festival musik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/festival-musik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 28 Feb 2025 03:54:49 +0000 id hourly 1 Musisi Indonesia Suarakan Urgensi Lingkungan di Sonic/Panic Jakarta https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/#respond Fri, 28 Feb 2025 03:54:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=46030 Jakarta (Greeners) – Festival musik Sonic/Panic Jakarta sukses digelar di M Bloc Space pada Sabtu (22/2). Acara ini menghadirkan sejumlah musisi tanah air yang menyuarakan urgensi perlindungan lingkungan dan isu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Festival musik Sonic/Panic Jakarta sukses digelar di M Bloc Space pada Sabtu (22/2). Acara ini menghadirkan sejumlah musisi tanah air yang menyuarakan urgensi perlindungan lingkungan dan isu sosial, di tengah maraknya kebijakan yang tidak berpihak pada keberlanjutan.

Festival ini merupakan hasil kolaborasi antara IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dan M Bloc Entertainment. Mengusung tema Hutan Punah, Kota Musnah, lebih dari 500 penonton hadir di acara ini. Acara tersebut juga menampilkan berbagai musisi ternama, seperti Efek Rumah Kaca ft. Adrian Yunan, Barasuara, Endah N Rhesa, Voice of Baceprot, Navicula, REP & Tuantigabelas, Matter Mos, Petra Sihombing, Made Mawut, dan Bachoxs.

BACA JUGA: Konser Tak Ramah Lingkungan Tingkatkan Emisi dan Sampah

Sonic/Panic Jakarta hadir di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat terhadap kebijakan yang berisiko memperparah eksploitasi sumber daya alam dan deforestasi. Kebijakan tersebut juga mengancam ruang hidup masyarakat adat serta ekosistem perkotaan.

Iga Massardi, salah satu musisi yang terlibat dalam album kompilasi Sonic/Panic pertama, mengungkapkan bahwa pengalaman ini memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan lagu. Ia merasa semakin terdorong untuk membahas hal-hal yang lebih nyata dan memiliki dasar yang kuat. Hal ini turut berpengaruh pada album terbaru Iga.

“Secara artistik, saya ingin menyampaikan pesan. Namun, dari sisi humanis, saya semakin menyadari bahwa setiap hal yang kita konsumsi dan gunakan sehari-hari memiliki dampak. Kesadaran ini membuat saya lebih berhati-hati dan bijak dalam memilih produk yang saya gunakan,” ujar Iga dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/2).

Sonic/Panic Terapkan Prinsip Refill dan Reuse

Sementara itu, isu pembatasan kebebasan berekspresi melalui musik yang baru-baru ini terjadi semakin menegaskan bahwa suara kritis terhadap isu sosial dan lingkungan masih menghadapi tekanan.

Tagar #IndonesiaGelap, yang mencerminkan keresahan publik terhadap situasi sosial-politik saat ini, semakin menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal kebijakan negara. Oleh karena itu, dalam festival ini, para musisi juga hadir untuk menyuarakan hal tersebut.

Sonic/Panic Jakarta tidak hanya menjadi ruang untuk membahas urgensi isu sosial dan lingkungan. Festival ini juga berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama acara berlangsung.

BACA JUGA: Konser Musik Suarakan Perlindungan Terhadap Orang Utan

Untuk itu, penyelenggara menyediakan water refill station guna mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai. Mereka juga memastikan tidak ada produk dengan kemasan plastik sekali pakai sepanjang acara, baik oleh pengunjung maupun musisi.

Selain itu, makanan dan minuman yang tersaji untuk musisi dan panitia menggunakan wadah yang dapat didaur ulang. Peralatan makan dan gelas juga dapat dipakai kembali. Bahkan, gelang panitia terbuat dari kain perca sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan limbah.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa industri musik dapat berperan penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Industri musik juga berpotensi untuk menginspirasi ekosistemnya agar lebih sadar akan dampak yang timbul terhadap bumi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/musisi-indonesia-suarakan-urgensi-lingkungan-di-sonic-panic-jakarta/feed/ 0
Konser Ramah Lingkungan Dinanti untuk Kurangi Sampah dan Emisi https://www.greeners.co/berita/konser-ramah-lingkungan-dinanti-untuk-kurangi-sampah-dan-emisi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konser-ramah-lingkungan-dinanti-untuk-kurangi-sampah-dan-emisi https://www.greeners.co/berita/konser-ramah-lingkungan-dinanti-untuk-kurangi-sampah-dan-emisi/#respond Thu, 18 May 2023 06:38:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40101 Jakarta (Greeners) – Maraknya festival dan konser musik sangat mungkin menyumbang peningkatan timbulan sampah dan emisi. Demi menyelamatkan lingkungan dari sampah, sebagian besar penyelenggara telah mengambil langkah nyata dalam menerapkan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Maraknya festival dan konser musik sangat mungkin menyumbang peningkatan timbulan sampah dan emisi. Demi menyelamatkan lingkungan dari sampah, sebagian besar penyelenggara telah mengambil langkah nyata dalam menerapkan konsep green concert atau konser ramah lingkungan.

Band asal Inggris, Coldplay yang kini tengah diperbincangkan, merupakan salah satu contoh yang ikut andil dalam menyelamatkan lingkungan. Coldplay memiliki prinsip reduce, reinvent, dan restore dalam konsernya.

Coldplay berjanji akan mengurangi emisi CO2 hingga 50 %. Selain itu, mereka juga membagikan gelang compostable kepada para penonton dan mereka pun akan menggunakan konfeti yang dapat terurai secara hayati.

