 2016 12:45:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12435 Ada begitu banyak informasi yang beredar seputar kombinasi makanan yang dikonsumsi secara bersamaan. Namun, apakah informasi tersebut benar adanya atau sekadar mitos belaka?]]>

Jakarta (Greeners) – Apakah Anda pernah mendengar bahwa mengonsumsi buah semangka dan durian dalam waktu bersamaan bisa menyebabkan stroke? Atau jangan meminum jus jeruk saat mengonsumsi makanan laut? Ada begitu banyak informasi yang beredar seputar kombinasi makanan yang dikonsumsi secara bersamaan. Namun, apakah informasi tersebut benar adanya atau sekadar mitos belaka?

Ahli Nutrisi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rifqah Indri Amalia, kepada Greeners menjelaskan bahwa pada dasarnya organ-organ tubuh manusia telah diciptakan sedemikian rupa untuk memilah kandungan makanan dari makanan yang dikonsumsi. Jadi secara otomatis, organ dalam tubuh akan memutuskan untuk menerima atau membuang zat yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.

“Secara fisiologis pun banyak enzim dan hormon yang kerjanya sudah teratur untuk mencerna makanan, jadi kita tidak usah mengkhawatirkan itu,” ujar Rifqah saat ditemui di RSCM.

Ahli Nutrisi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rifqah Indri Amalia. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Ahli Nutrisi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rifqah Indri Amalia. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Ia pun menyatakan, penyakit yang menyerang manusia sering kali bukan melulu hanya disebabkan oleh kandungan yang ada dalam makanan yang dikonsumsi. Menurutnya, interaksi antara kandungan makanan yang dikonsumsi hanya salah satu faktor yang menyebabkan datangnya penyakit.

“Penyakit kronis tidak bisa tergantung dari makanan itu sendiri, tapi gaya hidup dan riwayat penyakit juga,” imbuhnya.

Sebagai ahli nutrisi, Rifqah menganjurkan agar masyarakat mengkonsumsi makanan secara bervariasi dan tidak berlebihan. “Makan itu harusnya jadi hal yang paling menyenangkan buat kita. Jadi, tidak hanya bikin sehat tapi bisa happy juga,” ujarnya.

Berikut beberapa kombinasi makanan beserta anggapan yang kerap menyertainya.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengombinasikan-makanan-berbahaya-ini-fakta-dan-mitosnya/feed/ 0
Keripik dari Buah dan Sayur Organik, Ya atau Tidak? https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/#respond Sun, 06 Dec 2015 12:54:41 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12154 Keripik belum mendapat predikat sebagai makanan yang sehat. Munculnya produk-produk keripik yang diproduksi pabrikan pun tidak menjamin makanan ini “sehat”. Lantas bagaimana dengan keripik dari buah dan sayur organik?]]>

Jakarta (Greeners) – Keripik sering kali diidentikkan dengan makanan ringan masyarakat Indonesia. Varian cemilan ini sangat banyak, tergantung dari bahan pembuatnya. Keripik juga mudah ditemui, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket, jajanan keripik banyak dicari oleh berbagai kalangan.

Meski demikian, keripik belum mendapat predikat sebagai makanan yang sehat. Munculnya produk-produk keripik yang diproduksi pabrikan pun tidak menjamin makanan ini “sehat” karena adanya bahan pengawet yang terkandung dalam produk tersebut.

Namun, belakangan telah muncul beberapa produsen keripik yang mengklaim bahwa produknya sebagai cemilan sehat. The Kripps misalnya, brand ini mengambil langsung bahan baku keripik dari petani sebagai bahan baku dari 24 varian rasa pada produk keripiknya.

Sang pemilik, Jonathan Adi Prakasa, menyatakan bahwa ia tidak sembarang mengambil bahan baku. Ia mengaku mengambil langsung buah dan sayuran dari beberapa pasar seperti Pasar Induk Tanah Tinggi dan Pasar Induk Tangerang, serta dari petani yang ada di wilayah Lembang, Bandung.

“Jadi kita langsung seleksi, mana yang segar mana yang tidak segar,” ujar Jonathan kepada Greeners pada Rabu (25/11) lalu.

Produk The Kripps sendiri mengandalkan variasi lima jenis buah dan sayuran yang berbeda dalam setiap kemasan produknya. Variasi buah dan sayuran ini juga sebagai antisipasi jika terdapat salah satu bahan baku langka di pasaran.

