BKSDA Aceh - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/bksda-aceh/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 19 Aug 2024 07:51:02 +0000 id hourly 1 BKSDA Aceh Lepasliarkan 1.107 Ekor Tukik Tuntong Laut https://www.greeners.co/aksi/bksda-aceh-lepasliarkan-1-107-ekor-tukik-tuntong-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bksda-aceh-lepasliarkan-1-107-ekor-tukik-tuntong-laut https://www.greeners.co/aksi/bksda-aceh-lepasliarkan-1-107-ekor-tukik-tuntong-laut/#respond Mon, 19 Aug 2024 07:51:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=44530 Jakarta (Greeners) -Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan 1.107 ekor tukik tuntong laut di Muara Sungai Pusung Kapal, Kabupaten Aceh Tamiang. Pelepasliaran ini dalam rangka memperingati Hari Konservasi […]]]>

Jakarta (Greeners) -Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan 1.107 ekor tukik tuntong laut di Muara Sungai Pusung Kapal, Kabupaten Aceh Tamiang. Pelepasliaran ini dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional pada 10 Agustus.

BKSDA Aceh bekerja sama dengan Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) dan pihak-pihak terkait lainnya. Pelepasliaran satwa ke habitat alaminya bukanlah hal baru. Sebelumnya, mereka juga telah melepasliarkan satu ekor owa siamang (Symphalangus syndactylus) dan satu ekor kucing emas (Catopuma temminicki) di Kawasan Taman Wisata Alam Jantho pada 31 Juli lalu.

Tukik tuntong laut yang mereka lepasliarkan berasal dari 1.993 telur hasil penyelamatan dari 114 sarang telur yang masyarakat serahkan secara sukarela.

Selain pelepasliaran tukik, dalam kesempatan ini BKSDA Aceh dan mitra lainnya juga menanam 100 batang cemara laut (Casuarina equisetifolia). Ada pula pemberian penghargaan kepada masyarakat yang berperan aktif dalam upaya konservasi satwa tuntong laut dan pelestarian habitatnya.

BACA JUGA: Pelepasliaran 28 Satwa Liar di TN Bukit Barisan Selatan

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada YSLI, masyarakat, serta semua pihak yang terlibat secara konsisten sejak tahun 2013 dalam konservasi tuntong laut. Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut telah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya konservasi.

“Luar biasa dan membanggakan. Tepat di Hari Konservasi Alam Nasional ini, kita melihat contoh ketekunan dan konsistensi kerja yang membuahkan hasil positif bagi pelestarian alam. Sinergi dan kolaborasi para pihak sangat penting,” kata Ujang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/8).

BKSDA Aceh melepasliarkan 1.107 ekor tukik tuntong laut di Muara Sungai Pusung Kapal. Foto: KLHK

BKSDA Aceh melepasliarkan 1.107 ekor tukik tuntong laut di Muara Sungai Pusung Kapal. Foto: KLHK

Tuntong Laut Hidup di Air Payau

Menurut Ujang, pelepasliaran ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekosistem pantai. Ia berharap satwa-satwa tersebut dapat bertahan hidup dan memperkuat rantai kehidupan di alam.

Sementara itu, Ketua YSLI, Yusriono, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya telah melepasliarkan 4.000 ekor tukik. Asisten I Setdakab Aceh Tamiang, Muslizar menyambut baik hal ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah kabupaten setempat akan terus melanjutkan komitmen dan dukungannya.

Sebagai informasi, tuntong laut adalah salah satu dari 29 spesies kura-kura air tawar dan darat di Indonesia. Satwa ini umumnya hidup di kawasan air payau. Seperti muara dan anak sungai, hutan bakau, dan daerah yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bksda-aceh-lepasliarkan-1-107-ekor-tukik-tuntong-laut/feed/ 0
Penggunaan Jerat pada Satwa Terjadi di Aceh   https://www.greeners.co/berita/penggunaan-jerat-pada-satwa-terjadi-di-aceh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penggunaan-jerat-pada-satwa-terjadi-di-aceh https://www.greeners.co/berita/penggunaan-jerat-pada-satwa-terjadi-di-aceh/#respond Tue, 18 Aug 2020 05:00:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28212 Jerat yang dipasang di hutan merupakan ancaman serius bagi kehidupan satwa liar. Penggunaan perangkap juga ditemukan masih dilakukan.]]>