Di Indonesia, Java Jazz Festival juga mengusung less waste dalam perhelatan musiknya. Sejak beberapa tahun yang lalu, mereka konsisten menerapkan prinsip tersebut. Tahun 2022 timbulan sampah penonton Java Jazz Festival mencapai 6,25 ton. Penanganan sampah tersebut terpilah sehingga meminimalisir timbulan sampah di tempat pembuangan akhir. 

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safruddin menilai, penerapan green concert ini harus banyak yang diperhatikan. Misalnya mulai dari penonton menggunakan angkutan umum, membawa tumbler, dan tidak menyisakan makanan selama konser.

“Penonton apakah bisa tertib dan disiplin dengan berangkat pakai angkutan umum. Lalu mereka membawa tumbler untuk minum, tidak merusak taman, dan tidak menyisakan makanan dan minuman selama masa konser,” kata Safruddin kepada Greeners, Kamis (18/5).

Konser musik hasilkan timbulan sampah yang tidak sedikit. Foto: goingzerowaste

Penerapan Konser Ramah Lingkungan

Penerapan konsep ramah lingkungan di berbagai konser berbeda-beda. Namun, sebagian besar promotor acara telah memulai konsep pemilahan sampah dengan menyediakan tempat sampah terpilah.

Pemilahan sampah ini telah Dyandra Global Edutaiment (DGE) lakukan. Sebagai promotor acara yang telah peduli terhadap lingkungan, DGE membentuk Dyandra Global Sustainabilty Action. Inisiasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap pengelolaan sampah.

Acara musik Synchronize Festival juga telah berpartisipasi untuk mengajak penonton mengurangi sampah. Mulai pada tahun 2019, acara ini telah menginisiasikan festival ramah lingkungan.

Upaya ramah lingkungan yang dilakukannya yaitu pihak acara menyediakan water station di setiap sudut tempat. Oleh karena itu, pengunjung dapat refill air minum dan mengurangi sampah air minum kemasan sekali pakai.

Tempat sampah terpilah di lokasi konser musik. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Manfaat Konser Berkelanjutan

Penerapan green concert telah memberikan manfaat bagi lingkungan. Manfaat tersebut di antaranya tidak menambah beban kerusakan, pencemaran, dan kebisingan lingkungan.

Safruddin juga menambahkan, promotor acara dapat belajar dari berbagai referensi tentang green concert atau berbincang dengan para pakarnya. 

Saat ini, salah satu aksi yang sudah menjadi kesadaran bagi penyelenggara acara yaitu concern terhadap pemilahan sampah. Para penyelenggara menyediakan tempat sampah terpilah untuk memudahkan pengelolaan sampah.

Hal ini juga mendorong penonton untuk mulai membuang sampah sesuai jenisnya sehingga memudahkan petugas memilah sampah.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/konser-ramah-lingkungan-dinanti-untuk-kurangi-sampah-dan-emisi/feed/ 0
Rangkaian Aksi Nyata Green Movement Synchronize Festival 2019 https://www.greeners.co/aksi/green-movement-synchronize-festival-2019/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=green-movement-synchronize-festival-2019 https://www.greeners.co/aksi/green-movement-synchronize-festival-2019/#respond Sun, 06 Oct 2019 05:02:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=24398 Green Movement Synchronize Festival didukung oleh aksi nyata semua pihak termasuk panitia, sponsor hingga penonton mewujudkan festival yang bertanggung jawab.]]>

Jakarta (Greeners) – Green Movement di Synchronize Festival 2019 bukan hanya sekadar kampanye semata. Inisiatif ini didukung oleh aksi nyata semua orang di dalamnya, termasuk para sponsor maupun penonton yang menerapkan empat pilar Green Movement, yakni internal change behavior, bring your own tumbler, bike to synchronize, dan penerapan waste management pada event.

Keempat pilar ini terasa pada setiap sudut penyelenggaraan Synchronize Festival. Seperti aturan membawa wadah minum (tumbler) bagi seluruh panitia dan pengisi acara, serta disediakan Water Station yang bisa digunakan oleh seluruh panitia dan pengunjung festival untuk isi ulang tumbler-nya.

“Jadi, kita melihat bahwa dampak dari sebuah festival yang kita jalankan dengan semua kesenangan kita ini berpotensi menghasilkan sesuatu yang kurang baik ke lingkungan, artinya pengelolaannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Kami belajar dari semua orang yang sudah berpengalaman untuk membentuk empat pilar tersebut. Kita tau mengurangi walaupun belum bisa menghilangkan,” ujar David Karto selaku Festival Director Synchronize Festival kepada Greeners, Sabtu (05/10/2019).

Selain itu, pihak penyelenggara juga menyediakan sarana dan fasilitas yang memadai untuk menunjang partisipasi para pengunjung. Selain fasilitas Water Station, panitia juga mengajak pengunjung untuk menggunakan public transport dan menggelar Bike To Synchronize dengan titik mulai di Plaza Blok M pada pukul 16:00 WIB menuju Gambir Expo Kemayoran. Area parkir sepeda pun tersedia khusus bagi para pesepeda yang hendak hadir ke Synchronize Festival.

“Dengan estimasi 25 ribu pengunjung per hari, respon pengunjung untuk bring your own tumbler ini seru banget. Ada pandangan dan suasana yang berbeda dari festival dengan sepanjang mata memandang pasti ada yang membawa tumbler dengan koleksi tumbler mereka masing-masing. Jadi ketika pintu masuk minuman dari luar tidak diperbolehkan masuk kecuali bawa tumbler,” ujar David.