Dalam produk keripik sayur misalnya, terdapat buncis, ubi, ubi ungu, timun zukini dan wortel. Namun jika salah satu bahan baku tersebut tidak tersedia di pasaran akan digantikan dengan bahan baku yang lain. Hal ini, menurut Jonathan, untuk menjaga keseimbangan dalam hal kuantitas dan kualitas produknya. “Kalau salah satu enggak ada, digantikan dengan labu,” ungkapnya.

Selain bahan baku, Jonathan juga memperhatikan kandungan pada produknya. Ia menyatakan bahwa produknya tidak mengandung bahan perasa buatan seperti monosodium glutamat yang berbahaya bagi tubuh. Monosodium glutamat merupakan bahan perasa yang lazim dipakai dalam produk makanan ringan.

“Produk saya yang mixed fruit itu tanpa bumbu sama sekali. Kalau yang bumbu mixed veggies itu pakai bumbu ekstrak jamur, tapi tanpa MSG,” jelas Jonathan.

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Sementara itu, hal yang sedikit berbeda dilakukan oleh produsen Organik Unik dalam pengadaan bahan baku. Menurut Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik, bahan baku keripik tidak didatangkan langsung dari petani melainkan dari beberapa tempat sekaligus. Hal ini, menurut Yuni, dilakukan demi mengutamakan kualitas keripik yang akan dipasarkan.

“Begitu kita dapat bahan baku yang kurang baik kualitasnya, maka hasilnya juga akan kurang baik. Jadi istilahnya produksinya pakai hati, enggak sembarangan bikin,” ungkap Yuni saat ditemui Greeners pada Jumat (27/11) lalu di Jakarta.

Vacuum Fryer

Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Ronny Purwadi, menyatakan bahwa kualitas produk makanan seperti buah dan sayur kering tergantung pada kesegaran bahan baku. Hal ini dikarenakan tidak adanya kandungan tambahan seperti gula dan garam.

Produk makanan seperti keripik buah dan sayur organik sendiri diklaim oleh produsennya tidak mengandung bahan perasa, maka aroma dan rasa bahan baku menjadi kekuatan produk tersebut.

“Lain halnya jika produk dicampur dengan bahan tambahan seperti gula atau garam, rasa bahan tambahan cukup dominan dibandingkan dengan rasa buahnya (sebagai bahan baku),” jelasnya kepada Greeners melalui email.

Kandungan gizi pada buah dan sayur didominasi oleh serat serta gula. Menurut Ronny, kedua kandungan tersebut tidak mudah hilang jika dikeringkan. Namun, proses pengeringan justru akan mengurangi kadar vitamin dan aroma buah atau sayur tersebut. “Karena itu, pengeringan dianjurkan pada temperatur yang rendah,” ungkapnya.

Senada dengan Ronny, Jonathan dan Yuni pun sepakat untuk menggunakan temperatur rendah dalam pengolahan produk mereka. Keduanya menggunakan teknik pengeringan vacuum fryer yang menggunakan suhu rendah dalam proses pengeringan produk.

Vacuum fryer merupakan mesin penggoreng makanan yang mengeringkan makanan pada temperatur yang cukup rendah, sekitar 50-70 derajat Celcius. Dengan menggunakan temperatur yang rendah, mesin ini memang didesain untuk menghindari kerusakan atau berubahnya bahan baku makanan.

“Jadi enggak menghilangkan kadar gizi. Mungkin memang berkurang kandungan gizinya, tapi enggak hilang,” ujar Jonathan.

Dengan vacuum fryer, Jonathan mengklaim bahwa produknya sehat dan aman untuk dikonsumsi. Mengenai kandungan gizi, ia menyatakan bahwa produknya telah diperiksa oleh tim dari IPB.

“Kita enggak bisa klaim 100 persen sehat, tapi tertera di sini ada kandungan gizinya,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/keripik-dari-buah-dan-sayur-organik-ya-atau-tidak/feed/ 0
Sorgum, Sumber Pangan Lokal Potensial Pengganti Beras https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/#respond Tue, 10 Nov 2015 05:45:03 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11846 Dominasi beras lambat laun berimbas pada ketersediaan bahan pangan lokal di masing-masing daerah, termasuk sorgum.]]>

Berbicara mengenai pangan, khususnya bahan makanan pokok, kebanyakan dari kita akan menyebutkan beras. Hal ini menjadi lumrah karena sejak era 80-an, pemerintah menggalakkan penanaman padi, yang menghasilkan beras, ke seluruh daerah di Indonesia. Itu sebabnya beras menjadi bahan makanan pokok nomor satu di Indonesia.