Jakarta (Greeners) – Jerat yang dipasang di hutan merupakan ancaman serius bagi kehidupan satwa liar. Penggunaan perangkap ditemukan masih dilakukan oleh masyarakat di Aceh untuk menangkap binatang di hutan. Seekor anak gajah Sumatera ditemukan terkena jerat tali nilon, pada Sabtu (15/8), di Desa Blang Sukon, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (BKSDA), Agus Arianto mengonfirmasi bahwa perburuan satwa dengan memakai jebakan masih terjadi di Kota Serambi Mekah itu. Menurutnya jerat yang ditemui di gajah itu diperuntukkan untuk memburu rusa atau babi hutan dan dimanfaatkan untuk konsumsi warga. “Masalah penjeratan dan perburuan satwa liar dalam bentuk apa pun dilarang karena bisa mengenai satwa liar lainnya,” ujar Agus saat dihubungi Greeners melalui telepon, Senin, (17/8/2020).

Baca juga: LBH Makassar: Penahanan Nelayan Kodingareng Menyalahi Prosedur

Meski penggunaan jerat telah menurun, kata dia, masyarakat diminta tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa. Agus juga melarang masyarakat menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati.

“Serta tidak memasang jerat atau racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar yang dilindungi. Jika melanggar, masyarakat dapat dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa aktivitas penjeratan dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya gajah Sumatera dengan manusia. Dampaknya, kata dia, dapat berakibat terhadap kerugian ekonomi hingga korban jiwa maupun keberlangsungan hidup satwa liar.

Gajah Sumatera

Petugas sedang mengobati seekor anak gajah yang terluka. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Penemuan individu gajah itu merupakan kerja sama Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang terdiri dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree dan Resor Wilayah 5 Sigli serta dokter hewan di Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Agus menyampaikan bahwa tim BKSDA Aceh mendapatkan informasi adanya kasus anak gajah yang terjerat dari masyarakat setempat. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis di lokasi kejadian, mamalia tersebut diperkirakan berumur empat tahun dan berjenis kelamin jantan dengan berat sekitar 1 ton.

Agus menuturkan lebih lanjut bahwa luka yang dialami anak gajah mengenai pergelangan kaki depan sebelah kiri. Jenis jerat yang melukainya adalah tali nilon dan diperkirakan telah berlangsung selama empat bulan. Tim dokter hewan lalu melepaskan tali nilon dari pergelangan kaki gajah dan memberikan obat antibiotik, antinyeri, vitamin, serta membersihkan luka bekas jeratan.

Baca juga: Lindungi Kehati Indonesia, LIPI Bangun Konservasi Eksitu Rumah Kaca Raksasa

“Setelah dilakukan pengobatan dan dari hasil pengamatan tim dokter hewan, kondisi luka anak gajah tidak parah sehingga diputuskan dilepasliarkan kembali. Alasannya karena luka bisa diobati dan supaya anak gajah ini bisa hidup dengan kelompok dan kawanannya,” ujar Agus.

Gajah Sumatera atau Elephas maximus sumatranus merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus spesies yang terancam kritis (Critically Endangered) dan berisiko tinggi punah di alam liar.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengimbau seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah Sumatera. Pada 2019, pemerintah pusat juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah terutama desa perbatasan hutan konservasi melalui program Kemitraan Konservasi. Kolaborasi tersebut untuk membangun kesepakatan bersama agar seluruh desa mendukung pengamanan hutan konservasi termasuk pencegahan pemasangan jerat.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/penggunaan-jerat-pada-satwa-terjadi-di-aceh/feed/ 0
Orangutan Sumatera Ditemukan Kritis dengan 74 Butir Peluru Bersarang di Tubuhnya https://www.greeners.co/berita/orangutan-sumatera-ditemukan-kritis-dengan-74-butir-peluru-bersarang-di-tubuhnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=orangutan-sumatera-ditemukan-kritis-dengan-74-butir-peluru-bersarang-di-tubuhnya https://www.greeners.co/berita/orangutan-sumatera-ditemukan-kritis-dengan-74-butir-peluru-bersarang-di-tubuhnya/#respond Thu, 14 Mar 2019 09:32:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22780 Tim BKSDA Aceh bersama dengan personel WCS-IP dan HOCRU-OIC mengevakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) yang terdiri dari anak dan induknya. Induk orangutan ini ditemukan kritis dengan 74 butir peluru senapan angin di tubuhnya. ]]>

Jakarta (Greeners) – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama dengan personel Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) dan HOCRU-OIC mengevakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) yang terdiri dari anak dan induknya. Dari informasi terbaru, diketahui induk orangutan dalam kondisi terluka parah terkena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan, punggung dan 74 butir peluru senapan angin ditemukan di sekujur tubuhnya. Peluru juga mengenai mata kanan mamalia malang ini. Bayi urangutan berumur satu bulan yang ditemukan bersamanya meninggal dalam proses evakuasi.