Rangkaian Aksi Nyata Green Movement Synchronized Festival 2019 Wastebin

Wadah sampah terpilah bagi pengunjung festival. Foto : Instagram Synchronize Festival

Waste Management yang diterapkan di Synchronize Festival mengadopsi pedoman Less Waste Event, selain menyediakan wadah sampah terpilah (Food Waste, Daur Ulang dan Residu) sampah Synchronize Festival dikelola dan disalurkan dengan benar sesuai dengan jenisnya dengan total sebanyak 1,6 ton sampah terhitung pada akhir pelaksanaan hari pertama (4 Oktober).  

Salah satu sudut yang juga menarik adalah Upcycling Project di selasar Gambir Expo yang mengolah bahan bekas promosi berupa umbul-umbul dan baliho bekas untuk dijadikan produk yang memiliki nilai. Serta aksi Green Power Electricity nampak terlihat di seluruh area Synchronize Festival 2019 dengan total 2,7 juta Volt Ampere (VA) sebagai sumber listrik yang ramah lingkungan dari PLN.

Melihat antusiasme para pengunjung, untuk ke depannya penyelenggara akan terus menerapkan Green Movement Synchronize Festival ini dan akan belajar banyak dalam penyelenggaraan di tahun pertama.

Pihak penyelenggara Synchronize Festival memiliki keyakinan bahwa aksi kecil dapat membawa dampak perubahan yang besar bila dilakukan bersama-sama. Sehingga perubahan yang dimulai di festival dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/green-movement-synchronize-festival-2019/feed/ 0
Synchronize Fest 2019 Siap “Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia” https://www.greeners.co/aksi/synchronize-fest-2019-siap-memanusiakan-alam-mengalamikan-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=synchronize-fest-2019-siap-memanusiakan-alam-mengalamikan-manusia https://www.greeners.co/aksi/synchronize-fest-2019-siap-memanusiakan-alam-mengalamikan-manusia/#respond Thu, 25 Apr 2019 13:08:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=23190 Synchronize Festival 2019 mengusung tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”. Sesuai dengan tema tersebut, festival musik ini berinisiatif melakukan gerakan peduli sosial dan lingkungan atas dampak pelaksanaan festival.]]>

Jakarta (Greeners) – Ada yang berbeda dari Synchronize Festival 2019. Acara yang menggelar konser dari beragam genre musik ini mengusung tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia”. Sesuai dengan tema tersebut, Synchronize Fest berinisiatif melakukan gerakan peduli sosial dan lingkungan atas dampak pelaksanaan festival.

David Karto selaku Festival Director Synchronize Festival mengatakan bahwa tema “Memanusiakan alam, mengalamikan manusia” menjadi ajakan bersama dalam menjaga keseimbangan sebagai bentuk respon dari tagline Synchronize Fest 2019 yakni “It’s Not Just A Festival It’s A Movement”. Ide untuk untuk memasukan isu lingkungan dalam festival musik ini sudah direncanakan sejak tahun kedua penyelenggaraan Synchronize Festival.

“Awalnya kami melihat banyak pertunjukan musik di luar maupun dalam negeri yang sudah menerapkan gerakan lingkungan. Makanya, di tahun ini dengan kemampuan yang kami punya mencoba memaksimalkannya di Synchronize Festival. Kami tidak mau isu lingkungan ini hanya bertahan setahun saja tapi sampai ke depannya,” ujar David saat konferensi pers di Ecology Kemang, Jakarta, Rabu (24/04/2019).

Untuk menerjemahkan tema ini, David berkolaborasi dengan Ruang Usaha Kreatif (RUX) yang diwakilkan oleh Ade Darmawan dan Saleh Husein sebagai Art Director, serta Greeners.co untuk mengaplikasikan Green Movement dalam Synchronize Fest.

Terkait Green Movement, ada empat aksi untuk lingkungan yang akan dijalankan selama penyelenggaraan Synchronize Fest. Keempat aksi tersebut, yakni Internal Change Behaviour, Waste Management, Bring Your Own Tumbler, Bike to Synchronize & Public Transportation.

Editor Senior Greeners.co, Renty Hutahaean mengatakan bahwa Demajors dan Dyandra Promosindo selaku pihak penyelenggara bersama Greeners.co sepakat Synchronize Festival bisa berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan menerapkan Less Waste Event. Prosedur Less Waste Event sendiri telah diresmikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui Pedoman Pengelolaan Sampah Pada Pelaksanaan Acara.

“Aksi nyata waste management atau less waste event ini, yakni dengan menyediakan wadah sampah terpilah pada area festival, mengolah sampah organik yang dihasilkan dari festival menjadi kompos, membuka Synchronize Recycle Station, di mana pengunjung bisa terlibat aktif dalam mengelola sampahnya selama festival berlangsung. Serta membuka ruang kerjasama komunitas yang bisa memanfaatkan barang bekas pakai dari seluruh lini promosi festival seperti umbul-umbul dan baliho menjadi produk dengan nilai tambah (upcycling project),” jelas Renty.

David menambahkan bahwa dalam Synchronize Fest 2019 pengunjung sangat disarankan untuk mengendarai sepeda atau menggunakan kendaraan umum ke area festival karena penyelenggara akan memberikan parkir gratis serta menyediakan lokasi parkir sepeda yang aman, layak dan nyaman bagi pesepeda.