Dominasi beras ini lambat laun berimbas pada ketersediaan bahan pangan lokal di masing-masing daerah. Dari sekian banyak sumber pangan lokal di Indonesia, sorgum menjadi salah satu bahan pangan yang tergeser oleh beras.

Pegiat pangan dari Terminal Benih Nissa Wargadipura, menyatakan bahwa sorgum sebenarnya ada di hampir semua wilayah di Indonesia. Penggalakan beras, sebut Nissa, hanya menjadikan sorgum sebagai pangan ternak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebenarnya tidak ada pemilahan-milahan dalam pangan. Semua itu (pangan) untuk manusia, bukan hanya ternak,” jelas Nissa kepada Greeners beberapa waktu lalu.

Menurut Nissa, sorgum merupakan sumber pangan yang tidak memerlukan perawatan yang rumit. Tanaman itu, disebutnya, membutuhkan air yang lebih sedikit ketimbang padi. Sorgum juga memiliki daya tahan yang bagus terhadap iklim. Tidak hanya dapat ditanam di daerah kering seperti NTT, sorgum juga dapat ditanam di daerah yang cukup basah.

“Sorgum bisa sangat bagus jika ditanam di daerah seperti Jawa,” ujar perempuan yang juga mengurus Pesantren At Thaariq, Garut.

Selain perawatan yang tidak rumit, sorgum juga dinilai memiliki kandungan gula yang lebih rendah dari padi sehingga dapat menjadi sumber pangan bagi penderita diabetes. Indonesia sendiri adalah negara yang masuk dalam 5 besar dalam jumlah penderita diabetes di dunia.

Nissa yang telah menanam biji sorgum sejak awal tahun ini, menyatakan bahwa tidak seharusnya sorgum menjadi pangan yang terpinggirkan. Pasalnya, sorgum memiliki segala potensi sebagai alternatif pangan pengganti nasi, baik dari segi ekonomis maupun kandungan gizinya. Sorgum pun dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, seperti bubur dan roti.

Maraknya impor beras yang dilakukan pemerintah, menurut Nissa, setidaknya dapat dikurangi secara perlahan dengan pembudidayaan sorgum. “Sebaiknya kita mengubah tatanan pola makan di tingkat konsumsi keseharian kita,” katanya.

Tabel perbandingan kandungan antara sorgum dan beras (Betti, dkk. 1990). Sumber: www.biodiversitywarriors.org

Tabel perbandingan kandungan antara sorgum dan beras (Betti, dkk. 1990). Sumber: www.biodiversitywarriors.org

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-sumber-pangan-lokal-potensial-pengganti-beras/feed/ 0
Jangan Simpan 7 Makanan Ini di Kulkas https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-simpan-7-makanan-ini-di-kulkas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangan-simpan-7-makanan-ini-di-kulkas https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-simpan-7-makanan-ini-di-kulkas/#respond Wed, 29 Jul 2015 05:05:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10498 Pernahkah Sobat Greeners mendinginkan atau menyimpan makanan di dalam kulkas? Ternyata, mendinginkan makanan di lemari pendingin atau kulkas dapat menghilangkan pati, menyebabkan gula membeku layaknya kristal dan akan mengeringkan makanan. […]]]>

Pernahkah Sobat Greeners mendinginkan atau menyimpan makanan di dalam kulkas? Ternyata, mendinginkan makanan di lemari pendingin atau kulkas dapat menghilangkan pati, menyebabkan gula membeku layaknya kristal dan akan mengeringkan makanan.

Seperti dilansir dari huffingtonpost.com, berikut ini sejumlah makanan yang tidak boleh dimasukkan dalam lemari es:

Jangan Simpan 7 Makanan Ini di Kulkas. Foto: pixabay.com

Jangan Simpan 7 Makanan Ini di Kulkas. Foto: pixabay.com

1. Pisang
Meskipun kulit pisang tebal, namun memasukan pisang ke dalam kulkas akan mengubah tampilan kulit pisang menjadi agak kecoklatan dan terlihat tidak segar lagi. Simpan pisang pada ruangan terbuka untuk menjaga kesegarannya sekaligus membuat penampilan kulit pisang kuning cerah lebih lama.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/jangan-simpan-7-makanan-ini-di-kulkas/feed/ 0
Variasi Green Juice dengan Apel dan Jahe https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-green-juice-dengan-apel-dan-jahe/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=variasi-green-juice-dengan-apel-dan-jahe https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-green-juice-dengan-apel-dan-jahe/#respond Fri, 24 Jul 2015 08:38:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10461 Green juice masih menjadi salah satu menu favorit sebagai minuman sehat. Tidak melulu hanya menggunakan sayur, namun buah dan rempah ternyata dapat ditambahkan dalam jus ini. Misalnya saja buah apel […]]]>

