Jakarta (Greeners) – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati. Namun, konservasi burung dan satwa masih menjadi sebuah tantangan. Wartawan pun didorong berkontribusi melalui pemberitaan, salah satunya dengan cara yang sederhana, yaitu mobile journalism.
Indonesia tercatat memiliki 1.834 spesies burung, tertinggi di Asia. Dari keseluruhan angka itu, 538 di antaranya merupakan spesies endemik atau hanya ada di Indonesia. Namun ternyata, 159 spesies di antaranya terancam punah secara global. Untuk itu, perlu upaya keras untuk melakukan konservasi burung.
Terrestrial Program Specialist Burung Indonesia, Angga Yoga mengatakan bahwa keberadaan burung sangat penting bagi ekosistem. Mereka dapat mengendalikan hama hingga membersihkan lingkungan. Ketika ekosistem rusak, maka akan berdampak terhadap kehidupan.
Dia mengambil contoh peristiwa The Great Chinese Famine, yaitu ketika China melancarkan kampanye pembasmian burung gereja pada 1959-1962. Akibat kampanye itu, populasi burung berkurang, yang berpengaruh pada proses panen dan akhirnya menimbulkan kelaparan.
“Begitulah pentingnya peran burung dalam kehidupan. Jika tidak dilestarikan, bahkan dibunuh, bisa sampai bikin kelaparan,” ujar Angga.
Menurut Angga, konservasi burung ini harus berbasis masyarakat dan berlangsung secara inklusif. “Kenapa? Pertama, daerah di Indonesia sangat banyak dan masing-masing punya budaya yang berbeda. Cara mereka melakukan konservasi pun berbeda-beda, tidak bisa memaksa masyarakat melakukan konservasi ala Barat,” tambahnya.
Dorong Perubahan Narasi
Sementara itu, mobile journalism juga dapat menjadi solusi untuk perubahan narasi terkait upaya konservasi. Cara ini menjadi sebuah solusi untuk selamatkan burung dan satwa.
Jurnalis dan praktisi mobile journalism, Andi Muhyiddin mengatakan bahwa ada budaya lama di beberapa daerah Indonesia yang masih belum berpihak pada konservasi keanekaragaman hayati. Misalnya, kebiasaan masyarakat memelihara burung di dalam sangkar.
Namun, kata dia, masyarakat dan jurnalis seharusnya bisa mengubah narasi dengan cara membahas praktik-praktik yang tak sesuai dengan upaya konservasi. Salah satu cara yang mudah adalah dengan mobile journalism.
“Kita punya senjata ponsel. Dengan visual, masyarakat bisa tergerak. Konten visual seperti ini juga bisa menjadi tekanan publik,” ujar Andi.
Menurutnya, ponsel memang memiliki berbagai keterbatasan, seperti kualitas kamera yang tidak sebaik kamera profesional. Namun, kata Andi, yang paling penting dalam mobile journalism adalah narasi.
Praktisi jurnalisme multimedia, Tri Wahyuni juga mengakui bahwa keanekaragaman hayati memang merupakan topik dengan segmentasi sangat khusus. Namun, dengan mobile journalism, wartawan sebenarnya bisa membuatnya lebih populer. Tri membahas berbagai contoh di mana konten dengan kualitas gambar yang tidak terlalu tinggi ternyata justru bisa viral dan menarik perhatian banyak orang.
“Banyak yang bertanya, kalau tidak punya alat yang mumpuni bagaimana? Bisa, yang penting kita tahu cara mengemasnya,” kata Tri.
Senada dengan Tri, menurut Andi setiap jurnalis bisa mendukung upaya konservasi melalui mobile journalism, asal tetap memperhatikan kaidah-kaidah jurnalistik.
“Kamu bukan sekadar pengamat. Kamu adalah penjaga cerita alam. Mulai hari ini, setiap rekaman kamu adalah bagian dari konservasi. Smartphone kamu bisa jadi alat dokumentasi dan alat perubahan,” ucap Andi.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