“Harapan kami dari ide peduli lingkungan ini Synchronize Festival bisa membawa perubahan perilaku terhadap pengunjung atau penonton yang hadir dalam festival nanti. Senang jika mereka bisa menyontohkan dan membawa perilaku itu di luar festival,” tutup David.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/synchronize-fest-2019-siap-memanusiakan-alam-mengalamikan-manusia/feed/ 0
Satu Dasawarsa, Jazz Gunung 2018 Ajak Penonton Merayakan Keragaman Indonesia https://www.greeners.co/aksi/satu-dasawarsa-jazz-gunung-2018-ajak-penonton-merayakan-keragaman-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=satu-dasawarsa-jazz-gunung-2018-ajak-penonton-merayakan-keragaman-indonesia https://www.greeners.co/aksi/satu-dasawarsa-jazz-gunung-2018-ajak-penonton-merayakan-keragaman-indonesia/#respond Thu, 28 Jun 2018 12:55:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=20789 Tahun ini, pagelaran jazz internasional bernuansa etnik yang diadakan di atas ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut ini menawarkan banyak hal baru kepada penonton.]]>

Jakarta (Greeners) – Tahun ini Jazz Gunung genap menginjak satu dasawarsa. Pagelaran jazz internasional bernuansa etnik yang diadakan di atas ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut ini dilangsungkan selama 3 hari pada 27,28 dan 29 Juli 2018 di Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur.

Penggagas Jazz Gunung Djaduk Ferianto mengatakan bahwa merayakan keragaman selalu menjadi salah satu ciri khas dari Jazz Gunung dan keragaman ini dapat dilihat dari para musisi yang tampil mengisi acara juga penonton lintas generasi yang datang. Genre musik yang akan dibawakan pun akan beragam, seperti world music, pop, funk, dub, reggae, soul, R&B hingga folk.

“Negara kita mempunyai kecenderungan menyeragamkan apalagi di tahun politik ini. Kita yang mempunyai kekuatan muda harus menggalakkan musik sebagai salah satu yang mempunyai kemerdekaan dan bisa menggambarkan akan keragaman,” ujar Djaduk kepada Greeners pada acara Press Conference Jazz Gunung 2018 di Kemang, Kamis (28/06/2018).

Menurut Djaduk, dari musik yang dibawakan para musisi nantinya bisa menunjukkan kepada penonton dan dunia bahwa Indonesia mempunyai kekuatan , yaitu keragaman dan kebhinekaan yang tidak bisa diseragamkan oleh kekuatan modal.

“Adanya Indonesia karena adanya perbedaan. Saya pun menghargai setiap musisi yang tampil di acara Jazz Gunung ini untuk menampilkan musik mereka, karena saya meyakini bahwa para musisi pasti punya ruang interpretasinya masing-masing. Maka itu, tidak ada keseragaman tersebut,” katanya.

Dalam penyelenggaraan di tahun ke-10 nanti, penyanyi pop duo Indonesia, Endah dan Rhesa akan tampil untuk pertama kalinya mengisi acara Jazz Gunung 2018. Selain itu, untuk pertama kalinya pula acara ini digelar tiga hari dimana pada hari ketiga acara akan dimulai pada pukul 05.00 WIB pagi. Acara ini dinamai Jazz Gunung Pagi-Pagi.

“Untuk Jazz Gunung Pagi-Pagi akan kita buat lebih santai dan lebih dekat dengan penonton,” ujar Djaduk. Ia juga menambahkan bahwa penonton di hari ketiga tersebut dapat menikmati kopi khas Bromo yang akan diberikan gratis.

“Jazz Gunung membawa nuansa yang berbeda dalam dunia seni pertunjukan musik, serta menjadi ajang untuk mencintai kearifan alam pegunungan yang telah menjadi simbol budaya asli di Nusantara,” katanya.

Dalam semangat merayakan keragaman sekaligus memberikan pengalaman berbeda kepada penonton Jazz Gunung 2018, kelompok musik afrobeat asal Belanda, Jungle by Night dan band trio asal Perancis, Insula akan tampil dalam jadwal yang belum ditentukan.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/satu-dasawarsa-jazz-gunung-2018-ajak-penonton-merayakan-keragaman-indonesia/feed/ 0
Synchronize Festival 2017 Siap Hadirkan Festival Musik Ramah Disabilitas https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-siap-hadirkan-festival-musik-ramah-disabilitas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=synchronize-festival-2017-siap-hadirkan-festival-musik-ramah-disabilitas https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-siap-hadirkan-festival-musik-ramah-disabilitas/#respond Sat, 23 Sep 2017 10:28:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=18776 Synchronize Festival 2017 siap menghadirkan festival musik yang "family friendly" dan juga ramah disabilitas.]]>

Jakarta (Greeners) – Ingin mengulangi kesuksesan yang sama seperti tahun lalu, Synchronize Festival 2017 siap diselenggarakan kembali pada tanggal 6, 7, dan 8 Oktober 2017 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Pada tahun 2016 kemarin, Synchronize Festival berhasil menampilkan ratusan musisi ternama Indonesia dan dihadiri oleh puluhan ribu penonton dari berbagai kalangan. Tahun ini, sebanyak kurang lebih 101 musisi lokal dari berbagai genre musik siap meramaikan Synchronize Festival 2017 dan siap merayakan keberagaman musik Indonesia.

“Synchronize Festival 2017 diharapkan dapat menjadi wadah ekspresi bagi berbagai musisi lokal di rumahnya sendiri dan juga sebagai langkah nyata proses perkembangan terkini kancah musik nasional,” tegas penggagas sekaligus Festival Director Synchronize Festival 2017, David Karto, saat ditemui di kawasan SCBD Jakarta, Rabu (20/09).

Selain menyajikan ratusan pertunjukan musik selama tiga hari tiga malam, Synchronize Festival 2017 juga akan menghadirkan berbagai fasilitas menarik lainnya. Fasilitas tersebut di antaranya adalah record market, movie area, food bazaar, creative bazaar, dan masih banyak lagi. Untuk lebih memanjakan pengunjung, tahun ini Synchronize Festival siap menghadirkan festival musik yang family friendly dan yang hebatnya lagi, ramah disabilitas.