Green juice masih menjadi salah satu menu favorit sebagai minuman sehat. Tidak melulu hanya menggunakan sayur, namun buah dan rempah ternyata dapat ditambahkan dalam jus ini. Misalnya saja buah apel dan rempah jahe dalam dua resep green juice yang dilansir dari www.food.com.

Buah apel dapat melengkapi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Vitamin dan mineral yang cukup lengkap pada sebutir apel dapat membantu tubuh mengatasi berbagai penyakit seperti diabetes, resiko Alzheimer dan katarak, serta membantu menjaga kesehatan gigi. Sementara, jahe dapat menghangatkan tubuh, mencegah timbulnya kanker, dan dapat melancarkan sistem pencernaan.

Untuk mendapatkan berbagai manfaat sehat dari green juice tersebut, tidak ada salahnya untuk mencoba membuat sendiri minuman ini di rumah. Berikut ini resep green juice dengan variasi apel dan jahe:

Green Juice Sehat
Bahan:
• 1 buah timun (sisihkan kulitnya jika tidak suka)
• 4 batang seledri
• 2 buah apel
• 6-8 daun kale
• ½ lemon, buang kulitnya
• 1 sdm jahe segar (sekitar 1 inci)

Cara membuat:
1. Cuci bersih semua bahan
2. Blender semua bahan sampai halus. Tambahkan es batu untuk rasa yang lebih segar.

Green Juice Segar
Bahan:
• 2 buah apel, dipotong-potong
• ½ buah timun
• 2 cm jahe (namun boleh lebih)

Cara membuat:
Campur apel, timun dan jahe, lalu blender sampai halus. Green juice siap dinikmati.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-green-juice-dengan-apel-dan-jahe/feed/ 0
Salad Tomat dan Mentimun https://www.greeners.co/gaya-hidup/salad-tomat-dan-mentimun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=salad-tomat-dan-mentimun https://www.greeners.co/gaya-hidup/salad-tomat-dan-mentimun/#respond Tue, 21 Jul 2015 12:30:46 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10416 Sayuran memiliki banyak manfaat yang baik bagi tubuh. Kita pun dapat mengolah sayuran menjadi berbagai menu bahkan camilan. Salah satu menu yang dapat menjadi pilihan adalah salad sayur. Sobat Greeners […]]]>

Sayuran memiliki banyak manfaat yang baik bagi tubuh. Kita pun dapat mengolah sayuran menjadi berbagai menu bahkan camilan. Salah satu menu yang dapat menjadi pilihan adalah salad sayur. Sobat Greeners dapat membuat salad sayur sederhana dengan memanfaatkan tomat ceri dan mentimun.

Meski bentuknya lebih kecil dari tomat biasa, tomat ceri bermanfaat untuk menambah stamina tubuh karena memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Selain itu, kandungan zat likopen pada tomat dapat melindungi kulit dari sengatan matahari. Tak ketinggalan, kandungan vitamin K pada tomat menguatkan tulang dan mencegah osteoporosis.

Selain tomat, mentimun yang kita gunakan pada salad ini juga kaya nutrisi. Mentimun memiliki antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari efek radikal bebas. Kalium yang tinggi serta rendah kalori menjadi kelebihan lain yang dimiliki mentimun. Sayur ini juga memberikan perlindungan bagi usus dan membantu menurunkan tekanan darah.

