bayi orang utan - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/bayi-orang-utan/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 04 Jun 2026 06:46:17 +0000 id hourly 1 Bayi Orang Utan Sumatra Lahir di Cagar Alam Jantho https://www.greeners.co/berita/bayi-orang-utan-sumatra-lahir-di-cagar-alam-jantho/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bayi-orang-utan-sumatra-lahir-di-cagar-alam-jantho https://www.greeners.co/berita/bayi-orang-utan-sumatra-lahir-di-cagar-alam-jantho/#respond Thu, 04 Jun 2026 06:46:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=48552 Jakarta (Greeners) – Satu individu bayi orang utan sumatra (Pongo abelii) lahir di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dari induk betina bernama Bulan. Kelahiran ini menjadi kabar menggembirakan bagi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Satu individu bayi orang utan sumatra (Pongo abelii) lahir di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dari induk betina bernama Bulan. Kelahiran ini menjadi kabar menggembirakan bagi upaya konservasi orang utan sumatra. Tim Post Release Monitoring YEL-SOCP telah mengonformasi kelahiran tersebut.

Pada 22 Mei 2026 tim monitoring menemukan Bulan bergerak aktif di tajuk hutan sambil menggendong bayinya. Saat terpantau, Bulan terlihat aktif bergerak dan menunjukkan perilaku yang sangat protektif, sang bayi pun tidak melepas dekapannya. Bayi orang utan berjenis kelamin jantan tersebut diperkirakan berusia sekitar satu bulan dan terlihat dalam kondisi sehat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberi nama “Badar” yang maknanya bulan purnama untuk bayi orang utan tersebut. Ia berharap kehadiran Badar bisa menjadi harapan baru bagi masa depan kelestarian populasi orang utan di alam liar.

“Kelahiran ini sebagai pembuktian bahwa melalui perlindungan habitat yang konsisten, kita mampu memulihkan populasi satwa endemik yang terancam punah. Semoga Badar dapat tumbuh sehat di alam bebas dan membawa secercah harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan kita yang tak ternilai harganya,” ungkap Raja dalam siaran pers, Rabu (3/6).

Bulan Selamat dari Perdagangan Satwa Liar

Sementara itu, Bulan sang induk merupakan orang utan yang selamat dari perdagangan satwa liar di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara pada 2014. Saat itu, Bulan berusia sekitar dua tahun.

Bulan lantas menjalani rehabilitasi selama empat tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan YEL-SOCP Sibolangit. Kemudian, Bulan dilepasliarkan ke kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Jantho pada tahun 2018.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata menyampaikan bahwa perjalanan Bulan, dari korban perdagangan satwa liar hingga menjadi induk di alam, menunjukkan upaya rehabilitasi. Pelepasliaran dapat memberikan hasil nyata bagi pemulihan populasi orang utan.

“Kelahiran ini membuktikan bagaimana orang utan yang pernah menjadi korban perdagangan satwa liar dapat memperoleh kesempatan kedua untuk kembali hidup dan berkembang biak di alam. Keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi,” katanya.

Wisnu menegaskan bahwa peristiwa ini mengingatkan pentingnya menjaga habitat alami orang utan serta memperkuat perlindungan terhadap satwa liar. Tujuannya agar keberhasilan konservasi seperti ini dapat terus berlanjut.

Selain itu, keberhasilan reproduksi di alam juga menjadi indikator penting. Ini menunjukkan bahwa orang utan hasil rehabilitasi mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di habitat alaminya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bayi-orang-utan-sumatra-lahir-di-cagar-alam-jantho/feed/ 0
BKSDA Kalbar Selamatkan Bayi Orang Utan Tanpa Induk https://www.greeners.co/aksi/bksda-kalbar-selamatkan-bayi-orang-utan-tanpa-induk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bksda-kalbar-selamatkan-bayi-orang-utan-tanpa-induk https://www.greeners.co/aksi/bksda-kalbar-selamatkan-bayi-orang-utan-tanpa-induk/#respond Sun, 14 Jul 2024 03:00:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44246 Jakarta (Greeners) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) melalui Wild Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Sintang menerima penyerahan satu individu bayi orang utan dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) melalui Wild Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Sintang menerima penyerahan satu individu bayi orang utan dari masyarakat Dusun Kuala Belian, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada Selasa (9/7). Bayi orang utan berjenis kelamin betina ini diperkirakan berusia tiga bulan.