Upaya evakuasi bermula dari laporan warga bernama Sanita kepada petugas BKSDA Aceh tentang terjadinya konflik orangutan di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh. Tanggal 9 Maret 2019, tim BKSDA melakukan pengecekan ke lokasi dan dijumpai satu individu orangutan berikut sarang dan bekas makanan seperti pelepah daun sawit dan daun kelapa.

“Dari pemeriksaan medis luka-luka yang ada di tubuh orangutan ini sudah ada sejak 2-3 bulan terutama luka akibat peluru senapan angin. Artinya sudah cukup lama orangutan ini di kebun masyarakat tapi tidak ada pelaporan ke kami,” ujar Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji kepada Greeners saat dihubungi melalui telepon, Rabu (13/03/2019).

BACA JUGA: Pengesahan RUU Konservasi Terus Tertunda, UU No. 5/1990 Dianggap Masih Relevan 

Sapto mengatakan kalau orangutan tersebut terisolasi di kebun sawit milik seorang warga. Menurut warga setempat orangutan tersebut dalam kondisi kurang sehat. Berdasarkan pengakuan anak-anak di sekitar areal kejadian menyatakan orangutan tersebut sudah terkena alat dodos kelapa sawit dan anak orangutan tersebut sempat diambil dari induknya.

“Saat ditemukan keadaan bayi orangutan dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shocked berat, karena induknya sudah terluka dan tidak bisa memberikan asupan yang baik kepada anaknya. Ketika dalam perjalanan anak orangutan ini mati kemudian dikuburkan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara,” katanya.

Induk orangutan yang kemudian diberi nama Hope (harapan) ini kini berada di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara untuk ditangani secara intensif karena kondisinya yang sangat parah.

orangutan sumatera

Hasil X-Ray pada Hope memperlihatkan lokasi peluru senapan angin yang ditembakkan ke tubuh satwa malang ini. Foto: Foto: Yayasan Ekonomi Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL-SOCP)

Dari hasil pemeriksaan di Pusat Karantina Orangutan, Hope memiliki berat badan 35,68 Kg, kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi > 10 %. Bagian mulut terlihat bengkak, banyak bekas luka dan memar, mata kanan terlihat bengkak dan mengalami kerusakan permanen (bagian mata sudah mengecil dan berwarna putih susu). Kerusakan pada mata ini diperkirakan terjadi lebih dari 2-3 bulan yang lalu.

Selain itu, hasil pemeriksaan dengan X-ray menunjukkan sebanyak 74 butir peluru senapan angin tersebar di seluruh badan, patah tulang Clavicula kiri terbuka (tulang mencuat keluar dari kulit), retak tulang pelvis kiri dengan keretakan kurang lebih 2 cm.

“Peristiwa Hope ini masih diselidiki oleh Kapolda Aceh, tapi kalau hipotesis saya orangutan ini berkonflik karena mempunyai bayi, orang tertarik (pada bayi orangutan) dan jika dijual harganya mahal untuk bayi orangutan ini. Jadi si Induk berusaha melindungi anaknya. Indikasi dua bulan peluru itu sudah ada di badan Hope berarti ketika dia mengandung sudah ditembaki,” jelas Sapto.

BACA JUGA: Pengamat Temukan Anak Orangutan Tapanuli Kembar 

Atas kejadian ini Sapto mengirimkan surat kepada Kapolda Aceh untuk menertibkan peredaran senapan angin berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012. Peraturan ini mengatur bahwa kepemilikan senapan angin hanya untuk olahraga dan harus memiliki izin.

Kejadian di Subulussalam ini merupakan kejadian ke empat penggunaan senapan angin untuk menyerang orangutan di wilayah Aceh, selama kurun waktu 2010 – 2014. Kejadian pertama di Aceh Tenggara, ke dua di Aceh Selatan, ke tiga di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam ini.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/orangutan-sumatera-ditemukan-kritis-dengan-74-butir-peluru-bersarang-di-tubuhnya/feed/ 0