Cukup menarik melihat manfaat dari kedua sayuran ini, bukan? Nah, berikut ini resep Salad Tomat dan Mentimun yang bisa Sobat Greeners hidangkan di rumah seperti dilansir dari bbcgoodfood.com :

Bahan:
• 6 buah tomat ceri, buang bijinya dan cincang
• 1 buah mentimun kecil, potong dadu
• 1 siung bawang merah, cincang halus
• 6 sdm daun ketumbar segar, cincang

Cara membuat :
Cara membuatnya sangat mudah dan cepat, Sobat Greeners hanya perlu mencampur tomat, mentimun, bawang merah, dan daun ketumbar dalam mangkuk. Tambahkan sedikit garam dan lada sesaat sebelum dihidangkan. Selamat mencoba.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/salad-tomat-dan-mentimun/feed/ 0
Seimbangkan Level Kolesterol dengan Makanan Berserat https://www.greeners.co/gaya-hidup/seimbangkan-level-kolesterol-dengan-makanan-berserat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=seimbangkan-level-kolesterol-dengan-makanan-berserat https://www.greeners.co/gaya-hidup/seimbangkan-level-kolesterol-dengan-makanan-berserat/#respond Fri, 17 Jul 2015 13:45:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10365 Saat Hari Raya Lebaran menu favorit yang biasanya dihidangkan adalah ketupat dengan opor ayam, rendang, kari kambing dan segala jenis makanan yang berlemak dan mengandung santan. Usai menyantap berbagai makanan […]]]>

Saat Hari Raya Lebaran menu favorit yang biasanya dihidangkan adalah ketupat dengan opor ayam, rendang, kari kambing dan segala jenis makanan yang berlemak dan mengandung santan. Usai menyantap berbagai makanan tersebut, biasanya akan timbul ketakutan ketika ingat dengan level kolesterol dalam darah yang pasti melonjak.

Menurut dr. Nurul Ratna, MGizi, SpGK, kenaikkan kadar kolesterol hanya disebabkan oleh unsur hewani seperti kulit ayam, lemak daging dan jeroan. Namun, bukan berarti kaum Muslim tidak dapat menikmati menu-menu spesial yang sudah disuguhkan di hari raya. Kenaikan kolesterol dapat diseimbangkan kembali dengan mengonsumsi makanan berserat.

“Unsur hewani dapat diganti dengan unsur nabati seperti tempe, tahu dan kacang-kacangan yang tidak mengandung kolesterol. Namun, hari raya ini hanya setahun sekali dan wajar jika menikmati makanan seperti kari ayam, opor dan lainnya asal dibarengi dengan mengonsumsi serat,” ujar ahli gizi ini.

Lebih lanjut Nurul menjelaskan bahwa serat memiliki sifat yang dapat menghambat penyerapan lemak dalam tubuh. Makanan yang mengandung serat ini bisa ditemui dalam sayuran dan buah-buahan. Oleh sebab itu, serat menjadi hal yang tidak boleh dilupakan kala menyantap sajian Lebaran.

“Sayuran menghambat penyerapan dari lemak. Bagus juga jika sehabis makan kita mengonsumsi buah-buahan, namun jangan yang mengandung gas seperti nangka dan durian karena dapat menyebabkan perut menjadi tidak enak setelahnya,” tambahnya kemudian.

Contoh buah yang mengandung serat namun tidak mengandung gas diantaranya adalah pepaya, pisang, jeruk, dan pir. Selain menambahkan buah dan sayur dalam menu makanan, Nurul juga menyarankan agar Sobat Greeners untuk minum air putih seusai makan.

“Selain itu, biasakan untuk minum air putih dan tidak perlu yang mengandung manis. Kadar gula yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gula darah naik yang berakibat pada kenaikan kolesterol juga,” ungkapnya.

Menahan diri untuk tidak makan berlebihan juga akan memberikan pengaruh yang baik bagi tubuh. Jadi, dari pada sakit saat hari raya karena kolesterol tidak terkendali, yuk makan dengan pola yang seimbang.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/seimbangkan-level-kolesterol-dengan-makanan-berserat/feed/ 0
Olahan Pisang untuk Sahur https://www.greeners.co/gaya-hidup/olahan-pisang-untuk-sahur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=olahan-pisang-untuk-sahur https://www.greeners.co/gaya-hidup/olahan-pisang-untuk-sahur/#respond Tue, 07 Jul 2015 13:23:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10197 Buah pisang merupakan salah satu buah yang tersedia sepanjang tahun sehingga tidak sulit untuk mencari buah ini di toko buah. Ada beberapa varian makanan dan minuman khas bulan Ramadhan yang […]]]>

Buah pisang merupakan salah satu buah yang tersedia sepanjang tahun sehingga tidak sulit untuk mencari buah ini di toko buah. Ada beberapa varian makanan dan minuman khas bulan Ramadhan yang dibuat dengan pisang, misalnya saja kolak pisang atau pisang goreng tepung. Pisang dapat pula dimakan langsung.