Informasi keberadaan bayi orang utan berawal dari laporan YIARI Unit Kabupaten Melawi. Kemudian, Tim WRU SKW II Sintang menindaklanjuti penemuan ini. Yayasan Penyelamatan Orang Utan Sintang (YPOS) juga ikut mendampingi. Tim YPOS melakukan verifikasi laporan dan melakukan tindakan penyelamatan (rescue). Setelah mereka melakukan pengecekan, kondisi bayi orang utan secara umum terpantau dalam kondisi sehat.

Kepala SKW II Sintang, Joko Mulyo Ichtiarso menyampaikan penyerahan bayi orang utan ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima. Kemudian, sementara ini Pusat Rehabilitasi YPOS akan melakukan perawatan lebih lanjut terhadap orang utan.

BACA JUGA: BKSDA Bengkulu Gagalkan Pengiriman Ilegal 787 Ekor Burung

Joko menjelaskan pada periode tahun 2023 sampai 2024, tim sudah empat kali menyelamatkan bayi orang utan di Kabupaten Melawi. Semua penyelamatan ini berupa penyerahan masyarakat yang menemukan bayi orang utan tanpa induk di sekitarnya.

“Balai KSDA Kalbar mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang menyadari bahwa orang utan merupakan jenis satwa liar dilindungi menurut undang-undang. Sehingga secara sukarela dan tanpa paksaan menyerahkan kepada pihak BKSDA Kalbar,” ungkap Joko Mulyo lewat keterangan tertulisnya, Kamis (11/7).

BKSDA Kalbar menyelamatkan bayi orang utan tanpa induk. Foto: KLHK

BKSDA Kalbar menyelamatkan bayi orang utan tanpa induk. Foto: KLHK

BKSDA Kalbar Minta Sterilisasi Lokasi

Sementara itu, tim akan menindaklanjuti penemuan keempat kalinya bayi orang utan tanpa induk ini dengan koordinasi dan komunikasi dengan pihak desa atau perusahaan terkait di sekitar lokasi penemuan bayi orang utan. Mereka akan menggali informasi lebih lanjut.

Pada kesempatan lain, Kepala Balai KSDA Kalbar, RM. Wiwied Widodo menyampaikan perlu adanya sterilisasi lokasi dan observasi pada lokasi penemuan bayi orang utan. Hal itu untuk memastikan keberadaan induk orang utan serta pengumpulan data. Tim akan menandai dan memantau secara berkala pada lokasi tersebut.

BACA JUGA: Orica Gandeng BOS Foundation untuk Melindungi Orang Utan

Wiwied menjelaskan bahwa orang utan merupakan primata endemik yang memiliki sifat layaknya manusia. Induk orang utan akan selalu mengendong bayinya ke mana pun ia pergi sampai bayi tersebut mandiri di usia 7–8 tahun.

Orang utan ini mempunyai tugas penting bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya sebagai penyeimbang kelangsungan ekosistem hutan. Sehingga, lanjut Wiwied, harapannya manusia dapat lebih bijak bertindak saat menjumpainya di hutan dengan tidak menganggu, melukai, apalagi memburunya.

“Tim juga akan melaksanakan kegiatan edukasi terkait animal behavior orang utan di desa atau perusahaan lokasi penemuan bayi orang utan. Hal ini sebagai bentuk upaya preventif mitigasi dugaan dan/atau potensi tindak kejahatan terhadap satwa liar dilindungi ini,” tutup Wiwied.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bksda-kalbar-selamatkan-bayi-orang-utan-tanpa-induk/feed/ 0