“Beda seperti tahun lalu, tahun ini Synchronize Festival akan menyediakan fasilitas khusus untuk para penyandang disabilitias. Pastinya ada beberapa audience penyandang disabilitas yang ingin hadir menyaksikan acara ini, sehingga tentunya kita harus memfasilitasi mereka,” ujar Muhammad Riza, Director PT Dyandra Promosindo, pada kesempatan yang sama.

“Synchronize Festival juga akan menjadi acara musik yang family friendly. Semua orang dari semua generasi bisa hadir, mulai dari oma-oma sampai anak kecil juga bisa hadir. Semua orang, mulai dari penikmat dangdut hingga penikmat jazz, bisa sama-sama menikmati musik di sini,” tambah Riza.

Pihak Synchronize Festival 2017 juga sadar bahwa musik adalah sesuatu yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja, termasuk oleh para penyandang disabilitas. Beberapa fasilitas baru seperti jalur-jalur khusus akan dibangun guna memudahkan audience penyandang disabilitas untuk menuju panggung.

“Area di Gambir Expo kan ada yang naik turun, ada banyak undakan-undakan. Kita tahu bahwa hal itu akan menyulitkan bagi para penyandang disabilitas. Supaya mereka bisa melewati undakan-undakan tersebut, rencananya akan dibuat rel khusus. Lalu di setiap panggung besar, akan kita sediakan satu area khusus bagi para penyandang disabilitas yang akan kita barikade,” papar Riza. Ia juga menambahkan bahwa akan tersedia spot-spot khusus lainnya bagi penyandang disabilitas.

Tak hanya itu, Synchronize Festival 2017 pun akan diciptakan sebagai festival musik yang bersih. Tahun lalu, Synchronize Festival berhasil menyelenggarakan festival musik yang minim sampah. Selain didukung oleh fasilitas kebersihan yang memadai, hal tersebut tentunya didukung pula oleh kesadaran tinggi dari pengunjung.

“Synchronize Festival tahun kemarin adalah festival musik paling bersih yang pernah saya lihat dan saya buat. Bersih banget, mereka semua (para pengunjung Synchronize Festival 2016) memiliki kesadaran tinggi untuk buang sampah ke tempatnya. Petugas kebersihan juga jadi enggak ada kerjaan sepertinya, karena sampahnya ternyata enggak terlalu banyak. Saya salut banget, mudah-mudahan tahun ini pengunjungnya masih bersikap seperti itu,” kata Riza dengan nada harap.

Tahun ini, pihak Synchronize Festival 2017 akan menyediakan fasilitas kebersihan yang memadai. Nantinya, sampah yang terkumpul akan disalurkan ke pihak Gambir Expo. Selain itu, di masa mendatang David berharap bahwa Synchronize Festival dapat menjadi festival musik yang lebih hijau.

“Kita akan menyiapkan tong sampah di mana-mana tentunya. Untuk masalah pembuangan sampah, kita akan menyerahkan ke pihak venue dulu. Tapi semoga saja kedepannya Synchronize Festival sudah bisa bicara tentang go green. Kita akan lakukan secara bertahap,” tutup David.

Sebagai informasi, Synchronize Festival merupakan festival musik multi-genre tahunan berskala nasional yang diselenggarakan oleh Dyandra Promosindo dan Demajors. Selama tiga hari tiga malam, Synchronize Festival akan menyajikan penampilan dari musisi-musisi lokal, mulai dari dekade 70-an, 80-an, 90-an, hingga 2000-an.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-siap-hadirkan-festival-musik-ramah-disabilitas/feed/ 0
Synchronize Festival 2017 Akan Kembali Satukan Musik Indonesia https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-kembali-satukan-musik-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=synchronize-festival-2017-kembali-satukan-musik-indonesia https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-kembali-satukan-musik-indonesia/#respond Thu, 08 Jun 2017 06:41:02 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=17238 D'Majors dan Dyndra Promosindo akan kembali menggelar Synchronize Festival pada tanggal 6-8 Oktober 2017 mendatang. Festival musik dengan tagline "It's Not Just A Festival, It's A Movement" ini akan berlangsung di Gambir Expo, Jakarta.]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah sukses menarik 23 ribu penonton datang ke Synchronize Festival tahun lalu, D’Majors dan Dyndra Promosindo akan kembali menggelar Synchronize Festival pada tanggal 6-8 Oktober 2017 mendatang. Festival musik dengan tagline “It’s Not Just A Festival, It’s A Movement” ini akan berlangsung di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta.

Technical festival director Synchronize Festival 2017, Muhammad Riza, menyatakan bahwa Synchronize Festival 2017 memiliki konsep lintas genre dan lintas generasi, sehingga siapa saja dapat menikmati acara tersebut.

“Kita punya konsep lintas genre, berarti aliran musik (yang akan ditampilkan di festival ini) berbeda-beda. Kita juga lintas generasi. Kita ingin festival ini bukan hanya untuk sekelompok usia tertentu, tapi kita ingin dari anak kecil hingga oma-oma bisa datang juga. Festival ini adalah festival untuk segala usia,” tutur Riza pada konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Rabu (07/06).

Masih sama seperti tahun kemarin, Synchronize Festival tahun ini memiliki misi untuk menyatukan keberagaman musik di Indonesia. Festival musik ini juga ingin menjadi melting pot bagi para musisi dan penikmat musik Indonesia. Seluruh musisi yang akan tampil merupakan musisi lokal.