Menurut ahli gizi, dr. Nurul Ratna, M.Gizi, SpGK, buah pisang memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama saat disantap ketika sahur. Selain itu, pisang memiliki serat yang mudah larut dan dapat memberikan efek kenyang pada perut.

Dilansir dari Time.com, pisang berfungsi sebagai prebiotik yang efektif, meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium dan meningkatkan dopamin, norepinefrin dan serotonin (zat kimia dalam otak yang melawan depresi). Sobat Greeners juga dapat memperoleh 105 kalori, 0,4 g lemak, 1 mg sodium, 27 g karbohidrat, 3 g serat pangan, 14 g gula dan 1,3 g protein pada setiap satu buah pisang berukuran sedang.

Masih dari laman yang sama, resep “Smoothie Pisang-Oat” dapat menjadi alternatif makanan sehat yang bisa kita coba saat sahur.

Smoothie Pisang-Oat
Bahan :
• 2/3 cangkir perasan air jeruk
• ½ cangkir oat siap makan
• ½ cangkir yogurt murni rendah lemak
• 1 sdm biji bunga flax (Linium Usitatissinum)
• 1 sdm madu
• 1 sdt parutan kulit jeruk
• 1 buah pisang berukuran besar, potong-potong dan bekukan
• 1 cangkir es batu

Cara membuat:
Sobat Greeners cukup mencampurkan bahan-bahan tersebut (kecuali es batu) ke dalam blender. Setelah itu, tambahkan es batu dan blender sampai halus.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/olahan-pisang-untuk-sahur/feed/ 0
Variasi Kudapan dari Singkong https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-kudapan-dari-singkong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=variasi-kudapan-dari-singkong https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-kudapan-dari-singkong/#respond Fri, 03 Jul 2015 13:24:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10137 Siapa yang tidak kenal singkong? Sebelum digantikan dengan beras, umbi ketela pohon ini dulu dikenal sebagai makanan utama di beberapa daerah di Indonesia. Banyak pula resep-resep tradisional Indonesia yang menggunakan […]]]>

Siapa yang tidak kenal singkong? Sebelum digantikan dengan beras, umbi ketela pohon ini dulu dikenal sebagai makanan utama di beberapa daerah di Indonesia. Banyak pula resep-resep tradisional Indonesia yang menggunakan singkong dalam salah satu bahan penyusunnya.

Singkong kaya akan karbohidrat, rendah lemak dan rendah kolesterol. Selain itu, singkong mengandung mineral seperti seng, magnesium, tembaga dan besi yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Sobat Greeners yang ingin mencoba mengolah sendiri penganan dari singkong, yuk coba beberapa resep dari situs www.food.com berikut ini.

Singkong Goreng
Bahan :
• 4 singkong besar
• 2 siung bawang putih
• 1 cubit garam

Cara membuat :
1. Kupas singkong, cuci, dan potong-potong sebesar ukuran jari. Agar empuk saat dimakan, singkong dapat direbus selama 10 menit. Gosok singkong dengan bawang putih yang sudah dikeprak.
2. Panaskan minyak pada panci ukuran besar, lalu masaklah singkong sampai terendam minyak. Tunggu sampai warna kecoklatan lalu angkat dan tiriskan.
3. Taburkan garam pada singkong yang masih panas agar terasa asin dan gurih.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/variasi-kudapan-dari-singkong/feed/ 0
Menu Sahur dengan Buah dan Sayur https://www.greeners.co/gaya-hidup/menu-sahur-dengan-buah-dan-sayur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menu-sahur-dengan-buah-dan-sayur https://www.greeners.co/gaya-hidup/menu-sahur-dengan-buah-dan-sayur/#respond Tue, 30 Jun 2015 05:52:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10055 Saat sahur merupakan waktu yang tepat untuk mengatur makanan dan minuman yang kita konsumsi agar tubuh tidak lemas saat beraktifitas sampai tiba waktunya berbuka puasa. Untuk mendapatkan nutrisi dan serat […]]]>

Saat sahur merupakan waktu yang tepat untuk mengatur makanan dan minuman yang kita konsumsi agar tubuh tidak lemas saat beraktifitas sampai tiba waktunya berbuka puasa. Untuk mendapatkan nutrisi dan serat yang cukup, buah dan sayur menjadi dua komponen penting yang dibutuhkan tubuh agar tetap bugar terutama saat berpuasa.

Sumber serat pangan diantaranya ada bayam dan jeruk. Kombinasi buah dan sayur menjadi segelas smoothie ini dapat membuat tubuh merasa kenyang lebih lama. Kandungan zat besi pada bayam dan vitamin C pada jeruk juga dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian selama menjalani puasa.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menu-sahur-dengan-buah-dan-sayur/feed/ 0
Timphan, Kue Khas Aceh untuk Berbuka Puasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/timphan-kue-khas-aceh-untuk-berbuka-puasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=timphan-kue-khas-aceh-untuk-berbuka-puasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/timphan-kue-khas-aceh-untuk-berbuka-puasa/#respond Fri, 26 Jun 2015 07:28:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10004 Apa yang terlintas dalam benak Sobat Greeners ketika mendengar restoran Aceh? Biasanya yang terlintas adalah menu mie aceh. Selain mie aceh, sebenarnya ada banyak penganan khas aceh lainnya. Rumah Makan […]]]>

Apa yang terlintas dalam benak Sobat Greeners ketika mendengar restoran Aceh? Biasanya yang terlintas adalah menu mie aceh. Selain mie aceh, sebenarnya ada banyak penganan khas aceh lainnya. Rumah Makan Aceh Seulawah yang berlokasi di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, misalnya. Rumah makan ini menyediakan penganan khas Aceh seperti bubur kanji, pulut, dan timphan dengan rasa yang otentik.

Khusus di bulan Ramadhan ini, Rumah Makan Aceh Seulawah menjadikan timphan sebagai takjil atau menu berbuka puasa. Penganan dengan tampilan berwarna oranye dari buah labu dan isi srikaya ini memiliki rasa yang gurih manis dengan tekstur yang legit dan lembut di lidah. Nah, jika Sobat Greeners ingin tahu cara membuatnya, simak resep kue timphan dari Rumah Makan Aceh Seulawah berikut ini.

Kue timphan. Foto: greeners.co/Gloria Safira

Kue timphan. Foto: greeners.co/Gloria Safira

Bahan adonan :
• 200 gr tepung ketan
• Garam secukupnya
• ½ buah labu kuning, bersihkan biji dan kulitnya, blender sampai halus
• Vanili secukupnya
• daun pisang muda untuk membungkus adonan

Bahan isi :
• 2 kg telur
• 1 kg gula
• 1 L santan
• ½ sdt garam
• ½ sdt vanili
• 2 lembar pandan
• 2 ruas kayu manis
• 150 gr nangka tanpa biji, potong dadu
• 1 kg tepung terigu

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/timphan-kue-khas-aceh-untuk-berbuka-puasa/feed/ 0
Sorgum, Pangan Murah Sumber Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/#respond Tue, 23 Jun 2015 08:04:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9918 Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain […]]]>

Kekayaan pangan yang dimiliki oleh Indonesia memberikan banyak alternatif bagi masyarakat untuk mengolahnya. Beras, salah satu yang menjadi pangan pokok bagi masyarakat Indonesia dapat digantikan oleh beberapa sumber pangan lain seperti gandum, jagung, umbi-umbian dan sorgum.

Banyak ditemukan di daerah kering, sorgum merupakan salah satu pengganti nasi yang kaya karbohidrat, tinggi protein, dan non gluten (sejenis protein yang terdapat dalam serealia atau biji-bijian yang disinyalir dapat memicu alergi Celiac). Selain pengganti nasi, sorgum juga dapat menggantikan gandum untuk sebagian masyarakat yang alergi terhadap pangan tersebut.

“Sorgum banyak ditemui di daerah Jawa namun masyarakat masih fokus terhadap beras. Menanam sorgum pun biasanya di pematang sawah yang berfungsi untuk mengusir burung. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, sorgum merupakan salah satu pangan yang direkomendasikan,” ujar Tejo Wahyu Jatmiko selaku Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera kepada Greeners melalui sambungan telepon.

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Terdapat sekitar 30 spesies tanaman sorgum yang sudah diidentifikasi. Tanaman yang dapat hidup baik di lahan kering ini memiliki kandungan serat dan protein yang lebih tinggi dari pada beras. Foto: www.pixabay.com

Berbeda dari beberapa jenis pengganti nasi lainnya, harga sorgum masih terbilang rendah karena teknologi pengolahannya yang terbatas. Padahal, sorgum dapat menjadi salah satu potensi karena dapat dijadikan sebagai bubur, nasi, tepung terigu serta sereal. Namun, keberadaan sorgum masih kurang diminati oleh masyarakat terlebih di Jakarta.