“Di festival ini, kita ingin teman-teman musisi dari semua aliran musik bisa bersatu. Selain itu, musisi lain juga memiliki kesempatan untuk melakukan ‘ekspansi’. Misalnya, band Navicula tampil di depan penggemar Danilla. Hal ini bisa membuka pikiran penonton bahwa seberagam inilah musik Indonesia,” papar Kiki ‘Ucup’, program director Synchronize Festival 2017.

Melalui acara ini juga, festival director Synchronize Festival 2017 David Karto menyatakan ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa musik di Indonesia benar-benar berkembang pesat. “Perkembangan musik di sekitar kita benar-benar pesat. Kita pasti bisa mengamini itu. Kami ingin menunjukkan kepada publik luas lewat festival ini,” ujar David.

David juga menegaskan bahwa Synchronize Festival merupakan festival musik yang bersih dan family-friendly. Pada Synchronize Festival 2017 akan disediakan tempat sampah dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga para pengunjung tidak akan mengalami kesulitan untuk membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, pihak Synchronize Festival 2017 juga akan menyediakan fasilitas berupa playground yang dapat dinikmati oleh anak-anak dan keluarga.

“Acara kita sangat family-friendly. Selain itu, festival ini juga merupakan salah satu festival yang bersih. Kita menyediakan tong sampah dimana-mana, dan pengunjungnya juga disiplin. Mungkin kedepannya, Synchronize Festival sudah bisa bicara tentang how to make our earth green. Secara konsep kita sudah ada, dan kita akan lakukan secara bertahap,” papar Riza.

Pada Synchronize Festival 2017 para musisi yang akan tampil diantaranya Ebiet G. Ade, Barasuara, Tohpati Bertiga, Payung Teduh, Danilla, Naif, Koil, Tony Q Rastafara, Indische Party, Silampukau, Gugun Blues Shelter, dan Pee Wee Gaskins. Masih akan ada puluhan artis lainnya yang akan diberitahukan selanjutnya. Kurang lebih dari seratus musisi akan tampil dalam festival ini.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/aksi/synchronize-festival-2017-kembali-satukan-musik-indonesia/feed/ 0
Kebinekaan Bermusik Indonesia dalam Synchronize Fest 2016 https://www.greeners.co/aksi/kebinekaan-bermusik-indonesia-synchronize-fest-2016/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebinekaan-bermusik-indonesia-synchronize-fest-2016 https://www.greeners.co/aksi/kebinekaan-bermusik-indonesia-synchronize-fest-2016/#respond Mon, 31 Oct 2016 08:40:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=15077 Mewujudkan kebinekaan dalam diri anak muda bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk pendekatan melalui musik. Semangat inilah yang membawa Demajors menggelar Synchronize Fest 2016.]]>

Jakarta (Greeners) – Mewujudkan kebinekaan dalam diri anak muda bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk pendekatan melalui musik. Musik sebagai bahasa yang universal juga dianggap sebagai sarana penyampai pesan yang ampuh untuk menyatukan berbagai perbedaan.

Semangat persatuan melalui musik inilah yang membawa label rekaman independen Demajors menggelar Synchronize Fest 2016. Festival musik yang menghadirkan musisi lokal dari berbagai genre dan generasi ini berkolaborasi dengan salah satu event organizer terbesar di Indonesia, Dyandra Promosindo.

“Dalam festival ini, setiap satu genre musik akan dipadukan dengan genre musik lainnya. Bayangkan, musik death metal nan brutal akan bertemu hempasan dangdut legendaris. Horror punk berbagi slot dengan indie rock kekinian, jazz eksperimental bertemu gerombolan hip hop 90-an. Grindcore berjumpa dengan pop mainstream, hingga punk rock bersanding dengan aura folk. Itu kan keren,” ujar penggagas sekaligus Festival Director Synchronize Fest 2016, David Karto kepada Greeners, Jakarta, Minggu (30/10).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Menurut David, festival musik ini diselenggarakan untuk menghadirkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dari musik dan musisi era 1970-2000-an, baik di bawah naungan label musik maupun indie.

Melalui festival ini, katanya, penikmat musik Indonesia akhirnya tiba pada masa dimana Bhinneka Tunggal Ika dalam musik menjadi kenyataan. “Ini bukan hanya sekadar musik. Syncronize Fest ini adalah sebuah movement, sebuah pergerakan melalui musik,” tutupnya bersemangat.

Sebagai Informasi, Synchronize Fest 2016 adalah hasil kolaborasi antara Dyandra Promosindo dengan label rekaman independen Demajors. Selain suguhan ratusan konser musik, juga menghasilkan sederet program seperti sajian movie arena, record market bagi para kolektor musik, hingga visual experience yang ditampilkan melalui pameran aneka karya desain merchandise para seniman andal dari kolektif seni ruang rupa. Festival musik ini berlangsung pada 28-30 Oktober 2016 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta.

Para penampil dalam festival, diantaranya Blackteeth, Deadsquad, Kelompok Penerbang Roket, Matajiwa, Endank Soekamti, Pee Wee Gaskins, Navicula, Tulus, Kunto Aji, Sore, Tony Q Rastafara, Mocca, Gugun Blues Shelter, The Groove, Glenn Fredly, Sheila on 7, Monita, dan Efek Rumah Kaca. Bahkan, raja dangdut Rhoma Irama juga akan hadir bersama Soneta Group dengan total penampil ada 104 musisi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kebinekaan-bermusik-indonesia-synchronize-fest-2016/feed/ 0
Tenda Kardus Daur Ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tenda-kardus-daur-ulang https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/#respond Tue, 08 Mar 2016 06:56:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13100 Tidak ada festival yang tidak menyisakan banyak sampah, begitu pun festival musik sekelas dunia. Limbah sisa-sisa tenda setelah festival musik adalah sebuah permasalahan besar di beberapa negara, terutama karena jumlahnya yang cukup banyak.]]>

Festival musik dunia menjadi agenda tahunan yang didatangi banyak pengunjung. Woodstock misalnya. Tidak ada festival yang tidak menyisakan banyak sampah, begitu pun festival musik sekelas dunia. Limbah sisa-sisa tenda setelah festival musik adalah sebuah permasalahan besar di beberapa negara, terutama karena jumlahnya yang cukup banyak.