“Di NTT, sorgum dimasak sebagai nasi dan bubur dengan lauk yang nikmat seperti sayuran, daging sapi serta ikan. Cara membuatnya pun hampir sama dengan membuat nasi. Sebagai tepung, tepung sorgum dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis kue dengan daya tahan yang lebih lama,” jelasnya.

Sorgum memiliki kadar gula rendah yang dapat bermanfaat bagi penderita diabetes serta yang sedang melakukan tahap diet. Selain itu, sorgum dapat tumbuh dalam kondisi perubahan iklim yang sedang melanda bumi saat ini. Tejo pun menambahkan bahwa sorgum dapat ditanam di halaman rumah. Di Jakarta sendiri, walaupun peminat sorgum terbilang rendah, namun sudah ada beberapa orang yang menjualnya secara daring.

Penulis : Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sorgum-pangan-murah-sumber-karbohidrat/feed/ 0
Sumber Karbohidrat Tidak Harus Nasi Putih https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-karbohidrat-tidak-harus-nasi-putih/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sumber-karbohidrat-tidak-harus-nasi-putih https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-karbohidrat-tidak-harus-nasi-putih/#respond Tue, 09 Jun 2015 11:41:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9548 Indonesia terkenal dengan keanekaragaman makanannya yang luar biasa banyak. Banyak pula sumber bahan pangan dari berbagai daerah di Nusantara yang memiliki nilai gizi yang cukup baik. Namun, dari sekian banyak […]]]>

Indonesia terkenal dengan keanekaragaman makanannya yang luar biasa banyak. Banyak pula sumber bahan pangan dari berbagai daerah di Nusantara yang memiliki nilai gizi yang cukup baik. Namun, dari sekian banyak bahan pangan tersebut, beras yang dijadikan nasi tetap menjadi favorit sebagai makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari.

Sebenarnya, mengonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat tidaklah salah karena nasi memiliki sejumlah kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dari data yang dihimpun Greeners, dalam 100 gram atau setara 7-8 sendok makan nasi putih terkandung 175-178 kkal, 40,6 gram karbohidrat, 0,1 gram lemak, dan 2,1 gram protein.

Meski nasi putih memiliki nilai gizi yang cukup baik, namun dalam takaran yang sama, nasi putih mengandung nilai indeks glikemik (IG) lebih dari 70. Jika diartikan secara bebas, IG merupakan skala kecepatan makanan memengaruhi gula darah dan insulin dalam tubuh. Dikatakan IG tinggi jika nilainya 70-100, IG sedang jika nilainya 51-70, dan IG rendah jika nilainya kurang dari 50. Semakin tinggi nilai IG, maka semakin cepat pula gula darah dan insulin meningkat.

Beras merah, singkong dan kentang adalah beberapa contoh sumber karbohidrat selain nasi. Foto: Ist.

Beras merah, singkong dan kentang adalah beberapa contoh sumber karbohidrat selain nasi. Foto: Ist.

Nilai IG yang tinggi pada nasi, menyebabkan tak sedikit orang yang memilih untuk menghindari nasi dalam menu hariannya. Bila memilih untuk menghindari nasi, ahli gizi dr. Nurul Ratna, M.Gizi, SpGK, mengingatkan untuk tetap menjaga pola makan yang seimbang.

“Nasi putih memang memiliki indeks glikemik yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kolesterol tinggi. Untuk mengurangi konsumsi nasi putih bukan berarti seseorang harus berhenti mengonsumsinya dan hanya menikmati lauk saja. Seseorang tetap membutuhkan asupan energi dan lauk sebagai sumber protein nabati dan hewani agar mendapat asupan yang seimbang,” ujarnya menjelaskan.

Untuk mengganti nasi putih, lanjut Nurul, bisa mencoba mengonsumsi beras merah. Meski termasuk jenis beras, beras merah memiliki IG yang lebih rendah dari nasi putih karena kandungan seratnya yang tinggi. Selain beras merah, Nurul juga menyebutkan bahwa singkong, ubi dan kentang yang direbus juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat. Nilai IG dalam 100 gram masing-masing bahan pangan tersebut juga masih tergolong sedang.

Jadi Sobat Greeners, tidak ada salahnya untuk membuat menu makanan sehari-hari lebih bervariasi dengan tetap memperhatikan kebutuhan gizi harian.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sumber-karbohidrat-tidak-harus-nasi-putih/feed/ 0