Bukanlah pemandangan yang aneh jika usai festival musik dunia diselenggarakan, timbunan tenda memenuhi permukaan tanah, sama halnya dengan sampah lainnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, sebuah perusahaan rintisan dari Belanda mempunyai solusinya: KarTent.

Penggunaan KarTent dapat mengurangi sampah tenda yang menumpuk di area festival musik yang diadakan di area terbuka. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Penggunaan KarTent dapat mengurangi sampah tenda yang menumpuk di area festival musik yang diadakan di area terbuka. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Seperti yang diberitakan di situs Inhabitat, KarTent merupakan bahan yang tersebut dari kardus yang 100% dapat didaur ulang. Tenda yang kuat dan ringan ini mudah digunakan dan didirikan serta sangat mudah untuk didaur ulang.

Sejumlah para penikmat festival memang menggunakan ulang tenda mereka. Meski demikian para desainer di belakang produk KarTent menyadari bahwa beberapa orang tertentu hanya membutuhkan tenda sekali pakai. Menurut perusahaan tersebut, satu dari empat pengunjung festival meninggalkan tenda bekas mereka di tempat acara festival tersebut.

KarTent dibuat dari kardus yang sangat ringan namun tahan digunakan selama tiga hari saat hujan. Foto: KarTent/Inhabitat.com

KarTent dibuat dari kardus yang sangat ringan namun tahan digunakan selama tiga hari saat hujan. Foto: KarTent/Inhabitat.com

Solusi yang disuguhkan oleh produk KarTent adalah sebuah tenda yang dijamin cukup kuat untuk bertahan tetap kering selama tiga hari. Tiga hari merupakan rentang waktu yang biasa dipakai oleh festival musik seperti Woodstock. KarTent memuat dua orang dengan nyaman, bahkan dengan ruang sisa untuk tempat menyimpang barang. Tiap tenda dikirimkan dalam bentuk kemasan tipis dan beratnya hanya 0.6 kg dengan luas yang dipakai sebesar 3.3 m2.

Selain ringan dan bisa didaur ulang, KarTent juga mempunyai kelebihan bisa dibuat sesuai dengan rancangan tertentu. Tenda bisa dicetak dengan menggunakan logo sponsor atau gambar pribadi di permukaannya. Saat ini perusahaan ini sedang membuat desain terbaru yang bisa menampung empat orang di dalam satu tenda.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/tenda-kardus-daur-ulang/feed/ 0
Upaya Mengurangi Sampah, Java Jazz 2016 Terapkan Less Waste More Jazz https://www.greeners.co/aksi/upaya-mengurangi-sampah-java-jazz-2016-terapkan-less-waste-more-jazz/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=upaya-mengurangi-sampah-java-jazz-2016-terapkan-less-waste-more-jazz https://www.greeners.co/aksi/upaya-mengurangi-sampah-java-jazz-2016-terapkan-less-waste-more-jazz/#respond Thu, 03 Mar 2016 05:17:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=13048 Festival Java Jazz, akan kembali digelar. Festival yang pada tahun ini bertajuk “Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2016” akan menjadi festival yang tidak hanya memperdengarkan musik, namun juga mengampanyekan pemilahan sampah.]]>

Jakarta (Greeners) – Festival musik jazz terbesar di Indonesia, Java Jazz Festival, akan kembali digelar. Festival yang pada tahun ini bertajuk “Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2016” akan menjadi festival yang tidak hanya memperdengarkan musik, namun juga mengampanyekan pemilahan sampah. Program yang dinamakan Less Waste More Jazz ini merupakan hasil kerjasama dengan PT Java Festival Production yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, Novrizal, mengatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat terkait masalah lingkungan hidup tidak dapat terjadi tanpa adanya dorongan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Menurutnya, program Less Waste More Jazz pun termasuk dalam upaya perubahan tersebut.

“Kita akan terus mendorong perubahan dalam tatanan masyarakat terkait sampah,” ujar Novrizal pada acara konferensi pers “Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2016”, Jakarta, Rabu (03/03).

Less Waste More Jazz merupakan sebuah program pemilahan sampah yang akan dijalankan selama Java Jazz Festival 2016 berlangsung. Di lokasi acara akan disediakan tempat sampah untuk memilah sampah yang akan dibuang. Pengunjung akan diajak untuk memilah antara sampah sisa makanan (food waste) dengan sampah kemasan makanan (food packaging waste).

Tempat sampah yang disediakan khusus untuk memilah sampah ini akan disediakan sebanyak 80 unit. Tempat sampah tersebut bertujuan untuk meminimalisir tumpukan sampah yang berserakan di area festival jazz terbesar di Indonesia ini.

“Jadi kita (bersama penyelenggara) ingin menciptakan kehidupan yang jazzy itu kalau mampu mengurangi sampah,” ungkapnya.

Novrizal juga mengungkapkan bahwa event musik seperti Java Jazz sangat potensial untuk menjadi medium untuk mengkampanyekan pengurangan dan pemilahan sampah. Ia berharap masyarakat memiliki antuasiasme untuk mengubah lingkungan Indonesia menjadi lebih baik.

Di temui di lokasi yang sama, Direktur Utama PT Java Festival Production, Dewi Gontha menyatakan bahwa penyelenggaraan Java Jazz ke dua belas ini tidak dapat dilepaskan dari dukungan berbagai pihak, termasuk dorongan dari KLHK dalam mengurangi sampah.

“Pertama kalinya Java Jazz mendapat banyak dukungan penuh, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan kepercayaan dalam penyelenggaraan Java Jazz,” ujar Dewi.

Sebagai informasi, Jakarta International Java Jazz Festival akan kembali digelar pada tanggal 4-6 Maret 2016. Sebanyak 40 musisi internasional dan 64 musisi dalam negeri akan unjuk kebolehan bermusik di sebelas panggung yang tersebar di area JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/aksi/upaya-mengurangi-sampah-java-jazz-2016-terapkan-less-waste-more-jazz/feed/ 0
Java Jazz 2016 Kembali Kampanyekan Program Less Waste More Jazz https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2016-kembali-kampanyekan-program-less-waste-more-jazz/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=java-jazz-2016-kembali-kampanyekan-program-less-waste-more-jazz https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2016-kembali-kampanyekan-program-less-waste-more-jazz/#respond Wed, 27 Jan 2016 05:16:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12653 Untuk kedua kalinya, festival musik jazz tahunan yang diselenggarakan oleh PT Java Festival Production kembali mengampanyekan aksi Less Waste More Jazz 2016 bersama Greeners.co.]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk kedua kalinya, festival musik jazz tahunan yang diselenggarakan oleh PT Java Festival Production kembali mengampanyekan aksi Less Waste More Jazz 2016 bersama Greeners.co sebuah media yang fokus terhadap permasalahan lingkungan.

Syaiful Rochman, Pemimpin Redaksi Greeners.co mengutarakan, dari hasil kerjasama pada penyelenggaran Java Jazz tahun lalu, program Less Waste More Jazz berhasil mengolah sampah yang timbul selama tiga hari penyelenggaraan dengan total 351 kilogram sampah kemasan makanan dan 46 kilogram sampah kertas.

“Tahun lalu sampah setelah acara selesai tidak diserahkan ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) melainkan dikelola sehingga tidak mencemari lingkungan,” katanya pada jumpa pers yang dilaksanakan di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (26/01).

Untuk peyelenggaraan tahun ini, ia berharap telah terbentuk kesadaran pengunjung dalam memahami bahwa sampah makanan dan minuman yang dihasilkan pengunjung berpotensi menjadi tumpukan sampah. Dengan adanya kesadaran ini diharapkan tumbuh rasa tanggung jawab dari para pengunjung untuk turut menjaga kebersihan lingkungan di sekitar area festival.

Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, program Less Waste More Jazz juga mendapat apresiasi dari Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf. Ia berpendapat bahwa program pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Less Waste More Jazz sudah seharusnya ditiru oleh para penyelenggara acara, baik musik dan lainnya.

Mengenai pemanfaatan sampah, Triawan menyatakan hingga saat ini Bekraf masih belum mendeteksi adanya industri kreatif berbasis sampah. Menurutnya, saat ini, Bekraf memiliki beberapa target utama yang masih harus diperhatikan seperti pengembangan dunia perfilman, periklanan, musik dan aplikasi digital.

“Saya belum ketemu ada industri kreatif berbasis sampah. Kalau ini bisa dikembangkan tentu akan sangat bagus sekali,” tandasnya.

Sebagai informasi, Festival Java Jazz 2016 kali ini bertajuk “Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2016” yang siap kembali digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 4 – 6 Maret 2016 mendatang. Sebagai ajang festival jazz terbesar di dunia ini, Java Jazz 2016 akan menampilkan puluhan musisi – musisi dari berbagai negara yang akan digelar di sebelas panggung musik yang ada di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Presiden Direktur PT Java Festival Production Dewi Gontha menyatakan bahwa tidak ada yang berbeda dalam penyelenggaran Java Jazz tahun 2016 ini. Hanya saja, jika dua tahun lalu desain yang digunakan adalah wayang, tahun lalu adalah barong, maka pada tahun ini akan menggunakan desain toraja.

Selain akan menampilkan musisi-musisi muda berbakat, akan pula dihadirkan musisi Internasional David Foster dan juga Robin Thicke sebagai spesial show di acara Java Jazz Festival 2016 ini. “David Foster dan Robin Thicke akan menjadi spesial show di panggung utama Java Jazz Festival tahun ini,” katanya.

Selain itu akan ada banyak musisi-musisi internasional yang akan hadir mengisi acara di festival ini. Tidak ketinggalan musisi-musisi berbakat Indonesia juga akan ikut ambil bagian. “Kita menargetkan jumlah pengunjungnya bisa mencapai angka 120.000 selama 3 hari penyelenggaraan tahun ini,” ujar Dewi menambahkan.

Chirss Botti, Tokyo Ska Paradise Orchestra, Bad Bad Not Good, Boney James, Hiatus Kaiyote, Candy Dulfer, Jazz Orchestra of Concert Gebouw, Larry Coryell & David Garfiled, dan puluhan musisi internasional lainnya akan mengisi di pagelaran Java Jazz Festival 2016. Sementara untuk musisi dalam negeri diantaranya akan hadir Mocca, Kunto Aji, Laid This Nite, Indonesia Duets, dan kumpulan para penyanyi wanita kebanggaan Indonesia yang tergabung dalam The Ladies Broadway.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/java-jazz-2016-kembali-kampanyekan-program-less-waste-more-jazz/feed/ 0